Category Archives: Sejarah Islam Nusantara

Sunda Wiwitan


https://i1.wp.com/www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/06/7723Prabowo-Dukung-Ritual-Ngertakeun-Bumi-Lamba.jpg

Masyarakat adat Sunda Wiwitan melakukan ritual Ngertakeun Bumi Lamba

Sunda wiwitan adalah agama. Maka dalam pandangan Islam dia adalah kafir karena posisi agamanya itu diluar Islam. Disebut pula agama Cigugur karena lahir dan berpusat di Cigugur Kuningan. Ada hal yang perlu diungkap, apakah munculnya agama Sunda wiwitan ada kaitannya dengan seorang tokoh yang namanya Madrais atau tidak? Karena Sunda wiwitan erat kaitannya dengan Madrais, bahkan ada juga yang menyebut agama Madrais atau agama Jawa Sunda sebagaimana penjajah Belanda menyebutnya kepada kelompok Madrais ini.

Mari kita ungkap riwayat hidup Madrais yang nama lengkapnya Madrais Sadewa Alibassa Kusumah Wijaya Ningrat hidup sekitar tahun 1832 sampai 1939, Madrais sebenarnya nam pesantren yang dia dirikan di Cigugur yang sekarang menjelma menjadi Paseban, nama Madrais adalah kependekan dari Muhammad Rois. Dari berbagai informasi, Madrais masih memiliki hubungan darah dengan Kepangeranan (keraton) Gebang. Seorang putera kandung raja Gebang yang bangunan keratonnya dibumihanguskan kolonial Belanda. Ayahnya pangeran Alibassa cucu dari pangeran Sutajaya Upas  menantu pangeran Kasepuhan  keturunan ke-8 dari Sunan Gunung Jati. Karena keadaan genting dikejar-kejar Belanda maka oleh ibunya, anak yang belum genap satu tahun itu kemudian  diselamatkan dan disembunyikan di Cigugur supaya luput dari kejaran Belanda.

Madrais menjelma menjadi pribadi yang memiliki kepekaan rasa, kehalusan budi, kepedulian sosial, memiliki cinta yang tinggi terhadap budaya dan menjunjung tinggi kedaulatan bangsa. Madrais dewasa sangat prihatin dengan nasib bangsanya yang berada dalam cengkeraman kaum penjajah. Ia kemudian membuat semacam komunitas atau jamaah untuk selanjutnya ia didik dengan cara pandang yang memiliki kepedulian dan anti penjajahan. Komunitas itu ia wadahi dalam satu lembaga bernama perguruan (paguron), ada juga yang menyebutnya dengan pesantren.

Selama hidupnya, pangeran keturunan Kepangeranan Gebang Kinatar (sekarang lokasinya di Losari, Cirebon, Jawa Barat) itu pernah dibuang penjajah Belanda ke Tanah Merah, Maluku (1901-1908). Belanda menuduh Madrais telah menyebarkan ajaran sesat padahal Belanda khawatir dengan pengaruh Madrais yang semakin meluas dalam membangun perlawanan kepada Belanda melalui ajaran Islam yang disebarkannya. Namun tokoh ini berhasil pulang ke kampung halaman, di Cigugur, dan kembali mengajarkan Islam kepada rakyat  dan mengajarkan pentingnya hidup sebagai orang yang mandiri dan mencintai sesama.

Salah satu ajaran Madrais yang popular di kalangan penganut Sunda komunitasnya adalah makan dan minumlah dari hasil keringat sendiri. Satu pesan yang menganjurkan untuk tidak mudah menerima uluran belas kasihan orang lain kecuali dari kerja keras. Orang yang tidak senang dengan Madrais, ajaran ini dipelintir sehingga berkesan tokoh ini mengharuskan para pengikutnya untuk menghisap keringat sang guru.

Madrais didalam membentuk komunitas  yang diwadahi dengan pesantren, maksudnya membina masyarakat untuk mandiri dan memiliki keberanian untuk menentang penjajah dan mengajarkan Islam sebagai pokok ajarannya. Hanya strategi dia supaya kaum penjajah tidak curiga maka ajaran Islam  [Qur’an dan hadits] disampaikan dalam tulisan Jawa Sunda yaitu tulisan ha, na, ca, ra. ka dst. Sehingga komunitas Madrais disebut agama Jawa Sunda yang sekarang disebut Sunda Wiwitan. Akan tetapi, pada waktu itu ajaran Madrais adalah Tauhid hanya Allah yang wajib di sembah.

Sepeninggal Madrais tahun 1939 kominitas ini dilanjutkan dipimpin oleh putranya bernama pangeran Tedja Buana Alibassa sampai tahun 1958. Komunitas Madrais ini berubah dan dipandang sebagai aliran kepercayaan baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah, karena pangeran Tedja Buana mengajarkan Islam dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa-Sunda, yang dikenal sebagai agama Jawa Sunda. Hal ini merupakan kelanjutan metode Kiayi Madrais, kemudian dilanjutkan oleh Ratu Siti Djenar Alibassa puteri Raden Tedja Buana dari istri pertama karena pangeran Tedja pindah ke Cirebon.

Tahun 1964 oleh kelompok tertentu, komunitas Muslim yang mendapat julukan agama Jawa Sunda ini difitnah sebagai komunitas PKI (komunis). Dan kelompok Muslim lainnya terprovokasi dan menyerangnya. Akhirnya, komunitas keturunan Madrais ini terpecah menjadi 3. Pertama, ada yang tetap sebagai Muslim, tetapi kajiannya mengikuti Muslim lainnya yakni mengkaji Qur’an tanpa menggunakan aksara dan bahasa Jawa Sunda, karena dipandang tak usah pakai siloka lagi dalam mempelajari Islam karena sudah merdeka.

Kedua, ada juga yang masuk agama Protestan dan yang terbesar masuk agama Katolik, termasuk pangeran Tedja Buana dan keturunannya karena merasa takut mendekati kelompok Muslim lainnya yang terus mengejar, dan kalau tidak beragama takut oleh negara dimasukan kelompok komunis sebagai mana isu yang berkembang. Pada saat yang bersamaan, para misionaris Katolik berhasil memanfaatkan konflik yang terjadi. Mulai saat itu, Cigugur berubah menjadi kampung Katolik, lambat laun berdiri tegak gereja dan yang masuk Katolik semakin bertambah, bahkan kawin silang antara Muslim dengan katolik sudah terbiasa, yang akhirnya anak-anaknya ada yang Muslim ada pula yang katolik

Tahun 1970 kekuasaan Ratu Siti Djenar direbut paksa oleh Raden Djati Kusumah Alibassa, putra Raden Tedja Buana dari istri keduanya, tahun 1980. Djati Kusumah keluar dari Katolik dan mendirikan aliran bernama PACKU (Perkumpulan Aliran Cara Karuhun Urang). Tetapi, tahun 1982 dibekukan oleh KEJATI Jabar dengan SK pembekuan no.42 dan dinyatakan sebagai aliran sesat, setelah PACKU dibekukan Djati Kusumah mendirikan aliran AKUR  [Aliran Karuhun Urang], dan sekarang diganti menjadi Sunda Wiwitan yang menyatakan bukan aliran tetapi agama Sunda Wiwitan.

Untuk mempertahankan pengaruhnya, maka Djati Kusumah selalu mengkaitkan dengan Madrais dan seolah alirannya tersebut adalah kelanjutan dari ajaran Madrais, sehingga kalau dulu Madrais dicitra burukan oleh Belanda sebagai pendiri dan penyebar agama Jawa Sunda, dikarenakan ajaran Islam yang disampaikan dalam tulisan dan bahasa Jawa Sunda, kalau sekarang madrais dicitra burukan ooleh cucunya sendiri yang menyebutkan bahwa Madrais adalah  pendiri dan penyebar agama Sunda Wiwitan, dan berkelanjutan diteruskan oleh Djati Kusumah, sehingga masyarakat Muslim terutama sangat berpandangan negatif kepada Kiayi Madrais.

Kita mendengar bahwa Sunda Wiwitan ini adalah ageman (pegangan) kepercayaan masyarakat Baduy Kab. Lebak Banten, apakah ada kaitannya Sunda Wiwitan Djati Kusumah dengan Sunda Wiwitan masyarakat Baduy?

Dahulu, pada waktu Madrais hidup di Cigugur tegak pesantren dan tegak sebuah mesjid, tetapi sekarang pesantren dan mesjid itu lenyap dan di atasnya tegak sebuah bangunan namanya Paseban. Keberadaan Paseban Tri Panca Tunggal ini menjadi penting untuk melestarikan ajaran-ajaran yang telah ditanamkan para pendahulu.

Ritual-ritual penting ajaran komunitas ini berlangsung di komplek Paseban. Salah satu kegiatan tahunan yang digelar dengan cukup meriah, dan melibatkan berbagai komunitas adalah upacara Seren Taun. Perhelatan ini dilakukan setahun sekali, dalam rangka menyongsong datangnya Tahun Baru Saka dalam hitungan kalender Jawa-Sunda. Motivasi pagelaran ini adalah mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita semua. Di event ini, sebagian masyarakat Cigugur bergotong-royong membawa hasil bumi mereka untuk diarak dalam satu episode pawai yang meriah.

Di komplek gedung Paseban TPT, juga tinggal para penganut ajaran Sunda Wiwitan yang terdiri dari remaja, dewasa hingga orang tua. Mereka biasa disebut sebagai warga atau sawarga, yang berarti keluarga. Ini merupakan ekspresi dari pemahaman ajaran yang mereka yakini: setiap manusia bersaudara. Mereka yang tinggal di Paseban menjadi satu kesatuan dalam keluarga. Di sinipun dibangun sekolah menengah pertama (SMP) Trimulya sejak tahun 1958, sebagai tempat belajar warga Paseban TPT, yang juga dibuka umum.

Para penganut ajaran Sunda Wiwitan tersebar di beberapa kota, dan kabupaten di Jawa Barat, dan tidak menutup kemungkinan juga di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta D.I. Yogyakarta. Namun kegiatan ritual budaya dan keagamaan komunitas ini berpusat di Cigugur. Gedung Paseban Tri Panca Tunggal (TPT), semacam keraton yang berfungsi sebagai sentra kegiatan keagamaan, budaya, hingga berfungsi sebagai tempat belajar dalam menjalani kehidupan. Di gedung Paseban tinggal keluarga keturunan Madrais yang sekaligus menjadi pimpinan warga adat. Pangeran Jatikusuma adalah ketua warga adat pimpinan agama Sunda Wiwitan saat ini.

Hati-hati kaum Muslimin atas gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh kafir sunda wiwitan dan mari kembalikan paseban untuk kembali menjadi pesantren dan mesjid dan tegaknya syi’ar Islam di Cigugur, yang sekarang dikuasai  agama Sunda Wiwitan dan Katolik

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2014/10/17/33436/mengungkap-asal-usul-agama-sunda-wiwitan/#sthash.O99hW3hs.dpuf

Sunda Wiwitan mengganti masjid dan pesantren menjadi paseban dan keraton, laskar umat Islam bergerak

Rabu, 17 Sya’ban 1437 H / 25 Mei 2016 08:32

Sunda Wiwitan mengganti masjid dan pesantren menjadi paseban dan keraton, laskar umat Islam bergerak

Laskar Umat Islam di PN Kuningan, Selasas (24/5/2016)

KUNINGAN (Arrahmah.com) – Pengadilan Negeri Kuningan mendadak panas karena dalam sidang Rd. Djaka Rumantaka melawan Sunda wiwitan, Selasa (24/5/2016) ratusan laskar ORMAS Islam pendukung Rd. Djaka hampir bentrok dgn ratusan komunitas Sunda wiwitan.

Mengapa terjadi persidangan, karena Sunda wiwitan menguasai tanah didaerah Cigugur Kuningan yang sekarang menjadi pusat agama Sunda wiwitan. Tanah tersebut merupakan warisan Kiayi Rd. Madrais yang belum dibagikan. Sekarang dikuasai cucunya bernama Rd. Djati Kusumah pjmpinan agama Sunda wiwitan.

Rd. Madrais adalah kiayj dan di tanah tersebut dulu berdiri Masjid dan Pesantren, tapi oleh Djati Kusumo masjid dan pesantren itu ditimbun dan diatas timbunannya dibangun gedung Paseban sebagai keraton Djati Kusumah dalam memimpin Sunda wiwitan.

Ajaran Islam yang dikembangkan kakeknya dirubah menjadi Packu (Paguyuban ajaran cara karuhun urang) yang dibubarkan Bakorpakem Jabar karena sesat dan sekarang menjadi Sunda Wiwitan.

Rd. Djaka menggugat lantaran, disamping dia adalah buyut Kiayi Madrais, putra Ratu Siti Djenar kakak seayah Djati Kusumah yang merupakan ahli waris, Rd. Djaka juga ingin mengembalikan paseban kembalj menjadi mesjid dan pesantren serta lenyapnya ajaran sesat Sunda wiwitan kembali ke ajaran Islam, mengembalikan nama baik Madrais yg dikenal sebagai tokoh sesat Sunda Wiwitan padahal beliau adalah kiai besar, justru Djati Kusumah yg mengacaukan semuanya.

Dengan alasan itulah ORMAS Islam GARDAH Kuningan, FPI Kuningan dan Majalengka serta pasukan besar dari Aliansi Masyarakat Nahyi Munkar (Almanar) Cirebon dibawah Korlap Ust. Andi Mulya tandang mengawal dan membantu Rd. Djaka dipengadilan.

Putusan sidang sebagian tanah dimenangkan pihak Djaka dan sebagian mesti banding karena gugatan khusus paseban ditolak.

Kita perlu berjuang terus kata Djaka, dan tekad Ormas Islam akan terus mengawal sampai titik darah penghabisan begitu kata ust. Andi Mulya.

– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2016/05/25/sunda-wiwitan-mengganti-masjid-dan-pesantren-dengan-paseban-dan-keraton-laskar-umat-islam-bergerak.html#sthash.oDl96Od8.dpuf

Sejarah Islam di Minahasa – Sulawesi Utara


Agama Islam yg pertama kali masuk di Minahasa, masuknya Agama Islam pada tahun 1525 melalui BELANG, dibawah oleh orang-orang Bolaang Mongondow. Kemudian lebih berkembang karena datangnya pejuang-pejuang kemerdekaan yg dibuang/ditawan oleh penjajah Belanda, antara lain Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, bersama pengikutnya. Kemudian masuk Agama Kristen yang dibawa penjajah busuk melalui Manado tua pada tahun 1563 dibawah oleh Pater Diogo Magelhaens. Selanjutnya tahun 1569 datanglah Pater Blas Polonimo, tahun 1639 dan 1621 masuk pula Pater-Pater dari Portugis dan Spanyol.

Agama Protestan dimasukkan oleh Kompeni Belanda, kemudian perkembangannya setelah kedatangan Pendeta-Pendeta dari NZG, dimana peran dari Pendeta J.G.Riedel dan J.J Schwars sangat besar didalam memajukan agama Kristen ini, melalui system penginjilannya (Zending).

Agama RK ( Roma Katolik ), mulai masuk tahun 1643 namun 2 (dua) Abad lamanya RK tidak berkembang, nanti pada tahun 1855 Misi Pastor Gaspar de Masele baru mulai berkembang, dan pada tahun 1868 Pastor de Vries datang lagi ke Minahasa Pastor Mgr.Van Velson mendirikan sekolah Kweckschol RK di Woloan.

Kyai Modjo Di Tondano – Minahasa

Kyai Modjo lahir sekitar tahun 1792 dan kemudian menjadi guru agama Pajang dekat Delanggu, Surakarta. Nama sebenarnya adalah Muslim Mochammad Khalifah.

Ayah Kyai Modjo bernama Iman Abdul Arif, yang merupakan seorang ulama dusun tersebut berada dekat Pajang dan merupakan tanah pemberian (perdikan / swatantra) Raja Surakarta kepada beliau. Belum diketahui latar belakang keluarga beliau, kecuali menurut suatu sumber (Babcock, 1989) Iman Abdul Ngarip memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Sedangkan ibu Kyai Modjo adalah saudara perempuan HB III, dan dengan demikian ditinjau dari hubungan kekerabatan Kyai Modjo adalah kemenakan Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai Modjo (R.A Mursilah bersepupu dengan Pangeran Diponegoro.

Meskipun ibunya seorang ningrat kraton, Kyai Modjo dibesarkan di luar kraton. Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menetap di sana selama beberapa waktu (Ali Munhanif, 2003) Kyai Modjo kemudian memimpin satu pesantren di negeri Modjo.

Kyai modjo menikah dengan R.A Mangubumi (Babcock, 1989), janda cerai dari Pangeran Mangkubumi – paman Pangeran Diponegoro dan karena perkawinan ini Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Modjo dengan sebutan “paman”, meskipun dari garis ayah Kyai modjo adalah “kemenakan” Pangeran Diponegoro (ibu Kyai modjo (R.A Mursilah) adalah sepupu Pangeran Diponegoro).

Kyai Mojo mempelajari agama Islam dengan berguru kepada Kyai Syarifudin di Gading Santren Klaten. Setelah dewasa, ia berguru kepada kyai di Ponorogo. Disinilah Kyai Mojo mendapatkan pengajaran tentang ilmu kanuragan. Sejak saat itulah beliau terkenal akan kesaktiannya, di samping terkenal akan pendidikan agama dan pesantrennya. Ia termasuk salah seorang kepercayaan Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VIPB VI).

Sepeninggal ayahnya, Kyai Modjo melanjutkan tugas ayahnya sebagai guru agama di (pesantren) Modjo di mana banyak putra dan putri dari Kraton SoloKraton Yogyakarta (baca Pangeran Diponegoro) kemungkinan membuat Pangeran Diponegoro memilih Kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya.

Dekadensi moral yang terjadi di kraton kemudian berimbas pada kehidupan masyarakat luas semakin menderita, telah menjadi sebab keluarga Iman Abdul Ngarip, khususnya Muhammad Muslim (Kyai Modjo) beserta saudara-saudaranya (Kyai Khasan Mochammad, Kyai Khasan Besari, dan Kyai Baderan) dan masyarakat luas mengangkat senjata menentang Belanda.

Setelah di tangkap oleh Belanda pada 17 Nopember 1828 di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah, Kyai Modjo dibawa ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke TondanoMinahasa (Sulawesi Utara) hingga wafat di sana pada tanggal 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun.

Ikut bersama beliau dalam pengasingan di Tondano adalah satu putranya (Gazaly), 5 orang kerabat dekat – ada pertalian darah (Tumenggung Reksonegoro Kyai Pulukadang, Tumenggung Zess Pajang, Ilyas Zess, Wiso/Ngiso Pulukadang, dan Kyai Baderan/Kyai Sepuh) serta lebih dari 50 orang pengikut lainnya yang semuanya laki-laki. Istri beliau menyusul ke Tondano setahun kemudian.

Kecuali Kyai Modjo, hampir semua pengikutnya menikah dengan wanita Tondano (Tombokan, Walalangi, Tumbelaka, Rumbayan, dan lain-lain) dan dari perkawinan ini lahir beberapa keluarga yang dewasa ini dikenal dengan nama keluarga (marga atau fam) antara lain “Pulukadang”, “Modjo”, “Baderan”, “Zess”, “Kyai Demak”, “Suratinoyo”, “Nurhamidin”, “Djoyosuroto”, “Sutaruno”, “Kyai Marjo”, dan lain-lain.

Kyai Modjo merupakan pendiri Kampung Jawa Tondano di Minahasa dan menjadi cikal bakal masuknya Agama Islam di Minahasa. Di Tondano beliau menyalurkan ilmu kesaktiannya (yang dipelajarinya di Ponorogo) kepada pengikutnya dalam bentuk ilmu bela diri dan kemudian menjadi cikal bakal pencak silat.

Makam Kyai Modjo terletak disebuah bukit di Kampung Jawa Tondano. Disamping makamnya, terdapat juga makam dari para pengikutnya yang kini menjadi salah satu obyek tujuan wisata di Kabupaten Minahasa – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut),-

Pejuang Islam yg terasing di tanah minahasa


Banyak yang tidak mengetahui, di ujung utara pulau sulawesi dimana mayoritas penduduknya beragama non-muslim terdapat Oase terakhir para pejuang-pejuang islam yang diasingkan oleh penjajah karena perjuangan mereka pada Abab ke-18 dalam menegakkan syariat islam dan melawan penindasan oleh penjajah pada masa itu.

Mereka berasal dari daerah yang sekarang ini disebut Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan dan Sumtera Utara (Aceh). Meskipun total jumlah mereka tidak sebanyak kelompok Kyai Modjo yang telah diasingkan sebelumnya, namun keberadaan mereka di Oase terakhir yang sekarang  disebut Kampung Jawa Tondano yang terletak di tengah kota Tandano, kab.Minahasa, Sulawesi Utara telah turut mempengaruhi budaya masyarakat kampung Jawa Tondano dikemudian hari.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat perjuangan para pendahulunya dan tidak ada salahnya para pejuang-pejuang terasing yang mungkin kurang dikenal ini kita kenang sebagai penghormatan terhadap perjuangan mereka dan semoga menjadi suri teladan buat anak cucu kita nantinya agar perjuangan tidak berhenti untuk menegakkan syariat islam dan membangun bangsa ini.

Para pejuang yang diasingkan ke Kampung Jawa Tondano setelah Kyai Modjo tersebut adalah:

Tahun 1846 : Kyai Hasan Maulani (Asal Lengkong Cirebon)

Pada seperempat abad 18 tarekat syattariyah adalah tarekat yang paling tersebar luas di daerah Banyumas. Diperkirakan, tarekat ini bersumber dari murid-murid Syekh Abdul Mukhyi, Garut, seorang mursyid tarekat Syattariyah yang mendapatkan ijazah irsyad-nya dari Syekh Abdurrauf Singkel, Aceh. Di Banyumas, Syattariyah menciptakan varian baru yang menggabungkan beberapa ajaran tarekat lain, seperti Rifaiyah dan Naqsabandi-Qodiriyah. Tarekat ini dikenal dengan nama tarekat Akmaliyah/Kamaliyah. Kyai Hasan Maulani adalah guru sekaligus pendiri tarekat Akmaliyah di Cirebon.

Mendasarkan pada studi Drewes, Bruinessen dan Steenbrink menyatakan bahwa Akmaliyah merupakan tarekat yang kental dengan ajaran wahdatul wujud dan sinkretisme Jawa.

Banyaknya pengikut tarekat Akmaliyah menakutkan penguasa saat itu. Hal ini mendorong Belanda membuang Kyai Hasan Maulani ke Tondano pada tahun 1846.

 

Tahun 1848 : Pangeran Ronggo Danupoyo (Asal Surakarta Jawa tengah)

Pangeran Ronggo Danupoyo adalah anak dari Pangeran aryo Danupoyo atau cucu dari Sunan Pakubuwono IV di Surakarta Jawa Tengah. Beliau menentang kebijakan Belanda, dank arena itu ia dibuang ke Tondano. Di kampung Jawa Tondano Ronggo Danupoyo menikah dengan putri dari Suratinoyo dan memperoleh 6 orang anak, satu anaknya kembali ke Jawa sedangkan 5 anaknya yang lain (2 laki dan 3 perempuan) tetap tinggal di kampong Jawa Tondano. Dari 2 orang anak laki-lakina (Raden Glemboh dan Raden Intu) menurunkan keluarga (fam) Danupoyo sekarang ini.

Tahun 1850-an : Imam Bonjol (Asal Sumatra Barat)

Peto Syarif yang kemudian lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol dilahirkan pada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman Sumatra Barat. Ia dilahirkan dalam lingkungan agama. Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian daribeberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pendiri negeri Bonjol. Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan Padri di Sumatra, yang pada mulanya menentang perjudian, adu ayam, penggunaan opium, minuman keras, tembakau, dll., tetapi kemudian mengadakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda, yang mengakibatkan perang Padri (1821-1838).

Pada tahun 1837, desa Imam Bonjol berhasil diambil alih oleh Belanda, dan Imam Bonjol akhirnya menyerah. Dia kemudian diasingkan di beberapa tempat, dan pada akhirnya dibawa ke Minahasa. Di sana Tuanku Imam Bonjol wafat tanggal 6 Nopember 1864 dalam usia 92 tahun, dikebumikan di Desa Lotak Pineleng berjarak 25 km dari Tondano ke arah Manado.

Bebrapa pengikut Imam Bonjol kemudian menikah dengan wanita kampung Jawa Tondano adalah; Malim Muda (menikah dengan cucu Kyai Demak), Haji Abdul Halim (menikah dengan Wonggo-Masloman), Si Gorak Panjang (menikah dengan putri Nurhamidin), dan Malim Musa. Dari (diantara) mereka menurunkan keluarga (fam) Baginda di Minahasa dewasa ini.

Tahun 1861 : K.H. Ahmad Rifa’i (Asal Kendal, Jawa Tengah)

Kiai Haji Ahmad Rifai dilahirkan pada 9 Muharam 1200 H atau1786 di desa Tempuran Kabupaten Semarang. Beliau sorang ulama keturunan Arab, memimpin suatu pesantren di Kendal Jawa Tengah. Setelah beberapa kali keluar masuk penjara Kendal dan Semarang karena dakwahnya tegas, dalam usia 30 tahun.

Tahun 1272 H ( 1856 ) adalah merupakan tahun permulaan krisis bagi gerakan Kiai Haji Ahmad Rifai . Hal ini disebabkan hampir seluruh kitab karangan ( dan Hasil tulisan tangan beliau ) disita oleh pemerintah Belanda , disamping itu para murid dan Ahmad Rifai sendiri terus – menerus mendapat tekanan Belanda . Sebelum Haji Ahmad Rifai diasingkan dari kaliwungu Kendal Semarang , tuduhan yang dikenakan hanyalah persoalan menghasut pemerintah Belanda dan membawa Haji Ahmad Rifai dipenjara beberapa hari di Kendal , Semarang dan terakhir di Wonosobo .

Tahun1859 Ahmad Rifa’i diasingkan Belanda ke Ambon, kemudian diasingkan lagi ke Tondano pada tahun 1861 bergabung dengan group Kyai Modjo. Di Kampung Jawa Tondano K.H Ahmad Rifa’i menciptakan kesenian terbang (rebana) disertai dengan lagu-lagu, syair-syair, nadzam-nadzam yang diambil dari kitab karangannya.

K.H Ahmad Rifa’i wafat di Kampung Jawa Tondano pada Kamis 25 Robiul Akhir 1286 H atau tahun 1872 (usia 86 tahun) dan dimakamkan dikomplek makam Kyai Modjo.

Tahun 1880: Sayid Abdullah Assagaf (Asal Palembang, Sumatra selatan).

Sayed Abdullah Assagaf adalah orang Arab yang lahir di Palembang, Sumatra Selatan. Belanda mengasingkannya ke Tondano pada tahun 1880 kerana menganggapnya menghasut masyarakat untuk melawan Belanda. Di Palembang Assagaf konon ia menikah dengan wanita Belanda (Nelly Meijer) putri Residen Bengkulu. Dari perkawinannya dengan wanita Belanda ini ia memperoleh satu orang anak laki-laki (Raden Nguren/Nuren). Sebelum nenikah dengan Assagaf, Nelly Meijer adalah janda beranak satu dari perkawinannya dengan adik Sultan Palembang (Mahmud Badaruddin II). Nelly Meijer dan kedua anaknya kemudian menyusul ke Kampung Jawa Tondano dan Raden Nuren kemudian menikah dengan wanita Minahasa asal Remboken. Anak Nelly Meijer yang satunya lagi (hasil perkawinan dengan adik sultan Palembang) menikah di Kampung Jawa Tondano dan menurunkan keluarga (fam) Catradiningrat.

Di Kampung Jawa Tondano Sayed Abdullah Assagaf menikah (lagi) dengan Ramlah Suratinoyo dan memiliki 7 orang anak, dan dari mereka menurunkan keluarga (fam) Assagaf di Kampung Jawa Tondano.

Keberadaan Abdullah Assagaf di Kampung Jawa Tondano telah men”distorsi” budaya kampung Jawa Tondano yang semula sangat kental dengan budaya jawa. Abdullah Assagaf berhasil mentransfer dan mengawinkan budaya Arab-Sumatra dengan budaya jawa dan melahirkan budaya jaton generasi ketiga.

Tahun 1884:Gusti (Pangeran) Perbatasari (Banjarmasin, Kalimantan).

Pangeran Perbatasari melakukan pemberontakan terhadap Belanda namun kemudian ia tertangkap di daerah Kutai ketika dalam perjalanan membeli persenjataan dan tahun 1884 diasingkan ke kampung Jawa tondano.

Di Kampung jawa Tondano Pangeran Perbatasari menikah dengan dengan wanita JATON. Satu orang saudara laki-lakinya (Gusti Amir) kemudian menyusul ke Kampung Jawa Tondano dan menikah dengan wanita JATON (fam.Sataruno).

Tahun 1889 : Banten Group.

Pada tanggal  9 Juli 1888 di Cilegon (Banten – Jawa Barat) meletus perlawanan rakyat (disebut Geger Cilegon) terhapap pemerintah colonial Belanda. Geger Cilegon dipimpin oleh pemuka islam Cilegon antara lain Haji Abdul karim (pemimpin tarekat di Lempuyang), Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid (pemimpin pesantren di Beji-Bojonegara, beliau murid Syekh Nawawi Al Bantani). Pada saat itu Banten sedang dihadapi bencana besar. Setelah meletusnya Gunung Karakatau pada tahun 1883 yang merenggut 20.000 juta jiwa lebih, disusul dengan berjangkitnya wabah penyakit hewan (1885) pada saat itu masyarakat banyak yang percaya pada tahayul dan perdukunan.

Di desa Lebak Kelapa terdapat satu pohon besar yang sangat dipercaya oleh masyarakat memiliki keramat. Berkali-kali H. Wasid memperingati masyarakat. Namun bagi masyarakat yang tidak mengerti agama, fatwanya itu tidak diindahkan.H. Wasid tidak dapat membiarkan kemusrikan berada didepan matanya. Bersama beberapa muridnya, beliau menebang pohon besar tersebut. Kejadian inilah yang menyebabkan beliau dibawa ke pengadilan (18 Nopember 1887), belaiu didenda 7,50 gulden. Hukuman tersebut menyinggung rasa keagamaan dan harga diri murid-murid dan para pendukungnya.

Selain itu, penyebab terjadinya persitiwa berdarah, Geger Cilegon adalah dihancurkannya menara langgar di desa Jombang Wetan atas perintah Asisten Residen Goebel. Goebel menganggap menara tersebut mengganggu ketenangan masyarakat, karena kerasnya suara. Selain itu Goebel juga melarangang Shalawat, Tarhim dan Adzan dilakukan dengan suara yang keras.

Kelakuan kompeni yang keterlaluan membuat rakyat melakukan pemberontakan. Pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 diadakan serangan umum. Dengan memekikan Takbir para ulama dan murid-muridnya menyerbu beberapa tempat yang ada di Cilegon. Pada peristiwa tersebut Henri Francois Dumas – juru tulis Kantor Asisten residen – dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. Demikian pula Raden Purwadiningrat, Johan Hendrik Hubert Gubbels, Mas Kramadireja dan Ulrich Bachet, mereka adalah orang-orang yang tidak disenangi oleh masyarakat. Cilegon dapat dikuasai oleh para pejuang “Geger Cilegon”. Tak lama kemudian datang 40 orang serdadu kompeni yang dipimpin oleh Bartlemy. Terjadi pertempuran hebat dengan persenjataan yang tak seimbang antara para pejuang dengan serdadu kompeni. hingga akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipatahkan.

Haji Wasid dihukum gantung. Sedangkan yang lainnya dihukum buang. Diantaranya adalah Haji Abdurrahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. Haji Haris ke Bukittinggi Haji Arsyad thawil ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir ke Buton, Haji Ismail ke flores, selainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Manado, Ambon dan lain-lain. Semua pemimpin yang dibuang berjumlah 94 orang.

Dari jumlah tersebut ada 4 orang yang dibuang ke kampung Jawa Tondano dan kemudian menikah dengan wanita Jaton, mereka adalah Haji Abdul Karim (menikah dengan fam Haji Ali) keturunannya menggunakan fam Aslah, Haji Muhammad Asnawi (menikah dengan fam Haji Ali) , Haji Jafar (menikah dengan fam Maspekeh) dan Haji Mardjaya. Keturunan mereka menggunakan fam Tubagus.


Tahun 1895: Tengku Muhammad / Umar (Asal Aceh).

Tengku Muhammad atau Tengku Umar (bukan Tengku Umar pahlawan Aceh) diketahui tidak mempunyai keturunan di jaton.

Tahun 1900: Haji Saparua (Asal Maluku).

Haji saparua menikah di Tondano (Babcock, 1989) namun tidak ada catatan mengenai keturunannya.

Tiga Gelombang Penyebaran Islam di Tapanuli


Melalui Barus
—————-
                                                  perkampungan muslim barus di Tapanuli Tengah

Mungkin, sebagian di antara kita masih ada yang merasa asing dengan nama “Barus”-sebuah kota tertua di Indonesia yang terletak di pinggir pantai Barat Sumatera Utara tepatnya di Tapanuli Tengah. Tapi, tahukah kita bahwa Barus merupakan perkampungan Arab Muslim pertama di Indonesia

Gelombang pertama masuknya Islam ke Sumut berlangsung sebelum dinasti Sisingamangaraja dimulai pada sekitar pertengahan tahun 1500-an.

Dugaan paling kuat tentang awal masuknya Islam ke Sumut, adalah melalui transit pelayaran antara India atau Persia di sebelah barat dengan Tiongkok di bagian timur. Seperti dinyatakan Ridwan, pelaut-pelaut itu singgah di Barus dalam urusan pribadi, untuk berdagang, bukan penyebaran agama.

Bandar Barus, kini di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, sekitar 280 kilometer dari Medan, waktu itu termasuk tempat persinggahan terbesar di pantai barat Sumatera. Pedagang Gujarat dan Parsia selalu singgah di sini sebelum melanjutkan pelayaran.

Salah satu bukti atau petunjuk tentang mula masuknya Islam masih bisa dijumpai hingga sekarang, berupa makam Islam tua di 11 lokasi. Misalnya komplek makam Syeh Machmudsyah di Bukit Papan Tinggi, dan makam Syeh Rukunuddin di Bukit Mahligai di Desa Aek Dakka. Keduanya wafat pada tahun 440 dan 480 Hijriah. Angka itu diperoleh setelah menafsirkan tulisan pada nisannya.

Menurut penelitian Hasan Muarif Ambary dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1978 hingga 1980 dan diulangi pada tahun 1995, di dua komplek makam kuno itu terdapat lebih dari 100 kuburan. Makam tertua di komplek itu adalah makam Tuhar Amisuri. Wafat tahun 602 Hijriah atau 1212 Masehi. Makam tersebut 94 tahun lebih tua dibanding makam Sultan Malikul Shaleh di Mounasah Beringin, Kutakarang, Aceh.

Dengan bukti baru itu, Hasan yang juga guru besar di Fakultas Adab, Institut Agama Islam Negeri Jakarta dan Ketua Dewan Kurator Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal, Jakarta, menduga bahwa komunitas Islam lebih dulu terbentuk di Barus, daripada di Aceh. Namun karena tak ada bukti-bukti sejarah lebih kuat, tidak bisa disimpulkan bahwa Barus yang masuk dalam wilayah Tapanuli, merupakan kota Islam pertama di Nusantara.

Kesimpulan sementara bahwa Islam masuk pertama sekali melalui Barus cukup beralasan. Berita tentang Kerajaan Islam di Aceh baru diketahui setelah seorang penjelajah dunia Marcopolo menulis, dia sempat singgah di Kerajaan Samudera Pasai tahun 692 H atau tahun 1292 M. Di sana Marcopolo menemui banyak orang Arab menyebarkan Islam.

Catatan lain bersumber dari Ibnu Battuthah, seorang pengembara Muslim dari Maroko yang wafat tahun 1377. Ia singgah di Samudera Pasai tahun 746 H atau tahun 1345 M. Raja waktu itu Malik Al-Dzahir II (1326-1348 M), seorang yang kuat berpegang pada agama Islam dalam aliran Mazhab Syafi’i. Menurutnya Pasai telah menerima Islam dalam jangka masa satu abad sebelum kedatangannya.

Samudera Pasai memang bukan kerajaan Islam pertama di Aceh. Ia adalah kerajaan kedua setelah Peureulak (Perlak) yang berdiri pada hari Selasa, 1 Muharram 225 H dengan raja pertamanya Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Bahkan Perlak juga jadi kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Setelah itu baru muncul Samudera Pasai, Kerajaan Aceh Darussalam dan kerajaan-kerajaan bercorak Islam lainnya di Indonesia seperti Malaka, Demak, Cirebon serta Ternate.

Namun pengembangan Islam di Aceh sangat berhubungan erat dengan raja pertama Samudera Pasai Sultan Malikul Saleh (1276-1297 M). Sultan Malik Al – Salih atau biasa disebut Malikul Saleh, nama aslinya Marah Silu sebelum disyahadatkan Sheikh Ismail dari Makkah dan mendapat gelar Al Marhum Paduka Said Samudera setelah meninggal dunia.

Dengan demikian, makam-makam di Barus lebih tua umurnya dibanding masa berdiri kerajaan-kerajaan Islam di Aceh. Bahkan jauh lebih tua dibanding makam Fathimah binti Maimun di Gresik, Jawa Timur. Sebelumnya makam ini dianggap peninggalan Islam tertua di Indonesia karena pada nisan makam wanita asal Arab ini, tertulis angka tahun 475 H/1082 M, atau pada zaman Kerajaan Singasari.

Masih Dangkal
—————–

Walau Islam pertama sekali masuk melalui Tapanuli, namun karena ketiadaan pendakwah secara khusus itu, maka Islam diterima dengan dangkal serta masih dicampuri dengan mistik karena adat budaya lokal masa itu adalah animisme.

Masa persinggahan pedagang Arab itu ternyata tidak cukup lama untuk menanamkan ajaran Islam secara utuh. Sesudah kedatangan bangsa Portugis ke Nusantara sekitar abad ke 15, maka para pelaut pedagang Islam itu menghilang karena selalu mendapat serangan dari pelaut Portugis. Pusat perdagangan pun sudah berpindah ke Selat Malaka. Akibatnya Barus hilang dalam peta pelayaran internasional.

Namun kedatangan sementara pedagang Muslim itu telah menyebabkan pembauran budaya. Sebagian orang Batak di wilayah Barus mulai mengadaptasi Islam. Mereka yang beragama Islam karena proses pernikahan antara para pedagang Persia dengan penduduk lokal, dengan sendirinya menyisakan corak Islam, walau ajaran Islam belum diterima secara sempurna.

Menurut Ridwan, proses masuknya Islam ke Barus itu lebih menekankan pada hal bersifat tauhid, menekankan pada aspek pembentukan keyakinan.

“Ternyata perkembangan Islam melalui Barus tidak terlalu ekspansif. Mungkin ada persoalan perbedaan kultur, budaya. Kedua mungkin perbedaan ras, mungkin orang Arab itu berkulit putih, sedangkan Batak berkulit hitam. Kemudian ada tantangan dari kepercayaan lokal yang menganut animisme dan dinamisme. Karena itu Islam hanya beredar di situ saja tidak melebar lebih jauh,” tukas Ridwan.

Ditamsilkan Ridwan, sebenarnya hampir semua sejarah dunia, kalau pendakwah berpindah tempat, biasanya Islam itu akan tersebar di tempat kepindahannya itu. Karena Islam mudah masuk dalam ke semua masyarakat.

“Lihat saja di Indonesia. Islam tidak dikembangkan dengan ekspansi, tetapi kok bisa menyebar seperti sekarang ini?” katanya.

Gelombang Kedua Melalui Aceh
————————————-

Pedagang Parsia yang singgah di Barus, diyakini merupakan suatu kafilah dengan tujuan utama daratan Tiongkok (China). Selain di Barus, sebagian di antara mereka juga mendarat di Aceh. Diduga kuat, di sini proses penyebaran lebih serius. Terbukti Kerajaan Samudera Pasai kemudian berdiri dan menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Sejarah mencatat, Aceh menjadi kerajaan kuat. Sempat berkuasa hingga ke Bengkulu, Malaka dan termasuk Minangkabau. Di Minangkabau, kekuasaan Aceh terutama di kawasan pesisir barat, seperti Tiku, Padang, Salido, Indrapura serta Pariaman.

Aceh pernah mengangkat seorang sultannya di Pariaman, Sulthan Mughal, cucu dari Sultan Aceh Ali Mughayat Syah. Pada tahun 1576 dia dijeput ke Pariaman dan dilantik menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Seri Alam. Kekuasaan Aceh berakhir tahun 1663, seiring dengan masuknya kongsi dagang Belanda, VOC (Verenigde Oostindische Compagnie).

Aceh juga tercatat pernah menaklukkan Kerajaan Aru atau Haru, Kota Medan sekarang, pada bulan Januari dan Nopember 1539. Penyerangan itu akhirnya membuat sebagian besar penduduk Haru masuk Islam. Haru lantas menjadi kerajaan Islam pertama di wilayah Sumut sekarang.

Islam dari Aceh ini menyebar kawasan pantai timur Sumut. Sebab itu umat Islam yang bermukim di pinggiran pantai timur seperti Medan, Asahan hingga Labuhan Batu merupakan buah penyebaran dari Aceh ini.

“Polanya juga mudah dilihat sebab penyebaran Islam dari Aceh dalam bentuk tasawuf atau tharekat. Lebih banyak menekankan pada pada amaliyah ubudiyah. Sebab itu kita lihat di sini hampir tidak ada masalah atau ketegangan hubungan antara Islam dengan agama lokal. Karena kalau kita bicara tasawuf atau tharekat itu adalah pendekatan esoteris,” kata Ridwan.

Dikatakan Ridwan lagi, pendekatan tasawuf atau tharekat itu lebih diutamakan pada pendalaman makna. Tidak mempersoalkan simbol-simbol sosial. Sepanjang makna sudah masuk, tidak ada persoalan.

“Karena itu pola Islam seperti ini lebih mudah masuk dan bertahan lebih lama. Tidak menciptakan ketegangan. Seperti tepung tawar, orang tepung tawar biasa saja. Sebelum Islam tepung tawar, setelah Islam tepung tawar juga. Biasa saja. Persoalannya bukan pada bentuk tepung tawar, tetapi makna di balik tepung tawar kalau makna ini sudah seusai peraturan silahkan saja,” tukas Ridwan yang juga Ketua Forum Komunikasi Pemuka Antaragama (FKPA) Sumut.

Lepas dari tiga pola tersebut, saat ini penganut Islam merupakan mayoritas di Sumut. Data dari Kantor Wilayah Departemen Agama Sumut menyebutkan dari 11.814.233 penduduk Sumut (berbeda dengan data Biro Pusat Statistik Sumut yang menyatakan penduduk Sumut berjumlah 11.890.399 jiwa) sebanyak 7.506.103 orang memeluk Islam. Hal itu juga berpengaruh pada banyaknya jumlah rumah ibadah.

Jadi kendatipun tiga gelombang pengislaman tetap tidak berjalan di Tanah Batak, namun toh kini Islam terus berkembang dan menjadi mayoritas di Sumut.

Namun seorang penda’i keturunan China/Tionghoa di Medan, Ibrahim Musa Daud Isa Muhammad Alwy (Chou Chin Wie) menyatakan, perkembangan belakangan ini di Sumut, sebagian masyarakat keturunan China yang beragam Islam, sudah mulai mengalami pemurtadan.

“Tidak diketahui alasan pastinya. Kemungkinan masalah politis. Mungkin dahulu sebelum masa reformasi, lebih aman jika beragama Islam. Namun kini, memakai agama keturunan yang lama juga tidak masalah. Tetapi entahlah, saya tidak begitu bisa menjelaskannya,” kata Ibrahim sambil menyatakan paling hanya sekitar seribu orang saja etnis China yang memeluk Islam di Sumut dari sekitar 1.670.000 yang terdata. Jumlah itu kemungkinan akan terus berkurang karena alasan reformasi tadi.

Gelombang Terakhir

———————–

Pasukan Paderi Tuanku Imam Bonjol

Syawal 1233 Hijriah atau sekitar tahun 1816 Masehi. Tak kurang dari lima ribu orang pasukan berkuda Tentera Paderi masuk ke Mandailing, yang merupakan daerah perbatasan Sumatera Utara (Sumut) dengan dengan Sumatera Barat sekarang. Seperti semua penunggang kuda, Tuanku Rao yang bernama Fakih Muhammad, pemimpin pasukan ini mengenakan jubah putih dengan serban di kepala, khas Tuanku Imam Bonjol.

Mereka masuk melalui Muara Sipongi dan menaklukkan Penyambungan dan terus bergerak ke utara. Misi utama penyerangan itu untuk mendirikan Islam yang kaffah, yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist sesuai dengan paham Islam Wahhabi yang dianut Paderi. (lihat Andil Paderi di Tanah Batak)

Tidak begitu sulit proses penegakan syariat Islam ini karena ternyata sebagian orang Mandailing dan Angkola (sekarang Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan di Sumut) ternyata sudah ada yang memeluk Islam.

Usai menaklukkan Mandailing, pasukan dengan pedang di pinggang ini, bergerak lebih ke utara. Rencananya mereka akan menaklukkan tanah Batak yang pada saat itu masih menganut animisme dan dinamisme.
Di Sipirok, kini salah satu kecamatan di Tapanuli Selatan, mereka berhenti untuk menyusun strategi dan menambah kekuatan pasukan. Tuanku Rao lalu merekrut ribuan penduduk setempat yang sudah diislamkan/telah masuk islam dalam pasukannya. Pasar Sipirok yang sekarang dahulunya merupakan tempat latihan infrantri dan kavaleri, pasukan berkuda.

Setelah jumlah pasukan dirasa cukup dan strategi telah matang, Tuanku Rao melanjutkan penyerangan ke pusat kerajaan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja X yang bernama Ompu Tuan Nabolon.

Pasukan Paderi bergerak melewati Silantom, Pangaribuan, Silindung dan terus ke Butar dan Humbang yang merupakan daerah pusat kekuasaan Sisingamangaraja X. Di Desa Butar pasukan Paderi bertemu dengan pasukan Sisingamangaraja X. Naas, dalam pertempuran itu, Sisingamangaraja X tewas dengan leher terputus.

Menurut Ompu Buntilan alias Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak, Sisingamangaraja X yang lahir pada tahun 1785, meninggal dunia pada tahun 1819 dalam usia 34 tahun. Waktu dia baru berkuasa sebagai raja selama empat tahun saja.

                                                                         Tuanku Imam Bonjol

Satu hal yang pasti, penyerangan itu memakan banyak korban. WA Braasem dalam bukunya Proza en Poëzie om her Heilige Meer der Bataks menulis, “Pada permulaan abad yang lalu maka oleh apa yang dinamakan Penyerbuan Paderi (mazhab Islam ortodoks yang datang dari Minangkabau untuk menyebarkan Islam dengan api dan ujung pedang) ke pusat Tano Batak yang menurut tafsiran Junghuhn lebih dari 200 ribu orang yang mati terbunuh, di mana rakyat toh tidak menjadi Islam.”

Kesan agak berlebihan tentang serangan itu tertulis dalam Sedjarah HKBP yang ditulis Dr J Sihombing. Disebutkan, pasukan Tuanku Rao membakar rumah-rumah penduduk, ternak dipotong, barang-barang berharga dirampas. Rakyat berlarian, bersembunyi di hutan-hutan dan dalam gua-gua. Mulut anak kecil disumpal dengan kain, agar tidak terdengar suara atau tangisannya.

Perlawanan memang dilakukan rakyat Batak, tetapi Paderi sangat kuat. Mereka pun kalah. Penyerangan itu mengakibatkan tanah Batak banjir darah dan mayat. Perang ini juga mengakibatkan rakyat Batak miskin luar biasa. Lalu muncul dampak baru, penyakit kolera yang bersumber dari gelimpangan mayat-mayat. Belum ada obat penyembuh. Setiap orang yang terjangkit, paling lama dalam dua atau tiga hari dan akhirnya meninggal dunia.

Wabah kolera itu turut menjadi alasan keluarnya Paderi dari Batak. Mereka kembali ke Minangkabau untuk menghadapi Belanda yang semakin menancapkan kukunya. Dalam sebuah pertempuran di Air Bangis, Kab. Pasaman, Sumatera Barat, pada Januari 1833, Tuanku Rao akhirnya meninggal dunia. Mayatnya tidak ditemukan, kemungkinan dicampakkan Belanda ke tengah laut.

Usai Tuanku Rao memimpin pasukan ke Batak, datang lagi satu pasukan Paderi lainnya ke Mandailing, dipimpin Tuanku Tambusai. (lihat Rao dan Tambusai Jadi Rebutan)

Berbeda juga dengan Tuanku Rao yang masuk ke Mandailing melalui Muara Sipongi, maka pasukan masuk melalui Sibuhuan, Padang Lawas, Padang Bolak, walau akhirnya juga ke Sipirok. Di sini pula dibangun cikal-bakal mesjid pertama di Sipirok secara sederhana. Mesjid bernama Raya Sori Alam Dunia Sipirok Mashalih yang pemugarannya dalam ujud yang sekarang dibangun sejak 16 Juli 1926 itu secara resmi dimasuki pada 16 Juli 1933 dan masih dipergunakan hingga sekarang.

Kendati sama-sama berasal dari Paderi, namun dalam pengislaman pola Tuanku Tambusai sudah lebih lembut dibanding Tuanku Rao. Namun yang pasti kedua misi pengislaman tersebut pada akhirnya menjadikan Mandailing masa kini, yakni Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan sebagai daerah dengan persentase pemeluk Islam terbesar di Sumut.

Serangan Paderi di bawah pimpinan kedua tokoh tersebut, merupakan gelombang terakhir dari tiga gelombang masuknya Islam ke Sumut. Yang unik, dari tiga gelombang masuknya Islam itu, tidak satupun berhasil membuat Islam tersebar di Tanah Batak, wilayah Kabupaten Tapanuli Utara dan Toba Samosir sekarang.

“Seolah ada rantai yang terputus dalam proses penyebaran Islam di Tanah Batak,” kata Profesor HM Ridwan Lubis, Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut.

Menurut Ridwan kegagalan proses pengislaman di Tanah Batak karena polanya salah. Apalagi tentara Paderi meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Batak. Dalam sejumlah catatan cendikiawan Batak, serangan Paderi merupakan kepedihan pertama yang dialami masyarakat Batak. Sedangkan kepedihan kedua diakibatkan perang melawan penjajahan Belanda tahun 1877.

“Saya melihat kegagalan itu karena Wahhabi membawa corak Islam puritan gerakan kepada pemurnian. Kedatangan Islam ke sana bukan dalam wacara tasawuf, tetapi dalam wacana fiqh. Mereka membawa tema perubahan simbol,” tukas Ridwan.

Pola ini, kata Ridwan, tentu akan menghadapi perlawanan, berkontroversi dengan budaya lokal. Wacana Wahhabi itu cocoknya untuk mereka yang baru masuk Islam, makanya berjalan di Mandailing.

“Jika pakai tasawuf mestinya Tapanuli akan Islam juga,” tukas Ridwan.

Kesulitan Penentuan
————————-

Menurut Ridwan, sebenarnya agak sulit menentukan tentang bagaimana proses masuknya Islam ke Sumut. Dibutuhkan studi lebih mendalam, terutama tentang peninggalan-peninggalan sejarah, sehingga akan diperoleh gambaran lebih jelas tentang proses masuknya Islam tersebut.

“Ada tiga teori menentukan bagaimana Islam masuk. Pertama bagaimana Islam datang, paling tidak ada satu dua orang yang sudah Islam. Kedua bagaimana Islam berkembang, artinya Islam sudah membentuk komunitas suatu masyarakat. Biasanya jika ini jadi patokan, maka kita melihat adanya peninggalan komunitas seperti adanya mesjid dan mushola. Ketiga, ketika Islam sebagai kekuatan politik, Islam sebagai sebuah kerajaan,” kata Ridwan.

Agak sulit, kata Ridwan, menentukan waktu masuk sebenarnya. Pasalnya Islam datang ke Sumut bukan dalam bentuk ekspedisi khusus. Jadi kehadiran Islam karena kedatangan, aktivitas, kreativitas dan gagasan pribadi.

“Ini bukan hanya di Sumut, tetapi di Indonesia atau Asia Tenggara. Karena Islam datang dalam bentuk dakwah, bukan ekspansi. Makanya sulit menentukan,” kata Ridwan.

sumber :

http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9675

Rekam Jejak Snouck Hurgronje di Nangroe Atjeh


Snouck Hurgronje.

Pada masa penjajahan Belanda wilayah Aceh sulit sekali ditaklukkan oleh Belanda oleh karena adanya agama Islam dan Semangat Jihad yang selalu bergelora di hati sanubari Bangsa Aceh, oleh sebab itu Penguasa Belanda melakukan strategi mencari titik kelemahan bangsa Aceh dengan mengirim seorang Spionase cerdas yang bernama Snouck Hurgronje , ia lahir di Osterhoot, Belanda pada 8 Pebruari 1857 dan meninggal di Leiden pada 26 Juni 1936. Ia berasal dari keluarga Pendeta Protestan Tradisonal, mirip Orthodox, Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi. Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah). Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arab-nya, Snouck kemudian melanjutkan pendidikan ke Mekah, 1884.  Namun lingkungan belajarnya sampai tingkat tertentu adalah liberal. (baca : Jaringan Islam Liberal) Snouck berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama. Orientalis Kristen kelahiran Oosterhout ini tak percaya Tuhan. Tapi ia dijunjung sebagai pahlawan oleh Belanda atas keberhasilan memecah-belah ulama di tanah Aceh.

Snouck Hurgronje

Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck selanjutnya. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori “Evolusi” Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia. Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka.

Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya.

Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah berkata: “Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam”. Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah.

Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda. Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak.

Saat tinggal di Jeddah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama “Abdul Ghaffar.” Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan “Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui keIslaman Anda”. “Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda.

Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang ‘Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama. Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu.

Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat menyurat dengan ‘Ulama asal Aceh di Mekah.

Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi (klik untuk lihat foto). Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim.

Selain itu, ia juga dibantu sahabat lamanya ketika di Makkah, Haji Hasan Musthafa (klik untuk lihat foto) yang diberi posisi sebagai penasehat untuk wilayah Jawa Barat. Snouck sendiri memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda dalam bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga setelah kembali ke Belanda pada tahun 1906.

Pembersihan Aceh

Pembersihan Aceh, foto serdadu belanda yang dibawah kakinya ratusan bangkai rakyat aceh yang dibantai oleh mereka.

Misi utama Snouck adalah “membersihkan” Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh.

Misi utama Snouck adalah “membersihkan” Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh.

Pada bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam, ‘Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para ‘Ulama. Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena mereka hanya memikirkan bisnisnya.

Snouck menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan “pembersihan” ‘Ulama dari tengah masyarakat, maka Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat bisa menguasai dengan mudah.

Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber kekuatan ‘Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi.

Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan ‘Ulama Jawa, Snouck menerima surat yang bertuliskan “Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. ”

Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh.
christoffel – colijn – kohler – swart – van heutsz

Para Jenderal pembunuh rakyat Atjeh

Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, ‘Umar, Aminah dan Ibrahim (klik untuk lihat foto). Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah (klik untuk lihat foto), putri khalifah Apo, seorang ‘Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf.

Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Noldekhe, seorang orientalis Jerman terkenal. Dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi.

Ia menulis “Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. ”

Temuan lain Koningsveld dalam surat Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan. Ini terungkap dari surat yang ia tulis pada pendeta Protestan terkenal Herman Parfink yang berisi, ‘Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan. Saya sendiri ragu pada segala sesuatu. ”

Komentar Dr. Van Koningsveld

Dr. P. Sj. Van Koningsveld, penulis Belanda yang gemar mengumpulkan tulisan-tulisannya bertalian kegiatan kontroversial Snouck mencatat beberapa perilaku Snouck Hurgronje. Kumpulan tulisan Van Koningsveld ini banyak mendapat pertentantangan dikalangan akademisi yang masih menjadi almamaternya di Leiden.

Dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989), Koningsveld menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107).

Van Koningsveld juga memberikan petunjuk-petunjuk yang memberikan kesan ketidaktulusan Snouck Hurgronje masuk Islam. Dia masuk Islam hanyalah untuk melancarkan tugasnya atau tujuannya yang hendak mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia, jadi bersifat politik–bukan ilmiah murni.

Veld berkomentar tentang aktivitas Snouck: “Ia berlindung di balik nama “penelitian Ilmiah” dalam melakukan aktifitas spionase, demi kepentingan penjajah“.

Veld yang merupakan peneliti Belanda yang secara khusus mengkaji biografi Snouck menegaskan, bahwa dalam studinya terhadap masyarakat Aceh, Snouck menulis laporan ganda. Ia menuliskan dua buku tentang Aceh dengan satu judul, namun dengan isi yang bertolak belakang. Dari laporan ini, Snouck hidup di tengah masyarakat Aceh selama tiga puluh tiga bulan dan ia pura-pura masuk Islam.

Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa. Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai beberapa bagian Jawa dengan memanjakan ulama.

Dalam rentang waktu itu, ia menyaksikan budaya dan watak masyarakat Aceh sekaligus memantau perisriwa yang terjadi. Semua aktivitasnya tak lebih dari pekerjaan spionase dengan mengamati dan mencatat. Sebagai hasilnya ia menulis dua buku. Pertama berjudul “Aceh,” memuat laporan ilmiah tentang karakteristik masyarakat Aceh dan buku ini diterbitkan. Tapi pada saat yang sama, ia juga menulis laporan untuk pemerintah Belanda berjudul “Kejahatan Aceh.” Buku ini memuat alasan-alasan memerangi rakyat Aceh.

Dua buku ini bertolak belakang dari sisi materi dan prinsipnya. Buku ini menggambarkan sikap Snouck yang sebenarnya. Di dalamnya Snouck mencela dan merendahkan masyarakat dan agama rakyat Aceh. Laporan ini bisa disebut hanya berisi cacian dan celaan sebagai provokasi penjajah untuk memerangi rakyat Aceh.

File:Theodor Nöldeke in The Historians History of the World.jpg

Theodor Nöldeke

Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Nöldeke, seorang orientalis Jerman terkenal. Sekedar catatan, Nöldeke adalah orientalis dan pakar Kearaban dari Jerman. Tahun 1860 ia menerbitkan bukunya, Geschichte des Qurans (Sejarah al-Quran). Karyanya ini dikembangkan bersama Schwally, Bergsträsser, dan Otto Pretzl, dan ditulis selama 68 tahun sejak edisi pertama.

Sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan Al-Quran. Musthafa A’zhami, dalam bukunya, The History of The Qur’anic Text, mengutip satu artikel di Encyclopedia Britannica (1891), dimana Nöldeke menyebutkan banyaknya kekeliruan dalam Al-Quran karena, kata Nöldeke, “Kejahilan Muhammad” tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian yang lain yang ia curi dari sumber-sumber Yahudi.’’

Sebagaimana dikutip dalam bukunya, Musthafa A’zhami, The History of The Qur’anic Text, Nöldeke, telah menuduh Nabi Muhammad sebagai penulis Al-Quran dan orang jahil. Selanjutnya, dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi.

Ia menulis “Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. ” Temuan lain Koningsveld dalam surat Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan. Ini terungkap dari surat yang ia tulis pada pendeta Protestan terkenal Herman Parfink yang berisi, ‘Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan. Saya sendiri ragu pada segala sesuatu. “

Devide et impera
Yang jelas, selama tujuh bulan Snouck berada si Aceh, sejak 8 Juli 1891, baru pada 23 Mei 1892, ia mengajukan Atjeh Verslag, laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasehat strategi kemiliteran Snouck.

Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894. Dalam Atjeh Verslag-lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya.Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah uleebalang, tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah berposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai berhasil. Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik devide et impera.

Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung.

Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang. Van Heutsz adalah seorang petempur murni. Sebagai lambang morsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras.

Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasihat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam. Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata.

Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh.


Disadur dari :

Tulisan : Dr. Daud Rasyid, MA, Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan Konspirasi Hal. 196-199 (Usamah Press, Jakarta Cet I Agustus 2003)

Foto-foto : P.SJ. Van Koningsveld, Snouck Hurgronje en Islam; Acht artkelen over leven en werk van een orientalist uit het koloniale tijdperk (Terj. Snouck Hurgronje dan Islam, PT. Girimukti Pasaka Cet. I : 1989)

Bookmark and Share