Category Archives: Dakwah Islam

Sunda Wiwitan


https://i1.wp.com/www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/06/7723Prabowo-Dukung-Ritual-Ngertakeun-Bumi-Lamba.jpg

Masyarakat adat Sunda Wiwitan melakukan ritual Ngertakeun Bumi Lamba

Sunda wiwitan adalah agama. Maka dalam pandangan Islam dia adalah kafir karena posisi agamanya itu diluar Islam. Disebut pula agama Cigugur karena lahir dan berpusat di Cigugur Kuningan. Ada hal yang perlu diungkap, apakah munculnya agama Sunda wiwitan ada kaitannya dengan seorang tokoh yang namanya Madrais atau tidak? Karena Sunda wiwitan erat kaitannya dengan Madrais, bahkan ada juga yang menyebut agama Madrais atau agama Jawa Sunda sebagaimana penjajah Belanda menyebutnya kepada kelompok Madrais ini.

Mari kita ungkap riwayat hidup Madrais yang nama lengkapnya Madrais Sadewa Alibassa Kusumah Wijaya Ningrat hidup sekitar tahun 1832 sampai 1939, Madrais sebenarnya nam pesantren yang dia dirikan di Cigugur yang sekarang menjelma menjadi Paseban, nama Madrais adalah kependekan dari Muhammad Rois. Dari berbagai informasi, Madrais masih memiliki hubungan darah dengan Kepangeranan (keraton) Gebang. Seorang putera kandung raja Gebang yang bangunan keratonnya dibumihanguskan kolonial Belanda. Ayahnya pangeran Alibassa cucu dari pangeran Sutajaya Upas  menantu pangeran Kasepuhan  keturunan ke-8 dari Sunan Gunung Jati. Karena keadaan genting dikejar-kejar Belanda maka oleh ibunya, anak yang belum genap satu tahun itu kemudian  diselamatkan dan disembunyikan di Cigugur supaya luput dari kejaran Belanda.

Madrais menjelma menjadi pribadi yang memiliki kepekaan rasa, kehalusan budi, kepedulian sosial, memiliki cinta yang tinggi terhadap budaya dan menjunjung tinggi kedaulatan bangsa. Madrais dewasa sangat prihatin dengan nasib bangsanya yang berada dalam cengkeraman kaum penjajah. Ia kemudian membuat semacam komunitas atau jamaah untuk selanjutnya ia didik dengan cara pandang yang memiliki kepedulian dan anti penjajahan. Komunitas itu ia wadahi dalam satu lembaga bernama perguruan (paguron), ada juga yang menyebutnya dengan pesantren.

Selama hidupnya, pangeran keturunan Kepangeranan Gebang Kinatar (sekarang lokasinya di Losari, Cirebon, Jawa Barat) itu pernah dibuang penjajah Belanda ke Tanah Merah, Maluku (1901-1908). Belanda menuduh Madrais telah menyebarkan ajaran sesat padahal Belanda khawatir dengan pengaruh Madrais yang semakin meluas dalam membangun perlawanan kepada Belanda melalui ajaran Islam yang disebarkannya. Namun tokoh ini berhasil pulang ke kampung halaman, di Cigugur, dan kembali mengajarkan Islam kepada rakyat  dan mengajarkan pentingnya hidup sebagai orang yang mandiri dan mencintai sesama.

Salah satu ajaran Madrais yang popular di kalangan penganut Sunda komunitasnya adalah makan dan minumlah dari hasil keringat sendiri. Satu pesan yang menganjurkan untuk tidak mudah menerima uluran belas kasihan orang lain kecuali dari kerja keras. Orang yang tidak senang dengan Madrais, ajaran ini dipelintir sehingga berkesan tokoh ini mengharuskan para pengikutnya untuk menghisap keringat sang guru.

Madrais didalam membentuk komunitas  yang diwadahi dengan pesantren, maksudnya membina masyarakat untuk mandiri dan memiliki keberanian untuk menentang penjajah dan mengajarkan Islam sebagai pokok ajarannya. Hanya strategi dia supaya kaum penjajah tidak curiga maka ajaran Islam  [Qur’an dan hadits] disampaikan dalam tulisan Jawa Sunda yaitu tulisan ha, na, ca, ra. ka dst. Sehingga komunitas Madrais disebut agama Jawa Sunda yang sekarang disebut Sunda Wiwitan. Akan tetapi, pada waktu itu ajaran Madrais adalah Tauhid hanya Allah yang wajib di sembah.

Sepeninggal Madrais tahun 1939 kominitas ini dilanjutkan dipimpin oleh putranya bernama pangeran Tedja Buana Alibassa sampai tahun 1958. Komunitas Madrais ini berubah dan dipandang sebagai aliran kepercayaan baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah, karena pangeran Tedja Buana mengajarkan Islam dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa-Sunda, yang dikenal sebagai agama Jawa Sunda. Hal ini merupakan kelanjutan metode Kiayi Madrais, kemudian dilanjutkan oleh Ratu Siti Djenar Alibassa puteri Raden Tedja Buana dari istri pertama karena pangeran Tedja pindah ke Cirebon.

Tahun 1964 oleh kelompok tertentu, komunitas Muslim yang mendapat julukan agama Jawa Sunda ini difitnah sebagai komunitas PKI (komunis). Dan kelompok Muslim lainnya terprovokasi dan menyerangnya. Akhirnya, komunitas keturunan Madrais ini terpecah menjadi 3. Pertama, ada yang tetap sebagai Muslim, tetapi kajiannya mengikuti Muslim lainnya yakni mengkaji Qur’an tanpa menggunakan aksara dan bahasa Jawa Sunda, karena dipandang tak usah pakai siloka lagi dalam mempelajari Islam karena sudah merdeka.

Kedua, ada juga yang masuk agama Protestan dan yang terbesar masuk agama Katolik, termasuk pangeran Tedja Buana dan keturunannya karena merasa takut mendekati kelompok Muslim lainnya yang terus mengejar, dan kalau tidak beragama takut oleh negara dimasukan kelompok komunis sebagai mana isu yang berkembang. Pada saat yang bersamaan, para misionaris Katolik berhasil memanfaatkan konflik yang terjadi. Mulai saat itu, Cigugur berubah menjadi kampung Katolik, lambat laun berdiri tegak gereja dan yang masuk Katolik semakin bertambah, bahkan kawin silang antara Muslim dengan katolik sudah terbiasa, yang akhirnya anak-anaknya ada yang Muslim ada pula yang katolik

Tahun 1970 kekuasaan Ratu Siti Djenar direbut paksa oleh Raden Djati Kusumah Alibassa, putra Raden Tedja Buana dari istri keduanya, tahun 1980. Djati Kusumah keluar dari Katolik dan mendirikan aliran bernama PACKU (Perkumpulan Aliran Cara Karuhun Urang). Tetapi, tahun 1982 dibekukan oleh KEJATI Jabar dengan SK pembekuan no.42 dan dinyatakan sebagai aliran sesat, setelah PACKU dibekukan Djati Kusumah mendirikan aliran AKUR  [Aliran Karuhun Urang], dan sekarang diganti menjadi Sunda Wiwitan yang menyatakan bukan aliran tetapi agama Sunda Wiwitan.

Untuk mempertahankan pengaruhnya, maka Djati Kusumah selalu mengkaitkan dengan Madrais dan seolah alirannya tersebut adalah kelanjutan dari ajaran Madrais, sehingga kalau dulu Madrais dicitra burukan oleh Belanda sebagai pendiri dan penyebar agama Jawa Sunda, dikarenakan ajaran Islam yang disampaikan dalam tulisan dan bahasa Jawa Sunda, kalau sekarang madrais dicitra burukan ooleh cucunya sendiri yang menyebutkan bahwa Madrais adalah  pendiri dan penyebar agama Sunda Wiwitan, dan berkelanjutan diteruskan oleh Djati Kusumah, sehingga masyarakat Muslim terutama sangat berpandangan negatif kepada Kiayi Madrais.

Kita mendengar bahwa Sunda Wiwitan ini adalah ageman (pegangan) kepercayaan masyarakat Baduy Kab. Lebak Banten, apakah ada kaitannya Sunda Wiwitan Djati Kusumah dengan Sunda Wiwitan masyarakat Baduy?

Dahulu, pada waktu Madrais hidup di Cigugur tegak pesantren dan tegak sebuah mesjid, tetapi sekarang pesantren dan mesjid itu lenyap dan di atasnya tegak sebuah bangunan namanya Paseban. Keberadaan Paseban Tri Panca Tunggal ini menjadi penting untuk melestarikan ajaran-ajaran yang telah ditanamkan para pendahulu.

Ritual-ritual penting ajaran komunitas ini berlangsung di komplek Paseban. Salah satu kegiatan tahunan yang digelar dengan cukup meriah, dan melibatkan berbagai komunitas adalah upacara Seren Taun. Perhelatan ini dilakukan setahun sekali, dalam rangka menyongsong datangnya Tahun Baru Saka dalam hitungan kalender Jawa-Sunda. Motivasi pagelaran ini adalah mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita semua. Di event ini, sebagian masyarakat Cigugur bergotong-royong membawa hasil bumi mereka untuk diarak dalam satu episode pawai yang meriah.

Di komplek gedung Paseban TPT, juga tinggal para penganut ajaran Sunda Wiwitan yang terdiri dari remaja, dewasa hingga orang tua. Mereka biasa disebut sebagai warga atau sawarga, yang berarti keluarga. Ini merupakan ekspresi dari pemahaman ajaran yang mereka yakini: setiap manusia bersaudara. Mereka yang tinggal di Paseban menjadi satu kesatuan dalam keluarga. Di sinipun dibangun sekolah menengah pertama (SMP) Trimulya sejak tahun 1958, sebagai tempat belajar warga Paseban TPT, yang juga dibuka umum.

Para penganut ajaran Sunda Wiwitan tersebar di beberapa kota, dan kabupaten di Jawa Barat, dan tidak menutup kemungkinan juga di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta D.I. Yogyakarta. Namun kegiatan ritual budaya dan keagamaan komunitas ini berpusat di Cigugur. Gedung Paseban Tri Panca Tunggal (TPT), semacam keraton yang berfungsi sebagai sentra kegiatan keagamaan, budaya, hingga berfungsi sebagai tempat belajar dalam menjalani kehidupan. Di gedung Paseban tinggal keluarga keturunan Madrais yang sekaligus menjadi pimpinan warga adat. Pangeran Jatikusuma adalah ketua warga adat pimpinan agama Sunda Wiwitan saat ini.

Hati-hati kaum Muslimin atas gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh kafir sunda wiwitan dan mari kembalikan paseban untuk kembali menjadi pesantren dan mesjid dan tegaknya syi’ar Islam di Cigugur, yang sekarang dikuasai  agama Sunda Wiwitan dan Katolik

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2014/10/17/33436/mengungkap-asal-usul-agama-sunda-wiwitan/#sthash.O99hW3hs.dpuf

Sunda Wiwitan mengganti masjid dan pesantren menjadi paseban dan keraton, laskar umat Islam bergerak

Rabu, 17 Sya’ban 1437 H / 25 Mei 2016 08:32

Sunda Wiwitan mengganti masjid dan pesantren menjadi paseban dan keraton, laskar umat Islam bergerak

Laskar Umat Islam di PN Kuningan, Selasas (24/5/2016)

KUNINGAN (Arrahmah.com) – Pengadilan Negeri Kuningan mendadak panas karena dalam sidang Rd. Djaka Rumantaka melawan Sunda wiwitan, Selasa (24/5/2016) ratusan laskar ORMAS Islam pendukung Rd. Djaka hampir bentrok dgn ratusan komunitas Sunda wiwitan.

Mengapa terjadi persidangan, karena Sunda wiwitan menguasai tanah didaerah Cigugur Kuningan yang sekarang menjadi pusat agama Sunda wiwitan. Tanah tersebut merupakan warisan Kiayi Rd. Madrais yang belum dibagikan. Sekarang dikuasai cucunya bernama Rd. Djati Kusumah pjmpinan agama Sunda wiwitan.

Rd. Madrais adalah kiayj dan di tanah tersebut dulu berdiri Masjid dan Pesantren, tapi oleh Djati Kusumo masjid dan pesantren itu ditimbun dan diatas timbunannya dibangun gedung Paseban sebagai keraton Djati Kusumah dalam memimpin Sunda wiwitan.

Ajaran Islam yang dikembangkan kakeknya dirubah menjadi Packu (Paguyuban ajaran cara karuhun urang) yang dibubarkan Bakorpakem Jabar karena sesat dan sekarang menjadi Sunda Wiwitan.

Rd. Djaka menggugat lantaran, disamping dia adalah buyut Kiayi Madrais, putra Ratu Siti Djenar kakak seayah Djati Kusumah yang merupakan ahli waris, Rd. Djaka juga ingin mengembalikan paseban kembalj menjadi mesjid dan pesantren serta lenyapnya ajaran sesat Sunda wiwitan kembali ke ajaran Islam, mengembalikan nama baik Madrais yg dikenal sebagai tokoh sesat Sunda Wiwitan padahal beliau adalah kiai besar, justru Djati Kusumah yg mengacaukan semuanya.

Dengan alasan itulah ORMAS Islam GARDAH Kuningan, FPI Kuningan dan Majalengka serta pasukan besar dari Aliansi Masyarakat Nahyi Munkar (Almanar) Cirebon dibawah Korlap Ust. Andi Mulya tandang mengawal dan membantu Rd. Djaka dipengadilan.

Putusan sidang sebagian tanah dimenangkan pihak Djaka dan sebagian mesti banding karena gugatan khusus paseban ditolak.

Kita perlu berjuang terus kata Djaka, dan tekad Ormas Islam akan terus mengawal sampai titik darah penghabisan begitu kata ust. Andi Mulya.

– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2016/05/25/sunda-wiwitan-mengganti-masjid-dan-pesantren-dengan-paseban-dan-keraton-laskar-umat-islam-bergerak.html#sthash.oDl96Od8.dpuf

Ternyata Yahudi dan Eropa Ikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW


1 1

Licik  sungguh yahudi dan barat memperdayakan kita umat Islam, dengan medianya untuk membuat opini yang berbeda dengan manfaatnya. Mereka menganjurkan dengan produk dan advertorialnya dan menyuruh kita minum susu sapi bubuk buatan mereka, tapi mereka sendiri minum susu kambing, mereka minum apa yang diminum oleh Nabi kita Muhammad SAW.

Mengapa kita tidak ikut nabi kita, kita ikuti saja rayuan orang yahudi itu tapi ternyata mereka mengikuti apa yang nabi kita makan dan minum.

“Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama. Mereka   telah berputus asa untuk menyesatkan umat bertauhid  dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kita tidak mengikutnya dalam perkara-perkara kecil”

Antara ‘Isu’ yang  mereka gembar gemborkan dan telah dijadikan ikutan oleh kebanyakan dari kita, beberapa hal kecil  yang mereka anggap berhasil dikalangan umat Islam adalah sebagai berikut :

1. Kita diajar dalam buku biologi, dalam buku gizi makanan (kajian dan terbitan dari ilmuan barat) bahwa kalau ingin dapatkan vitamin B dan kalau ingin tambah darah kita sebaiknya banyak memakan hati hewan dan hati ayam . Tetapi sebenarnya Nabi kita tidak pernah menganjurkan  memakan organ dalam. Apakah kita ingin ikuti apa yang dianjurkan  orang barat yang tidak beriman atau  mengikuti ajaran Nabi kita? . Tahukah sebenarnya makan hati hewan/ayam dampaknya bisa  melembabkan otak kita sebab hati merupakan organ dimana semua toksin/racun akan dikumpulkan dan dinetralkan. Jadi, kepekatan toksin/racun berkadar tinggi ada di hati hewan/ayam tersebut. Bila kita konsumsi hati tersebut otomatis kita konsumsi juga toksinnya maka dampaknya lembablah otak umat Islam sebab begitu percayanya dengan  buku sains keluaran barat kafir ini.

2. Kita diajarkan dalam sains bahwa kopi tidak bagus untuk kesehatan. Namun sebenarnya kopi adalah salah satu minuman kegemaran Nabi kita selain susu dan madu. Coba lihat orang orang Yahudi, mereka penggemar minum kopi. Profesor di UK , terutama yang Yahudi, dihadapannya selalu ada segelas kopi di tangan mereka.

3. Kita diajar jangan terlalu banyak memakan kambing karena tingginya kolesterol, namun kambing juga adalah makanan Nabi kita. Seolah-olah buku sains ingin merendahkan makanan Nabi kita. Sebenarnya daging kambing adalah daging paling rendah kolesterol.

4. Kita diajar bahawa makan Fast Food  adalah bagus, cepat dan instan,  namun sebenarnya Fast Food asal AS adalah makanan yang sangat tinggi kandungan MSG dan kolesterolnya serta paling banyak lemak jenuhnya.

5. Para kafir ini juga menggalakkan dan mengiklankan bahwa  minum dan makan makanan yang instan dan dibuat kesan modern , contohnya minuman soda berbagai merk . Minuman soda itu sangatlah beracun dan sangat tidak bagus untuk kesehatan (gula tinggi, berasam, pH dalam lingkungan 3.5, ada racun tersembunyi di kandungannya) . Dan kita ketagihan dengan makanan dan minumaan tersebut.IRONIS !

sumber : http://www.eramuslim.com/konsultasi/sehat/ternyata-mereka-ikuti-sunnah-nabi-muhammad-saw.htm

Menyalurkan Syahwat Kepada Istri Adalah Pahala


Saudaraku, Islam merupakan ajaran yang sangat memperhatikan fitrah manusia. Islam di satu sisi mendorong penganutnya untuk berlomba dalam menggapai derajat ideal seorang muttaqin namun pada sisi lain tidak mengabaikan sisi manusiawi dirinya. Tidak ada sistem kerahiban di dalam Islam dimana seseorang dituntut untuk hanya beribadah kepada Allah sepanjang waktu sehingga bilamana ia lapar, haus atau mempunyai kebutuhan manusiawi lainnya maka ia diharuskan untuk mengabaikannya alias dilarang untuk mempedulikannya apalagi memenuhinya.

Bahkan di dalam sebuah ayat Al-Qur’an Allah memberitahu kita akan hadirnya aneka syahawaat (hasrat duniawi) di dalam diri manusia. Dan hendaknya aneka syahawaat tersebut disikapi secara benar, bukan diabaikan atau dinafikan.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ

مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran ayat 14)

Pada ayat di atas jelas Allah katakan bahwa segenap jenis hasrat duniawi tersebut merupakan kesenangan hidup di dunia bagi manusia. Namun di dalam ayat itu pula Allah mengingatkan orang-orang beriman agar selalu menyadari bahwa di sisi Allah ada tempat kembali yang lebih baik, yakni surga di akhirat kelak. Surga merupakan kenikmatan hakiki dan abadi yang Allah janjikan dan sediakan hanya bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepadaNya.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Seorang yang beriman sangat dikondisikan oleh ajaran Islam untuk memiliki semangat berkompetisi dalam mengejar keberuntungan di akhirat. Namun itu tidak berarti bahwa ia samasekali tidak diperkenankan menikmati kesenangan duniawi. Hanya saja ia selalu perlu mengingat bahwa kesenangan dunia tidak seberapa dibandingkan dengan kesenangan di akhirat. Sehingga dalam sebuah hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan betapa hinanya dunia ini. Betapa tidak bergunanya kebanyakan aktifitas manusia di dunia ini, kecuali beberapa jenis tertentu:

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا

ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini terkutuk. Terkutuk apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali mengingat Allah dan apa-apa yang menyertainya serta penyebar ilmu dan penuntut ilmu.” (HR Tirmidzy)

Apa-apa yang dikecualikan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di dalam hadits di atas merupakan kegiatan di dunia yang sungguh sangat luas cakupannya. Terutama ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebut mengingat Allah dan apa-apa yang menyertainya. Sungguh, apa-apa yang menyertai mengingat Allah sangatlah luas cakupannya. Ia bisa mencakup urusan bisnis, bersosialisasi, berkeluarga, bermasyarakat, berda’wah dan berjihad di jalan Allah.

Bahkan dalam hadits lainnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam malah menyebutkan apa saja perkara yang termasuk ke dalam bentuk lain daripada dzikrullah (mengingat Allah). Dan uniknya, salah satunya ialah bercengkerama dengan keluarga. Subhanallah…! Suatu kegiatan yang barangkali kebanyakan orang (terutama para bapak yang bermental workaholic) menganggapnya sebagai menyia-nyiakan waktu saja.

كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَهُوَ لَهُوٌ أَوْ سَهْوٌ إِلا أَرْبَعَ خِصَالٍ

مَشْيُ الرَّجُلِ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ وَتَأْدِيبُهُ فَرَسَهُ

ومُلاعَبَةُ أَهْلِهِ وَتَعَلُّمُ السِّبَاحَةِ

“Segala sesuatu yang bukan dzikrullah maka ia termasuk perkara melalaikan atau melenakan, kecuali seorang yang latihan memanah, latihan berkuda, bercengkerama dengan keluarganya dan belajar berenang” (HR Thabrani)

Apa-apa yang seringkali dikira kebanyakan orang sebagai perbuatan menghabiskan waktu, ternyata di dalam ajaran Islam dikategorikan sebagai ibadah penghambaan kepada Allah. Coba renungkan, bukankah dengan bercengkerama bersama keluarga, berarti seorang ayah atau suami telah berupaya membangun soliditas di dalam ruang lingkup elemen masyarakat yang paling kecil? Berarti ia telah menyumbang sebuah kebaikan bagi masyarakat yaitu keharmonisan dan ketenteraman yang tentunya didambakan oleh setiap anggota masyarakat beradab. Namun tentunya hal ini harus dilakukan dengan menjaga rambu-rambunya. Di antaranya ialah tidak dilakukan berlebihan sehingga melalaikan seseorang akan tugas utamanya beribadah kepada Allah dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Lalu ia harus memastikan bahwa ia terlibat dalam bercengkerama dengan keluarga miliknya bukan dengan keluarga apalagi istri milik orang lain…!

Dalam hadits di bawah ini Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam malah menyampaikan suatu pesan yang bahkan sempat membuat para sahabat dari kalangan yang kurang mampu menjadi terkejut dan keheranan. Coba perhatikan hadits berikut ini:

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَارَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا

نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ

بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ

مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً

وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً

وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ

قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ

فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

“Sesungguhnya di antara sahabat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ada yang berkata: ”Ya Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat sebagaimana kami mengerjakan sholat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan bagimu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap takbir adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh seseorang kepada ma’ruf adalah sedekah, melarangnya dari perkara mungkar adalah sedekah dan bersetubuhnya seseorang di antara kamu dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya ia mendapat pahala?” Rasulullah menjawab: ”Tidakkah kamu tahu, apabila seseorang menyalurkan syahwatnya pada yang haram, dia berdosa? Demikian pula apabila disalurkannya kepada yang halal, dia mendapat pahala.” (HR Muslim)

Saudaraku, jelas sekali dari keterangan hadits di atas bagaimana Islam sangat mengakui, memahami bahkan menghargai orang yang memiliki kebutuhan fitri-manusiawi. Ia tidak saja diizinkan untuk melampiaskan hasrat syahwat kelaminnya kepada pasangan syar’inya (suami atau isterinya), namun lebih jauh lagi ia dijamin bakal memperoleh ganjaran alias pahala di sisi Allah karena melakukannya sesuai aturan Allah.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang pandai mensyukuri nikmat Iman dan Islam yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Wafatkanlah kami dalam keadaan senantiasa berserah diri kepadaMu. Karuniakanlah kepada kami hidup bahagia dan abadi di surgaMu kelak bersama para Nabi, orang-orang jujur, para syuhada, orang-orang sholeh lainnya dan tentunya bersama anak-istri-orangtua-saudara kami semuanya. Amin ya Rabb.-

sumber : http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/menyalurkan-syahwat-kepada-istri-adalah-pahala.htm#.UXaXdUpBkp4

Ternyata Adzan itu Tak Pernah Berhenti Selama 24 Jam Penuh


Sungguh menakjubkan seperti suaranya, dan nyata bagi umat muslim di seluruh dunia. Jika melihat pada peta dunia, kita akan menemukan bahwa Indonesia terletak di bagian Timur dari bumi. Pulau-pulau besar di Indonesia adalah Jawa, Sumatera, Kalimantan atau Borneo, dan Sulawesi atau Selebes. Segera setelah waktu fajar tiba, pada bagian Timur dari Sulawesi, sekitar jam 05.30 waktu setempat, adzan Subuh berkumandang, ribuan muadzin mengumandangkan adzan. Proses ini berlanjut sampai ke bagian barat Indonesia.

Satu setengah jam kemudian setelah adzan di Sulawesi selesai, adzan mulai di Jakarta, kemudian Sumatera dan sebelum proses suara menyenangkan itu berakhir di Indonesia, adzan mulai berkumandang di Malaysia. Kemudian di Burma sekitar 1 jam setelah Jakarta mulai adzan, kemudian berlanjut ke Dakka, ibukota Bangladesh. Setelah Bangladesh, berlanjut ke bagian barat India, dari Calcuta sampai ke Bombay dan seluruh India bergema oleh suara ‘proklamasi’ ini.

Srinagar dan Sialkot, sebuah kota di bagian utara Pakistan memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Quetta dan Karachi adalah 40 menit dan dalam periode waktu tersebut adzan Subuh terdengar di seluruh Pakistan. Sebelum selesai di Pakistan, adzan mulai di Afganistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah 1 jam. Adzan berkumandang di Hijaaz al Muqaddas yang terdapat dua kota suci Mekkah dan Madinah, kemudian Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak. Perbedaan waktu antara Bagdad dan Alexandria di Mesir adalah 1 jam.

Kemudian adzan berlanjut ke Syiria, Mesir, Somalia, dan Sudan. Perbedaan waktu antara barat dan timur Turki adalah satu setengah jam. Alexandria dan Tripoli, ibukota Libia memiliki perbedaan waktu 1 jam. Proses panggilan adzan berlanjut ke seluruh Afrika. Sehingga suara proklamasi dari Tauhid dan Risalah Nabi yang telah dimulai dari Indonesia hingga akhirnya mencapai Pantai Timur dari Samudera Atlantik memakan waktu 9 setengah jam.

Sebelum adzan Subuh mencapai Samudera Atlantik, adzan Zuhur telah dimulai di bagian timur Indonesia, dan sebelum sampai di Dacca Bangladesh, adzan Ashar telah dimulai. Setelah mencapai Jakarta dalam waktu satu setengah jam kemudian waktu maghrib sampai di Sulawesi. Saat muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Subuh, muadzin di Afrika mengumandangkan adzan Isya.

Jika kita mempertimbangkan fenomena inisecara keseluruhan, kita dapat menyimpulkan suatu fakta yang menakjubkan, yaitu tidak ada sedetikpun waktu terlewat di dunia ini tanpa suara adzan dari muadzin di muka Bumi ini. Bahkan saat Anda membaca posting ini sekarang, yakinlah bahwa sedikitnya ada ribuan orang yang sedang mengumandangkan dan mendengarkan adzan.

Adzan itu terus berkumandang di muka Bumi dan langit ini selama-lamanya dan tiada henti-hentinya sedikitpun bersahut-sahutan selama 24 jam dalam sehari selama seminggu penuh, selama sebulan, sepanjang tahun, sampai hari akhir nanti Insya Allah, Subhanallah …

Source from web

Waspadai, Muslihat Dukun dan Paranormal


Dukun Santet


Rendahnya spiritualitas dan rasionalitas disinyalir menjadi pemicu kecanduan paranormal.

Saat kondisi keimanan melemah bahkan goyah, akibat ragam problematika hidup yang menimpa, datanglah bisikan untuk mengambil jalan pintas. Meminta bantuan paranormal atau dukun untuk mengatasi permasalahan itu. Sebagian kuat dan tetap konstan di jalan Allah SWT, tapi tak sedikit tergelincir ke jurang kemusyrikan.

Menurut Direktur Lembaga Pengkajian dan Penerapan Tauhid Unida, Bogor, Dr Amir Mahrudin, faktor yang menyebabkan manusia percaya paranormal karena keringnya nilai-nilai ketuhanan. Dalam kondisi itu, tingkat keimanan mereka rendah sehingga mudah tertipu ulah paranormal. Sedangkan, Tuhan tak lagi tampak bagi mereka. Situasi ini,bisa menimpa siapa pun. Tak memandang status dan tingkat pendidikan.

“Jika rohani kering pergi juga ke paranormal,” tutur Amir.

Faktor lainnya, tingkat rasionalisme masyarakat masih rendah. Ketika ada sesuatu yang dianggap “benar” langsung mempercayai. Tanpa melihat bagaimana proses atau cara-cara yang ditempuh oleh sang paranormal. Sifat materialistis yang semakin mengakar, tambahnya, sangat andil membuat masyarakat ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang cepat. “Dipilihlah paranormal sebagai jalan keluar,” katanya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tak mudah teperdaya oleh muslihat paranormal atau dukun. Ini mengingat besarnya risiko yang akan ditanggung. Tak hanya di dunia, tetapi di akhirat kelak. Percaya dukun maka tobatnya akan tertolak selama 40 hari.

Jika paranormal tersebut meninggal sebelum bertobat maka ia terancam meninggal dalam keadaan musyrik. Padahal, pelanggaran tersebut termasuk dosa besar yang tak terampuni. Ini seperti tertuang di surah Luqman. Semua dosa akan diampuni Allah, kecuali perbuatan syirik.

Agar terhindar dari paranormal, ia menyarankan agar mempertebal keimanan. Bisa lewat majelis taklim, bergaul dengan orang saleh, perkuat ibadah, dan perbanyak bacaan Alquran. “Tetap istiqamah agar terhindar dari petaka,” tambahnya.

Imbauan yang sama disampaikan pula oleh Dr KH Ahmad Mukri Ajie MA. Pembantu Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan, jangan tertipu dan silau dengan ulah paranormal. Apalagi, jika paraormal memberikan benda-benda yang menurutnya sakti. Ada juga yang memberi potongan-potongan ayat Alquran.

Ini semua bahaya sekali, ungkap Amir. Ironisnya, jangankan hafal, tak sedikit dari mereka yang tidak bisa baca Alquran dengan baik dan benar. Kejadian itu pernah ia temukan riil di masyarakat. Seorang yang didaulat sebagai paranormal ternyata susah membaca surah al-Fatihah. “Umat telah dibodohi,” tegasnya.

Menurut Amir, “candu” paranormal ini tak terlepas dari hedonisme dan materealisme yang menghinggapi masyarakat sekarang. Cara-cara instan ditempuh demi meraup kesuksesan sesaat. Ini sekaligus pertanda, lemahnya keyakinan mereka terhadap kuasa Allah. Dampaknya, apa pun titah paranormal akan dilaksanakan. Asal, karier, usaha, dan jabatan bisa diraih.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor ini mengatakan, tuntunan paranormal itu banyak yang berseberangan dengan Islam. Mulai dari menganggap cincin, keris, atau benda-benda lain memiliki khasiat. Mereka menggunakan perantara jin untuk melancarkan aksinya. Tindakan ini bisa masuk kategori syirik yang dilarang.

Hukumannya, ungkap Amir, akan diganjar di dunia dan akhirat.  Uang-uang yang diperoleh dengan cara yang tidak halal akan ditarik kembali oleh Allah. Perhatikan saja mereka yang meminta bantuan kepada selain Allah, ketika menghadap kepada paranormal uang mereka dikuras sang paranormal. Saat hajat terkabul, kembali harus merogoh kocek lagi.

Tidak sampai di situ, biasanya anak, istri, atau keluarga menjadi korban. Itulah buah dari usaha yang diperoleh dengan cara tidak berkah. Ia menyarankan agar memperkuat benteng iman, takwa, dan amal saleh, perbanyak tahajud, shalat dhuha, dan membaca Alquran. “Insyallah jika dilakukan dengan ikhlas, rida Allah akan kita raih,” katanya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Susie Evidia Y

Syirik di Tengah Umat Muslim, Mulai Eyang Subur Sampai Ritual UN


https://putrahermanto.files.wordpress.com/2013/04/syirik.jpg

(Oleh: Adam Cholil, Pengajar di HSG Khoiru Ummah Gresik)

Perilaku syirik di tengah masyarakat kita sudah menjadi sebuah kebiasaan. Bahkan anak-anak sekolah sudah diajarkan berbuat syirik. Menjelang UN banyak cara dilakukan agar ujian diberi kelancaran. Mulai doa bersama sampai ritual syirik. Belum lama ini kita juga digemparkan dengan berita Eyang Subur yang telah banyak merugikan orang terutama kalangan selebritis dengan praktek syiriknya. Mereka, para selebritis itu, yang katanya modern ternyata masih suka mendatangi dukun. Dukun-dukun itu seolah-olah menawarkan solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi manusia, mulai dari ekonomi, karir, lulus ujian, sampai rumah tangga. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini banyak orang yang was-was dan bingung dalam menjalani kehidupan. Hal ini tidak terlepas dari dampak krisis ekonomi global yang tengah menggejala. Maka tawaran para penjaja kemusyrikan itu tak pelak menjadi semacam oase ditengah gurun pasir. Tidak sedikit masyarakat yang tengah megap-megap dan kelimpungan menghadapi kondisi hidup yang serba sulit ini kemudian tergiur tawaran yang menjanjikan itu. Dan herannya yang mencoba peruntungan kepada paranormal itu bukan hanya datang dari kalangan awam tetapi juga kalangan berilmu.

Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah para tukang ramal dan dukun tersebut dapat memberikan jalan keluar yang baik dari persoalan-persoalan yang tengah menimpa manusia sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan? Bagi orang beriman tentu kita harus meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberikan jalan keluar yang baik kecuali Allah swt. Dia saja lah yang bisa menyelesaikan masalah-masalah yang menimpa manusia. Allah swt. Berfirman :

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. Ath Thalaq, [65]:2)

Dan orang beriman juga harus meyakini bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat atau menolak mafsadat (bencana) terhadap seseorang kecuali jika Allah menghendaki. Dalam hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dan dicatat dalam kitab “Az-Zawaajir”, Rasulullah saw. pernah berkata kepada Ibnu Abas: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya jika seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan jika seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakanmu maka mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepadaMu.” Bagaimana dengan seorang paranormal? Jika berkumpulnya seluruh manusia untuk memberikan manfaat atau menghindarkan bencana yang akan menimpa seseorang saja tidak bisa, apalagi hanya seorang paranormal yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Logika ini sudah cukup bagi kita untuk tidak percaya 100% kepada para pendusta tersebut.

Orang-orang yang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa memberi kehidupan kepada mereka dan bisa membebaskan mereka dari persoalan maka itu adalah musyrik (menyekutukan Allah). Dalam kitab “Majmu’ Fatawa”, Ibnu Taymiyah berkata: “Siapa saja yang meyakini bahwa berhala itu yang menurunkan hujan dan memberi rizki maka dia telah menyekutukan Allah (musyrik).” Sedangkan perbuatan menyekutukan Allah merupakan dosa yang amat besar yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah swt.

Mereka adalah pendusta

Para dukun dan tukang ramal sesungguhnya mereka tidak pernah bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada seseorang. Mereka juga tidak bisa memberikan solusi yang benar terhadap orang yang meminta jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya. Sesungguhnya mereka itu adalah para pendusta dan penipu. Apa yang disampaikannya hanya karangan semata. Kalaupun suatu ketika ada satu dari ramalan mereka yang benar dan tepat maka itu hanya kebetulan saja. Karena ada seratus lebih ramalan mereka yang pasti keliru.

Hal tersebut telah disampaikan Rasulullah saw. kepada para sahabat ketika mereka mengatakan; Wahai Rasulullah, mereka (para dukun) menyampaikan kepada kami sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, dan itu terbukti! Beliau saw. bersabda; “Perkataan tersebut memang benar, karena itu hasil pencurian bangsa jin yang disampaikan kepada para sekutunya (dukun dan peramal), tetapi kemudian mereka mencampurnya dengan 100 kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.” (HR. Mutafaq ‘alaih)

Kita pernah mendengar ramalan beberapa paranormal yang sering tampil di media massa yang mengatakan bahwa artis A karirnya di tahun yang akan datang akan menurun sedangkan artis B akan menanjak. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Tapi banyak masyarakat yang tidak memperhatikan fakta tersebut. Banyak diantara mereka yang tetap saja mempercayainya. Ada juga yang katanya sekedar iseng. Padahal bertanya atau mendatangi dukun dan tukang ramal baik percaya ataupun tidak (sekedar iseng) tetap saja dilarang di dalam Islam. Termasuk yang marak saat ini adalah bertanya kepada paranormal melalui pesan singkat (sms), itu tidak ada bedanya dengan bertanya atau mendatanginya secara langsung. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَنْ أَتَاهُ غَيْرَ مُصَدِّقٍ لَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةً أَرْبَعِينَ لَيْلَةً *

Barangsiapa mendatangi dukun kemudian ia membenarkan apa yang dikatakannya maka ia telah melepaskan diri dari apa yang telah Allah turunkan kepada Muhammad saw (al Qur’an). Dan barangsiapa yang mendatangi dukun tetapi ia tidak membenarkan apa yang dikatakannya maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam. (HR. Thabrani)

 

Perbuatan syirik merugikan pelakunya

Perbuatan syirik yang diantaranya adalah mempercayai dukun dan tukang ramal (paranormal) merupakan tindakan yang sangat merugikan diri sendiri baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia dia rugi karena telah menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, maupun biaya dengan sia-sia. Tidak berguna dan rugi karena telah mempercayai suatu kebohongan dan tidak bermanfaat. Sementara di akhirat dia juga akan mendapatkan kerugian yang amat besar berupa hukuman akibat perbuatannya yang telah melanggar larangan Allah swt., Tuhan yang menciptakan dan memberinya kehidupan. Diatara hukuman yang akan mereka terima adalah:

Pertama; Tidak akan diampuni dosanya. Karena dosa syirik termasuk dosa yang sangat besar. Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa,[4]:116)

Kedua; Diharamkan baginya masuk Surga dan akan ditempatkan di Neraka. Allah swt. berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ*

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al Maidah,[5]:72)

Ketiga; Tidak akan mendapat syafa’at Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Abu Dzar ra. ia berkata, “Suatu malam Rasulullah saw. shalat dan membaca sebuah ayat. Beliau membaca ayat tersebut dalam ruku’ dan sujudnya sampai tiba waktu subuh. Ayat tersebut yaitu:  

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ *

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah, [5]:118)

Ketika tiba waktu subuh aku berkata, “Wahai Rasulullah, tidak henti-hentinya engkau membaca ayat ini sampai datang waktu subuh, engkau membaca ayat tersebut dalam ruku’ dan sujud?” Beliau bersabda; “Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku yang Maha Mulia lagi Maha Agung, agar Dia memberi syafaat kepada umatku, kemudian Dia mengabulkannya. Insya Allah syafaat tersebut akan didapatkan oleh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Ahmad, seperti dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya)

 

Penutup

Jadi, apa gunanya kita melakukan sesuatu yang sebenarnya justru akan merugikan dan membahayakan kita baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita berpikir menggunakan akal sehat, maka kita tentu lebih memilih sesuatu yang dapat menguntungkan dan membawa manfaat bagi kita baik di dunia dan akhirat. Hal itu hanya akan kita dapati dengan beriman kepada Allah swt., tidak menyekutukannya, dan yakin bahwa hanya Dia lah yang memberikan kehidupan dan dapat menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi. Doa kita yang dipanjatkan setiap hari adalah; “Robbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.” Doa ini sudah cukup untuk menyelesaikan segala masalah yang kita hadapi. Ini yang diajarkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Masihkah kita akan mencari yang lain selain Allah? Semoga tidak! Wallahu waliyyut taufiq wailaihi uniib.

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/analisa/syirik-di-tengah-kita-mulai-eyang-subur-sampai-ritual-un.htm#.UWzGFErLsSl

Muslims in Greece are ethnic Greeks


A Group of Turkish Speaking Moslems live in Western Thrace
 
The indigenous Muslim population in Greece is not homogeneous, since it consists of different ethnic, linguistic and social backgrounds which often overlap. The Muslim faith is the creed of several autochthonous ethnic groups living in the present territory of Greece, namely the Pomaks, ethnic Turks, certain Roma groups, and Greek Muslims, who converted mainly in the 17th and 18th centuries. The country’s Muslim population decreased significantly as a result of the 1923 population exchange agreement between Greece and the new Turkish Republic, which also uprooted approximately 1.5 million Greeks from Asia Minor.

The term Muslim minority (Μουσουλμανική μειονότητα Musulmanikí mionótita) refers to an Islamic religious, linguistic and ethnic minority in western Thrace, a part of north-east Greece. In 1923, under the terms of the Treaty of Lausanne, the Muslims living in Greece were required to immigrate to Turkey; whereas, the Christians living in Turkey were required to immigrate to Greece in an “Exchange of Populations“. The Muslims of Thrace and the Christians of Istanbul and the islands of Gökçeada and Bozcaada (Imvros and Tenedos) were the only populations not exchanged. For more information on this community, see Muslim minority of Greece.

According to most estimates,[2][3] about half of the autochthonous Greek Muslims consider themselves ethnically Turkish. The rest are Slavic speaking Pomaks and Roma. Relics of the Ottoman Empire, this community resides mainly in Western Thrace, where they were allowed to remain under the terms of the 1923 Treaty of Lausanne. In the town of Komotini, it makes up almost 40 percent of the total population, whereas in the town of Xanthi it makes up 23 percent of the population.

There is also a small Muslim community in some of the Dodecanese islands which, as part of the Italian Dodecanese of the Kingdom of Italy between 1911 and 1947, were not subjected to the exchange of the population between Turkey and Greece in 1923. They number about 3,000, most of whom espouse a Turkish identity and speak Turkish. The community is strongest in the city of Rhodes and on the island of Kos (in particular the village of Platanos).[4]

The Pomaks are mainly located in compact villages in Western Thrace‘s Rhodope Mountains. While the Greek Roma community is predominantly Greek Orthodox, the Roma in Thrace are mainly Muslim.

Estimates of the recognized Muslim minority, which is mostly located in Thrace, range from 98,000 to 140,000 (between 0.9% and 1.2%), while the immigrant Muslim community numbers between 200,000 and 500,000.[5] Albanian immigrants to Greece are usually associated with the Muslim faith, although most are secular in orientation.[6]

 
 They do not look very well off  
 
 
 
 They are normally a part of the Balkan Culture  
 
 
 They are traditional  
 
 
This is not a snapshot from
an Emir Custurica film
 
 
 
These people are obviously under the influence of some
strict religious
leaders.
 
 
 
 
They have great sense of humour  
 
They pray on Friday at noon  
 
 
 
These people seem isolated from the rest of Greece.  
 
 
 The latest fashion  
 
 
 They make their living on Agricultural activities