Category Archives: Sejarah Islam Mancanegara

Muslims in Greece are ethnic Greeks


A Group of Turkish Speaking Moslems live in Western Thrace
 
The indigenous Muslim population in Greece is not homogeneous, since it consists of different ethnic, linguistic and social backgrounds which often overlap. The Muslim faith is the creed of several autochthonous ethnic groups living in the present territory of Greece, namely the Pomaks, ethnic Turks, certain Roma groups, and Greek Muslims, who converted mainly in the 17th and 18th centuries. The country’s Muslim population decreased significantly as a result of the 1923 population exchange agreement between Greece and the new Turkish Republic, which also uprooted approximately 1.5 million Greeks from Asia Minor.

The term Muslim minority (Μουσουλμανική μειονότητα Musulmanikí mionótita) refers to an Islamic religious, linguistic and ethnic minority in western Thrace, a part of north-east Greece. In 1923, under the terms of the Treaty of Lausanne, the Muslims living in Greece were required to immigrate to Turkey; whereas, the Christians living in Turkey were required to immigrate to Greece in an “Exchange of Populations“. The Muslims of Thrace and the Christians of Istanbul and the islands of Gökçeada and Bozcaada (Imvros and Tenedos) were the only populations not exchanged. For more information on this community, see Muslim minority of Greece.

According to most estimates,[2][3] about half of the autochthonous Greek Muslims consider themselves ethnically Turkish. The rest are Slavic speaking Pomaks and Roma. Relics of the Ottoman Empire, this community resides mainly in Western Thrace, where they were allowed to remain under the terms of the 1923 Treaty of Lausanne. In the town of Komotini, it makes up almost 40 percent of the total population, whereas in the town of Xanthi it makes up 23 percent of the population.

There is also a small Muslim community in some of the Dodecanese islands which, as part of the Italian Dodecanese of the Kingdom of Italy between 1911 and 1947, were not subjected to the exchange of the population between Turkey and Greece in 1923. They number about 3,000, most of whom espouse a Turkish identity and speak Turkish. The community is strongest in the city of Rhodes and on the island of Kos (in particular the village of Platanos).[4]

The Pomaks are mainly located in compact villages in Western Thrace‘s Rhodope Mountains. While the Greek Roma community is predominantly Greek Orthodox, the Roma in Thrace are mainly Muslim.

Estimates of the recognized Muslim minority, which is mostly located in Thrace, range from 98,000 to 140,000 (between 0.9% and 1.2%), while the immigrant Muslim community numbers between 200,000 and 500,000.[5] Albanian immigrants to Greece are usually associated with the Muslim faith, although most are secular in orientation.[6]

 
 They do not look very well off  
 
 
 
 They are normally a part of the Balkan Culture  
 
 
 They are traditional  
 
 
This is not a snapshot from
an Emir Custurica film
 
 
 
These people are obviously under the influence of some
strict religious
leaders.
 
 
 
 
They have great sense of humour  
 
They pray on Friday at noon  
 
 
 
These people seem isolated from the rest of Greece.  
 
 
 The latest fashion  
 
 
 They make their living on Agricultural activities  
 

Surat Malcomn X dari Makkah : Saya Berjuang untuk Hidup Sebagai Muslim Sunni Sejati


Rasa haru, persaudaraan, kemurahan hati dan tidak mementingkan diri sendiri yang dirasakan Malcolm X di kota Makkah saat melaksanakan ibadah haji, membuka mata hatinya tentang semangat Islam yang sebenarnya. Dalam buku autobiografi yang ditulisnya bersama Alex Haley, Malcolm menulis, “Karena pencerahan spiritual dimana saya mendapatkan rahmat untuk mengalaminya setelah melaksanakan ibadah haji ke kota Mekkah, saya tidak lagi membiasakan melempar dakwaan kepada ras manapun. Sekarang, saya berjuang untuk hidup sebagai seorang Muslim Sunni sejati. Saya harus mengulangi bahwa saya bukan seorang rasis dan bukan pula seorang yang menganut prinsip rasisme. Saya nyatakan dengan ketulusan hati bahwa saya tidak berharap apa-apa kecuali kebebasan, keadilan dan persamaan, kehidupan, kemerdekaan serta kebahagiaan untuk semua orang,”

Dalam buku Autobiography of Malcolm X, Malcolm X atau nama Islamnya Malik al-Shabazz mengungkapkan kesan-kesannya melaksanakan ibadah haji di tanah suci dalam surat yang ditujukan ke asistennya di Harlem. Surat itu ia kirim dari Mekkah pada bulan April 1964. Berikut isi suratnya:

Saya tidak pernah menyaksikan keramahtamahan yang begitu tulus dan semangat kebersamaan yang begitu besar, seperti yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai warna kulit dan ras di kota suci ini, rumah dari Ibrahim, Muhammad dan nabi-nabi lainnya yang disebut dalam kita suci Al-Quran. Dalam beberapa minggu yang saya lewati, saya benar-benar kehilangan kata-kata dan terpesona dengan keagungan yang saya saksikan di sekitar saya yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai bangsa. Saya beruntung bisa berkunjung ke kota suci Mekkah; Saya sudah melakukan tawaf keliling Ka’bah 7 putaran, dipimpin oleh seorang Mutawwaf (pembimbing) muda bernama Muhammad; Saya minum air dari sumur air Zamzam; Saya lari 7 kali bolak-balik dari bukit Safa ke bukit Marwa; Saya berdoa di kota tua Mina dan Saya berdoa di pegunungan Arafah.

Di sana ada puluhan ribu jemaah haji dari seluruh dunia. Mereka berasal dari berbagai warna kulit dari yang bermata biru, pirang sampai yang berkulit hitam dari Afrika. Namun mereka semua melakukan ritual yang sama, menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan yang dari pengalaman saya di Amerika telah membuat saya percaya bahwa hal semacam ini tidak akan pernah terjadi antara kulit putih dan non kulit putih. Amerika perlu memahami Islam, karena Islam adalah agama yang menghapuskan masalah rasa di kalangan pemeluknya. Dari seluruh perjalanan yang pernah saya lakukan ke dunia Islam, saya bertemu, bicara dan bahkan makan bersama dengan orang-orang yang di Amerika akan dianggap sebagai orang kulit putih-namun sikap sebagai orang kulit putih telah dihilangkan dari pikiran mereka oleh agama Islam.

Saya tidak pernah menyaksikan sebelumnya, ketulusan dan rasa persaudaraan sejati yang dilakukan oleh orang-orang dari berbagai warna kulit bersama-sama, mereka mengabaikan warna masing-masing. Kamu mungkin akan sangat terkejut dengan kata-kata saya ini. Tapi dalam pelaksanaan ibadah haji, apa yang saya lihat dan saya alami, memaksa saya untuk menyusun kembali banyak dari pola pikir yang saya anut sebelumnya dan membuang sejumlah kesimpulan yang buat di masa lalu. Ini tidak terlalu sulit buat saya. Disamping pendirian saya yang kuat, saya selalu menjadi orang yang berusaha menghadapi kenyataan dan menerima kenyataan hidup sebagai pengalaman baru dan pengetahuan baru yang terbentang. Saya selalumenjaga untuk tetap terbuka, yang merupakan hal pentinguntuk bersikap fleksibel agar berjalan bersisian dengan setiap bentuk pencarian untuk mendapatkan kebenaran.

Selama 7 hari yang saya lewati di sini, di negara Islam ini, saya makan bersama dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama dan tidur di karpet yang sama-ketika berdoa pada Tuhan yang sama-dengan saudara-saudara sesama Muslim, yang matanya lebih biru dari yang biru, yang rambutnya lebih pirang dari yang piran dan kulitnya lebih putih dari yang putih. Dan dalam perkataan dan perbuatan Muslim berkulit putih itu, saya merasakan ketulusan yang sama seperti yang saya rasakan ketika berada di antara Muslim berkulit hitam yang berasal dari Nigeria, Sudan dan Ghana.

Kami benar-benar menjadi satu saudara-karena keimanan mereka pada satu tuhan telah menghapus pemikiran bahwa mereka orang kulit putih, baik dari sikap maupun tingkah laku mereka. Apa yang saya lihat dari pengalaman ini, bahwa mungkin jika orang kulit putih Amerika bisa menerima ke-Esa-an Tuhan, maka mungkin mereka juga bisa menerima bahwa semua umat manusia adalah sama-dan berhenti melakukan tindakan, menghalangi dan membahayakan orang lain hanya karena ‘perbedaan’ warna kulit. Dengan wabah rasisme di Amerika yang sudah seperi kanker yang tidak bisa dicegah, kemudian apa yang disebut hati ‘Orang Kristen’ kulit putih Amerikaselayaknya lebih bisa menerima sebuah solusi yang sudah terbukti untuk mengatasi masalah-masalah destruktif itu. Mungkin ini sudah saatnya melindung Amerika dari bencana yang makin dekat-kerusakan yang sama yang dialami negara Jerman akibat rasisme yang pada akhirnya menghancurkan bangsa Jerman sendiri.

Setiap jam, di sini, di kota suci membuat saya belajar untuk memiliki wawasan spiritual yang lebih besar terhadap apa yang terjadi di AS antara orang kulit putih dan kulit hitam. Orang Negro Amerika tidak bisa disalahkan atas rasa dendam rasial mereka-mereka hanya bereaksi atas rasisme yang dilakukan warga kulit putih Amerika secara sadar selama hampir empat ratus tahun. Tapi seiring dengan rasisme yang mengarahkan Amerika ke jalan bunuh diri, saya tetap yakin, di akademi-akademi dan universitas-universitas, akan terlihat tulisan-tulisan tangan di dinding-dinding dan banyak di antara mereka yang akan berubah ke jalan spiritual yang sebenarnya-satu-satunya jalan yang menjadikan Amerika untuk terhindar dari bencana akibat tindakan rasisme yang tidak bisa dihindari akan menimbulkan bencana itu.

Saya tidak pernah merasa sedemikian terhormat. Saya tidak pernah merasa begitu rendah hati dan merasa tidak berharga. Siapa yang akan percaya akan rahmat yang telah dilimpahkan pada seorang Negro Amerika? Beberapa malam yang lalu, seorang laki-laki yang di Amerika akan disebut kulit putih, seorang diplomat PBB, seorang duta besar, seorang penasehat raja, memberikan ruangan suite hotelnya pada saya, tempat tidurnya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, bahka bermimpi bahwa saya akan menerima kehormatan semacam itu-kehormatan yang di Amerika akan dipersembahkan hanya untuk seorang Raja, bukan seorang Negro.

Segala puji bagi Allah, seru sekalian alam.
Hormat Saya,
Al-Hajj, Malik al-Shabazz (Malcolm X)

(Sumber: IslamOnline)

Amerika Punya 565 Nama Islam


https://i0.wp.com/pekanbaru.tribunnews.com/foto/bank/images/ALABAMA.jpg

Amerika, negara adikuasa berjulukan polisi dunia, ternyata memiliki 565 nama daerah dan kota yang berasal dari khasanah Islam.

Nama-nama Tersebut antara lain Alhambra di Los Angeles. Di bagian tengah Amerika dari selatan sampai Illionis terdapat nama kota Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon dan Tullahoma.

Di Washington ada nama kota Salem dan lain-lain. Nama Alabama dan Arkansas  berasal dari nama Islam, yaitu Allah-bamnya dan Arkan-Syah. Nama Medina, Mecca juga terdapat di Indiana dan New York.

Nama-nama khasanah Islam di Amerika itu dibeberkan dalam Encyclopedia Islam International (EII),  ditulis HM Iwan Gayo, yang juga penyusun serial “Buku Pintar” yang telah 45 kali cetak ulang.

“Saya kaget begitu mengetahui fakta bahwa di Amerika bertebaran nama-nama Islam. Ini membktikan bahwa Islam sudah mendarah-daging di benua Amerika,” kata Iwan Gayo, yang bertolak ke Turki, Senin (25/3).

Buku berkulit coklat setebal 1.264 halaman itu  memuat 5.181 artikel dan 6.569 gambar. BUku ini diklaim sebagai esiklopedia Isaam terlengkap didunia.

Untuk merampungkan buku tersebut, Iwan Gayo, peraih hadiah jurnalistik “Adinegoro” pada 1981,  melakukan riset mendalam di berbagai negara di dunia.

“Sumber paling banyak saya peroleh justru di Amerika dan Eropa. Hanya 30 persen sumber dari Timur Tengah,” ujar Iwan Gayo tentang materi bukunya tersebut.

Iwan Gayo  juga menemukan bukti bahwa Columbus bukanlah orang  pertama menemukan benua Amerika seperti yang selama ini dimuat dalam  buku sejarah. “Jauh sebelum Columbus datang, sudah ada pelaut Muslim dari Andalusia Spanyol yang hidup dan berkembang di benua Amerika.

“Columbus tidak akan pernah mengenal benua Amerika apabila tidak ada bantuan dari dua nakhoda muslim Andalusia, Martin Alonso Pinzon dan Kanan Vincen Yanez Pinzon,” kata Iwan Gayo mengutip isi halaman 118 buku ensiklopedi tersebut.

Columbus sendiri menulis bahwa pada saat berlayar dekat Gibara pada bagian tenggara Cuba, menyaksikan masjid di atas puncak bukit yang indah (halaman 117).

Ensiklopedi ini juga memuat keterangan tentang sosok RA Kartini, ternyata pernah menganjurkan diterjemahkannya al-Quran ke dalam bahasa Jawa.

“Selama ini keterangan seperti ini tidak pernah kita dengar di publik. Sosok Kartini hanya digambarkan sebagai pejuang emansipasi wanita,” jelas Iwan Gayo.

Editor: Willy Widianto  |  Sumber: Serambi Indonesia

Islam di Estonia


Sejak akhir era 80-an, telah lima kali diupayakan pembangunan masjid.
Kini, terdapat sekitar 20 ribu jiwa umat Muslim di Estonia, sebuah negara kecil di kawasan Baltik. Mereka sudah menetap di sana sejak puluhan tahun lalu, bahkan turut merasakan pahit getir penderitaan semasa rezim komunis Soviet. Akan tetapi, hingga kini, keberadaan mereka seolah belum terakomodasi. Salah satu buktinya adalah belum adanya sarana (tempat) ibadah yang representatif untuk umat Islam di Estonia.
Ya, belum ada satu pun masjid di negara pecahan Uni Soviet itu. Upaya membangun masjid sebenarnya sudah kerap dilakukan. Namun, ada banyak tantangan dan kendala yang dihadapi, mulai dari pejabat di pemerintahan, masyarakat setempat, ataupun di internal umat sendiri.
Warga Muslim masih terkenang kejadian di tahun 2003 silam. Ketika itu, dengan sokongan seorang pengusaha Muslim, mereka berniat mewujudkan harapan membangun masjid pertama. Bahkan, lebih dari itu, masjid tersebut rencananya bakal jadi yang terbesar di wilayah Balkan.
Proyek ambisius ini bakal berlokasi di Ibu Kota Tallin atau kota besar lainnya. Bila telah selesai pembangunannya–yang diperkirakan menelan dana hingga 40 juta dolar–masjid ini juga difungsikan sebagai pusat kegiatan agama dan kemasyarakatan.
Tapi, tak lama setelah program tersebut digulirkan, muncul penolakan dari berbagai pihak. Salah seorang anggota parlemen Estonia, Liina Tonisson dari Partai Pusat, mengatakan, ”Kami sebenarnya tidak bisa mencegah pembangunan masjid ini. Akan tetapi, Estonia adalah sebuah negara yang berkebudayaan Eropa dan agama Islam tidak cocok di sini,” terangnya.
Meski begitu, pejabat kota tidak berkeberatan. Juri Mois, wali kota Tallin, menilai, adanya masjid tersebut nantinya akan mampu menambah keragaman di kota itu. ”Ini akan membuat turis asing tertarik untuk berkunjung ke Estonia,” katanya.
Dukungan juga datang dari Pusat Kebudayaan Kristen Estonia. Organisasi ini bersedia bekerja sama dengan Palang Merah Islam untuk melobi para pejabat setempat ataupun komunitas umat beragama lain guna menyukseskan program itu.
Polemik terus berlanjut. Ada kekhawatiran bahwa rencana pembangunan masjid dapat memicu sentimen antitoleransi dan kekerasan agama.
Isu ini langsung ditepis mufti Estonia, Syekh Ahmed Harsinov. Islam, kata Syekh Ahmed, adalah agama damai. Dia lantas menyerukan perlunya dialog intensif antara umat beragama di negara itu sebagai upaya membangun saling pengertian dan pemahaman.
Syekh Ahmed kemudian mengingatkan bahwa umat Islam sudah ada di Estonia sejak 100 tahun lalu dan selama itu pula tidak pernah memicu kerusuhan atau kekerasan. ”Jadi, tidak ada alasan untuk merasa takut terhadap Islam dan komunitas Muslim,” tegasnya.
Sejarah pun mencatat bahwa pembangunan urung terlaksana setelah timbul permasalahan di internal umat. Mereka mempertanyakan kesanggupan Habib Gulijev, sang pengusaha, untuk memimpin proyek ini sekaligus menyediakan pendanaan yang dibutuhkan.
Terkait rencana pembangunan tersebut, Syekh Ahmed mengungkapkan perlunya umat Muslim Estonia memiliki tempat ibadah. Ini mengingat, di Ibu Kota Tallin, hanya ada sekitar 13 tempat shalat dan tak satu pun yang merupakan masjid. Dirinya mencatat, sejak akhir era 80-an, telah lima kali dilakukan upaya pembangunan masjid.
Lebih dari separuh jumlah umat Muslim menetap di Tallin. Kebanyakan dari mereka berasal dari etnis Tatar dan Azer yang datang ke kawasan ini sejak era Uni Soviet. Kini, jumlah pemeluk Islam semakin bertambah dengan kehadiran para imigran dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan negara-negara Islam di Asia.
Bertoleransi Adalah etnis Muslim Tatar yang pertama kali hadir di negara tersebut. Mereka berstatus sebagai pengungsi setelah tanah airnya, Republik Tatar, dikalahkan tentara Kerajaan Rusia. Represi besar-besaran terjadi. Intelektual dan tokoh agama banyak yang disingkirkan.
Warga pun memilih hengkang dan mencari tempat lebih aman. Beberapa dari mereka sampai di Finlandia dan juga Estonia. Dua kota utama, Narva dan Tallin, pernah menjadi pusat konsentrasi ribuan pengungsi.
Ketika itu, Estonia belum berbentuk negara. Estonia masih merupakan provinsi miskin dan masuk wilayah Kekaisaran Rusia. Daerah ini sempat porak-poranda akibat Perang Dunia I.
Penduduk asli menerima para pengungsi dengan tangan terbuka. Mereka beragama Nasrani, tapi bertoleransi terhadap umat agama lain, terlebih para pendatang tadi sedang mengalami penderitaan.
Kedua pemeluk agama hidup berdampingan secara damai. Eksistensi umat pun diakui, misalnya diperbolehkan memiliki lahan pemakaman khusus Muslim. Tak hanya itu, agama Islam pun tercantum sebagai agama resmi dalam konstitusi sejak tahun 1928.
Mereka juga mendapat pekerjaan cukup baik di berbagai bidang profesi. Perdagangan berkembang pesat, demikian pula sektor pendidikan di mana banyak pelajar Muslim yang menimba ilmu di Universitas Tartu.
Tibalah musim semi tahun 1940. Republik kecil ini dianeksasi tentara komunis Soviet. Maka, sekali lagi, komunitas Muslim mengalami penindasan. Ribuan warga kemudian dideportasi ke Siberia. Ini merupakan bagian dari kampanye ‘Rusianisasi’ di seluruh wilayah pendudukan.
Sekitar bulan Maret 1944, pada masa Perang Dunia II, angkatan udara Soviet membombardir Tallin yang masih dikuasai Nazi Jerman. Kota itu rusak berat, termasuk kediaman komunitas warga Muslim. Sistem drainase juga porak-poranda hingga menyebabkan banjir besar yang turut menghancurkan pemakaman Muslim.
Usai PD II, dengan rezim komunis tetap bercokol, kehidupan keagamaan ditekan. Pada pertengahan tahun 80-an, umat Muslim membentuk organisasi pertama, tapi baru diakui secara resmi pada tahun 2000.
Estonia pun memperoleh kemerdekaan tahun 1991. Berdasarkan data sensus tahun 1997, jumlah penduduknya mencapai 1,7 juta jiwa, termasuk umat Islam. Sejak itu, tidak ada permasalahan berarti dalam kehidupan keseharian. Sampai timbul peristiwa 11 September yang mengubah persepsi warga Barat terhadap Islam dan umat Muslim. yus/berbagai sumber
Bangga Miliki Alquran Terjemahan
Keterbatasan sarana ibadah tak menghalangi umat Muslim Estonia untuk terus berupaya memantapkan akidah. Desember 2007 lalu menjadi momen penting bagi segenap umat setelah secara resmi diterbitkan Alquran terjemahan dalam bahasa Estonia.
Liberalisasi kebijakan imigrasi memang telah membuat peningkatan angka imigran dari negara-negara Muslim. Oleh karena itu, diperlukan pula penambahan berbagai sarana dan prasarana penunjang ibadah.
Untuk tahap awal, edisi pertama Alquran ini dicetak sebanyak tiga ribu kopi. Subhanallah, umat sangat antusias menyambut kehadiran kitab suci ini.
Dalam waktu singkat, seluruh cetakan Alquran tersebut terjual habis. Hal ini terbilang fenomenal, mengingat di negara kecil ini hanya memiliki angka tertinggi penjualan buku yang hanya mencapai lima ribu kopi. Dalam sebulan, Alquran tersebut telah menjadi best seller.
Menurut penerbitnya, Aivar Lestinski, dalam beberapa tahun belakangan, muncul kecenderungan di masyarakat Muslim untuk memperdalam agama Islam, belajar ilmu Alquran, dan lainnya. Tak mengherankan jika buku-buku tentang agama pun laris manis.
Alquran terjemahan bahasa Estonia itu adalah karya Haljand Udam (1936-2005). Penerjemahan sendiri dilakukan selama lebih dari tiga tahun.
Udam memang punya kemampuan bahasa asing yang sangat luar biasa. Dia menguasai sejumlah bahasa, seperti Arab, Farsi, Tajiki, Hindi, Urdu, dan Uzbek. Selain itu, dia pun mahir dalam beberapa bahasa Eropa, misalnya Prancis, Inggris, Rusia, dan Finlandia.
Beberapa buku dari para ulama dan pengarang terkemuka dunia telah berhasil diterjemahkan pula. Pun, karya-karya yang berupa esai, hasil penelitian, serta buku karangannya diterjemahkan sendiri ke berbagai bahasa, seperti Read and Written (1998), Ittenarary of the Orient (2001), dan Magicians, Philosophers, Politicians (2003).
Pendidikannya ditempuh di Universitas Tartu, di mana dia memperoleh gelar sarjana di bidang geologis. Akan tetapi, Udam lantas tertarik mempelajari budaya Timur dan selanjutnya belajar di Universitas Tashkent tahun 1964.
Kemudian, studinya berlanjut di Soviet Academy of Science dengan mengambil jurusan bahasa Rusia. Dua tahun setelah hijrah ke Rusia, di tahun 1971, Udam menulis tesis terkenalnya yang berjudul Semantic Features of Sufi Terminology in Persian. /berbagai sumber

Perkampungan Muslim di Yunani


Pomak Village, Xanthi, Yunani

Kalau berbicara tentang Yunani, pasti yang ada dipikiran kita adalah negeri seribu dewa dan Hercules, ya karena 2 istilah itulah yang memang sudah melekat erat dengan negara Yunani sejak ribuan tahun silam, jika kita kaitkan dengan Islam, memang tidak bahkan hampir tidak pernah kita dengar tentang Islam di Yunani,karena Islam di Yunani sendiri identik dengan Turki, sedikit berbagi info tentang perkampungan Muslim di Yunani dan juga Etnis Pomak (Etnis Muslim di Yunani)

Kaum Minoritas Muslim Hidup di wilayah Thrace area of Greece, yang meliputi Komotini, Xanthi,Alexandroupolis dan Soufli, di Xanthi ada sebuah desa yang dihuni kaum Pomak yang juga disebut white village dengan mayoritas penduduknya muslim. Pomak sendiri adalah suku atau etnis asli slavic muslim yang ada di 4 negara, bulgaria,turki, albania dan yunani, bahasa asli mereka adalah bahasa Bulgaria, dan juga bahas aturki dan yunani sebagai bahasa kedua
Populasi suku pomak di Xanthi sendiri berkisar antara 30.000-35.000 penduduk,di wilayah Thrace area of Greece sendiri banyak dijumpai Masjid,coba saja anda ketik di google dengan keywoard “thrace greece” anda akan menemukan gambar-gambar ini

Kalau anda perhatikan gambar2 diatas, anda akan melihat bawah Masjid dan Minaret adalah salah satu landscape dari wilayah Thrace of Greece, gambar diatas adalah wilayah Rhodope dan Medousa yang memang terletak di wilayah Thrace of Greece

warga asli yunani yang beragama muslim  
Muslim Yunani di wilayah Thrace termasuk di white village Xanthi adalah warga asli Yunani yang memang beragama Islam. Hal tersebut tidak terlepas dari adanya pengaruh Ottoman Empire Turki yang memang pernah berjaya di Eropa pada abad ke 15. Bermula ketika pasukan Ottoman Empire menduduki wilayah pegunungan di Xanthi,awalnya hanya 6 penduduk asli Xanthi yang beragama islam, hingga sekitar abad ke 16 dan 17 banyak penduduk Pomak yang masuk islam dan bergabung dengan Ottoman, penduduk Pomak mendatangi Pemimpin Ottoman untuk memberitahu keputusannya masuk islam,tapi pemimpin Ottoman mengirim mereka ke Greek bishop of Philippoupolis Gabriel (1636–1672). Tetapi Greek Bishop tidak bisa mengubah keputusan dan pemikiran masyarakat Pomak yang akhirnya tetap memeluk agama islam dan bergabung dengan Ottoman empire untuk berperang melawan Bulgaria yang telah menyengsarakan mereka.

Kemudian menurut tradisi lisan Yunani dari Philippoupolis, upacara khitanan massal pun diadakan di depan masjid tua di dekat gedung pemerintahan dan akhirnya para penduduk desa tersebut pun menjadi muslim.

Pomaks
*dari berbagai sumber

Sejarah Islam di Bulgaria


 

Muslim Bulgaria Peringati Tirani Komunis (2)

Komunitas muslim di Bulgaria
ISLAM adalah agama minoritas terbesar di Bulgaria. Menurut sensus penduduk tahun 2001, jumlah umat Islam di negara ini sekira 966.978, atau 12,2 persen dari populasi rakyat Bulgaria.
Menurut kriteria etnisitas, Muslim di Bulgaria dibagi ke dalam kelompok berikut: Turki — 764.000 jiwa; Muslim Bulgaria — 130.000; Roma — 100.000; dan sisanya tersebar di beberapa wilayah lainnya.
Sebagian besar Muslim di Bulgaria adalah Muslim Sunni. Ada juga dari golongan Syiah — tapi sama dengan di banyak negara lainnya, Syiah di Bulgaria dianggap sebagai bagian dari sekte Islam. Pada kenyataannya tidak seperti itu karena Syiah adalah sebuah “agama lain”, utamanya di Bulgaria.
Para pemeluk Syiah diberitakan punya toleransi yang besar, sebagai contoh, Syiah Kuzulbashi masih bersedia mempertahankan adat istiadat persekutuan, pengakuan, dan menghormati orang-orang kudus Ortodoks. Integrasi kebiasaan Ortodoks ke dalam Syiah — yang celakanya disangka sebagai Islam –memunculkan jenis sinkretisme yang hanya bisa ditemukan di Bulgaria.
Ahmadiyah juga hadir di Bulgaria. Namun meskipun Ahmadiyah hanya sebuah sekte kecil di negara ini, praktek mereka sebagai Ahmadi dilarang secara tegas oleh pemerintah Bulgaria karena perselisihan dalam kepercayaan antara kaum mayoritas Muslim.
Sejarah
Pada pertengahan abad kesembilan, sejumlah kecil Muslim di Bulgaria mulai datang, dibuktikan dengan surat dari Paus Nicholas untuk Boris dari Bulgaria bahwa Saracen harus punah. Selama masa Tsar Simeon, pengaruh Islam pada seni Bulgaria mulai muncul, meskipun diyakini bahwa ini merupakan pengaruh dari Bizantium.
Kemudian pada abad 11 dan 12, suku-suku nomaden Turki seperti Cumans dan Pechenegs masuk ke Bulgaria. Menurut ulama, sebagian dari mereka adalah Muslim. Di sisi lain, Kristen Ortodoks Gagauzes juga mengaku berasal dari Cumans dan Pechenegs yang menetap di Bulgaria utara, yang berarti bahwa nenek moyang mereka bisa jadi adalah Kristen atau mengadopsi Kristen pada saat kedatangan mereka.
Namun puncak kedatangan Muslim ke Bulgaria terjadi selama abad 13, yaitu ketika Muslim Seljuk Turki ke Dobruja. Pada tahun 1362, Ottoman Turki merebut kota Edirne dan dalam dua tahun berikutnya mereka telah meluaskan kekuasaan sampai Plovdiv. Kota Sofia jatuh pada tahun 1385, dan secara Islam ada di tanah Bulgaria pada abad ke-14 akhir di pemerintahan Utsmani dari Balkan. Menurut Grand Mufti di Sofia pada masa pemerintahan Ottoman Turki di Bulgaria ada 2.356 masjid, 142 madrasah dan 400 wakaf.

13061768961603338910

Masjid Banya Bashi di tengah-tengah kota Sofia

Setelah Perang Rusia-Turki, banyak bangunan dan peninggalan Islam dihancurkan atau disita untuk penggunaan kepentingan sipil. Namun begitu, saat ini, diperkirakan ada 1.458 masjid di Bulgaria, termasuk yang cukup banyak di sebuah negara Eropa.
Saat Ini
Seperti di banyak negara Eropa lainnya, Muslim Bulgaria menderita di bawah pembatasan kebebasan beragama oleh rezim Zhivkov Marxis-Leninis. Rezim komunis Bulgaria seenaknya mengumumkan bahwa keyakinan Muslim bertentangan dengan ideologi komunis sekuler.
Pada tahun 1989 silam, 310.000 Muslim Bulgaria lari ke Turki akibat kampanye asimilasi rezim komunis Zhivkov. Program ini, yang dimulai pada tahun 1984, memaksa semua orang Turki dan Muslim lainnya di Bulgaria untuk mengadopsi nama Bulgaria dan meninggalkan semua kebiasaan Muslim.
Umat Muslim di negara-negara Eropa terus mendapatkan diskriminasi dari penduduk lokal. Ironisnya, tak jarang pemerintah di negara-negara biru juga menekan para Muslim dengan mengeluarkan kebijakan yang merugikan umat Muslim. Hal itu terjadi di Bulgaria, negara tetangga Turki.Ya, diskriminasi terhadap umat Muslim di Bulgaria dalam satu tahun terakhir terus berkembang. Tekanan itu juga datangan dari Pemerintah Bulgaria tak bisa berbuat banyak untuk menjamin hak-hak Muslim di negara yang pernah dikuasai Kesultanan Utsmaniyah itu.

Muslim Bulgaria semakin khawatir dengan tren meningkatnya diskriminasi para anti-Muslim terhadap komunitas Muslim. Sangat sedikit langkah yang diambil pemerintah untuk membendung masalah ini. Para analis bahkan menunjukan, beberapa korban Muslim justru dibawa ke pengadilan dengan tuntutan telah melakukan tindakan hooliganisme.

Para ahli mengatakan, Muslim Bulgaria terus mengalami kekurangan akses ke berbagai aspek seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan atau perwakilan politik yang layak. Bulan lalu, Amnesti Internasional telah mengeluarkan laporan yang menyerukan pada pemerintah negara-negara Eropa untuk menghapus pandangan negatif terhadap Islam.
Sayangnya, Amenesti Internasional tersebut tidak ‘sakti’ dalam membendung diskriminasi terhadap umat Islam di negara-negara Eropa. Pada Mei 2011 misalnya, anggota sayap kanan Bulgaria dari Partai Ataka justru menyerang Muslim yang sedang melakukan shalat Jumat di masjid utama di pusat kota Sofia.

Tak hanya itu, Pemerintah Bulgaria juga menggerus hak umat Islam dalam menjalankan perintah agamanya. Salah satunya adalah pelarangan foto paspor perempuan dengan menggunakan jilbab. Selain itu, literatur keagamaan di negara tersebut dilarang berfokus pada Islam. Banyak yang memandang ini merupakan kampanye ‘kotor’ terhadap Muslim di Bulgaria.

*dari berbagai sumber

Masjid Qolsharif: Simbol Kemerdekaan Bangsa Tatar di Rusia


Masjid Qolsharif: Simbol Kemerdekaan Bangsa Tatar di Rusia

Qolsharif

Beberapa temuan sejarah menunjukkan bahwa Islam telah ada di wilayah Federasi Rusia sejak abad ke-10. Tepatnya di Kazan, ibukota Republik Tatarstan dan salah satu kota terbesar di Rusia.

Bukti kehadiran Islam di tanah Kazan ini merujuk pada penemuan sebuah masjid yang diyakini berusia seribu tahun lebih. Arkeolog menemukan reruntuhan lain berupa bebatuan putih di dekat salah satu benteng kuno. Menurut para peneliti, bangunan itu menghadap ke arah Makkah.

Temuan tersebut sekaligus membantah pandangan para sejarawan yang mengatakan bahwa Islam muncul di Kazan dan kawasan tersebut setelah abad ke 15. Menurut para ahli Rusia, kota Kazan telah ada sejak abad ke-10. Namun, dokumen-dokumen tertulis yang dimiliki kota ini berasal dari abad ke-15. Dalam periode tersebut, Kazan adalah ibukota ”Kazan Khanate”. Kota ini berkembang setelah didirikannya Kazan Khanate.

Lokasi di mana ditemukannya reruntuhan bangunan masjid tersebut kini berdiri sebuah masjid yang diberi nama Qolsharif (dalam bahasa Tatar) atau Kul Sharif (dalam bahasa Rusia). Masjid ini merupakan masjid terbesar di Rusia dan di kawasan Eropa Timur. Nama Qolsharif yang tersemat pada masjid ini mengacu kepada nama pemimpin dan ulama terkemuka di Kazan Khanate. Sejumlah literatur sejarah menyebutkan bahwa Qolsharif meninggal dengan sejumlah muridnya ketika berusaha mempertahankan Kazan dari pendudukan Rusia tahun 1552.

Untuk mengenang sang pahlawan Kazan ini, atas arahan Presiden Tatarstan Mintimer Shaymiev, maka kemudian dibangun kembali sebuah masjid yang hampir serupa, walaupun bentuknya sedikit modern. Disamping sang presiden juga berkeinginan memiliki sebuah masjid yang representatif dengan mengikuti contoh arsitketur Ottoman (Turki Usmani). Tahapan pembangunan kembali masjid tersebut dimulai sejak tahun 1996.

Diketahui bahwa bangunan masjid yang dulu pernah berdiri di lokasi tersebut memiliki dua buah menara. Kedua menara tersebut dalam bentuk kupola dan tenda. Secara keseluruhan bentuk bangunan masjid itu mengadopsi bangunan tradisional di wilayah Volga Bulgaria. Volga Bulgaria adalah sebuah negara Bulgar yang pernah eksis antara abad ke-7 hingga abad ke-13 di sekitar Sungai Volga dan Kama di Rusia. Meski mengadopsi bentuk bangunan tradisional Volga Bulgaria, namun beberapa bagian dari masjid ini menggunakan elemen aristektur Renaisans awal dan arsitektur Ottoman. Tahun 1552, selama penyerangan ke Kazan masjid ini dihancurkan oleh pasukan kekaisaran Rusia.

Simbol kemerdekaan

Bangunan Masjid Kul Sharif diresmikan pada 24 Juli 2005. Momentum pembukaan kembali masjid ini dijadikan momentum kebangkitan Kazan dan Tatarstan, karena bertepatan dengan hari berdirinya ibukota Kazan yang ke-1000. Karenanya, masjid ini dianggap sebagai salah satu simbol terpenting dari keinginan bangsa Tatar untuk merdeka dan bebas.

Peresmian tersebut dihadiri oleh ribuan warga muslim Tatarstan. Beberapa perwakilan negara Muslim, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang ikut menyumbang dalam pembangunan Masjid Kul Sharif hadir dalam acara peresmian tersebut.

Kendati bentuk bangunan lama dari masjid ini tidak lagi dipertahankan, namun penggunaan elemen arsitektur masa Renaisans awal dan Ottoman tetap dipertahankan oleh sang arsitek. Sekilas pandang, bangunan masjid ini menyiratkan kemegahan. Warna putih dan biru tampak mendominasi bagian luar masjid. Bangunan baru dari Masjid Kul Sharif ini memiliki delapan buah menara dan satu kubah utama yang dapat dilihat dari Katedral Saint Basil, Moskow. Kubah masjid berwarna putih-biru ini berdiameter 39 meter. Adapun kedelapan menaranya, masing-masing memiliki tinggi 57 meter.

Bangunan Masjid Kul Sharif ini terdiri dari dua tingkat. Lantai atas merupakan ruang shalat, sementara lantai bawah dipergunakan bagi keperluan pendidikan, museum maupun administrasi. Pada bagian halaman, terdapat dua ruang paviliun besar dan kolam berornamen Timur Tengah.

Dengan mempertahankan beberapa elemen arsiktektur pada bangunan lama, komplek Masjid Kul Sharif dianggap menjadi titik lanskap arsitektur Kazan terpenting. Selain bangunan masjid utama, juga terdapat ruang perpustakaan, ruang publikasi serta ruang khusus bagi para Imam. Lantas berapa biaya yang diperlukan untuk membangunnya? Situs Islamonline menyebut angka 375 juta rubel, yang sebagian besar berasal dari donasi masyarakat Tatarstan sendiri.

Selain karena kemegahan bangunannya, masjid yang juga terkenal di Eropa ini memiliki keunikan lainnya. Masjid ini berdampingan dengan sebuah katedral. Saat ini, bangunan masjid ini lebih sering digunakan bagi kepentingan umat muslim yang berada di Rusia serta menjadi pusat umat muslim untuk merayakan hari raya, baik Idul Fitri maupun perayaan keagamaan lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID