Perbedaan Jenggot Genetik, Ideologis & Komersil

Maraknya aksi terorisme kembali mengusik ketenangan rakyat Indonesia akhir-akhir ini. Hal itu pun semakin diperparah dengan sikap reaktif pemerintah dalam menanggulangi terorisme.

Tak pelak drama penangkapan serta perburuan pun marak mewarnai berbagai media di Indonesia. Sejumlah pihak pun lantas menyeru agar pemerintah tak meniru kebijakan pemerintah Amerika Serikat dalam menangani terorisme. Sebab, sampai kapan pun kekerasan tak akan mampu membungkam kekerasan.

Lantas formulasi seperti apa yang tepat dalam meredam ancaman keamanan yang nyata itu, kecuali dengan metode kekerasan?

Berikut wawancara okezone dengan Ketua I Pengurus Besar Nahdatul Ulama yang membidangi urusan pendidikan dan kebudayan, Masdar Farid Masudi atau yang biasa dipanggil Kang Masdar.

Kang Masdar, bagaimana Anda melihat fenomena terorisme dan penanganannya di Indonesia?

Saya pikir teroris itu kan wujud dari kekerasan primitif yang telanjang. Mencoba menaklukkan orang dengan cara kekerasan. Padahal menaklukkan secara fisik itu sangat dangkal. Umat Islam sudah tak zamannya lagi menggunakan pendekatan primitif seperti itu.

Lantas menurut Anda apakah metode pemerintah dalam memerangi terorisme di Tanah Air sudah tepat?

Saya kira perang dalam pengertian menaklukkan secara fisik sudah kedaluarsa. Itu kan perang pada zaman primitif. Perang pada intinya kan menaklukkan orang. Cara yang paling canggih dan efektif adalah dengan kelembutan dan perilaku yang anggun.

Jadi terorisme tak akan bisa dihilangkan dengan kekerasan?

Anda tak akan bisa menaklukkan orang dengan ancaman fisik dan keangkuhan. Tapi Anda akan sukses dengan kebaikan dan keanggunan. Saya kira harus berubah paradigma dalam menaklukkan orang. Penaklukan yang paling elegan adalah dengan soft war dan itu lebih beradab.

Dalam konteks ini, menurut Anda, apakah pernyataan Pangdam IV Diponegoro Mayjen Haryadi Soetanto yang meminta masyarakat waspada terhadap orang bersurban, bergamis, serta berjenggot itu layak dilontarkan?

Itu bisa dipahami, meski sebetulnya tak boleh digeneralisir ke semua kelompok. Mungkin karena atribut semacam itu (bersurban, berjubah, berjenggot) biasa dipakai kelompok-kelompok radikal, maka-nya akhirnya dilekatkan.

Pernyataan Pak Haryadi bukan tanpa dasar, karena asosiasinya mungkin kepada guru Noordin M Top, yaitu Abu Bakar Ba’asyir dan Pak Sungkar. Itu versi pihak Amerika Serikat.

Sebetulnya bagaimana asal usul jenggot sehingga dijadikan salah satu atribut oleh para penganut Islam radikal?

Jenggot muncul karena dua faktor yaitu karena faktor genetik dan ideologis. Secara ideologis dalam artian bukan sunnah rasul. Melainkan memang sengaja dipanjangkan karena keyakinan bisa digunakan untuk menakut-nakuti orang lain.

Dalam situasi perang dulu, kalau orang berjenggot apalagi jenggot yang tebal seperti milik orang arab itu kan memang serem. Bermanfaat untuk menggertak musuh dan menjadi bagian dari psy war. Tapi kalau jenggot orang Indonesia yang cuma lima biji kan malah bikin ketawa musuh.

One response to “Perbedaan Jenggot Genetik, Ideologis & Komersil

  1. Definitely imagine that which you stated. Your favorite reason appeared to be at the net the easiest
    factor to consider of. I say to you, I certainly get irked while other folks think about worries that they plainly do not
    realize about. You controlled to hit the nail upon the highest as smartly as defined out
    the entire thing with no need side effect , people can
    take a signal. Will probably be again to get more.

    Thank you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s