Category Archives: Sejarah Islam Mancanegara

Muslims in Greece are ethnic Greeks


A Group of Turkish Speaking Moslems live in Western Thrace
 
The indigenous Muslim population in Greece is not homogeneous, since it consists of different ethnic, linguistic and social backgrounds which often overlap. The Muslim faith is the creed of several autochthonous ethnic groups living in the present territory of Greece, namely the Pomaks, ethnic Turks, certain Roma groups, and Greek Muslims, who converted mainly in the 17th and 18th centuries. The country’s Muslim population decreased significantly as a result of the 1923 population exchange agreement between Greece and the new Turkish Republic, which also uprooted approximately 1.5 million Greeks from Asia Minor.

The term Muslim minority (Μουσουλμανική μειονότητα Musulmanikí mionótita) refers to an Islamic religious, linguistic and ethnic minority in western Thrace, a part of north-east Greece. In 1923, under the terms of the Treaty of Lausanne, the Muslims living in Greece were required to immigrate to Turkey; whereas, the Christians living in Turkey were required to immigrate to Greece in an “Exchange of Populations“. The Muslims of Thrace and the Christians of Istanbul and the islands of Gökçeada and Bozcaada (Imvros and Tenedos) were the only populations not exchanged. For more information on this community, see Muslim minority of Greece.

According to most estimates,[2][3] about half of the autochthonous Greek Muslims consider themselves ethnically Turkish. The rest are Slavic speaking Pomaks and Roma. Relics of the Ottoman Empire, this community resides mainly in Western Thrace, where they were allowed to remain under the terms of the 1923 Treaty of Lausanne. In the town of Komotini, it makes up almost 40 percent of the total population, whereas in the town of Xanthi it makes up 23 percent of the population.

There is also a small Muslim community in some of the Dodecanese islands which, as part of the Italian Dodecanese of the Kingdom of Italy between 1911 and 1947, were not subjected to the exchange of the population between Turkey and Greece in 1923. They number about 3,000, most of whom espouse a Turkish identity and speak Turkish. The community is strongest in the city of Rhodes and on the island of Kos (in particular the village of Platanos).[4]

The Pomaks are mainly located in compact villages in Western Thrace‘s Rhodope Mountains. While the Greek Roma community is predominantly Greek Orthodox, the Roma in Thrace are mainly Muslim.

Estimates of the recognized Muslim minority, which is mostly located in Thrace, range from 98,000 to 140,000 (between 0.9% and 1.2%), while the immigrant Muslim community numbers between 200,000 and 500,000.[5] Albanian immigrants to Greece are usually associated with the Muslim faith, although most are secular in orientation.[6]

 
 They do not look very well off  
 
 
 
 They are normally a part of the Balkan Culture  
 
 
 They are traditional  
 
 
This is not a snapshot from
an Emir Custurica film
 
 
 
These people are obviously under the influence of some
strict religious
leaders.
 
 
 
 
They have great sense of humour  
 
They pray on Friday at noon  
 
 
 
These people seem isolated from the rest of Greece.  
 
 
 The latest fashion  
 
 
 They make their living on Agricultural activities  
 

Surat Malcomn X dari Makkah : Saya Berjuang untuk Hidup Sebagai Muslim Sunni Sejati


Rasa haru, persaudaraan, kemurahan hati dan tidak mementingkan diri sendiri yang dirasakan Malcolm X di kota Makkah saat melaksanakan ibadah haji, membuka mata hatinya tentang semangat Islam yang sebenarnya. Dalam buku autobiografi yang ditulisnya bersama Alex Haley, Malcolm menulis, “Karena pencerahan spiritual dimana saya mendapatkan rahmat untuk mengalaminya setelah melaksanakan ibadah haji ke kota Mekkah, saya tidak lagi membiasakan melempar dakwaan kepada ras manapun. Sekarang, saya berjuang untuk hidup sebagai seorang Muslim Sunni sejati. Saya harus mengulangi bahwa saya bukan seorang rasis dan bukan pula seorang yang menganut prinsip rasisme. Saya nyatakan dengan ketulusan hati bahwa saya tidak berharap apa-apa kecuali kebebasan, keadilan dan persamaan, kehidupan, kemerdekaan serta kebahagiaan untuk semua orang,”

Dalam buku Autobiography of Malcolm X, Malcolm X atau nama Islamnya Malik al-Shabazz mengungkapkan kesan-kesannya melaksanakan ibadah haji di tanah suci dalam surat yang ditujukan ke asistennya di Harlem. Surat itu ia kirim dari Mekkah pada bulan April 1964. Berikut isi suratnya:

Saya tidak pernah menyaksikan keramahtamahan yang begitu tulus dan semangat kebersamaan yang begitu besar, seperti yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai warna kulit dan ras di kota suci ini, rumah dari Ibrahim, Muhammad dan nabi-nabi lainnya yang disebut dalam kita suci Al-Quran. Dalam beberapa minggu yang saya lewati, saya benar-benar kehilangan kata-kata dan terpesona dengan keagungan yang saya saksikan di sekitar saya yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai bangsa. Saya beruntung bisa berkunjung ke kota suci Mekkah; Saya sudah melakukan tawaf keliling Ka’bah 7 putaran, dipimpin oleh seorang Mutawwaf (pembimbing) muda bernama Muhammad; Saya minum air dari sumur air Zamzam; Saya lari 7 kali bolak-balik dari bukit Safa ke bukit Marwa; Saya berdoa di kota tua Mina dan Saya berdoa di pegunungan Arafah.

Di sana ada puluhan ribu jemaah haji dari seluruh dunia. Mereka berasal dari berbagai warna kulit dari yang bermata biru, pirang sampai yang berkulit hitam dari Afrika. Namun mereka semua melakukan ritual yang sama, menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan yang dari pengalaman saya di Amerika telah membuat saya percaya bahwa hal semacam ini tidak akan pernah terjadi antara kulit putih dan non kulit putih. Amerika perlu memahami Islam, karena Islam adalah agama yang menghapuskan masalah rasa di kalangan pemeluknya. Dari seluruh perjalanan yang pernah saya lakukan ke dunia Islam, saya bertemu, bicara dan bahkan makan bersama dengan orang-orang yang di Amerika akan dianggap sebagai orang kulit putih-namun sikap sebagai orang kulit putih telah dihilangkan dari pikiran mereka oleh agama Islam.

Saya tidak pernah menyaksikan sebelumnya, ketulusan dan rasa persaudaraan sejati yang dilakukan oleh orang-orang dari berbagai warna kulit bersama-sama, mereka mengabaikan warna masing-masing. Kamu mungkin akan sangat terkejut dengan kata-kata saya ini. Tapi dalam pelaksanaan ibadah haji, apa yang saya lihat dan saya alami, memaksa saya untuk menyusun kembali banyak dari pola pikir yang saya anut sebelumnya dan membuang sejumlah kesimpulan yang buat di masa lalu. Ini tidak terlalu sulit buat saya. Disamping pendirian saya yang kuat, saya selalu menjadi orang yang berusaha menghadapi kenyataan dan menerima kenyataan hidup sebagai pengalaman baru dan pengetahuan baru yang terbentang. Saya selalumenjaga untuk tetap terbuka, yang merupakan hal pentinguntuk bersikap fleksibel agar berjalan bersisian dengan setiap bentuk pencarian untuk mendapatkan kebenaran.

Selama 7 hari yang saya lewati di sini, di negara Islam ini, saya makan bersama dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama dan tidur di karpet yang sama-ketika berdoa pada Tuhan yang sama-dengan saudara-saudara sesama Muslim, yang matanya lebih biru dari yang biru, yang rambutnya lebih pirang dari yang piran dan kulitnya lebih putih dari yang putih. Dan dalam perkataan dan perbuatan Muslim berkulit putih itu, saya merasakan ketulusan yang sama seperti yang saya rasakan ketika berada di antara Muslim berkulit hitam yang berasal dari Nigeria, Sudan dan Ghana.

Kami benar-benar menjadi satu saudara-karena keimanan mereka pada satu tuhan telah menghapus pemikiran bahwa mereka orang kulit putih, baik dari sikap maupun tingkah laku mereka. Apa yang saya lihat dari pengalaman ini, bahwa mungkin jika orang kulit putih Amerika bisa menerima ke-Esa-an Tuhan, maka mungkin mereka juga bisa menerima bahwa semua umat manusia adalah sama-dan berhenti melakukan tindakan, menghalangi dan membahayakan orang lain hanya karena ‘perbedaan’ warna kulit. Dengan wabah rasisme di Amerika yang sudah seperi kanker yang tidak bisa dicegah, kemudian apa yang disebut hati ‘Orang Kristen’ kulit putih Amerikaselayaknya lebih bisa menerima sebuah solusi yang sudah terbukti untuk mengatasi masalah-masalah destruktif itu. Mungkin ini sudah saatnya melindung Amerika dari bencana yang makin dekat-kerusakan yang sama yang dialami negara Jerman akibat rasisme yang pada akhirnya menghancurkan bangsa Jerman sendiri.

Setiap jam, di sini, di kota suci membuat saya belajar untuk memiliki wawasan spiritual yang lebih besar terhadap apa yang terjadi di AS antara orang kulit putih dan kulit hitam. Orang Negro Amerika tidak bisa disalahkan atas rasa dendam rasial mereka-mereka hanya bereaksi atas rasisme yang dilakukan warga kulit putih Amerika secara sadar selama hampir empat ratus tahun. Tapi seiring dengan rasisme yang mengarahkan Amerika ke jalan bunuh diri, saya tetap yakin, di akademi-akademi dan universitas-universitas, akan terlihat tulisan-tulisan tangan di dinding-dinding dan banyak di antara mereka yang akan berubah ke jalan spiritual yang sebenarnya-satu-satunya jalan yang menjadikan Amerika untuk terhindar dari bencana akibat tindakan rasisme yang tidak bisa dihindari akan menimbulkan bencana itu.

Saya tidak pernah merasa sedemikian terhormat. Saya tidak pernah merasa begitu rendah hati dan merasa tidak berharga. Siapa yang akan percaya akan rahmat yang telah dilimpahkan pada seorang Negro Amerika? Beberapa malam yang lalu, seorang laki-laki yang di Amerika akan disebut kulit putih, seorang diplomat PBB, seorang duta besar, seorang penasehat raja, memberikan ruangan suite hotelnya pada saya, tempat tidurnya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, bahka bermimpi bahwa saya akan menerima kehormatan semacam itu-kehormatan yang di Amerika akan dipersembahkan hanya untuk seorang Raja, bukan seorang Negro.

Segala puji bagi Allah, seru sekalian alam.
Hormat Saya,
Al-Hajj, Malik al-Shabazz (Malcolm X)

(Sumber: IslamOnline)

Amerika Punya 565 Nama Islam


http://pekanbaru.tribunnews.com/foto/bank/images/ALABAMA.jpg

Amerika, negara adikuasa berjulukan polisi dunia, ternyata memiliki 565 nama daerah dan kota yang berasal dari khasanah Islam.

Nama-nama Tersebut antara lain Alhambra di Los Angeles. Di bagian tengah Amerika dari selatan sampai Illionis terdapat nama kota Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon dan Tullahoma.

Di Washington ada nama kota Salem dan lain-lain. Nama Alabama dan Arkansas  berasal dari nama Islam, yaitu Allah-bamnya dan Arkan-Syah. Nama Medina, Mecca juga terdapat di Indiana dan New York.

Nama-nama khasanah Islam di Amerika itu dibeberkan dalam Encyclopedia Islam International (EII),  ditulis HM Iwan Gayo, yang juga penyusun serial “Buku Pintar” yang telah 45 kali cetak ulang.

“Saya kaget begitu mengetahui fakta bahwa di Amerika bertebaran nama-nama Islam. Ini membktikan bahwa Islam sudah mendarah-daging di benua Amerika,” kata Iwan Gayo, yang bertolak ke Turki, Senin (25/3).

Buku berkulit coklat setebal 1.264 halaman itu  memuat 5.181 artikel dan 6.569 gambar. BUku ini diklaim sebagai esiklopedia Isaam terlengkap didunia.

Untuk merampungkan buku tersebut, Iwan Gayo, peraih hadiah jurnalistik “Adinegoro” pada 1981,  melakukan riset mendalam di berbagai negara di dunia.

“Sumber paling banyak saya peroleh justru di Amerika dan Eropa. Hanya 30 persen sumber dari Timur Tengah,” ujar Iwan Gayo tentang materi bukunya tersebut.

Iwan Gayo  juga menemukan bukti bahwa Columbus bukanlah orang  pertama menemukan benua Amerika seperti yang selama ini dimuat dalam  buku sejarah. “Jauh sebelum Columbus datang, sudah ada pelaut Muslim dari Andalusia Spanyol yang hidup dan berkembang di benua Amerika.

“Columbus tidak akan pernah mengenal benua Amerika apabila tidak ada bantuan dari dua nakhoda muslim Andalusia, Martin Alonso Pinzon dan Kanan Vincen Yanez Pinzon,” kata Iwan Gayo mengutip isi halaman 118 buku ensiklopedi tersebut.

Columbus sendiri menulis bahwa pada saat berlayar dekat Gibara pada bagian tenggara Cuba, menyaksikan masjid di atas puncak bukit yang indah (halaman 117).

Ensiklopedi ini juga memuat keterangan tentang sosok RA Kartini, ternyata pernah menganjurkan diterjemahkannya al-Quran ke dalam bahasa Jawa.

“Selama ini keterangan seperti ini tidak pernah kita dengar di publik. Sosok Kartini hanya digambarkan sebagai pejuang emansipasi wanita,” jelas Iwan Gayo.

Editor: Willy Widianto  |  Sumber: Serambi Indonesia

Islam di Estonia


Sejak akhir era 80-an, telah lima kali diupayakan pembangunan masjid.
Kini, terdapat sekitar 20 ribu jiwa umat Muslim di Estonia, sebuah negara kecil di kawasan Baltik. Mereka sudah menetap di sana sejak puluhan tahun lalu, bahkan turut merasakan pahit getir penderitaan semasa rezim komunis Soviet. Akan tetapi, hingga kini, keberadaan mereka seolah belum terakomodasi. Salah satu buktinya adalah belum adanya sarana (tempat) ibadah yang representatif untuk umat Islam di Estonia.
Ya, belum ada satu pun masjid di negara pecahan Uni Soviet itu. Upaya membangun masjid sebenarnya sudah kerap dilakukan. Namun, ada banyak tantangan dan kendala yang dihadapi, mulai dari pejabat di pemerintahan, masyarakat setempat, ataupun di internal umat sendiri.
Warga Muslim masih terkenang kejadian di tahun 2003 silam. Ketika itu, dengan sokongan seorang pengusaha Muslim, mereka berniat mewujudkan harapan membangun masjid pertama. Bahkan, lebih dari itu, masjid tersebut rencananya bakal jadi yang terbesar di wilayah Balkan.
Proyek ambisius ini bakal berlokasi di Ibu Kota Tallin atau kota besar lainnya. Bila telah selesai pembangunannya–yang diperkirakan menelan dana hingga 40 juta dolar–masjid ini juga difungsikan sebagai pusat kegiatan agama dan kemasyarakatan.
Tapi, tak lama setelah program tersebut digulirkan, muncul penolakan dari berbagai pihak. Salah seorang anggota parlemen Estonia, Liina Tonisson dari Partai Pusat, mengatakan, ”Kami sebenarnya tidak bisa mencegah pembangunan masjid ini. Akan tetapi, Estonia adalah sebuah negara yang berkebudayaan Eropa dan agama Islam tidak cocok di sini,” terangnya.
Meski begitu, pejabat kota tidak berkeberatan. Juri Mois, wali kota Tallin, menilai, adanya masjid tersebut nantinya akan mampu menambah keragaman di kota itu. ”Ini akan membuat turis asing tertarik untuk berkunjung ke Estonia,” katanya.
Dukungan juga datang dari Pusat Kebudayaan Kristen Estonia. Organisasi ini bersedia bekerja sama dengan Palang Merah Islam untuk melobi para pejabat setempat ataupun komunitas umat beragama lain guna menyukseskan program itu.
Polemik terus berlanjut. Ada kekhawatiran bahwa rencana pembangunan masjid dapat memicu sentimen antitoleransi dan kekerasan agama.
Isu ini langsung ditepis mufti Estonia, Syekh Ahmed Harsinov. Islam, kata Syekh Ahmed, adalah agama damai. Dia lantas menyerukan perlunya dialog intensif antara umat beragama di negara itu sebagai upaya membangun saling pengertian dan pemahaman.
Syekh Ahmed kemudian mengingatkan bahwa umat Islam sudah ada di Estonia sejak 100 tahun lalu dan selama itu pula tidak pernah memicu kerusuhan atau kekerasan. ”Jadi, tidak ada alasan untuk merasa takut terhadap Islam dan komunitas Muslim,” tegasnya.
Sejarah pun mencatat bahwa pembangunan urung terlaksana setelah timbul permasalahan di internal umat. Mereka mempertanyakan kesanggupan Habib Gulijev, sang pengusaha, untuk memimpin proyek ini sekaligus menyediakan pendanaan yang dibutuhkan.
Terkait rencana pembangunan tersebut, Syekh Ahmed mengungkapkan perlunya umat Muslim Estonia memiliki tempat ibadah. Ini mengingat, di Ibu Kota Tallin, hanya ada sekitar 13 tempat shalat dan tak satu pun yang merupakan masjid. Dirinya mencatat, sejak akhir era 80-an, telah lima kali dilakukan upaya pembangunan masjid.
Lebih dari separuh jumlah umat Muslim menetap di Tallin. Kebanyakan dari mereka berasal dari etnis Tatar dan Azer yang datang ke kawasan ini sejak era Uni Soviet. Kini, jumlah pemeluk Islam semakin bertambah dengan kehadiran para imigran dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan negara-negara Islam di Asia.
Bertoleransi Adalah etnis Muslim Tatar yang pertama kali hadir di negara tersebut. Mereka berstatus sebagai pengungsi setelah tanah airnya, Republik Tatar, dikalahkan tentara Kerajaan Rusia. Represi besar-besaran terjadi. Intelektual dan tokoh agama banyak yang disingkirkan.
Warga pun memilih hengkang dan mencari tempat lebih aman. Beberapa dari mereka sampai di Finlandia dan juga Estonia. Dua kota utama, Narva dan Tallin, pernah menjadi pusat konsentrasi ribuan pengungsi.
Ketika itu, Estonia belum berbentuk negara. Estonia masih merupakan provinsi miskin dan masuk wilayah Kekaisaran Rusia. Daerah ini sempat porak-poranda akibat Perang Dunia I.
Penduduk asli menerima para pengungsi dengan tangan terbuka. Mereka beragama Nasrani, tapi bertoleransi terhadap umat agama lain, terlebih para pendatang tadi sedang mengalami penderitaan.
Kedua pemeluk agama hidup berdampingan secara damai. Eksistensi umat pun diakui, misalnya diperbolehkan memiliki lahan pemakaman khusus Muslim. Tak hanya itu, agama Islam pun tercantum sebagai agama resmi dalam konstitusi sejak tahun 1928.
Mereka juga mendapat pekerjaan cukup baik di berbagai bidang profesi. Perdagangan berkembang pesat, demikian pula sektor pendidikan di mana banyak pelajar Muslim yang menimba ilmu di Universitas Tartu.
Tibalah musim semi tahun 1940. Republik kecil ini dianeksasi tentara komunis Soviet. Maka, sekali lagi, komunitas Muslim mengalami penindasan. Ribuan warga kemudian dideportasi ke Siberia. Ini merupakan bagian dari kampanye ‘Rusianisasi’ di seluruh wilayah pendudukan.
Sekitar bulan Maret 1944, pada masa Perang Dunia II, angkatan udara Soviet membombardir Tallin yang masih dikuasai Nazi Jerman. Kota itu rusak berat, termasuk kediaman komunitas warga Muslim. Sistem drainase juga porak-poranda hingga menyebabkan banjir besar yang turut menghancurkan pemakaman Muslim.
Usai PD II, dengan rezim komunis tetap bercokol, kehidupan keagamaan ditekan. Pada pertengahan tahun 80-an, umat Muslim membentuk organisasi pertama, tapi baru diakui secara resmi pada tahun 2000.
Estonia pun memperoleh kemerdekaan tahun 1991. Berdasarkan data sensus tahun 1997, jumlah penduduknya mencapai 1,7 juta jiwa, termasuk umat Islam. Sejak itu, tidak ada permasalahan berarti dalam kehidupan keseharian. Sampai timbul peristiwa 11 September yang mengubah persepsi warga Barat terhadap Islam dan umat Muslim. yus/berbagai sumber
Bangga Miliki Alquran Terjemahan
Keterbatasan sarana ibadah tak menghalangi umat Muslim Estonia untuk terus berupaya memantapkan akidah. Desember 2007 lalu menjadi momen penting bagi segenap umat setelah secara resmi diterbitkan Alquran terjemahan dalam bahasa Estonia.
Liberalisasi kebijakan imigrasi memang telah membuat peningkatan angka imigran dari negara-negara Muslim. Oleh karena itu, diperlukan pula penambahan berbagai sarana dan prasarana penunjang ibadah.
Untuk tahap awal, edisi pertama Alquran ini dicetak sebanyak tiga ribu kopi. Subhanallah, umat sangat antusias menyambut kehadiran kitab suci ini.
Dalam waktu singkat, seluruh cetakan Alquran tersebut terjual habis. Hal ini terbilang fenomenal, mengingat di negara kecil ini hanya memiliki angka tertinggi penjualan buku yang hanya mencapai lima ribu kopi. Dalam sebulan, Alquran tersebut telah menjadi best seller.
Menurut penerbitnya, Aivar Lestinski, dalam beberapa tahun belakangan, muncul kecenderungan di masyarakat Muslim untuk memperdalam agama Islam, belajar ilmu Alquran, dan lainnya. Tak mengherankan jika buku-buku tentang agama pun laris manis.
Alquran terjemahan bahasa Estonia itu adalah karya Haljand Udam (1936-2005). Penerjemahan sendiri dilakukan selama lebih dari tiga tahun.
Udam memang punya kemampuan bahasa asing yang sangat luar biasa. Dia menguasai sejumlah bahasa, seperti Arab, Farsi, Tajiki, Hindi, Urdu, dan Uzbek. Selain itu, dia pun mahir dalam beberapa bahasa Eropa, misalnya Prancis, Inggris, Rusia, dan Finlandia.
Beberapa buku dari para ulama dan pengarang terkemuka dunia telah berhasil diterjemahkan pula. Pun, karya-karya yang berupa esai, hasil penelitian, serta buku karangannya diterjemahkan sendiri ke berbagai bahasa, seperti Read and Written (1998), Ittenarary of the Orient (2001), dan Magicians, Philosophers, Politicians (2003).
Pendidikannya ditempuh di Universitas Tartu, di mana dia memperoleh gelar sarjana di bidang geologis. Akan tetapi, Udam lantas tertarik mempelajari budaya Timur dan selanjutnya belajar di Universitas Tashkent tahun 1964.
Kemudian, studinya berlanjut di Soviet Academy of Science dengan mengambil jurusan bahasa Rusia. Dua tahun setelah hijrah ke Rusia, di tahun 1971, Udam menulis tesis terkenalnya yang berjudul Semantic Features of Sufi Terminology in Persian. /berbagai sumber

Perkampungan Muslim di Yunani


Pomak Village, Xanthi, Yunani

Kalau berbicara tentang Yunani, pasti yang ada dipikiran kita adalah negeri seribu dewa dan Hercules, ya karena 2 istilah itulah yang memang sudah melekat erat dengan negara Yunani sejak ribuan tahun silam, jika kita kaitkan dengan Islam, memang tidak bahkan hampir tidak pernah kita dengar tentang Islam di Yunani,karena Islam di Yunani sendiri identik dengan Turki, sedikit berbagi info tentang perkampungan Muslim di Yunani dan juga Etnis Pomak (Etnis Muslim di Yunani)

Kaum Minoritas Muslim Hidup di wilayah Thrace area of Greece, yang meliputi Komotini, Xanthi,Alexandroupolis dan Soufli, di Xanthi ada sebuah desa yang dihuni kaum Pomak yang juga disebut white village dengan mayoritas penduduknya muslim. Pomak sendiri adalah suku atau etnis asli slavic muslim yang ada di 4 negara, bulgaria,turki, albania dan yunani, bahasa asli mereka adalah bahasa Bulgaria, dan juga bahas aturki dan yunani sebagai bahasa kedua
Populasi suku pomak di Xanthi sendiri berkisar antara 30.000-35.000 penduduk,di wilayah Thrace area of Greece sendiri banyak dijumpai Masjid,coba saja anda ketik di google dengan keywoard “thrace greece” anda akan menemukan gambar-gambar ini

Kalau anda perhatikan gambar2 diatas, anda akan melihat bawah Masjid dan Minaret adalah salah satu landscape dari wilayah Thrace of Greece, gambar diatas adalah wilayah Rhodope dan Medousa yang memang terletak di wilayah Thrace of Greece

warga asli yunani yang beragama muslim  
Muslim Yunani di wilayah Thrace termasuk di white village Xanthi adalah warga asli Yunani yang memang beragama Islam. Hal tersebut tidak terlepas dari adanya pengaruh Ottoman Empire Turki yang memang pernah berjaya di Eropa pada abad ke 15. Bermula ketika pasukan Ottoman Empire menduduki wilayah pegunungan di Xanthi,awalnya hanya 6 penduduk asli Xanthi yang beragama islam, hingga sekitar abad ke 16 dan 17 banyak penduduk Pomak yang masuk islam dan bergabung dengan Ottoman, penduduk Pomak mendatangi Pemimpin Ottoman untuk memberitahu keputusannya masuk islam,tapi pemimpin Ottoman mengirim mereka ke Greek bishop of Philippoupolis Gabriel (1636–1672). Tetapi Greek Bishop tidak bisa mengubah keputusan dan pemikiran masyarakat Pomak yang akhirnya tetap memeluk agama islam dan bergabung dengan Ottoman empire untuk berperang melawan Bulgaria yang telah menyengsarakan mereka.

Kemudian menurut tradisi lisan Yunani dari Philippoupolis, upacara khitanan massal pun diadakan di depan masjid tua di dekat gedung pemerintahan dan akhirnya para penduduk desa tersebut pun menjadi muslim.

Pomaks
*dari berbagai sumber

Sejarah Islam di Bulgaria


 

Muslim Bulgaria Peringati Tirani Komunis (2)

Komunitas muslim di Bulgaria
ISLAM adalah agama minoritas terbesar di Bulgaria. Menurut sensus penduduk tahun 2001, jumlah umat Islam di negara ini sekira 966.978, atau 12,2 persen dari populasi rakyat Bulgaria.
Menurut kriteria etnisitas, Muslim di Bulgaria dibagi ke dalam kelompok berikut: Turki — 764.000 jiwa; Muslim Bulgaria — 130.000; Roma — 100.000; dan sisanya tersebar di beberapa wilayah lainnya.
Sebagian besar Muslim di Bulgaria adalah Muslim Sunni. Ada juga dari golongan Syiah — tapi sama dengan di banyak negara lainnya, Syiah di Bulgaria dianggap sebagai bagian dari sekte Islam. Pada kenyataannya tidak seperti itu karena Syiah adalah sebuah “agama lain”, utamanya di Bulgaria.
Para pemeluk Syiah diberitakan punya toleransi yang besar, sebagai contoh, Syiah Kuzulbashi masih bersedia mempertahankan adat istiadat persekutuan, pengakuan, dan menghormati orang-orang kudus Ortodoks. Integrasi kebiasaan Ortodoks ke dalam Syiah — yang celakanya disangka sebagai Islam –memunculkan jenis sinkretisme yang hanya bisa ditemukan di Bulgaria.
Ahmadiyah juga hadir di Bulgaria. Namun meskipun Ahmadiyah hanya sebuah sekte kecil di negara ini, praktek mereka sebagai Ahmadi dilarang secara tegas oleh pemerintah Bulgaria karena perselisihan dalam kepercayaan antara kaum mayoritas Muslim.
Sejarah
Pada pertengahan abad kesembilan, sejumlah kecil Muslim di Bulgaria mulai datang, dibuktikan dengan surat dari Paus Nicholas untuk Boris dari Bulgaria bahwa Saracen harus punah. Selama masa Tsar Simeon, pengaruh Islam pada seni Bulgaria mulai muncul, meskipun diyakini bahwa ini merupakan pengaruh dari Bizantium.
Kemudian pada abad 11 dan 12, suku-suku nomaden Turki seperti Cumans dan Pechenegs masuk ke Bulgaria. Menurut ulama, sebagian dari mereka adalah Muslim. Di sisi lain, Kristen Ortodoks Gagauzes juga mengaku berasal dari Cumans dan Pechenegs yang menetap di Bulgaria utara, yang berarti bahwa nenek moyang mereka bisa jadi adalah Kristen atau mengadopsi Kristen pada saat kedatangan mereka.
Namun puncak kedatangan Muslim ke Bulgaria terjadi selama abad 13, yaitu ketika Muslim Seljuk Turki ke Dobruja. Pada tahun 1362, Ottoman Turki merebut kota Edirne dan dalam dua tahun berikutnya mereka telah meluaskan kekuasaan sampai Plovdiv. Kota Sofia jatuh pada tahun 1385, dan secara Islam ada di tanah Bulgaria pada abad ke-14 akhir di pemerintahan Utsmani dari Balkan. Menurut Grand Mufti di Sofia pada masa pemerintahan Ottoman Turki di Bulgaria ada 2.356 masjid, 142 madrasah dan 400 wakaf.

13061768961603338910

Masjid Banya Bashi di tengah-tengah kota Sofia

Setelah Perang Rusia-Turki, banyak bangunan dan peninggalan Islam dihancurkan atau disita untuk penggunaan kepentingan sipil. Namun begitu, saat ini, diperkirakan ada 1.458 masjid di Bulgaria, termasuk yang cukup banyak di sebuah negara Eropa.
Saat Ini
Seperti di banyak negara Eropa lainnya, Muslim Bulgaria menderita di bawah pembatasan kebebasan beragama oleh rezim Zhivkov Marxis-Leninis. Rezim komunis Bulgaria seenaknya mengumumkan bahwa keyakinan Muslim bertentangan dengan ideologi komunis sekuler.
Pada tahun 1989 silam, 310.000 Muslim Bulgaria lari ke Turki akibat kampanye asimilasi rezim komunis Zhivkov. Program ini, yang dimulai pada tahun 1984, memaksa semua orang Turki dan Muslim lainnya di Bulgaria untuk mengadopsi nama Bulgaria dan meninggalkan semua kebiasaan Muslim.
Umat Muslim di negara-negara Eropa terus mendapatkan diskriminasi dari penduduk lokal. Ironisnya, tak jarang pemerintah di negara-negara biru juga menekan para Muslim dengan mengeluarkan kebijakan yang merugikan umat Muslim. Hal itu terjadi di Bulgaria, negara tetangga Turki.Ya, diskriminasi terhadap umat Muslim di Bulgaria dalam satu tahun terakhir terus berkembang. Tekanan itu juga datangan dari Pemerintah Bulgaria tak bisa berbuat banyak untuk menjamin hak-hak Muslim di negara yang pernah dikuasai Kesultanan Utsmaniyah itu.

Muslim Bulgaria semakin khawatir dengan tren meningkatnya diskriminasi para anti-Muslim terhadap komunitas Muslim. Sangat sedikit langkah yang diambil pemerintah untuk membendung masalah ini. Para analis bahkan menunjukan, beberapa korban Muslim justru dibawa ke pengadilan dengan tuntutan telah melakukan tindakan hooliganisme.

Para ahli mengatakan, Muslim Bulgaria terus mengalami kekurangan akses ke berbagai aspek seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan atau perwakilan politik yang layak. Bulan lalu, Amnesti Internasional telah mengeluarkan laporan yang menyerukan pada pemerintah negara-negara Eropa untuk menghapus pandangan negatif terhadap Islam.
Sayangnya, Amenesti Internasional tersebut tidak ‘sakti’ dalam membendung diskriminasi terhadap umat Islam di negara-negara Eropa. Pada Mei 2011 misalnya, anggota sayap kanan Bulgaria dari Partai Ataka justru menyerang Muslim yang sedang melakukan shalat Jumat di masjid utama di pusat kota Sofia.

Tak hanya itu, Pemerintah Bulgaria juga menggerus hak umat Islam dalam menjalankan perintah agamanya. Salah satunya adalah pelarangan foto paspor perempuan dengan menggunakan jilbab. Selain itu, literatur keagamaan di negara tersebut dilarang berfokus pada Islam. Banyak yang memandang ini merupakan kampanye ‘kotor’ terhadap Muslim di Bulgaria.

*dari berbagai sumber

Masjid Qolsharif: Simbol Kemerdekaan Bangsa Tatar di Rusia


Masjid Qolsharif: Simbol Kemerdekaan Bangsa Tatar di Rusia

Qolsharif

Beberapa temuan sejarah menunjukkan bahwa Islam telah ada di wilayah Federasi Rusia sejak abad ke-10. Tepatnya di Kazan, ibukota Republik Tatarstan dan salah satu kota terbesar di Rusia.

Bukti kehadiran Islam di tanah Kazan ini merujuk pada penemuan sebuah masjid yang diyakini berusia seribu tahun lebih. Arkeolog menemukan reruntuhan lain berupa bebatuan putih di dekat salah satu benteng kuno. Menurut para peneliti, bangunan itu menghadap ke arah Makkah.

Temuan tersebut sekaligus membantah pandangan para sejarawan yang mengatakan bahwa Islam muncul di Kazan dan kawasan tersebut setelah abad ke 15. Menurut para ahli Rusia, kota Kazan telah ada sejak abad ke-10. Namun, dokumen-dokumen tertulis yang dimiliki kota ini berasal dari abad ke-15. Dalam periode tersebut, Kazan adalah ibukota ”Kazan Khanate”. Kota ini berkembang setelah didirikannya Kazan Khanate.

Lokasi di mana ditemukannya reruntuhan bangunan masjid tersebut kini berdiri sebuah masjid yang diberi nama Qolsharif (dalam bahasa Tatar) atau Kul Sharif (dalam bahasa Rusia). Masjid ini merupakan masjid terbesar di Rusia dan di kawasan Eropa Timur. Nama Qolsharif yang tersemat pada masjid ini mengacu kepada nama pemimpin dan ulama terkemuka di Kazan Khanate. Sejumlah literatur sejarah menyebutkan bahwa Qolsharif meninggal dengan sejumlah muridnya ketika berusaha mempertahankan Kazan dari pendudukan Rusia tahun 1552.

Untuk mengenang sang pahlawan Kazan ini, atas arahan Presiden Tatarstan Mintimer Shaymiev, maka kemudian dibangun kembali sebuah masjid yang hampir serupa, walaupun bentuknya sedikit modern. Disamping sang presiden juga berkeinginan memiliki sebuah masjid yang representatif dengan mengikuti contoh arsitketur Ottoman (Turki Usmani). Tahapan pembangunan kembali masjid tersebut dimulai sejak tahun 1996.

Diketahui bahwa bangunan masjid yang dulu pernah berdiri di lokasi tersebut memiliki dua buah menara. Kedua menara tersebut dalam bentuk kupola dan tenda. Secara keseluruhan bentuk bangunan masjid itu mengadopsi bangunan tradisional di wilayah Volga Bulgaria. Volga Bulgaria adalah sebuah negara Bulgar yang pernah eksis antara abad ke-7 hingga abad ke-13 di sekitar Sungai Volga dan Kama di Rusia. Meski mengadopsi bentuk bangunan tradisional Volga Bulgaria, namun beberapa bagian dari masjid ini menggunakan elemen aristektur Renaisans awal dan arsitektur Ottoman. Tahun 1552, selama penyerangan ke Kazan masjid ini dihancurkan oleh pasukan kekaisaran Rusia.

Simbol kemerdekaan

Bangunan Masjid Kul Sharif diresmikan pada 24 Juli 2005. Momentum pembukaan kembali masjid ini dijadikan momentum kebangkitan Kazan dan Tatarstan, karena bertepatan dengan hari berdirinya ibukota Kazan yang ke-1000. Karenanya, masjid ini dianggap sebagai salah satu simbol terpenting dari keinginan bangsa Tatar untuk merdeka dan bebas.

Peresmian tersebut dihadiri oleh ribuan warga muslim Tatarstan. Beberapa perwakilan negara Muslim, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang ikut menyumbang dalam pembangunan Masjid Kul Sharif hadir dalam acara peresmian tersebut.

Kendati bentuk bangunan lama dari masjid ini tidak lagi dipertahankan, namun penggunaan elemen arsitektur masa Renaisans awal dan Ottoman tetap dipertahankan oleh sang arsitek. Sekilas pandang, bangunan masjid ini menyiratkan kemegahan. Warna putih dan biru tampak mendominasi bagian luar masjid. Bangunan baru dari Masjid Kul Sharif ini memiliki delapan buah menara dan satu kubah utama yang dapat dilihat dari Katedral Saint Basil, Moskow. Kubah masjid berwarna putih-biru ini berdiameter 39 meter. Adapun kedelapan menaranya, masing-masing memiliki tinggi 57 meter.

Bangunan Masjid Kul Sharif ini terdiri dari dua tingkat. Lantai atas merupakan ruang shalat, sementara lantai bawah dipergunakan bagi keperluan pendidikan, museum maupun administrasi. Pada bagian halaman, terdapat dua ruang paviliun besar dan kolam berornamen Timur Tengah.

Dengan mempertahankan beberapa elemen arsiktektur pada bangunan lama, komplek Masjid Kul Sharif dianggap menjadi titik lanskap arsitektur Kazan terpenting. Selain bangunan masjid utama, juga terdapat ruang perpustakaan, ruang publikasi serta ruang khusus bagi para Imam. Lantas berapa biaya yang diperlukan untuk membangunnya? Situs Islamonline menyebut angka 375 juta rubel, yang sebagian besar berasal dari donasi masyarakat Tatarstan sendiri.

Selain karena kemegahan bangunannya, masjid yang juga terkenal di Eropa ini memiliki keunikan lainnya. Masjid ini berdampingan dengan sebuah katedral. Saat ini, bangunan masjid ini lebih sering digunakan bagi kepentingan umat muslim yang berada di Rusia serta menjadi pusat umat muslim untuk merayakan hari raya, baik Idul Fitri maupun perayaan keagamaan lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID

Masjid Jami Nairobi: Arsitektur Arab di Tanah Afrika


Masjid Jami Nairobi: Arsitektur Arab di Tanah Afrika

Masjid Jamia Nairobi

 Bangunan dengan atap berbentuk kubah berwarna perak itu tampak mencolok dan menonjol di antara bangunan-bangunan lainnya di pusat bisnis kota Nairobi, Kenya. Bangunan tersebut merupakan simbol keberadaan komunitas Islam di negara Afrika Timur ini. Bangunan yang dimaksud tak lain adalah Masjid Jamia Nairobi.

Masjid yang terletak di Kigali Road yang berada di kawasan pusat bisnis kota Nairobi merupakan masjid terbesar di Kenya dan terindah di Afrika Timur. Ruang shalat di masjid tersebut mampu menampung hingga 12 ribu orang jamaah dalam waktu bersamaan.

Meski merupakan masjid terbesar di Kenya, namun sedikit sekali sumber literatur yang mengungkapkan tentang awal mula berdirinya bangunan Masjid Jamia Nairobi ini. Beberapa sumber literatur menyebutkan Masjid Jamia Nairobi dibangun pada tahun 1925. Pencetus pendirian pertama kali masjid ini adalah Sayyid Abdullah. Setelah beberapa tahun kemudian, masjid tersebut direhab berkat dana yang disumbangkan oleh Syekh Zaid bin Sulthan Al-Nahyan selaku kepala negara Uni Emirat Arab kala itu.

Masjid Jamia Nairobi dibangun dengan gaya khas Muslim Arab, lengkap dengan kubah hiasan marmer dan tulisan ayat-ayat Alquran pada dinding bagian dalam. Namun kekhasan yang dimiliki bangunan masjid ini justru terletak pada bagian kubah. Tiga buah kubah yang terdapat pada bangunan Masjid Jamia didesain menggunakan warna perak.

Dua buah bangunan menara kembar tampak mengapit bangunan utama masjid. Kedua menara ini berada di sisi kanan dan kiri bagian depan bangunan masjid. Dinding pada bagian luar bangunan utama masjid dan menara didominasi warna abu-abu dengan ornamen dari bahan plesteran.

Kendati Islam merupakan agama minoritas di Kenya, namun Nairobi merupakan tempat bagi bangunan tempat ibadah umat Islam ini. Selain Masjid Jamia, di ibukota Kenya ini juga terdapat banyak bangunan masjid lainnya. Salah satunya adalah Masjid Khoja, yang terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan di kota Nairobi. Keberadaan bangunan-bangunan masjid di kota Nairobi ini tidaklah berlebihan, mengingat sekitar 10 persen dari populasi penduduk Kenya adalah Muslim.

Ajaran Islam telah masuk ke wilayah Kenya saat ini sejak abad ke-2 Masehi melalui jalur perdagangan. Adalah para pelaut dari negeri-negeri Arab yang memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Kenya. Bukti tertulis menunjukkan bahwa para pelaut Arab ini kerap melintasi Semenanjung Arab dan Pantai Timur Afrika, yang membentang dari wilayah Somalia ke Mozambik saat ini, untuk berdagang.

Beberapa di antara mereka kemudian ada yang tinggal dan menikah dengan penduduk lokal. Karenanya tak mengherankan jika penduduk Muslim di sana banyak ditemui di kawasan pesisir timur laut Kenya. Bukti awal kehadiran Islam di Kenya bisa dijumpai pada koleksi emas, perak dan koin yang disimpan di Masjid Lamu. Koleksi-koleksi tersebut berasal dari tahun 830.

Laporan lain menyebutkan bahwa Islam dibawa ke Kenya oleh dua orang kepala suku Arab asal Oman bernama Sa’id dan Sulaiman. Dikisahkan keduanya melarikan diri dari tanah kelahiran mereka, setelah menolak untuk menyerahkan diri kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan, penguasa kekhalifahan Islam saat itu. Turut serta dalam pelarian tersebut seluruh anggota keluarga dan pendukung keduanya. Mereka mendarat di Pate, sebuah pulau yang terletak di kepulauan Lamu, dan menetap di sana.

Pada abad ke-12 hingga abad ke-15, di wilayah timur laut Kenya mulai banyak berdiri kota-kota Islam. Kota-kota ini mengalami perkembangan pesat di bidang sosial keagamaan maupun ekonomi. Pada 1331, seorang penjelajah Muslim terkenal asal Maroko, Ibnu Batutah, mengunjungi Mombasa (kota kedua terbesar di Kenya, red) yang dijelaskan dalam sejumlah literatur sejarah sebagai sebuah kota dengan banyak jalan dan bangunan bertingkat pada masa itu.

REPUBLIKA.CO.ID

Sejarah Islam di India


Dinasti-Dinasti Islam di Negeri Hindustan (3)

Peta Hindustan (ilustrasi).

Ajaran Islam semakin menyebar luas di anak Benua India setelah munculnya dinasti-dinasti Islam. Dengan munculnya kesultanan Islam di negeri Hindustan, para penguasa Muslim berhasil menguasai beberapa wilayah, sekaligus menundukkan dan mengislamkan raja-raja di tanah para ‘dewa’ itu. Berikut ini dinasti-dinasti Islam yang pernah hadir di wilayah itu. Dinasti Ghaznawiyah 977-1186 M Dinasti Ghaznawiyah muncul 977 M. Kerajaan Islam yang menguasai wilayah Khurasan, Afghanistan, dan India Utara itu untuk pertama kali dipimpin oleh Nashir Ad-Dawlah Sebuktigin, gubernur atas nama Dinasti Samaniyah. Pusat pemerintahannya berada di Kota Ghazna. Dinasti ini berhasil menyebarkan Islam pada gelombang ketiga ke India.
Pada masa kekuasaannya, dinasti ini menghancurkan berhala-berhala, mengganti kuil menjadi masjid dan berjaya selama lebih dari 200 tahun. Setelah Sebuktigin meninggal, ia digantikan anaknya Sabaktakin. Di bawah pemerintahannya, Sabaktakin menguasai daerah Pesyawar, Kabul, dan India.
Ia juga berhasil menyatukan bangsa Turki dan Afghanistan yang merupakan satu mazhab. Sabaktakin digantikan putranya, Mahmud Ghaznawi. Pada masa pemerintahannya, dinasti tersebut diwarnai banyak peperangan sebagai upaya memperluas wilayah kekuasaan, terutama ke India. Mahmud menaklukkan Kabul, Multan, dan Kashmir. Di setiap daerah yang dikuasainya, ia selalu menyebarkan ajaran Islam sehingga ajaran Brahmanisme terkikis dari masyarakat. Ia menguasai Punjab, Kangra, Balucistan, Delhi, Sind, Makran, Kirman, dan Gujarat pada1006. Butuh 24 tahun bagi Mahmud untuk menaklukkan India.
Ketika kekuasaan beralih ke tangan Masud, dinasti yang masih mengatasnamakan atau mewakili Dinasti Samaniyah itu mengalami kemunduran. Khurasan dan Khawarizm, wilayah kekuasaan dinasti itu direbut bangsa Seljuk. Pada awal abad ke-12, Sultan Seljuk banyak mencampuri urusan Ghaznawiyah. Dinasti itu digulingkan penguasa Ghuriyyah pada 1150. Dinasti Ghuriyyah 1000-1215 M Kehancuran Kesultanan Seljuk memberi jalan bagi Ghuriyyah untuk membangun sebuah kekaisaran yang membentang dari Laut Kaspia hingga India Utara. Kesuksesan dinasti ini diperoleh dari usaha dua bersaudara, Ghiyatsuddin dan Muizzuddin Muhammad.
Mereka mengembangkan kekuasaan Ghuriyyah di barat dan India. Dengan pasukan budak Turki dan bangsa Ghuri, Ghiyatsuddin menghadapi Khwarazm Syah dan Qara Khitay. Sayangnya, pasukan tentara Ghuriyyah tidak memadai untuk mempersatukan kekaisaran tersebut. Musuh Ghuriyyah, Khwarazmi, dengan leluasa memperoleh pasukan dari stepa-stepa di Asia tengah.

2

Sepeninggalnya Muizzuddin, dinasti ini mengalami pertikaian internal. Sekelompok prajurit Turki Ghuriyyah memerdekakan diri di Ghazna, dan Khwarazm Syah mempersatukan wilayah hukum Ghuriyyah ke dalam kekaisarannya sendiri.
Akan tetapi, dominasi Khwarazm tersebut tidak berlangsung lama karena dunia Islam bagian timur segera dikuasai oleh Jengis Khan. Jenderal-jenderal Turki yang pernah bekerja di bawah pimpinan Muizzuddin juga tetap menjalankan kebijaksanaan dan tradisi Ghuriyyah di India bagian utara. Kesultanan Delhi 1206-1555 M Menurut CE Bosworth dalam Dinasti-Dinasti Islam, Kesultanan Delhi mengacu pada penguasa Muslim yang memerintah melalui Delhi. Turki Ghaznawiyah pertama kali membawa militer Muslim ke India utara dan menumbangkan dinasti setempat. Kepentingan Ghaznawiyah di India utara lebih bersifat finansial.
Dalam perekrutan tentara dari orang-orang India, peralihan keyakinan ke agama Islam bukanlah menjadi syarat utama. Pasukan India merupakan elemen penting dalam ketentaraan Ghaznawiyah. Setelah kehancuran dinasti itu, Ghuriyyah menguasai India Utara.
Kesultanan Delhi pun jatuh ke tangan salah satu jenderal Ghuriyyah, Quthbudin Aibak. Di bawah kepemimpinan Quthbudun, dinasti ini sering disebut dengan Dinasti Budak karena rajanya merupakan budak yang dibebaskan majikannya.
Wilayah kesultanan Delhi terbentang dari Bengal di timur dan Deccan di selatan. Kesultanan ini mendapatkan ancaman besar dari daerah barat laut dan juga tekanan politik internal para bangsawan. Terjadi ketidakstabilan dalam kesultanan ini karena ada lima dinasti yang berganti dengan cepat, yaitu Dinasti Budak, Khiliji, Tughlaq, Sayyid, dan Lodi.
Setelah kejatuhan Dinasti Budak, kesultanan menjadi lebih rapuh dan tidak stabil karena banyaknya revolusi dan agresi internal. Dinasti Khiliji dimulai dengan penobatan Jalaluddin Khiliji oleh para bangsawan sekitar tahun 1290.
Ketika Jalaludin meninggal, dinasti tersebut dilanjutkan oleh Alaudin yang di bawah pimpinannya dinasti tersebut mencapai masa keemasannya. Dinasti ini bertahan selama 30 tahun.
Keruntuhan dinasti ini disebabkan ketika seorang Gujarat, Khusraw Khan, keluar dari Hinduisme dan Mubarak Syah keluar dari Islam dan merebut takhta di Delhi. Kekuasaan Islam di India ditegakkan kembali oleh panglima Ghazi Malik Tughlaq dengan mendirikan Dinasti Tughlaqiyyah (1321-1412). Ia berusaha memulihkan kembali stabilitas ekonomi dan administratif kesultanan dan menerapkan kembali kekuasaan Muslim di Deccan.

3

Dinasti Tughlaq berakhir ketika Dinasti Sayyid muncul pada 1414. Khizar Khan memenangkan peperangan dengan Mahmud Syah, raja terakhir Dinasti Tughlaq. Di bawah dinasti ini beberapa wilayah di kesultanan Delhi menyatakan kemerdekaannya.
Hal ini menyebabkan kesultanan tersebut berkurang hanya menjadi Sind, Punjab bagian barat, dan Uttar Pradesh. Dinasti ini berakhir ketika Bahlul Khan menyatakan berdirinya Dinasti Lodi (1450-1526).
Dinasti yang dipimpin Bahlul ini sama kuatnya dengan Dinasti Tughlaq. Misinya juga ingin kembali menegakkan kembali reputasi Muslim di India. Pertempuran Panipat adalah sebuah peristiwa yang menandari akhir dari Dinasti Lodi dan awal dari Dinasti Mughal. Pertempuran ini terjadi antara penguasa terakhir Dinasti Lodi, Ibrahim Lodi, dan penguasa Kabul, Babur. Kesultanan Bengal 1336-1576 Memerintah wilayah Bengal selalu menjadi masalah bagi Sultan Delhi. Kekayaan yang dimilikinya dan lokasinya yang jauh dari ibukota mendorong gubernurnya untuk memberontak. Ketika Ghiyatsudin Tughlaq menguasai kembali Delhi, ia membagi Bengal menjadi dua bagian, daerah timur dengan pusat di Sonargaon dan daerah barat dengan pusat Lakhnawati.
Ketika Ghiyatsudin meninggal, Bengal jatuh ke tangan Fakhrudin Mubarak di timur dan Alaudin Ali barat. Selama dua setengah abad berikutnya, Bengal diperintah oleh sultan independen. Selama masa ini, banyak sekali orang Hindu kelas rendah yang berpindah ke agama Islam sehingga kebanyakan masyarakat di daerah ini merupakan Muslim.
Sultan Syamsudin Ilyas menyatukan Bengal di bawah satu penguasa. Di bawah pemerintahan dinasti ini, ilmu dan seni Islam berkembang pesat. Pada awal abad ke-15, Ghiyatsudin Azham memperbarui ikatan diplomatik dan budaya lama dengan Cina.
Pemerintahan Ilyas terputus selama lebih dari 20 tahun karena berkuasanya Raja Ganesa, seorang tuan tanah Hindu Bhaturya. Ia merebut kekuasaan untuk diberikan kepada anaknya Jadu yang masuk Islam dan memerintah dengan nama Jalaludin Muhammad. Meskipun berasal dari bangsa Hindu, Ganesa dapat memerintah dengan dukungan Muslim.
Pemimpin Afghan Syir Syah Sur mengambil alih Bengal dan menjadikannya pangkalan untuk mengusir penguasa Mughal, Humayun, dari India. Akan tetapi, Mughal berkuasa di Lahore dan Bengal akhirnya menjadi bagian dari kekaisaran Mughal pada tahun 1576. Kesultanan Kashmir 1346-1589 M Karena lokasinya yang dipisahkan oleh gunung dari padang-padang di India utara, Kashmir terlindung dari serangan Muslim sehingga Kashmir tetap berada di bawah kepemimpinan penguasa Hindu. Mahmud Ghazna dua kali melakukan ekspedisi militer untuk menguasai Kashmir, yakni pada 1015 dan 1021 M.
Kedua ekspedisi itu tak berhasil. Masuknya serdadu Turki sewaan yang digunakan raja-raja Hindu menyebabkan terjadinya proses islamisasi. Bahkan kini, Kashmir adalah daerah yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

4

Pada 1335, kekuasaan Kashmir dikendalikan Syah Mirza Swati, seorang petualang. Ia menjaga hubungan baik dengan Hindu. Namun penerusnya, Sikandar, adalah seorang Muslim yang fanatik. Ia menghancurkan kuil-kuil di wilayah kekuasaannya.
Ketika tampuk kekuasaan berada di tangan anaknya, Zainal Abidin, pemerintahan pun berlangsung dengan lebih baik. Ia tidak meneruskan kebijakan ayahnya yang keras. Kesultanan Kashmir mencapai era keemasan di masa kepemimpinan Zainal.
Sayangnya, keturunan Zainal bertikai satu sama lain. Berbagai pemimpin provinsi memanfaatkan daerah pegunungan yang sulit dijangkau untuk menegakkan kemerdekaan. Pangeran Mughal, Haydar Dughlat, menyerbu Kashmir tahun 1540 dan memerintah di sana atas nama Humayun selama 10 tahun. Sejak saat itu, provinsi ini menjadi wilayah kekuasaan Mughal.
Kesultanan Gujarat 1392-1583 Karena hubungan kelautan dan perdagangannya dengan pantai lain di Samudra Hindia, Gujarat menjadi provinsi yang kaya. Pada abad ke-14, Gujarat diperintah oleh gubernur yang ditugaskan oleh Sultan Delhi dan pada tahun 1391 Muhammad III menugaskan Zhafar Khan. Ketika Dinasti Taghluq runtuh, Gujarat memperoleh kemerdekaan dan mendirikan kerajaan sendiri.
Kesultanan baru tersebut disibukkan dengan perang melawan dinasti Raja Hindu dan kesultanan Muslim di Malwa, Khandesh, dan Deccan. Sultan Ahmad I membangun ibu kota baru untuk Gujarat bernama Ahmadabad. Di bawah Mahmud Begra, kesultanan ini mencapai masa kejayaannya.
Menjelang akhir pemerintahan Mahmud, muncul faktor baru dalam politik India Barat, yaitu Portugis. Portugis mengalihkan banyak perdagangan di Samudra India ke tangan mereka dan memberikan jalan simpang bagi pedagang Mesir dan Gujarat. Karena hal inilah, Mahmud bersekutu dengan Sultan Mamluk.
Sultan besar terakhir Gujarat adalah Bahadur Syah yang menyerang kaum Hindu dan menaklukkan Malwa. Setelah kematian Bahadur, Kesultanan Gujarat mengalami kehancuran. Pertikaian antar anggota dinasti pun terjadi dan kerajaan terbagi antara beberapa bangsawan. Akhirnya, Gujarat pun jatuh ke tangan Mughal.
Dinasti Mughal 1526-1858 M Dinasti Mughal (1256-1858 M) merupakan salah satu dinasti yang berkuasa cukup lama di anak Benua India. Dinasti ini didirikan oleh Zahiruddin Babur, seorang Mongol. Ia merupakan salah satu cucu Timur Lenk. Ayahnya Umar Syekh bin Abi Sa’ad merupakan penguasa kesultanan Farghana dan ibunya merupakan keturunan Jengis Khan.
Kata “Mughal” berasal dari bahasa Persia yang merupakan panggilan bagi bangsa Mongol. Babur mewarisi daerah Ferghana dari ayahnya ketika ia berusia 11 tahun. Ia memiliki ambisi untuk menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu.
Ia berhasil menaklukkan Samarkhand pada 1492 dan menduduki Kabul pada 1504. Ia meneruskan ekspansinya ke India yang pada saat itu sedang mengalami masa krisis. Pada 1525, Babur berhasil menguasai Punjab dan ibukotanya, Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentara menuju Delhi dan menjadikannya sebagai ibukota.

5

Berdirinya Dinasti Mughal menyebabkan bersatunya raja-raja Hindu Rajputh di seluruh India dan menyusun angkatan perang yang besar untuk menyerang Babur.
Akan tetapi, gabungan ini dapat dikalahkan. Dinasti ini juga mendapat pertentangan dari golongan yang setia kepada Dinasti Lodi di Afghanistan. Dan golongan ini juga berhasil dikalahkan.
Ketika Babur meninggal pada usia 48 tahun, kekuasaan diserahkan kepada anaknya, Humayun, pada tahun 1530. Di bawah pemerintahan Humayun, kondisi negara tidak stabil karena menghadapi perlawanan dari musuh-mushnya. Salah satunya pemberontakan penguasa Gujarat yang berusaha memisahkan diri dari Delhi, Bahadur Syah.
Pada tahun 1540 terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Kekalahan memaksa Humayun melarikan diri ke Kendahar lalu ke Persia. Di pengasingan, ia menyusun kekuatan dan berkenalan dengan tradisi Syiah. Setelah merasa kekuatannya cukup, ia menyerang kembali musuh-musuhnya dengan bantuan raja Persia.
Ia kembali menduduki takhta kerajaan Mughal pada tahun 1555. Humayun digantikan anaknya, Akbar Khan, setahun kemudian. Pada saat itu, Akbar masih berusia 15 tahun sehingga urusan kenegaraan diserahkan pada Bairam. Ia harus menghadapi sisa pemberontakan keturunan Sher Khan yang masih berkuasa di Punjab. Selain itu juga masih ada pemberontakan yang dilakukan oleh Gwalior dan Agra. Pertempuran antara mereka disebut Pertempuran Panipat II.
Akbar dewasa berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang telah memiliki pengaruh kuat dan memaksakan kepentingan Syiah dalam pemerintahan. Setelah Bairam dikalahkan, ia mengadakan perluasan wilayah kekuasaan di Chundar, Ghond, Chritor, Ranthabar, Gujarat, Surat, Bengal, Kashmir, Deccan, Narhala, dan Ashgar.
Melalui sistem pemerintahan militer, stabilitas politik berhasil diciptakan. Sistem pemerintahan ini juga mendukung kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan dan peradaban secara umum. Aurangzeb merupakan sultan besar terakhir yang memerintah di Mughal.
Ia banyak mengubah kebijakan yang telah dirintis pendahulunya, khususnya terkait hubungan dengan orang Hindu. Ia membalik kebijakan konsiliasi dengan Hindu. Ia juga melarang minuman keras, perjudian, dan penggunaan narkotika. Ia juga melarang seorang janda untuk melakukan ritual satidaho, yaitu pembakaran diri setelah ditinggal mati suaminya, tanpa kemauan yang bersangkutan.
Meninggalnya Aurangzeb menandai kemunduran dinasti ini. Sultan-sultan berikutnya tidak dapat mempertahankan eksistensi Kesultanan Mughal.

REPUBLIKA.CO.ID

Sejarah Islam di Burundi – Afrika Tengah


Berkas:LocationBurundi.png

Burundi dikenal sebagai salah satu negara termiskin di dunia, namun kaya konflik. Di tengah berbagai keterbatasan itu, umat Islam Burundi masih berupaya untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Musim Haji 1432 H, ada 44 Muslim dari negeri yang terletak di Afrika Timur itu yang berkesempatan untuk bertamu ke Rumah Allah SWT.

 
‘’Ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup. Ketika jamaah haji kembali, kita berharap mereka akan menjadi Muslim yang sebenarnya, karena mereka mendapatkan kesempatan untuk bertobat selama perjalanan,’’ ujar  Mufti Abdul Karim Gahutu, seperti dikutip laman allafrica.com. Para jamaah haji dari Burundi itu mengaku sangat bahagia bisa menunaikan rukun Islam yang kelima. Betapa tidak. Untuk bisa melakukan perjalanan yang menghabiskan biaya 2.950 dolar AS atau 26,5 juta itu mereka harus menunggu cukup lama.  ‘’Kami yakin akan semakin dekat dengan Allah. Semoga sepulang dari haji, saya bisa memulai kehidupan yang baru,’’ tutur Isaac Munyakazi, salah seorang jamaah. Ya, bisa menunaikan ibadah haji ke Makkah adalah impian setiap Muslim, di manapun berada.     Jika tahun ini ada 220 ribu umat Islam dari Indonesia yang bisa menunaikan ibadah haji, dari Burundi hanya ada 44 Muslim saja yang bisa bertamu ke Rumah Allah SWT.  Bisa dimaklumi, karena selain negara itu tergolong miskin, Islam juga menjadi minoritas di negara yang berbentuk republik itu,
***

Islam di Burundi: Geliat Islam di Tengah Konflik

Islam di Burundi

Menurut data pada Pew Research Center, pada 2009 jumlah Muslim di Burundi hanya mencapai 180 ribu jiwa atau dua persen dari total populasi negera itu. Namun, berdasarkan data The World Factbook dalam situs CIA yang diperbarui setiap pekan,  populasi Muslim di Burundi mencapai 10 persen dari total penduduk.
Agama mayoritas di negara itu adalah Kristen yang mencapai  67 persen. Sisanya adalah agama pribumi, yang dipeluk oleh 23 persen penduduknya. Meski minoritas, umat Islam di Burundi sudah mulai merasakan nikmatnya libur di hari raya Idul Fitri.
Sejak Idul Fitri 1426 H bertepatan dengan 2005, hari raya umat Islam itu untuk pertama kalinya ditetapkan sebagai hari libur nasional Burundi, setelah negara itu merdeka selama 43 tahun. Sejatinya, kehidupan Islam telah berdenyut lebih dari dua abad kehidupan Islam di negara Afrika Timur itu.
Republik Burundi itu adalah negara tanpa wilayah laut di wilayah Great Lakes Afrika Timur. Ia berbatasan langsung dengan Rwanda di sebelah utara, Tanzania di timur dan selatan, dan Kongo di sebelah barat. Luas wilayahnya kurang dari 27.834 km2 dengan perkiraan populasi 10.216.190 jiwa (perkiraan Juli 2011, CIA). Meski berada di wilayah Afrika Timur, posisinya di Benua Afrika membuatnya kerap dianggap sebagai bagian dari Afrika Tengah. Burundi merdeka dari kolonialisasi Belgia pada 1 Juli 1962.
***

                                                  Bujumbura mosque

Burundi adalah negeri seribu masalah. Kelaparan, HIV/AIDS, kemiskinan, dan konflik etnis pada 1990-an yang menewaskan ratusan ribu rakyat sipil adalah masalah besar yang tengah melilit negara itu. Lalu bagaimana kehidupan umat Islam di negara itu?
Insani Yardim Vakfi, sebuah yayasan kemanusiaan  berbasis di Turki, mengungkap, pada 2007 pendidikan masih menjadi permasalahan signifikan di Burundi, terutama di kalangan umat Islam. Sedangkan pedidikan non-Islam lebih baik karena ditunjang berbagai bantuan dari para misionaris.
Sayangnya, kaum Muslim di Burundi tidak memiliki dukungan yang signifikan dari dunia Islam di bidang tersebut. Karena itu, keberadaan sekolah Islam di sana teramat sedikit. Itupun dengan kondisi yang serba terbatas, seperti bangunan sekolah yang setengah jadi atau dibangun sekadarnya, serta jumlah buku ajar dan Alquran yang terbatas.
Kebanyakan anak Muslim belajar di sekolah negeri, di mana kurikulum pendidikan agama hanya membidik murid-murid Kristen. Selain sekolah negeri, sekolah-sekolah Katolik adalah pilihan lainnya.
Xavier Luffin, seorang guru bahasa Arab di Vrij Universiteit, Belgia, dalam artikel berjudul Muslims in Burundi: Discretion and Neutrality (1999) menuliskan, Muslim Burundi memiliki hubungan dekat dengan Kiswahili, bahasa suku Bantu yang memiliki sejumlah kosakata penting dari bahasa Arab. Jarang ditemukan Muslim Burundi yang tidak bisa berbicara bahasa ini. Karena itu, istilah “Swahili” sering digunakan untuk menyebut Muslim di Burundi.
Di Burundi, doa dan bacaan shalat dilafalkan dalam bahasa Arab sebagaimana pembacaan Alquran, meski banyak pula Muslim yang membaca Alquran terjemahan dengan bahasa Kiswahili. Pada akhir abad 20, Alquran juga diterjemahkan ke dalam bahasa Kirundi, bahasa Resmi Burundi. Alquran berbahasa Kirundi itu juga dipublikasikan di Kenya atas dana dari Arab Saudi.
Pada masa yang sama, perpindahan agama ke Islam di Burundi (dan juga di negara tetangganya, Rwanda) meningkat. Luffin mengatakan, hal itu didasari kebutuhan mendasar atas spiritualitas pasca-tragedi konflik etnis pada 1993 dan 1995-1996.
*** Muslim Burundi kebanyakan tinggal di beberapa kota seperti Gitega, Rumonge, Nyanza, Muyinga, dan Makamba. Sedangkan komunitas Muslim terbesar ada di Bujumbura, ibukota Burundi. Di kota ini, masjid utama Burundi dan Islamic Cultural Center yang dibangun pemerintah Libia (di bawah pimpinan Presiden Bagaza) berada.
Muslim Burundi berasal dari suku dan bangsa yang beragam. Selain penduduk asli Burundi (Hutu dan Tutsi, konon telah berada di Burundi sejak abad 15), Muslim Burundi juga berasal dari Rwanda. Selain itu, ada pula Warabu (sebutan bagi pedagang Arab dan Oman yang telah tinggal di Burundi), serta Bahindi (orang-orang India dan Pakistan yang juga telah lama bermukim di Burundi).
Selain mereka, orang-orang Afrika Barat juga memasuki Burundi dalam beberapa dekade terakhir. Mereka adalah para pedagang dari Mali, Senegal, dan Pantai Gading yang datang untuk mengimpor pakaian dan kain atau bertransaksi emas yang ditambang dari Kongo. Banyak dari mereka kemudian meninggalkan Burundi saat konflik pecah pada 1993. Sisanya tetap tinggal dan membuka toko-toko kecil di pasar pusat atau di Bwiza.
Dalam Muslims in Burundi: Discretion and Neutrality, dikisahkan bahwa Islam mula-mula diperkenalkan oleh para pedagang Arab dan Swahili yang tiba di Burundi sejak awal abad 19, melalui Samudera Hindia melewati Ujiji (sekarang wilayah di Tanzania) untuk mencari gading dan juga budak.

Sekitar tahun 1850, mereka membuat koloni di Uvira. Ujiji dan Uvira kemudian menjadi titik pertemuan para kafilah dan para pedagang (orang-orang Arab dan Afrika). Dari sana, mereka lalu mulai bertukar produk atau barang dagangan dengan Nyanza dan Rumonge, dua kota tepi danau di Burundi.
Sedikit demi sedikit, Islam mulai masuk ke Burundi. Tahun 1885, gubernur Ujiji, Mohammed bin Khalfan memutuskan untuk memperluas kekuasaannya ke selatan dengan tujuan memperoleh lebih banyak gading dan budak belian. Bin Khalfan merupakan bagian dari Barwani, sebuah keluarga Oman yang masyhur dan telah bermukim di Afrika Timur.

Ia berkali-kali mengirim serangan ke wilayah tepian danau di Burundi. Namun pertahanan Raja Mwami Mwezi IV Gisabo Bikata-Bijoga (raja Burundi yang berkuasa pada 1852-1908) berhasil menahan serangan-serangan tersebut sehingga Bin Khalfan gagal menguasai Burundi.
Pada 1890, rombongan misionaris pertama tiba di daerah yang sekarang menjadi Kota Burundi. Di sana, mereka menemukan Wangwana, nama yang diberikan pada Muslim Afrika di Afrika Tengah. Dengan kata lain, Muslim telah tiba lebih dahulu daripada Kristen. Saat Perang Dunia I pecah pada 1914, mayoritas populasi Bujumbura memeluk Islam.

Selanjutnya, Islam di Bujumbura meningkat dengan kolonisasi yang dilakukan oleh Jerman yang sebagian tentara kolonialnya beragama Islam. Pada waktu yang sama, para pedagang India dan Arab berduyun-duyun memasuki Bujumbura demi meraup keuntungan berdagang yang lebih besar dari kota yang sedang berkembang tersebut.
Kala itu, Jerman memasukkan orang-orang Swahili dan Banyamwezi dalam satuan polisi dan administrasi, dan Kiswahili menjadi bahasa resmi Jerman Afrika Timur (nama untuk wilayah kolonial Jerman di Afrika Timur).
Pada masa kolonisasi Belgia yang dimulai pada 1919, penduduk Burundi mulai tinggal di Bujumbura. Namun hingga 1957, orang-orang Burundi tidak lebih dari 27 persen dari total penduduk Bujumbura. Selain mereka, terdapat lebih dari 80 suku yang berbicara dalam 34 bahasa berbeda. Saat itu, Muslim berjumlah 35,6 persen dari seluruh populasi yang beragam itu.

REPUBLIKA.CO.ID