Category Archives: Minangkabau

ASAL USUL SUKU MINANG


Berdasarkan hasil penelitian ahli sejarah, bahwa kedatangan bangsa Minangkabau adalah pada zaman perungggu atau logam pada tahun 500 SM, dimana terjadinya perpindahan penduduk dari daratan Asia Selatan ke Nusantara, penduduk ini berkebudayaan perunggu (dongson) karena pusat kebudayaan Perunggu tersebut berada di Dongson wilayah Tonkin China.

Berbeda dengan ras proto melayu bermigrasi ke Nusantara tahun 2000-2500 SM (belumn mengenal logam) zaman batu tengan (mesolithic) tahun 5000-1000 SM tahun silam masuknya arus penduduk dan kebudayaan dari Asia.

Madelaini Colani,ahli sejarah Perancis mengemukakan pusat Mesolithic di pegununugan bascon di wilayah Tonkin (ras papua melanosoid)percampuran ras ini dengan ras austronesia, ras austronesia membawa kebudayaan Neolithic.

Pada zaman Mesolithic masuk ke pantai Sumatera ras weda dan ras negrito kedua ras ini telah ada sebelun ras melayu datang. Inilah sisa – sisa yang tak mau bercampur mereka menjadi orang kubu,talang mamak dan berkelana di hutan,bahasa Minang menyebutkan urang nan bajawikan raso,baatokan sikai,badindiang bamo kayu Prof.Drs Sukarno (ahli purbakala) orang minang kabau datang dari India belakang pada saat kedatangan rombongan ke 2 dan orang Minangkabau adalah ras melayu muda (dentra melayu).

Asal Usul Kata Melayu dan Minangkabau

Prof.Dr.Husain Naimar, guru besar antropologi Universitas Madras menerangkan bahwa kata melayu berasal dari bahasa Tamil.Malai berarti gunung, malaiur adalah suatu suku bangsa pegunungan dan sebutan malaiur fonetis menjadi melayu. Penduduk sebelah pesisir selatan pegunungan Dekkan adalah orang malabar,orang minangkabau menyebutnya malabari. Malayalam adalah bahasa yang dipergunakan oleh suku bangsa dravida yang mendiami pegunungan. Di minangkabau menurut penelitian Prof.Husein Naimar banyak terdapat kata-kata tamil dan sanskerta hal ini membuktikan adanya hubungan sejarah antara Minangkabau dan Malabar.

Di Malabar pun sistem masyarakatnya juga menurut garis keibuan dan pusako tinggi turun dari mamak ke kemanakan. Prof. Yean quisiner dari salah satu universitas di Pris meneliti ke minangkabau , mendaptkan adanya hubungan antara Minangkabau dengan Burma, Muangthai,Kamboja dan Vietnam bukti adanya hubungan terlihat dari kata pagaruyung paga (suku matriakat seprti juga dijumpai pada suku khazi, malabar dan lainnya) “ru” artinya pusat “yung” (danyun)artinya kerapatan, jadi Pagaruyung dapat diartikan pusat kerapatan suku yang menganut sistem keibuan durian ditakuak rajo adalah perobahan fonetik dari durum patakai raya.

Du : kata bilangan dua/seluruhnya
Rum : kerekel/pasir
Pataka : dataran pantai
Raya : luas/besar

Masa sejarah digolongkan kepada masa setelah adanya tulisan pada benda peninggaklan sejarah seprti prasati, candi dan sebagainya, masa sejarah tidak sama untuk setiap suku bangsa contoh misalnya bangsa Mesir memulai masa sejarahnya setelah 4000 SM, bangsa India 3000 SM dan Indonesia 400 SM., 500-300 SM dari India selatan mereka mengarungi samudera memasuki pantai timur Sumatera antara lain Muara Kampar bersama dengan itu suku bangsa dari Birma, Kamboja, Vietnam melalui lembah sungai Irawali.

Perpindahan ini berjalan bertahun-tahun bahkan berabad-abad dua kelompok ini sama-sama mempunyai ikatan matrilinear ada kelompok yang mencari aliran sungai pada saat perpindahan ini apa yang terjadi di belahan dunia yang sudah lama memasuki zaman logam antara lain dapat kita jelaskan sebagai berikut :

India berkembang agama budha yang dibawa Sidharta Gautama (563-483 SM). Gautama adalah putera Raja Sudhodana dari kerajaan Kavilawastu yang wilayahnya meliputi Nepal, Bhutan dan Sikkin, 1600 SM di India sudah pula berkembang agama Hindu (mahabratha). China di kala itu dikuasai Dinasti Chou tahun 1050-256 SM waktu itu hidup filosof Konfutse, Laotse dan Mengtse

Kedua daerah itu adalah tempat turunnya ras dentro malayutermasuk Minangkabau, dapat dipastikan gelombang 2 yang datang 500-400 SM beragama Budha dan Hindu, dilihat secara kontekstual kemungkinan mereka yang turun dari Burma, Kamboja dan Thailand sebagai embrio suku besar melayu di Minangkabau (suku melayu di Minangkabau adalah Melayu, Bendang, Kampai, Mandahiling dan Panai) dan mereka yang datang dari India Selatan (pantai timur) adalah embrio suku Jambak, Pitopang, Salokutiannyia, Bulukasok dan Banuhampu atau sebaliknya namun kedua kelompok ini disbut sebagai Melayu Continental.

Dalam rentang waktu 500-400 SM itu mereka telah membentuk kekuasaan budaya seperti raja gunung dan raja sungai agama Budha sudah dikembangkan pada saat itu kemungkinan saja pada periode ini mereka sudah sampai ke hulu Batang Kampar, hulu Batang Rokan, hulu Batanghari dan hulu sungai lainnya.

Situasi kehidupan masyarakat waktu itu hidup dengan berdagang, sawah dan mulai berkembang pertambangan emas dan hasil hutan lainnya, ada yang berpendapat sudah ada terbentuk nagari sumkayam atau nagari Minangkabau sekarang tetapi akhirnya dibantah oleh karena konsep nagari baru muncul setelah rombongan kedua datang ke Minangkabau.
Ada pertanyaan dengan apa mereka menyelusuri dataran tinggi Minagkabau jawabannya adalah dengan kerbau oleh karena agama yang dianutnya perlu menyayangi binatang kerbau,gajah, lembu , sehingga dari kerbau ini mereka dapat mengembangkannya permainan rakyat melalui adu kerbau. Dr Nooteboom memperkuat alasan tentang kegiatan berlayar yang dimiliki oleh ahli Yunani zaman purba Strabo dan Pilinius bukanlah Srilangka akan tetapi adalah Sumatera atas dasar itu Dr Nooteboom(pengikut zulkarnain) ketika ia berlabuh di India berarti sudah ada hubungan Minangkabau dengan India berkenaan waktunya adalah 336 SM

Asal-usul Nama Minangkabau :
a. Drs Zuhir Usman bahwa di dalam hikayat raja-raja Pasai Minagkbau diartikan menang
adu kerbau
b. Hal ini mendapat bantahan dari Prof.Dr. Purbacaraka hal ini bersifat legenda
beliau mengatakan bahwa Minagkabau berasal dari Minangtamwan artinya pertemuan dua
muara sungai.
c. Prof Van de Tuuk menerangkan bahwa Minangkabau asalnya dari Pinang Khabu yang
artinya tanah asal
d. Prof Dr Husein Naimar menyatakan bahwa Minagkabau adalah perubahan fonetik dari
menonkhabu bahsa tamil yang artinya tanah pangkal

sumber : http://sejarahtukmasadepan.blogspot.com/2012/01/asal-suku-minang.html

Tuanku Nan Renceh Penegak Syariat Islam di Ranah Minang


PANGLIMA kaum paderi yang tegas dan penuh wibawa. Berhasil melaksanakan pemurnian Islam ke setiap nagari di Ranah Minang, sampai-sampai kewajiban menunaikan shalat dikontrol sangat ketat

Kejayaan Islam di Ranah Minang (Sumatera Barat) pernah mencapai puncaknya ketika kaumpaderi (ulama) dipimpin oleh ‘Abdullah Tuanku Nan Renceh. Kekuasaannya menghunjam sampai lembaga pemerintahan nagari yang diberi hak otonom oleh Kerajaan Minangkabau. Kerajaan tersebut kala itu berpusat di Pagaruyung.

Pusat kekuasaan kaum paderi sendiri berada di teritorial Luhak (Kabupaten) Nan Tuo, yakni Luhak Agam, Tanah Datar, dan Luhak Nan Limopuluah Dikoto. Atau, seluas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Kabupaten 50 Kota sekarang.

Pada masa itu, kaum paderi benar-benar memegang kendali pemerintahan dan kemasyarakatan untuk mengamalkan syariat Islam. Kondisinya tak jauh berbeda ketika jazirah Arab bangkit dengan dakwah pemurnian yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787).

Sejarah kelahiran pergerakan kaum paderi di Ranah Minang memang tak dapat dilepas dari pergerakan Dakwah Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab  di jazirah Arab. Pergerakannya berawal pada tahun 1802 ketika “Tiga Serangkai” pulang dari Makkah, yakni Haji Miskin dari Pandai Sikek (Pandai Sikat) Luhak Agam, Haji Muhammad Arief dari Sumanik, Luhak Tanah Datar (dikenal dengan Haji Sumanik), dan Haji Abdurrahman dari Piobang, Luhak Limopuluah Dikoto (dikenal dengan Haji Piobang). Ketiganya dikenal dengan sebutan Haji Nan Tigo. Mereka mendalami ajaran Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab  saat belajar di tanah suci Makkah hampir 10 tahun lamanya.

Panglima Paderi

‘Abdullah adalah putra dari Incik Rahmah, pemuka suku Koto Nagari Kamang Mudik, yang lahir di Jorong Bansa, Nagari Kamang Mudik, Luhak Agam, tahun 1762. Sejak kecil, Abdullah senantiasa giat memperdalam ilmu agama.

Ia merasa tidak cukup hanya belajar pada guru mengaji tingkat nagari sebagaimana tradisi anak muda seusianya kala itu. Abdullah melakukan terobosan dengan belajar di kampung lain, tepatnya di surau Tuanku Tuo di Cangkiang, Luhak Agam.

Tamat dari pendidikan model surau, ‘Abdullah masih belum merasa puas. Dia bukannya kambali ke kampung halaman, tetapi meneruskan perjalanan ke Ulakan, Padang Pariaman.

Hampir lima tahun menuntut ilmu, barulah ‘Abdullah kembali ke Jorong Bansa. Begitu sampai di kampung, ‘Abdullah mendengar kabar ada ulama besar di Pandai Sikek yang baru pulang dari Makkah. Namanya Haji Miskin. ‘Abdullah yang saat itu baru tiba di rumah langsung saja berangkat ke Pandai Sikek.

Sesampai di sana, betapa kecewanya ‘Abdullah karena Haji Miskin tak ditemukan. Dia lebih kecewa lagi ketika mengetahui bawa Haji Miskin yang baru pulang itu hanya sebentar berada di Pandai Sikek. Ternyata tokoh yang ia buru itu harus pergi lagi karena dakwahnya tak diterima oleh masyarakat kampungnya sendiri.

Bagi ‘Abdullah, kabar “diusirnya” Haji Miskin justru membuat penasaran. Pikirnya, kalaulah apa yang dibawa Haji Miskin tak terlalu istimewa, tentulah perlawanan dari orang kampung sendiri tidak sehebat itu.

Ternyata benar. Begitu ketemu Haji Miskin di tempat pengungsiannya, Nagari Ampek Angkek (Empat Angkat), Abdullah mendapat pelajaran tentang pemurnian gerakan Islam. Ajaran ini sama dengan yang digerakan dakwah Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab di jazirah Arab.

Haji Miskin memberikan pengajian secara berkesinambungan, dibantu oleh dua karibnya yakni Haji Piobang dan Haji Sumanik. Lalu, bergabung pula beberapa tokoh Islam lainnya, seperti Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Lintau, Tuanku Ladang Laweh (Ladang Luas), Tuanku Dikoto Padang Lua (Padang Luar), Tuanku Galung, Tuanku Dikoto Ambalau, dan Tuanku Dilubuk Aua (Lubuk Aur). Mereka masing-masing adalah ulama di kampungnya.

Para ulama itu kemudian berbai’at kepada Haji Miskin untuk melancarkan gerakan penegakan syariat Islam yang mereka beri nama gerakan kaum paderi. Mereka ini kemudian dikenal sebagai Dewan Pimpinan Paderi dengan julukan “Harimau Nan Salapan” (Harimau yang Delapan). ‘Abdullah ditunjuk sebagai pimpinan merangkap panglima perang dengan gelar Tuanku Nan Renceh Al-Mujaddid. Sementara Haji Miskin diangkat sebagai hakim.

Menurut Angga Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao, gerakan Paderi pimpinan Nan Renceh adalah gerakan sistemik dengan angkatan perang yang mirip angkatan perang Turki. Memang, Nan Renceh beberapa kali mengirimkan beberapa prajurit terbaiknya untuk belajar bertempur di Kesultanan Turki.

Kala itu ilmu peperangan Kesultanan Turki sudah maju. Pasukan Jenitsar Cavalary Turki pernah menghalau dan menghancurkan tentara Napoleon Bonaparte. Di antara tentara paderi yang dikirim tersebut adalah Tuanku Kulawat. Ia malah sempat berperang bersama tentara Turki melawan tentara Napoleon tahun 1809 sampai 1812. Kemudian, Tuanku Gapuak (1809-183), Tuanku Rao (1812-1815), dan Tuanku Tambusai (1817-1821).

Perjuangan kaum paderi, seperti dicatat oleh Haji Piobang, memiliki tiga target fase. Pertama, jangka tujuh tahun sudah harus merebut seluruh pulau Andalas dan Semenanjung Malaya. Kedua, jangka tiga tahun kemudian sudah harus merebut kekuasaan di Pulau Jawa dan pulau-pulau kecil di timurnya. Ketiga, merebut seluruh tanah Jawi (Nusantara), kemudian bekerjasama dengan pasukan Dato’ Haji Onn. Pasukan yang terakhir ini kabarnya sudah berhasil merebut kekuasaan di Filipina Selatan, Kalimantan Utara, dan Kepulauan Sangihe.

Tegas Tegakkan Hukum Islam

Selama masa kepemimpinan ‘Abdullah Tuanku Nan Renceh (1762-1825), menurut sejarawan Ampera Salim, kaum paderi berhasil melaksanakan pemurnian Islam dan masuk ke setiap ruang lingkup pemerintahan nagari. Sampai-sampai kewajiban menunaikan shalat dalam kehidupan masyarakat setiap nagari dikontrol dengan sangat ketat.

Usai shalat Shubuh di surau-surau, Nan Renceh menurunkan Laskar Paderi keliling kampung. Mereka bertugas memeriksa batu tapakan yang sudah disediakan di setiap pintu masuk rumah penduduk. Apabila batu itu basah, diketahuilah bahwa penghuni rumah sudah melaksakan shalat Shubuh. Tapi bila tidak, penghuni rumah akan langsung diinterogasi.

Andai belum shalat karena tertidur, maka diperintahkan segera menunaikan shalat. Bila tiga kali didapati tidak juga menunaikan shalat–ditandai dengan batu tapakan yang tidak basah–maka penghuni rumah harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi bila kemudian terbukti meninggalkan shalat kembali, maka penghuni rumah harus meninggalkan nagari.

Nan Renceh juga berhasil membudayakan pakaian jubah putih bagi laki-laki dan kerudung bagi perempuan. Bagi mereka yang akan dipilih menjadi wali nagari (kepala pemeritahan nagari) harus mampu menjadi imam shalat berjamaah.

Hukum Islam yang ditegakkan kaum Paderi dalam masa kepemimpinan Nan Renceh sangat tegas dan berwibawa. Ampera Salim juga menyebutkan, pernah suatu kali etek (adik ibu/ayah) Nan Renceh sendiri tak mengindahkan aturan yang diberlakukan Pemerintah Negara Darul Islam Minangkabau. Dia enak saja meneruskan kebiasaan minum tuak dan menghisap candu.

Memang, orang dekat Nan Renceh, yakni Hassan Nasution, pernah menegur si etek agar menghentikan kebiasaannya. Tapi dia tetap menolak. Bahkan ketika ditawarkan agar diungsikan ke Kuantan, si etek tegas-tegas menolak.

Demi tegaknya wibawa hukum Islam, si etek divonis hukuman mati. Eksekusi dilakukan dengan pedang oleh Haji Idris dan Haji Hassan. Kejadian ini berlangsung dalam tatapan tenang seorang Tuanku Nan Renceh. Baginya, penegakan wibawa hukum Islam lebih peting daripada saudara sendiri yang mengingkarinya. Pada saat ini media online recehan seperti http://www.merdeka.com/ kepunyaan Syiah sedang gencar-gencarnya memfitnah wahabi dan ini berimbas pada perbuatan mereka merekayasa sejarah perang paderi dengan penuh fitnah keji sekaligus memfitnah Pahlawan Nasional indonesia Tokoh Pejuang Minangkabau yaitu Almarhum Imam Bonjol sehingga meracuni pemikiran umat muslim indonesia yang bermazhab sunni pada umumnya */Dodisahid 

Sumber: http://hidayatullah.com
Red: Panji Islam

Mesjid Raya Minangkabau Sumatera Barat


MASJID RAYA SUMBAR. Pekerja meneruskan pembangunan Masjid Raya Sumatera Barat (Sumbar), dilatari ukiran Minangkabau masjid di Jalan Khatib Sulaiman Padang, Minggu (8/1/2012). Masjid yang ditargetkan termegah di Sumatera dan dapat difungsikan menjadi shelter penyelamatan tsunami kapasitas 4000 orang itu sudah menyedot anggaran Rp146,895 miliar dengan capaian pengerjaan 44 persen, namun pembangunan masih terkendala dana untuk tahap selanjutnya membutuhkan dana sekitar Rp176,075 miliar.

masjid raya sumbar

Masjid Raya ini fungsinya tidak sebatas rumah ibadah. Bangunan yang berada tak jauh dari Pantai Padang itu, dirancang mampu menahan guncangan gempa mencapai 10 SR dan dapat dijadikan sebagai shelter lokasi evakuasi tsunami, memanfaatkan lantai II dan lantai III masjid.
Masjid tersebut mampu menampung sekitar 20.000 jamaah. Dengan rincian, lantai dasar masjid menampung 15.000 jemaah serta lantai II dan III sekitar 5.000 jamaah.

 

Berkas:West Sumatra Grand Mosque (Development Jan 2012 08).JPG
Mesjid emang benar2 dengan perhitungan matang…..semua aspek diperhitungkan….
Master Plan

Mesjid Raya Sumatera Barat

Masjid Unik Sedunia Di Sumatera Barat. Masjid Raya Sumatra Barat (Sumbar) yang tengah dibangun di Jalan Khatib Sulaiman Padang, akan menjadi salah satu tempat ibadah kaum muslim terunik di dunia.

FotoObjek-mesjid-raya Keunikannya terletak pada bentuk bangunan yang berarsitektur perpaduan moderen dan tradisional rumah adat Minangkabau dengan ciri khas atap runcing, kata Ketua Pembangunan Masjid Raya Sumbar, Marlis Rahman di Padang, Senin.

Selain itu, struktur dan arsitektur bangunan masjid dibangun dengan desain konstruksi anti guncangan kuat sehingga diharapkan aman dari gempa berkekuatan besar.

Masjid Raya Sumbar tengah dibangun dengan ukuran bangunan 18.091 meter persegi di jalan Khatib Sulaiman pada satu sisi dan sisi lain di Jalan K.H Ahmad Dahlan berada di pusat Kota Padang dan membutuhkan biaya pembangunan hingga Rp507,82 miliar.

utama Tempat ibadah ini setelah selesai akan dapat menampung total 20 ribu jemaah itu dibangun pada lahan seluas 40,98 hektar, sedangkan bangunan utama masjid seluas 18.091 meter persegi. dengan dana pembangunan total diperkirakan Rp507,82 miliar.

airjernih halaman halaman6 halaman2

halaman3 mesjid2 mesjid3

mesjid5 mrs mrs11 picture15zt

nih rendering suasana malam di mesjid raya sumbar.

Ternyata ada pusat perbelanjaan juga

Keren banget..
serasa di Town Square..

Posisi payung kembang

yang dibawah ini kolam yang mengalir menuju mesjid…..(kolam ini melewati bawah mesjid dan tembus sampai ke halaman depan mesjid )kerennn bgtt…………

ini adalah bagian luar lantai 2 mesjid perhatikan dengan seksama….dulu rancangan mesjid ini menuai protes dari kalangan masyarakat karena nggak ada kubahnya…..ternyata kubah mesjid itu berada didalam gonjong…(atap rumah adat minang red)….kubah akan lebih hidup dan nampak pada suasana malam hari……

__________________
Go Green City
STOP GLOBAL WARMING!!!

Melihat master plan yang begitu megah, kita sepertinya dituntut untuk tetap optimis dan mendukung terlaksananya pembangunan ini. Dengan terwujudnya Mesjid Raya yang belum memiliki nama resmi ini kita akan memiliki ikon yang merepresentasikan kebangkitan masyarakat Minangkabau. Semoga.

Aksara Minangkabau Ditemukan di Pariangan dan Sulik Aia



DUA MACAM HURUF ASLI (AKSARA) MINANGKABAU

Sering kita dengar ucapan bahwa kebudayaan Minang betapapun tuanya di tengah-tengah kebudayaan nusantara, namun Minangkabau tak punya aksara seperti Batak, Jawa, Bugis, dan lain-lain.

Di Makasar umpamanya, huruf Lontara masih dikembangkan terus. Masih banyak penduduk yang bisa menuliskannya. Di sekolah-sekolah masih dipelajari. Begitu juga daerah lain karena mereka memang punya warisan berupa huruf-huruf asli dari nenek moyang mereka.

Bagaimana Minangkabau? Yang dikatakan punya warisan budaya yang cukup tinggi?

Jawabnya barangkali karena kita belum sempat melakukan penelitian secara luas atau mendalam. Mungkin karena begitu luasnya cakupan kebudayaan Minangkabau itu, maka belum seluruhnya terjangkau dalam penelitian. Seperti dikatakan peribahasa Inggris, “di lapangan luas sulit menggali lebih dalam…”.

Sejarawan Dr. Taufik Abdullah pernah berkata bahwa masih banyak yang harus kita gali, teliti, kumpulkan, dan kita kerjakan. Sampai sekarang, peta dialek saja kita belum punya. Betapa banyak dialek yang terdapat di Minangkabau. Bukan hanya yang terdapat di Luhak nan Tigo, antara nagari yang satu dengan nagari bertetangga sudah berbeda dialeknya.

Namun demikian, satu hal yang menggembirakan patut kita kemukakan di sini. Kebudayaan Minangkabau sebenarnya lengkap dengan huruf asli berupa aksara Minang. Ini ditemukan di dua tempat. Pertama, di Nagari Pariangan, Padang Panjang, yang kita kenal sebagai nagari tertua di Minangkabau. Kedua, di Nagari Sulit Air, Kabupaten Solok.

Cuma saja kedua bentuk huruf yang ditemukan di dua tempat itu berbeda satu sama lain. Belum dapat kita pastikan mana yang tua diantara dua itu. Para ahlilah yang akan menjelaskan kemudian.

Yang ditemukan di Pariangan

Tujuh belas tahun yang lalu (1970) di sela-sela hiruk pikuknya pembahasan tentang Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau dalam siding seminar yang diadakan di Batusangkar, seorang peserta seminar tampil memperlihatkan aksara Minang yang ia temukan di Pariangan. Kebetulan yang tampil itu adalah bekas camat di Pariangan Kabupaten Tanah Datar.

Bekas camat itu berkata penuh semangat, “Kebudayaan Minang itu lengkap. Jangan dikatakan kita tak punya huruf asli sebagai peninggalan nenek moyang kita …” katanya.

Aksara Minang itu ditemukan dalam Kitab Tambo Alam milik Datuk Suri Dirajo dan Datuk Bandaro Kayo di Pariangan Padang Panjang.

Tambo Alam itu ditulis dalam aksara Minang tersebut. Bukan seperti kitab-kitab tambo yang biasanya ditulis dalam tulisan Arab Melayu. Di dalam kitab tambo itu antara lain tertulis Undang-Undang Adat yang berbunyi sebagai berikut.

Dibelah-belah dipatigo

Siraut pambelah rotan

Luhak dibagi tigo

Adat dibagi salapan

Aksara Minang itu berjumlah 15 buah yang terdiri dari: a – ba – sa – ta – ga – da – ma – ka – na – wa – ha – pa – la – ra – nga (bandingkan dengan Surat Ulu di Palembang yang menurut Drs. Zuber Usman terdiri dari 16-17 huruf).

Jika huruf-huruf Minang itu diberi titik di atasnya, maka di baca: i – bi – si – ti – gi – di – mi – ki – ni – wi – hi – pi – li – ri – ngi. Dan kalau diberi titik dibawahnya bacaannya berubah menjadi u – bu – su – tu – gu – du – mu – ku – nu – wu – hu – pu – lu – ru – ngu.

Selanjutnya kalau diberi bercagak (bertanda v) di atasnya dibaca: e – be – se – te – ge – de – me – ke – ne – we – he – pe – le – re – nge. Kalau tanda “v” tersebut dipindahkan ke bawah harus dibaca: o – bo – so – to – go – do – mo – ko – no – wo – ho – po – lo – ro – ngo. Tapi kalau diberi titik di samping kanan, maka ia menjadi huruf mati: b – s – t – g – d – m – k – n – w – h – p – l – r – ng. (Lihat contoh I)

Sekarang marilah kita perhatikan contoh II. Nah, jika kita ingin menyalinnya ke dalam aksara latin, jadilah ia sebagai berikut.

Nan ampat talatak di bumi

Aso bulan duo matoari

Tigo timur ampat salatan

Rumah gadang lumbung bapereng

Sawah gadang banda buwatan.

Jika kita perhatikan aksara Minang ini mirip dengan huruf Lontara, yaitu huruf asli yang ada di Makasar (Ujung Pandang). Cuma jumlahnya yang berbeda. Aksara Minang berjumlah 15, sedangkan huruf Lontara berjumlah 23.

Sebenarnya huruf Lontara tersebut, menurut Djalaluddin, seorang guru di Ujung Pandang yang juga menyusun buku pelajaran untuk SMTA mengatakan bahwa huruf Lontara itu telah dipakai sejak 400 tahun yang lalu di Sulawesi Selatan.

Huruf Lontara tua, katanya, diciptakan oleh Daen Pamatta’, Syahbandar Kerajaan Gowa atas perintah Raja Sombaja pada tahun 1538. Penulis lihat banyak kesamaan cara menuliskannya meski hurufnya berbeda.

Jika huruf Lontara tersebut diciptakan pada abad 16, mungkinkah aksara Minangkabau yang ditemukan di Pariangan in diciptakan pada abad 14 ketika Adityawarman dirajakan di bumi Pulau Emas (Minangkabau)? Marilah kita serahkan kepada para ahli dari hasil penelitiannya nanti. Tapi kalau kita perhatikan prasasti-prasasti yang terdapat di Kubu Rajo, Limo Kaum, Pagaruyung dan lain-lain tidak ditulis dalam aksara Minang tersebut melinkan ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan style (gaya) Adityawarman. Barangkali sukar untuk menerima bahwa aksara tersebut diciptakan dalam masa Adityawarman. Di samping itu, dari kalimat yang kita kutip dari Kitab Tambo Alam di atas yang ditulis dalam aksara Minang tersebut terdapat suatu keganjilan dalam menuliskan kata ampat. Kenapa tidak ditulis dengan ampek? Barangkali juga aksara itu sudah lama diciptakan, sedangkan tambonya yang ditulis kemudian.

Aksara Minang “Ruweh Buku”

Setelah kita kemukakan aksara Minang yang ditemukan di Pariangan Padang Panjang, maka kini marilah pula kita sajikan aksara Minang yang lain yang ditemukan di nagari Silek Aia (Sulit Air).

Menurut Ketua Lembaga Studi Minangkabau di Padang, Drs. Denito Darwas Dt. Rajo Malano, Kitab Tambo Ruweh Buku yang ditemukan di nagari Sulit Air juga ditulis dalam aksara Minang. Berisi ajaran adat Minang nukilan Datuk Suri Dirajo di Pariangan Padang Panjang juga. Kemudian entah pada zaman apa dan tahun berapa, kitab Ruweh Buku itu dibawa orang ke Sulit Air dan dimiliki oleh Datuk Tumanggung secara turun temurun. Terakhir dimiliki oleh Syamsuddin Taimgelar Pakih Sutan yang berusia 75 tahun pada tahun 1980. Ia menerima kitab itu dari mamaknya Rasad gelar Datuk Tumanggung pada tahun 1921. Sedangkan Rasad Dt Tumanggung menerimanya pula dari Datuk Tumanggung V. Begitu seterusnya jawek bajawek dulu sampai sekarang.

Tambo Ruweh Buku sudah ada sejak awal disusunnya peraturan atau ketentuan-ketentuan adat Minangkabau yang disebutkan sebagai kerajaan “BUEK”.

Beda dengan aksara Minangkabau yang ditemukan di Pariangan, Padang Panjang, maka aksara Minang “Ruweh Buku” di Sulit Air, kata demi kata dideretkan ke bawah kalau hendak membentuk kalimat. Mirip dengan huruf Katakana (Jepang), tapi jika hendak merangkaikan huruf jadi satu kata tetap dideretkan ke kanan. Jumlah hurufnya 21 buah lengkap dengan tanda baca. Beda dengan aksara Minang di Pariangan, maka huruf Ruweh Buku ini memiliki huruf hidup a – i – u – o  dan selebihnya huruf mati semua (lihat Contoh III).

Kalau kita ingin menuliskan ta bukanlah gabungan huruf t dengan huruf a, melainkan ambillah huruf t kemudian diberi garis di atasnya. Kalau menulis ti taruhlah garis di bawah huruf t tersebut. Menuliskan tu maka sebelum huruf t bubuhkanlah garis miring terlebih dahulu. Menuliskan te pakailah garis miring setelah huruf t. sedangkan kalau ingin membuat to pakailah titik di atas huruf t. Begitu seterusnya.

Aksara Minang Ruweh Buku tersebut juga dilengkapi dengan tanda baca seperti tanda tanya, tanda seru, titik, koma, bagi, tambah, kali, kurang.

Menurut Syamsuddin Taim gelar Pakih Sutan, Tambo Ruweh Buku ditulis di atas lembaran kulit kayu sepanjang 55 cm atau satu hasta lebih sedikit. Ada 48 halaman dan ditulis menggunakan getah kayu yang berwarna hitam.

Sekarang yang menjadi tanda tanya, kenapa aksara Minang itu menjadi dua? Dapatkah disimpulkan bahwa ada huruf lama dan huruf baru?

Tentu perlu penelitian lebih lanjut dari para ahli. Apakah itu dari Fakultas Sastra Universitas Andalas atau para peneliti dari Yayasan Genta Budaya Sumatera Barat, yang salah satu programnya, kita ketahui adalah dalam bidang ini.

Koleksi Foto-foto Minangkabau Tempoe Doloe

Sumber:

Limbago: Majalah Adat dan Kebudayaan Minangkabau No. 5 Tahun 1987

Degradasi Moral Sumatera Barat


Padahal, para orangtua dulu memberi nama-nama Islam pada anaknya agar berperilaku sesuai namanya, di zaman serba uang ini sepertinya tidak berlaku lagi.

Hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya, globalisasi berhasil membunuh kebudayaan Nusantara. Inilah perang terbesar abad milenium ini, benturan peradaban seperti teori Samuel P Huntington. Karya Profesor Universitas Harvard, Clash of Civilization, itu semakin menjadi kenyataan.

SURAU : Sedih rasanya melihat nasib bangsa ini. Tepatnya mungkin etnis Minangkabau, etnis kita.

Urang awak kehilangan orientasi, seperti orang bingung.

Kebudayaan Minangkabau akhir tahun lalu, mengalami disorientasi.

Bukan saja suku Minang, negeri seribu suku bangsa ini, juga telah kehilangan identitas.

Dulu, di zaman Orde Baru, kebudayaan Nusantara diseragamkan menjadi kebudayaan nasional sesuai selera penguasa.

Budaya-budaya lokal sulit tampil ke panggung nasional, selain dimobilisasi untuk kepentingan penguasa.

Kini, setelah 13 tahun reformasi, nasib suku bangsa ini dijajah budaya Barat.

Melalui rekayasa kebudayaan seperti teori Samuel Huntington, peradaban Barat sukses mencerabut kearifan lokal negeri ini.

Kebudayaan Nusantara telah berkiblat ke negara-negara Barat melalui pencanangan era globalisasi.

Apa sih bedanya orang Minang dengan suku lain? Dengan kening sedikit berkerut, susah juga teman saya sesama wartawan menjawabnya.

Selain karya seni, dan bahasanya, harus diakui, nyaris tidak ada lagi bedanya antara etnis satu dengan yang lainnya di Tanah Air ini.

Tidak Minang, Bugis, Sunda, Batak atau lainnya, rasanya kok sama semua.

Bila ditanya sama orang-orang pintar di kampus, budayawan atau tetua adat, paling-paling jawaban yang didapat sekadar teori dan nostalgia kejayaan Minangkabau tempoe doeloe.

Supaya meyakinkan bahwa budaya Minang itu hebat dan luhur, orang-orang pintar itu menyelipkan petatah-petitih.

“Orang Minang itu siak (kuat agamanya), beradat, tahu jo ampek (sopan santun dan ramah), egaliter, pekerja keras, rasa kekeluargaan tinggi. Kalau dulu begini, begitu, dan seterusnya…” Begitu kira-kira teorinya.

Sekarang? Orang Minang itu paota. Hmm, beda-beda tipis gadang ota.

Lalu, apa bedanya berlama-lama di lapau dengan budaya malas? Katanya carito lapau untuk bersosialisasi dan berbagi informasi.

Nyatanya, lebih sering bagunjiang dan bahampok. Tidak percaya? Lihat saja sendiri.

Kadang-kadang, mamak dan kemanakan duduk semeja. Ndak di awak dan di orang, sama saja semuanya.

Bikin urut dada lagi, acara baralek dimeriahkan tampilan artis organ tunggal bergaya seronok.

Tua-muda, bujang-gadih, bahkan anak-anak hanyut dalam hentakan house music.

Biar lebih meriah, ada juga pesta miras hingga bahampok.

Pernah suatu kali teman saya dari luar, terheran-heran menghadiri acara baralek seorang teman di Piaman.

Sekitar empat tahun lalu, pernah ada rencana pemerintah nagari melarang suguhan artis erotis, pesta miras dan bahampok di baralek atau alek kampung, sekarang pak wali nagari kita mungkin mengidap penyakit lupa.

Soal pergaulan bebas anak muda, jangan ditanya.

Jumlah penderita HIV/AIDS, kasus narkoba, ‘negeri buya’ ini menempati rangking 10 besar nasional.

Jangan tanya soal industri otak, jumlah siswa SMA sederajat yang tidak lulus ujian nasional (UN) di Sumbar rangking delapan terburuk.

Kalau UN SMP sederajat, empat buncit nasional.

Di Payakumbuh, baru-baru ini dihebohkan oleh kasus aborsi.

Di Dharmasraya, menjamur kafe remang-remang. Sebelumnya di Pasaman, heboh oleh berita puluhan muda-mudi diduga terinfeksi HIV/AIDS.

Kalau di Padang, tidak asing lagi. Bukan saja tempat-tempat hiburan atau hotel-hotelnya, objek-objek wisata pantainya disulap untuk esek-esek.

Yang terbaru, rumah kos dijadikan kumpul kebo oleh mahasiswa (Padang Ekspres, 4/6).

Soal berpakaian? Anak gadih Minang termasuk fashionable.

Celana jeans hipster alias tampak celana dalam, sudah biasa.

Cewek bersinglet alias tank top ke luar rumah, mulai bertebaran.

Sekarang, wanita bercelana pendek ketat (hotpants) yang bikin jantung lelaki berdegup kencang, jadi santapan sehari-hari.

Kisah lainnya, akhir-akhir ini di ‘negeri buya’ krisis buya.

Di pelosok-pelosok nagari, masjid dan surau kesulitan mencari ustad.

Jangankan untuk wirid, mencari khatib Jumat saja susah. Ustadnya itu ke itu juga.

Bisa ditebak, pengajiannya pun berputar di situ-situ juga.

Risaukah tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin?

Gundahkah para orangtua-orangtua Minang? Sebanyak yang risau, lebih banyak lagi yang cuek bebek.

Di jalan-jalan, induak-induak berbaju kurung berjalan dengan anak gadisnya berpakaian seksi, hal yang lumrah. Nggak risih, tuh?!

Ah, itu kan pikiran sinis dan sentimen sebagian orang saja. Itu hanya nila setitik rusak susu sebelanga.

Jangan digenerasirlah. Dibandingkan daerah lain, orang Sumbar masih teguh memegang budayanya.

Orang-orang pintar di daerah ini sibuk mencari alasan pembenar.

Setelah Orde Baru, kebudayaan bangsa ini dibajak budaya Barat.

Orde Baru sukses mempropaganda budaya Pancasila sesuai kehendaknya melalui TVRI, RRI dan media massa, pada era reformasi, Barat berhasil menanamkan budayanya melalui tayangan-tayangan sinetron dan informasi dengan mengkapitalisasi media.

Orang-orang Minang, dan suku lainnya di Tanah Air, kini semakin pragmatis, individual, hedonis dan konsumtif.

Paham inilah penyebab kehancuran kita. Seperti sudah menjadi identitas dan budaya Indonesia, termasuk etnis Minangkabau.

Bangga berlagak Orang Barat, minder mengenakan identitas leluhur.

Padahal, bapak pendiri Republik ini yang juga banyak urang awak, menekankan kekuatan budaya bangsa sebagai unsur tangguh dalam pembangunan bangsa dan karakter, nation and character building.

Kini yang terjadi, character assassination (pembunuhan karakter).

Buruknya budaya daerah ini, tecermin dari perilaku pengendara di jalan raya.

Orang-orang tidak taat aturan dan tertib hukum, saling serobot, menghardik, tidak beretika, dan seterusnya.

Potret moral, budaya instan dengan jalan pintas, pragmatis, dan individualistis terlihat di jalan raya. Terjadi budaya premanisme.

Budaya menyesatkan itu, tak jarang ditiru rakyat dari perangai tungku tigo sajarangan.

Ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai sering tungkek mambaok rabah.

Memamerkan budaya pragmatis-konsumtif kepada kemanakan.

Ke mana-mana bercerita pendidikan karakter, tapi tindak tanduknya tidak berkarakter.

Di mimbar mengajak orang berbuat baik, di rumah, anak istri buya bergaya menor dan mewah.

Gelar titel, haji dan datuak di depan dan belakang nama sapanjang tali baruak, tapi korupsi jalan terus.

Padahal, para orangtua dulu memberi nama-nama Islam pada anaknya agar berperilaku sesuai namanya, di zaman serba uang ini sepertinya tidak berlaku lagi.

Nama boleh pakai Muhammad (Nazaruddin), atau (Burhanuddin) Abdulllah, Al Amin dan nama-nama Islam lainnya, yang pancilok tetap saja pancilok.

Karena itu, pendidikan karakter yang kini gencar disosialisasikan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, diyakini tidak bakal mumpuni jika hanya seruan, imbauan dan teori di sekolah.

Melainkan, harus dengan contoh dan teladan dari tungku tigo sajarangan.

Saat ini, Sumbar butuh tokoh-tokoh berkarakter seperti mantan Pimpinan Bank Indonesia Romeo Rissal Pandjialam di kampus-kampus, birokrasi, aparat hukum untuk membawa perubahan di Ranah ini.

Oleh : Nashrian Bahzein
wartawan Padang Ekspres

SurauNet’s Glossary

urang siak = orang alim, ulama
tahu jo ampek = beradab
gadang ota = ngibul, pembual
bahampok = berjudi
baralek = hajatan, resepsi
anak gadih = anak gadis
induak-induak = kaum ibu
tungku tigo sajarangan = ulama, umaro, adat
tali tigo sapilin = ulama, umaro, adat
tungkek mambaok rabah = memberi contoh buruk
datuak = datuk
tali baruak = sangat panjang
pancilok = maling, pencuri, koruptor

http://surau.net/analisa.php?action=fullnews&id=283

Mesjid-Mesjid Tua di Minangkabau


1.Masjid Tuo Kayu Jao


Agama Islam di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, telah berkembang sejak abad ke-16. Fakta sejarah ini dibuktikan dengan berdirinya Masjid Tuo Kayu Jao, berusia 400 tahun. Meski bangunan bergaya Masjid Demak, Banten, ini sempat dipugar tapi sebagian besar bangunan masjid masih asli.


Atap masjid ini terbuat dari ijuk, ciri khas atap rumah adat Minang. Tiang penyangga masjid berjumlah 27 buah, melambangkan jumlah suku dan golongan yang ikut mendirikan masjid ini. Selain itu terdapat sebuah mihrab yang masih utuh dan bedug yang diperkirakan berusia sama dengan masjid. Hingga saat ini Masjid Tuo Kayu Jao masih menjadi tempat beribadah warga setempat. Pemerintah Provinsi Sumbar telah menetapkan masjid ini sebagai cagar budaya, bukti sejarah penyebaran agama Islam di Solok.

2. Masjid Tuanku Pamansiangan

3. Masjid Taluak

4. Masjid Tuo Koto Baru

5. Surau Atap Ijuk Sicincin

6. Surau Gadang Bintungan

Bintungan Tinggi, sebuah daerah yang terletak di Nagari Padang Bintungan Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman.

7. Surau Gadang Syekh Burhanuddin Ulakan

Surau Syekh Burhanuddin terletak di desa Tanjung Medan, 6 km dari makam Ulakan.

8. Surau Latiah

9. Surau Raja Sontang

10. Surau Lubuk Bauk

Surau Lubuk Bauk didirikan di atas tanah wakaf Datuk Bandaro Panjang, seorang yang berasal dari suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku. Dibangun oleh masyarakat Nagari Batipuh Baruh dibawah koordinasi para ninik mamak pada tahun 1896 dan dapat diselesaikan tahun 1901.

11.Masjid Sa’adah

12. Masjid Buah Pauh Kubang Putih


13. Masjid Limo Kaum

14. Masjid Pincuran Gadang

Terdapat di Matur Hilir, persisnya terletak di Pincuran Gadang. Disinilah kitab mulai dikembang, ajaran Islam mulai difatwakan keseluruh anak negeri disekitar penghujung abad ke XVII oleh beliau Tuanku Abdul Hamid.

15. Masjid Raja Siguntur

Terletak di Dusun Ranah, Desa Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Bangunan masjid berada dalam satu kompleks dengan makam Raja-raja Siguntur dan rumah adat Siguntur. Di sebelah barat masjid mengalir Sungai Batanghari yang terkenal dengan peninggalan purbakala di sepanjang alirannya.

16. Masjid Rao-Rao


Mesjid ini berlokasi sekitar 5 km dari Batu Sangkar Kabupaten Tanah Datar ke arah Baso Kabupaten Agam. Diperkirakan dibangun pada tahun 1913.17. Masjid Jami’ Batang Piaman, Pariaman18. Masjid Raya Gantiang


Masjid Raya Gantiang berlokasi di jalan Gantiang Kecamatan Padang Timur Kota Padang, mulai dibangun pada 1805 atas prakarsa tiga tokoh masyarakat kota Padang yakni Angku Gapuak, Syekh Haji Uma, dan Syekh Kapalo Koto dan selesai pada 1810.

19. Masjid Raya Pakandangan Pelok

Terletak di Nagari Pakandangan Kabupaten Padang Pariaman. Masjid yang sekarang dijadikan sebagai masjid nagari ini diperkirakan didirikan pada tahun 1865.

20. Masjid Raya Bayua, Kawasan Salingka Danau Maninjau, Agam Barat

agam-043.jpg

21. Masjid Siti Manggopoh, Tanjung Mutiara, Agam Barat

agam-015.jpg

22. Mesjid Raya Bengkudu

23. Surau Badano, Sungai Rotan, Pariaman Selatan

eastern-highland-022.jpg

* dari berbagai sumber

Asal-usul Minangkabau Nan Unik


Rumah tradisional di Minangkabau

Dalam bentuk kecintaan penulis pada tanah leluhur di Bumi Minang dan kedua orang tua saya pun berdarah Minang, maka tidak salah pada saat ini penulis membuat topik tentang “Asal-Usul Minangkabau Nan Unik” oleh karena memanglah Minangkabau memang unik. Baiklah untuk memulai tulisan ini saya memulai dari Rumah Gadang dimana Bumbung rumah adat Minangkabau yang dipanggil Rumah Gadang, (Rumah Besar) memiliki rupa bentuk yang unik karena ia menyerupai tanduk kerbau.Terdapat juga prinsip-prinsip tertentu dalam pembinaan rumah adat Minangkabau. Orang Minangkabau atau Minang adalah kumpulan etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh darat Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia.Kebudayaan mereka adalah bersifat keibuan (matrilineal), dengan harta dan tanah diwariskan dari ibu kepada anak perempuan, sementara urusan agama dan politik merupakan urusan kaum lelaki (walaupun setengah wanita turut memainkan peranan penting dalam bidang ini). Kini sekitar setengah orang Minangkabau tinggal di rantau, mayoritas di Kabupaten dan Kota besar di Indonesia dan Malaysia. Orang Melayu di Malaysia banyak yang berasal dari Minangkabau, mereka utamanya mendiami Negeri Sembilan dan Johor. Walaupun suku Minangkabau kuat dalam pegangan agama Islam, mereka juga kuat dalam mengamalkan tradisi turun-temurun yang digelar adat. Beberapa unsur adat Minangkabau berasal dari paham animisme dan agama Hindu yang telah lama ada sebelum kedatangan Islam. Walau bagaimanapun, pengaruh agama Islam masih kuat di dalam adat Minangkabau, seperti yang tercatat di dalam pepatah mereka, Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah, yang bermaksud, adat (Minangkabau) bersendi hukum Islam dan hukum Islam bersendi Al Qur’an. Orang Minangkabau sangat menonjol dibidang perniagaan atau perdagangan, sebagai profesional dan intelektual. Mereka merupakan pewaris terhormat dari tradisi tua Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang gemar berdagang dan dinamik.

rendang
Rendang

Suku Minang mempunyai masakan khas yang populer dengan sebutan Masakan Padang, dan sangat digemari di Indonesia, Malaysia, bahkan sampai Mancanegara, dimana makanan ini sangatlah unik selain semakin enak bila di panaskan dan tahan lama bila disimpan di dalam kulkas atau bila dibawa ke luar negeri sebagai santapan, bila tidak cocok dengan menu mancanegara.Sehingga kebanyakan Jamaah Haji banyak membawa rendang ke Mekkah.

Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatera Barat yaitu musyawarah, yang berangkat dari 4 bahan pokok, yaitu: Dagiang (Daging Sapi), merupakan lambang dari Niniak Mamak (para pemmpin Suku adat), Karambia (Kelapa), merupakan lambang Cadiak Pandai (Kaum Intelektual), Lado (Sabai), merupakan lambang Alim Ulama yang pedas, tegas untuk mengajarkan syarak (agama), Pemasak (Bumbu), merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Minang.

CNN : Rendang, Hidangan Terlezat No.1 di Dunia
Cita rasa rendang yang kaya membuatnya disukai siapa saja.

KOMPAS.com — Nasi goreng selalu disebut-sebut sebagai makanan khas Indonesia yang paling populer di dunia. Tetapi, siapa sangka, nasi goreng ternyata masih kalah populer dari hidangan khas Indonesia lainnya, yaitu rendang. Makanan khas Sumatera Barat ini bahkan menempati peringkat pertama dari 50 makanan yang dinilai paling lezat di dunia.

Fakta ini diperoleh setelah situs CNNGo.com merilis daftar 50 makanan terlezat di dunia (World’s 50 Most Delicious Foods) pada Juli lalu, dan meminta pembaca untuk memberikan voting di Facebook. Hasil dari pemungutan suara tersebut menghasilkan 10 makanan terlezat di dunia, yang urutannya adalah sebagai berikut:

1. Rendang, Indonesia
Makanan ini menggunakan bahan dasar santan dan daging sapi, yang direbus perlahan dengan campuran bumbu serai, lengkuas, bawang putih, kunyit, jahe, dan cabai. Setelah mendidih, apinya dikecilkan dan terus diaduk hingga santan mengental dan menjadi kering. Rendang biasa ditemukan di rumah makan Minang dan sering kali disajikan dalam acara-acara seremonial.

2. Nasi goreng, Indonesia
Dari mana sebenarnya asal nasi goreng? Indonesia, China, atau Thailand? Entahlah, yang pasti nasi goreng Indonesia-lah yang menempati urutan kedua pada daftar ini. Sedangkan nasi goreng Thailand ada di urutan ke-24. Pada dasarnya, nasi goreng terdiri atas nasi, telur, dan suwiran ayam goreng. Makanan ini sangat mudah diolah, tidak heran bila di Indonesia ada beragam jenis hidangan nasi goreng.

3. Sushi, Jepang
Bagaimana Jepang mengolah ikan dan nasi menjadi begitu lezat, itulah yang membuat sushi menjadi salah satu hidangan favorit masyarakat dunia. Ikan mentah tak kehilangan kesegarannya, dan ketika dikombinasikan dengan sayuran seperti mentimun, rasanya memang menyatu sempurna di lidah. Tak hanya lezat, sushi juga kerap dirangkai dengan begitu artistik sehingga mudah menggugah selera siapa saja.

4. Tom yam goong, Thailand
Sup yang segar ini menggunakan bahan udang, jamur, tomat, serai, lengkuas, dan daun jeruk purut. Rasanya yang asam, asin, pedas, dan manis memang membuatnya disukai banyak orang. Udang memang merupakan bahan yang paling sering digunakan, tetapi ada juga tom yam yang memakai ayam, ikan, dan campuran makanan laut lainnya.

5. Pad thai, Thailand
Anda yang kurang begitu menggemari makanan Thailand pun pasti akan menyukai hidangan yang satu ini. Mirip dengan Bulgogi, makanan Korea yang menempati urutan ke-23, pad thai merupakan hidangan kaya nutrisi yang disatukan menjadi satu sajian mi goreng yang mewah. Rahasianya ada pada sausnya, yang merupakan adonan asam jawa.

6. Som tam, Thailand
Som tam adalah salad Thailand yang menggunakan bahan utama pepaya. Untuk membuat salad ini, Anda perlu menyiapkan bahan lain seperti bawang putih dan cabai yang ditumbuk dengan lumpang dan ulekan. Kemudian air asam jawa, saus ikan, kacang, udang kering, tomat, air jeruk, adonan tebu, kacang buncis, dan segenggam parutan pepaya hijau.

7. Dim sum, Hongkong
Kunjungan ke Hongkong tak akan lengkap tanpa mencicipi hidangan makan siang tradisional dari Canton ini. Dim sum menjadi populer karena bisa dinikmati oleh siapa saja, mulai dari anak-anak, orang tua, masyarakat lokal, hingga turis. Bentuknya yang kecil bisa dimakan dalam sekali suap dan, karenanya, membuat orang tak akan pernah puas menyantap satu porsi saja.

8. Ramen, Jepang
Konon, orang Jepang mengatakan, semakin lezat ramen atau hidangan mi yang Anda nikmati, Anda harus menyeruput kuah kaldunya dengan lebih keras untuk menghormati juru masaknya. Ada berbagai macam cita rasa ramen, mulai dari tekstur mi-nya, topping-nya, bumbu-bumbu, dan terutama kaldunya. Hanya dari kuah kaldunya kita bisa menilai betapa “jenius” sang juru masak.

9. Peking duck, China
Bebek peking adalah hidangan otentik Shanghai, dan boleh dibilang merupakan makanan China yang paling populer dan menjadi favorit di segala tempat. Bebek dipanggang perlahan di dalam oven sehingga menghasilkan daging yang empuk dan kulit yang renyah. Begitu kaya cita rasa kulitnya sehingga banyak rumah makan menyajikan lebih banyak kulit daripada dagingnya. Bahkan, ada sajian khusus berupa crepe isi kulit bebek peking, daun bawang, dan saus hoisin yang manis.

10. Massaman curry, Thailand
Hidangan kari yang pedas, bersantan, manis, dan gurih. Biasanya menggunakan daging sapi, tetapi sering juga memakai ayam, bebek, atau tahu. Selain itu, masakan ini berisi kacang panggang, kentang, yang dimasak dengan daun salam, saus ikan, kayu manis, kapulaga, gula aren, adas, dan saus asam jawa, serta berbagai rempah dari Indonesia, seperti kunyit, cengkih, jintan, dan pala.

sumber :

http://female.kompas.com/read/2011/09/10/20395488/Rendang.Hidangan.Terlezat.di.Dunia

Penulis pada saat bertandang di Rumah Gadang Minangkabau

Mitos asal-usul nama Minangkabau

Perkataan Minangkabau merupakan gabungan dua perkataan, yaitu, minang yang bermaksud “menang” dan kabau untuk “kerbau”. Menurut lagenda, nama ini diperoleh dari peristiwa perselisihan di antara kerajaan Minangkabau dengan seorang Pangeran  Raja dari Jawa yang meminta pengakuan kekuasaan di Sumatera (Minangkabau). Untuk mengelakkan diri mereka dari berperang, maka rakyat Minangkabau yang dikenal akan kecerdikannya menganjurkan pertandingan adu kerbau di antara kedua pihak. Pangeran Jawa tersebut setuju dan memamerkan seekor kerbau yang besar dan ganas. Rakyat setempat pula hanya memamerkan seekor anak kerbau yang lapar tetapi dengan tanduk yang telah ditajamkan. Sehingga membuat Pangeran Jawa tertawa terpingkal-pingkal. Pada saat di adu, si anak kerbau yang kelaparan dengan tidak sengaja menyeruduk tanduknya di perut kerbau itu karena ingin mencari puting susu untuk meghilangkan lapar perutnya. Kerbau yang ganas itu pun mati dan rakyat minangkabau menyelesaikan perebutan tanah minangkabau dengan cara yang aman.

Budaya Minangkabau

Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat matrilineal yang terbesar di dunia, di mana harta pusaka diwaris menerusi nasab sebelah ibu. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa adat inilah yang menyebabkan ramai kaum lelaki Minangkabau untuk merantau di seluruh Nusantara untuk mencari ilmu atau mencari kemewahan dengan berdagang. Anak laki-laki seumur 7 tahun akan meninggalkan rumah mereka untuk tinggal di surau di mana mereka diajarkan ilmu agama dan adat Minangkabau. Anak remaja mereka diwajibkan untuk meninggalkan perkampungan mereka untuk mencari ilmu di sekolah atau menimba pengalaman dari luar kampung dengan harapan yang mereka akan pulang sebagai seorang dewasa yang lebih matang dan bertanggungjawab kepada keluarga dan nagari (kampung halaman). Tradisi ini berhasil membangkitkan beberapa masyarakat rantauan Minangkabau di Kota dan tempat-tempat lain di Indonesia. Namun ikatan mereka dengan Ranah Minang (Tanah Minang) masih terjaga dan dieratkan lagi. Satu contoh kawasan yang didiami oleh masyarakat Minangkabau dan masih memakai adat dan budaya Minangkabau adalah Negeri Sembilan di Malaysia. Selain dikenal sebagai orang pedagang, masyarakat Minang juga telah melahirkan beberapa penyair, penulis, negarawan, budayawan, Cendikiawan, dan para ulama. Ini mungkin terjadi karena budaya mereka yang memberatkan pencarian ilmu pengetahuan. Sebagai penganut agama Islam yang kuat, mereka cenderung kepada ide untuk menggabungkan ciri-ciri Islam dalam masyarakat yang modern. Selain itu, peranan yang dimainkan oleh para cendekiawan bersama dengan semangat bangga orang Minang dengan identitas mereka menjadikan Tanah Minangkabau, yaitu, Sumatra Barat, sebagai sebuah Penggagas utama dalam pergerakan kemerdekaan di Indonesia. Masyarakat Minang, terbagi kepada beberapa buah suku, yaitu, Suku Piliang, Bodi Caniago, Tanjuang, Koto, Mandailiang, Sikumbang, Malayu,Jambak dll. Kadang-kadang juga, keluarga yang sesuku tinggal dalam satu rumah besar yang dipanggil Rumah Gadang. Penggunaan bahasa Indonesia sudah biasa di kalangan masyarakat Minang, tetapi mereka masih boleh bertutur dalam bahasa ibunda mereka, yaitu, bahasa Minangkabau. Bahasa Minangkabau mempunyai bahasa yang mirip dengan bahasa Melayu tetapi berbeda dari segi sebutan dan juga tatabahasa hingga menjadikannya unik. contohnya : dimana-dima,mengapa-manga,belum-alun,pasar-pasa,jangan-jaan,pergi-pai,boleh-buliah,lengang-langang,sudah-alah,jatuh-jatuah. Salah satu aspek terkenal mengenai orang Minang adalah makanan tradisional mereka seperti rendang, Soto Padang (makanan sup), Sate Padang dan Dendeng Balado (daging dendeng berlada-cabai). Restoran Minangkabau yang sering digelar “Restoran Padang” dapat dijumpai merata Indonesia, negara-negara jiran serta Seluruh Dunia.

Upacara dan perayaan

foto tmii - festival busana adat minangkabau


Upacara dan perayaan Minangkabau termasuk:

  • Sunat rasul – upacara bersunat
  • Baralek – upacara perkawinan
  • Batagak pangulu – upacara pelantikan penghulu. Upacara ini akan berlansung selama 7 hari di mana seluruh kaum kerabat dan ketua-ketua dari kampung yang lain akan dijemput
  • Turun ka sawah – upacara kerja gotong-royong
  • Manyabik – upacara menuai padi
  • Hari Rayo – perayaan Hari Raya Idul fitri
  • Hari Rayo – perayaan Hari Raya Idul adha
  • Maanta pabukoan – mengantar makanan kepada ibu mertua sewaktu bulan Ramadan
  • Tabuik – perayaan Islam di Pariaman
  • Tanah Ta Sirah, pelantikan seorang Datuk (ketua puak) apabila Datuk yang sebelumnya meninggal dunia selang beberapa jam yang lalu (mudah didahului dengan upacara batagak pangulu)
  • Mambangkik Batang Tarandam, pelantikan seorang Datuk apabila Datuk yang sebelumya telah meninggal 10 atau 50 tahun yang lalu (mengisi jabatan yang telah lama dikosongkan).
  • Turun mandi – upacara memberkati bayi

Seni Minangkabau

Seni tradisonal Minangkabau termasuk:

  • Randai, teater rakyat dengan memasuki pencak, musik, tarian dan drama
  • Saluang Jo Dendang, serunai bambu dan nyanyian
  • Talempong musik bunyi gong
  • Tari Piring
  • Tari Payung Menceritakan kehidupan muda-mudi Minang yang selalu riang gembira
  • Tari Indang
  • Pidato Adat juga dikenali sebagai Sambah Manyambah (sembah-menyembah), upacara berpidato, dilakukan di setiap upacara-upacara adat, seperti rangkaian acara pernikahan (baralek), upacara pengangkatan pangulu (penghulu), dan lain-lain
  • Pencak Silat tarian yang gerakannya adalah gerakan silat tradisional Minangkabau

pesta budaya tabuik di Pariaman kampung saya

Kalo yang ini Tabuik Pariaman di Washington DC Amerika Serikat lho….

Kerajinan

Kerajinan tradisional Minangkabau termasuk:

Makna Lambang Minangkabau -Tuah Sakato

MAKNA LAMBANG

Tuah Sakato : Lambang Masyarakat Nan Sakato.
“Saciok bak Ayam Sadanciang bak Basi.”

Bola-Bulan Bintang : Lambang Tauhid Islam.
“Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah Alquran.”

Tanduk Kerbau : Lambang Kearifan, Kecerdikan, Ketekunan dan Keuletan.
“Alun takilek lah takalam, Hiduik baraka, Baukue jo bajangko.”

Payung Panji : Lambang Kemuliaan, Keamanan, dan Kesejahteraan Masyarakat.
“Bumi Sanang Padi Manjadi, Padi masak Jagung maupie, Anak Buah sanang santosa, Taranak bakambang biak, Bapak kayo Mandeh batuah, Mamak disambah urang pulo.”

Keris dan Pedang : Lambang kesatuan Hukum Adat dan Hukum Islam untuk menjamin ketertiban masyarakat.

Tombak : Lambang Ketahanan Masyarakat.
“Kampuang nan bapaga buek Nagari bapaga Undang Tagak basuku – mamaga suku Tagak bakampuang – mamaga kampuang Tagak ba nagari – mamaga nagari Marawa.

Antara Marawa Minangkabau dan Bendera Jerman

Bermula ketika sehari sebelum perayaan HUT RI 17 Agustus. Karena libur dan tidak ada kesibukan akhirnya saya putuskan untuk keliling kota tempat saya tinggal (Padang) dengan sepeda motor saya.Sepanjang perjalanan di setiap kantor Pemerintahan ataupun swasta, sekolah-sekolah, dan tempat-tempat strategis lainnya di hiasi dengan Marawa. Marawa merupakan sejenis umbul-umbul di Sumatera Barat (Minangkabau) yang digunakan untuk menyemarakkan acara pernikahan orang Minang atau acara-acara penting lainnya.Nah, saya merasa semakin memiliki kewajiban menjelaskan tentang Marawa.  Menjelang peringatan HUT RI ke 65 di Sumatera Barat selain dikibarkan bendera Merah-Putih juga banyak dikibarkan bendera Jerman (hitam-merah-kuning). Seolah-olah saya merasakan euphoria HUT RI ke 65 dari negeri Panzer Jerman.Baiklah, mari kita lihat gambar di bawah ini: ini lah yang di sebut Marawa Minangkabau

Pemasangan Merawa : Warna Hitam menyatu dengan tiang, Warna Merah ditengah, Warna Kuning dibagian luar.

Jam Gadang dibalut Marawa


Sementara itu kita lihat bendera Jerman

Tampak warna antara Marawa dan bendera Jerman sama. Tapi orang Minang lebih suka menyebutkan warna emas untuk warna kuning. Saya tidak tahu pasti ada hubungan kekerabatan apa antara orang Minang dan Jerman (hahahaa…), tapi saya rasa ini kebetulan saja jadi tidak perlu dipertanyakan siapa yang meniru siapa.

Berdasarkan catatan sejarah Jerman menggunakan bendera warna hitam-merah –kuning ini sejak tahun 1832, dan di resmikan setelah PD I 1918. Dalam perjalanannya bendera ini memiliki banyak corak berbeda dengan marawa Minangkabau yang hanya satu corak.

Baiklah kita tinggalkan Jerman, sekarang kita lihat makna apa yang terkandung dalam Marawa Minangkabau. Marawa dengan tiga warna nya melambangkan tiga hal

1. Tiga wilayah adat Minangkabau
2. Tiga kekuatan masyarakat Minangkabau
3. Tiga pola kepemimpinan Minangkabau

Tiga wilayah adat ini maksudnya adalah tiga daerah di Minangkabau yang di yakini asal nenek moyang Minangkabau. Sehingga ketika dilakukan pengembangan ke daerah lainnya maka disebutlah sebagai daerah rantau. Makna dalam marawa tersebut terhadap tiga daerah adapt tersebut adalah sebagai berikut :

  • Warna kuning, melambangkan Luhak Nan Tuo (Luhak yang Tua, yaitu daerah Tanah Datar)
  • Warna merah, melambangkan Luhak Nan Tangah (Luhak yang Tengah, daerah Agam)
  • Warna hitam, melambangkan Luhak nan Bungsu (Luhak yang Bungsu, yaitu daerah 50 Kota)

Hal ini pernah dituangkan dalam sebuah kaset oleh Yus. Datuak Parpatiah dalam kasetnya berjudul ”Pitaruah Ayah”

Wahai nak kanduang, kata ayah
Janganlah bosan mendengarkannya
Bercerita takkan lama
Hanya karena berat menyimpannya

Jika anak harus menimbang
Simaklah dengan dalil mata batin
Adapun tubuh manusia,
terbangun dari tiga rongga
Pertama rongga di atas
Kedua rongga di tengah
Ketiga rongga di bawah

Yang dimaksud rongga di atas,
ialah ruang di kepala.
Berkeinginan ilmu pengetahuan

Tersebut rongga di tengah,
yaitu dada, rumpun hati
Sangkar iman, lubuk agama,
Inilah pedoman jurumudi.

Yang mana pula rongga di bawah.
Lambung musti diisi
Perut minta dikenyangkan.

Umpamanya alam Minang Kabau,
yang terdiri dari tiga luhak.
Bernama luhak nan Tiga.

Pertama Luhak nan Tuo
Lambang Kucing warnanya kuning
Tinggi pengaruh berwibawa
Kuning tanda kemenangan.
Adapun arti yang terkandung
Orang cerdas adikuasa
Sumber ilmu pengetahuan
Science-tehnologi kata orang sekarang

Kedua luhak nan Tengah
Simbol merah Harimau Campa
Berani karena benar
Hukum tidak makan banding
bernama perintah Syarak.
Penampilan baik, tampanpun ada
Terserah cara memasangkan
Moral-spiritual cara baru

Ketiga, luhak nan bungsu
Corak hitam, lambang kambing hutan
Rela dan sabar berusaha
Rumput tak ada tentang daun
Karena padi makanya jadi
Karena emas makanya kemas
Berbicara harus dengan uang
Berjalan tentu dengan kain
Jika bekerja harus makan
Ekonomi bahasa canggihnya

Itulah tali sehelai pilin tiga
Tungku nan tiga sejerangan
Jika kita ingin sempurna
Menjadi orang beharga
Sejalan rohani dengan jasmani
Dunia dapat, akhirat tercapai

Makna yang terakhir dari marawa ini ialah tiga pola kepemimpinan di Minangkabau yang di sebut “Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin“, terdiri dari Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai.

Tungku tigo sajarangan, maksudnya ketika memasak diperlukan tiga buah batu sebagai tungku untuk mengokohkan tempat kuali atau periuk. Begitu juga dengan kepemimpinan di minangkabau, ketiganya sebagai pilar penyangga masyarakat Minangkabau. Jika salah satunya hilang, maka akan terjadi kesenjangan.

Tali Tigo Sapilin diibaratkan tiga utas tali yang dipilin menjadi satu,sehingga menjadi kuat. Tali Tigo Sapilin adalah tamsil pedoman ketiga kepemimpinan masyarakat, antara lain aturan adat, agama dan undang-undang.

  • Niniak mamak adalah penghulu adat di dalam kaumnya.
  • Alim ulama adalah orang yang memiliki ilmu agama yang akan membibing masyarakat mengenai agama.
  • Cadiak pandai adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan dapat menyelesaikan masalah dengan cerdik serta menguasai undang-undang. Sehingga sebagai tempat bertanya bagi masyarakat dan pendamping bagi Niniak mamak dan Alim ulama.

Begitulah tungku tigo sajarangan sebagai pilar penyangga masyarakat minang yang digambarkan dalam marawa minangkabau.

Agama Orang Minang Mayoritas Islam

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat

Mesjid Raya Minangkabau di Kota Padang

Kebanyakan orang bila diberitahu bahwa masyarakat Minang merupakan penganut Islam yang kuat merasa bingung karena anggapan mereka ialah sebuah masyarakat yang mengikut sistem saka (matriarchal) akan sering berselisih dengan paham Islam yang lebih patriarkal. Namun sebenarnya, terdapat banyak persamaan di antara paham Islam dan Minangkabau (lebih lagi pada masa kini) sehingga menjadi sulit untuk orang Minang membedakan satu dari yang lain.

Seperti contoh:

  • Paham Islam: Menimba ilmu adalah wajib.
Paham Minangkabau: Anak-anak lelaki mesti meninggalkan rumah mereka untuk tinggal dan belajar di surau (langgar, masjid).
  • Paham Islam: Mengembara adalah diwajibkan untuk mempelajari islam dan mencari ilmu serta menyiarkan agama islam di dunia untuk meningkatkan iman kepada Allah.
Paham Minangkabau: Remaja mesti merantau (meninggalkan kampung halaman) untuk menimba ilmu dan bertemu dengan orang dari berbagai tempat untuk mencapai kekuasaan, dan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Falsafah merantau juga berarti melatih orang Minang untuk hidup berdikari, karena ketika seorang pemuda Minang berniat merantau meninggalkan kampungnya, dia hanya membawa bekal seadanya.
  • Paham Islam: Tiada wanita yang boleh dipaksa untuk Menikah dengan lelaki yang dia tidak mau Menikah.
Paham Minangkabau: Wanita menentukan dengan siapa yang mereka ingin menikah.
  • Paham Islam: Ibu berhak dihormati 3 kali lebih dari bapak.
Paham Minangkabau: Bundo Kanduang (Ibu yang dituakan) adalah pemimpin/pengambil keputusan di Rumah Gadang.
Ciri-ciri Islam begitu mendalam dalam adat Minang sehingga mereka yang tidak mengamalkan Islam dianggap telah keluar dari masyarakat Minang. Contohnya Samuel Koto – anggota DPR-RI yang non muslim dianggap bukan orang minang, walaupun sebenarnya dia murtad.

Foto-foto Keindahan Mesjid Minangkabau Tempoe Doloe Tidak Kalah Dengan Pura di Bali


Salah satu keuntungan – untuk tidak mengatakan kelebihan – kolonial Belanda ketika menduduki Nusantara (termasuk Minangkabau) adalah arsip yang boleh dikatakan baik dan banyak, setidaknya untuk ukuran zaman itu. Sehingga tidaklah mengherankan apabila sejarah Minangkabau menjadi terselamatkan karena “kerja-kreatif” kolonial ini, mengabadikan event sejarah ataupun tinggalan-tinggalan dalam bentuk-bentuk catatan-text dan photography. Salah satu diantaranya adalah photo-photo masjid/surau Minangkabau yang eksis/memiliki fungsi sosial-kemasyarakatan pada masa-masa tahun 1900-an awal. Photo-photo ini diambil dari J. Bachir yang mendedikasikan dirinya untuk “mengupload” khazanah Minangkabau Tempoe Doeloe dalam bentuk photografy. Dari 20 photo yang diedit, hanya 11 buah photo yang diposting. Sejarah masing-masing masjid yang seharusnya dideskripsikan, masih dalam tahap identifikasi dan penelitian lebih lanjut.

Mesjid Minangkabau nan indah, seandainya saja Gubernur Sumatera Barat, Walikota, Bupati beserta Kepala Dinas Pariwisatanya dan anggota DPRD Sumbar yang sering studi banding atau reses ke Provinsi Bali memiliki ide untuk mengembalikan bentuk dan keindahan mesjid seperti dulu pada saat sekarang secara fisik, menyewa atau melakukan kerjasama antar Pemerintah Propinsi Sumbar dan Bali dengan memperkerjakan pakar taman berasal dari Bali untuk Sumatera Barat, tentunya pariwisata di Sumatera Barat tidak akan kalah dengan Bali dan negara Thailand. Oleh karena bentuk Pura di Bali serta Ukiran Kayu di rumah adat bali dan ukiran kayu di rumah bagonjong tidaklah ada bedanya. Serta keindahan alam di Sumatera Barat yang belum pernah di poles dibanding dengan keindahan alam dibali pun tidaklah ada bedanya jika aparat pemerintah serius untuk mengembangkan pariwisata Sumatera Barat secara profesional.

Minangkabau Perantauan

Minangkabau perantauan merupakan istilah untuk orang Minangkabau yang hidup di luar wilayah Sumatera Barat, Indonesia. Merantau merupakan proses interaksi masyarakat Minangkabau dengan dunia luar. Kegiatan ini merupakan sebuah petualangan pengalaman dan geografi, dengan meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri orang. Keluarga yang telah lama mempunyai tradisi merantau, biasanya mempunyai saudara di hampir semua wilayah di Indonesia ,Malaysia dan Mancanegara. Keluarga yang paling kuat dalam mengembangkan tradisi merantau biasanya datang dari keluarga peniaga-pengrajin dan ahli  ilmu agama.

Para perantau biasanya telah pergi merantau sejak usia belasan tahun, baik sebagai peniaga ataupun penuntut ilmu. Bagi sebagian besar masyarakat Minangkabau, merantau merupakan satu cara yang ideal untuk mencapai kematangan dan kekayaan. Dengan merantau tidak hanya harta kekayaan dan ilmu pengetahuan yang didapati, namun juga prestise dan kehormatan individu di tengah-tengah lingkungan adat.

Dari apa yang diperoleh, para perantau biasanya mengantar sebagian hasilnya ke kampung halaman untuk kemudian pekerjanya dalam usaha keluarga, yakni dengan memperluaskan pemilikan sawah, memegang untuk memandu pemprosesan lahan, atau menjemput sawah-sawah yang tergadai. Uang dari para perantau biasanya juga dipergunakan untuk memperbaiki sarana-sarana nagari, seperti masjid, jalan, ataupun pematang sawah. Apalagi sudah trendnya zaman sekarang, perantau membawa sanak familinya untuk bekerja ditempat perantau membuka usaha contohnya rumah makan daerah lain atau di luar negeri pada saat Lebaran.

Jumlah Perantau

Etos merantau orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di Indonesia. Dari hasil kajian pada tahun 1961 terdapat sekitar 32% orang Minang yang tinggal di luar Sumatera Barat. Kemudian pada tahun 1971 jumlah itu meningkat menjadi 44% . Berdasarkan  tahun 2000, suku Minang yang tinggal di Sumatra Barat berjumlah 3.7 juta orang, dengan jumlah hampir satu perdua orang Minang berada di perantauan. Sejak masa Perang Paderi, mobilitas penghijrahan suku Minangkabau dengan sebagian besar terjadi antara tahun 1958 hingga tahun 1978.

Gelombang Rantau

Merantau pada etnik Minang telah berlangsung cukup lama. Sejarah mencatat penghijrahan pertama berlaku pada abad ke-7, di mana banyak pedagang-pedagang emas yang berasal dari pedalaman Minangkabau melakukan perdagangan di muara Jambi, dan terlibat dalam pembentukan Kerajaan Melayu. Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke-14, di mana banyak keluarga Minang yang berpindah ke pantai timur Sumatera. Mereka mendirikan koloni-koloni perdagangan di Batubara, Pelalawan, hingga melintasi selat ke Penang dan Negeri Sembilan, Malaysia. Bersamaan dengan gelombang penghijrahan ke arah timur, juga terjadi perpindahan masyarakat Minang ke pesisir pantai barat Sumatera. Di sepanjang pesisir ini perantau Minang banyak tinggal di Meulaboh, Aceh tempat keturunan Minang dikenali dengan sebutan Aneuk Jamee, Barus, hingga Bengkulu.Setelah Kesultanan Melayu Melaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, banyak keluarga Minangkabau yang berpindah ke Sulawesi Selatan. Mereka menjadi pendukung Kesultanan Gowa, sebagai peniaga dan administrasi kerajaan serta Penyebar agama islam di Sulawesi. Datuk Makotta bersama isterinya Tuan Sitti, sebagai cikal bakal keluarga Minangkabau di Sulawesi. Gelombang penghijrahan seterusnya terjadi pada abad ke-18, yaitu ketika Minangkabau mendapatkan hak istimewa untuk mendiami kawasan Kerajaan Siak.

Pada masa penjajahan Hindia-Belanda, penghijrahan besar-besaran kembali terjadi pada tahun 1920, ketika perkebunan tembakau di Deli Serdang, Sumatera Timur mulai dibuka. Pada masa kemerdekaan, Minang perantauan banyak mendiami kota-kota besar di Jawa. Pada tahun 1961 jumlah perantau Minang terutama di kota Jakarta meningkat 18.7 kali berbanding dengan tingkat pertambahan penduduk kota itu yang hanya 3.7 kali. Kini Minang perantauan hampir tersebar di seluruh dunia.

Perantauan Intelek

Pada akhir abad ke-18, banyak pelajar Minang yang merantau ke Makkah untuk mendalami agama Islam, antaranya Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Setibanya di tanah air, mereka menjadi penyokong kuat gerakan Paderi dan pengedaran pemikiran Islam yang murni (pembaharu-pencerah) di seluruh Minangkabau dan Mandailing (Tapanuli Selatan-Sumatera Utara). Gelombang kedua perantauan ke Timur Tengah berlaku pada awal abad ke-20, yang dimotori oleh Abdul Karim Amrullah, Tahir Jalaluddin, Muhammad Jamil Jambek, dan Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Selain ke Timur Tengah, pelajar Minangkabau juga banyak yang merantau ke Eropa. Mereka antara lain Abdul Rivai, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Roestam Effendi, dan Nazir Pamuntjak. Intelektual lain, Tan Malaka, hidup mengembara di negara Eropa dan Asia, membina rangkaian pergerakan kemerdekaan Asia. Semua pelajar Minang tersebut, yang merantau ke Eropa sejak akhir abad ke-19, menjadi pejuang kemerdekaan dan pengagas Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebab Merantau

Faktor Budaya

Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini, salah satu penyebabnya ialah sistem kekerabatan matrilineal. Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum wanita sedangkan hak kaum lelaki dalam hal ini cukup kecil. Selain itu, setelah masa akil baligh para pemuda tidak lagi dapat tidur di rumah orang tuanya, karena rumah hanya diperuntukkan untuk kaum wanita beserta suaminya, dan anak-anak.

Para perantau yang pulang ke kampung halaman, biasanya akan menceritakan pengalaman merantau kepada anak-anak kampung. Daya tarik kehidupan para perantau inilah yang sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Minangkabau sewaktu kecil. Siapa pun yang tidak pernah mencoba pergi merantau, maka ia akan selalu diejek-ejek oleh teman-temannya.Hal inilah yang menyebabkan kaum lelaki Minang memilih untuk merantau. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tetapi juga kerana ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.

Menurut Rudolf Mrazek, sosiologi Belanda, dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme dan anti-parokialisme melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas, hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat Minangkabau.Semangat untuk mengubah nasib dengan mengejar ilmu dan kekayaan, serta pepatah Minang yang mengatakan Ka ratau madang di hulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena dikampung tidak berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda.

Faktor Ekonomi

Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber utama tempat mereka hidup boleh menafkahi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam yang menjadi pendapatan utama mereka itu tak cukup lagi memberi keputusan untuk memenuhi keperluan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga. Selain itu adalah tumbuhnya kesempatan baru dengan dibukanya daerah perkebunan dan perkotaan. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Untuk trik pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau menetap terlebih dahulu di rumah saudara yang dianggap sebagai induk semang. Para perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pebisnis kecil (panggaleh).

Merantau Dalam Sastra

Fenomena merantau dalam masyarakat Minangkabau, ternyata sering menjadi sumber inspirasi bagi para pekerja seni, terutama sastrawan. Hamka, dalam novelnya Merantau ke Deli, bercerita tentang pengalaman hidup perantau Minang yang pergi ke Deli dan menikah dengan perempuan Jawa. Novelnya yang lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga bercerita tentang kisah anak perantau Minang yang pulang kampung. Di kampung, ia menghadapi kendala oleh masyarakat adat Minang yang merupakan induk bakonya sendiri. Selain novel karya Hamka, novel karya Marah Rusli, Siti Nurbaya dan Salah Asuhannya Abdul Muis juga menceritakan kisah perantau Minang. Dalam novel-novel tersebut, dikisahkan mengenai persinggungan pemuda perantau Minang dengan adat budaya Barat. Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, mengisahkan perantau Minang yang belajar di pesantren Jawa dan akhirnya menjadi orang yang berkuasa. Dalam bentuk yang berbeda, lewat karyanya yang berjudul Kemarau, AA Navis mengajak masyarakat Minang untuk membina kampung halamannya yang banyak di tinggal pergi merantau.

Novel yang bercerita tentang perantau Minang tersebut, biasanya terkandung kritikan sosial dari penulis kepada adat budaya Minang yang kolot dan tertinggal. Selain dalam bentuk novel, kisah perantau Minang juga dikisahkan dalam film Merantau karya sutradara Inggris, Gareth Evans.

Masyarakat Minangkabau di Negeri Sembilan

Rumah Gadang Minangkabau di Negeri Sembilan – Malaysia

[Negeri Sembilan (Malaysia)]

Warna benderanya pun sama dengan marawa minangkabau

Pada permulaan abad ke-14, orang-orang Minangkabau mula tiba di Negeri Sembilan melalui Melaka dan sampai ke Rembau. Orang Minangkabau ini lebih kaya daripada penduduk asal yaitu, Orang Asli (Melayu) dan berkuasa tinggal secara damai dengan mereka. Dengan itu berlakulah pernikahan antara orang-orang Minangkabau dengan penduduk asli dan dari keturunan mereka dinamakan suku Biduanda. Suku Biduanda ini adalah pewaris asal Negeri Sembilan dan apabila hendak memilih seorang pemimpin maka hanya mereka dari suku Biduanda inilah yang akan dipilih. Orang-orang Minangkabau yang datang kemudian adalah dari suku kampung-kampung asal mereka di Minangkabau. Pada peringkat awal kebanyakan yang tiba adalah dari Tanah Datar dan Payakumbuh.

Dari suku Biduanda inilah asalnya pembesar-pembesar Negeri Sembilan yang dipanggil ‘Penghulu’ dan kemudiannya ‘Undang’. Sebelum wujudnya institusi Yang di-Pertuan Besar, Negeri Sembilan berada di bawah naungan kerajaan Melayu Johor.

Orang-orang Minangkabau dan Kiprahnya

Dari kiri: Lt. Adnan Saidi, Mohammad Hatta, Yusof Ishak dan Dr Sheikh Muzaphar Shukor

Suku Minang terkenal sebagai suku yang terpelajar (cadiak pandai), oleh sebab itu pula mereka menyebar di seluruh Indonesia bahkan mancanegara dalam berbagai macam profesi dan keahlian, antara lain sebagai ahli politik, pengarang, ulama, pengajar, wartawan, dan pedagang. Berdasarkan jumlah penduduk yang relatif kecil (2,7% dari penduduk Indonesia), Minangkabau merupakan salah satu suku tersukses dengan banyak pencapaian. Majalah Tempo dalam edisi khas tahun 2000 mencatatkan bahawa 6 daripada 10 tokoh penting Indonesia pada abad ke-20 merupakan orang Minang.

Kharismatik dan kejayaan orang Minang banyak diraih ketika berada di perantauan. Sejak dulu mereka telah pergi merantau ke berbagai daerah di Jawa, Sulawesi, semenanjung Malaysia, Thailand, Brunei, hingga Filipina. Pada tahun 1390, Raja Bagindo mendirikan Kesultanan Sulu di Philipina Selatan. Pada abad ke-14 orang Minang melakukan penghijrahan ke Negeri Sembilan, Malaysia dan mengangkat raja untuk negeri baru tersebut dari kalangan mereka. Raja Melewar merupakan raja pertama Negeri Sembilan yang diangkat pada tahun 1773. Pada akhir abad ke-16, ulama Minangkabau Dato Ri Bandang, Dato Ri Patimang, dan Dato Ri Tiro, menyebarkan Islam di Indonesia timur dan mengislamkan Kerajaan Gowa. Setelah gagal merebut tahta Kesultanan Johor, pada tahun 1723 putra Pagar Ruyung yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Shah mendirikan Kerajaan Siak di darat Riau.

Kedatangan reformis Muslim yang menuntut ilmu di Kaherah dan Makkah mempengaruhi sistem pendidikan di Minangkabau. Sekolah Islam modern Sumatera Thawalib dan Diniyah Putri banyak melahirkan aktivis yang banyak berperanan dalam proses kemerdekaan, antara lain A.R Sutan Mansur, Siradjuddin Abbas, dan Djamaluddin Tamin.

Pada tahun 1920 – 1960, banyak politisi Indonesia berpengaruh lahir dari ranah Minangkabau. Menjadi salah satu motor perjuangan kemerdekaan Asia, pada tahun 1923 Tan Malaka dipilih menjadi wakil Komunis Antara bangsa untuk wilayah Asia Tenggara. Politisi Minang lain Muhammad Yamin, menjadi pelopor Sumpah Pemuda yang menyatukan seluruh rakyat Hindia-Belanda. Di dalam Volksraad, politisi asal Minang-lah yang paling vokal. Mereka antara lain Jahja Datoek Kajo, Agus Salim, dan Abdul Muis. Tokoh Minang lain Mohammad Hatta, menjadi ko-proklamator kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan, empat orang Minangkabau duduk sebagai perdana menteri (Sutan Syahrir, Mohammad Hatta, Abdul Halim, Muhammad Natsir), seorang sebagai Presiden (Assaat), seorang sebagai wakil presiden (Mohammad Hatta), seorang menjadi pimpinan parlemen (Chaerul Saleh), dan puluhan yang menjadi menteri, di antara yang cukup terkenal ialah Azwar Anas, Fahmi Idris, dan Emil Salim. Emil bahkan menjadi orang Indonesia yang paling lama duduk di kementerian RI. Minangkabau, salah satu dari dua etnik selain etnik Jawa, yang selalu mempunyai wakil dalam setiap kabinet Republik Indonesia. Selain di pemerintahan, di masa Demokrasi Liberal Parlemen Indonesia didominasi oleh ahli politik Minang. Mereka tergabung kedalam aneka macam parti dan ideologi, Islamiah, nasionalis, komunis, dan sosialis.

Di samping menjabat gubernur wilayah Sumatera Tengah / Sumatera Barat, orang-orang Minangkabau juga duduk sebagai gubernur wilayah lain di Indonesia. Mereka adalah Datuk Djamin (Jawa Barat), Daan Jahja (Jakarta), Muhammad Djosan dan Muhammad Padang (Maluku), Anwar Datuk Madjo Basa Nan Kuniang dan Moenafri (Sulawesi Tengah), Adenan Kapau Gani (Sumatera Selatan), Eni Karim (Sumatera Utara), serta Djamin Datuk Bagindo (Jambi).

Beberapa partai politik Indonesia didirikan oleh ahli politik Minang. PARI dan Murba didirikan oleh Tan Malaka, Partai Sosialis Indonesia oleh Sutan Sjahrir, PNI Baru oleh Mohammad Hatta, Masyumi oleh Mohammad Natsir, Perti oleh Sulaiman ar-Rasuli, dan Permi oleh Rasuna Said. Selain mendirikan partai politik, ahli politik Minang juga banyak menghasilkan buku-buku yang menjadi bacaan wajib para aktivis pergerakan. Buku-buku bacaan utama itu antara lain, Naar de Republik Indonesia, Madilog, dan Massa Actie karya Tan Malaka, Alam Pikiran Greek dan Demokrasi Kita karya Hatta, Fiqhud Dakwah dan Capita Selecta karya Natsir, serta Perjuangan Kita karya Sutan Sjahrir.

Penulis Minang banyak mempengaruhi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Mereka mengembangkan bahasa melalui berbagai macam karya tulis dan kemahiran. Marah Rusli, Abdul Muis, Idrus, Buya Hamka-ahli tafsir Alquran yang terkenal sampai ke Arab Saudi dan pencetus melarang Agama Ahmadiyah untuk naik Haji di Mekkah karena dianggap sesat, dan AA Navis berkarya melalui penulisan novel. Nur Sutan Iskandar novelis Minang lain, tercatat sebagai penulis novel Indonesia yang paling produktif. Chairil Anwar dan Taufik Ismail berkarya lewat penulisan puisi. Serta Sutan Takdir Alisjahbana, novelis sekaligus ahli tata bahasa, melakukan proses pemodrenan bahasa Indonesia sehingga bisa menjadi bahasa perpaduan nasional. Novel-novel karya sastrawan Minang seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Layar Terkembang, dan Robohnya Surau Kami telah menjadi bahan bacaan wajib bagi pelajar sekolah di Indonesia dan Malaysia.

Selain melalui karya sastra, pengembangan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh wartawan Minang. Mereka antara lain Djamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan Ani Idrus. Di samping Abdul Rivai yang digelar sebagai Perintis Akhbar Indonesia, Rohana Kudus yang menerbitkan Sunting Melayu, menjadi wartawan sekaligus pemilik akbar wanita pertama di Indonesia.

Di Indonesia dan Malaysia, disamping orang Cina, orang Minang juga terkenal sebagai pengusaha ulung. Banyak pengusaha Minang sukses berbisnis di bidang perdagangan tekstil, rumah makan, perhotelan, pendidikan, dan rumah sakit. Di antara figur pengusaha sukses adalah, Abdul Latief (pemilik TV One), Basrizal Koto (pemilik ladang lembu terbesar di Asia Tenggara), Hasyim Ning (pengusaha perakitan mobil pertama di Indonesia), Chairul Tanjung (pemilik Trans TV dan Trans 7) dan Tunku Tan Sri Abdullah (pemilik Melewar Corporation Malaysia)

Banyak juga orang Minang yang berhasil di dunia hiburan, baik sebagai pengarah, penerbit, penyanyi, maupun artis dan aktor. Sebagai pengarah dan penerbit ada Usmar Ismail, Asrul Sani, Djamaludin Malik, dan Arizal. Arizal bahkan menjadi pengarah dan pembuat film yang paling banyak menghasilkan karya. Sekurang-kurangnya 52 film dan 8 sinetron dalam 1.196 episode telah dihasilkannya. Film-film karya sineas Minang, seperti Lewat Djam Malam, Gita Cinta dari SMA, Naga Bonar, Pintar Pintar Bodoh, dan Maju Kena Mundur Kena-Warkop DKI, menjadi film terbaik yang banyak digemari penonton.

Artis dan penyanyi Minang yang terkenal beberapa di antaranya adalah Ade Irawan, Dorce Gamalama, Eva Arnaz, Nirina Zubir, Marshanda, Dude Herlino, Afgan,Bunga Citra Lestari, Olga Syahputra dan Titi Sjuman. Pekerja seni yang lain, ratu kuis Ani Sumadi, menjadi pelopor dunia perkuisan di Indonesia. Karya-karya beliau seperti kuis Berpacu Dalam Melodi, Gita Remaja, Siapa Dia, dan Tak Tik Boom menjadi salah satu acara kegemaran keluarga Indonesia. Di samping mereka, Sukarno M. Noer beserta putranya Rano Karno, mungkin menjadi pekerja hiburan paling berjaya di Indonesia, baik sebagai aktor maupun sutradara film. Pada tahun 1993, Karno’s Film syarikat film milik keluarga Sukarno, menghasilkan film dengan kedudukan tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia, Si Doel Anak sekolahan.

Di luar negeri, orang Minangkabau juga dikenali sumbangannya. Di Malaysia dan Singapura, antara lain Tuanku Abdul Rahman (Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia), Yusof bin Ishak (Presiden pertama Singapura), Zubir Said (komposer lagu kebangsaan Singapura Majulah Singapura), Sheikh Muszaphar Shukor (angkasawan pertama Malaysia), Tahir Jalaluddin Al-Azhari, dan Adnan bin Saidi. Di negeri Belanda, Roestam Effendi yang mewakili Partai Komunis Belanda, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah duduk sebagai ahli parlemen. Di Arab Saudi, hanya Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, orang non-Arab yang pernah menjadi imam besar Masjidil Haram, Makkah yang merupakan guru dari pendiri Organisasi Islam Besar di Indonesia Muhammadiyah KH.Ahmad Dahlan (Sang Pencerah) dimana Muhammadiyah menjadi jati diri Minangkabau saat ini.

Foto-foto Suasana Sumatera Barat

Pemandangan Sumatera Barat

Nagari Priangan – Tanah Datar
__________________

Seorang pecundang mengatakan bahwa bangsa Minangkabau adalah bangsa pemimpi yang suka berpangku tangan, tapi kami bangsa Minangkabau berkata, ya kami adalah pemimpi, pemimpi untuk jadi besar dan sukses, itulah sebabnya kami punya tradisi dimana setiap anak lelaki diakhir baligh-nya akan berjalan meninggalkan tanah kelahirannya mencari jati diri dan posisi di masyarakat dan pemerintahan, dan torehan mimpi mimpi bangsa Minangkabau itu bisa dilihat dari sejarah bangsa ini hingga sekarang.
bagak no está en línea Reply With Quote

Jalan Layang Kelok 9

Progres Pembangunan Jembatan Kelok 9
* jembatan berkelok pertama di Indonesia

dari kejauhan proses pengerjaan

melihat dari dekat

Proyek jalan layang Kelok 9 di Kabupaten Limapuluh Kota, menghubungkan Sumatra Barat dengan Riau Kelok Sembilan (konstruksi jalan tersulit didunia)


kelok 9,, walaupun malam jam 11.. tetep nampak seperti kota…

nih yang lebih detail..

*foto dari berbagai sumber