Tag Archives: KH Ahmad Dahlan;muhammadiyah;sang pencerah;

Sang Pencerah Umat Islam: KH Ahmad Dahlan (1868-1923) Pendiri Muhammadiyah


” K.H. Ahmad Dahlan: Hidup-hidupi Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah “

” K.H. Ahmad Dahlan: Perang terhadap tahayul, bid’ah, khurafat serta membuka lebar-lebar pintu ijtihad “

Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor dan bapak pembaharuan Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, inilah yang mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912. Pahlawan Nasional Indonesia ini wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923.

KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Ia mendirikan Muhammadiyah bukan sebagai organisasi politik tetapi sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan.

Pada saat Ahmad Dahlan melontarkan gagasan pendirian Muhammadiyah, ia mendapat tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan baik dari keluarga dekat maupun dari masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. 1)

Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional didasarkan pada empat pokok penting yakni: Pertama, KH Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.

Kedua, dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam. Ketiga, dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam. Keempat, dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan.

Diasuh di Lingkungan Pesantren
Muhammad Darwisy lahir dari keluarga ulama dan pelopor penyebaran dan pengembangan Islam di tanah air. Ayahnya, KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan ibunya, Nyai Abu Bakar adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Ia anak keempat dari tujuh orang bersaudara, lima saudaranya perempuan dan dua lelaki yakni ia sendiri dan adik bungsunya. Dalam silsilah, ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). 2)Idem

Silsilahnya lengkapnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).

Sejak kecil Muhammad Darwisy diasuh dalam lingkungan pesantren, yang membekalinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun (1883), ia sudah menunaikan ibadah haji, yang kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Ia pun semakin intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu itu sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Darwisy.

Semangat, jiwa dan pemikiran itulah kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits.

Setelah lima tahun belajar di Makkah, pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Darwisy kembali ke kampungnya. Ia pun berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Lalu, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

Pada tahun 1902, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, sekaligus dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah hingga tahun 1904.

Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil. Siti Walidah, kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Pasangan ini mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991).

Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).

Mendirikan Muhammadiyah
Semangat, jiwa dan pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, yang diperolehnya dari Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, ibn Taimiyah dan lain-lain selama belajar Makkah (1883-1888 dan 1902-1904), kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).

Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits.

Dahlan sendiri sadar bahwa semaangat pembaharuannya tidak akan serta-merta dapat dipahami dan diterima keluarga dan masyarakat sekitarnya. Tidak mudah melakukan pemharuan pada suatu sifat ortodoks yang sudah membeku. Maka, entah terkait atau tidak, ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri.

Bunyinya demikian: “Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

Dalam artikel riwayat Ahmad Dahlan di situs resmi Parsyarikatan Muhammadiyah (muhammadiyah.or.id), pesan ini disebut menyiratkan sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah.

Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.

Dijelaskan dalam artikel itu, kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi. Perkumpulan, parsyarikatan dan gerakan dakwah: Muhammadiyah.

Dahlan pun memilih strategi yang amat baik dengan lebih dahulu membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, sekaligus meneruskan cita-citanya memajukan bangsa ini. Apalagi ia berkesempatan mengakselerasi dan memperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah itu dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta. Karena, ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk mengajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.

Tentu saja para calon pamongpraja tersebut dapat diharapkan mengaselerasi dan memperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Begitu pula para calon guru akan segera mempercepat proses transformasi ide tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, kepada murid-muridnya. Guna mengintensifkannya, Dahlan pun mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu’allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu’allimat (Kweekschool Istri Muhammadiyah). Di sekolah ini, Dahlan mengajarkan agama Islam dan menyebarkan cita-cita pembaharuannya.

Dahlan dikenal sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat. Dengan gagasan-gagasan cemerlang dan kegiatan kemasyarakatannya, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat. Termasuk dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Pada tahun 1912, tepatnya tanggal 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam. Ia punya visi untu melakukan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits.

Berbagai tantangan ia hadapi sehubungan dengan gagasan pendirian Muhammadiyah itu. Bahkan ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Kiai palsu. Sampai ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar.

Dahlan teguh pada pendiriannya. Pada tanggal 20 Desember 1912, ia mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Tampaknya, Pemerintah Hindia Belanda ada kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Sehingga izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta
Namun, walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah.

Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jama’ah-jama’ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kan,u wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).

Gagasan pembaharuan Islam, Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkumpulan golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersalahkan menyerang aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap membangun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.

Muhammadiyah juga dituduh hendak mengadakan tafsir Qur’an baru, yang menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang. Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan menjawabnya dengan perkataan, “Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadits. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.

Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum).

Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Sebagai salah seorang keturunan bangsawan yang menduduki jabatan sebagai Khatib Masjid Besar Yogyakarta, ia mempunyai penghasilan cukup tinggi. Ia juga berkecimpung sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik.

Muhammadiyah tak boleh melupakan sejarah, bahwa misi didirikannya Muhammadiyah adalah dalam rangka membendung gerakan Kristenisasi.

Dalam desertasi di Temple University (1995) berjudul The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia, Alwi Shihab mengungkapkan, misi awal pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan adalah dalam rangka membendung arus gencar Kristenisasi yang ditopang oleh kebijakan kolonial pemerintah Belanda. Tiga tahun kemudian desertasi ini diterbitkan oleh penerbit Mizan Bandung dengan judul buku Membendung Arus: Respons Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia.

Fakta-fakta kegigihan Muhammadiyah di era KH Ahmad Dahlan dalam berdakwah kepada para tokoh Kristen dan Katolik diabadikan dalam buku Muhammadiyah Setengah Abad: Makin Lama Makin Tjinta (1912-1962). Pada halaman 145-151 buku dokumenter ini diceritakan aktivitas KH Ahmad Dahlan kepada para pastor, antara lain: van Lith, van Driesse, Domine Bakker, dan Dr Laberton.

Pertemuan dengan van Lith hanya berlangsung sekali, karena tak lama setelah dialog, van Lith meninggal. Dialog dengan van Driesse dilakukan di rumah M Joyo Sumarto (mertua M.M. Joyodiguno). Pertemuan ini pun hanya berlangsung sekali, karena sikap Driesse sangat kasar sehingga tidak bisa diajak berdialog mengenai soal-soal agama maupun ketuhanan.

Pertemuan dengan Domine Bakker diadakan di Jetis beberapa kali. Karena pembicaraan Domine berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya, akhirnya Dahlan mengajukan tantangan: “Marilah kita sama-sama keluar dari agama, kemudian mencari, menyelidiki, agama mana yang benar. Kalau ternyata kemudian agama Protestanlah yang benar, saya bersedia masuk agama Protestan. Akan tetapi sebaliknya, apabila Islam yang benar, Domine pun harus mau pula masuk agama Islam.”

…Dalam beberapa kali debat agama ini, Domine ditemani oleh dua orang pengikut dari Klaten. Atas hidayah Ilahi, dua orang pengikut Domine akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Ahmad Dahlan…

Tapi Domine tidak cukup nyali untuk menerima tantangan debat Dahlan. Dalam beberapa kali dialog ini, Domine ditemani oleh dua orang pengikut dari Klaten. Atas hidayah Ilahi, dua orang pengikut Domine akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Ahmad Dahlan.

Suatu ketika Dahlan mendengar berita bahwa Samuel Zwemmer berkunjung ke Indonesia dan berkhotbah di beberapa gereja, antara lain di Banjarmasin, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta. Isi khotbahnya umumnya banyak sekali yang menghina agama Islam. Maka Dahlan mempersiapkan acara sambutan di Yogyakarta dengan mengadakan dialog openbaar (pengajian umum) di Ngampilan. Dalam rapat umum ini Zwemmer diundang untuk mendengarkan ceramah Dahlan, dan juga diberi kesempatan untuk berorasi menerangkan sekitar agamanya. Selanjutnya, ia diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan dari para hadirin. Karena Zwemmer tak berani datang, maka Dahlan tampil sebagai pembicara tunggal. Berita ini ditangkap oleh Ki Hajar Dewantoro dalam surat kabar Darmo Kondo di Solo dengan komentar “Dr. Zwemmer tidak mampu menghadapi KH Ahmad Dahlan.”

…Pasca Ahmad Dahlan, Muhammadiyah masih mengamalkan prinsip asyidda`u ‘alal kuffar

Pasca Ahmad Dahlan, Muhammadiyah masih mengamalkan prinsip asyidda`u ‘alal kuffar. KH AR Fachruddin, Ketua Muhammadiyah terlama  (1968-1990) menegaskan prinsip kemandirian beramal usaha dan ikhlasnya berjuang. Semasa hidupnya, tokoh karismatik yang akrab dipanggil Pak AR ini memberikan wasiat kepada kader

persyarikatan agar berpantang terhadap dana-dana yang tidak berkah. Di antara dana yang dilarang adalah dana judi, dana dari negara asing, Kristen dan komunis. Pak AR berpesan:

“Janganlah Cabang Muhammadiyah mendirikan bangunan-bangunan hanya mengharapkan bantuan Pemerintah. Lebih-lebih lagi mengharapkan bantuan uang keuntungan lotre dari Yayasan Dana Bantuan. Dan lebih tidak pantas lagi kalau mengharapkan bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis. Uang-uang yang demikian tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik.

Dari itu gembirakanlah anggota-anggota Muhammadiyah agar suka beramal, suka berderma, suka beramal jariyah suka berwakaf. Insya Allah Cabang di tempat Saudara akan diberi berkah langsung oleh Allah SWT” (Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah, UMM Press, Malang, hlm. 141).

Seharusnya, para warga persyarikatan belajar militansi kepada para pendahulunya. Tapi sayangnya, prinsip istiqamah, kemandirian dan kewibawaan agar tidak meminta-minta dana kepada pihak asing dan non Muslim itu dilanggar beberapa oknum di tubuh persyarikatan. Beberapa ortom Muhammadiyah pernah menjadi saudara sepersusuan dengan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL), mendapat dana kepada The Asia  Foundation, antara lain: Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah, Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3-UMY), Lembaga Penelitian Universitas Muham­madiyah Surakarta (UMS), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh, Pemuda Muhammadiyah (PM) Aceh, dll.

…KH AR Fachruddin berwasiat, “bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis itu tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik…

Padahal KH AR Fachruddin berwasiat, “bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis itu tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik.”

KH Ahmad Dahlan Seorang Reformis

Semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad”, itulah ajaran utama dari K.H.Ahmad Dahlan.

Ajaran ini terus dipegang oleh anggota Muhammadiyah sampai sekarang. Ini juga reformasi yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan terhadap ajaran agama yang berlangsung saat itu di Jawa. Oleh karena itulah Ahmad Dahlan mengatakan ziarah kubur dan meminta kepada kuburan dilarang.

Ahmad Dahlan juga melarang penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak (bid’ah) tapi pihak keraton tetap saja melakukan. Ahmad Dahlan juga hendak membetulkan arah kiblat di Masjid Keraton tapi pihak keraton menolak.

Ahmad Dahlan lalu berhenti dari pekerjaannya sebagai ‘ketib’ (khatib) keraton. Dahlan juga mereformasi sistem pendidikan pesantren yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya karena mengutamakan menghafal serta tidak merespons ilmu pengetahuan umum, Dahlan juga memurnikan agama Islam dari percampurannya dengan agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen.

Karena gerakan reformasinya Ahmad Dahlan juga sering diteror seperti diancam dibunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang. Tapi Ahmad Dahlan Maju terus pantang mundur, ia merasa beginilah resiko pejuang reformasi atau dalam bahasa Arabnya disebut Mushlih (dari akar katanya Ishlah) atau pembaharu ajaran agama yang dalam bahasa Arabnya disebut Mujaddid.

Sebenarnya siapakah Ahmad Dahlan yang pemberani dan keras kepala dalam menegakkan kebenaran ini?

Ahmad Dahlan dilahirkan di daerah Kauman kota Yogyakarta dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1869, sumber lain mengatakan tahun 1868. Memang kelahiran Ahmad Dahlan agak gelap tanggal pastinyapun tidak terlacak. Okelah kita tidak mempermasalahkan kelahirannya melainkan karyanya. Organisasi yang dia dirikan yaitu Muhammadiyah sekarang menjadi maju dan menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia dari segi anggotanya.

Ahmad Dahlan adalah anak seorang kyai tradisional yaitu K.H. Abu Bakar bin Kyai Sulaiman, seorang khatib di Masjid Sultan di kota itu. Ibunya Siti Aminah adalah anak Haji Ibrahim, seorang penghulu. Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari tujuh bersaudara.

Sebagaimana anak seorang kyai pada masa itu pemuda Darwis juga menimba ilmu ke banyak kyai. Ia belajar ilmu fikih kepada KH Muhammad Shaleh, ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa) kepada KH Muhsin, ilmu falak (astronomi) kepada KH Raden Dahlan, ilmu hadis kepada kyai Mahfud dan Syekh KH Ayyat, ilmu Al Qur-an kepada Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock, dan ilmu pengobatan dan racun binatang kepada Syekh Hasan.

Ia juga pernah sekamar dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) ketika beguru kepada KH Sholeh Darat di Semarang. Berarti juga Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan RA Kartini satu guru satu ilmu yaitu KH Sholeh Darat. Berarti gerakan Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama dan Gerakan Feminis berasal dari satu guru.

Sebagaimana gerakan Islam, Nasionalis, dan Komunis berasal dari satu guru yaitu HOS Tjokroaminoto. Ketika berumur 21 tahun (1890), KH Ahmad Dahlan pergi ke tanah suci Mekkah untuk naik haji dan menuntut ilmu di sana. Ia belajar selama setahun. Salah seorang gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

Dahlan satu guru satu ilmu lagi dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Ia juga satu guru dengan Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. Kedua orang ini adalah pendiri gerakan “Kaoem Moeda” di Sumatra Barat. Haji Agus Salim juga berguru pada Syekh Ahmad Khatib. Agus Salim nantinya menjadi wakil ketua Sarekat Islam dan Pembina Jong Islamieten Bond. Jadi seluruh gerakan Islam di Indonesia yang menjadi mainstream sumbernya satu yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi yang menjadi Imam Masjidil Haram di Mekkah.

Dari Ahmad Khatib inilah Dahlan berkenalan dengan pemikiran trio pembaharu dan Reformis Islam dari Timur Tengah yaitu Sayid Jamaluddin Al Afghani, Syekh Muhammad Abduh, dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha.

Akhirnya Dahlan membawa gerakan Reformasi ini ke Indonesia. Dahlan mulai mengintrodusir cita-cita reformasinya itu mulanya dengan mencoba mengubah arah kiblat di Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang sebenarnya yaitu Barat Laut (sebelumnya ke Barat). Dahlan juga memperbaiki kondisi higienis di daerah Kauman bersama kawan-kawannya.

Perubahan-perubahan ini, walaupun bagi kita sekarang sangat kecil artinya, memperlihatkan kesadaran Dahlan tentang perlunya membuang kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan yang menurut pendapatnya memang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Jadi ia ingin membersihkan Islam dan umat Islam baik secara fisik (dengan membuat higienis kampungnya) maupun mental spiritual (dengan memberantas tradisi yang bercampur dengan ajaran Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, dan kebatinan).

Ahmad Dahlan berhasil membangun mushala yang tepat mengarah ke kiblat. Tapi ia gagal dalam mengubah posisi kiblat di masjid Sultan di Yogyakarta. Ia kecewa dan ingin meninggalkan kota kelahirannya tersebut. Tetapi salah seorang keluarganya menghalangi maksudnya itu dengan membangun sebuah langgar (mushala) yang lain, dengan jaminan bahwa ia dapat mengajarkan dan mempraktekkan ajaran agama dan keyakinannya berdasarkan interpretasinya di sana.

Dalam tahun 1909, ia masuk Boedi Oetomo dengan maksud mengajarkan agama kepada para anggotanya. Pelajaran-pelajaran yang diberikan Dahlan kelihatannya memenuhi harapan dan keperluan anggota-anggota Boedi Oetomo tadi. Sebagai bukti, mereka menyarankan agar Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa ditutup bila kyai yang bersangkutan meninggal dunia.

Dahlan menuruti saran itu. Ia mendirikan Muhammadiyah dan keluar dari Boedi Oetomo. Demikianlah kisah K.H. Ahmad Dahlan dan awal mula berdirinya organisasi yang nantinya menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga. Wallahu A’lam Bish Shawab.

Kisah KH Ahmad Dahlan

Trailer Movie : Sang Pencerah