Islam di Estonia

Sejak akhir era 80-an, telah lima kali diupayakan pembangunan masjid.
Kini, terdapat sekitar 20 ribu jiwa umat Muslim di Estonia, sebuah negara kecil di kawasan Baltik. Mereka sudah menetap di sana sejak puluhan tahun lalu, bahkan turut merasakan pahit getir penderitaan semasa rezim komunis Soviet. Akan tetapi, hingga kini, keberadaan mereka seolah belum terakomodasi. Salah satu buktinya adalah belum adanya sarana (tempat) ibadah yang representatif untuk umat Islam di Estonia.
Ya, belum ada satu pun masjid di negara pecahan Uni Soviet itu. Upaya membangun masjid sebenarnya sudah kerap dilakukan. Namun, ada banyak tantangan dan kendala yang dihadapi, mulai dari pejabat di pemerintahan, masyarakat setempat, ataupun di internal umat sendiri.
Warga Muslim masih terkenang kejadian di tahun 2003 silam. Ketika itu, dengan sokongan seorang pengusaha Muslim, mereka berniat mewujudkan harapan membangun masjid pertama. Bahkan, lebih dari itu, masjid tersebut rencananya bakal jadi yang terbesar di wilayah Balkan.
Proyek ambisius ini bakal berlokasi di Ibu Kota Tallin atau kota besar lainnya. Bila telah selesai pembangunannya–yang diperkirakan menelan dana hingga 40 juta dolar–masjid ini juga difungsikan sebagai pusat kegiatan agama dan kemasyarakatan.
Tapi, tak lama setelah program tersebut digulirkan, muncul penolakan dari berbagai pihak. Salah seorang anggota parlemen Estonia, Liina Tonisson dari Partai Pusat, mengatakan, ”Kami sebenarnya tidak bisa mencegah pembangunan masjid ini. Akan tetapi, Estonia adalah sebuah negara yang berkebudayaan Eropa dan agama Islam tidak cocok di sini,” terangnya.
Meski begitu, pejabat kota tidak berkeberatan. Juri Mois, wali kota Tallin, menilai, adanya masjid tersebut nantinya akan mampu menambah keragaman di kota itu. ”Ini akan membuat turis asing tertarik untuk berkunjung ke Estonia,” katanya.
Dukungan juga datang dari Pusat Kebudayaan Kristen Estonia. Organisasi ini bersedia bekerja sama dengan Palang Merah Islam untuk melobi para pejabat setempat ataupun komunitas umat beragama lain guna menyukseskan program itu.
Polemik terus berlanjut. Ada kekhawatiran bahwa rencana pembangunan masjid dapat memicu sentimen antitoleransi dan kekerasan agama.
Isu ini langsung ditepis mufti Estonia, Syekh Ahmed Harsinov. Islam, kata Syekh Ahmed, adalah agama damai. Dia lantas menyerukan perlunya dialog intensif antara umat beragama di negara itu sebagai upaya membangun saling pengertian dan pemahaman.
Syekh Ahmed kemudian mengingatkan bahwa umat Islam sudah ada di Estonia sejak 100 tahun lalu dan selama itu pula tidak pernah memicu kerusuhan atau kekerasan. ”Jadi, tidak ada alasan untuk merasa takut terhadap Islam dan komunitas Muslim,” tegasnya.
Sejarah pun mencatat bahwa pembangunan urung terlaksana setelah timbul permasalahan di internal umat. Mereka mempertanyakan kesanggupan Habib Gulijev, sang pengusaha, untuk memimpin proyek ini sekaligus menyediakan pendanaan yang dibutuhkan.
Terkait rencana pembangunan tersebut, Syekh Ahmed mengungkapkan perlunya umat Muslim Estonia memiliki tempat ibadah. Ini mengingat, di Ibu Kota Tallin, hanya ada sekitar 13 tempat shalat dan tak satu pun yang merupakan masjid. Dirinya mencatat, sejak akhir era 80-an, telah lima kali dilakukan upaya pembangunan masjid.
Lebih dari separuh jumlah umat Muslim menetap di Tallin. Kebanyakan dari mereka berasal dari etnis Tatar dan Azer yang datang ke kawasan ini sejak era Uni Soviet. Kini, jumlah pemeluk Islam semakin bertambah dengan kehadiran para imigran dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan negara-negara Islam di Asia.
Bertoleransi Adalah etnis Muslim Tatar yang pertama kali hadir di negara tersebut. Mereka berstatus sebagai pengungsi setelah tanah airnya, Republik Tatar, dikalahkan tentara Kerajaan Rusia. Represi besar-besaran terjadi. Intelektual dan tokoh agama banyak yang disingkirkan.
Warga pun memilih hengkang dan mencari tempat lebih aman. Beberapa dari mereka sampai di Finlandia dan juga Estonia. Dua kota utama, Narva dan Tallin, pernah menjadi pusat konsentrasi ribuan pengungsi.
Ketika itu, Estonia belum berbentuk negara. Estonia masih merupakan provinsi miskin dan masuk wilayah Kekaisaran Rusia. Daerah ini sempat porak-poranda akibat Perang Dunia I.
Penduduk asli menerima para pengungsi dengan tangan terbuka. Mereka beragama Nasrani, tapi bertoleransi terhadap umat agama lain, terlebih para pendatang tadi sedang mengalami penderitaan.
Kedua pemeluk agama hidup berdampingan secara damai. Eksistensi umat pun diakui, misalnya diperbolehkan memiliki lahan pemakaman khusus Muslim. Tak hanya itu, agama Islam pun tercantum sebagai agama resmi dalam konstitusi sejak tahun 1928.
Mereka juga mendapat pekerjaan cukup baik di berbagai bidang profesi. Perdagangan berkembang pesat, demikian pula sektor pendidikan di mana banyak pelajar Muslim yang menimba ilmu di Universitas Tartu.
Tibalah musim semi tahun 1940. Republik kecil ini dianeksasi tentara komunis Soviet. Maka, sekali lagi, komunitas Muslim mengalami penindasan. Ribuan warga kemudian dideportasi ke Siberia. Ini merupakan bagian dari kampanye ‘Rusianisasi’ di seluruh wilayah pendudukan.
Sekitar bulan Maret 1944, pada masa Perang Dunia II, angkatan udara Soviet membombardir Tallin yang masih dikuasai Nazi Jerman. Kota itu rusak berat, termasuk kediaman komunitas warga Muslim. Sistem drainase juga porak-poranda hingga menyebabkan banjir besar yang turut menghancurkan pemakaman Muslim.
Usai PD II, dengan rezim komunis tetap bercokol, kehidupan keagamaan ditekan. Pada pertengahan tahun 80-an, umat Muslim membentuk organisasi pertama, tapi baru diakui secara resmi pada tahun 2000.
Estonia pun memperoleh kemerdekaan tahun 1991. Berdasarkan data sensus tahun 1997, jumlah penduduknya mencapai 1,7 juta jiwa, termasuk umat Islam. Sejak itu, tidak ada permasalahan berarti dalam kehidupan keseharian. Sampai timbul peristiwa 11 September yang mengubah persepsi warga Barat terhadap Islam dan umat Muslim. yus/berbagai sumber
Bangga Miliki Alquran Terjemahan
Keterbatasan sarana ibadah tak menghalangi umat Muslim Estonia untuk terus berupaya memantapkan akidah. Desember 2007 lalu menjadi momen penting bagi segenap umat setelah secara resmi diterbitkan Alquran terjemahan dalam bahasa Estonia.
Liberalisasi kebijakan imigrasi memang telah membuat peningkatan angka imigran dari negara-negara Muslim. Oleh karena itu, diperlukan pula penambahan berbagai sarana dan prasarana penunjang ibadah.
Untuk tahap awal, edisi pertama Alquran ini dicetak sebanyak tiga ribu kopi. Subhanallah, umat sangat antusias menyambut kehadiran kitab suci ini.
Dalam waktu singkat, seluruh cetakan Alquran tersebut terjual habis. Hal ini terbilang fenomenal, mengingat di negara kecil ini hanya memiliki angka tertinggi penjualan buku yang hanya mencapai lima ribu kopi. Dalam sebulan, Alquran tersebut telah menjadi best seller.
Menurut penerbitnya, Aivar Lestinski, dalam beberapa tahun belakangan, muncul kecenderungan di masyarakat Muslim untuk memperdalam agama Islam, belajar ilmu Alquran, dan lainnya. Tak mengherankan jika buku-buku tentang agama pun laris manis.
Alquran terjemahan bahasa Estonia itu adalah karya Haljand Udam (1936-2005). Penerjemahan sendiri dilakukan selama lebih dari tiga tahun.
Udam memang punya kemampuan bahasa asing yang sangat luar biasa. Dia menguasai sejumlah bahasa, seperti Arab, Farsi, Tajiki, Hindi, Urdu, dan Uzbek. Selain itu, dia pun mahir dalam beberapa bahasa Eropa, misalnya Prancis, Inggris, Rusia, dan Finlandia.
Beberapa buku dari para ulama dan pengarang terkemuka dunia telah berhasil diterjemahkan pula. Pun, karya-karya yang berupa esai, hasil penelitian, serta buku karangannya diterjemahkan sendiri ke berbagai bahasa, seperti Read and Written (1998), Ittenarary of the Orient (2001), dan Magicians, Philosophers, Politicians (2003).
Pendidikannya ditempuh di Universitas Tartu, di mana dia memperoleh gelar sarjana di bidang geologis. Akan tetapi, Udam lantas tertarik mempelajari budaya Timur dan selanjutnya belajar di Universitas Tashkent tahun 1964.
Kemudian, studinya berlanjut di Soviet Academy of Science dengan mengambil jurusan bahasa Rusia. Dua tahun setelah hijrah ke Rusia, di tahun 1971, Udam menulis tesis terkenalnya yang berjudul Semantic Features of Sufi Terminology in Persian. /berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s