Category Archives: Dakwah Islam

Dasyatnya Saat Kematian



Perkarangan kuburan

Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang tuan-tuan tangisi boleh berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada tuan-tuan, niscaya tuan-tuan akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri tuan-tuan sendiri”. (Imam Ghazali mengutip atsar Al-Hasan).

Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :

1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan risiko-risiko kematian.
Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kukuh atau berlindung di sebalik teknologi kedoktoran yang canggih serta ratusan doktor terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:7 8)

3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62: 8)

4. Kematian datang secara tiba-tiba.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menucuk di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bahagian kain sutera yang terobek ?” (HR Bukhari)

Pendapat para sahabat Rasulullah SAW .

Ka’b al-Ahbar r.a berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itu pun membawa semua bahagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa itu”.

Imam Ghazali rah, berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut meruntum jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bahagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerai-ceraikan dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Imam Ghazali rah juga mengambil satu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka boleh mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang wanita yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata wanita tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeza untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran masa seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang.

Rasa sakit sakaratul maut akan di alami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkatan rasa sakit, ini tidak berkait dengan tingkatan keimanan atau kezaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak.

Demikianlah perancangan Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

Sakaratul Maut Orang-orang Zalim

Imam Ghazali mengambil satu riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran rupa Malaikatul Maut sebagai seorang lelaki bertubuh besar berkulit gelap, rambut menegak, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pengsan tidak sadarkan diri. Setelah sedar Ibrahim as pun berkata bahawa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari semua itu.

Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.

Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan seksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

Sebaliknya Imam Ghazali mengatakan bahawa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda yang tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.

Semoga Allah memberikan taufik untuk kita amal dan sampaikan.

MENGAKUI PLURALITAS AGAMA – MENOLAK PLURALISME AGAMA


Nurcholish Madjid – Bapak Pluralisme

Gusdur – Bapak Pluralisme

Sudah pernah mendengar istilah Pluralisme Agama? Wah….mahluk jenis apakah pluralisme agama itu?

Bagi masyarakat awam seperti saya ini perlu memahami dengan mudah pengertian dari Pluralisme Agama, sehingga dengan modal pengetahuan tersebut kita tidak “asbun”.

Ada Pluralitas Agama…ada Pluralisme Agama,,,! Ingat…jangan salah istilah….!

Pluralitas Agama:

Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan (reff: Fatwa Majelis Ulama Indonesia).

Definisi pluralitas agama tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa adalah suatu keniscayaan bagi kita di Indonesia untuk hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Pluralitas agama juga diartikan menerima dan mengakui keberagaman agama. Seorang Muslim mengakui bahwa disekelilingnya ada agama-agama lain selain Islam, tetapi pengakuan tersebut terbatas pada keberagaman agama, bukan kebenaran agama lain. Dalam bahasa yang sederhana, pluralitas agama mengacu pada pengertian bahwa disekitar kita ada pemeluk agama lain selain agama kita.

Pluralisme Agama:

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga. (reff: Fatwa Majelis Ulama Indonesia).

Pluralisme Agama didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga – karena kerelativannya – maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dari agama lain; atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.(reff: DR. Adian Husaini: artikel “Pluralisme agama: Parasit bagi agama-agama”)

DR. Syamsuddin Arif menyebutkan bahwa bagi kaum pluralis, pluralisme agama tidak sekadar mengakui keberadaan berbagai agama, mereka menganggap semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun ‘porsinya’ tidak sama. Semuanya menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan, walaupun ‘resepnya’ berbeda-beda. Terdapat banyak jalan menuju Tuhan. (DR. Syamsudin Arif: “Orientalis & Diabolisme Pemikiran”). Masih menurut DR. Syamsuddin Arif, di Indonesia pluralisme kerap dipadankan dengan inklusivisme. Pada hakikatnya, Inklusivisme cukup berbahaya. Ia mengajarkan bahwa agama Anda bukanlah satu-satunya jalan keselamatan. Tidak boleh Anda menganggap penganut agama lain bakal penghuni neraka.

Nah…setelah mengetahui makna pluralitas agama dan pluralisme agama menurut para pakar tersebut, buat saya sangat jelas, sebagai Muslim saya menolak pluralisme agama, tapi mengakui pluralitas agama. Saya meyakini bahwa cuma orang Islam yang pasti bakal masuk surga (dengan memenuhi semua persyaratan untuk masuk surga tentunya) sedangkan pemeluk agama lain pasti masuk neraka. Meskipun demikian, karena mengakui pluralitas agama, saya akan bersikap baik dan toleran kepada pemeluk agama lain, tidak menyakiti, tidak menghina, tidak menzolimi, dengan tetap mengacu pada aturan-aturan dalam Islam. Bagi pemeluk agama lain, seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan lain-lain silakan meyakini bahwa cuma pemeluk agama Anda yang pasti masuk surga dan pemeluk agama lain akan masuk neraka, tapi untuk urusan duniawi yang tidak berhubungan dengan prinsip agama, mari kita sama-sama toleran, saling menghagai dan menghormati. Cukup fair kan?

Seorang Muslim jangan tersinggung jika ada pemeluk Kristen, Katolik, hindu atau Budha yang mengklaim cuma agamanya saja yang benar, begitu juga dengan pemeluk agama lain jangan tersinggung jika seorang Muslim mengatakan cuma Islam yang benar. Fair kan..?

Oh yaa….MUI dalam fatwanya Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tanggal 29 Juli 2005
Tentang Pluralisme, Liberalisme Dan Sekularisme Agama menetapkan bahwa pluralisme agama sebagaimana dimaksud di atas adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Jadi….kesimpulannya: mengakui pluralitas agama dan menolak pluralisme agama

Wallahu a’lam bish showab

Cara Menggauli Isteri di Malam Pertama


Malam pengantin bagi pasangan suami istri hendaklah penuh dengan suasana kelembutan, kasih sayang dan kesenangan. Malam yang menghubungkan suami dengan istrinya dengan tali kasih sayang dan cinta dan dapat menghilangkan kecemasan dan ketakutan serta menjadikan istrinya merasa tenang dengannya.

Berikut beberapa adab yang disebutkan didalam warisan kita untuk membentuk kehidupan baru, semoga bermanfaat :

1.Kebenaran niat

Hendaklah niat suami istri untuk menikah adalah untuk menjaga kehormatannya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Tiga orang yang memiliki hak atas Allah menolong mereka : seorang yang berjihad di jalan Allah, seorang budak (berada didalam perjanjian antara dirinya dengan tuannya) yang menginginkan penunaian dan seorang menikah yang ingin menjaga kehormatannya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dari hadits Abu Hurairoh)

2. Berhias dan mempercantik diri.

Hendaknya seorang istri mempercantik dirinya dengan apa-apa yang dibolehkan Allah swt. Pada dasarnya hal ini dibolehkan kecuali terhadap apa-apa yang diharamkan oleh dalil seperti mencabuti alis dan bulu diantara keduanya atau mengeroknya, menyambung rambut dengan rambut lain, mentato, mengikir gigi agar lebih cantik. Diharamkan baginya juga mengenakan pakaian yang diharamkan baik pada malam pengantin maupun di luar malam itu. Diperbolehkan baginya menghiasi dirinya dengan emas dan perak sebagaimana biasa dikenakan kaum wanita.

Begitu juga dengan si suami hendaknya memperhias dirinya untuk istrinya karena hal ini merupakan bagian dari menggaulinya dengan cara yang baik. Firman Allah swt :

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
Artinya : “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” (QS. Al Baqoroh : 228)

Namun demikian hendaknya upaya menghias diri ini tetap didalam batasan-batasan yang dibenarkan. Tidak dibolehkan baginya mengenakan cincin emas kecuali perak. Tidak dibolehkan baginya mencukur jenggot, memanjangkan pakaiannya hingga ke tanah, mengenakan sutera kecuali tehadap apa-apa yang dikecualikan syariat.

3. Lemah lembut terhadap istrinya saat menggaulinya

Diriwayatkan oleh Ahmad didalam al Musnad dari Asma binti Yazid bin as Sakan berkata,”Aku pernah merias Aisyah untuk Rasulullah saw lalu aku mendatangi beliau saw dan mengajaknya untuk melihat kecantikan Aisyah. Beliau saw pun mendatanginya dengan membawa segelas susu lalu beliau meminumnya dan memberikannya kepada Aisyah maka Aisyah pun menundukkan kepalanya karena malu. Asma berkata,”Maka aku menegurnya.” Dan aku katakan kepadanya,”Ambillah (minuman itu) dari tangan Nabi saw.” Asma berkata,”Maka Aisyah pun mengambilnya lalu meminumnya sedikit.”

4. Mendoakan istrinya.

Hendaklah suami meletakkan tangannya di kening istrinya dan mengatakan seperti yang disabdakan Rasulullah saw,”Apabila seorang dari kalian menikah dengan seorang wanita atau membeli seorang pembantu maka hendaklah memegang keningnya lalu menyebut nama Allah azza wa jalla dan berdoa memohon keberkahan dengan mengatakan : Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih—Wahai Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya..”

5. Melaksanakan shalat dua rakaat

Diriwayatkan Ibnu Syaibah dari Ibnu Masud, dia mengatakan kepada Abi Huraiz,”Perintahkan dia untuk shalat dua rakaat dibelakang (suaminya) dan berdoa,”Allahumma Barik Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii. Allahummajma’ Bainanaa Ma Jama’ta bi Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta bi Khoirin—Wahai Allah berkahilah aku didalam keluargaku dan berkahilah mereka didalam diriku. Wahai Allah satukanlah kami dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika Engkau menghendaki (kami) berpisah dengan kebaikan pula.”

6. Apa yang dikatakan ketika melakukan jima’ atau saat menggauli istrinya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda,”Apabila seorang dari kalian mendatangi istrinya maka hendaklah dia berdoa,”Allahumma Jannibna asy Syaithon wa Jannib asy Syaithon Ma Rozaqtana—Wahai Allah jauhilah kami dari setan dan jauhilah setan dari apa-apa yang Engkau rezekikan kepada kami—sesungguhnya Allah Maha Mampu memberikan buat mereka berdua seorang anak yang tidak bisa dicelakai setan selamanya.”

7. Diharamkan baginya menyiarkan hal-hal yang rahasia diantara suami istri

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Asma binti Yazid yang saat itu duduk dekat Rasulullah saw bersama dengan kaum laki-laki dan wanita lalu beliau saw bersabda,”Bisa jadi seorang laki-laki menceritakan apa yang dilakukannya dengan istrinya dan bisa jadi seorang istri menceritakan apa yang dilakukannya dengan suaminya.” Maka mereka pun terdiam. Lalu aku bertanya,”Demi Allah wahai Rasulullah sesungguhnya kaum wanita melakukan hal itu begitu juga dengan kaum laki-laki mereka pun melakukannya.” Beliau saw bersabda,”Janganlah kalian melakukannya. Sesungguhnya hal itu bagaikan setan laki-laki berhubungan dengan setan perempuan di jalan lalu (setan laki-laki) menutupi (setan perempuan) sementara orang-orang menyaksikannya.”

8. Berwudhu diantara dua jima’ meskipun mandi adalah lebih utama

Apabila seorang laki-laki menggauli istrinya lalu dia ingin kembali mengulanginya maka yang paling utama baginya adalah berwudhu sehingga dapat mengembalikan tenaganya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Said al Khudriy berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Apabila seorang dari kalian menggauli istrinya kemudia dia ingin mengulanginya lagi maka berwudhulah diantara kedua (jima) itu.”

Didalam sebuah riwayat,”Seperti wudhu hendak shalat.” (HR. Muslim) Abu Naim menambahkan,”Sesungguhnya hal itu akan mengembalikan tenagannya.”

Mandi lebih utama, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dari Rafi’ bahwa Nabi saw mengelilingi para istrinya dan mandi ketika (hendak menggauli) istri yang ini dan juga dengan yang istri ini. dia berkata,”Aku bertanya kepadanya,’Wahai Rasulullah apakah tidak cukup hanya dengan sekali mandi?’ beliau saw menjawab,”Ini lebih suci. Lebih wangi dan lebih bersih.”

Seyogyanya bagi orang yang ingin tidur dalam keadaan junub hendaknya berwudhu dengan wudhu seperti untuk shalat terlebih dahulu, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Umar berkata,”Wahai Rasulullah apakah seorang dari kami tidur sementara dia dalam keadaan junub?’ beliau saw menjawab,”Ya, hendaklah dia berwudhu.” Didalam sebuah riwayat,”Berwudhu dan cucilah kemaluanmu lalu tidurlah.”

Wudhu ini merupakan sebuah anjuran dan bukan sebuah kewajiban, sebagaimana diriwayatkan oleh Umar ketika bertanya kepada Rasul saw,”Apakah seorang dari kami tidur sementara dirinya junub?” beliau saw menjawab,”Ya dan hendaklah dirinya berwudhu jika mau.”. Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dari Aisyah berkata,”Rasulullah saw pernah tidur dalam keadaan junub tanpa menyentuh air hingga dia terbangun setelah itu dan mandi.”

Dibolehkan pula untuk bertayammum, sebagaimana diriwayatkan oleh Baihaqi dari Aisyah berkata,”Rasulullah saw jika dirinya junub dan hendak tidur maka dia berwudhu atau bertayammum.”

9. Mandi berduaan

Dibolehkan bagi suami istri untuk mandi secara bersama-sama dalam satu wadah, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Aisyah berkata,”Aku mandi bersama Rasulullah saw dari satu wadah antara diriku dengan dirinya. Tangan kami saling bergantian berebutan sehingga aku mengatakan,”tinggalkan (sedikit air) buatku, tinggalkan buatku.” Dia berkata,”Mereka berdua dalam keadaan junub.”

Dari hadits diatas maka diperbolehkan keduanya telanjang dan saling melihat aurat satu dengan yang lainnya.

Didalam hdits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari Muawiyah bin Haidah berkata,”Aku berkata,’Wahai Rasulullah. Apa yang dibolehkan dan dilarang dari aurat kami?’ beliau menjawab,”Jagalah auratmu kecuali terhadap istri atau budakmu.” Maka dibolehkan bagi salah seorang dari pasangan suami istri untuk melihat seluruh badan pasangannya dan menyentuhnya hingga kemaluannya berdasarkan hadits ini, karena kemaluan adalah tempat kenikmatan maka dibolehkan melihat dan menyentuhnya seperti bagian tubuh lainnya.

10. Bersenda gurau dengan istri

Dibolehkan bersenda gurau dan bermain-main dengan istrinya di tempat tidur, sebagaimana sabdanya saw,”… Mengapa bukan dengan gadis maka engkau bisa bermain-main dengannya dan dia bisa bermain-main denganmu.” (HR. Bukhori dan Muslim) dan didalam riwayat Muslim,”Engkau bisa bahagia dengannya dan dia bisa bahagia denganmu.”

Diantara senda gurau dan mempergaulinya dengan baik adalah ciuman suami walaupun bukan untuk jima’. Rasulullah saw mencium dan menyentuh istri-istrinya meskipun mereka dalam keadaan haidh atau beliau mencium dan menyentuhnya meski beliau sedang dalam keadaan puasa.

Sebagaimana terdapat didalam ash Shahihain dan lainnya dari Aisyah dan Maimunah bahkan juga diriwyatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Aisyah berkata,”Nabi saw mencium sebagian istri-istrinya kemudian beliau keluar menuju shalat dan tidak berwudhu lagi.” Ini sebagai dalil bahwa mencium istri tidaklah membatalkan wudhu.

11. Dibolehkan ‘Azl

Dibolehkan bagi seorang suami untuk melakukan ‘azl yaitu mengeluarkan air maninya di luar kemaluan istrinya, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Jabir bin Abdullah berkata,”Kami melakukan ‘azl sementara al Qur’an masih turun.” Didalam sebuah riwayat,”Kami melakukan ‘azl pada masa Rasulullah saw dan hal ini sampai kepada Nabi saw dan beliau saw tidaklah melarangnya.”

Meskipun demikian yang paling utama adalah meninggalkan ‘azl karena hal itu dapat mengurangi kenikmatan baginya dan bagi istrinya dan karena hal itu juga dapat menghilangkan tujuan dari pernikahan yaitu memperbanyak keturunan umat ini, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Nikahilah oleh kalian (wanita-wanita) yang dapat mendatangkan anak lagi mendatangkan kasih sayang. Sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya (jumlah) kalian dihadapan semua umat pada hari kiamat.”

Akan tetapi tidak diperbolehkan bagi seorang muslim melakukan ‘azl selamanya karena dapat membatasi dan mencegah keturunan…..

12. Mengunjungi kerabat pada pagi harinya

Dianjurkan baginya pada pagi harinya untuk mengunjungi kaum kerabatnya yang telah memenuhi undangannya.. berdasarkan hadits Anas berkata,”Rasulullah saw mengadakan pesta saat menikah dengan Zainab. Kaum muslimin dikenyangkan dengan roti dan daging. Kemudian beliau saw keluar menemui ibu-ibu kaum mukminin (istri-istrinya saw) dan mengucapkan salam kepada mereka, mendoakan mereka dan mereka pun menyambut salamnya dan mendoakannya, beliau lakukan itu pada pagi hari setelah malam pengantinnya.” (http://www.saaid.net)

Wallahu A’lam

Diantara Bush, Blair, Gorbachev, Streisand dan Abdurrahman Wahid


Di penghujung tahun 2009, rakyat Indonesia kehilangan tokoh politik yang selalu mengundang kontroversi, baik dalam pemikiran, peran, dan kiprahnya di dunia Islam.

Ketika tahun 2008, yang lalu, Presiden Israel Shimon Peres mengundang tokoh terkemuka dari seluruh dunia untuk memperingati 60 tahun lahirnya negara Israel. Diantara tokoh yang diundang dalam sebuah konferensi itu, seperti Presiden Amerika Serikat George Bush, Barbra Streisand, Tony Blair, Mikhail Gorbachev, Rupert Murdoch, termasuk di dalamnya mantan Presiden Abdurrahman Wahid, yang memberikan konfirmasi  hadir dalam konferensi itu.

Undangan terhadap Abdurrahman Wahid oleh Presiden Shimon Peres itu, hanyalah menggambarkan betapa pentingnya tokoh ini di mata pemimpin Israel seperti Shimon Peres. Wahid oleh Peres diletakkan posisinya sejajar dengan para pemimpin dunia, seperti George Bush, Tony Blair, Mikhail Gorbachev, dan Henry Kissinger, yang pernah menjadi Menlu AS. Tentu, mereka yang mendapatkan undangan Peres itu, bukan tokoh sembarangan di mata pemimpin Israel, khususnya komitment mereka dalam membela dan melindungi kepentingan Israel.

Wahid dianggap sebagai tokoh Islam, dan mewakili negara yang mayoritas penduduknya yang berjumlah 240 juta jiwa, 90 persen beragama Islam, dan mempunyai pandangan yang positip terhadap Israel, bagi Shimon Peres, itu sebagai asset, yang harus tetap dijaga hubungan itu. Tak salah bila Peres mengundang salah satu tokoh yang akan berbicara dalam konferensi itu, mewakili komunitas muslim terbesar di dunia. Kehadiran Abdurrahman Wahid akan menciptakan sebuah iklim politik yang luas, bahwa Israel dapat diterima dikalangan bangsa-bangsa Islam.

Lalu, konferensi yang digagas itu, mengambil fokus pada peranan bangsa Yahudi dan Israel dalam sumbangannya pada kemanusiaan. “Kami akan melibatkan 10 presiden dari berbagai negara, enam mantan presiden, para menteri, dan para perdana menteri, ilmuwan, philosofis, dan artis”, ucap Peres kepada AP. Tak mustahil kehadiran Abdurrahman Wahid, karena tokoh yang pernah menjadi presiden Indonesia ini mempunyai hubungan yang dekat dengan Shimon Peres, dan ia menjadi anggota Institute Shimon Peres.

Tujuan konferensi yang diselenggarakan waktu itu, tak lain, mengangkat citra Israel, bersamaan dengan hari ulang tahun berdirinya negara Zionis-Israel, yang ke 60. Acara peringatan 60 tahun Israel, di isi dengan konferensi, konsert, peringatan holocaust, workshop tentang koeksistensi damai antara Arab-Israel. Meskipun, itu tidak mudah mengubah pandangan masyarakat dunia terhadap Israel, karena kejahatan dan penjajahan sudah melekat dan menjadi ideologi Israel.

Konferensi yang berlangsung tanggal 13-15 Mei 2008 itu, dihadiri Presiden Amerika George Bush, Barbra Streisand, dan penyanyi lagu religi Yahudi, Avinu Malkeinu – Our Father King – yang banyak menyita perhatian yang hadhir.

Memang yang hadir dalam konferensi itu, 2.000 tokoh Yahudi dari seluruh pelosok jagad. Tokoh yang  memberikan konfirmasi hadir, seperti Henry Kissinger, Elie Wiesel, mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Czeh Vaclav Havel, Profesor Harvad Alan Dershowitz, pendiri Google Sergey Brin, pendiri Facebook Mark Zuckerman, pemimpin Ratan Tata India – Ratan Tata, milyader Amerika Sheldon Adelson. Semuanya tak lain tokoh-tokoh Yahudi, yang sudah mempunyai peranan penting dalam kehidupan kaum Yahudi secara global.

Kematian Abdurrahman Wahid menjelang tutup tahun 2009, mendapatkan perhatian luas, karena dianggap menjadi tokoh kunci yang membuka ideologi pluralisme. Artinya, memberikan ruang bebas, dan luas kepada berbagai aliran ideologi politik, agama, pemikiran, dan kelompok-kelompok minoritas, yang ada di Indonesia. Meskipun, faktanya banyak yang bertentangan dengan pandangan Islam, yang bersifat asas (ushul), dan tak jarang menimbulkan kontroversi.

Pluralisme tak lain, penolakan terhadap klaim kebenaran mutlak agama tertentu, seperti Islam, dan menegaskan semua agama sama, tidak ada yang berhak diantara agama-agama yang mengklaim yang paling benar. Karena itu, semua agama sama, tidak ada yang beda, dan kehidupan harus dibangun secara inklussif, memberi pengakuan semua eksistensi agama dan pemeluknya, tanpa ada diskriminasi. Inilah hakekat dari ideologi pluralisme, dan itulah ajaran  Abdurrahman Wahid sebagai tokohnya.

Tentu, yang paling mendasar penolakan terhadap Islam politik, dalam bentuk negara. Tidak ada negara Islam, tidak ada syariah Islam dalam kehidupan, dan semuanya yang memiliki cita-cita seperti itu akan dituduh sebagai eksklusif. Kini, akhirnya, semua hanya melahirkan kelompok yang disebut Islam moderat, yang toleran, tidak ekstrim, dan yang paling penting lainnya, warisan almarhum Abdurrahman Wahid, adalah Islam kultural, bukan Islam struktural, yang lekat dengan Islam politik.

Maka, sekarang yang disibut dengan Islam moderat, telah  lahir dalam bentuk gerakan politik, dan tak lain sebuah kekuatan politik, yang berbentuk Islam konformis. Islam yang  dapat menyatu dengan apapun, tak ada lagi pembatas atau sekat. Antara haq dan bathil, baik dan buruk, halal dan haram, mukmin dan kafir, semuanya menyatu dalam satu wujud yang disebut falsafah ‘Bhineka Tunggal Ika’.

Inilah missi utama Shimon Peres yang berhasil mengajak tokoh seperti Abdurrahman Wahid ke dalam ideologi pluralisme.Sekaligus pengakuan eksistensi Israel sebagai sebuah entitas politik dalam sebuah negara, serta menjajah umat Islam di Palestina.

Libforall : Liberalisasi Islam atau Islamisasi Liberal ?


Gus Dur saat menerima Medali dari Yayasan Simon Wiesenthal Center di Israel

Free Image Hosting
Free Image Hosting

Di saat umat Islam berjuang membebaskan tanah Palestina, cendekiawan kita justru “berjabat tangan” dengan Israel dan menemui Shimon Peres. Nampak Dr. Syafiq Mughni dan Abdul A’la [NU] menghadiri upacara keagamaan Yahudi. [ynetnews]


Wallahu’alam .

Persamaan ‘Holocaust’ dan Gaza


GAZA - Keturunan Yahudi yang selamat dari ‘holocaust’ pada perang dunia II, kini mereka melakukan hal yang serupa kepada penduduk Palestina di Jalur Gaza.

Membangun dinding dan pagar kawat seakan-akan seluruh penduduk berada di penjara

Pos pemeriksaan menjadikan manusia tidak bebas bergerak

Penangkapan

Penghancuran rumah dan gedung-gedung

Nasib anak-anak dan apa yang dilakukan anak-anak di kubu musuh

Mesin propaganda klasik, kalian akan menemukan foto hitam putih di semua buku-buku sejarah, ensiklopedi, perpustakaan dan museum-museum. Foto yang melukiskan seorang anak laki-laki Yahudi dengan tangan di atas ketika tentara Nazi menodongkan senjata ke arahnya dan keluarganya. Ini dilakukan untuk membuat kalian bersimpati dengan para korban dan mendukung keinginan mereka untuk mendapatkan keadilan dan tanah air mereka.

Israel mempraktekkan hal yang serupa

Asal-usul Valentine,dan Mengapa MUI melarang Merayakannya?


PERAYAAN HARI VALENTINE, SEBUAH TRADISI ADOPSI DARI KAUM PAGANISME DENGAN FORMAT “BERBAGI KASIH SAYANG”


Satu lagi produk tradisi import dari barat mulai mewabah di sebagian kalangan muda-mudi kita, pasangan suami istri, bapak ibu, kakek nenek, bahkan pasangan selingkuh di tanggal 14 Pebruari yaitu valentine day ( bahasa ndeso: plentin de). Tradisi berupa “perayaan” kasih sayang berformat tukar kartu, tukar hadiah, kado, tukar/beri bunga, beri perhiasan, bahkan tukar pasangan berbagi ngeseks disertai pesta narkoba, minuman keras & mabuk sepanjang malam.



Penjualan pernak-pernik hari valentine

Di awal bulan Pebruari, bila ke toko, supermarket / mall, atau hotel, mulai banyak pernak-pernik bernuansa valentin, mulai kartu, souvenir, boneka dengan warna pink & berbentuk hati (love) disajikan secara kentara & atraktif sebagai sarana promosi besar demi menarik minat banyak pengunjung.

Apa & bagaimana valentine day itu, sejarah & perjalanannya dari peristiwa biasa diadopsi jadi “acara religius Katolik”, hingga menjadi perayaan kasih sayang berformat nge-date & pesta pora…???.

Tentang valentine day ini belum ada kesepakatan final antara para sejarawan. Kata “valentine” diambil dari nama “Santo Valentinus” seorang yang diyakini hidup pada masa Kaisar Romawi Claudius II. Sedangkan kata valentine itu dari bahasa Latin bermakna: Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kuat.

Santo Valentinus

Claudius II yang penganut paganisme (menyembah dewa-dewi/patung/berhala) melihat Santo Valentinus mengajak manusia kepada agama Nasrani, lalu memerintahkan menangkapnya untuk dihukum mati. Di penjara, Valentinus kenal dengan seorang putri penjaga penjara yang sedang sakit. Dia mengobatinya hingga sembuh, lalu memeluk agama Nasrani & saling jatuh cinta. Menjelang eksekusi mati tanggal 14 Pebruari 269 M, Valentinus mengirimkan sebuah kartu yang bertulis: “dari yang tulus cintanya, Valentinus”.

Versi lain, Claudius II melarang pemuda yang jadi tentara untuk menikah, karena dengan membujang jadi lebih kuat & tabah dalam berperang. Tapi diam-diam Santo Valentinus menentang hal ini dengan menikahkan banyak pemuda. Lalu dia ditangkap & akhirnya dihukum mati pada tanggal 14 Pebruari 269 M.



Upacara sembah dewa matahari

Dalam kupasan lain (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2005), tradisi Roma kuno pada pertengahan Pebruari sudah dikenal sebagai periode “cinta & kesuburan”. Selain itu tanggal 15 Pebruari dikenal sebagai hari raya Lupercalia. Merujuk nama dewa Lupercus (dewa kesuburan), yang digambarkan sebagai laki-laki setengah telanjang & berpakaian kulit kambing. Pada tanggal itu juga para pendeta Roma melakukan ritual penyembahan dewa Lupercus ini dengan mempersembahkan korban berupa kambing.

Rangkaian pelaksanaan perayaan Lupercalia berlangsung antara tanggal 13 s/d 18 Pebruari. Sedangkan tanggal 13 & 14-nya sebagai persembahan untuk “dewi cinta”, dimana para pemuda berkumpul & mengundi nama-nama gadis dalam sebuah kotak. Setiap pemuda disilahkan mengambil nama secara acak. Gadis yang keluar namanya harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk kesenangan & jadi obyek hiburan sang pemuda.

Ketika Kristen Katolik masuk Roma, perayaan paganisme (menyembah dewa/berhala) ini diadopsi jadi “acara religius” & diwarnai dengan nuansa kristiani. Agar lebih dekat lagi pada ajaran Kristen, pada tahun 496 M, Kaisar Paus Gelasius I menjadikan perayaan pagan ini digabung dengan acara untuk menghormati kematian Santo Valentinus yang kebetulan tanggalnya sama yaitu 14 Pebruari, menjadi hari perayaan gereja dengan nama “Saint Valentine’s Day”.



kartu plentin

Sedangkan tradisi mengirim kartu valentin adalah tidak ada kaitan langsung dengan Santo Valentinus. Dalam versi ini, tradisi ini bermula ketika Duke of Orleans dipenjara di Tower of London. Pada saat perayaan hari gereja mengenang Santo Valentinus tanggal 14 Pebruari, dia mengirim puisi dalam kartu kepada istrinya di Perancis.


sosok cupid

Adapun gambar ciri valentine day yaitu “Cupid”, si bayi atau laki-laki rupawan setengah telanjang yang bersayap & memakai anak panah yang diarahkan ke gambar cinta (love) adalah putera Nimrod (Namrud) sang Dewa Matahari dalam kepercayaan pagan Romawi.

Jadi perayaan valentine day yang jatuh tanggal 14 Pebruari dengan berbagai model acara & pernak-perniknya yang akhir-akhir ini mewabah terutama di kalangan muda-mudi adalah tidak bersumber dari ajaran Katolik/Kristen, tetapi bentuk adopsi dari tradisi upacara Roma kuno yang paganisme (penyembah dewa-dewi / berhala), digabung dengan upacara mengenang kematian Santo Valentinus yang kebetulan tanggalnya sama, yang oleh kalangan Paus/gereja dijadikan sebagai “upacara keagamaan Katolik”.

Maka umat Kristiani yang merayakan “valentine day” sebagai wujud ungkapan ajaran “kasih sayangnya” Yesus Kristus justru tidak bersumber dari ajarannya agama Katolik/Kristen. Dan bagi muda-mudi Muslim yang “bergaya” ikut-ikutan merayakannya, sungguh telah melenceng dari ajaran Tauhid-Nya Allah SWT, sama dengan ikut menyembah berhala (dewa-dewi Romawi) kembali ke jaman dulu (JADUL) jahiliyah. Dalam Hadits Turmudzi dinyatakan: “Barangsiapa meniru (mengikuti) suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut”. Pesta malam & mabuk-mabukan

Pesta malam & mabuk-mabukan

Apalagi dalam perayaannya” dilakukan dalam format sok gaul “nge-date”, terus ditambah pesta minuman keras, narkoba, bahkan pesta seks sepanjang malam, sebagaimana marak di negara-negara barat, yang merusak badan & mental. Justru lebih rusak & rendah, melebihi kaum penyembah berhala itu sendiri.

Dalam hal maraknya pernak-pernik valentine berupa bunga, boneka, tulisan, makanan & hadiah lainnya bernuansa “pink” di toko, supermarket/mall, hotel, hanyalah upaya kaum “pebisnis/kapitalis” untuk mendapatkan uang sebesar-besarnya sebagai “perayaan bisnis” & “industrialisasi agama” tanpa menelaah esensi valentine yang sebenarnya.

11 Bentuk Masjid yang aneh dan unik di dunia


Selain sebagai tempat beribadah umat Muslim, ternyata masjid juga mempunyai nilai tinggi dalam bentuk bangunannya. Sangat keren dan luar biasa, tak kalah dengan bangunan-bangunan lain diluar tempat ibadah. Bayangkan saja bila umat Muslim bisa beribadah di salah satu tempat tersebut. Asyik pastinya dan berikut Masjid-masjid tersebut :

Masjid Sangkore, Timbuktu

Masjid Europa Point, Gibraltar

Masjid Larabanga, Mali

Masjid Missiri Frejus, Mali
Masjid Merah, Srilanka
Masjid Faisal, Pakistan
Masjid, Argentina
Masjid Al-Fateh, Bahrain
Masjid Badshahi, Pakistan
Masjid Omayyed, Syria
Masjid Shanke Yadem (Anggap Saja Sudah Makan), Turky

masjid unik

Bentuknya boleh sederhana, namun jamaah sudah berdatangan dari penjuru desa sebelum waktu shalat masuk


masjid tak beratap

Jamah yang melimpah, tanda keberkahan dan amal sholeh dari harta yang halal dan bersih

Tujuh Mesjid Unik di Indonesia




Berikut 7 Mesjid Unik yang ada di Indonesia:

1. Masjid Muhammad Cheng Ho

chengho

Masjid Muhammad Cheng Ho berada di Jalan Gading, Kota Surabaya. Mesjid ini tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai salah satu masjid terunik. Bangunan mesjid ini tidak berbentuk seperti mesjid pada umumnya karena dibuat dengan arsitektur khas Tiongkok. Bentuk bangunan ini mirip Masjid Niu Jie di Beijing yang berusia lebih dari 100 tahun.

2. Masjid An Nurumi

nurumi

Masjid An Nurumi merupakan masjid kecil di tepi jalan Jogja-Solo dengan arsitektur cukup unik. Kubah atapnya mirip bangunan di Moscow, Russia. Kubahnya berbentuk aneh dan berwarna-warni. Mesjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Kremlin. Ada juga yang menjuluki Masjid Permen, sebab kubahnya warna-warni mirip permen lolipop.

3. Masjid Menara Kudus

kudus

Masjid Menara Kudus disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus. Keunikan dari bangunan masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit. Bentuk arsitekturalnya yang sangat khas untuk sebuah menara masjid itulah yang menjadikannya begitu mempesona. Keunikan lainnya, mesjid ini dibangun dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Mesjid ini terletak di kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

4. Masjid bawah tanah Tamansari

tamansari

Masjid Taman sari terletak di bawah tanah kompleks Taman Sari Jogjakarta. Masjid Tamansari dibangun pada paruh pertama abad lalu. Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Masjid bawah tanah ini terdiri atas dua lantai berbentuk bulat dengan rongga- rongga jendela di bagian luarnya. Lantai bawah dipakai untuk jamaah wanita, lantai atas untuk jamaah pria. Tangga dari lantai bawah menuju ke lantai atas terletak di tengah-tengah lingkaran. Selain itu terdapat sebuah kolam kecil berbentuk bulat di tengah masjid serta tangga yang melintang di atasnya.

5. Masjid pintu seribu

pintu1000

Masjid Nurul Yakin atau lebih dikenal dengan sebutan masjid Sewu (seribu) memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan masjid lainnya karena mesjid ini memiliki seribu pintu. Masjid seribu ini menjadi salah satu tempat paling menarik bagi wisatawan. Tak hanya wisatawan lokal tapi wisatawan asing. Mesjid ini terletak di Kp.Bayur Tangerang.

6. Masjid Perahu

perahu

Masjid yang terletak di sebuah gang kecil yang terapit oleh Apartemen Casablanca, Jakarta ini aslinya bernama Al Munada Darrusalam. Mesjid ini lebih dikenal sebagai masjid perahu karena di samping masjid itu terdapat bangunan beton yang menggambarkan sebuah perahu raksasa. Bangunan berbentuk perahu tersebut difungsikan sebagai tempat wudhu untuk kaum muslimat, sementara untuk kaum muslimin berada pada sisi yang berbeda. Suatu keunikan yang tak dimiliki oleh masjid-masjid lainnya.

7. Masjid Cipari

gereja

Masjid Cipari atau A-Syuro, adalah salah satu masjid tertua di Garut, Jawa Barat. Bentuk bangunan mesjid ini cukup unik karena mirip bangunan gereja dengan bentuk bangunannya yang memanjang dengan pintu utama persis ditengah-tengah nampak muka bangunan, juga keberadaan menaranya yang terletak di ujung bangunan persis diatas pintu utama. Masjid Cipari ini juga memiliki sejarah perjuangan, karena dahulu digunakan sebagai basis perjuangan rakyat dan tentara.

video Tujuh Mesjid Unik di Indonesia

Sejarah Chinese Muslim di Indonesia


Chinese Muslims at worship in Indonesia.

Assalamualaikum wr wb,

berawal dari pertanyaan seorang member di versi milist “koq begitu banyak chinese kristen di indonesia?” (padahal mostly orang tionghoa menganut buddha/kong huchu, dan menurut sejarah dan sensus, islam agama terbesar kedua di china)

Kalau boleh saya ceritakan sedikit, sejarah kedatangan orang2 china ke indonesia. referensi saya buku tulisan “H.J. de Graff” yang berjudul “Catatan Melayu”, di sadur menjadi judul “Cina-Muslim”.

selama ini di sekolah dasar kita diajari guru sejarah kita, bahwa islam masuk ke indonesia melalui pedagang2 arab-gujarat. tapi ternyata tidak seperti itu, walaupun ada pengaruh penyebarannya gak sesignificant yg dilakukan orang2 china pada masa lalu. dimana ulama2 tionghoa sengaja datang ke nusantara untuk memperkenalkan risalah ini. mungkin di daerah pesisir lebih banyak dilakukan pedagang2 arab-gujarat.

dalam catatan sejarah, tercatat sejak zaman sam po bo pada 1368 sampai kedatangan arus orang2 tionghoa-hokkian (non-muslim) 1585. mula2 disebarkan adalah mahzab hanafi, karena saat itu dinasti Ming banyak mempekerjakan pejabat2 tionghoa yang bermahzab hanafi. sejak 1368, muslim tionghoa banyak mewarnai percaturan politik di nusantara, kita bisa mengenal2 nama seperti sunan ampel (bong swi hoo), Haji Ma Feng Tsih, Haji Ma Hong Fu, Haji Gan En Wang (tekenal sebagai mubaligh sohor di Tuban pada zamannya).

1546, adalah masa penyebaran islam oleh cina-muslim yang beraliran syi’ah, dimana kesultanan Pajang mulai berdiri menggantikan kesultanan Islam Demak yang telah runtuh.hal ini juga menyebabkan sisa2 penganut mahzab hanafi mengungsikan diri ke daerah kaki gunung ciremai (Cirebon).

Tahun 1985, imigran cina non-muslim (hokkian) mulai berdatangan. orang hokkian yang tercatat pertama kali ada Haji Tan Eng Hoat (Cirebon), sebelumnya kebanyakan orang cina yang datang berasal dari Yunnan dan Swatow.

Lalu kalau dilihat dari sejarah ini, kenapa banyak chinese yang kristen di indonesia??

dari buku yang dulu pernah saya baca waktu kuliah yg kalo gak salah judulnya “Etnis Tionghoa dan pembauran”. berawal sejak masuknya imperialisme belanda di indonesia. orang cina muslim banyak yg membaur dg masyarakat pribumi karena kedekatan akidah dan merasa nusantara sudah bagian dari diri mereka. penjajah belanda saat itu melakukan politik memecah belah, diantaranya membagi kelas dalam masyarakat, kelas 1 orang2 bule (belanda), kelas 2 orang2 tionghoa, dan masyarakat pribumi menjadi kelas no.3. selain itu di masa ini terjadi pemulangan besar2an orang china-muslim ke china, pada masa itu orang china-muslim disebut “Huakiao” (cmiiw, karena saya hanya mengandalkan ingatan saya tentang buku ini, saya lupa dimana buku ini). “huakiao” kalo ngelihat dialect mirip “huijiao” yg artinya “islam”, mungkin maksudnya sama, wallahu’alam. Namun demikian, tetap saja masyarakat tionghoa non-muslim ini masih banyak yang menganut buddha, dan kong hu chu.

titik tolak perpindahan orang tionghoa di indonesia non-muslim mulai terjadi setelah revolusi tahun 1965, dimana rezim baru saat itu, mulai memutuskan diplomasi dg china, dan secara tidak langsung menuduh warga tionghoa ikut terlibat dalam komunisme. hal ini memberikan option bagi warga tionghoa untuk menyembunyikan identitas etnis mereka dengan berbaur memeluk agama2 non-tionghoa yang ada di indonesia saat itu. pilihan yang mungkin adalah katolik dan protestan, kebanyakan memilih katolik karena menurut mereka relatif lebih gampang beribadahnya. sedikit yg memilih untuk masuk islam, karena image yg dibentuk penjajah mengenai pembagian kelas dalam masyarakat. islam dipandang agama orang2 terbelakang, dan masyarakat rendahan (kelas 3). image ini masih banyak melekat pada masyarakat tionghoa non-muslim sampai saat ini. ini juga dikonfirm pak syafei antonio, waktu saya dengar ceramahnya dulu, reaksi yg dia dapat saat dia memutuskan utk menjadi muslim.

mungkin ini sejarahnya kenapa banyak chinese christian di indonesia, kebanyakan diluar indonesia masyarakat tionghoa lebih banyak yang memeluk agama leluhur mereka (kong huchu/buddha). ini menurut buku yg saya baca lho?! wallahu’alam.

Komunitas Cina Muslim : Minoritas di Antara Minoritas

muallaf-bule

Populasi Cina muslim terus tumbuh di berbagai kota besar di Indonesia, tapi persentasenya amat kecil. Di Indonesia, keturunan Cina banyak memeluk agama Kristen, Katolik, atau Konghucu. Pemeluk Islam dari kalangan ini sangat kecil. Mereka tersebar di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya tidak jelas karena tidak pernah dilakukan pendataan yang serius. Di Indonesia, komunitas Cina muslim dipayungi Yayasan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Organisasi ini punya cabang di 16 kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Pontianak. Jumlah Cina muslim di Indonesia tak kurang dari 80.000 orang. Mereka menjadi minoritas muslim di antara minoritas Cina. Dengan posisi seperti ini, katanya, peran mereka jarang terlihat. Tidak ada data statistik yang jelas. Peran Haji Karim Oei sangat besar. Dari tahun 1991 sampai sekarang, Masjid Lautze mengislamkan lebih dari 1.600 orang. Dua tahun terakhir, setiap minggu ada dua sampai tiga orang yang menjadi mualaf yang berikrar Islam di masjid ini.

Dengan terpatah-patah, Paulus Prasetya, 32 tahun, melafalkan surat Al-Fatihah. Setelah itu, surat Al-Ikhlas dan An-Naas dapat ia selesaikan tanpa teks. “Alhamdulillah, saya tidak perlu waktu lama untuk menghafalkannya,” katanya. Ketika ditemui Gatra di Masjid Lautze, Jakarta Utara, pertengahan Ramadan ini, Paulus tengah belajar mengaji Al-Quran. Seminggu setelah memeluk agama Islam, ia rajin menghafal surat-surat pendek untuk bekal bacaan salat.

Paulus adalah salah satu jamaah Masjid Lautze. Masjid bewujud ruko itu menjadi pusat aktivitas komunitas Cina di Jakarta. Setiap hari, bujangan yang tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, itu datang ke masjid yang terletak di Jalan Lautze Nomor 87 itu untuk belajar ibadah. “Di sini saya merasa nyaman karena banyak muslim yang baru belajar seperti saya,” ujarnya.

Abdul Karim Oei Pendiri Mesjid Lautze

Telah lama ia mendengar cerita mengenai keberadaan masjid yang menjadi landmark komunitas muslim Cina di Jakarta itu. Maka, ketika keinginan memasuki agama Rasulullah mendesak di benaknya, ia segera mencaritahu lokasinya. Oleh pengurus Yayasan Haji Karim Oei, yang membawahkan masjid itu, ia disyahadatkan dan diberi pembinaan agama. Kini Paulus mengaku mantap dengan kepercayaan baru yang dipeluknya dan telah menyandang nama baru, Mohammad Rizqi. “Semoga ini menjadi jalan hidup saya sampai mati,” ungkapnya lirih.

Masjid Lautze adalah masjid pertama yang didirikan komunitas Cina muslim di Indonesia. Di sini, syiar Islam untuk kalangan Tionghoa disuarakan. Bangunan yang didirikan Haji Karim Oei pada 1991 itu tidak hanya menjadi tempat jamaah menunaikan salat, melainkan juga berkembang menjadi simpul silaturahmi warga muslim keturunan Tionghoa di Jakarta dan sekitarnya.

Masjid yang berada di antara deretan ruko di kawasan Pecinan ini dilengkapi perpustakaan yang mengoleksi berbagai literatur agama, termasuk Al-Quran dengan terjemahan bahasa Mandarin. Koleksi yang ada sangat membantu para jamaah yang ingin memperdalam ilmu agama.

Kini masjid empat lantai berukuran 8 x 14 meter itu berkembang menjadi semacam Islamic Center. Selain tempat ibadah dan silaturahmi, di sini digelar pula kursus bahasa Mandarin. Saban Ahad, para mualaf bermata sipit dari Jakarta dan kota-kota satelitnya menggelar pengajian. Pertemuan itu juga dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu keislaman, karena sebagian besar anggota komunitas ini masih minim ilmu agama.

Mesjid Lautze Jakarta

Kepada Gatra, Ketua Yayasan Haji Karim Oei, Ali Karim Oei, mengungkapkan bahwa pada saat ini ada ribuan Cina muslim di Jakarta dan sekitarnya. Ia tidak bisa menyebutkan angka pastinya karena tidak ada data yang valid. Putra Haji Karim Oei itu memperkirakan, populasi Cina muslim tak lebih dari 5% populasi Cina di Jakarta. Sedangkan populasi Cina mencapai 20% dari 8 juta penduduk Jakarta.

Yang jelas, dari tahun 1991 sampai sekarang, masjid ini mengislamkan lebih dari 1.600 orang. Dalam dua tahun terakhir, kata Ali, setiap minggu ada dua sampai tiga orang yang menjadi mualaf yang berikrar Islam di masjid ini. Sebagian Cina muslim sulit ditelusuri jejaknya karena telah membaur. “Mereka menikah dengan muslim pribumi dan menghilangkan identitas Cinanya,” Ali menandaskan. Di Jakarta, kelompok ini tidak terkonsentrasi di kawasan tertentu, melainkan tinggal menyebar.

Di Indonesia, keturunan Cina banyak memeluk agama Kristen, Katolik, atau Konghucu. Pemeluk Islam dari kalangan ini sangat kecil. Mereka tersebar di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya tidak jelas karena tidak pernah dilakukan pendataan yang serius. Di Indonesia, komunitas Cina muslim dipayungi Yayasan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Organisasi ini punya cabang di 16 kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Pontianak.

Logo PITI
Menurut Ketua Umum PITI, H.M. Trisno Adi Tantiono, jumlah Cina muslim di Indonesia tak kurang dari 80.000 orang. Mereka menjadi minoritas muslim di antara minoritas Cina. Dengan posisi seperti ini, katanya, peran mereka jarang terlihat.

Namun pembinaan terhadap mereka terus dilakukan oleh PITI. Organisasi inilah yang berperan besar atas penyebaran agama Islam di kalangan Tionghoa sejak 1961. Di antara dewan pendirinya adalah H. Abdul Karim Oei Tjeng Hien.

Ia seorang perintis Islam kalangan Tionghoa kelahiran Padang, 1905. Karim Oei masuk Islam pada 1929 setelah hijrah ke Bengkulu. Di sana, ia diangkat menjadi Konsul Muhammadiyah. Ketika itu, ia akrab dengan Bung Karno yang sedang dalam pembuangan. Kemudian ia menjadi salah satu pimpinan Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan setelah itu mendirikan PITI.

image

Sebuah Keluarga Tionghoa jemaah PITI
sedang belajar dan membaca Al Quran

Berdirinya PITI tak lepas dari dukungan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah pada saat itu, KH Ibrahim. Ibrahin mengungkapkan kepada H. Abdul Karim Oei bahwa menyampaikan agama Islam kepada etnis Tionghoa harus dilakukan oleh etnis Tionghoa sendiri.

Organisasi ini lalu dibentuk dengan kantor pusat di Jakarta. Setelah pemberontakan PKI pada 1965, simbol-simbol yang menghambat pembauran dilarang pemerintah. Pada 15 Desember 1972, PITI mengubah kepanjangannya menjadi Pembina Iman Tauhid Indonesia. Dalam melakukan pembinaan agama, PITI dibantu Yayasan Haji Karim Oei, yang mengurus masjid, perpustakaan, dan beberapa kegiatan keagamaan. Yayasan inilah yang mengelola Masjid Lautze 1 di Jakarta dan Masjid Lautze 2 yang terletak di Jalan Tamblong Nomor 27, Bandung.

Di Surabaya, syiar Islam juga bergaung di antara kaum mata sipit. Masjid Cheng Hoo, yang dibangun pada oktober 2002, menjadi sentra kegiatannya. Di ”kota pahlawan” saja, populasi komunitas muslim Tionghoa mencapai 700-an orang. Namun jumlah ini masih belum sepadan dengan populasi Cina di Surabaya yang mencapai 6.000 lebih.

Acara buka bersama dgn masyarakat di Mesjid Cheng Ho
Pendiri Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo, Haji Abdul Halim Muhammad alias Li Guang Lin, mengungkapkan bahw Surabaya merupakan basis muslim Tionghoa yang perkembangannya tercepat di Indonesia. Populasi di Surabaya yang kini mencapai 700 terus berkembang. Setiap tahun, ada sekitar 30 mualaf baru yang bergabung. Sejak Yayasan Cheng Hoo berdiri, penyebaran agama Islam di komunitas Cina Surabaya makin baik. Dalam satu bulan, katanya, jumlah mualaf yang direkrut sebanyak satu sampai empat orang.

Masjid Cheng Hoo juga punya fungsi ganda. Selain tempat ibadah, masjid beraksitektur kelenteng ini menjadi tempat pengajian dan pembinaan mualaf. Di masjid yang terletak di Jalan Gading III itu, ibadah dijalankan dengan menganut pakem umum, tidak masuk paham keormasan tertentu, seperti NU, Muhammadiyah, Syiah, ataupun Wahabi.

Hal itu dilakukan, kata Halim, agar komunitas ini diterima semua kalangan. Salat tarawih, misalnya, dilakukan delapan rakaat, lalu diteruskan hingga 20 rakakat. ”Jamaah boleh memilih yang diyakininya,” ujar lelaki yang masuk Islam pada 1982 itu.

Cina muslim di seluruh Jawa Timur juga tak lepas dari pembinaan PITI. Di kawasan yang merupakan basis kalangan nahdliyyin ini, organisasi itu tumbuh cukup pesat. Pada saat awal berdiri, tahun 1983, anggota PITI Jawa Timur hanya sekitar 50 orang. Namun sekarang mencapai lebih dari 8.000, yang tersebar di 26 cabang di berbagai kabupaten.

Cina muslim di Surabaya boleh dibilang paling dinamis. Selain persentase pertambahan anggotanya paling tinggi, ia kaya program, terutama sosialisasi dan pembauran. Cina muslim Jawa Timur juga pintar membaur. Dalam setiap kegaitan, Masjid Cheng Hoo selalu melibatkan warga lokal. Misalnya peringatan Nuzulul Qur’an, donor darah, dan pengobatan tradisional Cina.

Tahun lalu, PITI Jawa Timur memberikan bantuan bibit jarak kepada 84 pesantren di Jawa Timur. Penandatanganan kerja samanya dilakukan di Pesantren Langitan, Tuban, milik tokoh NU karismatik, KH Abdullah Faqih. Di Jawa Timur, masyarakat muslim keturunan Tionghoa diberi kebebasan mengikuti organinasi sosial kemasyarakatan maupun partai politik. Hubungan antara PITI dan Jamiyah Nahdlatul Ulama tampaknya cukup dekat. Selain sering bekerja sama dalam kegiatan, anggota PITI juga ada yang menjadi pengurus NU.

Halim, misalnya, kini menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Perekonomian PWNU Jawa Timur, Wakil Ketua Cabang NU Taman, Sidoarjo, dan penggurus MUI Jawa Timur.

Lain Surabaya, lain pula Medan. Di kota ini, komunitas Cina muslim tidak dinaungi PITI. Komunitas ini dipayungi Himpunan Pembauran Muslim Tionghoa Indonesai (HPMTI), yang didirikan Hj. Maimunah pada 1983. Hj. Maimunah adalah Cina muslim pertama yang punya kesadaran berorganisasi. Pada 1980-an, ia bersepeda motor mendatangi rumah-rumah Cina muslim di Medan dan sekitarnya untuk mengajak berkumpul.

Kumpulan itu lalu diformalisasi menjadi HPMTI, yang kantornya mengambil ruangan di rumah Hj. Maimunah di Jalan Mahkamah, Medan. Hj. Maemunah meninggal dua tahun lalu, tapi rumahnya tetap menjadi sekretariat HPMTI. Lembaga ini sampai sekarang menjadi tempat berkomunikasi dan berbagi di antara Cina muslim di Medan. Komunitas itu memiliki jadwal tetap untuk pengajian rutin bulanan dan arisan.

Bendahara HPMTI, Nuraini alias Wong Sueng, 48 tahun, mengungkapkan bahwa organisasinya merupakan lembaga yang secara tradisional mengikat Cina muslim di Medan. Di Sumatera Utara, lembaga inilah yang pertama kali muncul, sehingga PITI yang cukup dikenal di Jawa kurang mendapat tempat.

Pada saat ini, menurut catatan lembaganya, populasi Cina muslim di Medan mencapai 1.000 keluarga. Ini angka yang kecil, mengingat komunitas Cina di sana mencapai 20% dari sekitar 2,3 juta penduduk kota Medan. Kepada Gatra, Nuraini mengatakan bahwa minimnya jumlah Cina Medan yang masuk Islam karena masih sangat kuatnya stigma bahwa Islam adalah agama yang kasar dan menakutkan.

Inilah jawaban mengapa selalu timbul resistensi cukup kuat terhadap warga Tionghoa yang masuk Islam, baik dari keluarga maupun lingkungannya. ”Biasanya mualaf baru akan ditolak komunitasnya,” katanya. Pada saat ini, HPMTI mendambakan kantor dan masjid milik sendiri yang menjadi pusat aktivitas. Selain untuk tempat ibadan, tempat itu diharapkan menjadi pusat syiar Islam di kalangan Tionghoa.

Di Medan, Cina muslim sulit berpisah dari tradisi leluhurnya. Salah satu ritual lama yang masih mereka lakukan adalah ziarah kubur ketika Cheng Beng. ”Mayoritas anggota kami masih ikut Cheng Beng untuk menghormati leluhur. Ini adat, jadi sulit hilang,” katanya. Cina muslim ikut berpartisipasi, meskipun tidak ikut sembahyang dan membakar hio.

Sejak kejatuhan rezim Orde Baru, masyarakat Cina muslim di Indonesia lebih terbuka dan leluasa dengan identitas budaya dan agamanya. Demikian menurut dosen Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, yang juga mahasiswa program doktor Universitas Queensland, Akhmad Muzakki. Di Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia, Cina muslim merupakan minoritas di antara minoritas (minority within minority). “Pada era Orde Baru, kaum Cina hanya berkecimpung dalam kegiatan ekonomi. Tapi sekarang, mereka leluasa melakukan eksplorasi budaya dan mendemokan ritual agamanya,” ujarnya.

Dalam karya tulisnya bertajuk “Masjid Cheng Hoo: Pribumisasi Budaya Cina dan Distansiasi dari Hegemoni Politik Negara di Indonesia”, ia memaparkan bahwa kehidupan masyarakat Cina muslim di Surabaya lebih terbuka tanpa hegemoni negara. Keterbukaan itu, misalnya, dapat dilihat pada gaya arsitektur Masjid Cheng Hoo yang mereka dirikan.

Masjid yang dibangun dengan biaya Rp 700 juta itu sangat menarik, karena masyarakat Cina muslim tidak sekadar menampilkan kemuslimannya, melainkan juga menunjukkan identitas kultural kecinaannya. Di Surabaya, kata Muzakki, Cina muslim berkolaborasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, terutama NU dan Muhammadiyah, untuk memudahkan mereka menyalurkan aspirasi.

Berelaborasi dengan ormas itu dianggap penting, karena eksistensi kelompok ini akan lebih mudah dilihat dan aspirasinya lebih mudah didengar para birokrat bila kepentingan mereka disuarakan juga oleh ormas.

MASJID LAU TZE JAKARTA

Kebanyakan masjid di Indonesia berdiri kokoh dan megah dengan pengaruh kebudayaan kubah Timur Tengah. Berbeda dengan masjid satu ini, yakni Masjid Lautze yang berada di jalan Lautze no. 87-89 Jakarta Barat. Masjid ini tidak memiliki tampilan seperti kebanyakan tempat ibadah.

Namun, sejarah panjang tersimpan dari masjid yang didirikan 1991 silam oleh mantan Presiden BJ Habibie ini. Berawal dari sejumlah tokoh islam yang berasal dari ormas islam seperti NU, Muhammdiyah, Al-wasliyah,Kahmi dan putra muslim keturunan cina Haji Karim Oei, (Ali karim Oei) membuat yayasan yang diberi nama Yayasan Oei Tjeng hien.Yayasan ini kemudian dikenal sebagai Yayasan Haji Karim Oei, sebuah yayasan informasi islam bagi warga negara indonesia (WNI) keturunan cina yang beragama islam.
http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/next_1_ed14.jpg
Yayasan melihat Muslim kurang memperhatikan penyebaran dan pengetahuan Islam pada etnis minoritas Tionghoa. Lantas pada tahun 1993-1994 setelah terkumpul dana dipilihlah sebuah ruko di daerah pecinan jalan Lautze 87-89 untuk dijadikan mesjid.”Perlu kerja keras untuk mengkontrak bangunan ini. Bahkan kami sempat menunggak bayaran bunga bank untuk mengontrak bangunan,” ungkap Ali Karim Oei kepada Republika Online daat ditemui di salah satu ruang mesjid di lantai dua.

“Bisa dibilang Masjid Lautze merupakan masjid pertama di Indonesia yang mengontrak,” ungkap Ali. Namun, menurut Ali,”Kalau kita ingin berbuat baik tidak perlu mejadi kaya terlebih dahulu,” ujar Ali menambahkan. Ia menilai, keberadaan mesjid ini mempunyai peran vital yakni sebagai jembatan antara Islam dengan etnis tionghoa.

“Sekarang ini banyak warga keturuan menganggap Muslim identik dengan terorisme dan tukang kawin. Bahkan jika ada warga keturunan yang masuk Islam dianggap niat mau kawin lagi,” ujar Ali. Menurut Ali kesalahan pemahaman seperti itu terjadi karena informasi seputar islam yang kurang d kaum Tionghoa.

“Adanya masjid seperti ini memungkinkan warga keturun non-muslim bertanya dan berdialog seputar keislaman,” tegas Ali. Keuntungan lain menurut Ali, pemuka agama lain juga datang tanpa ada masalah sehingga Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta terwujud.

Meski tampang berbeda, tapi seperti masjid kebanyakan, pengajian dan diskusi seputar agama islam selalu diadakan setiap hari minggu di sana. Masyarakat sekitar baik muslim maupun non-Muslim dapat bergabung. Berdasarkan keterangan Ali, Masjid ini menurut pengakuan Ali sudah mengislamkan hampir 1600 warga keturunan semenjak tahun 1995. “Sekarang sudah banyak mahasiswa dan anak muda yang masuk islam,” ungkapnya.

Memandang apa yang terjadi pada umat islam sekarang, dia menilai umat islam telah lupa kepada Al-quran dan Al Hadist.”Sebenarnya ajaran islam tidak susah dijalankan. Kita saja yang membuat sulit,” kata Ali. Islam itu, bagi Ali mengajarkan meletakan sesuatu pada tempatnya. “Agama jangan dipersulit,” kata Ali menegaskan.

Dia sendiri berharap, dalam situasi ekonomi saat ini, warga keturunan tetap bersatu dengan warga negara indonesia lain untuk membantu negara. Ali berpandangan jangan melihat apa yang diberikan negara kepada kita, tapi apa yang kita berikan kepada negara.

MASJID LAU TZE 2 BANDUNG

Setelah Lau Tze, Akan Berdiri Al Imtizad/ masjid Ronghe

gambar rencana masjid Ronghe, Bandung
KOMUNITAS Muslim Tionghoa di Bandung akan segera memiliki masjid baru selain Masjid Lau Tze 2 di Jln. Tamblong No. 2 Kota Bandung. Masjid baru di Kompleks ATC Banceuy, Jln. Banceuy No. 8 tersebut, akan dinamai Masjid Al Imtizad atau dalam bahasa Cina, Ronghe, yang berarti pembauran. Sesuai dengan tujuannya, masjid itu didirikan sebagai sarana pembauran kaum Tionghoa Muslim dengan masyarakat lainnya.

Bagi kalangan Tionghoa, menurut Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jabar H. Eko Tanuwiharja, kehadiran Masjid Al Imtizad bisa dijadikan pusat informasi dan konsultasi keislaman. “Kami menyadari, kami minoritas. Makanya, kami perlu berbaur dengan masyarakat lainnya,” ucap Eko saat ditemui di sela -sela pembangunan Masjid Ronghe.

Pembangunan masjid berkapasitas 200 jemaah itu, ditargetkan rampung Februari 2009. Menyandang nama lain sebagai “Kelenteng Berkubah”, Masjid Al Imtizad sangat terbuka bagi umat Islam dari mazhab mana pun karena pada dasarnya, seluruh umat Islam adalah bersaudara.

Pembangunan Masjid Ronghe didasari sebuah obsesi untuk membangun Masjid Cheng Ho seperti di Surabaya dan Palembang. Masjid Cheng Ho di Surabaya dan Palembang, menurut Eko, mengadopsi arsitektur Masjid Niu Jie di Beijing, Cina. Karena keterbatasan luas lahan, Masjid Ronghe tidak bisa sepenuhnya meniru gaya Masjid Cheng Ho yang berhalaman luas.

Arsitek masjid Ir. Danny Suwardhani, merancang masjid dengan gaya Cina sekental mungkin. Menurut pengurus Masjid Lau Tze 2, Sendy, hal itu akan menimbulkan kenyamanan bagi masyarakat Tionghoa untuk belajar Islam. “Beda rasanya kalau arsiteknya Cina, jadi lebih nyaman untuk belajar Islam,” tuturnya.

**

ATAS inisiatif H. R. Nuriana (mantan Gubernur Jabar), cita-cita mendirikan masjid sebagai pusat koordinasi Tionghoa Muslim, akhirnya terwujud dengan bantuan seorang pengusaha Muslim pemilik ATC Mal Banceuy, H. Nuzli Arismal. Pengelola mal, yaitu PT Interna Permai mengizinkan pendirian masjid di lahan seluas 300 m2 di kiri pintu gerbang mal dan menghadap ke Jln. Banceuy.

Di kalangan Tionghoa Muslim Jabar, selama ini dikenal beberapa organisasi di antaranya Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Yayasan Haji Karim Oei (Masjid Lau Tze 2), dan Yayasan Ukhuwah Mualaf Indonesia (YUMI). Ketiga organisasi itu sekarang memiliki wadah bersama dalam Ikatan Persaudaraan Tionghoa Islam (IPTI) yang dideklarasikan awal November 2008 di Bandung. Kelak, jika Masjid Ronghe sudah berdiri, IPTI inilah yang akan bekerja sama memakmurkan masjid.

MASJID CHENG HO SURABAYA

mohon maaf kalau ada salah2 kata. kebenaran milik allah semata. mohon maaf atas kemiskinan ilmu saya. terima kasih

Wassalam,

KEHADIRAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM TAURAT DAN INJIL.


Sesungguhnya banyak sekali kejadian yang terjadi dimasa Rasulullah yang sudah dicantumkan didalam kitab2 suci sebelum Alqur’an diturunkan,

namun karena perbuatan orang2 yang mengingkari kebenaran yang telah dipaparkan dalam kitab2 terdahulu, maka peristiwa2 tersebut disamarkan, bahkan banyak sekali yang dihilangkan, seperti beberapa contoh berikut ini :

1. Nubuat yang disampaikan Allah kepada Abraham (Ibrahim AS) :
“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati
engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi
berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan
mengutuk orang-orang yagn mengutuk engkau, dan olehmu semua
bangsa di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12: 2-3).

Dalam nubuat ini, ada beberapa hal yang tidak bisa tidak hanya mengena pada pribadi Rasulullah Muhammad SAW.

a. secara umum pada kalimat “aku akan membuat engkau menjadi bangsa
yang besar”, setidak-tidaknya disini mengandung dua pengertian :

1. bahwa dari keturunan Abraham (Ibrahim AS) inilah yang banyak
menurunkan para nabi penuntun umat manusia. Dari gari keturunan
Ishak menurunkan para nabi bangsa yahudi/ Israel seperti Yakub,
Musa, harun, Daud, Sulaiman, Daniel, Yesus, dan lain-lain. Sedang dari
garis keturunan Nabi Ismail menurunkan bangsa Arab. Dari sanalah
lahirnya seorang nabi penuntun umat manusia keseluruhan, bukan
hanya untuk satu bangsa, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

2. Berhubungan dengan kalimat “dan olehmu semua bangsa di muka bumi
akan mendapat berkat”, dari kalimat ini jelas hanya menunjuk pada
pribadi Rasulullah Muhammad SAW sebagai keturunan Ibrahim dari garis
keturunan Ismail. Sebab, hanya beliaulah nabi dan Rasul yang diutus
Allah untuk membawa rahmat dan barokah-Nya bagi seluruh umat
manusia, bukan hanya untuk satu bangsa, tapi untuk seluruh alam
semesta, seperti yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an :

“Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS: Al Anbiyaa : 107).

Ini sesuai dengan nubuat yang disampaikan Nabi Yesaya :
“Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh rohKu keatasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa2. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi, segala pulau mengharapkan pengajarannya” (Yesaya 42 : 1-4).

Namun nubuat nabi Yesaya ini dibelokkan untuk Yesus oleh kamu Kristiani abad pertama (yang tertulis dalam kitab Matius pasal 12 dari ayat 18 hingga 21 yang merupakan perulangan dari nubuat Yesaya diatas). Padahal Yesus diutus Allah bukan untuk semua bangsa, melainkan hanya untuk bangsa Israel. Hal ini sebagaimana yang dia akui sendiri :

“Jawab Yesus :” Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel“, (Matius 15-24).

“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius. 10 : 5-6)

b. Dari kalimat “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati
engkau”, Dari sini jelas hanya menunjuk pada Nabi Muhammad SAW, tidak
mungkin kepada yang lain, karena hanya beliaulah yang mengajarkan
kepada umat manusia agar mengirim doa keberkatan kepada Nabi
Muhammad SAW dan nabi Ibrahim AS berupa sholawat yang selalu dibaca
setiap kali sholat (baik sholat fardu maupun sholat sunnah), yaitu pada
bacaan tasyahud akhir :
“Kamaa baarokta ‘alaa Ibrahim” , yang berarti sebagaimana engkau
memberi berkah kepada nabi Ibrahim. Dengan demikian, hanya Nabi
Muhammad SAW beserta umatnya yang mendapat keberkatan dari Allah
Subhanahu wa ta’ala. Umat yang dimaksud disini adalah yang mengikuti
risalah Nabi Muhammad SAW juga para nabi lainnya, bukan dalam
pengertian umat manusia secara umum yang menjadi objek misi da’wah
para nabi itu.

Nubuat lainnya juga disampaikan melalui Abraham (Ibrahim AS) antara lain berbunyi :

“ Tentang Ismail, aku telah mendengarkan permintaanya. Ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak. Ia akan menurunkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar (Kejadian. 17 : 20).

Suatu janji Allah yang cukup jelas ditujukan kepada keturunan Abraham memalui garis keturunan Ismail yang akan menurunkan bangsa yang besar (bangsa Arab). Sebab, dari sanalah nabi Agung untuk seluruh alam semesta lahir (QS. Al Anbiyaa : 107), yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

Demikian pula nubuat senada yang disampaikan Allah kepada Siti Hajar (Hagar), Ibu Ismail AS, istri kedua Nabi Ibrahim yang berbunyi :

“ bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, karena Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar” (Kejadian 21 : 18)

2. Nubuat Nabi Yesaya tentang peristiwa Nuzulul Qur’an atau turunnya
wahyu Al Qur’an di Goa Hira :

“ Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan : ‘Baiklah baca ini’, maka ia akan menjawab : “Aku tidak dapat membaca”. (Yesaya 29 : 12).

Nubuat itu tidak mungkin diturunkan kepada selain Rasulullah Muhammad SAW, sebab, hanya beliaulah nabi dan rasul yang ummi (tidak tahu baca tulis atau buta huruf), dan beliau saja yang mengalami peristiwa ini. Yaitu, tatkala beliau menerima wahyu Al Qur’an untuk pertama kalinya (lima ayat pertama surat Al ‘Alaq) di Goa Hira dengan kronologi dialog seperti pada nubuat Yesaya diatas, Yakni, ketika Malaikat Jibril (Gabriel) memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membaca iqro’ (bacalah), maka beliau menjawab “Aku tidak bisa membaca” hingga tiga kali baru kemudian dituntun malaikat Jibril.

Jika umat Nasrani mengklain itu ditujukan kepada Yesus, jelas tidak mungkin dengan alasan :

a. Yesus tidak pernah mengalami peristiwa ini dikitab manapun, bahkan di
Injil Barnabas yang tidak diakui umat nasrani namun diakui sebagian
besar umat Islam sekalipun.

b. Yesus adalah nabi yang dapat membaca (tidak buta huruf), Hal ini
dengan bukti pada kitab Lukas tertulis :

“ Ia datang ke Nazaret tempat ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat ia masuk kerumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari al-kitab.” (Lukas 4:16).

3. Nubuat Nabi Daniel tentang peristiwa Isro Mi’roj nabi Muhammad SAW
“Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan
awan-awan dari langit seorang anak manusia, datanglah ia kepada Yang
Lanjut Usianya itu, dan ia dibawah kehadapan-Nya. Lalu diberikan
kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka
orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi
kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan
lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” (Daniel
7 ayat 13-14).

Kaum nasrani beranggapan bahwa nubuat ini ditujukan kepada Yesus. Akan tetapi, hal ini justru bertentangan dengan Kitab Musa yang menegaskan :

“Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit diantara orang Israel”. (Ulangan 34 : 10).

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setelah Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka ketika di Gunung Sinai, tidak ada lagi nabi diantara Bani Israel yang mengalami peristiwa seperti itu (datang berhadapan langsung dengan Allah), walaupun setelah nabi Musa masih banyak nabi dari kaum Israel (termasuk Yesus).

Dan yang lebih fatal lagi, orang-orang nasrani menganggap Yesus adalah Tuhan sendiri yang turun ke dunia dalam bentuk manusia. Jika dihubungkan dengan nubuat Nabi Daniel, maka akan semakin tidak masuk akal. Sebab suatu hal yang tidak bisa dimengerti bahwa Tuhan dibawa sesuatu untuk menghadap Tuhan. Logika semacam ini hanya berlaku untuk kaum yang berpaham “polytheisme” (berpaham banyak Tuhan), yang menganggap ada Tuhan Bapak, Tuhan Anak, hal mana Tuhan bapak lebih berkuasa dari Tuhan Anak. Atau beranggapan adanya Tuhan Besar dan Tuhan Kecil (Tuhan besar lebih berkuasa dari pada Tuhan yang Kecil) persis seperti kisa nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala yang disembah raja Namrud (Nimrod) dan kaumnya. Padahal, baik Musa dan Yesus mengajarkan agar umatnya hanya menyembah satu Tuhan saja (monotheisme), seperti tertulis pada al-Kitab :

“ Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa (Ulangan.
6 : 4).

Jawab Yesus, “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel,
Tuhan Allah Kita, Tuhan itu Esa.” (Markus 12:19).

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah
Engkau Utus.” (Yohanes 17:3)

Bahkan Yesus mengancam orang-orang yang mempertuhankan beliau
dengan mencap mereka sebagai pembuat kejahatan. Sedang dalam Islam
lebih jelas lagi, bahwa hukum mempersekutukan Allah merupakan dosa
besar yang tidak akan diampuni Allah.

Sabda Yesus :” Pada hari terakhir, banyak orang-orang berseru kepadaku:
Tuhan, Tuhan, bukankah kamu menubuat demi nama-Mu, dan mengusir
setan demi nama-Mu, dan mengadakan mukjijat demi nama-Mu juga? Pada
waktu itulah aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku
tidak pernah mengenal kamu: Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian
pembuat kejahatan.” (Matius 7 : 22-23)

Demikianlah, Islam sebagai satu-satunya agama samawi yang benar dan masih murni meskipun penubuatannya disembunyikan oleh kitab-kitab agama samawi sebelumnya yang telah diubah-ubah umatnya yang tidak beriman, Sebagai contoh penubuatan Nabi Muhammad SAW. Ternyata, setelah kita teliti dengan cermat, Bibel yang menjadi pegangan kaum Yahudi dan nasrani saat ini, sebagai ‘mantan’ Kitab samawi (dari wahyu Allah) ternyata masih ‘mampu’ menguak kebenaran yang selama ini tidak tampak dan tidak tercermati oleh umat secara umum.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

“ Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membecinya”. (QS. Ash-Shaff : 8)

Semoga tulisan ini mampu menggugah ‘nurani/fitrah’ orang-orang yang menginginkan/ mendambakan kebenaran, untuk lebih meneliti dan mencermati serta mengkritisi nilai-nilai kebenaran yang ada dalam setiap agama, dengan harapan agar benar-benar mendapatkan kebenaran yang hakiki yang dirihoi Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Subhanakallahuma wabihamdika, Asyhadu ala ilahaila anta astagfiruka wa atubuilaika

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh..