Category Archives: Cerita Hikmah Islami

HAJI ABDUL HALIM PARDEDE


lOBE TINGGI PARDEDE adalah nama setelah beliau menjadi seorang muslim. Sebelumnya dia bernama Avinas Pardede. Setelah Bapaknya yang bernama Andareas Pardede dan abangnya yang berna Johanes Pardede meninggal dalam agama Kristen, beliaupun berangkat menuntut ilmu ke Padang Sidempuan selama tiga tahun, dan materi yang ditimbanya selama dalam menuntut ilmu adalah ilmu Tauhid dan beberapa ilmu Fiqih yang menunjang ketauhitan bagi mualap-mualap, dan harus diakui ilmu ketahutin atau dengan kata lain keimanan mereka sangat teruji, Sebesar apapun faktor-faktor menggoda mereka diwilayah yang mayoritas ber agama Keristen, mereka hampir boleh dikatakan tidak terpengaruh, dan sikap mereka terhadap norma-norma tradisi/adat Batakpun tetap dijaga dan dipelihara mereka. Prinsip Dalihan Na Tolu adalah hal yang tidak mengganggu akidah mereka.
Setelah beberapa lama bermukim di Balige dan beliau mengislamkan Ibunya (boru Siahaan/lumban gorat), dan adik perempuannya yang bernama si Boru tona yang kawin dengan marga Tampu bolon, kemudian keluarga isterinya bermarga Hutagaol/mejan.

Sekitar tahun 1916 Penganut agama Islam sudah mencapai 150 rumah tangga di balige dan sekitarnya ( Mejan, SiMarmar. Parsuratan, Hinalang, Tambunan), maka umat Muslim Balige dan sekitarnya merencanakan membangun satu Mesjid untuk tempat mereka beribadah yang kemudian Lobe Leman Tampubolon mengurus izinnya , Alhamdulillah setelah berjuang dengan gigihnya beliau mendapatkan izin mendirikan mesjid tersebut pada tanggal 2 Januari 1918. Sayang beliau tidak sempat terlibat dalam pembangunan pisik, karena pada tanggal 22 maret 1922 beliau meninggal, semoga Allah SWT menerima amal beliau.
Perjuangan beliau dilanjutkan sahabat-sahabatnya dengan membentuk kepanitiaan pembangunan Mesjid yang dinamakan Komite Mesjid Balige pada tahun 1923, dengan susunan kepengurusan sebagai berikut: Haji A. Manap sebagai Presiden, Lobe Tinggi Pardede (Haji Abdul Halim Pardede) sebagai vice Presiden, Haji M.Nawawi Nainggolan sebagai seketaris dan Haji Selamat, Haji Umar sebagai anggota.

Selanjutnya beliau berdakwah didaerah Simalungun tepatnya kota Parapat yang kemudian dia menetap disana, Dengan tekad yang sudah bulat untuk berdakwah beliau menemui Raja Tanah Jawa dan Raja Siantar yang kebetulan beragama Islam, kehadiran beliau diparapat disambut dengan baik, dan bantuan kedua raja tersebut tidak sedikit, dengan berjalan kaki beliau mulai berdakwah disekitar kota parapat hingga keperkampungan dilereng-lereng gunung, girsang mangundolok dan lain-lainnya). Untuk mendukung perjuangannya beliau dengan anak isterinya membuka kedai nasi islamiah dengan harapan orang yang melintas dikota parapat menuju Medan dari Sumatera Barat dan Tapanuli Selatan yang mayoritas beragama Islam dapat singgah untuk makan/istirahat, keberadaan Restauran tersebut sangat mengembirakan pemilik bus-bus yang membuat mereka dapat istirahat setelah melawati perjalanan yang sangat melelahkan. Atas saran pengusaha bis dan para penompang agar ada tempat ibadah yang mudah dijangkau.
Mesjid kota Parapat
Tahun 1929 Lobe Tinggi Pardede, membeli sebidang tabah di sekitar wisma Danau Toba (sekarang) , yang rencana nya untuk pertapakan pembangunan Mesjid, namun rencana beliau mendapat tantangan dari pihak Belanda, hingga beliau sampai 3 (tiga) kali dipanggil dan di interogasi oleh Belanda, yang akhirnya beliau dapat mengyakinkan pihak Belandan yang akhirnya beliau mendirikan sebuah musolah dilahan yang dibelinya tersebut.
Pada tahun 1940 Belanda kembali mengusik dan mencari alasan agar Lobe Tinggi Pardede jangan samapai membangun Mesjid dengan parmanen, karena berdirinya sebuah Mesjid parmanen sangatlah memungkinkan, karena rencana beliau didukung raja Tanah jawa dan Raja Siantar

Pembakaran Mesjid Terjadi di Sumatera Utara, Luput Dari Perhatian Media Nasional?

Setelah sebelumnya masjid Al – Ikhlas Hubdam I/BB dan masjid At Thayyibah dirobohkan kini menyusul kasus yang amat memilukan  yaitu pembakaran masjid Fiisabilillah di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) pada Jumat 27 Juli lalu. Ketiga masjid tersebut sama-sama terletak di provinsi Sumatra Utara. Kini isu perobohan dan pembakaran masjid semakin membesar bak Bola Salju.

Masjid Dibakar

Bahwa mesjid tertua di wilayah yang ada zaman kolonial dikenal dengan  Toba Holbung itu dibakar, adalah fakta Tapi, sampai saat ini tidak ada  yang bisa memastikan siapa pelaku pembakaran.Hingga saat ini masih terlihat  jelas di lokasi sisa puing-puing bangunan kayu yang terbakar.

Mesjid yang kini memiliki jemaah sekitar 12 kepala  keluarga ini hanya berjarak sepelemparan batu dari pinggir jalan  lintas barat Sumatera, sekitar 4 kilometer di utara kota kecil Porsea. Kota Porsea dibelah Sungai Asahan, satu-satunya outlet Danau Toba nan indah.

Posisinya terpisah dari pemukiman yang ramai dan berada di areal persawahan. Hanya ada satu warung di dekatnya, persis di seberang, di tepi jalan lintas Sumatra. Mesjid tak dialiri arus listrik dan gelap pada malam hari (kemungkinan dibakar sangat besar). Di depannya ada jalan berbatu yang cukup dilalui kenderaan roda  empat menuju perkampungan Silombu  Bagasan, yang tak begitu ramai.

Kejadian itu berlangsung pagi dini hari. mesjid sudah dibakar. “Kami yakin terbakarnya masjid Fiisabilillah tersebut cenderung tindak kejahatan, karenanya Poldasu perlu mengusut tuntas dan menangkap para pelaku pembakaran rumah ibadah itu”, kata Ketua Umum DPP PBI Prof DR H Abdul Muin Sibuea, MPd kepada pers di Medan, Rabu (4/8).

Mesjid Fiisabilillah didirikan Syekh Haji Muhammad Said Sukur Tambun, diperkirakan pada akhir abad 19 sampai awal abad 20.

Syekh dikenal pengikutnya sebagai tokoh yang memiliki ilmu agama yang tinggi, walau tak memiliki pendidikan formal. Dahulu kala, menurut  cerita yang pernah mereka dengar, ia ikut memadamkan api ketika kota Mekkah terbakar. Kala itu, dia sedang berada di Tanah Toba, cukur rambut. Tapi, tiba-tiba dia punya firasat buruk dan “menghilang” secara gaib ke Mekkah. Syekh wafat tahun 1950. Dia dikubur disamping  mesjid bersama beberapa kerabat lain

Pembakaran masjid dan perampasan atas hak-hak  kaum  muslimin  selalu luput dari pemberitaan media, dan orang-orang yang selalu mengklaim diri sebagai pejuang HAM.

Cukup dengan 1 pernyataan saja, islam di Indonesia sudah  sangat  toleransi dan menjaga perdamaian Indonesia buktinya hal ini tidak      dibesar-besarkan, padahal  kalau  mau islam  dapat membuat  hal ini menjadi lebih heboh  daripada penusukan HKBP.

Sayangnya karena terlalu toleransi sehingga islam sendiri justru yang mudah dijatuhkan oleh pihak lain. Lihat saja sekarang  pada  menyudut kan islamkan dalam penusukan HKBP  padahal  pelakunya belum jelas dan pembakaran masjid ini lebih  parah  daripada penusukan. Kalau sudah  begini mana yang suka berkoar-koar toleransi, HAM, pancasila dan pluralisme?? bungkam sajakan.

Kasus ini juga menjadi realita bagaimana sang media yang tidak adil, buktinya media mana yang memberitakan dan membesarkan hal ini. Kasus HKBP justru sangat dibesarkan.

Media ternyata memihak kepada minoritas agar terkesan selalu  menjadi yg tertindas. Pemerintah juga gak adil, Presiden turun  tangan dalam penusukan HKBP yg gak jelas siapa pelakunya, padahal saya rasa kasus pembakaran masjid ini lebih parah daripada hanya sekedar penusukan

Mungkin berita ini tidak ramai terdengar, karena media-media nasional seperti tidak tertarik memberitakannya atau peristiwa ini luput dari perhatian mereka?

Sebuah Mesjid yang terletak di wilayah Sumatera  Utara dibakar  habis oleh orang tidak dikenal.  Mesjid Syeikh Ali Martaib yang terletak di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara dibakar pada akhir Juli lalu.

Menurut laporan, mesjid ini telah tiga kali dibakar secara sengaja.  Masjid berusia ratusan tahun tersebut dibakar pertama kali pada tahun 1986, saat itu Mesjid masih bernama Mesjid Fii Sabilillah, dibakar  seluruh karpet dan sajadah yang berada di dalamnya.  Di tahun 2009 kembali terjadi pembakaran, yaitu pembakaran mushaf-mushaf  Al-Qur’an dan buku-buku keagamaan hingga mengenai Mihrab mesjid.  Lalu terakhir pada 27 Juli 2010 lalu, Mesjid ini dibakar sekitar pukul 5.00 pagi ba’da Shubuh oleh orang tak dikenal.

Masjid itu merupakan salah satu masjid tertua di Kecamatan Porsea yang diperkirakan sudah  berusia ratusan tahun dna berdiri di wilayah  mayoritas Nasrani. Saat ini kondisi bangunan masjid tinggal puing-puing dan hanya  sebagian kecil  bagian  dinding terbuat dari papan itu  tersisa.  Dari kondisi lapangan menunjukkan, kasus kebakaran pada masjid

di Porsea itu  cenderung  karena disengaja dan direncanakan, seperti yang dilaporkan waspadamedan.

Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Batak Islam (PBI) mengutuk keras  aksi pembakaran tersebut dan mendesak Polda  Sumatera  Utara  untuk mengusut kasus ini.

“Kami yakin terbakarnya masjid Fiisabilillah tersebut  cenderung  tindak kejahatan, karenanya Poldasu perlu mengusut tuntas dan menangkap para pelaku pembakaran rumah ibadah itu”,  kata Ketua Umum DPP PBI Prof DR H Abdul Muin Sibuea, MPd kepada pers di Medan, Rabu (4/8), seperti yang dilansir waspadamedan.com.

Tragisnya, pasca pembakaran Masjid tersebut belum  ada  pengusutan  serius dari Polres  Tobasa. Maka PBI berharap agar Poldasu  mengambil  alih pengusutan kasus ini.

Berbicara mengenai peristiwa ini, Ustadz Abu Jibriel mengatakan, “Siapa yang memicu permusuhan dan peperangan Islam atau salibis?”

“Perang di ambon, perang di poso mereka lah yang memulai, di bekasi  pada hari pendidikan nasional mereka memulai membuat onar di masjid agung bekasi, kini terjadi lagi di Sumatera.  Karena itu umat Islam harus  segera bangkit menyatukan langkah untuk bersiap menghadapi

peperangan yang mungkin tidak lama lagi akan dicetuskan oleh mereka,” lanjutnya.

Saat ummat Islam beramai-ramai menuntut dibubarkannya kebaktian liar di Bekasi, berbagai kalangan memprotes aksi ummat Islam dan mengata kan melanggar HAM, tapi saat terjadi pembakaran sebuah Masjid, rumah ibadah ummat Muslim, dimana suara kelompok-kelompok tersebut?  Bukankah hal ini juga melanggar HAM?

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Batak Islam (PBI) mengutuk keras  pembakaran masjid Fiisabilillah di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba  Samosir (Tobasa) pada Jumat 27 Juli lalu.

“Kami yakin terbakarnya masjid Fiisabilillah tersebut  cenderung  tindak kejahatan, karenanya  Poldasu perlu mengusut tuntas  dan menangkap para pelaku pembakaran rumah ibadah itu”,  kata Ketua Umum DPP PBI Prof DR H Abdul Muin Sibuea, MPd kepada pers di Medan, Rabu (4/8).

Didampingi Ketua  DPP Persatuan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Batak Islam (P3MBI), Raidir  Sigalingging, SE, unsur pengurus DPP PBI Prof DR Harun Sitompul, MPd,  Drs H Zulfadly  Sirait, Mayjen Simanungkalit, Gusmin Gurning, Jonson Sihaloho dan lainnya, Abdul Muin  Sibuea  mengaku pihak PBI merasa kecewa atas sikap Polres Tobasa yang tidak mengusut kasus  ini secara cepat.

Karenanya, Poldasu didesak agar mengambil alih pengusutan, guna menjaga  kondusivitas   kehidupan beragama di Tobasa. Mencegah agar kasus  serupa tidak terung kembali dan menjaga  agar ummat Islam tidak  terprovokasi.

“PBI sepenuhnya masih berharap kepada Polri  untuk  dapat  menuntas kan kasus ini, karena  dalam konteks negara hukum, atas dasar  apapun  tidak ada alasan pihak manapun melakukan  pembakaran rumah ibadah,”  kata Sibuea yang juga guru besar Unimed.

Terkait itu, kepada ummat Islam di Tobasa, PBI mengimbau agar dapat  menahan diri dan tidak  terprovokasi pihakpihak tertentu yang berpaya  memanfaatkan situasi.  “Percayakan  sepenuhnya pengusutan  kasus  ini kepada aparat Polri, jangan melakukan tindakan anarkis  yang dapat memperkeruh suasana,” ujar Sibuea mengimbau.

* dari berbagai sumber

Orang Indonesia Awali Kedatangan Islam di South Africa


Beberapa ratus tahun silam, di sejumlah kota di negara yang berpenduduk sekitar 49 juta jiwa itu, terdapat kiprah umat Islam dalam menyebarkan agama tauhid ini ke negara tersebut.Bahkan, terdapat Muslim asal Indonesia yang menjadi penyebar Islam bagi warga Afrika Selatan. Karena itu, terdapat hubungan yang sangat erat antara umat Islam di kedua negeri ini kendati ada jarak yang cukup jauh (12 jam penerbangan) dari Indonesia ke Afrika Selatan. Kedekatan itu tentunya bukan cuma jejak historis selama lebih dari 300 tahun lalu, tapi perkembangan Islam saat ini .

Masjid Syekh Yusuf di Afrika Selatan

Agama Islam masuk ke wilayah Afrika sejak abad ke-17. Salah satu penyebarnya adalah warga negara keturunan Indonesia, yakni Syekh Yusuf Makassar. Hingga saat ini, umat Islam di Afrika Selatan mencapai 1,25 juta jiwa atau sekitar tiga persen dari total penduduknya yang berjumlah 49 juta jiwa.Kendati minoritas, mereka ada di salah satu pusat pertumbuhan Islam terpesat di Benua Afrika saat ini. Sebagai ilustrasi, di Kota Soweto, tak jauh dari Johannesburg, pada pertengahan 1970-an, cuma ada 10 orang Muslim. Namun, pada awal 2002, jumlahnya berlipat seribu kali menjadi sekitar 10 ribu orang.Masjid dan madrasah sangat mudah dijumpai. Jumlah orang di berbagai townships, pusat-pusat permukiman penduduk berkulit hitam dan miskin, semakin hari terus bertambah yang menjadi Muslim. Setiap tahun berlangsung “Festival Syahadat” yang diprakarsai oleh Syekh Dr Abdalqadir as-Sufi. Sejak awal 2000, ratusan orang memeluk Islam. Terakhir, 22 Mei 2010, sebanyak 71 orang, khususnya dari Suku Zulu, serentak kembali kepada Islam di Durban.Mengapa Islam menarik mereka? Islam dirasakan sebagai jalan keluar dari ancaman gangsterisme dan problem sosial lain, seperti obat terlarang, kekerasan seksual, wabah korupsi, dan dekadensi moral masyarakat lain yang terus merebak di berbagai kawasan di Afrika Selatan. Perhatian Islam atas nasib kaum miskin menarik hati mereka. Dalam situasi politik rasis puluhan tahun sebelumnya, agama Islam telah dipandang sebagai salah satu bentuk resistensi dan penolakan atas tatanan masyarakat yang didasarkan doktrin apartheid tersebut. Perlu diketahui bahwa penyebaran agama Islam di Afrika Selatan dimulai terutama oleh para ulama, bangsawan, dan para tahanan politik penjajah Belanda. Hal ini memberikan pengaruh khusus atas perkembangan Islam di Afrika Selatan.

Sejarah Islam di sana memang bersamaan dengan sejarah kolonialisme. Islam telah berada di Afrika Selatan selama kurang lebih tiga ratus tahun lamanya. Meski relatif kecil, peran mereka kini semakin besar dan penting. Media massa Muslim, baik elektronik maupun cetak, sebagai satu indikasi yang mudah dilihat, telah berkembang dan menempati posisi penting di mata publik.

Makam Syekh Yusuf berada di dalam kubah hijau di Kampung Macassar, yang terletak 50 kilometer tenggara Cape Town, Afrika Selatan. Di tempat itu juga terdapat tugu untuk mengenang Syekh Yusuf, keturunan Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan, yang dibuang VOC ke Tanjung Harapan dan menjadi cikal-bakal terbentuknya komunitas Muslim Cape Malay.

Dari Cape Town, Afrika Selatan mengambil jalan tol N2 menuju ke arah tenggara. Setelah berjalan sekitar 40 kilometer, terhampar di sisi kanan perkampungan kulit hitam dengan rumah-rumah seng yang kumuh, Khayelitsha, sebelum akhirnya kami menemukan jalur keluar di Baden Powell Drive.

Dari situ tak terlalu sulit menemukan tempat ini, Kampung Macassar. Ya, Macassar dan Makassar memang berkaitan meski yang satu di Afsel dan yang lain di Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebuah perjalanan panjang merentang ke belakang lebih dari 300 tahun lalu—yang membuat kedua tempat ini bersaudara.

Adalah Syekh Yusuf Tajul Khalwati yang menjembatani dua tempat yang jaraknya terpaut 10.631 kilometer itu. Keturunan Raja Gowa di Sulsel itu datang bukan sebagai pedagang, melainkan sebagai tawanan politik Belanda, yang kala itu dilakukan kepanjangan tangannya, sebuah perusahaan dagang di Hindia Belanda, VOC. Alih- alih disisihkan dari negerinya, Syekh Yusuf justru memperluas ajaran Islam dan menjadi orang pertama yang membaca Al Quran di Afsel.

Perlawanan awal Syekh Yusuf bersama Sultan Ajung dari Bantam, Gowa, membuat pemerintah kolonial Belanda geram. Apalagi, dua kali Syekh Yusuf berhasil lepas dari tawanan Belanda. Belakangan ia dibujuk untuk menyerahkan diri dengan iming- iming bakal diampuni.

Janji tinggal janji. Syekh Yusuf malah ditangkap bersama keluarga dan pengikutnya. Di bawah pengawalan tentara bersenjata, mereka pun diasingkan ke Colombo, Ceylon (sekarang Sri Lanka), dengan melewati Batavia. Akan tetapi, belakangan Belanda khawatir jika Syekh Yusuf malah menjadi populer dan sukses menanamkan pengaruh di Ceylon.

Kembali, Belanda mengangkut Syekh Yusuf, keluarga, dan pengikut lebih jauh lagi. Tak tanggung-tanggung, kini tujuannya adalah Tanjung Harapan, yang ditemukan Bartholomeu Diaz dan dilanjutkan Vasco da Gamma pada akhir abad ke-15. Dua abad setelah itu, tepatnya 2 April 1694, kapal De Voetboog yang ditumpangi Syekh Yusuf dengan 49 anggota rombongan merapat. Di antara ke-49 orang itu, dua di antaranya adalah istri Syekh Yusuf, dua pembantu, 12 anak, 12 imam, dan sejumlah teman yang semuanya membawa keluarga.

Belajar sedikit

Setelah melewati beberapa ratus meter jalan kampung berpasir kekuningan, becek akibat hujan, dan bergelombang, di Kampung Macassar kami menemui Mohammad Zain Philander, tokoh setempat yang banyak tahu tentang Indonesia. ”Selamat siang, apa kabar,” ujar Zain ramah saat menyambut kami. Hanya itu bahasa Indonesia yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya, ia menggunakan bahasa Inggris dengan kami, atau bahasa Afrikaans dengan anak-istrinya.

”Saya tidak bisa berbahasa Indonesia. Belajar sedikit-sedikit dari buklet yang pernah diberikan Ibu Salfrida (mantan Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town) ini,” ujarnya seraya menunjukkan lembaran pelajaran bahasa Indonesia sederhana. ”Tetapi, anak saya fasih. Sayang, dia sedang tak ada di sini.”

Yang dimaksud adalah putri sulungnya, Haajirah Philander- Fanie, yang pernah belajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Zain bangga, anaknya bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Sekurangnya, ia merasa telah bisa mengaitkan dirinya dengan asal-usul nenek moyangnya.

Rumah Zain yang telah diubah menjadi penginapan terasa nyaman. Letaknya di ketinggian membuat pemandangan dari dalam rumah—yang dipenuhi pintu dan jendela kaca—langsung ke arah Table Mountain, tanpa halangan. Siang itu, gunung yang bagian tertingginya adalah 1.088 meter tersebut memang mirip meja bertaplak. Kabut menutupi bagian atas gunung yang praktis rata seperti meja.

Berbagai informasi ditempel di dinding rumah Zain, di antaranya peta Makassar, Sulsel, dengan salah satu titiknya adalah Makam Syekh Yusuf. ”Makam yang di sana cuma untuk menghormati saja. Makam sesungguhnya di sini,” ujar Zain.

Selain itu, juga tergantung sejumlah pigura anugerah bintang penghargaan, seperti The Order of Supreme Companions of OR Tambo yang diteken Presiden Afsel saat itu, Tabo Mbeki, serta gelar pahlawan nasional dari Presiden Indonesia ketika itu, Soeharto.

Presiden Afsel Nelson Mandela

Pada peringatan 300 tahun budaya Muslim Cape tahun 1994, mantan Presiden Afsel Nelson Mandela mengatakan, ”Yang saya pelajari dari Syekh Yusuf tidak melulu Islam, tetapi juga motivasi untuk melawan apartheid karena tak ada bedanya antara hitam dan putih, budak dan orang bebas. Saya gembira ada Syekh Yusuf di Afrika Selatan.”

Konsentrasi kaum Muslim

Syekh Yusuf ternyata diterima dengan cukup terhormat di Afsel. Ia disambut langsung Gubernur Simon van der Stel di Tanjung Harapan, lalu ditempatkan di tanah pertanian Zandvleit, dekat dengan mulut Sungai Eerset di Cape, jauh dari Cape Town, pada 14 Juni 1694. Upaya VOC untuk mengisolasi Syekh Yusuf di Zandvleit ternyata tak berhasil.

Sebaliknya, Zandvleit menjadi titik pusat perlawanan para budak yang buron dari majikannya dan pengasingan lain dari Timur Jauh. Di sinilah titik awal terkonsentrasinya komunitas Muslim yang senasib. Kapal De Voetboog yang teronggok tak dipakai lagi lalu dipreteli pengikut Syekh Yusuf dan kayu-kayunya digunakan untuk membangun masjid pertama negeri itu, yang letaknya kira-kira di belakang makam Syekh Yusuf saat ini. Meriam- meriamnya kini menjadi penghias halaman makam.

Pengakuan sosok Syekh Yusuf bisa dilihat di depan dinding pemakaman yang berbentuk kubah. Tersebutkan di situ bahwa peletakan batu pertama kompleks pemakaman dilakukan oleh Sir Frederic de Waal, administrator Provinsi Cape yang pertama, pada 19 Desember 1925, bertepatan dengan 14 tahun penobatan Raja George V.

”Di pemakaman ini, setiap Kamis malam ada zikir. Begitu juga kalau orang Cape Malay akan naik haji, umumnya mereka berziarah dulu ke sini,” ujar Zain. ”Alhamdulillah, Syekh Yusuf dulu di sini. Jadi, ada yang mengajarkan Islam kepada kami.”

* dari berbagai sumber

Orang Indonesia Awali Kedatangan Islam di Australia


Kehadiran Islam di Australia terbukti jauh lebih awal dari tahun 1850-an, seperti yang selama ini menjadi “sejarah resmi” kedatangan agama samawi ini, dan eksistensinya tidak dapat dilepaskan dari orang Indonesia asal Makassar, Sulawesi Selatan, kata seorang pakar keislaman Australia.

Temuan baru ini terungkap dalam hasil kajian Dosen Sejarah Universitas Griffith (GU), Prof. Regina Ganter, tentang hubungan antara orang-orang Makassar dan masyarakat Aborigin di tahun 1600-an, kata Direktur Unit Kajian Islam Universitas Griffith (GIRU), Dr. Mohamad Abdalla, di Brisbane, Ahad.


“Jadi kehadiran Islam di Australia jauh lebih awal,” katanya di depan puluhan warga Muslim Indonesia yang menghadiri pengajian bulanan Perhimpunan Komunitas Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) yang mengangkat topik tentang hijrah dalam sejarah Islam semasa Nabi Muhammad SAW itu.

Ia mengatakan, Prof. Regina Ganter akan memaparkan hasil kajiannya ini pada Konferensi Internasional bertajuk “Tantangan dan Peluang Islam dan Barat: Kasus Australia” yang diselenggarakan GIRU Maret mendatang.

Hanya saja, Abdalla yang juga direktur bersama Pusat Keunggulan Nasional Studi-Studi Islam Australia, lembaga yang dibentuk GU bersama Universitas Melbourne dan Universitas Australia Barat itu, menanyakan apa yang telah dilakukan masyarakat Muslim selama lebih dari 150 tahun setelah kehadiran Islam di negara benua ini.

Ia mengingatkan satu pesan bahwa Islam tidak akan tersebar baik di Australia jika umat Islam di negara yang kini berpenduduk sekitar 21 juta jiwa itu masih saja bertengkar di antara mereka seperti tentang posisi imam masjid dan menyelesaikan konflik tersebut tidak secara bijaksana sesuai aturan internal tapi di pengadilan.

Untuk itu, praktik Islam yang baik dari para penganut Islam di Australia seperti tercermin dari bagaimana bertetangga yang baik di antara sesama mereka dan terlebih lagi non Muslim sangat penting, karena dakwah Islam yang efektif turut ditentukan oleh prilaku Muslim sendiri, katanya.

Premier Australia Barat Alan Carpenter MLA pernah mengatakan, bahwa kedatangannya sudah ada sejak tahun 1860 seiring dengan mulai dipekejakannya para penunggang unta asal Afghanistan dalam ekspedisi keluarga Burke dan Wills.

Alan Carpenter menyebut masjid paling pertama dibangun di Australia justru berada di Perth. Sejak masjid pertama yang didirikan tahun 1905 untuk menampung jamaah Muslim Afghanistan yang bekerja sebagai penunggang unta dan Muslim India yang bekerja sebagai pengusaha, kini terdapat setidaknya 10 masjid di Perth.

Dalam bagian lain pemaparannya di forum pengajian yang berlangsung di sebuah ruangan kuliah Universitas Queensland (UQ) dan diramaikan pula dengan pertunjukan seni suara dan pembacaan puisi dari sejumlah anak Muslim asuhan IISB itu, Dr. Mohamad Abdalla memaparkan secara panjang lebar tentang sejarah dan makna hijrah.

Peran besar
Di Australia, terdapat lebih dari 300 ribu orang penganut Islam dari sekitar 21 juta jiwa penduduk. Mereka umumnya adalah para migran dari kawasan Timur Tengah, Asia dan Afrika.

Di Australia Barat misalnya, terdapat 24.000 orang Muslim yang tinggal dan bekerja di negara bagian itu.

Sebelum ini, dalam pameran bertajuk, “Pioneers Of The Inland: Australia’s Muslim Cameleers, 1860s-1930s” (Pionir Daerah Pedalaman: Muslim Pengendara Unta Australia) yang diselenggarakan Perpustakaan National Australia. Dutemukan, peran kaum Muslim di negeri itu. Menurut catatan, kaum Muslim ikut membantu ‘menaklukkan’ pedalaman Australia yang semua belum tersentuh manusia.

Di tahun 1800-an, kala itu, lebih dari 2000 pengendara dan 15.000 armada unta secara khusus didatangkan dari Afghanistan, India utara dan Pakistan. Unta-unta ini didatangkan guna mempercepat eksplorasi di bagian pedalaman Australia yang semula belum terpetakan dan terjamah manusia. Sebagian besar yang ikut berperan dalam ekplorasi pengembangan wilayah itu adalah kaum Muslim.

Sejarah dan Dakwah Islam di Hong Kong


Hong Kong merupakan salah satu negara terfavorit untuk tujuan wisata dunia. Dan, di negeri ini, pariwisata merupakan tonggak utama perekonomian Hong Kong dengan jumlah wisatawan mencapai 21,81 juta orang tahun 2004. Bahkan, hampir setiap tahun, jumlah wisatawan terus meningkat rata-rata 11,1 persen per tahun.

Negara yang memiliki luas wilayah sekitar 1.100 kilometer persegi ini, dihuni oleh sekitar 6.880.000 jiwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2006 dengan kepadatan penduduk mencapai 6.254 per kilometer persegi.

Di negara yang resmi diserahkan pada pemerintahan Republik Rakyat Cina (RRC) 1 Juli 1997 itu, didiami oleh berbagai komunitas agama, seperti Konghucu, Buddha, Kristen, Hindu, Katholik, dan Islam.

Dari sekitar 6,8 juta jiwa itu, sekitar 120 ribu penduduk Hong Kong menganut agama Islam. Sisanya terbagi atas Konghucu, Buddha, Kristen, Hindu, dan Katholik.

Kendati jumlah penganut Islam minoritas, namun kegiatan keagamaan di negeri ini terus menggeliat. Bahkan, dukungan dan kehadiran sejumlah Tenaga Kerja Indonesia (mereka lebih senang disebut dengan Buruh Migran Indonesia, BMI) di negara ini, membuat syiar Islam makin semarak.

Dan, di beberapa distrik (kota) tersibuk di Hong Kong, syiar Islam terus berdenyut. Terdapat lima masjid yang menjadi pusat aktivitas keislaman di negeri bagian Cina ini.


Yang tertua adalah Masjid Jamia yang terletak di Shelley Street, yang dibangun pada 1890-an dan kemudian dibangun kembali pada 1905. Masjid Kowloon dan Pusat Islam di Nathan Road, dibuka pada 1984. Masjid Ammar dan Pusat Islam di Oi Kwan Road di Wan Chai dibuka pada September 1981. Pekuburan Muslim Cape Collinson turut mempunyai masjid. Selain itu, juga ada Masjid Stanley.

Azan mengalun indah di kawasan sibuk aktivitas Nathan Road, Hong Kong. Muazinnya adalah Ahmed Cheung Wong Yee–kini dikenal sebagai Imam Cheung –yang merupakan imam masjid tersebut. Sementara, kerumunan manusia terus bergerak sampai akhirnya berhenti di keset tenunan sebelum masuk masjid, mereka bersiap shalat Jumat.

Pada jam itu, semua perhatian seolah tersedot ke masjid. Para pria seperti sepakat berhenti sejenak dari pekerjaannya, berganti ‘kostum’, lalu bergerak ke masjid. Di bagian lain, seorang wanita berdiam seperti patung. Mulutnya berucap perlahan, melafalkan ayat-ayat Alquran. Begitu Imam Cheung menyudahi iqamat-nya, shalat berjamaah pun dimulai.

Aktivitas di atas merupakan sekelumit kehidupan komunitas Muslim di Hong Kong. Kota yang padat aktivitas dan memiliki kehidupan yang tidak pernah berhenti, menyisakan sebagian ruang heningnya bagi para pemeluk agama untuk beribadah. Meski bukan mayoritas, namun umat Islam di sana menikmati kebebasan menjalankan ibadah mereka.

Berdasarkan data statistik tahun 2007, jumlah warga Muslim di Hong Kong tercatat ada sekitar 120 ribu orang. Mereka saling berbagi wilayah bersama komunitas Kristen, Buddha, dan Hindu. Karena itu, mereka sangat berhati-hati untuk tidak saling mengganggu satu sama lain. Itu sebabnya, azan hanya boleh dilakukan terbatas di masjid.

Meski demikian, Imam Cheung menyebut pemerintahan Hong Kong cukup akomodatif terhadap kepentingan kelompok Muslim. ”Mereka telah memberikan daging yang disembelih sesuai hukum Islam,” ujarnya seperti dikutip dari situs IslamOnline.

Selain itu, masjid dan pusat kegiatan Islam cukup berkembang di kota ini. Setiap Jumat, Imam Cheung melayani jamaahnya di masjid Kowloon yang banyak didatangi umat Islam dari berbagai etnis. Sebagian dari mereka merupakan komunitas Cina, sisanya terbagi atas Muslim Asia Tenggara, Timur Tengah, Pakistan, India, dan Afrika.

Ribuan tahun lalu

Komunitas Muslim telah ada di Cina sejak seribu tahun lalu. Dibawa oleh komunitas pedagang Arab yang membawa barang-barangnya berjualan melintasi jalur perdagangan yang dikenal sebagai ‘jalur sutra’, yang menghubungkan Cina dengan dunia Barat.

Sementara di Hong Kong, perkembangan agama Islam mencapai puncaknya pada saat kedatangan Muslim Pakistan dan India yang dipekerjakan tentara Inggris untuk menjaga kawasan ini. Hong Kong dulunya merupakan koloni Inggris sebelum diserahkan kembali ke Cina pada 1 Juli 1997.
Jumlah penganut Islam semakin berkembang pesat dengan banyaknya komunitas Cina minoritas yang masuk Islam. Kelompok Cina minoritas ini kemudian dikenal dengan nama ‘Hui’.

Imam Cheung merupakan salah satu imam yang mengurusi masjid di Hong Kong. Ia memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ajaran Islam di kota yang dulunya merupakan koloni Inggris ini.

Ia dibesarkan dan belajar di kawasan Cina Selatan dekat pelabuhan Guangzhou, atau yang dikenal sebagai Canton. Ia menjadi imam mengikuti jejak ayah dan kakeknya yang juga seorang imam dan kini dimakamkan di sana. Hingga di usianya yang lanjut, Imam Cheung masih saja tetap menjalankan tugasnya sebagai imam Masjid. Ia juga menyebarkan ajaran Islam dan mengajarkan sejarah kehidupan Rasulullah SAW.

Sejarah mencatat, perkembangan Islam di Cina sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Dimulai saat Rasulullah mengirimkan tiga sahabatnya untuk mendatangi negeri Cina untuk menyebarkan ajaran Islam. Dua di antaranya meninggal di perjalanan, sementara satu orang lainnya tiba dan membangun tiga buah masjid, yang salah satunya ada di Guangzhou. Hingga kini, masjid yang dibuat pada 627 M ini masih berdiri di Guangzhou.

Dikisahkan pada 1942, saat usianya menginjak 27 tahun, Imam Cheung diundang ke Hong Kong, berbarengan dengan pendudukan Jepang di wilayah itu. Ia kewalahan mengurusi jenazah prajurit Muslim karena keterbatasan kain dan kayu untuk peti. Bertahun-tahun kemudian, sang Imam masih menjalankan profesinya. Melayani umat Islam yang terus berdatangan ke Hong Kong.

Komunitas Muslim di Hong Kong lebih dari setengahnya merupakan orang Cina asli, dan sisanya merupakan pendatang, seperti orang Pakistan, Malaysia, Indonesia, Filipina, Arab, dan Afrika. Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti bagaimana komunitas Muslim asli Hong Kong bisa terbentuk.

Namun, keberadaan komunitas Muslim Hong Kong semakin jelas sejak Hong Kong berada di bawah pemerintahan Inggris pada pertengahan abad ke-19. Inggris membawa tentara-tentara Muslimnya dari India. Datang pula bersama mereka atribut-atribut keislamannya.

Setelah itu, jumlah penganut Islam semakin banyak di Hong Kong sehingga kemudian terbentuklah komunitas Muslim. Melihat hal tersebut, pemerintah Hong Kong kemudian mengalokasikan lahan bagi komunitas Muslim ini untuk membangun masjid dan kuburan. Bertahun-tahun kemudian, lebih banyak lagi orang Islam yang datang ke Hong Kong dan menetap. Di antara mereka adalah Muslim Cina yang datang dari Cina daratan.

Salah satu komunitas Muslim yang berkembang di Hong Kong adalah mereka yang berasal dari kelompok Syiah. Mereka berjumlah 500 orang, namun mereka merupakan kelompok yang sangat kuat dan aktif menggelar dakwah Islam di wilayah itu.

*berbagai sumber

Dampak Pengakuan Keislaman Cheng Ho


“Islam tidak akan berkurang derajatnya, meskipun ada peran orang-orang China di dalamnya. Di sini orang lupa bahwa keislaman China lebih tua ketimbang Jawa. Orang-orang China telah mengenal Islam di saat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik.” (Soemanto Al Qurtuby dalam Seminar Membincang Kontribusi Tionghoa dalam Proses Islamisasi di Indonesia, 19 Maret 2005).

MAJALAH sekelas National Geographic dengan tegas menyatakan Cheng Ho adalah seorang Tionghoa muslim. Tentu saja pernyataan tadi berangkat dari dukungan data, bukan sekadar legenda.

National Geographic Society memiliki reputasi sebagai organisasi ilmiah dan nirlaba yang terlibat dalam lebih dari 8.000 eksplorasi dan penelitian sejak 1888. Namun, di Indonesia, keislaman Cheng Ho masih saja jadi kontroversi, baik di komunitas Tionghoa maupun Islam. Keislaman Cheng Ho seakan diterima dengan setengah hati.

Lihat saja, tak seorang pun Tionghoa Muslim diajak duduk dalam Panitia 600 Tahun Cheng Ho. Juga dari sekian banyak acara yang dirancang, yang bernuansa Islam cuma lomba nasyid dan salah satu seminar. Sama sekali tidak menonjol dibanding acara-aara tersebut, cuma sekadarnya saja, semacam tempelan. Yang lebih dahsyat, sepucuk surat pembaca menceriterakan tentang penggusuran makam-makam tua Tionghoa muslim (Liem Wa Tiong, Oei Kiem Liang, Ang Tjin Kien, Tan Dinar Nio, Henry Tan, dan lain-lain).

Laksamana Muhammad Cheng Ho

Expeditions Cheng Ho

Semula makam-makam itu ada di bagian belakang Sam Po Kong. Surat pembaca itu juga mengeluhkan diturunkannya papan kaligrafi ”Me Zheng Lan Yin” (terjemahan bebasnya: Merenungkan dan mengamalkan ajaran Alquran). Papan itu diturunkan setelah kunjungan Imam Besar Masjid Beijing ke Sam Po Kong. Dalam kunjungan tersebut, sang ulama China menyatakan bahwa kaligrafi tersebut menegaskan keislaman Cheng Ho.

Dua Kutub
Bagaimana pula dengan masyarakat Islam Indonesia? Sampai saat ini tidak pernah jelas diakui peran Tionghoa Muslim dalam proses masuknya Islam ke Nusantara. Sejak dulu yang diajarkan dalam buku-buku sejarah sekolah adalah teori Arab dan India/Gujarat. Buku yang mengangkat peran Tionghoa dalam Islamisasi Nusantara bahkan dilarang beredar dengan alasan potensial mengganggu stabilitas nasional. Akibatnya, jangankan diakui berperan dalam Islamisasi Nusantara, bahkan kehadiran Tionghoa Muslim dalam shalat Jumat sampai saat ini pun masih ada yang menganggap aneh. Islam dan Tionghoa dianggap dua kutub yang berseberangan.

Tentu saja gambaran tadi adalah gambaran hitam-putih. Bersyukurlah kita masih ada wilayah abu-abu. Lie Pek Tho, Ketua Yayasan Kelenteng Thay Kak Sie yang juga Ketua Panitia 600 tahun Cheng Ho, dalam sebuah wawancara tanpa basa-basi mengatakan: “Beliau (Cheng Ho -Red) orang Islam. Pengikutnya juga sebagian besar Islam. Maka beliau juga menyebarkan agama Islam”.

Demikian pula di pihak Islam, Habib Luthfi bin Ali Yahya, Ketua MUI Jawa Tengah, tidak saja menyebut Cheng Ho. Beliau bahkan bisa menyebutkan nama-nama ulama Tionghoa (banyak di antaranya yang menggunakan nama muslim) yang dikatakannya mempunyai andil dalam perkembangan Islam di Nusantara. Karena kekaburan (atau pengaburan) sejarah, bahkan di antara Tionghoa muslim sendiri nama-nama dan peran mereka terasa asing.


Mazhab Hanafi

Tionghoa masuk ke Indonesia secara bergelombang. Sebelum Cheng Ho, sisa-sisa laskar Mongol Kubilai Khan (Dinasti Yuan) yang kalah melawan Raden Wijaya sudah menetap di wilayah Majapahit (1293). Mereka ikut mendukung kejayaan Majapahit melalui alih pengetahuan tentang mesiu, maritim, dan perdagangan.

Dalam buku kumpulan surat kepada putrinya, Indira Gandhi, Glimpses of World History, Jawaharlal Nehru mengatakan, “Sesungguhnya ekspedisi Tiongkok akhirnya menjadikan kemaharajaan Majapahit di Jawa lebih kuat. Ini disebabkan karena orang Tionghoa mendatangkan senjata api ke Jawa. Dan agaknya dengan senjata api inilah datang kemenangan berturut-turut bagi Majapahit.” Laskar Mongol direkrut dari berbagai daerah: Hokkian, Kiangsi dan Hukuang.

Sekitar seratus tahun kemudian, armada Laksamana Cheng Ho yang diutus oleh Kaisar Yong Le (Dinasti Ming) singgah di berbagai tempat di Nusantara. Di kota-kota pantai ini Cheng Ho membentuk komunitas Islam pertama di Nusantara, antara lain Palembang, Sambas dan Jawa. Artinya, pada awal abad XV, Tionghoa muslim yang bermazhab Hanafi sudah ada di Nusantara. Mereka kebanyakan orang Yunnan yang hijrah ke Nusantara pada akhir abad XIV, dan sisa-sisa laskar Mongol yang menghuni wilayah Majapahit.

Sebuah teori mengatakan, akibat perubahan kebijakan luar negeri Dinasti Ming, hubungan antara pusat Hanafi di Campa dengan Nusantara akhirnya terputus. Banyak Tionghoa muslim yang berpindah kepercayaan. Masjid-masjid Tionghoa selanjutnya banyak yang berubah menjadi kelenteng. Kemudian Sunan Ampel (Bong Swie Ho) mengambil prakarsa melakukan proses Jawanisasi. Dia meninggalkan komunitas Tionghoa muslim di Bangil dan hijrah ke Ampel bersama orang-orang Jawa yang baru diislamkannya. Dengan kepemimpinannya yang sangat kuat, Bong Swie Ho membentuk masyarakat Islam Jawa di pesisir utara Jawa dan pulau Madura. Inilah cikal bakal masyarakat Islam di Jawa.

Kekalahan Sunan Prawoto (Muk Ming) dari Demak dalam perebutan pengaruh dengan Arya Penangsang dari Jipang berakibat kepada hancurnya seluruh kota dan keraton Demak. Sisa-sisa pasukan Demak yang melarikan diri ke Semarang dihancurkan. Demikian pula galangan kapal Semarang dan banyak orang-orang Tionghoa non Islam di Semarang. Peristiwa ini menjadikan sebagian besar masyarakat Tionghoa di Semarang marah dan tidak bersimpati kepada pasukan Jipang. Inilah awal dari surutnya masyarakat Tionghoa muslim di Semarang. Mereka akhirnya berangsur-angsur kembali kepada agama dan kepercayaan Konghucu dan Tao.

Masjid Cheng Ho -Surabaya Indonesia

Gelombang-gelombang imigran China yang masuk ke Nusantara kemudian tidak lagi didominasi orang-orang Tionghoa muslim. Mereka datang, misalnya karena kebutuhan penjajah Belanda untuk menambang timah di Bangka. Ditambah dengan politik devide et impera penjajah Belanda, semuanya tadi menimbulkan kesan terbentangnya jarak antara Islam dan China. Orang-orang Tionghoa makin dianggap asing di Nusantara lengkap dengan segala stereotype negatifnya. Peran Tionghoa muslim dalam penyebaran agama Islam di Nusantara, sebagaimana dibuktikan dari cerita-cerita rakyat, berbagai dokumen maupun peninggalan sejarah, termasuk ke dalamnya makam-makam kuno Tionghoa muslim, kemudian menjadi buram.

Lebih-lebih setelah Orde Baru memerintah dengan kebijakan pembaurannya yang mendua. Sepanjang berlabel Tionghoa, tempatnya adalah di sudut-sudut gelap dalam kehidupan bangsa. Tetapi di lain pihak, beberapa orang Tionghoa yang pengusaha besar dilimpahi dengan berbagai fasilitas.

Bersyukurlah kita ketika tiba era reformasi dengan segala iklim keterbukaannya. Tidak ada lagi suasana represif. Kekuasaan pemerintah diimbangi dengan peran pengusaha swasta serta kontrol sosial masyarakat. Tiga unsur yang dibutuhkan dalam konsep masyarakat modern yang seimbang. Walaupun lagi-lagi harus menjadi tumbal dalam kerusuhan Mei 1998, masyarakat Tionghoa mengalami imbas akibat iklim keterbukaan era reformasi. Hak-hak sipilnya dipulihkan, bebas mengekspresikan adat-istiadatnya kembali.

Kelenteng Sam Po Kong (Cheng Ho) dari Mesjid Menjadi Kelenteng

Dalam suasana demikian, merayakan 600 tahun pelayaran Cheng Ho menjadi sangat mungkin. Sam Po Kong, petilasan Cheng Ho, dipugar dalam skala megah. Diselenggarakan berbagai acara selama seminggu. Dan jauh sebelumnya, lampion merah bertengger di jalan-jalan utama kota Semarang. Sebuah hal yang mimpi pun tak akan terjadi di era semua yang berlabel Tionghoa adalah tabu.

Pertanyaannya: sudah memadaikah semuanya itu? Rasanya belum. Nilai Cheng Ho jauh melewati sekadar petilasannya yang jadi objek wisata, dan peringatannya masuk dalam kalender wisata. Menyedot tamu dari dalam dan luar negeri, serta menyedot isi kocek mereka. Bila sekadar demikian, berarti menghapus peran Cheng Ho, yang telah memicu kota-kota bandar di Nusantara menjadi metropolis. Juga bermakna mengabaikan sifat dan sikap yang dimiliknya: entrepreneurship, risk taker, inovatif, leadership, toleran, universal, loyal kepada atasan, namun sekaligus dalam kebesaran kekuasaannya mampu mengakui kekerdilannya di hadapan Allah SWT. Mencintai Allah, dan karenanya menyebarkan imannya kepada semua orang. Tidak berlebihan bila dikatakan, Cheng Ho adalah manusia yang seimbang dunia dan akhirat.

TRUST
Menerima dan mengakui Cheng Ho seutuhnya bermakna mengakui keislamannya. mengakui peran para ulama Tionghoa dalam proses masuknya Islam ke Nusantara. Dan ini akan memberi sumbangan luar biasa dalam bingkai keindonesiaan yang baru. Menjungkirbalikkan teori Arab dan lndia/Gujarat tentang proses masuknya Islam ke Nusantara. Mendekatkan orang Tionghoa dengan saudara-saudaranya sebangsa. Mengurangi kesenjangan psikologis yang selama ini ada.

Menerima dan menghayati nilai-nilai Cheng Ho seutuhnya akan menyumbang pemupukan modal sosial masyarakat. Bahkan pengakuan yang berangkat dari kejujuran dan keterbukaan akan meningkatkan kepercayaan dunia internasional. Peningkatan trust akan memicu kerja sama, networking, dan kemajuan bagi dunia usaha kita.

Masyarakat yang cenderung trusted akan lebih mudah mendatangkan modal dan investasi karena pembeli dan investor terlindung dari dampak kecurangan yang dilakukan pihak lawan. Selain itu, masyarakat yang trusted mendorong keyakinan dan kepastian berusaha, serta kemudahan merekrut tenaga-tenaga profesional.

Memperingati 600 tahun pelayaran Cheng Ho bisa saja sekadar hura-hura sejenak, dengan gaung hitungan minggu kemudian lenyap. Tetapi bisa juga menjadi titik balik untuk sesuatu yang jauh lebih strategis. Pilihannya ada pada kita semua. (24)

-AM Adhy Trisnanto, Tionghoa muslim, praktisi komunikasi pemasaran.

Posted by Ambon
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/13812
http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/02/opi3.htm

Catatan :
Kini Cheng Hoo diabadikan sebagai Nama Masjid di Indonesia

Masjid Cheng Hoo Indonesia, Surabaya
http://www.facebook.com/photo.php?pid=4429446&id=625817869
Masjid Cheng Hoo Sriwijaya, Palembang
http://www.facebook.com/photo.php?pid=4429456&id=625817869
Masjid Cheng Hoo Pandaan, Pasuruan (Jawa Timur)
http://www.facebook.com/photo.php?pid=4429457&id=625817869
* dari berbagai sumber
………… sekian ………

Ribuan Orang Sembuh dengan Bacaan Quran di Sebuah Klinik Chenchnya (Rusia)


“Sejak hari pembukaan pertama kali, klinik gratis di Islamic Center di Chenchnya telah memiliki dan melayani lebih dari 60.000 pasien. Kebanyakan dari mereka yang mengunjungi klinik gratis di Islamic Center untuk merekoveri kesehatan mereka.

Klinik gratis ini membantu mereka untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik dengan cara non-tradisional – yaitu, dengan membaca Alquran,” kata pernyataan tersebut.

Bahkan Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov ikut ambil bagian dalam perayaan pembukaan klinik gratis tersebut pada hari Selasa yang lalu untuk menandai ulang tahun pertama Islamic center Chenchnya. Presiden Ramzan Kadyrov mendapatkan presentasi dari pimpinan Islamic Center Daud Selmurzayev, dan Akhmad Kadyrov, pimpinan tertinggi muslim Republik Chechnya.

“Islamic Center telah sangat populer tidak hanya bagi penduduk republik Chenchnya, tetapi juga bagi umat Islam dari wilayah Rusia lainnya dan negara-negara CIS,” kata Kadyrov.
i juga bisa menjadi obat bagi penyakit medis, dan hal ini sudah banyak dibuktikan termasuk di negara Chenchnya.

Ribuan pasien telah berhasil diobati dan disembuhkan dengan pembacaan Al-Quran secara sendirian di sebuah klinik gratis di Chechnya Grozny, kata sebuah pernyataan pada situs presiden Chechnya pada hari Rabu kemarin (3/2).
Ribuan Orang Sembuh dengan Bacaan Quran di Sebuah Klinik Chenchnya
Kamis, 04/02/2010

Benarlah firman Allah dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa Al-Quran itu adalah “Syifa” atau obat, bukan hanya obat bagi ruhani yang kering tapi juga bisa menjadi obat bagi penyakit medis, dan hal ini sudah banyak dibuktikan termasuk di negara Chenchnya.

Ribuan pasien telah berhasil diobati dan disembuhkan dengan pembacaan Al-Quran secara sendirian di sebuah klinik gratis di Chechnya Grozny, kata sebuah pernyataan pada situs presiden Chechnya pada hari Rabu kemarin (3/2).

“Sejak hari pembukaan pertama kali, klinik gratis di Islamic Center di Chenchnya telah memiliki dan melayani lebih dari 60.000 pasien. Kebanyakan dari mereka yang mengunjungi klinik gratis di Islamic Center untuk merekoveri kesehatan mereka.

Klinik gratis ini membantu mereka untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik dengan cara non-tradisional – yaitu, dengan membaca Alquran,” kata pernyataan tersebut.

Bahkan Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov ikut ambil bagian dalam perayaan pembukaan klinik gratis tersebut pada hari Selasa yang lalu untuk menandai ulang tahun pertama Islamic center Chenchnya. Presiden Ramzan Kadyrov mendapatkan presentasi dari pimpinan Islamic Center Daud Selmurzayev, dan Akhmad Kadyrov, pimpinan tertinggi muslim Republik Chechnya.

“Islamic Center telah sangat populer tidak hanya bagi penduduk republik Chenchnya, tetapi juga bagi umat Islam dari wilayah Rusia lainnya dan negara-negara CIS,” kata Kadyrov.

“Sejak hari pembukaan pertama kali, klinik gratis di Islamic Center di Chenchnya telah memiliki dan melayani lebih dari 60.000 pasien. Kebanyakan dari mereka yang mengunjungi klinik gratis di Islamic Center untuk merekoveri kesehatan mereka.

Klinik gratis ini membantu mereka untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik dengan cara non-tradisional – yaitu, dengan membaca Alquran,” kata pernyataan tersebut.

Bahkan Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov ikut ambil bagian dalam perayaan pembukaan klinik gratis tersebut pada hari Selasa yang lalu untuk menandai ulang tahun pertama Islamic center Chenchnya. Presiden Ramzan Kadyrov mendapatkan presentasi dari pimpinan Islamic Center Daud Selmurzayev, dan Akhmad Kadyrov, pimpinan tertinggi muslim Republik Chechnya.

“Islamic Center telah sangat populer tidak hanya bagi penduduk republik Chenchnya, tetapi juga bagi umat Islam dari wilayah Rusia lainnya dan negara-negara CIS,” kata Kadyrov.

April Mop, Tragedi Pembantaian Umat Islam Spanyol


Tiap tanggal 1 April, ada saja orang—terutama anak-anak muda—yang merayakan hari tersebut dengan membuat aneka kejutan atau sesuatu keisengan. April Fools Day, demikian orang Barat menyebut hari tanggal 1 April atau lebih popular disebut sebagai ‘April Mop’. Namun tahukah Anda jika perayaan tersebut sesungguhnya berasal dari sejarah pembantaian tentara Salib terhadap Muslim Spanyol yang memang didahului dengan upaya penipuan? Inilah sejarahnya yang disalin kembali sebagiannya dari buku “Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Halloween: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2005) SEJARAH APRIL MOP

Perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu sesungguhnya berawal dari satu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan. April Mop atau The April’s Fool Day berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 atau bertepatan dengan 892 H. Sebelum sampai pada tragedi tersebut, ada baiknya menengok sejarah Spanyol dahulu ketika masih di bawah kekuasaan Islam.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah bisa dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walau sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.

Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam begitu baik dan rendah hati, maka banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan hanya beragama Islam, namun mereka sungguh-sungguh mempraktekkan kehidupan secara Islami. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an tapi juga bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun mereka selalu gagal. Telah beberapa kali dicoba tapi selalu tidak berhasil. Dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam di Spanyol. Akhirnya mata-mata itu menemukan cara untuk menaklukkan Islam di Spanyol, yakni pertama-tama harus melemahkan iman mereka dulu dengan jalan serangan pemikiran dan budaya.

Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirim alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari ketimbang baca Qur’an. Mereka juga mengirim sejumlah ulama palsu yang kerjanya meniup-niupkan perpecahan di dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan Salib. Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang idbantai, juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua, semuanya dihabisi dengan sadis.

Satu persatu daerah di Spanyol jatuh, Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Kristen terus mengejar mereka.

Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak Muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar dari Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka. “Kapal-kapal yang akan membawa kalian keluar dari Spanyol sudah kami persiapkan di pelabuhan. Kami menjamin keselamatan kalian jika ingin keluar dari Spanyol, setelah ini maka kami tidak lagi memberikan jaminan!” demikian bujuk tentara Salib.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Beberapa dari orang Islam diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah dipersiapkan, maka mereka segera bersiap untuk meninggalkan Granada bersama-sama menuju ke kapal-kapal tersebut. Mereka pun bersiap untuk berlayar.

Keesokan harinya, ribuan penduduk Muslim Granada yang keluar dari rumah-rumahnya dengan membawa seluruh barang-barang keperluannya beriringan jalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai tentara Salib bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumahnya. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah itinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika para tentara Salib itu membakari rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang tentara Salib itu telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib itu segera membantai dan menghabisi umat Islam Spanyol tanpa perasaan belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Dengan buas tentara Salib terus membunuhi warga sipil yang sama sekali tidak berdaya.

Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The Aprils Fool Day).

Bagi umat Islam April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Sebab dengan ikut merayakan April Mop, sesungguhnya orang-orang Islam itu ikut bergembira dan tertawa atas tragedi tersebut. Siapa pun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, beberapa abad silam.(rizki)

April Mop Merupakan Perayaan Pembantaian Umat Islam, Tak Pantas Dirayakan

Umat Islam sangat tidak pantas merayakan “April Mop” atau “The April Fool Day” karena kebiasaan itu dilatarbelakangi peringatan peristiwa pembantaian umat Islam di Spanyol pada 1 April 1487 Masehi.

“Umat Islam banyak yang “latah” dan merayakan April Mop tanpa mengetahui dasar dan asal muasal peristiwa tersebut, ” kata Cendikiawan Muslim Ir.H.Asmara Dharma dalam tulisannya yang dirilis, di Medan, kemarin.

Ia menjelaskan, perayaan April Mop itu diawali peristiwa penyerangan besar-besaran oleh tentara Salib terhadap negara Spanyol yang ketika itu di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam pada Maret 1487 Masehi.

Kota-kota Islam di Spanyol seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib.

Umat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu berjanji keselamatan dan memperbolehkan umat Islam menaiki kapal jika mereka meninggalkan Spanyol dan persenjataan mereka.

Namun, ketika ribuan umat Islam sudah berkumpul di pelabuhan, kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum muslim dibantai dengan kejam sehingga air laut menjadi merah karena darah.

Peristiwa pembantaian dan pengingkaran janji tersebut terjadi pada 1 April 1487 Masehi dan dikenang sebagai “The April Fool Day.”

Selanjutnya, Dharma menjelaskan, peristiwa “The April Fool Day” itu dipopulerkan menjadi April Mop dengan “ritual” boleh mengerjai, menipu dan menjahili orang lain pada tanggal tersebut tetapi bernuansa gembira.

“Ritual tersebut disyaratkan dengan tidak bolehnya orang yang ditipu dan dijahili itu marah dan membalas, ” katanya.

Sumber: Eramuslim

Subhanallah…Penemu Sungai Dalam Laut Itu Pun Masuk Islam


“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat : 53)

Video :

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Subhanallah! :

(QS Fushshilat : 53) = (Q.S Al Furqan:53)


Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Chanel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Captain Jacques Yves Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu membuat bingung Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laayabghiyaan…” Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.

Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Subhanallah… Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim. Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

Maha Benar Allah Dengan Segala Firmannya…

Sang Pencetus Larangan Masjid Di Swiss Itu Kini Masuk Islam


Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.

Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.

Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.

Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.

Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.

Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.

Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.

Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.

Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol)

Kisah Nyata Tragedi Kiyai Liberal yang Terkenal di Indonesia, Akhir Hayatnya Memilukan


“Apa!? kamu hamil?!” Pak tua itu terbelalak mendengar pengakuan putri bungsu yang dicintainya. Dia langsung berdiri dan memburu ke arah sang putri, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap mendaratkan tamparannya, tapi…

“Jangan Paa… sabaar..!” istrinya menjerit sambil berusaha menghalangi dengan memeluk erat tubuh gadis kesayangannya. Sang bapak pun mengurungkan niatnya, tapi nampak jelas kemarahan dan kekecewaan luar biasa menguasai dirinya. Tubuhnya bergetar, matanya merah melotot, menatap tajam ke arah putrinya.

“Siapa!? Siapa yang berbuat kurang ajar begini, hah??” bentaknya tiba-tiba.

Sang putri hanya terdiam, terisak dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang ibu.

“Ya Allahhh… kenapa ini terjadi pada keluargakuu..?? Aku yang ditokohkan orang sebagai cendekiawan muslim terkemuka di negeri ini, hanya membesarkan seorang pelacur!!!” Orang tua itu mengeluh dan mengomel seolah ingin memuntahkan seluruh kekesalan dan kekecewaan dari ubun-ubunnya. Sementara, sambil terus memeluk anaknya, sang istri berusaha menenangkan suasana.

“Istigfar Paa, siapa sih yang pelacur? Anak kita kan hanya korban…” belum selesai si istri berbicara, “Korban apa? Wong dia sengaja melakukannya!!!” Pak tua yang masih kesal itu kini bertambah marah mendengar istrinya berusaha membela sang anak.

Suasana langsung hening, sang istri hanya menunduk, tidak mampu berkata apa-apa. Sejenak kemudian lelaki tua itu menarik kursi ke arah istri dan anaknya yang masih saling berpelukan, dan menghempaskan tubuhnya yang mulai renta itu.

“Ufhhh…, kenapa kau lakukan ini, Nak?” nada bicaranya nampak mulai menurun. Lalu dia menunduk sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan keriputnya, seakan tindakan itu bisa menutupi rasa malu yang akan dipikulnya ketika tersiar kabar di media massa infotaintment, “Putri Cendikiawan Muslim Terkemuka, Hamil di Luar Nikah dengan Pemuda Kristen.”

“Pokoknya, kamu harus dicambuk seratus kali!” tiba-tiba dia berucap tegas. Istrinya yang sedari tadi diam, serta-merta menoleh ke arahnya sambil mengernyitkan dahi.

“Apa, Pa? Dicambuk? Bukannya papa pernah bilang cambuk itu hukuman primitif yang tidak pantas untuk diberlakukan lagi? Papa juga sering menulis di buku dan berbagai media bahwa hudud itu sudah tidak relevan dan ketinggalan zaman?!” sang istri memberanikan diri untuk angkat bicara.

Mendengar itu, sang cendekiawan pun semakin terhenyak ke kursinya, dia pun terdiam tak tahu harus bagaimana.

*****

Semenjak kejadian itu, kini lelaki tua tujuh puluh tahunan itu terkulai lemah di atas pembaringan sebuah ruangan gawat darurat sebuah rumah sakit ibu kota. Dia mengalami depresi yang cukup berat. Dalam dirinya terjadi pertentangan batin yang hebat. Dia sadar bahwa selama ini dia terdepan meneriakkan keabsahan nikah beda agama, meneriakkan slogan  anti penerapan syariat Islam, menentang jilbab dan menyatakan jilbab bukan ajaran Islam tapi tradisi Arab. “Itu budaya orang Arab, bukan budaya Islam!” tegasnya setiap saat ketika memberikan mata kuliah di depan mahasiswanya.

Tapi, kini nuraninya berontak ketika menyaksikan kedua putri-putrinya menyingkap aurat, berpakaian minim dan sudah tidak seakidah lagi dengannya. Dia ingin menyuruh mereka istiqamah dalam syariat Islam, hidup dalam rumah tangga islami,  dan menutup aurat seperti yang diperintahkan Al Quran, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Kedua putrinya justru jadi orang yang gigih mengamalkan ideologi sekuler liberalnya.

Dengan busana gaul ala artis MTV, kini putrinya terjerumus kepada perbuatan zina dengan pemuda non muslim. Nuraninya menuntut untuk menjatuhkan hukuman sesuai dengan syariat Islam. Karena dia sangat mengerti bahwa hukuman di dunia akan membebaskan sang putri dari hukuman yang lebih dahsyat di akhirat nanti.

“Nak, walau bagaimana, kamu adalah seorang muslimah, jika terlanjur melakukan zina, kamu harus bertobat dan dihukum dengan hukuman yang telah ditetapkan oleh Islam.” Entah untuk ke berapa kalinya dia mengatakan itu pada sang putri. Karena tuntutan nuraninya, dia selalu mencoba meyakinkan putrinya agar mau menjalani hukuman cambuk dan pengasingan.

Hingga suatu ketika, saat saat sang putri membesuknya, dia mencoba membujuk putrinya. Tak disangka-sangka sang putri langsung berkata, “Ya sudah, kalau memang dalam Islam seperti itu, aku mau masuk Kristen aja!”

“Apaaa?!” bak disambar petir, pak tua itu langsung terlonjak berdiri. Matanya melotot seolah mau copot. “Kamu sudah gila, ya? Kalo kamu masuk Kristen, kamu berarti Murtad!! Kamu kafir dan…” Ia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya, karena amarahnya sudah membumbung tinggi. Dengan suara menggelegar dia hardik sang putri yang langsung terdiam, menggigil ketakutan.

“Apa nggak salah denger nih, Pa?” tiba-tiba putri sulungnya yang kebetulan sedang berkunjung, angkat bicara membela adiknya. “Papa ngomong apa sih, murtad.. kafir… Hak Diana dong Pa, untuk masuk Kristen, karena dia sudah merasa tidak cocok dengan Islam. Agama kan, wilayah privat yang tidak bisa dicampuri orang lain. Pindah agama ke Kristen adalah wilayah privat Diana. Papa tidak bisa, dong… ikut campur!”

“Jangan asal ngomong kamu, Len!!” pak tua itu langsung membentaknya.

“Dengar Lena, sebenarnya papa tidak pernah merestui kamu menikah dengan orang Kafir itu. Haram hukumnya muslimah menikah dengan orang kafir!!”

“Sekarang papa berani bilang begitu, lalu kenapa papa selama ini sibuk menulis di buku dan berbagai media bahwa semua agama itu sama kebenarannya? Untuk apa papa berkoar-koar semua pemeluk agama akan masuk surga? Itu semua bohong? Iya, Pa? Papa selama ini hanya menipu orang banyak dengan semua tulisan dan ucapan Papa itu?” Lena memberondong sang ayah yang sudah tua dan sedang sakit itu dengan berbagai pertanyaan yang sangat menyudutkan.

“Diaamm..!!!” dia semakin kalap mendengar ocehan sang putri sulung.

“Kenapa Lena harus diam? Lena kan hanya mengulang ucapan-ucapan yang Papa ajarkan!” Si sulung tidak mau kalah, balas membentak. “Asal Papa tahu, sekarang aku sudah ikut agama Mas Yudha, aku sudah masuk agama Budha!”

“Apaa?! … beraninya kamu murtad Lena.. kamu sudah kafir, akan masuk neraka… darahmu sekarang halal ditumpahkan… akan aku bun… aaaakhhh!”

“Pa..pa..istigfar pa…, istigfaaar!!!” Sang istri berusaha menenangkan suaminya yang berteriak-teriak mengigau. Lelaki itu terus meronta-ronta sambil berteriak tak karuan. “Susteer… tolong susteer..” Sang istri pun menjerit histeris. Tak lama kemudian berdatanganlah beberapa perawat laki-laki, memegangi tangan dan kakinya sampai dia tenang kembali.

“Ahh.. hhh..hhh” lelaki itu nampak terengah, nafasnya memburu..

“Tenang Pak, istigfar..” salah seorang perawat terus berusaha menenangkannya.

Lelaki tua itu pun berangsur tenang, perlahan dia membuka kedua bola matanya, memandang sekelilingnya. Nampak olehnya sang istri yang masih menyisakan cemas di wajahnya. Kedua biji matanya menyapu sekeliling ruangan itu, namun tak didapatinya kedua orang putrinya.

“Ma.. apa.. d..Di..ana jj..jadi masuk kk..Kristen?” mulutnya bergetar, dengan suara yang amat lemah dia berusaha bertanya ke istrinya. Setelah terdiam beberapa saat, bingung harus menjawab apa, sang istri pun memberanikan diri untuk mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

..Kepalanya terkulai lemas, tatapannya kosong, perlahan dia pun kembali memejamkan mata… tiba-tiba.. dia teringat sebuah hadits Nabi yang dulu sangat dihafalnya sejak kecil…

“Fhhhhh…” lelaki itu menghembuskan nafas kuat-kuat, seolah ingin melepaskan semua beban di dadanya. Kepalanya terkulai lemas, tatapannya kosong, perlahan dia pun kembali memejamkan mata… tiba-tiba.. dia teringat sebuah hadits Nabi yang dulu sangat dihafalnya sejak kecil… “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputus seluruh amalannya kecuali tiga perkara… Ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariah, dan anak shaleh yang akan mendoakan..” Dia langsung membelalakkan matanya, “Anak yang shalehhh…” mulutnya berdesis. “Aku tidak punya anak yang shaleeeh… kedua putri ku telah murtaaad!!.. aahhh, siapa nanti yang akan mendoakanku?? Hik..hik..hik..” dia pun terisak, tubuhnya berguncang hebat menahan isakan tangis penyesalannya.

***

Sang cendekiawan tertunduk menatap tajam ke arah gundukan tanah yang masih merah tempat istrinya dibaringkan untuk selama-lamanya. Tanpa disangka, istrinya yang segar-bugar, mendahuluinya menemui sang Khaliq. Sementara sang cendekiawan tua yang belum bisa mengatasi depresi berat itu masih bertahan hidup, meski sakit-sakitan. Kini, tinggallah Kyai Liberal ini dengan dua orang putrinya.

Tiba-tiba dia tersentak, teringat kedua putrinya kini beda agama dengannya, berarti hanya dia sendiri yang muslim.

Ketika hendak beranjak berdiri. Tanpa sengaja bola matanya terpaku pada sebuah nisan berlambang salib, tak jauh dari makam istrinya. “Ya Allah, bila aku mati nanti, akankah namaku terpampang di batu nisan seperti di makam salib itu?” [azz@hra/voa-islam.com]