Bahaya Aliran Ahbash dan Muslim Ethiopia Kecam Pemerintah yang Paksakan Ajaran Sesat “Ahbash”Abdullah al-Harari al-Shafi’iy al-Rifa’iy

Ratusan ribu umat Islam Ethiopia turun ke jalan untuk memprotes penindasan pemerintah terhadap komunitas dan campur tangan dalam urusan agama mereka.

“Ini adalah pertama kalinya saya melihat Ethiopia Muslim bersatu melawan musuh bersama mereka,” kata Temam Muhammad, salah satu demonstran.

“Para pemimpin ‘Majlis’ pikir mereka bisa memaksakan kebijakan mereka yang jahat pada kita dengan menggunakan kekerasan,” katanya, mengacu pada Dewan Tertinggi Urusan Islam.

Ribuan umat Islam melakukan aksi protes di ibukota Addis Ababa setelah shalat Jumat lalu untuk memprotes penindasan terhadap komunitas Muslim.

Meneriakkan “Kami ingin hak-hak kami” dan “Allahu Akbar”, para demonstran mengutuk pembatasan pemerintah terhadap komunitas Muslim.

Para demonstran mengatakan pemerintah adalah ujung tombak kampanye yang bekerja sama dengan Majlis untuk mengindoktrinasi umat Islam dengan ideologi dari sebuah sekte yang disebut “Ahbash”.

Pemerintah perdana menteri Ethiopia Meles Zenaw telah menempatkan Ahbas yang bertanggung jawab atas urusan agama umat Islam Ethiopia.

Muslim mengatakan langkah pemerintah tersebut telah melanggar konstitusi, yang mencegah campur tangan pemerintah dalam urusan agama.

Muslim juga menuduh Ahbash meluncurkan “Program indoktrinasi” di daerah mayoritas Muslim, memaksa orang untuk menghadiri kamp “pelatihan agama” atau mendapat interogasi polisi serta kemungkinan ditangkap.

“Mereka pikir mereka dapat menarik garis antara” Sufi “dan” Salafi “dan memenuhi kepentingan Ahbash yang merupakan sekte menyimpang yang termotivasi bisnis dan ingin memperluas kerajaannya dengan memecah belah masyarakat,” kata Muhammad.

“Tapi kami cukup cepat untuk mengetahui agenda tersembunyi mereka dan segera memperkuat ikatan persaudaraan di antara masyarakat Muslim. Itulah mengapa Anda melihat adanya massa yang besar datang ke sini untuk menuntut haknya.”

Didirikan oleh ulama Ethiopia-Libanon Syaikh Abdullah al-Harari, Ahbash dipandang oleh Barat sebagai “alternatif ramah” daripada ideologi “Wahabi”, yang melihat Barat sebagai ekstrim dan militan.

Muslim mengatakan imam Ahbash dibawa dari Libanon untuk mengisi Majlis dan mengajari muslim Ethiopia bahwa “Wahabi” adalah non-Muslim.(fq/oi)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/muslim-ethiopia-kecam-pemerintah-yang-paksakan-ajaran-sesat-ahbash.htm

fatwa menyeleweng AL HARARI

Fatwa Syirik
Al-Harari dalam fatwanya menyatakan boleh seseorang itu menggunakan harta atau duit yang dicuri untuk membeli barang-barang dan barang tersebut akan menjadi halal. al-Harari juga menfatwakan bolehnya mengambil riba dan berjudi. dia juga terkenal menggunakan helah di dalam agama dengan menukarkan sesuatu yang haram menjadi halal.
Pengikut-pengikut al-harari beri’tiqad bahawa si al-Harari boleh terbang dan kahak yang keluar dari mulut al-Harari itu berbau harum. dan al-Harari ini boleh bercakap dengan Nabi s.a.w.

Ditanya kepada Abdullah al-Harari tentang hukum orang yang memohon pertolongan kepada mayat di dalam kuburdan menyeru mereka di dalam kubur seperti dia berkata Wahai Syed Badawi (orang dah mati) tolonglah aku Al-Harari menjawab: Ya Semua itu dibolehkan. Dibolehkan bagi seorang berkata: Tolonglah aku wahai Badawi, bantulah aku wahai Badawi. Ditanya kepada Abdullah al-Harari: Roh-roh berada di alam barzakh bagaimana nak memohon pertolongan daripada mereka sedangkan mereka itu jauh? Al-Harari menjawab: Allah Ta’ala memuliakan mereka dengan memperdengarkan mereka suara dari jauh sedang mereka berada di dalam kubur, maka mereka berdoa kepada yang memohon dan menyelamatkannya. Kadang-kadang mereka keluar dari kubur-kubur mereka dan menunaikan segala hajat orang yang memohon pertolongan daripada mereka kembali kembali semula ke kubur-kubur mereka… comment hannats firqoh al ahbash aL said… Abdullah Al Harary adalah Mujtahid Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan beliau adalah salah satu pengikut al Imam Abu Hasan Al Asy’ary, Pembahasan ttg Allah bersemayam di atas ‘Arsy itu adlh perkataan yg menyudutkan Imam Abdullah Al Harary. jd org yg menghina Abdullah Al Harary berarti dia telah menghina kaum Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. bahkan Wahabi-lah yg menghina ALLAH SWT yg mengatakan ALLAH SWT bersemayam di atas ‘Arsy, jika ALLAH SWT bersemayam di atas ‘Arsy, berarti ALLAH SWT bertempat sebagai mana makhluk butuh terhadap tempat. Al Imam Abu Hasan Asy’ary berkata: “ALLAH MAWJUDUN BILA MAKAN” yang artinya ALLAH SWT ada tanpa bertempat, jika beliau mengatakan begitu knp Wahabi berkata ALLAH Bersemayam di atas ‘Arsy…! Sayyidian al Imam Ali bin Abi Thalib berkata: : ALLAH SWT menciptakan ‘Arsy ( makhluk ALLAH SWT yg paling besar) hanya untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat tinggal bagi Dzat-Nya”. jd jk ad yg mengatakan ALLAH SWT itu ada di langit, di mana2 bahkan di atas ‘Arsy, maka beliau tidak tahu kakekat ALLAH SWT yang mana dia sembah bahkan Imam Ahmad ib Hambal berkata : “Siapa yang menshifati ALLAH SWT dengan salah satu sifat makhluk, maka sesungguhnya dia telah kafir” Wahabilah yang KAFIR MUTLAK http://bankwahabi.wordpress.com Penjelasan بسم الله الرحمن الرحيم إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. أما بعد Sebulan yg lalu ana dikejutkan oleh sebuah tabloid agama yg memuat topik tajam berjudul ahlus sunnah vs wahabi dimana makar dan propaganda yg terkandung didalam artikel tersebut memiliki muatan syubhat yg luar biasa. bayangkan ahlus sunnah dibenturkan dgn wahabi yg mengakibatkan perseteruan tolabul ilmi dalam menyikapi merebaknya fitnah dimana setiap i’tiqod dan amalan yg berlandaskan dalil diobrak abrik sehingga ahlu hawa wal bid’ah yg merasa merekalah sebenarnya ahlu sunnah wal jamaah…. dan saat ini muncul firqoh yg sangat dahsyat yg ingin membunuh dakwah salaf dgn berbajukan dan mengaku2 ahlus akan tetapi ingin meluluh lantakkan dakwah salaf dan menyebar kebencian ditengah umat. alhamdulillah puji syukur kepada Allah Subhanuhu wata’ ala membukakan semua niat busuk musuh2 dakwah yg hendak memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala dibumi ini…. SEKILAS BIOGRAFI TENTANG FIRQOH AL-AHBASH Pengasas firqah ini bernama Abdullah bin Muhammad Asy-Syaibani Al-Badri. Dia dilahirkan di kota Harowi, Habasyah (Ethiopia). Penyimpangan dan keanehannya mulai nampak ketika berguru kepada Syaikh Syarif di daerah Jummah. Di tempat inilah dia di bai’at ala Thariqah Tijaniyah. Kemudian dia di bai’at lagi menurut Thariqah Rifa’iyyah setelah berguru kepada Mufti As-Siraj. Dia berhijrah ke Lebanon, Syria dari negaranya, Habasyah pada tahun 1969M, atau pada tahun 1950M –menurut para pengikutnya-. Di sana, ia dikenal sebagai Syaikhul Fitnah atau Syaikhul Fattaan. Yang artinya penebar fitnah. Ini disebabkan ia melakukan kerjasama dengan penguasa zalim yang bernama Nizham Hilasiilasi, untuk menangkap para da’i dan syeikh yang ada di Syria. Karenanya banyak para da’i dan masyayikh yang terpaksa melarikan diri ke Mesir atau ke Saudi Arabia. Sementara keberadaannya di Lebanon, dia banyak menebarkan permusuhan, kebencian dan fitnah di antara kaum Muslimin. Dia menyebarkan aqidah yang rosak, dipenuhi dengan kesyirikan. Juga mengajarkan pemikiran Jahmiyah dalam mentakwilkan sifat-sifat Allah. Selain itu, menyemaikan ajaran Murji’ah, Jabariyah, Shufiyah, Bathiniyah, Rafidah, mencela para sahabat, menuduh Aisyah R.A berbuat maksiat, dan berbagai fatwa-fatwa lain yang menyimpang.Pada akhirnya, ajaran-ajaran itu banyak melahirkan orang-orang yang ta’ashub (fanatik buta). Sehingga mereka tidak melihat seseorang sebagai muslim, jika orang tersebut belum mengikhlaskan diri dan tunduk kepda aqidah guru dan kelompok mereka.Mereka bersungguh menyebarkan ajarannya. Yaitu dengan cara mengetuk pintu setiap rumah penduduk, mendesak orang-orang untuk mempelajari aqidah mereka yang sesat tersebut. Bahkan juga dengan membagikan buku-buku guru-guru mereka secara percuma .Penyebaran firqah ini sangat luas, menyebar dan berkembang di daerah Lebanon, Eropah, Amerika, Kanada, Australia, Sweden dan Denmak. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz mengingatkan kita dengan perkataan beliau rahimahullah, bahwa Al-Ahbash merupakan kelompok sesat, dengan pemimpinnya yang bernama Abdullah Al-Habasyi, yang terkenal dengan penyempangan dan kesesatannya. Wajib bagi kita untuk memutuskan diri dan mengingkari aqidah mereka yang batil, serta memperingatkan orang-orang darinya, untuk tidak mendengar dan tidak menerima apa yang mereka katakan PEMIKIRAN DAN AQIDAH FIRQOH AL-AHBASY [1]. Mereka mengaku berada di atas madzhab Imam Syafie, baik dalam masalah aqidah ataupun fiqh. Tetapi pada kenyataannya, mereka sangat jauh dengan pengakuan yang mereka katakan. Bahkan mereka berani mentakwilkan sifat-sifat Allah dengan tanpa kaidah yang benar menurut syar’i. Mereka menatkwilkan istiwa Allah dengan istiilaa sebagaimana takwil yang telah dilakukan oleh orang-orang Mu’tazilah dan Jahmiyah. [2]. Mereka mengatakan, bahwa lafazh Al-Qur’an adalah dari Jibril, bukan dari Allah. Anggapan yang sembrono ini tercantum dalam kitab mereka yang berjudul ‘Izharul Aqidah As-Suniyah, halaman 591. [3]. Dalam masalah iman, mereka mengatakan bahwa iman seseorang selamanya akan sempurna dan tidak akan pernah rosak, walaupun orang tersebut tidak pernah menegakkan rukun-rukun Islam yang ada. Pendapat seperti ini termasuk dari aqidah Murji’ah Jahmiyah. [4]. Dalam bab Tauhid, mereka seperti Jabriyah yang meyakini bahwa Allah lah yang telah mendorong orang kafir melaksanakan kekafirannya. Seorang hamba tidak mempunyai kuasa atau kemampuan untuk menolaknya. Pendapat seperti ini, jelas sangat keliru, karena menurut pandangan Ahlus sunnah wal Jama’ah, setiap manusia mempunyai kehendak untuk memilih jalan kebenaran dan kesesatan, sebagaimana manusia juga bisa memilih yang baik untuk kehidupan dunia mereka .[5]. Mereka menganjurkan kepada manusia untuk beribadah ke kuburan, meminta pertolongan dan hajatnya kepada orang-orang yang telah meninggal. Bahkan firqah Al-Ahbasy ini berkeyakinan, bahwa orang yang telah meninggal akan keluar dari kuburan untuk menolong manusia, kemudian akan kembali lagi setelahnya. Disamping itu, firqah sesat ini juga membolehkan manusia untuk meminta perlindungan kepada selain Allah dan meminta barakah kepada batu. [6]. Kelompok ini banyak merajihkan hadits palsu untuk menguatkan madzhab mereka dan sebaliknya, mereka melemahkan hadis shahih yang bertentangan dengan ajaran mereka. [7]. Mereka banyak mencela para sahabat Nabi S.a.w, seperti Muawiyah, Aisyah, Khalid bin Walid. Menurut anggapan kelompok ini, orang-orang yang ikut bersama Mu’awiyah untuk melawan Ali, maka mereka meninggal dalam keadaan Jahiliyyah. [8]. Mereka juga mengkafirkan banyak para ulama. Misalnya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim. Ibnu Kathir, Imam Adz-Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Nashiruddin Al-Albani, dan sebagainya. [9]. Mereka juga banyak mengeluarkan fatwa-fatwa yang menyempang. Sebagai contoh : melihat, berikhtilat, dan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram adalah halal, wanita yang berhias dan tabarruj boleh keluar rumah walaupun tidak dizinkan oleh suaminya.Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan mereka yang harus diwaspadai SUMBER PEMIKIRAN DAN AQIDAH FIRQAH AL-AHBASY [1]. Dalam masalah sifat-sifat Allah, firqah ni menganut mazhab Al jahmiyah. [2]. Dalam masalah iman, mereka menganut pemikiran Murji’ah dan Jahmiyah [3]. Dalam beribadah, mereka menggunakan nama-nama thariqah yang ada ada dalam Islam, semisal thariqah Ar-rifa’iyah dan Naqsabandi tetapi menyelewngkannya. [4]. Mereka juga memiliki aqidah Ja’fariyah Al-Bathiniyah. [5]. Pemikiran mereka juga diambil dari berbagai sumber dan macam aliran lain, yang bertujuan untuk menipu dan mengoyak persatuan umat Islam, baik dari sisi aqidah dan manhaj yang benar, yaitu menhajnya para Salafush Shalih, manhaj Rasulullah dan para sahabatnya.Contoh pendapat Abdullah al-Harari yang menyeleweng : Ditanya kepada Abdullah al-Harari tentang hukum orang yang memohon pertolongan kepada mayat di dalam kubur dan menyeru mereka di dalam kubur seperti dia berkata Wahai Syed Badawi (orang dah mati) tolonglah aku Al-Harari menjawab: Ya Semua itu dibolehkan. Dibolehkan bagi seorang berkata: Tolonglah aku wahai Badawi, bantulah aku wahai Badawi. Ditanya kepada Abdullah al-Harari: Roh-roh berada di alam barzakh bagaimana nak memohon pertolongan daripada mereka sedangkan mereka itu jauh? Al-Harari menjawab: Allah Ta’ala memuliakan mereka dengan memperdengarkan mereka suara dari jauh sedang mereka berada di dalam kubur, maka mereka berdoa kepada yang memohon dan menyelamatkannya. Kadang-kadang mereka keluar dari kubur-kubur mereka dan menunaikan segala hajat orang yang memohon pertolongan daripada mereka kembali kembali semula ke kubur-kubur mereka… Tidakkah mereka membaca firman-firman Allah Ta’ala di dalam al-Quran supaya memohon doa pertolongan hanya kepada Allah??? Memohon kepada makhluk yang dah mati di dalam kubur merupakan kesesatan yang nyata dan syirik kepada Allah Ta’ala. Mayat itu sendiri tidak boleh memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan tidak mampu menolak mudarat dari terkena kepada diri mereka sendiri bagaimana mungkin boleh member dan menunaikan hajat orang yang hidup…. Aqal yang sihat pun tidak boleh menerimanya kecuali mereka yang mempunyai aqal fikiran yang sempit dan bebal… Ahbash lah yang sebenarnya musyabbihah, menyamakan Allah dengan makhluk, kerana hanya yang boleh memberi manfaat dan mendatangkan mudarat itu adalah Allah, jika sekiranya anda menyatakan makhluk juga boleh menunaikan hajat makhluk yang lain anda TELAH MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK…wal ‘iyazubillah Demikian penjelasan singkat tentang firqah yang sesat ini. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya dan muslihatnya. Wallahul Musta’an. Ust. Mohd Redha (Ahli Jawatankuasa Dewan Ulamak PAS Negeri Pahang) Difailkan dalam: BERITA PAHANG, FIQAH ISLAM, PENDAPAT disadur dari http://dupahang.wordpress.com/2008/11/18/bahaya-al-ahbash/ Kelompok ini dinisbahkan kepada syaikhnya Abdullah al-Harari al-Shafi’iy al-Rifa’iy, tetapi lebih populer di kalangan ‘musuh’nya sebagai Ahbash. Informasinya di internet bisa disearch di bawah kata ‘Ahbash’ atau ‘Habashi’ Insya-Allah. Kurang lebih, apa yang ana fahami ialah firqah ini -dalam Tawhid Asma’ was Sifat memakai manhaj Asya’irah Ekstrem -dalam fiqh bermazhab Syafie -dalam akhlak memakai tariqat tasawuf tetapi cuma 3 tariqat sahaja dibilang sebagai Ahlullah yakni sufi sebenar: Rifa’iyyah, Qadiriyah,Ahmadiyyah(?) -dalam imamah mengutamakan Ahl Bait dan mengatakan Mu’awiyyah R.A sebagai Ahl Nar yang menjual berhala, Naudzubillah! -juga banyak mengkafirkan para ulama’ tidak terkecuali Syaikhul Islam Imam Ibn Taymiyyah, Imam Muhammad Abdul Wahhab, al-Albani dan Imam Bin Baz, contoh Imam al-Albani difatwakan sebagai ‘orang yang nggak bisa mati sebagai Muslim’! – firqah lain yang nggak bersetuju dengan pendapatnya mereka juga udah dikafirkan termasuk Harakiyyun Ikhwaniyyun (Sayyid Quthb, Fathi Yakan dsb) dan Sufi yang bertariqat selain ‘Ahlullah’ (seperti Nazim al-Haqqani al-Naqsyabandi)… Firqah ini sudah mulai masuk ke Malaysia tetapi tidak memakai namanya yang resmi Jama’iyyah al-Mashari’ al-Khayriyyah al-Islamiyyah atau Associations For Islamic Charitable Projects (AICP) , bisa diakses di http://www.aicp.org. Tambah kaget ana, apabila terjumpa maqalatnya bertajuk ‘Allah wujud Tidak Bertempat’ sudah diterjemah ke dalam Bahasa Indonesia. Versi PDFnya bisa dilihat di : http://www.aicp.org/IslamicInformation/IslamicInformationinIndonesian.htm Di sini mereka memakai nama ‘Ponpes ASWJ’? Maqalatnya kok diberi kata sambutan oleh ulama NU ?

Sumber : http://eriekun.multiply.com/reviews/item/30?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem

4 responses to “Bahaya Aliran Ahbash dan Muslim Ethiopia Kecam Pemerintah yang Paksakan Ajaran Sesat “Ahbash”Abdullah al-Harari al-Shafi’iy al-Rifa’iy

  1. Banyak tuduhan palsu yg dialamtkan kepada Syekh Abdullah al-Harari dan murid2nya. berikut bantahan terhadap tuduhan2 palsu tersebut:
    Menjawab Tuduhan Palsu Terhadap Syeikh Al-Muhaddith Al-Harari

    Oleh: alhanief
    Dipetik dari: http://www.al-islam.proboards84.com
    Blog: http://www.al-hanief.blogspot.com

    Alhamdulillah, Wassolatu Wassalam ‘ Ala Rasulillah.

    Awwalan, saya mengharapkan sesiapa yang membaca tulisan ini agar menghadirkan keikhlasan dalam diri bertujuan menegakkan kebenaran dan bukan mencari pertelingkahan buruk juga fitnah yang tidak henti-henti. Diharap agar para pembaca mengfokuskan pada setiap tulisan dan jawapan serta mengkaji dan menilai ianya dengan penuh amanah dan jujur.

    Keduanya, untuk makluman pembaca, saya akan nukilkan tuduhan-tuduhan terhadap Syeikh Abdullah Al-Harari dari tulisan si penuduh sendiri pada beberapa helaian kertas yang kini ianya ada pada tangan saya ( bukan website atau majalah ) tanpa mengubahnya, kemudian saya akan menjawab tuduhan-tuduhan palsu tersebut secara ilmiah bersumber dari rujukan kitab Syeikh Abdullah Al-Harari sendiri.

    Disini juga saya menasihatkan diri saya dan para pembaca bahawa wajib ke atas kita mempelajari ilmu agama dari para ilmuan yang thiqah dan amanah lagi adil agar ilmu yang kita sampaikan jua diberkati Ilahi.
    Sabda junjungan besar kita Nabi Muhammad:
    ” يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين و تأويل الجاهلين”.

    Jawapan Ilmiah Ke Atas Tuduhan Palsu Terhadap Syeikh Al-Muhaddith Abdullah Al-Harari Al-Habasyi.

    Kenyataan Penuduh ( 1 ):

    “ Al-Habasyi mendakwa bahawa Jibril yang mengungkapkan lafaz-lafaz al-Quran dan bukan Allah. Maka al-Quran menurut dakwaan mereka adalah bukan kalam Allah tetapi merupakan ibarat daripada kalam Jibril sebagaimana termaktub dalam kitab al-Habasyi
    Izhar al-Aqidah al-Sunniyah hal. 591”.

    Mari kita rungkaikan ayat penuduh di atas dan menjawabnya secara ilmiah ;-

    1- Penuduh memfitnah kononnya Syeikh Al-Habasyi mendakwa al-Quran bukan kalam Allah.

    2- Penuduh memfitnah kononnya Syeikh Al-Habasyi dan anak-anak murid beliau mendakwa al-Quran adalah ibarat daripada kalam Jibril.

    3- Penuduh mendakwa kesemua kenyataan tersebut di atas termaktub dalam kitab Syeikh Al-Habasyi berjudul Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah pada halama 591.

    Jawapan ilmiah ( 1 ) :

    Setelah mengkaji kitab-kitab Syeikh Al-Habasyi termasuk kitab Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah pada setiap halaman didapati tiada satupun kenyataan seperti yang dituduh dalam mana-mana karangan Syeikh Al-Habasyi sama ada secara lafaz ataupun makna.
    Tetapi yang wujud amat berbeza dengan apa yang dituduh, yang pastinya kenyataan Syeikh Al-Habasyi bahawa al-Quran adalah Kalam Allah banyak terdapat dalam kitab karangan beliau dan ini teks-teksnya:-

    1-
    ” فقول المؤلف ( الامام الطحاوي ) و ان القرءان كلام الله منه بدا بلا كيفة قولا معناه أن القرءان من الله بدا أي
    ظهرأي انزالا على نبيه “.
    Erti: “ Kenyataan Imam At-Tohawi : ‘ al-Quran itu merupakan Kalam Allah daripadaNya bada kata-kata tanpa berbentuk’ maknanya al-Quran itu daripada Allah bada iaitu terbit bererti diturunkan ke atas nabiNya ”.

    2-
    ” فقولنا القرءان كلام الله ”
    Erti: “ Maka kenyataan kita al-Quran adalah Kalam Allah ”.

    Kedua-dua kenyataan Syeikh Al-Habasyi di atas tadi tertera dalam kitab beliau Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah cetakan ketiga Da Al-Masyari’ tahun 1417H-1997M pada halaman 83.

    Ini membuktikan bahawa dakwaan si penuduh adalah dusta.

    Begitu juga di dalam kitab Syeikh Al-Habasyi berjudul Bughyah Tolib cetakan ketiga Dar Al-Masyari’ tahun 1416H-1996M pada halam 18 tertera kenyataan Syeikh yang amat bercanggah dengan apa yang difitnah oleh si penuduh dan ini dia teks Syeikh Al-Habasyi:-

    Teks Syeikh Al-Habasyi (1) : –
    “القرءان والتوراة والإنجيل والزبور وسائر كتب الله إن قصد بها الكلام الذاتي فهي أزلية ليس بحرف ولا صوت وإن قصد بها اللفظ المنزل الذي بعضه بلغة العرب وبعضه بالعبرانية وبعضه بالسُّريانية فهو حادث مخلوق لله لكنها ليست من تصنيف ملَك ولا بشر”.

    Erti: “ al-Quran, Taurat, Injil Zabur dan seluruh kitab-kitab Allah, sekiranya semua itu dimaksudkan dengan Kalam Allah Yang Zatiy (sifat Kalam Allah) maka ianya adalah azali tiada permulaan dan bukan berhuruf dan tidak juga dengan suara, dan sekiranya di maksudkan semua itu dengan Lafaz al-Munazzal (lafaz yang diturunkan) yang mana sebahagiannya berbahasa Arab,Ibraniyah dan Suryaniyah maka ianya adalah ciptaan Allah tetapi perlu diingatkan bahawa (al-Quran, Taurat, Injil, Zabur dan seluruh kitab Allah) bukanlah dari karangan mana-mana malaikat dan bukan juga karangan manusia”.

    2-Teks Syeikh Al-Habasyi (2) : –

    فهي عبارات عن الكلام الذاتي الذي لا يوصف بأنه عربي ولا بأنه عبراني ولا بأنه سرياني وكلٌّ يطلق عليه كلام الله”
    Erti: Lafaz al-Munazzal itu adalah menunjukkan kalam Allah Yang Zatiy ( sifat Kalam Allah ) yang mana sifat Kalam bagi Allah itu tidak harus dikatakan sebagai bahasa Arab atau bahasa Ibrani atau bahasa Suryani dan ketahuilah bahawa kedua-duanya adalah kalam Allah.

    Kenyataan Syeikh Al-Harari tersebut amat jelas beliau beraqidah bahawa al-Quran itu adalah kalam Allah, tidak kiralah apa yang hendak dimaksudkan samaada sifat kalam Allah ataupun Lafaz al-Munazzal, al-Quran tetap kalam Allah.

    Berkata Syeikh Al-Muhadditn Al-Harari Al-Habasyi lagi pada hal ini seperti termaktub dalam kitab beliau berjudul Syarhul Qawim Fi Halli Alfaz Sirotul Mustaqim cetakan pertama Dar Masyari’ tahun 1419H-1999M halaman 128 teksnya:

    “صفة الكلام القائمة بذات الله تعالى يقال لها كلام الله واللفظ المنزل الذي هو عبارة عنه يقال له كلام الله والإطلاقان من باب الحقيقة”
    Erti: “ Sesungguhnya sifat kalam bagi zat Allah ta’ala dinamakan sebagai Kalam Allah dan begitu juga Lafaz al-Munazzal yang menunjukkan kepada sifat kalam Allah dinamakan sebagai Kalam Allah, sandaran kedua-dua itu sebagai Kalam Allah adalah
    dari segi hakikat kebenaran”.

    Kenyataan di atas merupakan pembuktian bahwa dakwaan penuduh kononnya Syeikh Al-Habasyi dan anak-anak murid beliau mendakwa al-Quran adalah ibarat daripada kalam Jibril (rujuk tuduhan nom 2) merupakan tuduhan yang palsu kerana amat jelas Syeikh Al-Habasyi mengatakan al-Quran itu juga adalah ibarat yang menunjukkan kepada Kalam Allah dan bukan kalam Jibril.

    Pada kehematan para pengkaji pastinya amat jelas pendirian dan pegangan Syeikh Al-Habasyi mengenai al-Quran dan bukanlah seperti yang dituduh.
    Sekali lagi saya memohon kepada sesiapa yang menuduh dan memfitnah Syeikh Al-Habasyi agar membawa teks asal dari kitab Syeikh sendiri dan bukan dari orang ketiga yang tiada amanah.

    * Perkara yang amat memalukan si penuduh adalah apabila penuduh mendakwa kononnya kenyataan Syeikh Al-Habasyi termaktub dalam kitabnya berjudul Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah pada halaman 591. Apabila di lihat kesemua cetakan pada buku tersebut tidak adapun sampai halaman 500, bagaimana pula boleh wujud halaman 591?!.
    Siapa yang mewahyukan kepada si penuduh?! Ruh Muhammad Bin Abdullah Wahhab ke yang bangkit dari kubur datang memwahyukan kepada si penuduh?! atau kasyaf automatical dari si penuduh sendiri?!.

    Sebenarnya halaman kesemua kitab tersebut hanya sampai kepada 371 atau 380 halaman mengikut cetakan-cetakan yang berbeza dan tidak wujud halaman 591!.

    Pembaca sekalian, tuduhan palsu itu sebenarnya satu fitnah berbodyguardkan hasad dan dengki terhadap ulama Islam Syeikh Abdullah Al-Harari Al-Habasyi.

    Busuk sungguh hati si penuduh terhadap ulama Islam. Lagilah tuduhan tanpa bukti itu pada perkara aqidah.
    Ini berbeza dengan tindakan ulama Islam apabila menolak fahaman sesat seperti Syiah & Wahhabi, mereka akan menyatakan secara jelas dan terang dinukilkan secara fakta dan dinilai secara ilmiah tanpa tuduhan dan fitnah walaupun terhadap musuh Islam sendiri.

    Amat jelas akibat buruk apabila seseorang itu tidak memahami ilmu aqidah khususnya permasalahan sifat Kalam bagi Allah.
    Mereka akan semborono menuduh ulama tanpa memahami perbincangan ulama secara displin ilmu dan jujur.

    Ketahuilah antara aqidah Islam adalah Allah ta’ala bersifat Kalam ( berkata-kata ) tanpa huruf dan tanpa suara, manakala kita manusia berbicara dan bercakap mengunakan huruf dan suara. Inilah yang dinyatakan oleh seluruh ulama Islam antaranya Imam Abu Hanifah di dalam kitabnya berjudul Fiqhul Absot :
    “ويتكلم لا ككلامنا نحن نتكلم بالآلات من المخارج والحروف والله متكلم بلا ءالة ولا حرف”
    Bermaksud: : “ Dan (Allah) berkata-kata tidak seperti kita (manusia) berkata-kata, kita bercakap mengunakan alat-alat dari tempat keluar huruf dan dengan huruf, Allah pula berkata-kata tanpa mengunakan apa-apa alat dan tanpa huruf ”.

    Alhamdulillah kerana aqidah kami, Syeikh Abdullah Al-Harari, Imam Abu Hanifah dan seluruh ulama Islam yang lain adalah sama.

    * Wa akhiran,
    dalam menjawab tuduhan ( 1 ) perlu direnung beberapa perkara.
    Yang sepatutnya dilakukan oleh si penuduh dalam hal ini adalah mengawasi orang awam daripada berpegang dengan aqidah Wahhabi
    kerana Wahhabi beraqidah salah:
    (Allah bersifat kalam dan sifat kalam Allah adalah dengan berhuruf dan suara yang berbeza-beza berlaku pada zat Allah sesuatu yang baharu dan ada kalanya Kalam Allah itu terputus-putus kemudian ada semula kemudian terputus-putus).
    Lihat kitab Wahhabi berjudul Kawasyhiful Jaliyah ‘Ala Ma’ani Al-Wasitiyah mukasurat 220 dan kitab Wahhabi Najatul Khalf halaman 25.

    Begitu juga Wahhabi memalsukan kitab As-Sunnah dan menyatakan aqidah mereka pada kitab tersebut m/s 77 (terjemahan teks Wahhabi): “ Allah berkata-kata dengan nabi Musa, dan sifat kalam Allah menggunakan mulut Allah, dan peristiwa penyerahan kitab Taurat berlaku dengan tanganNya ke tangan Musa ”.

    Adakah Wahhabi hendak samakan Allah dengan bos yang memberi watikah kepada anak buahnya seperti Wahhabi mendakwa Allah lendik duduk atas arasy?!!
    Maha suci Allah daripada kata-kata pelampau agama.

    Mentahzir dan berjaga-jaga dengan aqidah sesat Wahhabi…inilah yang sepatutnya dilakukan oleh kita dan si penuduh jua. Bukannya memfitnah dengan menuduhkan tuduhan-tuduhan palsu tanpa bukti lagi khianat.

    Akan bersambung pada menjawab tuduhan seterusnya…

    Allahu Subhanahu Wata’ala A’la Wa A’lam.

  2. Agar Para pembaca mengenal dengan benar siapa Syekh Abdullah alharari ini dan tdk percaya begitu saja terhadap hasutan kaum wahabi yng membenci terhadap ulama’2 Sunni yg meyakini Allah ada tanpa tempat, melakukan Tawassul dan tabrruk dengan peninggalan Nabi, maka pembaca harus membaca berikut ini:
    MENGENAL AL-MUHADDITS SYEKH ABDULLAH AL-HARARI
    NAMA DAN KELAHIRAN
    Seorang alim, panutan para muhaqqiq, rujukan dan pemuka ulama, Al-Imam Al-Muhaddits, seorang yang bertaqwa dan zuhud, mempunyai keutamaan dan tekun beribadah, mempunyai keistimewaan yang agung, beliau adalah Syekh Abu ‘Abd Al-Rahman ‘Abd Allah Ibn Yusuf Ibn Abd Allah Ibn Jami’ Al-Harari al-Syaibi Al-’Abdari , mufti wilayah Harar. Beliau dilahirkan di kota Harar, sekitar tahun 1339 H/1920 R.

    KEHIDUPAN DAN RIHLAH ILMIAH
    Beliau dibesarkan dalam keluarga sederhana yang cinta ilmu dan ulama. Beliau membaca Al-Qur’an dengan tartil dan baik sejak umur 7 tahun, dan sudah dapat menghapalnya diluar kepala. Beliau belajar dari ayahnya kitab Al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah dan kitab Al-Mukhtashar al-Shagir, yang termasuk kitab fiqih yang masyhur di daerahnya. Kemudian beliau mendalami berbagai bidang keilmuan dengan menghafal berbagai matan ilmu agama.
    Kemudian beliau memfokuskan diri pada bidang hadits dan menguasai (hafal) Al-Kutub Al-Sittah (6 kitab referensi dalam biang hadits) dan kitab-kitab hadits lainnya beserta sanadnya hingga beliau diperbolehkan berfatwa dan meriwaykan hadits dalam usia kurang dari 18 tahun. Beliau tidak hanya belajar pada ulama negerinya dan sekitarnya, malainkan mengelilingi Habasyah dan Somalia untuk memperoleh ilmu dan mendengar langsung dari para ahlinya. Dalam perjalanan mencari ilmu, beliau banyak menghadapi rintangan, namun hal itu tidak menjadikannya patah semangat. Bahkan setiap kali beliau mendengar adanya seorang alim, beliau langsung pergi menemui dan menimba ilmu kepadanya, sebagaimana kebiasaan ulama salaf. Kecerdasan dan kekuatan hafalannya yang luar biasa sangat mendukung beliau untuk mendalami dan menguasai fiqih madzhab Syafi’i serta khilaf (perbedaan pendapat) yang ada dalam madzhab Syafi’i.
    Disamping itu, beliau juga mendalami madzhab Maliki, Hanafi dan Hanbali, sehingga beliau menjadi rujukan para ulama. Banyak yang datang kepadanya dari berbagai penjuru Habasyah dan Somalia hingga beliau diangkat sebagai mufti Harar dan sekitarnya.
    Beliau belajar fiqih Syafi’i dan ushulnya serta nahwu kepada seorang alim Al-’Airf billah Syekh Muhammad ‘Abd Al-Salam Al-Harari, Syekh Muhammad ‘Umar Jami’ Al-Harari, Syekh Muhammad Rasyid Al-Habasyi, Syekh Ibrahim Abi Al-Ghouts Al-Harari, Syekh Yunus Al-Habasyi, Syekh Muhammad Siraj Al-Jabarti. Diantara kitab-kitab yang beliau pelajari dari mereka adalah Alfiyah Al-Zubad, Al-Tanbih, Al-Minhaj, Alfiyah ibn Malik, Al-Luma’ karangan Al-Syairazi dan kitab-kitab referensi lainnya.
    Beliau belajar hadits dan musthalahnya dari beberapa ulama, diantaranya Syekh yang shalih Muhammad Al-Bashir, Syekh Ahmad Ibn Muhammad Al-Habasyi dan ulama lainnya. Beliau belajar ilmu tafsir kepada SyekhSyarif Al-Habasyi di Jimmah.
    Beliau belajar hadits dan musthalahnya dari beberapa ulama, diantaranya Syekh Abu Bakr Muhammad Siraj al-Jabarti, Mufti Habasyah, dan Syekh ‘Abd ‘Al-Rahman Abd Allah Al-’Habasyi.
    Beliau bertemu dengan Syekh yang shalih, seorang ahli hadits dan qori’, Ahmad Abd Al-Muthalib Al-Jabarti Al-Habasyi, Syekh qira’at di Masjid Al-Haram . Beliau belajar kepadanya 14 macam qira’at, mendalami ilmu hadits dan mendapat ijazah (sanad keilmuan) darinya. Kemudian beliau menunut ilmu dari Syekh Daud Al-Jabardi Al-Qori dan Syekh Al-Muqri’ Mahmud Fayiz Al-Dir’athani, seoarang alim pendatang di Damaskus dan pakar qira’at sab’ah, ketika beliau di Damaskus.
    Pada usia muda beliau telah mengajarkan ilmu kepada muridnya yang diantara mereka ada yang usianya lebih tua dari beliau. Jadi disamping belajar beliau juga mengajar.
    Beliau mempunyai keistimewaan dibanding ulama liannya yang berada di negeri Habasyah dan Somalia dalam penguasaan biografi periwayat hadits, Thabaqot (tingakatan) mereka, menghafal matan kitab, mendalami ilmu hadits, bahasa arab, faraid, tafsir dan sebagainya, sehingga beliau tidak menemukan disiplin ilmu islam kecuali mendalaminya dan mumpuni dalam bidang tersebut. Terkadang apabila beliau berbicara dalam disiplin ilmu tertentu orang yang mendengarnya akan mengira bahwa beliau hanya mendalami ilmu tersebut disebabkan kedalaman ilmunya. Begitu pula apabila dikatakan kepadanya sesuatu yang beliau ketahui, maka beliau mendengarkannya dengan seksama dan penuh perhatian.
    Sebagiamana perkataan seorang penyair,
    “kau lihat dia mendengarkan perkataan dengan pendengaran Dan hatinya, bisa jadi dia lebih tahu tentang hal tersebut”
    Kemudian beliau ke Makkah dan berkenalan dengan ulama disana. Diantaranya, Syekh Al-’Alim Sayyid ‘Alawi Al-Maliki, Syekh Amin Al-Kutbi, Syekh Muhammad Yasin Al-fadani. Beliau juga menghadiri majlis Syekh Muhammad Al-’Arabi Al-Tabban, serta bertemu Syekh ‘Abd Al-Ghafur Al-Afghani Al-Naqsyabandi dan beliu mendaptkan darinya thariqat Naqsyabandiyyah.
    Kemudian beliau pergi menuju Al-Madinah Al-Munawwarah dan bertemu dengan ulama di sana. Beliau belajar hadits dan mendaptkan ijazah dalam bidang hadits dari Al-Muhaddits Syekh Muhammad Ibn Ali Al-Shiddiqi Al-Badri Al-Hindi Al-Hanafi. Selama di Madinah beliau selalu mengunjungi perpustakaan ‘Arif Hikmat dan perpustakaan Al-Mahmudiyah, beliau mempelajari dan meneliti beberapa kitab yang masih berupa tulilsan tangan (manuskrip) dari sumber aslinya. Belilau berada di Madinah sekitar satu tahun lamanya.
    Beliau bertemu dengan Syekh Al-Muhaddits Ibrahim Al-khatny murid al-Muhaddits ‘Abd al-Qadir Syalabi. Adapun jumlah ijazah (sanad keilmuan) yang beliau peroleh dari beberapa nama sangatlah banyak untuk disebutkan disini.
    Beliau mengadakan perjalanan ke Baitul Maqdis pada akhir tahun 40 –an. Dari sana beliau menuju damaskus dan mendapat sambutan yang hangat dari penduduknya terutama setelah wafatnya muhaddits Damaskus, Syekh Badr Al-Din al-Hasani semoga Allah merahmatinya. Kemudian beliau mengelilingi daratan Syam antara lain Damaskus, Bairut, Himsh, Hamah, Halab dan kota-kota lainnya. Beliau menetap di jami’ al-qothath di daerah al-qimariyah. Dari sinilah nama beliau mulai terkenal dan banyak ulama syam dan para pelajarnya datang menemuinya. Mereka mengakui keutamaan dan keilmuan beliau. Beliau terkenal di daratan syam dengan sebutan khlalifah (pengganti) syekh Badr al-din al-hasani dan muhaddits negeri syam (muhaddits al-diyar al-syamiyyah).
    Dan banyak ulama dan fuqaha’ syam memuji beliau diantaranya Syekh ‘izz al-din al-khaznawi al-syafi’i al-naqsabandi dari jazirah siria utara, Syekh ‘abd al-razzak al-halabi, imam dan pimpinan masjid al-umawi di damaskus, Syekh abu sulaiman al-zabibi, Syekh mula ramadlan al-buthi, ayah dr. Muhammad said, Syekh abu al-yusr abiding, mufti siria, Syekh ‘abd al-karim al-rifa’i, Syekh nuh dari Yordania, Syekh Said Thanathirah al-dimasqi, Syekh ahmad al-hushari (ia adalah Syekh ma’rrah al-nu’man, pimpinan ma’had ma’rrah al-syar’i), Syekh ‘abd allah siraj al-halabi, Syekh Muhammad murad al-halabi, Syekh Shuhaib al-syamy, pimpinan majlis fatwa di halab, Syekh ‘abd al-aziz uyun al-su’ud, Syekh qira’at di himsh, Syekh abu sa’ud al-himsi, Syekh fayis al-dir’athani, alim pendatang didamaskus dan ahli tujuh qira’at, Syekh “abd al-wahhab dibs wazait al-dimasqi, dr. al-hulawi, Syekh qira’at di siria, Syekh ahmad al-harun al-dimasqi, wali yang shalih, Syekh thahir al-kayyali al-himshi dan Syekh shalah kayawan al-dimasqi dan ulama lainnya.
    Demikian pula halnya antara Syekh ‘Abd Allah dengan Syekh Usman Siraj Al-Din keturunan Syekh ‘Alauddin, pimpinan Tthariqat Naqsyabandiyyah pada masanya telah terjalin hubungan murasalah (surat-menyurat) ilmiyah dan ukhawiyyah (yang mempererat tali persaudaraan). Beliau juga dipuji oleh Syekh ‘Abd Al-Karim Al-Bayari, pengajar pada Jami’ Al-Hadlarah Al-Kailaniyyah Baghdad, Syekh Ahmad Al-Zahid Al-Istanbuli, Syekh Mahmud Al-Hanafi, salah seorang ulama Turki yang terkenal, Al-Syaikhani, Syekh ‘Abd Allah Al-Ghumari dan Syekh ‘Abd Al-Aziz Al-Ghumari, dua ahli hadits dari Maroko, Syekh Yasin Al-Fadani al-Makki, Syekh Hadits dan Isnad pada Daar Al-’Ulum Al-Diniyyah Makkah Al-Mukarromah, Syekh Habib Al-Rahman A’dhami Muhaddists daerah India (Syekh ‘Abd Allah telah mengunjungi dan sering bertatap muka dengannya). Begitu juga Syekh ‘Abd Al-Qadir Al-Hjndi, rektor Universtas Al-Sa’diyyah Al-’Arabiyyah dan masih banyak lagi ulama yang memuji syekh ‘Abd Allah.
    Syekh ‘Abd Allah Al-Harari mendapatkan ijazah Thariqat Rifa’iyyah dari Syekh abd al-Rahman al-sabsabi al-hamawi dan Syekh Thahir al-Kayali al-Himshi. Sedangkan ijazah thriqat Qadiriyyah beliau peroleh dari syekh Ahmad al-’Arbaini dan syekh Tayyib al-Damasqi dan juga dari ulama yng lain –semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka–.
    Beliau datang ke Beirut tahun 1370 H/ 1950 R. Kedatangan beliau disambut oleh ulama besar Beirut, seperti Syekh Al-Qadli Muhyiddin Al-’Ajuz, Syekh Al-Mustasyar Muhammad Syarif, Syekh Abd Al-Wahhab Al-Butari, imam masjid jami’ Al-Bastha Al-Fauqa dan Syekh Ahmad Iskandarani, imam sekaligus mu’adzin masjid jami’ Burj Abi Haidar. Mereka sering mendatangi beliau dan mendapat banyak manfaat dari beliau. Kemudian beliau bertemu dengan Syekh Taufiq Al-Hibri –semoga Allah merahmatinya–Selama di sana beliau bertemu dan berkumpul dengan kalangan atas dan pejabat tinggi Beirut, Syekh ‘Abd Al-Rahman dan Syekh Mukhtar Al-’Alayili (keduanya menimba ilmu dari beliau) –semoga Allah merahmatinya–. Syekh Mukhtar Al-’Ayalili adalah mantan ketua majelis fatwa di Libanon yang mengakui keutamaan dan keilmuan Syekh ‘Abd Allah dan mengusahakan surat izin menetap atas jaminan Daar al-Fatwa di Beirut agar beliau dapat mengajar di berbagai mesjid.
    Pada tahun 1389 H/1969 Rasulullah, atas permintaan rector al-Azhar di Lebanon pada waktu itu, beliau menyampaikan ceramah tentang tauhid di hadapan mahasiswa al-Azhar.

    KARYA TULIS
    Sebenarnya beliau lebih memusatkan perhatian pada pelurusan aqidah umat, memerangi mereka yang menyimpang dari agama dan memberantas ahli bid’ah dan ahwa’ dibanding menulis buku. Meskipun demikian beliau juga sempat menghasilkan beberapa tulisan yang berharga, diantaranya:
    1. Syarh Alfiyah Al-Suyuthi fi Mushthalah Al-Hadits (manuskrif)
    2. Qashidah fi al-I’tiqad (manuskrif sebanyak 60 bait)
    3. Al-Shirath Al-Mustqim Fi Al-Tauhid (sudah diterbitkan)
    4. Al-Dalil Al-Qawim ‘Ala Al-Shirat Al-Mustaqim Fi Al-Tauhid (sudah diterbitkan)
    5. Mukhtashar ‘Abd Allah Al-Harari Al-Kafil Fi ‘Ilm Al-Din Al-Dharuri (sudah
    diterbitkan)
    6. Bughyah al-Thalib li Ma’rifati ‘Alm al-Din al-Wajib (sudah diterbitkan)
    7. Al-Ta’aqub Al-Hatsits ‘Ala Man Tha’ana Fi Ma Shahha Min Al-Hadits (sudah diterbitkan). Berisi bantahan terhadap Al-Albani dan komentar atas pernyataannya. Muhaddits Negara Maghrib (Maroko), Syekh Abd Allah Al-Ghumari –semoga Allah merahmatinya– mengatakan buku ini adalah bantahan yang baik dan tepat.
    8. Nushrah Al-Ta’aqub Al-Hatsits ‘Ala Man Tha’ana Fi ma Shahha Min Al-Hadits (sudah
    diterbitkan)
    9. Al-Rawaih Al-Zakiyyah Fi Maulidi Khair Al-Bariyyah (sudah diterbitkan)
    10. Al-Mathalib Al-Wafiyyah Syarhy Al-’Aqidah Al-Nasafiyyah (sudah diterbitkan)
    11. Idh-har Al-’Aqidah Al-Sunniyyah Bi Syarh Al-’Aqidah Al-Thahawiyyah (sudah
    diterbitkan)
    12. Syarh Alfiyah Al-Zubad Fi Al-Fiqh Al-Syafi’i (manuskrif)
    13. Syarh Matn Abi Syuja’ Fi Al-Fiqh Al-Syafi’i (manuskrif)
    14. Syarh Al-Shirat Al-Mustaqim
    15. Syarh Matn Al-’Asmawiyyahfi Al-Fiqh Al-Maliki
    16. Syarh Mutammimah Al-Jurumiyyah Fi Al-Nahwi
    17. Syarh Al-Baiquniyyah Fi Al-Mushthalah
    18. Sharih Al-Bayan Fi Al-Radd ‘Ala man khalafa Al-Qur’an (sudah diterbitkan)
    19. Al-Maqalat Al-Sunniyyah Fi Kasyfi Dlalalat Ibnu Taimiyyah (sudah diterbitkan)
    20. Kitab Al-Durr Al-Nadlid Fi Ahkam Al-Tajwid (sudah diterbitkan)
    21. Syarh Al-Shifat Al-Tsalats ‘Asyarata Al-Wajibah Lillah (sudah diterbitkan)
    22. Al-’Aqidah Al-Munjiyah (kitab ini adalah risalah singkat yang beliau diktekan pada satu majelis dan sudah diterbitkan)
    23. Syarh Al-Tanbih karangan Iman Al-Syairazi Fi Al-Fiqh Al-Syafi’i (belum selesai)
    24. Syarh Manhaj Al-Thullab karangan Syekh Zakaria al-Anshari Fi Al-Fiqh Al-Syafi’i (belum selesai)
    25. Syarh Kitab Sullam Al-Taufiq Ila Mahabbah Allah ‘Ala Al-Tahqiq (karangan Syekh ‘Abd Allah Baa ‘Alawi.
    BUDI PEKERTI DAN AKHLAK
    Al-Muhaddits Syekh ‘Abd Allah al-Harari terkenal dengan wara’nya, tawadlu’, ahli ibadah, senantiasa berdzikir, menggabungkan antara ilmu dan dzikir, zuhud, dan berhati mulia. Seakan akan kamu tidaklah temui beliau kecuali dalam keadaan membaca, berdzikir, mengajar atau memberi nasihat dan petunjuk. Beliau juga ahli ma’rifat, teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, kuat hapalan, ahli hujjah dan dalil yang kuat, bijaksana, sangat membenci mereka yang menyalahi syara’ dan mempunyai tekad yang gigih dalam ‘amr ma’ruf nahi munkar, sehingga para ahli bid’ah dan mereka yang sesat sangat membencinya dan hasud terhadapnya, tetapi Allah senantiasa melindungi mereka yang beriman.
    Terjemahan ini dinukil dari kitab terbitan Daar al-Masyari’ di bawah naungan Jam’iyyah Al-Masyari’ Al-Khairiyyah Al-Islamiyyah, Beirut Libanon.

    sumber: http://nujember.or.id/mengenal-al-muhaddits-syekh-abdullah-al-harari/

  3. Posman al mahamy,,,,

    maaf om saya sudah membaca kitab2 al ahbash,, tak ada yang menyimpang justru kamu mefitnah al ahbash,,, lagian kewahabianmu sungguh jelas,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s