Daily Archives: November 14, 2010

Keindahan Pulau Socotra dari Yaman Tidak Tertandingi


 

File:Socotra Island.PNG
No higher resolution available.

Duaratus limapuluh mil dari lepas pantai Yaman, terdapat Pulau Socotra. Kita dapat menemukan Pulau Socotra pada koordinat 12°28’19.37″N 53°25’2.38″E. Pulau Socotra merupakan anggota terbesar dari empat pulau elipsis dari Tanduk Afrika sampai ke Teluk Eden. Pulau ini campuran dari massifs granit kuno, tebing batu kapur dan batu pasir merah dataran tinggi dan memiliki iklim koppen yang berarti padang pasir kering dengan suhu tahunan rata-rata di atas 18° C dan curah hujan tahunan yang ringan.
Isolasi geologis yang panjang di Pulau Socotra membuat endemik flora dan fauna menjadi unik dan spektakuler. Survei telah membuktikan bahwa lebih dari sepertiga dari 800 spesies tanaman yang ada di Pulau Socotra tidak dijumpai di daerah lain. Hal ini menegaskan pulau ini adalah situs penting global untuk konservasi keanekaragaman hayati. 

Salah satu yang menjadi ciri khas dari Pulau Socotra adalah Pohon Darah Naga (Dracaena cinnabari), merupakan pohon aneh yang berbentuk menyerupai payung. Pohon ini memiliki getah merah seperti darah naga. Penduduk disini memanfaatkan getah darah naga sebagai obat. Selain itu digunakan sebagai cat dan pernis. Flora endemik lainnya yaitu Dorstenia, Dendrosicyos (mentimun) dan Punica protopunica (delima).

Pulau Socotra juga memiliki fauna Aves endemik diantaranya Socotra Starling Onychognathus frater, Socotra Sunbird Nectarinia balfouri, Socotra Sparrow Passer insularis, dan Grosbek Socotra Rhynchostruthus socotranus. Kelelawar menjadi hewan mamalia endemik di gua-gua Pulau Socotra, demikian halnya dengan terumbu karang yang ada d sekitar pulau.

Melihat kenaekaragaman hayati dan nabati yang begitu unik dari pulau ini, UNESCO mengakui Pulau Socotra sebagai situs warisan alam dunia pada bulan juli 2008. Oleh sebab itu berbagai peraturanpun dibuat dari mulai batasan pembangunan rumah, pembangunan hotel untuk wisata, pembangunan saluran pembuangan, flora fauna impor, sampai kepada batasan pertumbuhan jumlah penduduk. Hal tersebut semata-mata untuk melindungi Pulau Unik tersebut dari kemungkinan-kemungkinan kerusakan yang diciptakan oleh manusia.

Socotra Yaman adalah sebuah kepulauan kecil terdiri dari empat pulau dan pulau di Samudera Hindia di lepas pantai Tanduk Afrika, sekitar 350 kilometer selatan semenanjung Arab. Socotra adalah salah satu bentang alam yang paling terpencil di bumi asal benua. Kepulauan ini memiliki dataran pantai sempit ini, sebuah dataran tinggi batu kapur dengan gua, dan gunung-gunung yang meningkat menjadi 1.525 meter di atas permukaan laut.

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Seperti Kepulauan Galapagos, pulau ini dipenuhi dengan 700 spesies yang sangat langka flora dan fauna,penuh 1/3 dari yang endemik, yaitu ditemukan di tempat lain di Bumi.

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra adalah rumah bagi lebih dari 800 spesies tumbuhan, beberapa 240 dari yang endemik pulau, dan ada jenis tumbuhan tentu banyak lagi yang belum ditemukan. Iklim yang keras, panas dan kering, namun – tanaman hidup yang paling menakjubkan tumbuh subur di sana.

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

A Dragon’s Blood Tree (Dracaena cinnabari) dilihat di depan pegunungan Skund di pulau Socotra, Yaman. Pohon itu dinamakan demikian karena setiap cedera pada hasil kulit dalam mengeluarkan cairan yang dalam merah dari bekas luka – dibandingkan di masa lalu dengan “Darah Naga”.

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Cabang-cabang pohon menyebar ke langit dan dari bawah tampak hover atas pemandangan seperti piring terbang begitu banyak … dan dari atas mereka melihat jamur yang berbeda.

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Ada juga Desert Rose (adenium obesium) yang terlihat seperti tidak begitu banyak seperti kaki gajah mekar.

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Sebuah Socotran Gambar Pohon (Dorstenia gigas) dengan batang bengkak bizare yang hampir memiliki proporsi manusia tumbuh terhadap wajah batu kapur di pulau Socotra. Tanaman tersebut merupakan salah satu dari lebih dari 300 spesies tanaman endemik pulau.

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Socotra Island is The Most Bizzare Place on Earth

Kaitan Teori Darwin, Nabi Adam a.s dan Piramid Giza


Teori Darwin memang menyesatkan, bagaimana mungkin, Homo Erectus yang selama 1.000.000 tahun (1,5 juta SM – 500.000SM), tidak mengalami perubahan yang berarti. Akan Tetapi hanya dalam tempo 200.000 tahun, mengalami perubahan yang drastis, menjadi Manusia/Homo Sapiens (500.000SM – 300.000SM)?.

Perlu dipahami bahwa, Homo Erectus adalah mamalia yang telah punah 500.000 tahun yang lalu. Jenis ini memiliki kemampuan berbudaya yang sangat terbatas, selama 1.000.000 tahun.

Adam dan Bakkah

Adam dan Hawa, yang diyakini sebagai leluhur umat manusia, kemunculannya telah ada sebelum 200.000 tahun yang lalu. Komunitas manusia pertama, bermula di Bakkah (QS.3:96), dimana mula-mula tempat peribadatan didirikan.

Bakkah (Mekah), yang disebut juga sebagai Ummul Qura/Ibu Negeri (QS.42:7), sesungguhnya adalah kampung halaman, bagi seluruh umat manusia sedunia.

Teori Out Of Africa, menyatakan bahwa Homo Sapiens berasal dan berevolusi di Afrika. Teori ini didukung oleh penemuan Homo Sapiens tertua, yang berusia 195.000 tahun, di dekat Sungai Omo, Ethiopia (Afrika Timur). Teori Out Of Africa, tidak sepenuhnya benar, karena manusia-manusia di Afrika, sesungguhnya berasal dari Bakkah, yang lokasinya tidak seberapa jauh dari Ethiopia (Afrika Timur).


Nabi Adam Muncul Sesudah 6.000 SM?

Adanya pendapat yang menyatakan, kemunculan Nabi Adam pada sekitar tahun 4.004SM (pendapat Uskup Irlandia, James Ussher, yang didasarkan kepada keterangan dari Bible) dan 5.411SM (pendapat seorang Ahli Sejarah Yahudi, Josephus), jelas sangat bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah.

Berdasarkan fakta sejarah, di India pada 6.000SM – 7.000SM, sudah ada Peradaban Lembah Sungai Indus. Di Iran pada 7.000SM, manusia telah mengenal almunium. Di Cina pada 7.000SM, manusia sudah mengenal bercocok tanam. Dan di Indonesia, tahun 6.000SM, Barus telah didiami manusia.

Nabi Adam Manusia Berbudaya

Nabi Adam adalah Manusia Super Genius. Karena beliau berhasil mempresentasikan keadaan Alam Semesta dihadapan ALLAH. Kecerdasannya telah membuat para malaikat terkagum-kagum, dan sujud. memuji kebesaranNYA (QS.2:30-34).

Nabi Adam dan masyarakat di Bakkah adalah manusia yang berbudaya, mereka telah mengenal pakaian dan berkomunikasi dengan bahasa yang santun. Hal ini sangat jauh dari gambaran, bahwa Nabi Adam adalah manusia primitif, yang berpakaian sekedarnya dan hanya mengenal kapak batu, sebagai alat bantu.

Penjelasan Tentang Keberadaan Ras ‘Raksasa’

Biologist Dr. Shomi Lesser dari Hebrew University mengkalkulasikan. Apabila manusia berasal dari satu leluhur, maka leluhur manusia itu tingginya mesti 90 kaki, karena manusia mengalami penyusutan badan atau genetic bottleneck.

Kalkulasi Dr. Shlomi, bersesuaian dengan isyarat dari Rasulullah 1.400 tahun yang silam, “Nabi Adam memiliki tinggi 60 Hasta” (Hadits Bukhari Vol.IV No.543).
Dimana 60 Hasta = 90 Kaki = 30 Meter.

Penyusutan badan manusia atau genetic bottleneck, kemungkinan telah terjadi pada generasi awal Bani Adam. Dimana ada yang menurunkan ras normal, seperti manusia saat ini, tetapi ada juga yang menurunkan ras ‘raksasa’. Penyusutan badan selain dipengaruhi faktor waktu dan turunan, juga dipengaruhi faktor iklim dan makanan.

Hasil karya manusia-manusia, yang memiliki fisik dan bertubuh ‘raksasa’, bisa dilihat pada Piramid Giza di Mesir (yang tersusun dari 2.3 juta batu, dengan berat setiap batu 2.5 ton) dan Kastil Sacsahuaman di Mexico (yang tersusun dari bebatuan, dengan berat antara 100 ton sampai 360 ton). Perlu dipahami, Piramid Giza dibangun, jauh sebelum munculnya Peradaban Sumeria (sekitar 4.000SM) dan bencana masa Nabi Nuh (sekitar 13.000 tahun lalu atau 11.000SM). Para Fir’aun Mesir Kuno, hanya menemukan Piramid Purba dan menjadikannya sebagai Pemakaman.

Temuan Arkeologi manusia ‘raksasa’ ini, juga telah berhasil ditemukan di Suriah, Arab Saudi, Texas USA, Thailand dan di beberapa tempat lainnya. Namun untuk menanggapi temuan tersebut, perlu kehati-hatian, karena sebagian ada yang direkayasa, untuk kepentingan pribadi.