Sejarah Chinese Muslim di Indonesia

Chinese Muslims at worship in Indonesia.

Assalamualaikum wr wb,

berawal dari pertanyaan seorang member di versi milist “koq begitu banyak chinese kristen di indonesia?” (padahal mostly orang tionghoa menganut buddha/kong huchu, dan menurut sejarah dan sensus, islam agama terbesar kedua di china)

Kalau boleh saya ceritakan sedikit, sejarah kedatangan orang2 china ke indonesia. referensi saya buku tulisan “H.J. de Graff” yang berjudul “Catatan Melayu”, di sadur menjadi judul “Cina-Muslim”.

selama ini di sekolah dasar kita diajari guru sejarah kita, bahwa islam masuk ke indonesia melalui pedagang2 arab-gujarat. tapi ternyata tidak seperti itu, walaupun ada pengaruh penyebarannya gak sesignificant yg dilakukan orang2 china pada masa lalu. dimana ulama2 tionghoa sengaja datang ke nusantara untuk memperkenalkan risalah ini. mungkin di daerah pesisir lebih banyak dilakukan pedagang2 arab-gujarat.

dalam catatan sejarah, tercatat sejak zaman sam po bo pada 1368 sampai kedatangan arus orang2 tionghoa-hokkian (non-muslim) 1585. mula2 disebarkan adalah mahzab hanafi, karena saat itu dinasti Ming banyak mempekerjakan pejabat2 tionghoa yang bermahzab hanafi. sejak 1368, muslim tionghoa banyak mewarnai percaturan politik di nusantara, kita bisa mengenal2 nama seperti sunan ampel (bong swi hoo), Haji Ma Feng Tsih, Haji Ma Hong Fu, Haji Gan En Wang (tekenal sebagai mubaligh sohor di Tuban pada zamannya).

1546, adalah masa penyebaran islam oleh cina-muslim yang beraliran syi’ah, dimana kesultanan Pajang mulai berdiri menggantikan kesultanan Islam Demak yang telah runtuh.hal ini juga menyebabkan sisa2 penganut mahzab hanafi mengungsikan diri ke daerah kaki gunung ciremai (Cirebon).

Tahun 1985, imigran cina non-muslim (hokkian) mulai berdatangan. orang hokkian yang tercatat pertama kali ada Haji Tan Eng Hoat (Cirebon), sebelumnya kebanyakan orang cina yang datang berasal dari Yunnan dan Swatow.

Lalu kalau dilihat dari sejarah ini, kenapa banyak chinese yang kristen di indonesia??

dari buku yang dulu pernah saya baca waktu kuliah yg kalo gak salah judulnya “Etnis Tionghoa dan pembauran”. berawal sejak masuknya imperialisme belanda di indonesia. orang cina muslim banyak yg membaur dg masyarakat pribumi karena kedekatan akidah dan merasa nusantara sudah bagian dari diri mereka. penjajah belanda saat itu melakukan politik memecah belah, diantaranya membagi kelas dalam masyarakat, kelas 1 orang2 bule (belanda), kelas 2 orang2 tionghoa, dan masyarakat pribumi menjadi kelas no.3. selain itu di masa ini terjadi pemulangan besar2an orang china-muslim ke china, pada masa itu orang china-muslim disebut “Huakiao” (cmiiw, karena saya hanya mengandalkan ingatan saya tentang buku ini, saya lupa dimana buku ini). “huakiao” kalo ngelihat dialect mirip “huijiao” yg artinya “islam”, mungkin maksudnya sama, wallahu’alam. Namun demikian, tetap saja masyarakat tionghoa non-muslim ini masih banyak yang menganut buddha, dan kong hu chu.

titik tolak perpindahan orang tionghoa di indonesia non-muslim mulai terjadi setelah revolusi tahun 1965, dimana rezim baru saat itu, mulai memutuskan diplomasi dg china, dan secara tidak langsung menuduh warga tionghoa ikut terlibat dalam komunisme. hal ini memberikan option bagi warga tionghoa untuk menyembunyikan identitas etnis mereka dengan berbaur memeluk agama2 non-tionghoa yang ada di indonesia saat itu. pilihan yang mungkin adalah katolik dan protestan, kebanyakan memilih katolik karena menurut mereka relatif lebih gampang beribadahnya. sedikit yg memilih untuk masuk islam, karena image yg dibentuk penjajah mengenai pembagian kelas dalam masyarakat. islam dipandang agama orang2 terbelakang, dan masyarakat rendahan (kelas 3). image ini masih banyak melekat pada masyarakat tionghoa non-muslim sampai saat ini. ini juga dikonfirm pak syafei antonio, waktu saya dengar ceramahnya dulu, reaksi yg dia dapat saat dia memutuskan utk menjadi muslim.

mungkin ini sejarahnya kenapa banyak chinese christian di indonesia, kebanyakan diluar indonesia masyarakat tionghoa lebih banyak yang memeluk agama leluhur mereka (kong huchu/buddha). ini menurut buku yg saya baca lho?! wallahu’alam.

Komunitas Cina Muslim : Minoritas di Antara Minoritas

muallaf-bule

Populasi Cina muslim terus tumbuh di berbagai kota besar di Indonesia, tapi persentasenya amat kecil. Di Indonesia, keturunan Cina banyak memeluk agama Kristen, Katolik, atau Konghucu. Pemeluk Islam dari kalangan ini sangat kecil. Mereka tersebar di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya tidak jelas karena tidak pernah dilakukan pendataan yang serius. Di Indonesia, komunitas Cina muslim dipayungi Yayasan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Organisasi ini punya cabang di 16 kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Pontianak. Jumlah Cina muslim di Indonesia tak kurang dari 80.000 orang. Mereka menjadi minoritas muslim di antara minoritas Cina. Dengan posisi seperti ini, katanya, peran mereka jarang terlihat. Tidak ada data statistik yang jelas. Peran Haji Karim Oei sangat besar. Dari tahun 1991 sampai sekarang, Masjid Lautze mengislamkan lebih dari 1.600 orang. Dua tahun terakhir, setiap minggu ada dua sampai tiga orang yang menjadi mualaf yang berikrar Islam di masjid ini.

Dengan terpatah-patah, Paulus Prasetya, 32 tahun, melafalkan surat Al-Fatihah. Setelah itu, surat Al-Ikhlas dan An-Naas dapat ia selesaikan tanpa teks. “Alhamdulillah, saya tidak perlu waktu lama untuk menghafalkannya,” katanya. Ketika ditemui Gatra di Masjid Lautze, Jakarta Utara, pertengahan Ramadan ini, Paulus tengah belajar mengaji Al-Quran. Seminggu setelah memeluk agama Islam, ia rajin menghafal surat-surat pendek untuk bekal bacaan salat.

Paulus adalah salah satu jamaah Masjid Lautze. Masjid bewujud ruko itu menjadi pusat aktivitas komunitas Cina di Jakarta. Setiap hari, bujangan yang tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, itu datang ke masjid yang terletak di Jalan Lautze Nomor 87 itu untuk belajar ibadah. “Di sini saya merasa nyaman karena banyak muslim yang baru belajar seperti saya,” ujarnya.

Abdul Karim Oei Pendiri Mesjid Lautze

Telah lama ia mendengar cerita mengenai keberadaan masjid yang menjadi landmark komunitas muslim Cina di Jakarta itu. Maka, ketika keinginan memasuki agama Rasulullah mendesak di benaknya, ia segera mencaritahu lokasinya. Oleh pengurus Yayasan Haji Karim Oei, yang membawahkan masjid itu, ia disyahadatkan dan diberi pembinaan agama. Kini Paulus mengaku mantap dengan kepercayaan baru yang dipeluknya dan telah menyandang nama baru, Mohammad Rizqi. “Semoga ini menjadi jalan hidup saya sampai mati,” ungkapnya lirih.

Masjid Lautze adalah masjid pertama yang didirikan komunitas Cina muslim di Indonesia. Di sini, syiar Islam untuk kalangan Tionghoa disuarakan. Bangunan yang didirikan Haji Karim Oei pada 1991 itu tidak hanya menjadi tempat jamaah menunaikan salat, melainkan juga berkembang menjadi simpul silaturahmi warga muslim keturunan Tionghoa di Jakarta dan sekitarnya.

Masjid yang berada di antara deretan ruko di kawasan Pecinan ini dilengkapi perpustakaan yang mengoleksi berbagai literatur agama, termasuk Al-Quran dengan terjemahan bahasa Mandarin. Koleksi yang ada sangat membantu para jamaah yang ingin memperdalam ilmu agama.

Kini masjid empat lantai berukuran 8 x 14 meter itu berkembang menjadi semacam Islamic Center. Selain tempat ibadah dan silaturahmi, di sini digelar pula kursus bahasa Mandarin. Saban Ahad, para mualaf bermata sipit dari Jakarta dan kota-kota satelitnya menggelar pengajian. Pertemuan itu juga dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu keislaman, karena sebagian besar anggota komunitas ini masih minim ilmu agama.

Mesjid Lautze Jakarta

Kepada Gatra, Ketua Yayasan Haji Karim Oei, Ali Karim Oei, mengungkapkan bahwa pada saat ini ada ribuan Cina muslim di Jakarta dan sekitarnya. Ia tidak bisa menyebutkan angka pastinya karena tidak ada data yang valid. Putra Haji Karim Oei itu memperkirakan, populasi Cina muslim tak lebih dari 5% populasi Cina di Jakarta. Sedangkan populasi Cina mencapai 20% dari 8 juta penduduk Jakarta.

Yang jelas, dari tahun 1991 sampai sekarang, masjid ini mengislamkan lebih dari 1.600 orang. Dalam dua tahun terakhir, kata Ali, setiap minggu ada dua sampai tiga orang yang menjadi mualaf yang berikrar Islam di masjid ini. Sebagian Cina muslim sulit ditelusuri jejaknya karena telah membaur. “Mereka menikah dengan muslim pribumi dan menghilangkan identitas Cinanya,” Ali menandaskan. Di Jakarta, kelompok ini tidak terkonsentrasi di kawasan tertentu, melainkan tinggal menyebar.

Di Indonesia, keturunan Cina banyak memeluk agama Kristen, Katolik, atau Konghucu. Pemeluk Islam dari kalangan ini sangat kecil. Mereka tersebar di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya tidak jelas karena tidak pernah dilakukan pendataan yang serius. Di Indonesia, komunitas Cina muslim dipayungi Yayasan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Organisasi ini punya cabang di 16 kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Pontianak.

Logo PITI
Menurut Ketua Umum PITI, H.M. Trisno Adi Tantiono, jumlah Cina muslim di Indonesia tak kurang dari 80.000 orang. Mereka menjadi minoritas muslim di antara minoritas Cina. Dengan posisi seperti ini, katanya, peran mereka jarang terlihat.

Namun pembinaan terhadap mereka terus dilakukan oleh PITI. Organisasi inilah yang berperan besar atas penyebaran agama Islam di kalangan Tionghoa sejak 1961. Di antara dewan pendirinya adalah H. Abdul Karim Oei Tjeng Hien.

Ia seorang perintis Islam kalangan Tionghoa kelahiran Padang, 1905. Karim Oei masuk Islam pada 1929 setelah hijrah ke Bengkulu. Di sana, ia diangkat menjadi Konsul Muhammadiyah. Ketika itu, ia akrab dengan Bung Karno yang sedang dalam pembuangan. Kemudian ia menjadi salah satu pimpinan Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan setelah itu mendirikan PITI.

image

Sebuah Keluarga Tionghoa jemaah PITI
sedang belajar dan membaca Al Quran

Berdirinya PITI tak lepas dari dukungan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah pada saat itu, KH Ibrahim. Ibrahin mengungkapkan kepada H. Abdul Karim Oei bahwa menyampaikan agama Islam kepada etnis Tionghoa harus dilakukan oleh etnis Tionghoa sendiri.

Organisasi ini lalu dibentuk dengan kantor pusat di Jakarta. Setelah pemberontakan PKI pada 1965, simbol-simbol yang menghambat pembauran dilarang pemerintah. Pada 15 Desember 1972, PITI mengubah kepanjangannya menjadi Pembina Iman Tauhid Indonesia. Dalam melakukan pembinaan agama, PITI dibantu Yayasan Haji Karim Oei, yang mengurus masjid, perpustakaan, dan beberapa kegiatan keagamaan. Yayasan inilah yang mengelola Masjid Lautze 1 di Jakarta dan Masjid Lautze 2 yang terletak di Jalan Tamblong Nomor 27, Bandung.

Di Surabaya, syiar Islam juga bergaung di antara kaum mata sipit. Masjid Cheng Hoo, yang dibangun pada oktober 2002, menjadi sentra kegiatannya. Di ”kota pahlawan” saja, populasi komunitas muslim Tionghoa mencapai 700-an orang. Namun jumlah ini masih belum sepadan dengan populasi Cina di Surabaya yang mencapai 6.000 lebih.

Acara buka bersama dgn masyarakat di Mesjid Cheng Ho
Pendiri Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo, Haji Abdul Halim Muhammad alias Li Guang Lin, mengungkapkan bahw Surabaya merupakan basis muslim Tionghoa yang perkembangannya tercepat di Indonesia. Populasi di Surabaya yang kini mencapai 700 terus berkembang. Setiap tahun, ada sekitar 30 mualaf baru yang bergabung. Sejak Yayasan Cheng Hoo berdiri, penyebaran agama Islam di komunitas Cina Surabaya makin baik. Dalam satu bulan, katanya, jumlah mualaf yang direkrut sebanyak satu sampai empat orang.

Masjid Cheng Hoo juga punya fungsi ganda. Selain tempat ibadah, masjid beraksitektur kelenteng ini menjadi tempat pengajian dan pembinaan mualaf. Di masjid yang terletak di Jalan Gading III itu, ibadah dijalankan dengan menganut pakem umum, tidak masuk paham keormasan tertentu, seperti NU, Muhammadiyah, Syiah, ataupun Wahabi.

Hal itu dilakukan, kata Halim, agar komunitas ini diterima semua kalangan. Salat tarawih, misalnya, dilakukan delapan rakaat, lalu diteruskan hingga 20 rakakat. ”Jamaah boleh memilih yang diyakininya,” ujar lelaki yang masuk Islam pada 1982 itu.

Cina muslim di seluruh Jawa Timur juga tak lepas dari pembinaan PITI. Di kawasan yang merupakan basis kalangan nahdliyyin ini, organisasi itu tumbuh cukup pesat. Pada saat awal berdiri, tahun 1983, anggota PITI Jawa Timur hanya sekitar 50 orang. Namun sekarang mencapai lebih dari 8.000, yang tersebar di 26 cabang di berbagai kabupaten.

Cina muslim di Surabaya boleh dibilang paling dinamis. Selain persentase pertambahan anggotanya paling tinggi, ia kaya program, terutama sosialisasi dan pembauran. Cina muslim Jawa Timur juga pintar membaur. Dalam setiap kegaitan, Masjid Cheng Hoo selalu melibatkan warga lokal. Misalnya peringatan Nuzulul Qur’an, donor darah, dan pengobatan tradisional Cina.

Tahun lalu, PITI Jawa Timur memberikan bantuan bibit jarak kepada 84 pesantren di Jawa Timur. Penandatanganan kerja samanya dilakukan di Pesantren Langitan, Tuban, milik tokoh NU karismatik, KH Abdullah Faqih. Di Jawa Timur, masyarakat muslim keturunan Tionghoa diberi kebebasan mengikuti organinasi sosial kemasyarakatan maupun partai politik. Hubungan antara PITI dan Jamiyah Nahdlatul Ulama tampaknya cukup dekat. Selain sering bekerja sama dalam kegiatan, anggota PITI juga ada yang menjadi pengurus NU.

Halim, misalnya, kini menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Perekonomian PWNU Jawa Timur, Wakil Ketua Cabang NU Taman, Sidoarjo, dan penggurus MUI Jawa Timur.

Lain Surabaya, lain pula Medan. Di kota ini, komunitas Cina muslim tidak dinaungi PITI. Komunitas ini dipayungi Himpunan Pembauran Muslim Tionghoa Indonesai (HPMTI), yang didirikan Hj. Maimunah pada 1983. Hj. Maimunah adalah Cina muslim pertama yang punya kesadaran berorganisasi. Pada 1980-an, ia bersepeda motor mendatangi rumah-rumah Cina muslim di Medan dan sekitarnya untuk mengajak berkumpul.

Kumpulan itu lalu diformalisasi menjadi HPMTI, yang kantornya mengambil ruangan di rumah Hj. Maimunah di Jalan Mahkamah, Medan. Hj. Maemunah meninggal dua tahun lalu, tapi rumahnya tetap menjadi sekretariat HPMTI. Lembaga ini sampai sekarang menjadi tempat berkomunikasi dan berbagi di antara Cina muslim di Medan. Komunitas itu memiliki jadwal tetap untuk pengajian rutin bulanan dan arisan.

Bendahara HPMTI, Nuraini alias Wong Sueng, 48 tahun, mengungkapkan bahwa organisasinya merupakan lembaga yang secara tradisional mengikat Cina muslim di Medan. Di Sumatera Utara, lembaga inilah yang pertama kali muncul, sehingga PITI yang cukup dikenal di Jawa kurang mendapat tempat.

Pada saat ini, menurut catatan lembaganya, populasi Cina muslim di Medan mencapai 1.000 keluarga. Ini angka yang kecil, mengingat komunitas Cina di sana mencapai 20% dari sekitar 2,3 juta penduduk kota Medan. Kepada Gatra, Nuraini mengatakan bahwa minimnya jumlah Cina Medan yang masuk Islam karena masih sangat kuatnya stigma bahwa Islam adalah agama yang kasar dan menakutkan.

Inilah jawaban mengapa selalu timbul resistensi cukup kuat terhadap warga Tionghoa yang masuk Islam, baik dari keluarga maupun lingkungannya. ”Biasanya mualaf baru akan ditolak komunitasnya,” katanya. Pada saat ini, HPMTI mendambakan kantor dan masjid milik sendiri yang menjadi pusat aktivitas. Selain untuk tempat ibadan, tempat itu diharapkan menjadi pusat syiar Islam di kalangan Tionghoa.

Di Medan, Cina muslim sulit berpisah dari tradisi leluhurnya. Salah satu ritual lama yang masih mereka lakukan adalah ziarah kubur ketika Cheng Beng. ”Mayoritas anggota kami masih ikut Cheng Beng untuk menghormati leluhur. Ini adat, jadi sulit hilang,” katanya. Cina muslim ikut berpartisipasi, meskipun tidak ikut sembahyang dan membakar hio.

Sejak kejatuhan rezim Orde Baru, masyarakat Cina muslim di Indonesia lebih terbuka dan leluasa dengan identitas budaya dan agamanya. Demikian menurut dosen Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, yang juga mahasiswa program doktor Universitas Queensland, Akhmad Muzakki. Di Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia, Cina muslim merupakan minoritas di antara minoritas (minority within minority). “Pada era Orde Baru, kaum Cina hanya berkecimpung dalam kegiatan ekonomi. Tapi sekarang, mereka leluasa melakukan eksplorasi budaya dan mendemokan ritual agamanya,” ujarnya.

Dalam karya tulisnya bertajuk “Masjid Cheng Hoo: Pribumisasi Budaya Cina dan Distansiasi dari Hegemoni Politik Negara di Indonesia”, ia memaparkan bahwa kehidupan masyarakat Cina muslim di Surabaya lebih terbuka tanpa hegemoni negara. Keterbukaan itu, misalnya, dapat dilihat pada gaya arsitektur Masjid Cheng Hoo yang mereka dirikan.

Masjid yang dibangun dengan biaya Rp 700 juta itu sangat menarik, karena masyarakat Cina muslim tidak sekadar menampilkan kemuslimannya, melainkan juga menunjukkan identitas kultural kecinaannya. Di Surabaya, kata Muzakki, Cina muslim berkolaborasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, terutama NU dan Muhammadiyah, untuk memudahkan mereka menyalurkan aspirasi.

Berelaborasi dengan ormas itu dianggap penting, karena eksistensi kelompok ini akan lebih mudah dilihat dan aspirasinya lebih mudah didengar para birokrat bila kepentingan mereka disuarakan juga oleh ormas.

MASJID LAU TZE JAKARTA

Kebanyakan masjid di Indonesia berdiri kokoh dan megah dengan pengaruh kebudayaan kubah Timur Tengah. Berbeda dengan masjid satu ini, yakni Masjid Lautze yang berada di jalan Lautze no. 87-89 Jakarta Barat. Masjid ini tidak memiliki tampilan seperti kebanyakan tempat ibadah.

Namun, sejarah panjang tersimpan dari masjid yang didirikan 1991 silam oleh mantan Presiden BJ Habibie ini. Berawal dari sejumlah tokoh islam yang berasal dari ormas islam seperti NU, Muhammdiyah, Al-wasliyah,Kahmi dan putra muslim keturunan cina Haji Karim Oei, (Ali karim Oei) membuat yayasan yang diberi nama Yayasan Oei Tjeng hien.Yayasan ini kemudian dikenal sebagai Yayasan Haji Karim Oei, sebuah yayasan informasi islam bagi warga negara indonesia (WNI) keturunan cina yang beragama islam.
http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/next_1_ed14.jpg
Yayasan melihat Muslim kurang memperhatikan penyebaran dan pengetahuan Islam pada etnis minoritas Tionghoa. Lantas pada tahun 1993-1994 setelah terkumpul dana dipilihlah sebuah ruko di daerah pecinan jalan Lautze 87-89 untuk dijadikan mesjid.”Perlu kerja keras untuk mengkontrak bangunan ini. Bahkan kami sempat menunggak bayaran bunga bank untuk mengontrak bangunan,” ungkap Ali Karim Oei kepada Republika Online daat ditemui di salah satu ruang mesjid di lantai dua.

“Bisa dibilang Masjid Lautze merupakan masjid pertama di Indonesia yang mengontrak,” ungkap Ali. Namun, menurut Ali,”Kalau kita ingin berbuat baik tidak perlu mejadi kaya terlebih dahulu,” ujar Ali menambahkan. Ia menilai, keberadaan mesjid ini mempunyai peran vital yakni sebagai jembatan antara Islam dengan etnis tionghoa.

“Sekarang ini banyak warga keturuan menganggap Muslim identik dengan terorisme dan tukang kawin. Bahkan jika ada warga keturunan yang masuk Islam dianggap niat mau kawin lagi,” ujar Ali. Menurut Ali kesalahan pemahaman seperti itu terjadi karena informasi seputar islam yang kurang d kaum Tionghoa.

“Adanya masjid seperti ini memungkinkan warga keturun non-muslim bertanya dan berdialog seputar keislaman,” tegas Ali. Keuntungan lain menurut Ali, pemuka agama lain juga datang tanpa ada masalah sehingga Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta terwujud.

Meski tampang berbeda, tapi seperti masjid kebanyakan, pengajian dan diskusi seputar agama islam selalu diadakan setiap hari minggu di sana. Masyarakat sekitar baik muslim maupun non-Muslim dapat bergabung. Berdasarkan keterangan Ali, Masjid ini menurut pengakuan Ali sudah mengislamkan hampir 1600 warga keturunan semenjak tahun 1995. “Sekarang sudah banyak mahasiswa dan anak muda yang masuk islam,” ungkapnya.

Memandang apa yang terjadi pada umat islam sekarang, dia menilai umat islam telah lupa kepada Al-quran dan Al Hadist.”Sebenarnya ajaran islam tidak susah dijalankan. Kita saja yang membuat sulit,” kata Ali. Islam itu, bagi Ali mengajarkan meletakan sesuatu pada tempatnya. “Agama jangan dipersulit,” kata Ali menegaskan.

Dia sendiri berharap, dalam situasi ekonomi saat ini, warga keturunan tetap bersatu dengan warga negara indonesia lain untuk membantu negara. Ali berpandangan jangan melihat apa yang diberikan negara kepada kita, tapi apa yang kita berikan kepada negara.

MASJID LAU TZE 2 BANDUNG

Setelah Lau Tze, Akan Berdiri Al Imtizad/ masjid Ronghe

gambar rencana masjid Ronghe, Bandung
KOMUNITAS Muslim Tionghoa di Bandung akan segera memiliki masjid baru selain Masjid Lau Tze 2 di Jln. Tamblong No. 2 Kota Bandung. Masjid baru di Kompleks ATC Banceuy, Jln. Banceuy No. 8 tersebut, akan dinamai Masjid Al Imtizad atau dalam bahasa Cina, Ronghe, yang berarti pembauran. Sesuai dengan tujuannya, masjid itu didirikan sebagai sarana pembauran kaum Tionghoa Muslim dengan masyarakat lainnya.

Bagi kalangan Tionghoa, menurut Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jabar H. Eko Tanuwiharja, kehadiran Masjid Al Imtizad bisa dijadikan pusat informasi dan konsultasi keislaman. “Kami menyadari, kami minoritas. Makanya, kami perlu berbaur dengan masyarakat lainnya,” ucap Eko saat ditemui di sela -sela pembangunan Masjid Ronghe.

Pembangunan masjid berkapasitas 200 jemaah itu, ditargetkan rampung Februari 2009. Menyandang nama lain sebagai “Kelenteng Berkubah”, Masjid Al Imtizad sangat terbuka bagi umat Islam dari mazhab mana pun karena pada dasarnya, seluruh umat Islam adalah bersaudara.

Pembangunan Masjid Ronghe didasari sebuah obsesi untuk membangun Masjid Cheng Ho seperti di Surabaya dan Palembang. Masjid Cheng Ho di Surabaya dan Palembang, menurut Eko, mengadopsi arsitektur Masjid Niu Jie di Beijing, Cina. Karena keterbatasan luas lahan, Masjid Ronghe tidak bisa sepenuhnya meniru gaya Masjid Cheng Ho yang berhalaman luas.

Arsitek masjid Ir. Danny Suwardhani, merancang masjid dengan gaya Cina sekental mungkin. Menurut pengurus Masjid Lau Tze 2, Sendy, hal itu akan menimbulkan kenyamanan bagi masyarakat Tionghoa untuk belajar Islam. “Beda rasanya kalau arsiteknya Cina, jadi lebih nyaman untuk belajar Islam,” tuturnya.

**

ATAS inisiatif H. R. Nuriana (mantan Gubernur Jabar), cita-cita mendirikan masjid sebagai pusat koordinasi Tionghoa Muslim, akhirnya terwujud dengan bantuan seorang pengusaha Muslim pemilik ATC Mal Banceuy, H. Nuzli Arismal. Pengelola mal, yaitu PT Interna Permai mengizinkan pendirian masjid di lahan seluas 300 m2 di kiri pintu gerbang mal dan menghadap ke Jln. Banceuy.

Di kalangan Tionghoa Muslim Jabar, selama ini dikenal beberapa organisasi di antaranya Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Yayasan Haji Karim Oei (Masjid Lau Tze 2), dan Yayasan Ukhuwah Mualaf Indonesia (YUMI). Ketiga organisasi itu sekarang memiliki wadah bersama dalam Ikatan Persaudaraan Tionghoa Islam (IPTI) yang dideklarasikan awal November 2008 di Bandung. Kelak, jika Masjid Ronghe sudah berdiri, IPTI inilah yang akan bekerja sama memakmurkan masjid.

MASJID CHENG HO SURABAYA

mohon maaf kalau ada salah2 kata. kebenaran milik allah semata. mohon maaf atas kemiskinan ilmu saya. terima kasih

Wassalam,

16 responses to “Sejarah Chinese Muslim di Indonesia

  1. aqw bangga??????itu aja,,,,,

  2. semoga kita yang sebangsa dan setanah air selalu bersatu demi agam Allah

  3. Islam adalah agama lintas etnis untuk menyebar kedamaian. Semua jenis arsitektur is OK. Conngratulation for new Masjid.

  4. Rusdianto (liem alexan)

    Aku bangga jadi muslim keturunan china………… Kalau punya anak ingin aku kasih nama Muhammad cheng ho

  5. alamat Masjid CHENG HOO / PITI Surabaya / PITI Jatim
    Gedung Serba Guna PITI
    Jl. Gading No.2
    (belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa)
    Surabaya

  6. ricky thio patiukur

    Saya bangga menjadi warga indonesia turunan berdarah hokkien(min-nan) dari bapak saya dan kakek saya.
    yang saya tau cerita dari mulut bapak saya, bahwa pertama kali islam masuk ke daratan asia yaitu di china sebelum ke indonesia.
    bapak dan kakek saya sebelumnya non muslim?..bapak khatolik, kakek saya kong huchu lalu mualaf mendapat rahmat dari allah…kita semua warga keturunan adalah sama2 saudara turunan adam khususnya huakiao(muslim tiong hoa).
    saya suka ke masjid lau tze di bandung karena saya domisili bandung…salam buat saudara2 hokkian beserta umat muslim di dunia…allah besertamu,amin

  7. asalamu’alaikum…
    mhon kiranya jika terdapat informasi mengenai beberapa judul literatuer ilmiah yang didalamnya membahas mengenai masalah2/kajian2 “Tionghoa Muslim/Non Muslim” untuk memberikan informasi tersebut kepada saya…

    terimakasih.

    Sunariyo. A.
    email; iqassam2@yahoo.com

  8. syukurlah istriku cina tp islam, bapaknya dulu hindu trus mualaf, tp kakeknya kongguchu krn imigran dari cina selatan.
    Sy dan istri bingung kl mau ziarah ke makam kakek neneknya…apa perlu di do’akan, lha keyakinan kami berbeda…

  9. Mas yg nulis artikel…
    pkah saya bisa mendapatkan be2rapa info mengenai buku2 yg negbahas tang Tionghoa Muslim di Indonesia…

    • saya jg mau nanya hal yang sama,,buku2 yg ngebahas tionghoa muslim ddapat dr penerbit mana??krn skrg sy sedang melakukan penelitian ttng hal tersebut, tolong di balas terimakasih^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s