HAJI ABDUL HALIM PARDEDE

lOBE TINGGI PARDEDE adalah nama setelah beliau menjadi seorang muslim. Sebelumnya dia bernama Avinas Pardede. Setelah Bapaknya yang bernama Andareas Pardede dan abangnya yang berna Johanes Pardede meninggal dalam agama Kristen, beliaupun berangkat menuntut ilmu ke Padang Sidempuan selama tiga tahun, dan materi yang ditimbanya selama dalam menuntut ilmu adalah ilmu Tauhid dan beberapa ilmu Fiqih yang menunjang ketauhitan bagi mualap-mualap, dan harus diakui ilmu ketahutin atau dengan kata lain keimanan mereka sangat teruji, Sebesar apapun faktor-faktor menggoda mereka diwilayah yang mayoritas ber agama Keristen, mereka hampir boleh dikatakan tidak terpengaruh, dan sikap mereka terhadap norma-norma tradisi/adat Batakpun tetap dijaga dan dipelihara mereka. Prinsip Dalihan Na Tolu adalah hal yang tidak mengganggu akidah mereka.
Setelah beberapa lama bermukim di Balige dan beliau mengislamkan Ibunya (boru Siahaan/lumban gorat), dan adik perempuannya yang bernama si Boru tona yang kawin dengan marga Tampu bolon, kemudian keluarga isterinya bermarga Hutagaol/mejan.

Sekitar tahun 1916 Penganut agama Islam sudah mencapai 150 rumah tangga di balige dan sekitarnya ( Mejan, SiMarmar. Parsuratan, Hinalang, Tambunan), maka umat Muslim Balige dan sekitarnya merencanakan membangun satu Mesjid untuk tempat mereka beribadah yang kemudian Lobe Leman Tampubolon mengurus izinnya , Alhamdulillah setelah berjuang dengan gigihnya beliau mendapatkan izin mendirikan mesjid tersebut pada tanggal 2 Januari 1918. Sayang beliau tidak sempat terlibat dalam pembangunan pisik, karena pada tanggal 22 maret 1922 beliau meninggal, semoga Allah SWT menerima amal beliau.
Perjuangan beliau dilanjutkan sahabat-sahabatnya dengan membentuk kepanitiaan pembangunan Mesjid yang dinamakan Komite Mesjid Balige pada tahun 1923, dengan susunan kepengurusan sebagai berikut: Haji A. Manap sebagai Presiden, Lobe Tinggi Pardede (Haji Abdul Halim Pardede) sebagai vice Presiden, Haji M.Nawawi Nainggolan sebagai seketaris dan Haji Selamat, Haji Umar sebagai anggota.

Selanjutnya beliau berdakwah didaerah Simalungun tepatnya kota Parapat yang kemudian dia menetap disana, Dengan tekad yang sudah bulat untuk berdakwah beliau menemui Raja Tanah Jawa dan Raja Siantar yang kebetulan beragama Islam, kehadiran beliau diparapat disambut dengan baik, dan bantuan kedua raja tersebut tidak sedikit, dengan berjalan kaki beliau mulai berdakwah disekitar kota parapat hingga keperkampungan dilereng-lereng gunung, girsang mangundolok dan lain-lainnya). Untuk mendukung perjuangannya beliau dengan anak isterinya membuka kedai nasi islamiah dengan harapan orang yang melintas dikota parapat menuju Medan dari Sumatera Barat dan Tapanuli Selatan yang mayoritas beragama Islam dapat singgah untuk makan/istirahat, keberadaan Restauran tersebut sangat mengembirakan pemilik bus-bus yang membuat mereka dapat istirahat setelah melawati perjalanan yang sangat melelahkan. Atas saran pengusaha bis dan para penompang agar ada tempat ibadah yang mudah dijangkau.
Mesjid kota Parapat
Tahun 1929 Lobe Tinggi Pardede, membeli sebidang tabah di sekitar wisma Danau Toba (sekarang) , yang rencana nya untuk pertapakan pembangunan Mesjid, namun rencana beliau mendapat tantangan dari pihak Belanda, hingga beliau sampai 3 (tiga) kali dipanggil dan di interogasi oleh Belanda, yang akhirnya beliau dapat mengyakinkan pihak Belandan yang akhirnya beliau mendirikan sebuah musolah dilahan yang dibelinya tersebut.
Pada tahun 1940 Belanda kembali mengusik dan mencari alasan agar Lobe Tinggi Pardede jangan samapai membangun Mesjid dengan parmanen, karena berdirinya sebuah Mesjid parmanen sangatlah memungkinkan, karena rencana beliau didukung raja Tanah jawa dan Raja Siantar

Pembakaran Mesjid Terjadi di Sumatera Utara, Luput Dari Perhatian Media Nasional?

Setelah sebelumnya masjid Al – Ikhlas Hubdam I/BB dan masjid At Thayyibah dirobohkan kini menyusul kasus yang amat memilukan  yaitu pembakaran masjid Fiisabilillah di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) pada Jumat 27 Juli lalu. Ketiga masjid tersebut sama-sama terletak di provinsi Sumatra Utara. Kini isu perobohan dan pembakaran masjid semakin membesar bak Bola Salju.

Masjid Dibakar

Bahwa mesjid tertua di wilayah yang ada zaman kolonial dikenal dengan  Toba Holbung itu dibakar, adalah fakta Tapi, sampai saat ini tidak ada  yang bisa memastikan siapa pelaku pembakaran.Hingga saat ini masih terlihat  jelas di lokasi sisa puing-puing bangunan kayu yang terbakar.

Mesjid yang kini memiliki jemaah sekitar 12 kepala  keluarga ini hanya berjarak sepelemparan batu dari pinggir jalan  lintas barat Sumatera, sekitar 4 kilometer di utara kota kecil Porsea. Kota Porsea dibelah Sungai Asahan, satu-satunya outlet Danau Toba nan indah.

Posisinya terpisah dari pemukiman yang ramai dan berada di areal persawahan. Hanya ada satu warung di dekatnya, persis di seberang, di tepi jalan lintas Sumatra. Mesjid tak dialiri arus listrik dan gelap pada malam hari (kemungkinan dibakar sangat besar). Di depannya ada jalan berbatu yang cukup dilalui kenderaan roda  empat menuju perkampungan Silombu  Bagasan, yang tak begitu ramai.

Kejadian itu berlangsung pagi dini hari. mesjid sudah dibakar. “Kami yakin terbakarnya masjid Fiisabilillah tersebut cenderung tindak kejahatan, karenanya Poldasu perlu mengusut tuntas dan menangkap para pelaku pembakaran rumah ibadah itu”, kata Ketua Umum DPP PBI Prof DR H Abdul Muin Sibuea, MPd kepada pers di Medan, Rabu (4/8).

Mesjid Fiisabilillah didirikan Syekh Haji Muhammad Said Sukur Tambun, diperkirakan pada akhir abad 19 sampai awal abad 20.

Syekh dikenal pengikutnya sebagai tokoh yang memiliki ilmu agama yang tinggi, walau tak memiliki pendidikan formal. Dahulu kala, menurut  cerita yang pernah mereka dengar, ia ikut memadamkan api ketika kota Mekkah terbakar. Kala itu, dia sedang berada di Tanah Toba, cukur rambut. Tapi, tiba-tiba dia punya firasat buruk dan “menghilang” secara gaib ke Mekkah. Syekh wafat tahun 1950. Dia dikubur disamping  mesjid bersama beberapa kerabat lain

Pembakaran masjid dan perampasan atas hak-hak  kaum  muslimin  selalu luput dari pemberitaan media, dan orang-orang yang selalu mengklaim diri sebagai pejuang HAM.

Cukup dengan 1 pernyataan saja, islam di Indonesia sudah  sangat  toleransi dan menjaga perdamaian Indonesia buktinya hal ini tidak      dibesar-besarkan, padahal  kalau  mau islam  dapat membuat  hal ini menjadi lebih heboh  daripada penusukan HKBP.

Sayangnya karena terlalu toleransi sehingga islam sendiri justru yang mudah dijatuhkan oleh pihak lain. Lihat saja sekarang  pada  menyudut kan islamkan dalam penusukan HKBP  padahal  pelakunya belum jelas dan pembakaran masjid ini lebih  parah  daripada penusukan. Kalau sudah  begini mana yang suka berkoar-koar toleransi, HAM, pancasila dan pluralisme?? bungkam sajakan.

Kasus ini juga menjadi realita bagaimana sang media yang tidak adil, buktinya media mana yang memberitakan dan membesarkan hal ini. Kasus HKBP justru sangat dibesarkan.

Media ternyata memihak kepada minoritas agar terkesan selalu  menjadi yg tertindas. Pemerintah juga gak adil, Presiden turun  tangan dalam penusukan HKBP yg gak jelas siapa pelakunya, padahal saya rasa kasus pembakaran masjid ini lebih parah daripada hanya sekedar penusukan

Mungkin berita ini tidak ramai terdengar, karena media-media nasional seperti tidak tertarik memberitakannya atau peristiwa ini luput dari perhatian mereka?

Sebuah Mesjid yang terletak di wilayah Sumatera  Utara dibakar  habis oleh orang tidak dikenal.  Mesjid Syeikh Ali Martaib yang terletak di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara dibakar pada akhir Juli lalu.

Menurut laporan, mesjid ini telah tiga kali dibakar secara sengaja.  Masjid berusia ratusan tahun tersebut dibakar pertama kali pada tahun 1986, saat itu Mesjid masih bernama Mesjid Fii Sabilillah, dibakar  seluruh karpet dan sajadah yang berada di dalamnya.  Di tahun 2009 kembali terjadi pembakaran, yaitu pembakaran mushaf-mushaf  Al-Qur’an dan buku-buku keagamaan hingga mengenai Mihrab mesjid.  Lalu terakhir pada 27 Juli 2010 lalu, Mesjid ini dibakar sekitar pukul 5.00 pagi ba’da Shubuh oleh orang tak dikenal.

Masjid itu merupakan salah satu masjid tertua di Kecamatan Porsea yang diperkirakan sudah  berusia ratusan tahun dna berdiri di wilayah  mayoritas Nasrani. Saat ini kondisi bangunan masjid tinggal puing-puing dan hanya  sebagian kecil  bagian  dinding terbuat dari papan itu  tersisa.  Dari kondisi lapangan menunjukkan, kasus kebakaran pada masjid

di Porsea itu  cenderung  karena disengaja dan direncanakan, seperti yang dilaporkan waspadamedan.

Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Batak Islam (PBI) mengutuk keras  aksi pembakaran tersebut dan mendesak Polda  Sumatera  Utara  untuk mengusut kasus ini.

“Kami yakin terbakarnya masjid Fiisabilillah tersebut  cenderung  tindak kejahatan, karenanya Poldasu perlu mengusut tuntas dan menangkap para pelaku pembakaran rumah ibadah itu”,  kata Ketua Umum DPP PBI Prof DR H Abdul Muin Sibuea, MPd kepada pers di Medan, Rabu (4/8), seperti yang dilansir waspadamedan.com.

Tragisnya, pasca pembakaran Masjid tersebut belum  ada  pengusutan  serius dari Polres  Tobasa. Maka PBI berharap agar Poldasu  mengambil  alih pengusutan kasus ini.

Berbicara mengenai peristiwa ini, Ustadz Abu Jibriel mengatakan, “Siapa yang memicu permusuhan dan peperangan Islam atau salibis?”

“Perang di ambon, perang di poso mereka lah yang memulai, di bekasi  pada hari pendidikan nasional mereka memulai membuat onar di masjid agung bekasi, kini terjadi lagi di Sumatera.  Karena itu umat Islam harus  segera bangkit menyatukan langkah untuk bersiap menghadapi

peperangan yang mungkin tidak lama lagi akan dicetuskan oleh mereka,” lanjutnya.

Saat ummat Islam beramai-ramai menuntut dibubarkannya kebaktian liar di Bekasi, berbagai kalangan memprotes aksi ummat Islam dan mengata kan melanggar HAM, tapi saat terjadi pembakaran sebuah Masjid, rumah ibadah ummat Muslim, dimana suara kelompok-kelompok tersebut?  Bukankah hal ini juga melanggar HAM?

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Batak Islam (PBI) mengutuk keras  pembakaran masjid Fiisabilillah di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba  Samosir (Tobasa) pada Jumat 27 Juli lalu.

“Kami yakin terbakarnya masjid Fiisabilillah tersebut  cenderung  tindak kejahatan, karenanya  Poldasu perlu mengusut tuntas  dan menangkap para pelaku pembakaran rumah ibadah itu”,  kata Ketua Umum DPP PBI Prof DR H Abdul Muin Sibuea, MPd kepada pers di Medan, Rabu (4/8).

Didampingi Ketua  DPP Persatuan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Batak Islam (P3MBI), Raidir  Sigalingging, SE, unsur pengurus DPP PBI Prof DR Harun Sitompul, MPd,  Drs H Zulfadly  Sirait, Mayjen Simanungkalit, Gusmin Gurning, Jonson Sihaloho dan lainnya, Abdul Muin  Sibuea  mengaku pihak PBI merasa kecewa atas sikap Polres Tobasa yang tidak mengusut kasus  ini secara cepat.

Karenanya, Poldasu didesak agar mengambil alih pengusutan, guna menjaga  kondusivitas   kehidupan beragama di Tobasa. Mencegah agar kasus  serupa tidak terung kembali dan menjaga  agar ummat Islam tidak  terprovokasi.

“PBI sepenuhnya masih berharap kepada Polri  untuk  dapat  menuntas kan kasus ini, karena  dalam konteks negara hukum, atas dasar  apapun  tidak ada alasan pihak manapun melakukan  pembakaran rumah ibadah,”  kata Sibuea yang juga guru besar Unimed.

Terkait itu, kepada ummat Islam di Tobasa, PBI mengimbau agar dapat  menahan diri dan tidak  terprovokasi pihakpihak tertentu yang berpaya  memanfaatkan situasi.  “Percayakan  sepenuhnya pengusutan  kasus  ini kepada aparat Polri, jangan melakukan tindakan anarkis  yang dapat memperkeruh suasana,” ujar Sibuea mengimbau.

* dari berbagai sumber

One response to “HAJI ABDUL HALIM PARDEDE

  1. mari kita satukan kekuatan …. berjuanglah demi Islam sedapat kita bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s