Category Archives: Muallaf

Liam Neeson : Bergetar Mendengar Adzan di Turki


Bintang Hollywood Liam Neeson , pemeran utama Film Gray, the A Team, Taken 1, Taken 2 , dan beberapa film Box Ofice Hollywood mempertimbangkan melepaskan keyakinan Katolik dan menjadi seorang Muslim.

Aktor yang telah berusia 59 tahun, ia mengaku merasakan kekuatan Islam “memasuki  ke dalam batinnya ” saat ia melakukan syuting film Taken 2 di kota Istanbul Turki.

Dia mengatakan: “Panggilan sholat (Adzan) yang  terjadi lima kali sehari selama seminggu pertama itu membuatnya gila.Minggu kedua, lantunan adzan itu memasuki dan terasa di bawah kulitnya. Pada minggu ketiga, rasanya saya tidak bisa hidup tanpa (Adzan) nya. Ini benar-benar menjadi suatu hipnotis dan sangat, sangat berpengaruh bagi saya ,  sangat, sangat istimewa, sangat indah. ”

Kemudian ia beli CD  nyanyian Islam, yang ia memakai dan mendengarkannya sebelum tidur untuk membantunya tidur.

“Ada 4.000 masjid di kota Istambul . Beberapa dari masjid itu sungguh menakjubkan dan itu benar-benar membuat saya berpikir ingin menjadi seorang Muslim. ”

Liam dibesarkan di Irlandia Utara sebagai anak dari keluarga Katolik yang taat dan ia diberi nama oleh pendeta setempat.

Tapi bintang Hollywood tersebut- ditinggal oleh istrinya Natasha Richardson yang meninggal  dalam usia 45 tahun dalam kecelakaan ski pada tahun 2009 – telah berbicara tentang kondisi imannya.

Dia berkata: “Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik tapi saya selalu berpikir setiap hari dan bertanya kepada diri sendiri, secara tidak sadar, apa yang kita lakukan di planet ini? Apa maksud dari semuanya itu?

Tapi sayangnya, hingga saat ini Liam Neeson  masih belum menyatakan memeluk Islam, semoga saja hidayah itu datang kembali dan tidak di sia siakan olehnya…Aamiin.

sumber : http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/liam-neeson-bergetar-mendengar-adzan-di-turki.htm#.UWejRje5_Yc

Surat Malcomn X dari Makkah : Saya Berjuang untuk Hidup Sebagai Muslim Sunni Sejati


Rasa haru, persaudaraan, kemurahan hati dan tidak mementingkan diri sendiri yang dirasakan Malcolm X di kota Makkah saat melaksanakan ibadah haji, membuka mata hatinya tentang semangat Islam yang sebenarnya. Dalam buku autobiografi yang ditulisnya bersama Alex Haley, Malcolm menulis, “Karena pencerahan spiritual dimana saya mendapatkan rahmat untuk mengalaminya setelah melaksanakan ibadah haji ke kota Mekkah, saya tidak lagi membiasakan melempar dakwaan kepada ras manapun. Sekarang, saya berjuang untuk hidup sebagai seorang Muslim Sunni sejati. Saya harus mengulangi bahwa saya bukan seorang rasis dan bukan pula seorang yang menganut prinsip rasisme. Saya nyatakan dengan ketulusan hati bahwa saya tidak berharap apa-apa kecuali kebebasan, keadilan dan persamaan, kehidupan, kemerdekaan serta kebahagiaan untuk semua orang,”

Dalam buku Autobiography of Malcolm X, Malcolm X atau nama Islamnya Malik al-Shabazz mengungkapkan kesan-kesannya melaksanakan ibadah haji di tanah suci dalam surat yang ditujukan ke asistennya di Harlem. Surat itu ia kirim dari Mekkah pada bulan April 1964. Berikut isi suratnya:

Saya tidak pernah menyaksikan keramahtamahan yang begitu tulus dan semangat kebersamaan yang begitu besar, seperti yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai warna kulit dan ras di kota suci ini, rumah dari Ibrahim, Muhammad dan nabi-nabi lainnya yang disebut dalam kita suci Al-Quran. Dalam beberapa minggu yang saya lewati, saya benar-benar kehilangan kata-kata dan terpesona dengan keagungan yang saya saksikan di sekitar saya yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai bangsa. Saya beruntung bisa berkunjung ke kota suci Mekkah; Saya sudah melakukan tawaf keliling Ka’bah 7 putaran, dipimpin oleh seorang Mutawwaf (pembimbing) muda bernama Muhammad; Saya minum air dari sumur air Zamzam; Saya lari 7 kali bolak-balik dari bukit Safa ke bukit Marwa; Saya berdoa di kota tua Mina dan Saya berdoa di pegunungan Arafah.

Di sana ada puluhan ribu jemaah haji dari seluruh dunia. Mereka berasal dari berbagai warna kulit dari yang bermata biru, pirang sampai yang berkulit hitam dari Afrika. Namun mereka semua melakukan ritual yang sama, menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan yang dari pengalaman saya di Amerika telah membuat saya percaya bahwa hal semacam ini tidak akan pernah terjadi antara kulit putih dan non kulit putih. Amerika perlu memahami Islam, karena Islam adalah agama yang menghapuskan masalah rasa di kalangan pemeluknya. Dari seluruh perjalanan yang pernah saya lakukan ke dunia Islam, saya bertemu, bicara dan bahkan makan bersama dengan orang-orang yang di Amerika akan dianggap sebagai orang kulit putih-namun sikap sebagai orang kulit putih telah dihilangkan dari pikiran mereka oleh agama Islam.

Saya tidak pernah menyaksikan sebelumnya, ketulusan dan rasa persaudaraan sejati yang dilakukan oleh orang-orang dari berbagai warna kulit bersama-sama, mereka mengabaikan warna masing-masing. Kamu mungkin akan sangat terkejut dengan kata-kata saya ini. Tapi dalam pelaksanaan ibadah haji, apa yang saya lihat dan saya alami, memaksa saya untuk menyusun kembali banyak dari pola pikir yang saya anut sebelumnya dan membuang sejumlah kesimpulan yang buat di masa lalu. Ini tidak terlalu sulit buat saya. Disamping pendirian saya yang kuat, saya selalu menjadi orang yang berusaha menghadapi kenyataan dan menerima kenyataan hidup sebagai pengalaman baru dan pengetahuan baru yang terbentang. Saya selalumenjaga untuk tetap terbuka, yang merupakan hal pentinguntuk bersikap fleksibel agar berjalan bersisian dengan setiap bentuk pencarian untuk mendapatkan kebenaran.

Selama 7 hari yang saya lewati di sini, di negara Islam ini, saya makan bersama dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama dan tidur di karpet yang sama-ketika berdoa pada Tuhan yang sama-dengan saudara-saudara sesama Muslim, yang matanya lebih biru dari yang biru, yang rambutnya lebih pirang dari yang piran dan kulitnya lebih putih dari yang putih. Dan dalam perkataan dan perbuatan Muslim berkulit putih itu, saya merasakan ketulusan yang sama seperti yang saya rasakan ketika berada di antara Muslim berkulit hitam yang berasal dari Nigeria, Sudan dan Ghana.

Kami benar-benar menjadi satu saudara-karena keimanan mereka pada satu tuhan telah menghapus pemikiran bahwa mereka orang kulit putih, baik dari sikap maupun tingkah laku mereka. Apa yang saya lihat dari pengalaman ini, bahwa mungkin jika orang kulit putih Amerika bisa menerima ke-Esa-an Tuhan, maka mungkin mereka juga bisa menerima bahwa semua umat manusia adalah sama-dan berhenti melakukan tindakan, menghalangi dan membahayakan orang lain hanya karena ‘perbedaan’ warna kulit. Dengan wabah rasisme di Amerika yang sudah seperi kanker yang tidak bisa dicegah, kemudian apa yang disebut hati ‘Orang Kristen’ kulit putih Amerikaselayaknya lebih bisa menerima sebuah solusi yang sudah terbukti untuk mengatasi masalah-masalah destruktif itu. Mungkin ini sudah saatnya melindung Amerika dari bencana yang makin dekat-kerusakan yang sama yang dialami negara Jerman akibat rasisme yang pada akhirnya menghancurkan bangsa Jerman sendiri.

Setiap jam, di sini, di kota suci membuat saya belajar untuk memiliki wawasan spiritual yang lebih besar terhadap apa yang terjadi di AS antara orang kulit putih dan kulit hitam. Orang Negro Amerika tidak bisa disalahkan atas rasa dendam rasial mereka-mereka hanya bereaksi atas rasisme yang dilakukan warga kulit putih Amerika secara sadar selama hampir empat ratus tahun. Tapi seiring dengan rasisme yang mengarahkan Amerika ke jalan bunuh diri, saya tetap yakin, di akademi-akademi dan universitas-universitas, akan terlihat tulisan-tulisan tangan di dinding-dinding dan banyak di antara mereka yang akan berubah ke jalan spiritual yang sebenarnya-satu-satunya jalan yang menjadikan Amerika untuk terhindar dari bencana akibat tindakan rasisme yang tidak bisa dihindari akan menimbulkan bencana itu.

Saya tidak pernah merasa sedemikian terhormat. Saya tidak pernah merasa begitu rendah hati dan merasa tidak berharga. Siapa yang akan percaya akan rahmat yang telah dilimpahkan pada seorang Negro Amerika? Beberapa malam yang lalu, seorang laki-laki yang di Amerika akan disebut kulit putih, seorang diplomat PBB, seorang duta besar, seorang penasehat raja, memberikan ruangan suite hotelnya pada saya, tempat tidurnya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, bahka bermimpi bahwa saya akan menerima kehormatan semacam itu-kehormatan yang di Amerika akan dipersembahkan hanya untuk seorang Raja, bukan seorang Negro.

Segala puji bagi Allah, seru sekalian alam.
Hormat Saya,
Al-Hajj, Malik al-Shabazz (Malcolm X)

(Sumber: IslamOnline)

Mengenal Hana Tajima Simpson A New Stylish Hijab, Blasteran Jepang-Inggris dari dekat


A New Stylish Hijab

Ia menemukan fakta ternyata kitab suci umat Islam Alquran lebih sesuai dengan kondisi saat ini.

Akhir-akhir ini, nama Hana Tajima Simpson menjadi topik perbincangan di kalangan blogger Muslimah. Di kalangan para blogger, nama perempuan blasteran Jepang-Inggris itu dikenal karena gaya berjilbabnya yang unik dan lebih kasual. Sosok Hana pun telah menghias sejumlah media di Inggris dan Brazil. Hana yang dikenal sebagai seorang desainer membuat kejutan lewat produk berlabel Maysaa. Produk yang telah dilempar ke pasaran dunia itu berupa jilbab bergaya layers (bertumpuk). Melalui label itu, Hana mencoba memperkenalkan gaya berbusana yang trendi, namun tetap sesuai dengan syariat Islam di kalangan Muslimah.

A New Stylish Hijab

Kini, produk busana Muslimah yang diciptakannya itu tengah menjadi tren dan digandrungi Muslimah di negara-negara Barat. Semua itu, tak lepas dari kegigihannya dalam mempromosikan Maysaa. Tak cuma itu, kini namanya menjadi ikon fesyen bagi para Muslimah di berbagai negara. Mengenai gaya berjilbab yang diusung Hana, skaisthenewblack.blogspot menulis, “Dia (Hana) memiliki gaya yang hebat. Sangat elegan dan chic, namun tetap terlihat sederhana”. Ternyata, busana Muslimah pun bila dikreasi secara kreatif dan inovatif bisa mewarnai dunia fesyen internasional.


Sejatinya, gaya berjilbab yang ditunjukkan perempuan berusia 23 tahun itu kepada para Muslimah di berbagai negara tercipta secara tidak sengaja. Hana yang saat itu baru memeluk Islam ingin sekali menggenakan jilbab. Ia memeluk Islam saat usianya baru menginjak 17 tahun. “Sebagai seorang desainer, awalnya saya merasa frustrasi melihat gaya berbusana sebagian besar Muslimah yang kurang bervariasi,” ungkapnya dalam sebuah wawancara khusus dengan HijabScraft.

Dengan maksud ingin menunjukkan kepada masyarakat Barat bahwa para perempuan Muslim pun dapat tampil di muka umum dengan gaya berbusana yang modis dan chic, serta mengikuti tren fesyen terkini, Hana mulai tergerak untuk mendesain gaya busana Muslimah lengkap dengan jilbabnya yang berbeda dengan yang sudah ada pada saat itu. Selain unik, gaya berbusana yang diusung Hana ini pada dasarnya tidak pernah benar-benar mengikuti tren fesyen yang pada saat itu tengah digandrungi di negara-negara Barat pada umumnya. “Suatu hari saya akan tampil dengan gaya glamor ala Hollywood dan (hari) berikutnya saya akan terobsesi dengan gaya rock/grunge di tahun 90-an,” paparnya.


Ia mengatakan cenderung menjaga hal-hal yang dianggap kecil dan sederhana dalam mendesain sebuah fesyen. Hana pun secara terus terang mengaku tertarik untuk mengkreasikan sesuatu, seperti memadankan jaket kulit vintage dengan gaun panjang bermotif bunga-bunga. Untuk mempopularkan gaya berbusananya, Hana memanfaatkan jaringan internet dengan membuat laman web pribadi yang diberi nama stylecovered.com. Saat itu, Hana belum sempat memberikan label untuk produk yang didesainnya itu.


Tanpa disangka, gaya berbusana yang ditampilkan dalam laman webnya itu menarik minat para blogger Muslimah di Inggris. Berawal dari situlah, Hana kemudian memutuskan untuk mendirikan Maysaa, sebuah rumah desain dan fesyen yang terinspirasi dari fesyen Barat namun tetap disesuaikan dengan kaidah Islam.
Kendati Maysaa ditujukan untuk para wanita Muslim, namun Hana tidak menampik hasil rancangannya ini juga bisa dikenakan oleh kalangan wanita non-Muslim. “Saya tidak bisa mengatakan pakaian yang saya buat hanya untuk wanita Muslim atau untuk wanita non-Muslim, karena kehidupan saya pada dasarnya juga merupakan percampuran dari keduanya. Karenanya, saya suka membuat rancangan dari perspektif yang sangat pribadi,” terang perempuan yang sudah mulai merancang sejak usia lima tahun itu.

Memeluk Islam

Sebelum mengucap dua kalimat syahadat, Hana adalah seorang pemeluk Kristen. Ia tumbuh di daerah pedesaan di pinggiran Devon yang terletak di sebelah barat daya Inggris. Kedua orang tuanya bukan termasuk orang yang religius, namun mereka sangat menghargai perbedaan. Di tempat tinggalnya itu tidak ada seorang pun warga yang memeluk Islam. Persentuhannya dengan Islam terjadi ketika Hana melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. “Saya berteman dengan beberapa Muslim saat di perguruan tinggi,” ujarnya.


Dalam pandangan Hana, saat itu teman-temannya yang beragama Islam terlihat berbeda. “Mereka terlihat menjaga jarak dengan beberapa mahasiswa tertentu. Mereka juga menolak ketika diajak untuk pergi ke pesta malam di sebuah klub,” tutur Hana. Bagi Hana, hal itu justru sangat menarik. Terlebih, teman-temannya yang Muslim dianggap sangat menyenangkan saat diajak berdiskusi membahas materi kuliah. Menurut dia, mahasiswa Muslim lebih banyak dihabiskan waktunya untuk membaca di perpustakaan ataupun berdiskusi.


Dari teman-teman Muslim itulah, secara perlahan Hana mulai tertarik dengan ilmu filsafat, khususnya filsafat Islam. Sejak saat itu pula, Hana mulai mempelajari filsafat Islam dari sumbernya langsung, yakni Alquran. Dalam Alquran yang dipelajarinya, ia menemukan fakta bahwa ternyata kitab suci umat Islam ini lebih sesuai dengan kondisi saat ini.
“Di dalamnya saya menemukan berbagai referensi seputar isu-isu hak perempuan. Semakin banyak saya membaca, semakin saya menemukan diriku setuju dengan ide-ide yang tertulis di belakangnya dan aku bisa melihat mengapa Islam mewarnai kehidupan mereka (teman-teman Muslimnya-Red),” ungkapnya.


Rasa kagumnya terhadap ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Alquran pada akhirnya membuat Hana memutuskan untuk memeluk Islam. Tanpa menemui hambatan, ia pun bersyahadat dengan hanya disaksikan oleh teman-teman Muslimahnya. “Yang paling sulit saat itu adalah memberitahukan kepada keluargaku, meskipun aku tahu mereka akan bahagia selama aku juga merasa bahagia.”
Memilih Berjilbab

Tak semua Muslimah tergerak untuk menutup auratnya dengan jilbab. Namun bagi Hana Tajima, jilbab adalah identitas seorang Muslimah. Sebagai seorang mualaf, desainer busana Muslimah yang sedang menjadi pusat perhatian itu memilih untuk mengenakan jilbab. Seperti halnya saat memutuskan untuk memeluk Islam, keputusan hana untuk mengenakan jilbab juga datang tanpa paksaan. “Saya mulai mengenakan jilbab pada hari yang sama di saat saya mengucapkan syahadat. Ini merupakan cara yang terbaik untuk membedakan kehidupan saya di masa lalu dengan kehidupan di masa depan,” paparnya seperti dikutip dari hijabscarf.blogspot.com.


Keputusannya untuk mengenakan jilbab kontan memancing reaksi beragam dari orang-orang di sekitarnya, terutama teman dekatnya. Sebelum mengenakan jilbab, Hana paham betul dengan semua konotasi negatif yang disematkan kepada orang-orang berjilbab. “Saya tahu apa yang mereka pikirkan mengenai jilbab, tetapi saya akan bersikap pura-pura tidak mengetahuinya. Namun seiring waktu, orang-orang di sekitarku kini bisa bersikap lebih santai manakala melihatku dalam balutan jilbab,” papar Hana sumringah.


Dalam blog pribadinya Hana mengakui bahwa menjadi seorang Muslimah di sebuah negara Barat dapat sedikit menakutkan, terutama ketika para mata di sekitarnya menatap dengan tatapan aneh.  Maklum saja, di negara-negara Barat, sebagian penduduknya telah terjangkit Islamofobia. Tak sedikit, Muslimah yang mengalami diskriminasi dan pelecehan saat mengenakan jilbab. Bahkan, di Jerman beberapa waktu lalu, seorang Muslimah dibunuh di pengadilan karena mempertahankan jilbab yang dikenakannya.
“Karena itu, mengapa saya ingin menciptakan sesuatu yang akan membantu para Muslimah di mana pun untuk terus termotivasi mengatasi rasa takut itu,” ujar Hana. Kini, dengan busana Muslimah yang dirancangnya, kaum Muslimah di negara-negara Barat bisa tampil dengan busana yang bisa diterima masyarakat tanpa meninggalkan aturan yang ditetapkan syariat Islam.



Hana Tajima Simpson

Duta Besar Peru “Juan Alvarez Vita” untuk Indonesia Masuk Islam


Juan Alvarez Vita ( Duta Besar Peru untuk Indonesia) sebelah kiri

Hujan lebat mengguyur kawasan Jakarta, khususnya Menteng, Jumat (12/11) siang. Hujan yang turun saat shalat Jumat baru saja usai ditunaikan itu membuat ribuan jamaah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, lebih memilih untuk bertahan sembari menunggu hujan reda.

Apalagi pada saat bersamaan, di masjid tersebut ada prosesi pengislaman tiga mualaf. Mereka adalah Juan Alvarez Vita ( Duta Besar Peru untuk Indonesia), Julien Meltzer (seorang musisi asal Prancis), dan Peter John Cass (seorang pensiunan asal Kanada). Upacara pengucapan syahadat tersebut dipimpin Ustaz Dr H Abdurrahim Yapono MA dan disiarkan langsung melalui CCTV sehingga bisa disaksikan dengan jelas oleh para jamaah, baik yang berada di lantai satu maupun lantai dasar.

Setiap kali salah seorang dari mereka mengucapkan syahadat, jamaah berseru, “Allahu Akbar”. Setelah itu, Ustaz Abdurrahim bertanya dalam bahasa Inggris, “Sekarang, apa agama Anda?” Mereka menjawab, “Islam.” Abdurrahim lalu memberikan wejangan singkat mengenai tugas dan tanggung jawab menjadi seorang Muslim.

Dalam acara yang juga dihadiri dan disaksikan oleh dubes dari empat negara sahabat (Saudi Arabia, Iran, Somalia, dan Bosnia) itu, Ustaz Abdurrahim mengupas rukun Islam yang lima. Mulai dari syahadat, shalat fardhu lima waktu, kewajiban berzakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji ke Tanah Suci bagi yang mampu melaksanakannya.

Kemudian, ia memimpin doa untuk ketiga mualaf tersebut maupun seluruh jamaah yang hadir. “Ya Allah, bahagiakan ketiga saudara kami ini, bahagiakan mereka di dunia dan akhirat, bahagiakan kami di dunia dan akhirat.”

Upacara tersebut ditutup dengan acara pemberian ucapan selamat. Ratusan jamaah menyalami, bahkan memeluk hangat ketiga mualaf tersebut. Wajah ketiganya semringah mendapatkan sambutan yang begitu hangat dari saudara-saudaranya sesama Muslim.

Seusai upacara ikrar syahadat, tiga orang mualaf itu diundang oleh Ketua Dewan Pengurus Masjid Sunda Kelapa, HM Aksa Mahmud, untuk berbincang di ruang pengurus. Dengan senang hati, Juan Alvarez Vita dan Julien Meltzer memenuhi undangan tersebut, sedangkan Peter John Cass sudah pulang lebih dahulu karena ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Gema Syahadat Para Mualaf di Masjid Sunda Kelapa 

Masjid Sunda Kelapa

Juan Alvarez Vita dan Julian Metlzer berbagi cerita tentang perjalanan mereka menemukan Islam. Vita mengatakan, sebelum datang ke Indonesia ia telah mempelajari Islam selama 10 tahun. “Sejak berada di Indonesia empat tahun lalu, saya makin aktif belajar Islam, baik melalui diskusi-diskusi, khususnya dengan dua orang guru saya, Pujadi dan David, maupun membaca berbagai buku tentang Islam dan Alquran,” ungkapnya.

Setelah mengenal dan memahami ajaran Islam, Juan merasa ajaran Islam itu sangat indah. “Islam adalah agama yang cinta damai dan sangat menghormati eksistensi manusia. Namun, selama ini Barat melancarkan propanda yang menjelekkan Islam,” sesalnya.

Sementara Meltzer mengisahkan sudah mempelajari Islam sejak empat tahun lalu saat masih tinggal di Prancis. ”Dan, saya makin yakin kepada Islam setelah belajar Islam di Indonesia selama dua tahun,” ungkap Meltzer.

Pada kesempatan tersebut, Aksa Mahmud memberikan cendera mata berupa Alquran terjemah dan songkok hitam. Ia mengatakan, Masjid Sunda Kelapa secara aktif terlibat dalam kegiatan mengislamkan orang-orang non-Muslim yang memutuskan untuk menjadi Muslim (mualaf).

“Tiap minggu selalu ada orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Sunda Kelapa. Mereka berasal dari berbagai negara,” kata pengusaha nasional yang terjun ke politik (menjadi wakil ketua MPR priode 2004-2009 dan anggota DPD priode 2009-2014) dan kini menjadi pengurus masjid itu.

Kepala Bagian Mualaf Masjid Sunda Kelapa, Drs Anwar Sujana, menyebutkan, sejak 1993 sampai saat ini, Masjid Sunda Kelapa sudah mengislamkan belasan ribu orang. “Hingga November 2010, jumlahnya sudah mencapai 15.956 orang,” papar Anwar Sujana.

Sumber : Republika