Masjid tak Tersentuh Tsunami, 50 Orang Selamat Menelusuri Dusun Pasa Puat, Kampung yang Hilang

Ustadz Kairuddin Nasution, IMAM MASJID MUJAHIDIN DUSUN PASAPUAT, DESA SIMANGANYAK, KECAMATAN PAGAI UTARA, KEPULAUAN MENTAWAI.

Warga asli Mentawai di Mesjid yang selamat dari tsunami


PAGI ITU, sekitar pukul 10.00 WIB, langit Sikakap tampak mendung. Di luar rumah tanah tampak lanyah. Pepohonan dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan deras sepanjang malam. Sebentar lagi, sepertinya hujan deras bakal turun. Ya, membasuh duka Bumi Sikerei.

 

Di luar rumah, bau mayat menyengat. Aroma tak sedap menebar ditiup angin. Memang, hingga Jumat (29/10), mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiran saya langsung terbayang ratusan warga Pagai Selatan yang bertahan di perbukitan, dalam kondisi hujan badai. Selain menahan lapar, dinginnya malam, mereka harus melawan penyakit yang kini menyerang.

Ternyata benar. Hujan deras mengguyur Sikakap. Tak hanya hujan, tapi juga badai. Di posko utama, para jurnalis dan relawan telah berkumpul. Seperti biasa, setiap pagi kami siap-siap menyisir desa terpencil yang belum terjamah bantuan. Pagi itu, tim relawan dan jurnalis hendak menuju Dusun Pasa Puat di Pagai Utara. Dusun itu, semua rumah hancur. Mujur, tidak ada korban jiwa.

Perjalanan menggunakan kapal kayu atau long boat. Kapal itu mampu memuat 12 orang dan sedikit logistik untuk pengungsi. Berapa menit berlayar, gelombang dua meter menghadang. Pelayaran pun dihentikan. Setelah menunggu sekitar satu jam, boat yang dinakhodai Dayat itu dilanjutkan selama dua jam pelayaran. Sepanjang perjalanan, boat nyaris karam karena dipenuhi air. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantai, Dusun Pasa Puat sunyi senyap. Sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti sebuah kampung. Permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak satu pun rumah warga yang berdiri. Semua tiarap. Hanya ada satu bangunan berdiri kokoh menghadap pantai. Ya, sebuah masjid. Garin masjid itu juga selamat. Zulfikar namanya.

Hari beranjak senja. Hujan belum juga reda. Zulfkar tampak bersiap menunaikan Shalat Maghrib. Dalam obrolannya, pria berusia 40 tahun itu mengaku telah tingal di dusun itu sejak kecil. Sama dengan usia masjid itu yang berdiri sekitar tahun 1960 silam. “Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki,” ujar Zulfikar.

Zulfikar menceritakan, masjid ini sama sekali tidak tersentuh tsunami pada malam itu. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pantai. Sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid, rata dengan tanah. Masjid inilah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat gelombang besar datang.

Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. Di luar masjid, Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan meter. “Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan,” jelas pria berjenggot itu.

Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang menduga, tsunami menghindar dari masjid. “Sepertinya, di masjid air terbelah, sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali,” kenangnya

Tsunami di Mentawai

Sumber : Padang Ekspres

————–

Dibawah ini foto-foto sebuah Masjid yang juga selamat saat diterjang ‘tsunami’ Situ Gintung, saat bendungan itu jebol. Mesjid itu tenggelam disapu air bah, tapi tetap tegar berdiri, sementara rumah disekitarnya lenyap. Bahkan, speaker masjid yang selalu mengumandangkan azan sholat itu, juga tak bergeming dari tempatnya.



Peristiwa ini juga mengingatkan kita pada bencana tsunami Aceh yang menyapu rata semua bangunan di kota Meulaboh, kecuali sebuah masjid yang masih berdiri kokoh sebagai wujud kebesaran Allah Ta’ala semata.

Sebuah mesjid tetap berdiri setelah terjadinya gempa bumi di Turki. Semua bangunan disampingnya banyak yang hancur akibat bencana alam yang terjadi di sebelah barat Turki kota Golcuk, 60 mil dari Istanbul pada 9 Agustus 1999. Sungguh, Allah telah menyelamatkan masjid-Nya dari bencana alam.

Keajaiban seperti itu juga dapat kita saksikan ketika bencana Tsunami 26 Desember 2004 yang melanda Aceh beberapa waktu lalu.

mesjid ulee lheueMesjid yang masih berdiri tegak di Aceh. Sumber foto Google 

Ketika semua bangunan rata dengan tanah, secara mengejutkan sebuah bangunan mesjid berukuran kecil masih tegak berdiri kokoh di wilayah Meulaboh. Secara logika, kejadian ini sungguh di luar akal.

Bencana yang menelan korban hampir 200.000 jiwa di beberapa negara ini ternyata tidak berperangaruh pada sebuah mesjid kecil.

Subhanallah, Maha Suci Allah. Mungkin Dia mengingatkan agar kita kembali beribadah kepada-Nya saja!

7 responses to “Masjid tak Tersentuh Tsunami, 50 Orang Selamat Menelusuri Dusun Pasa Puat, Kampung yang Hilang

  1. Allah ingin mengatakan” Inilah Aq” kata Allah

  2. allah yang punya alam ! allah yang punya semuanya ! maha puji allah !

  3. subhanallah.. Maha suci Allah..
    Allahhu_akbar3X Allah Maha Agung…

  4. somoga ini mmbuka mata hati kita. dan senntiasa mnjadi penmbah rasa keimann kita atas ALLAH.

  5. Allahu Akbar! Subhanallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s