KEHADIRAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM TAURAT DAN INJIL.

Sesungguhnya banyak sekali kejadian yang terjadi dimasa Rasulullah yang sudah dicantumkan didalam kitab2 suci sebelum Alqur’an diturunkan,

namun karena perbuatan orang2 yang mengingkari kebenaran yang telah dipaparkan dalam kitab2 terdahulu, maka peristiwa2 tersebut disamarkan, bahkan banyak sekali yang dihilangkan, seperti beberapa contoh berikut ini :

1. Nubuat yang disampaikan Allah kepada Abraham (Ibrahim AS) :
“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati
engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi
berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan
mengutuk orang-orang yagn mengutuk engkau, dan olehmu semua
bangsa di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12: 2-3).

Dalam nubuat ini, ada beberapa hal yang tidak bisa tidak hanya mengena pada pribadi Rasulullah Muhammad SAW.

a. secara umum pada kalimat “aku akan membuat engkau menjadi bangsa
yang besar”, setidak-tidaknya disini mengandung dua pengertian :

1. bahwa dari keturunan Abraham (Ibrahim AS) inilah yang banyak
menurunkan para nabi penuntun umat manusia. Dari gari keturunan
Ishak menurunkan para nabi bangsa yahudi/ Israel seperti Yakub,
Musa, harun, Daud, Sulaiman, Daniel, Yesus, dan lain-lain. Sedang dari
garis keturunan Nabi Ismail menurunkan bangsa Arab. Dari sanalah
lahirnya seorang nabi penuntun umat manusia keseluruhan, bukan
hanya untuk satu bangsa, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

2. Berhubungan dengan kalimat “dan olehmu semua bangsa di muka bumi
akan mendapat berkat”, dari kalimat ini jelas hanya menunjuk pada
pribadi Rasulullah Muhammad SAW sebagai keturunan Ibrahim dari garis
keturunan Ismail. Sebab, hanya beliaulah nabi dan Rasul yang diutus
Allah untuk membawa rahmat dan barokah-Nya bagi seluruh umat
manusia, bukan hanya untuk satu bangsa, tapi untuk seluruh alam
semesta, seperti yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an :

“Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS: Al Anbiyaa : 107).

Ini sesuai dengan nubuat yang disampaikan Nabi Yesaya :
“Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh rohKu keatasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa2. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi, segala pulau mengharapkan pengajarannya” (Yesaya 42 : 1-4).

Namun nubuat nabi Yesaya ini dibelokkan untuk Yesus oleh kamu Kristiani abad pertama (yang tertulis dalam kitab Matius pasal 12 dari ayat 18 hingga 21 yang merupakan perulangan dari nubuat Yesaya diatas). Padahal Yesus diutus Allah bukan untuk semua bangsa, melainkan hanya untuk bangsa Israel. Hal ini sebagaimana yang dia akui sendiri :

“Jawab Yesus :” Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel“, (Matius 15-24).

“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius. 10 : 5-6)

b. Dari kalimat “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati
engkau”, Dari sini jelas hanya menunjuk pada Nabi Muhammad SAW, tidak
mungkin kepada yang lain, karena hanya beliaulah yang mengajarkan
kepada umat manusia agar mengirim doa keberkatan kepada Nabi
Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS berupa sholawat yang selalu dibaca
setiap kali sholat (baik sholat fardu maupun sholat sunnah), yaitu pada
bacaan tasyahud akhir :
“Kamaa baarokta ‘alaa Ibrahim” , yang berarti sebagaimana engkau
memberi berkah kepada nabi Ibrahim. Dengan demikian, hanya Nabi
Muhammad SAW beserta umatnya yang mendapat keberkatan dari Allah
Subhanahu wa ta’ala. Umat yang dimaksud disini adalah yang mengikuti
risalah Nabi Muhammad SAW juga para nabi lainnya, bukan dalam
pengertian umat manusia secara umum yang menjadi objek misi da’wah
para nabi itu.

Nubuat lainnya juga disampaikan melalui Abraham (Ibrahim AS) antara lain berbunyi :

“ Tentang Ismail, aku telah mendengarkan permintaanya. Ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak. Ia akan menurunkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar (Kejadian. 17 : 20).

Suatu janji Allah yang cukup jelas ditujukan kepada keturunan Abraham memalui garis keturunan Ismail yang akan menurunkan bangsa yang besar (bangsa Arab). Sebab, dari sanalah nabi Agung untuk seluruh alam semesta lahir (QS. Al Anbiyaa : 107), yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

Demikian pula nubuat senada yang disampaikan Allah kepada Siti Hajar (Hagar), Ibu Ismail AS, istri kedua Nabi Ibrahim yang berbunyi :

“ bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, karena Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar” (Kejadian 21 : 18)

2. Nubuat Nabi Yesaya tentang peristiwa Nuzulul Qur’an atau turunnya
wahyu Al Qur’an di Goa Hira :

“ Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan : ‘Baiklah baca ini’, maka ia akan menjawab : “Aku tidak dapat membaca”. (Yesaya 29 : 12).

Nubuat itu tidak mungkin diturunkan kepada selain Rasulullah Muhammad SAW, sebab, hanya beliaulah nabi dan rasul yang ummi (tidak tahu baca tulis atau buta huruf), dan beliau saja yang mengalami peristiwa ini. Yaitu, tatkala beliau menerima wahyu Al Qur’an untuk pertama kalinya (lima ayat pertama surat Al ‘Alaq) di Goa Hira dengan kronologi dialog seperti pada nubuat Yesaya diatas, Yakni, ketika Malaikat Jibril (Gabriel) memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membaca iqro’ (bacalah), maka beliau menjawab “Aku tidak bisa membaca” hingga tiga kali baru kemudian dituntun malaikat Jibril.

Jika umat Nasrani mengklain itu ditujukan kepada Yesus, jelas tidak mungkin dengan alasan :

a. Yesus tidak pernah mengalami peristiwa ini dikitab manapun, bahkan di
Injil Barnabas yang tidak diakui umat nasrani namun diakui sebagian
besar umat Islam sekalipun.

b. Yesus adalah nabi yang dapat membaca (tidak buta huruf), Hal ini
dengan bukti pada kitab Lukas tertulis :

“ Ia datang ke Nazaret tempat ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat ia masuk kerumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari al-kitab.” (Lukas 4:16).

3. Nubuat Nabi Daniel tentang peristiwa Isro Mi’roj nabi Muhammad SAW
“Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan
awan-awan dari langit seorang anak manusia, datanglah ia kepada Yang
Lanjut Usianya itu, dan ia dibawah kehadapan-Nya. Lalu diberikan
kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka
orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi
kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan
lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” (Daniel
7 ayat 13-14).

Kaum nasrani beranggapan bahwa nubuat ini ditujukan kepada Yesus. Akan tetapi, hal ini justru bertentangan dengan Kitab Musa yang menegaskan :

“Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit diantara orang Israel”. (Ulangan 34 : 10).

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setelah Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka ketika di Gunung Sinai, tidak ada lagi nabi diantara Bani Israel yang mengalami peristiwa seperti itu (datang berhadapan langsung dengan Allah), walaupun setelah nabi Musa masih banyak nabi dari kaum Israel (termasuk Yesus).

Dan yang lebih fatal lagi, orang-orang nasrani menganggap Yesus adalah Tuhan sendiri yang turun ke dunia dalam bentuk manusia. Jika dihubungkan dengan nubuat Nabi Daniel, maka akan semakin tidak masuk akal. Sebab suatu hal yang tidak bisa dimengerti bahwa Tuhan dibawa sesuatu untuk menghadap Tuhan. Logika semacam ini hanya berlaku untuk kaum yang berpaham “polytheisme” (berpaham banyak Tuhan), yang menganggap ada Tuhan Bapak, Tuhan Anak, hal mana Tuhan bapak lebih berkuasa dari Tuhan Anak. Atau beranggapan adanya Tuhan Besar dan Tuhan Kecil (Tuhan besar lebih berkuasa dari pada Tuhan yang Kecil) persis seperti kisa nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala yang disembah raja Namrud (Nimrod) dan kaumnya. Padahal, baik Musa dan Yesus mengajarkan agar umatnya hanya menyembah satu Tuhan saja (monotheisme), seperti tertulis pada al-Kitab :

“ Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa (Ulangan.
6 : 4).

Jawab Yesus, “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel,
Tuhan Allah Kita, Tuhan itu Esa.” (Markus 12:19).

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah
Engkau Utus.” (Yohanes 17:3)

Bahkan Yesus mengancam orang-orang yang mempertuhankan beliau
dengan mencap mereka sebagai pembuat kejahatan. Sedang dalam Islam
lebih jelas lagi, bahwa hukum mempersekutukan Allah merupakan dosa
besar yang tidak akan diampuni Allah.

Sabda Yesus :” Pada hari terakhir, banyak orang-orang berseru kepadaku:
Tuhan, Tuhan, bukankah kamu menubuat demi nama-Mu, dan mengusir
setan demi nama-Mu, dan mengadakan mukjijat demi nama-Mu juga? Pada
waktu itulah aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku
tidak pernah mengenal kamu: Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian
pembuat kejahatan.” (Matius 7 : 22-23)

Demikianlah, Islam sebagai satu-satunya agama samawi yang benar dan masih murni meskipun penubuatannya disembunyikan oleh kitab-kitab agama samawi sebelumnya yang telah diubah-ubah umatnya yang tidak beriman, Sebagai contoh penubuatan Nabi Muhammad SAW. Ternyata, setelah kita teliti dengan cermat, Bibel yang menjadi pegangan kaum Yahudi dan nasrani saat ini, sebagai ‘mantan’ Kitab samawi (dari wahyu Allah) ternyata masih ‘mampu’ menguak kebenaran yang selama ini tidak tampak dan tidak tercermati oleh umat secara umum.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

“ Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membecinya”. (QS. Ash-Shaff : 8)

Semoga tulisan ini mampu menggugah ‘nurani/fitrah’ orang-orang yang menginginkan/ mendambakan kebenaran, untuk lebih meneliti dan mencermati serta mengkritisi nilai-nilai kebenaran yang ada dalam setiap agama, dengan harapan agar benar-benar mendapatkan kebenaran yang hakiki yang dirihoi Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Subhanakallahuma wabihamdika, Asyhadu ala ilahaila anta astagfiruka wa atubuilaika

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s