Monthly Archives: October 2011

Foto Sholat Di Berbagai negara dalam Berbagai Keadaan! (Yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya)


Para Sahabat, dalam catatan ini admin tampilkan foto shalat dalam berbagai macam-macam keadaan!. Tidak bermaksud untuk menyindir atau menggurui siapapun, tapi sebagai renungan termasuk diri admin sendiri. Mengingat ketika orang Shalat kita malah asik beraktifitas dan sebagainya…Nah..

Mereka ini (dalam foto) yang justru keadaannya lebih memprihatinkan dari kita “masih” sempat-sempatnya Shalat.. bagaimana dengan kita ???

Semoga Bermanfaat untuk renungan kita semua. Aamiin…

*Sholat Idul Adha di Uzbekistan, TETAP KHUSYU’ Shalatnya..*

*Shalat di Somalia ketika umat Islam terancam*

*Saat Perang dan Salju mereka tetap Shalat (diAfganistan)*

*Tak menghalanginya bersujud kepada-Nya walau cacat*

*Meninggal dalam Keadaan shalat*

*Shalat dalam Keadaan Was-was (dikelilingi senjata semi Otomatis)*

*Shalat Mujahid Para Tentara Allah*

*Di Palestina*

*Korban konflik daerah terjajah*

*Disela-sela kegiatan aktifitas*

*Dan ini Yang paling Penting Sahabat !!! Shalatlah Sebelum Kamu Di Shalatkan….*

Semoga menjadi renungan buat kita semua…..

—————————-

إِنَّ الصَّلوٰةَ كانَت عَلَى المُؤمِنينَ كِتٰبًا مَوقوتًا

….Sesungguhnya shalat itu adalah Kewajiban (fardhu) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. . An Nisaa’ 4)

Tiga Gelombang Penyebaran Islam di Tapanuli


Melalui Barus
—————-
                                                  perkampungan muslim barus di Tapanuli Tengah

Mungkin, sebagian di antara kita masih ada yang merasa asing dengan nama “Barus”-sebuah kota tertua di Indonesia yang terletak di pinggir pantai Barat Sumatera Utara tepatnya di Tapanuli Tengah. Tapi, tahukah kita bahwa Barus merupakan perkampungan Arab Muslim pertama di Indonesia

Gelombang pertama masuknya Islam ke Sumut berlangsung sebelum dinasti Sisingamangaraja dimulai pada sekitar pertengahan tahun 1500-an.

Dugaan paling kuat tentang awal masuknya Islam ke Sumut, adalah melalui transit pelayaran antara India atau Persia di sebelah barat dengan Tiongkok di bagian timur. Seperti dinyatakan Ridwan, pelaut-pelaut itu singgah di Barus dalam urusan pribadi, untuk berdagang, bukan penyebaran agama.

Bandar Barus, kini di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, sekitar 280 kilometer dari Medan, waktu itu termasuk tempat persinggahan terbesar di pantai barat Sumatera. Pedagang Gujarat dan Parsia selalu singgah di sini sebelum melanjutkan pelayaran.

Salah satu bukti atau petunjuk tentang mula masuknya Islam masih bisa dijumpai hingga sekarang, berupa makam Islam tua di 11 lokasi. Misalnya komplek makam Syeh Machmudsyah di Bukit Papan Tinggi, dan makam Syeh Rukunuddin di Bukit Mahligai di Desa Aek Dakka. Keduanya wafat pada tahun 440 dan 480 Hijriah. Angka itu diperoleh setelah menafsirkan tulisan pada nisannya.

Menurut penelitian Hasan Muarif Ambary dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1978 hingga 1980 dan diulangi pada tahun 1995, di dua komplek makam kuno itu terdapat lebih dari 100 kuburan. Makam tertua di komplek itu adalah makam Tuhar Amisuri. Wafat tahun 602 Hijriah atau 1212 Masehi. Makam tersebut 94 tahun lebih tua dibanding makam Sultan Malikul Shaleh di Mounasah Beringin, Kutakarang, Aceh.

Dengan bukti baru itu, Hasan yang juga guru besar di Fakultas Adab, Institut Agama Islam Negeri Jakarta dan Ketua Dewan Kurator Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal, Jakarta, menduga bahwa komunitas Islam lebih dulu terbentuk di Barus, daripada di Aceh. Namun karena tak ada bukti-bukti sejarah lebih kuat, tidak bisa disimpulkan bahwa Barus yang masuk dalam wilayah Tapanuli, merupakan kota Islam pertama di Nusantara.

Kesimpulan sementara bahwa Islam masuk pertama sekali melalui Barus cukup beralasan. Berita tentang Kerajaan Islam di Aceh baru diketahui setelah seorang penjelajah dunia Marcopolo menulis, dia sempat singgah di Kerajaan Samudera Pasai tahun 692 H atau tahun 1292 M. Di sana Marcopolo menemui banyak orang Arab menyebarkan Islam.

Catatan lain bersumber dari Ibnu Battuthah, seorang pengembara Muslim dari Maroko yang wafat tahun 1377. Ia singgah di Samudera Pasai tahun 746 H atau tahun 1345 M. Raja waktu itu Malik Al-Dzahir II (1326-1348 M), seorang yang kuat berpegang pada agama Islam dalam aliran Mazhab Syafi’i. Menurutnya Pasai telah menerima Islam dalam jangka masa satu abad sebelum kedatangannya.

Samudera Pasai memang bukan kerajaan Islam pertama di Aceh. Ia adalah kerajaan kedua setelah Peureulak (Perlak) yang berdiri pada hari Selasa, 1 Muharram 225 H dengan raja pertamanya Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Bahkan Perlak juga jadi kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Setelah itu baru muncul Samudera Pasai, Kerajaan Aceh Darussalam dan kerajaan-kerajaan bercorak Islam lainnya di Indonesia seperti Malaka, Demak, Cirebon serta Ternate.

Namun pengembangan Islam di Aceh sangat berhubungan erat dengan raja pertama Samudera Pasai Sultan Malikul Saleh (1276-1297 M). Sultan Malik Al – Salih atau biasa disebut Malikul Saleh, nama aslinya Marah Silu sebelum disyahadatkan Sheikh Ismail dari Makkah dan mendapat gelar Al Marhum Paduka Said Samudera setelah meninggal dunia.

Dengan demikian, makam-makam di Barus lebih tua umurnya dibanding masa berdiri kerajaan-kerajaan Islam di Aceh. Bahkan jauh lebih tua dibanding makam Fathimah binti Maimun di Gresik, Jawa Timur. Sebelumnya makam ini dianggap peninggalan Islam tertua di Indonesia karena pada nisan makam wanita asal Arab ini, tertulis angka tahun 475 H/1082 M, atau pada zaman Kerajaan Singasari.

Masih Dangkal
—————–

Walau Islam pertama sekali masuk melalui Tapanuli, namun karena ketiadaan pendakwah secara khusus itu, maka Islam diterima dengan dangkal serta masih dicampuri dengan mistik karena adat budaya lokal masa itu adalah animisme.

Masa persinggahan pedagang Arab itu ternyata tidak cukup lama untuk menanamkan ajaran Islam secara utuh. Sesudah kedatangan bangsa Portugis ke Nusantara sekitar abad ke 15, maka para pelaut pedagang Islam itu menghilang karena selalu mendapat serangan dari pelaut Portugis. Pusat perdagangan pun sudah berpindah ke Selat Malaka. Akibatnya Barus hilang dalam peta pelayaran internasional.

Namun kedatangan sementara pedagang Muslim itu telah menyebabkan pembauran budaya. Sebagian orang Batak di wilayah Barus mulai mengadaptasi Islam. Mereka yang beragama Islam karena proses pernikahan antara para pedagang Persia dengan penduduk lokal, dengan sendirinya menyisakan corak Islam, walau ajaran Islam belum diterima secara sempurna.

Menurut Ridwan, proses masuknya Islam ke Barus itu lebih menekankan pada hal bersifat tauhid, menekankan pada aspek pembentukan keyakinan.

“Ternyata perkembangan Islam melalui Barus tidak terlalu ekspansif. Mungkin ada persoalan perbedaan kultur, budaya. Kedua mungkin perbedaan ras, mungkin orang Arab itu berkulit putih, sedangkan Batak berkulit hitam. Kemudian ada tantangan dari kepercayaan lokal yang menganut animisme dan dinamisme. Karena itu Islam hanya beredar di situ saja tidak melebar lebih jauh,” tukas Ridwan.

Ditamsilkan Ridwan, sebenarnya hampir semua sejarah dunia, kalau pendakwah berpindah tempat, biasanya Islam itu akan tersebar di tempat kepindahannya itu. Karena Islam mudah masuk dalam ke semua masyarakat.

“Lihat saja di Indonesia. Islam tidak dikembangkan dengan ekspansi, tetapi kok bisa menyebar seperti sekarang ini?” katanya.

Gelombang Kedua Melalui Aceh
————————————-

Pedagang Parsia yang singgah di Barus, diyakini merupakan suatu kafilah dengan tujuan utama daratan Tiongkok (China). Selain di Barus, sebagian di antara mereka juga mendarat di Aceh. Diduga kuat, di sini proses penyebaran lebih serius. Terbukti Kerajaan Samudera Pasai kemudian berdiri dan menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Sejarah mencatat, Aceh menjadi kerajaan kuat. Sempat berkuasa hingga ke Bengkulu, Malaka dan termasuk Minangkabau. Di Minangkabau, kekuasaan Aceh terutama di kawasan pesisir barat, seperti Tiku, Padang, Salido, Indrapura serta Pariaman.

Aceh pernah mengangkat seorang sultannya di Pariaman, Sulthan Mughal, cucu dari Sultan Aceh Ali Mughayat Syah. Pada tahun 1576 dia dijeput ke Pariaman dan dilantik menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Seri Alam. Kekuasaan Aceh berakhir tahun 1663, seiring dengan masuknya kongsi dagang Belanda, VOC (Verenigde Oostindische Compagnie).

Aceh juga tercatat pernah menaklukkan Kerajaan Aru atau Haru, Kota Medan sekarang, pada bulan Januari dan Nopember 1539. Penyerangan itu akhirnya membuat sebagian besar penduduk Haru masuk Islam. Haru lantas menjadi kerajaan Islam pertama di wilayah Sumut sekarang.

Islam dari Aceh ini menyebar kawasan pantai timur Sumut. Sebab itu umat Islam yang bermukim di pinggiran pantai timur seperti Medan, Asahan hingga Labuhan Batu merupakan buah penyebaran dari Aceh ini.

“Polanya juga mudah dilihat sebab penyebaran Islam dari Aceh dalam bentuk tasawuf atau tharekat. Lebih banyak menekankan pada pada amaliyah ubudiyah. Sebab itu kita lihat di sini hampir tidak ada masalah atau ketegangan hubungan antara Islam dengan agama lokal. Karena kalau kita bicara tasawuf atau tharekat itu adalah pendekatan esoteris,” kata Ridwan.

Dikatakan Ridwan lagi, pendekatan tasawuf atau tharekat itu lebih diutamakan pada pendalaman makna. Tidak mempersoalkan simbol-simbol sosial. Sepanjang makna sudah masuk, tidak ada persoalan.

“Karena itu pola Islam seperti ini lebih mudah masuk dan bertahan lebih lama. Tidak menciptakan ketegangan. Seperti tepung tawar, orang tepung tawar biasa saja. Sebelum Islam tepung tawar, setelah Islam tepung tawar juga. Biasa saja. Persoalannya bukan pada bentuk tepung tawar, tetapi makna di balik tepung tawar kalau makna ini sudah seusai peraturan silahkan saja,” tukas Ridwan yang juga Ketua Forum Komunikasi Pemuka Antaragama (FKPA) Sumut.

Lepas dari tiga pola tersebut, saat ini penganut Islam merupakan mayoritas di Sumut. Data dari Kantor Wilayah Departemen Agama Sumut menyebutkan dari 11.814.233 penduduk Sumut (berbeda dengan data Biro Pusat Statistik Sumut yang menyatakan penduduk Sumut berjumlah 11.890.399 jiwa) sebanyak 7.506.103 orang memeluk Islam. Hal itu juga berpengaruh pada banyaknya jumlah rumah ibadah.

Jadi kendatipun tiga gelombang pengislaman tetap tidak berjalan di Tanah Batak, namun toh kini Islam terus berkembang dan menjadi mayoritas di Sumut.

Namun seorang penda’i keturunan China/Tionghoa di Medan, Ibrahim Musa Daud Isa Muhammad Alwy (Chou Chin Wie) menyatakan, perkembangan belakangan ini di Sumut, sebagian masyarakat keturunan China yang beragam Islam, sudah mulai mengalami pemurtadan.

“Tidak diketahui alasan pastinya. Kemungkinan masalah politis. Mungkin dahulu sebelum masa reformasi, lebih aman jika beragama Islam. Namun kini, memakai agama keturunan yang lama juga tidak masalah. Tetapi entahlah, saya tidak begitu bisa menjelaskannya,” kata Ibrahim sambil menyatakan paling hanya sekitar seribu orang saja etnis China yang memeluk Islam di Sumut dari sekitar 1.670.000 yang terdata. Jumlah itu kemungkinan akan terus berkurang karena alasan reformasi tadi.

Gelombang Terakhir

———————–

Pasukan Paderi Tuanku Imam Bonjol

Syawal 1233 Hijriah atau sekitar tahun 1816 Masehi. Tak kurang dari lima ribu orang pasukan berkuda Tentera Paderi masuk ke Mandailing, yang merupakan daerah perbatasan Sumatera Utara (Sumut) dengan dengan Sumatera Barat sekarang. Seperti semua penunggang kuda, Tuanku Rao yang bernama Fakih Muhammad, pemimpin pasukan ini mengenakan jubah putih dengan serban di kepala, khas Tuanku Imam Bonjol.

Mereka masuk melalui Muara Sipongi dan menaklukkan Penyambungan dan terus bergerak ke utara. Misi utama penyerangan itu untuk mendirikan Islam yang kaffah, yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist sesuai dengan paham Islam Wahhabi yang dianut Paderi. (lihat Andil Paderi di Tanah Batak)

Tidak begitu sulit proses penegakan syariat Islam ini karena ternyata sebagian orang Mandailing dan Angkola (sekarang Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan di Sumut) ternyata sudah ada yang memeluk Islam.

Usai menaklukkan Mandailing, pasukan dengan pedang di pinggang ini, bergerak lebih ke utara. Rencananya mereka akan menaklukkan tanah Batak yang pada saat itu masih menganut animisme dan dinamisme.
Di Sipirok, kini salah satu kecamatan di Tapanuli Selatan, mereka berhenti untuk menyusun strategi dan menambah kekuatan pasukan. Tuanku Rao lalu merekrut ribuan penduduk setempat yang sudah diislamkan/telah masuk islam dalam pasukannya. Pasar Sipirok yang sekarang dahulunya merupakan tempat latihan infrantri dan kavaleri, pasukan berkuda.

Setelah jumlah pasukan dirasa cukup dan strategi telah matang, Tuanku Rao melanjutkan penyerangan ke pusat kerajaan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja X yang bernama Ompu Tuan Nabolon.

Pasukan Paderi bergerak melewati Silantom, Pangaribuan, Silindung dan terus ke Butar dan Humbang yang merupakan daerah pusat kekuasaan Sisingamangaraja X. Di Desa Butar pasukan Paderi bertemu dengan pasukan Sisingamangaraja X. Naas, dalam pertempuran itu, Sisingamangaraja X tewas dengan leher terputus.

Menurut Ompu Buntilan alias Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak, Sisingamangaraja X yang lahir pada tahun 1785, meninggal dunia pada tahun 1819 dalam usia 34 tahun. Waktu dia baru berkuasa sebagai raja selama empat tahun saja.

                                                                         Tuanku Imam Bonjol

Satu hal yang pasti, penyerangan itu memakan banyak korban. WA Braasem dalam bukunya Proza en Poëzie om her Heilige Meer der Bataks menulis, “Pada permulaan abad yang lalu maka oleh apa yang dinamakan Penyerbuan Paderi (mazhab Islam ortodoks yang datang dari Minangkabau untuk menyebarkan Islam dengan api dan ujung pedang) ke pusat Tano Batak yang menurut tafsiran Junghuhn lebih dari 200 ribu orang yang mati terbunuh, di mana rakyat toh tidak menjadi Islam.”

Kesan agak berlebihan tentang serangan itu tertulis dalam Sedjarah HKBP yang ditulis Dr J Sihombing. Disebutkan, pasukan Tuanku Rao membakar rumah-rumah penduduk, ternak dipotong, barang-barang berharga dirampas. Rakyat berlarian, bersembunyi di hutan-hutan dan dalam gua-gua. Mulut anak kecil disumpal dengan kain, agar tidak terdengar suara atau tangisannya.

Perlawanan memang dilakukan rakyat Batak, tetapi Paderi sangat kuat. Mereka pun kalah. Penyerangan itu mengakibatkan tanah Batak banjir darah dan mayat. Perang ini juga mengakibatkan rakyat Batak miskin luar biasa. Lalu muncul dampak baru, penyakit kolera yang bersumber dari gelimpangan mayat-mayat. Belum ada obat penyembuh. Setiap orang yang terjangkit, paling lama dalam dua atau tiga hari dan akhirnya meninggal dunia.

Wabah kolera itu turut menjadi alasan keluarnya Paderi dari Batak. Mereka kembali ke Minangkabau untuk menghadapi Belanda yang semakin menancapkan kukunya. Dalam sebuah pertempuran di Air Bangis, Kab. Pasaman, Sumatera Barat, pada Januari 1833, Tuanku Rao akhirnya meninggal dunia. Mayatnya tidak ditemukan, kemungkinan dicampakkan Belanda ke tengah laut.

Usai Tuanku Rao memimpin pasukan ke Batak, datang lagi satu pasukan Paderi lainnya ke Mandailing, dipimpin Tuanku Tambusai. (lihat Rao dan Tambusai Jadi Rebutan)

Berbeda juga dengan Tuanku Rao yang masuk ke Mandailing melalui Muara Sipongi, maka pasukan masuk melalui Sibuhuan, Padang Lawas, Padang Bolak, walau akhirnya juga ke Sipirok. Di sini pula dibangun cikal-bakal mesjid pertama di Sipirok secara sederhana. Mesjid bernama Raya Sori Alam Dunia Sipirok Mashalih yang pemugarannya dalam ujud yang sekarang dibangun sejak 16 Juli 1926 itu secara resmi dimasuki pada 16 Juli 1933 dan masih dipergunakan hingga sekarang.

Kendati sama-sama berasal dari Paderi, namun dalam pengislaman pola Tuanku Tambusai sudah lebih lembut dibanding Tuanku Rao. Namun yang pasti kedua misi pengislaman tersebut pada akhirnya menjadikan Mandailing masa kini, yakni Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan sebagai daerah dengan persentase pemeluk Islam terbesar di Sumut.

Serangan Paderi di bawah pimpinan kedua tokoh tersebut, merupakan gelombang terakhir dari tiga gelombang masuknya Islam ke Sumut. Yang unik, dari tiga gelombang masuknya Islam itu, tidak satupun berhasil membuat Islam tersebar di Tanah Batak, wilayah Kabupaten Tapanuli Utara dan Toba Samosir sekarang.

“Seolah ada rantai yang terputus dalam proses penyebaran Islam di Tanah Batak,” kata Profesor HM Ridwan Lubis, Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut.

Menurut Ridwan kegagalan proses pengislaman di Tanah Batak karena polanya salah. Apalagi tentara Paderi meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Batak. Dalam sejumlah catatan cendikiawan Batak, serangan Paderi merupakan kepedihan pertama yang dialami masyarakat Batak. Sedangkan kepedihan kedua diakibatkan perang melawan penjajahan Belanda tahun 1877.

“Saya melihat kegagalan itu karena Wahhabi membawa corak Islam puritan gerakan kepada pemurnian. Kedatangan Islam ke sana bukan dalam wacara tasawuf, tetapi dalam wacana fiqh. Mereka membawa tema perubahan simbol,” tukas Ridwan.

Pola ini, kata Ridwan, tentu akan menghadapi perlawanan, berkontroversi dengan budaya lokal. Wacana Wahhabi itu cocoknya untuk mereka yang baru masuk Islam, makanya berjalan di Mandailing.

“Jika pakai tasawuf mestinya Tapanuli akan Islam juga,” tukas Ridwan.

Kesulitan Penentuan
————————-

Menurut Ridwan, sebenarnya agak sulit menentukan tentang bagaimana proses masuknya Islam ke Sumut. Dibutuhkan studi lebih mendalam, terutama tentang peninggalan-peninggalan sejarah, sehingga akan diperoleh gambaran lebih jelas tentang proses masuknya Islam tersebut.

“Ada tiga teori menentukan bagaimana Islam masuk. Pertama bagaimana Islam datang, paling tidak ada satu dua orang yang sudah Islam. Kedua bagaimana Islam berkembang, artinya Islam sudah membentuk komunitas suatu masyarakat. Biasanya jika ini jadi patokan, maka kita melihat adanya peninggalan komunitas seperti adanya mesjid dan mushola. Ketiga, ketika Islam sebagai kekuatan politik, Islam sebagai sebuah kerajaan,” kata Ridwan.

Agak sulit, kata Ridwan, menentukan waktu masuk sebenarnya. Pasalnya Islam datang ke Sumut bukan dalam bentuk ekspedisi khusus. Jadi kehadiran Islam karena kedatangan, aktivitas, kreativitas dan gagasan pribadi.

“Ini bukan hanya di Sumut, tetapi di Indonesia atau Asia Tenggara. Karena Islam datang dalam bentuk dakwah, bukan ekspansi. Makanya sulit menentukan,” kata Ridwan.

sumber :

http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9675

Arsyad Thalib Lubis Kristolog Batak Yang Kharismatik


Nama lengkapnya Muhammad Arsyad Thalib Lubis. Ia dilahirkan di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada bulan Ramadan 1326 H/Oktober 1908 M. Stabat adalah kota kecil berjarak sekitar 40 km ke arah Utara Kota Medan. Ayahnya bernama Lobai Thalib ibn H. Ibrahim Lubis. Dan ibunya Kuyon binti Abdullah atau Markoyom Nasution.  Sejak awal, Arsyad Thalib tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat tradisi Islamnya.

Sejarah keilmuannya dapat dilacak jauh hingga ke Kerajaan Asahan, Sumatera Utara. Dua tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I, tepatnya tahun 1916 M, Syeikh Abdul Hamid dan teman-temannya mendirikan satu instansi pendidikan Islam yang diberi nama Madrasah al-‘Ulum al-‘Arabiyah. Berikutnya, Madrasah ini menjadi instansi pendidikan ternama di Asahan, bahkan di Sumatera Utara, disamping ada Madrasah Islam Stabat-Langkat, Madrasah Islam Binjai, dan Madrasah al-Hasaniyah di Medan.

Karena keilmuannya yang mendalam, Arsyad Thalib Lubis digelar “Syeikh”. Ia sering dipanggil Syeikh Muhammad Arsyad Thalib Lubis. Ulama yang satu ini memang mumpuni dalam pelbagai cabang ilmu-ilmu Islam, seperti: Tawhid (Aqidah), Fiqh, Ushul Fiqh, Hadits, Sejarah, dan Kristologi. Tapi, keahliannya di bidang Kristologi lebih melambungkan namanya sebagai “kristolog besar” dari Sumatera.

Dalam bidang Aqidah, Syekh Arsyad dikenal sebagai sosok pengajar Tawhid yang mumpuni di UNIVA (Universitas Al-Washliyah), Sumatera Utara. Dalam bidang hadits, ia menulis buku Musthalah Hadits dan mengajarkan al-kutub al-sittah. Dan dalam bidang sejarah, ia menulis buku Sirah Nabawiyah. Meskipun seluruh cabang ilmu tersebut dipelajari secara tradisional (nyantri, mondok), di wilayah Sumatera Utara. Pada periode 1917-1930, ia pernah berguru kepada Syeikh Hasan Maksum di Medan untuk memperdalam ilmu: Tafsir, Hadits, Fiqh, dan Ushul Fiqh.

Kharismatik

Bukan hanya keilmuannya yang luas, Arsyad Thalib Lubis, hingga hari ini, juga dikenal sebagai sosok “kristolog” yang kharismatik. Penguasaannya terhadap sejarah dan doktrin agama-agama, khususnya Yahudi dan Kristen, sangat mendalam. Keahliannya di bidang kristologi dijadikan sebagai “alat” dakwah yang amat efektif di Tanah Batak. Buku pertama yang ditulisnya berjudul Rahasia Bible (1926), ketika ia masih berusia 26 tahun. Buku ini kemudian dicetak ulang pada tahun 1934. Buku ini pun menjadi rujukan penting bagi para da’i ormas Al-Washliyah saat menyebarkan agama Islam di Porsea, Tapanuli Utara.

Tapi, perlu dicatat, kristologi yang dijadikan alat dakwah oleh Arsyad Thalib Lubis merupakan respon terhadap gerakan zending Kristen yang masuk ke Sumatera Utara. Sebagaimana yang ditulis oleh Arifinsyah, Mardhiah Abbasm, Zulkarnaen, dan Sakti Sinaga dalam M. Arsyad Thalib Lubis (1908-1972) dan Penetrasi Misi Kristen di Sumatera Utara.

Zending Kristen yang masuk ke Sumatera Utara berusaha untuk menyebarkan Injil di kalangan masyarakat Batak. Inilah buah motivasi Sir Thomas Stamford Reffles, wakil kerajaan Inggris di Sumatera. Kemudian pada 1840, seorang antroplog, Frans W. Junghum (1804-1864) dari Jerman diutus oleh pemerintah Belanda untuk membuat kajian dan penyelidikan di Tanah Batak. Hasil penelitiannya berjudul Keadaan Tanah Batak menarik missionaris Van Der Tuuk untuk mengkristenkan orang Batak pada tahun 1848. Dan puncak gerakan kristenisasi di Tanah Batak adalah dengan hadirnya pendeta Ludwig I Nommensen (l. 6 Februari 1834). Ia meninggal di Sigumpar, dekat Balige, Sumatera Utara, tanggal 23 Mei 1918.

Masih menurut Arifinsyah dan kawan-kawannya, karena kepiawaian Nommensen dalam mengkristenkan orang-orang Batak, dia mendapat julukan “Rasul Orang Batak”. Kejayaannya menanamkan agama Kristen, mulai dari lembah Silindung hingga ke Ujung Utara Keresidenan Tapanuli telah mendapat pengargaan Doctor Hononoricausa (HC) dalam teologi dari Belanda tahun 1881, Doctor teologi dari Universitas Bonn (Jerman) tahun 1904, dan diberi gelar pengawas (Ephorus) oleh RMG (Rhijuse Mission Gelseschaft).

Saat Nommensen meninggal pada 23 Mei 1918, gereja telah membaptis lebih 180.000 orang Batak. Sekolah-sekolah berjumlah 510 buah dan mempunyai 32.700 orang murid yang terdaftar. Gereja telah dipimpin oleh 34 orang pendeta Batak dan dibantu oleh 788 orang guru Injil dan 2.200 orang Sintua (ketua gereja kampung).

Maka,  sangat mafhum, jika kemudian Arsyad Thalib Lubis mengambil pelajaran dari sejarah kristenisasi di atas dan mencoba mendakwahkan Islam: agar kembali ke Tanah Batak. Dia kemudian keluar-masuk kampung yang ada di Tanah Batak dan Tanah Karo untuk berdialog dan berdiskusi tentang kristianitas. Tidak sedikit penduduk kemudian memeluk Islam. Dalam kegiatan dakwah,ulama ini aktif dalam Zending (mubaligh) Islam Indonesia. Puluhan ribu orang dari Tanah Batak dan Karo masuk Islam di tangannya. Bahkan,menjelang akhir hayatnya ia telah mengislamkan tidak kurang dari dua ratus orang di Kabupaten Deli Serdang. Sesuai dengan kondisi masanya Diantara dialog yang pernah dilakoninya adalah: dengan pendeta Rivai Burhanuddin (Pendeta Kristen Advent), Van Den Hurk (Kepalar Gereja Katolik Sumatera Utara), dan Dr. Sri Hardono (tokoh Kristen Katolik).

Selain dialog dan diskusi seputar kristianitas, Syeikh Arsyad juga menulis beberapa karya mengenai Kristen, diantaranya: Rahasia Bible, Keesaan Tuhan Menurut Kristen dan Islam, Perbandingan Agama Islam dan Kristen, dan Berdialog dengan Kristen Adventis. Dalam buku-buku ini, Syeikh Arsyad menjelaskan hakikat agama Kristen dan doktrin-doktrinnya.

Dalam perjuangan kemerdekaan,ia turut andil sesuai dengan bidangnya. Untuk membangkitkan semangat jihad melawan penjajah,ia menulis buku Tuntunan Perang Sabil. Karena perjuangannya,pada 29 Maret 1949 pendiri Al Washliyah ini ditangkap pihak Negara Sumatera Timur (NST) yang bertindak sebagai perpanjangan tangan Belanda. Tuan Arsyad ditahan sebagai tawanan politik di penjara Sukamulia,Medan,sampai 23 Desember 1949. Ketika dalam tahanan,isterinya meninggal dunia.

Beliau di masa hidupnya juga pernah terlibat dalam dunia politik Indonesia dengan menjadi pengurus di Majelis Syuro Muslimin (Masyumi). Muhammad Arsyad Thalib Lubis pernah pula menjadi Kepala Kantor Urusan Agama se- Sumatera Timur,(sekarang Kakanwil Depag) bahkan beliau merupakan perwakilan pertama. Ulama Al Washliyah ini pernah menjadi delegasi Indonesia berkunjung ke negeri Unisoviet (Rusia sekarang) bersama beberapa ulama-ulama Indonesia lainnya.

Sebagai tokoh Al Jam’iyatul Washliyah,dalam fikih ia menganut mazhab Syafi’i. Namun demikian ia bersikap terbuka dan hormat terhadap paham lain. Menurutnya kebebasan mengemukakan paham dan pendapat perlu mendapat tempat dalam masyarakat karena sangat penting artinya bagai kemajuan pengetahuan di kalangan umat Islam. Kedudukan hukum fikih,menurutnya,pada umumnya berkisar di sekitar masalah zanni (tidak jelas dan tegas) yang kekuatannya berdasarkan “kuat sangka belaka”. Tidak “yakini” (dengan yakin) karena dapat digugurkan dengan ijtihad. Adapun ijtihad tidak dapat digugurkan dengan ijtihad karena sama kekuatannya.

Banyak ilmuwan di Indonesia dan Malaysia mengakui keunggulan karya monumental Perbandingan Agama Islam dan Kristen (Medan, 1969). Buku setebal 478 ini diterbitkan kembali oleh penerbit Firman “Islamiyah”, (Medan: 1403 H/1983 M). Di Malaysia, buku ini terakhir kali dicetak tahun 1982.  Pakar perbandingan agama dari Universitas Islam Internasional Malaysia, Dr. Kamaroniah Kamaruzzaman, memuji kualitas karya Syeikh Arsyad tersebut.
Di buku inilah dibandingkan beberapa ajaran penting yang ada dalam Islam dan Kristen, seperti: pokok ajaran Islam-Kristen, dosa warisan, penebusan dosa, ketuhanan Yesus, kitab-kitab suci: Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an, dan nubuwat Nabi Muhammad dalam Bible. Intinya, Arsyad Thalib Lubis banyak mengkaji secara kritis dogma-dogma Kristen lewat kacamata tulisan sarjana Kristen, Islam, dan rasio.

Dakwah Arsyad Thalib Lubis melalui kristologi sangat terasa hasilnya. Kehadirannya disenangi oleh masyarakat Batak (Porsea) dan Tanah Karo. Karyanya “Pedoman Gndek” (Pedoman Singkat) yang diterjemahkan oleh Terang Ginting dan “Pokok-pokok Ajaran Islam” merupakan karyanya yang disebarkan ke tengah-tengah masyarakat. Akhirnya, beberapa masyarakat di daerah yang masih menganut animisme seperti Kecamatan Tiga Binanga dan Kutalimbaru banyak yang menganut Islam. Hingga hari ini, Islam di Tiga Binanga dan daerah lainnya seperti Tiga Beringin, Pancur Jawi (semuanya berada dalam Kecamatan Tiga Binanga) Islamnya dikenal kuat.

Setelah sekian lama mengemban misi dakwah Islam, Arsyad Thalib Lubis menghadap Allah pada 25 Jumadil Awwal 1392 H/6 Juli 1972 M. Kini, bumi Sumatera Utara menunggu penerus jejak kristolog kharismatis yang tak kenal lelah dalam menggali ilmu dan berdakwah ini. (***)

sumber :

http://www.insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=201:arsyad-thalib-lubis-kristolog-batak-kharismatis-&catid=25:kristolog&Itemid=25