Asal-usul Islam Liberal

Dr. Aminah, imam Wanita Islam liberal yang pernah cetus kontroversi

Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah ta’ala kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
‘Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.’ (QS. 48: 28)

Sebagai rahmat bagi semesta alam ‘Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.’ (QS 21:107)

Dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah ta’ala:
‘Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.’ (QS 3:19)

Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda.

Dalam tesisnya yang berjudul Pemikiran Politik Barat Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio – Kultural dan Politik Masyarakat. (Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn IX/81).

Sanad (asal-usul) Firqah Liberal

Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur an dan sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan pcnduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi ah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahid dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton,. Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah rnenyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama (Nurcholis Madjid: 239)

Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (UAA DKK) (Jaringan Islam Liberal) yang menghasung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok dengan pikirannya.

Misi Firqah Liberal

Dalam tulisan berjudul Empat Agenda islam Yang Membebaskan; Luthfi AsySyaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal.
Pertama, agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia, sistem kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja.
Kedua, mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di negeri-negeri Islam.
Ketiga, emansipasi wanita dan
Keempat kebebasan berpendapat (secara mutlak).

Bahaya Firqah Liberal

1) Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah
2) Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar keimanan
‘Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman’. (QS. Al-Hujurat 11)
3) Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur an dan meragukan kemudian menolak sebagian yang lain, supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiyah mereka menciptakan jalan baru dalam menafsiri al-Qur an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal
4) Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada dalam Islam.
5) Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi sahallallahu alaihi wa sallam, para sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin.
‘Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.’ (QS. An-Nisaa 115).
6) Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku sebagai pembaharu bahkan super pembaharu yaitu neo modernis. Allah berfirman:
Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,’ mereka menjawab, ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman.’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah 11-13).
7) Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L. Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-negara Islam tampil seperti Turki.
8) Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid ah dan setiap bid ah pasti memecah belah.
9) Mereka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup.

Jaringan Islam Liberal Dan Kesesatannya

Maraknya JIL dimasa reformasi bersamaan dengan keinginan kuat umat Islam untuk menerapkan Syari’at Islam bukanlah suatu kebetulan, sepertinya JIL ini dibentuk untuk menghadang kelompok “Fundamentalis” yang ingin kembali kepada Islam secara Kaffah. Berikut ini mari kita coba telaah lebih jauh apa itu JIL, tujuannya dan ide-ide yang diusungnya.

JIL yakni sebuah kelompok dikomandoi oleh Ulil Absar Abdalla, seorang yang dikenal sangat dekat dengan NU dan menantu seorang Kiai NU. Selain Ulil, kontributor JIL atau Islam Liberal yang lain adalah:

Daftar 50 TOKOH JIL INDONESIA

Berikut adalah 50 para tokoh Islam Liberal di Indonesia: 

a) PARA PELOPOR

1) Abdul Mukti Ali (1923-2004)

Guru Besar Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Yogyakarta.
Guru Besar IAIN Yogyakarta.

2) Nurcholis Madjid

IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ( 1965)
Pensyarah Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah (1985-2005)

3) Djohan Effendi

IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1970)

4) Prof.Dr Harun Nasution

Penulis buku-buku teks utama IAIN Indonesia.

5) Abdurrahman Wahid (Gusdur) – Pres.Indonesia (1999-2001).

Pesantren Tambak Beras, Jombang.
Universiti Al-Azhar, Mesir (1964-1966)
Universiti Baghdad (1966-1970)
Ketua Umum Nahdhatul Ulama’ – NU (1984-1999)

6) Ahmad Wahib

Fakultas Ilmu Pasti dan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM)

7) M.Dawam Rahardjo

Fakultas Ekonomi UGM (1969)

8) Munawir Sjadzali

Universiti of Exeter, Inggeris.
Georgetown Universiti Amerika.

b) PARA SENIOR

1) Abdul Munir Mulkhan

Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel (cawangan) Jember dan Sunan Kalijaga.

2) Azyumardi Azra

Fakultas Tarbiyyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1982)
Pensyarah Pasca Sarjana Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyyah IAIN Jakarta (1992-sekarang)
Guru Besar Sejarah Fakultas Adab IAIN Jakarta.
Pembantu Rektor (1) IAIN Jakarta (1998)
Rektor IAIN (UIN) Jakarta (1998-2005)

3) Prof.Dr. Komaruddin Hidayat

Sarjana Fakultas Usuluddin IAIN Jakarta (1981)
Guru Besar Filsafat Agama IAIN Jakarta (2001-sekarang)
Director Pasca Sarjana UIN Jakarta (2005-sekarang)
Rektor UIN Jakarta (2006-2010)

4) Nasaruddin Umar

Sarjana IAIN Alauddin, Makasar.
Dr. IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Pensyarah Fakultas Usuluddin Pasca Sarjana IAIN Jakarta.
Pembantu Rektor 3 IAIN Jakarta.

5) Zainun Kamal

Pembantu Dekan 1 Faklutas Usuluddin UIN Jakarta.
Pensyarah tetap Faklutas Usuluddin, UIN Jakarta.
Pensyarah Pasca Sarjana UIN, Jakarta.

6) Kautsar Azhari Noer

Guru Besar IAIN (UIN) Jakarta.

7) Alwi Abdurrahman Shihab

IAIN Alauddin, Ujung Padang (1986)

8) M.Amin Abdullah

Sarjana Fakultas Usuluddin –Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1982).

9) Masdar Farid Mas’udi

Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1979).

10) Said Aqiel Siradi

Pensyarah Pasca Sarjana UIN Jakarta.

11) Ahmad Syafi’I Ma’arif

Ohio University, Amerika (1980)
Pemikiran Islam, Universiti Chicago, Amerika (1983)

12) Goenawan Mohammad

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

13) Jalaluddin Rahmat

Fakultas Publisistik Universiti Pejajaran (1976)

14) M.Syafi’I Anwar

Colombia Universiti, Amerika (2004)

15) Moeslim Abdurrahman

S2 (Master) dan S3 (Phd) Universiti Urbana, Amerika.

c) PARA PENERUS PERJUANGAN

1) Abd A’la

Faklutas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1987).
Program Magister Pasca Sarjana UIN Jakarta (1996).
Dr. UIN Jakarta (1999).

2) Abdul Moqsith Ghazali

S2 (Master) UIN Jakarta.
S3 (Phd) UIN Jakarta (sekarang).
Pensyarah UIN Jakarta.

3) Ahmad Sahal

Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta.
Faklutas Usuluddin UIN Jakarta.

4) Bahtiar Effendy

Sarjana IAIN Jakarta (1986).
Pensyarah Pasca Sarjana UIN Jakarta (1995-sekarang).
Ketua Dewan Akademi Program Pasca Sarjana UIN Jakarta (1999-sekarang).

5) Fathimah Usman

Sarjana IAIN Wali Songo, Semarang.
Pusat Studi Gender IAIN Wali Songo.
Pensyarah Faklutas Usuluddin IAIN Wali Songo.

6) M.Jadul Maula

IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

7) Muhammad Ali

Pensyarah Faklutas Usuluddin UIN Jakarta.

8) Nong Darul Mahmada

( petugas JIL – banyak suarakan isu gender)
Faklutas Usuluddin IAIN Jakarta (1998)

9) Saiful Mujani

S1 (Sarjana) Fakultas Usuluddin, IAIN Jakarta.

10) Siti Musdah Mulia

S1 (Sarjana) IAIN Alauddin, Makasar (1982).
S2 (Master) dan S3 (Phd) UIN Jakarta (1992-1997)

11) Sukidi

Fakultas Syariah / Peradilan Agama UIN Jakarta (1998).

12) Sumanto Al-Qurthuby

IAIN Wali Songo (1999).

13) Syamsu Rizal Panggabean

S1 (Sarjana) Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

14) Taufik Adnan Amal

Pensyarah Ulumul Qur’an Fakultas Syariah, IAIN Alauddin, Makasar.

15) Ahmad Fuad Fanani

Fakultas Usuluddin UIN Jakarta

16) Ahmad Gaus AF

Fakultas Ilmu Komunikasi (IISIP) Jakarta

17) Budhy Munawar Rahman

Director Program Yayasan Paramidana.
Staf Pengajar Universitas Paramidana Mulya, Jakarta.

18) Denny J.A

Phd Ohio University, Amerika (2001)

19) Hamid Basyaib

Universitas Islam Indonesia (UII)

20) Husein Muhammad

Al-Azhar, Mesir.

21) Ihsan Ali Fauzi

University Ohio, Amerika.
Pendiri JIL bersama Ulil Abshar.

22) M.Luthfi Asy-Saukani

Phd University Melbourne, Australia.
Pensyarah Pemikiran Islam Universiti Paramidana, Jakarta.

23) Mun’im A.Sirry

Fakultas Syariah dan Undang-Undang International Islamic University, Islamabad, Pakistan (1990-1996).

24) Rizal Malarangeng

Phd. Ohio Universiti, Amerika.

25) Ulil Abshar Abdalla (Koordinator Jaringan Islam Liberal)

Pesantren Mansajul Ulum, Pati.
Pesantren Al-Anwar, Rembang.
Fakultas Syariah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta.

26) Zuhairi Misrawi

Fakultas Usuluddin jurusan Aqidah Falsafah Universiti Al-Azhar, Mesir (1995).

27) Zuly Qodir

Fakultas Agama Islam Universiti Muhammadiyyah, Yogyakarta (1996).
Magister Studi Islam Universiti Islam Indonesia (UII).
Sosiologi Fisipol UGM, Yogyakarta.

JIKA DAFTAR Profesi mereka DI-PETA-KAN MAKA ISLAM LIBERAL DI INDONESIA MERASUKI UMAT MUSLIM DAN INGIN MELIBERALKAN ISLAM MELALUI LEMBAGA/INSTITUSI sbb. :

1. Departemen Agama.

2. Mensekseg.

3. Departemen Luar Negri .

4. Menkokesra.

5. Perguruan Tinggi : Universitas Islam ( UIN ) Syarif Hidayatullah,UIN- Sunan Kalijaga, IAIN-Makasar, UGM, Jayabaya, Paramadina, IAIN Sunan Gunungjati, IAIN Sunan Ampel.

6. Organisasi Islam : NU dan Muhammadiyah, beruntung tokoh2nya yang di Muhammadiyah tidak dipilih lagi.

7. Media : Tempo group dan media lain yang se ideologi.

8. Islam syiah … Islam altermatip.

9. LSM : Jaringan Islam Liberal /JIL/Islib ; LSI; Faith Freedom International Indonesia, Ford Foundation; Libforall; LKiS-Wahid Institute; Komnas Perempuan; ICRP; CRCS; Freedom Institute dll.

Sedangkan LSM lain masih banyak sekali : Jaringan Islam Kampus; Jaringan Intektual Muda Muhammadiyah ( organisasi dompleng nama Muhammadiyah ); Intelektual Muda NU , Lakesdam-NU; ASEAN Foundation; Intelektual/Cendekiawan Muslim dll.

Untuk media selain melalui tulisan artikel di Koran mereka juga gencar menulis melalui majalah , buku-buku, terjemah Al-Qur’an dengan hermeunitika ( kekinian, kontektual, ) ; melalui siaran radio, dialog di TV ; hingga membuat beberapa website, blog, millist, kajian Islam liberal di kampus, Talk-show di radio; termasuk menjadi calon anggota legislative melalui beberapa partai politik.

Secara gamblang mereka melakukan publikasi melalui media sedangkan secara strategis perubahannya melalui lembaga formal pemerintah yaitu Dept. Agama dan Dept. Pendidikan khususnya kurikulum dan materi di perguruan tinggi Islam, sedangkan kemasyarakat melalui organisasi Islam dan kebudayaan.

Sudah sewajarnya umat Islam waspada dan mewaspadai gerakan ini agar aqidah Islam kita tidak tergerus oleh pengaruh mereka yaitu liberalisasi Islam, dengan slogan mereka seperti Semua agama sama,… Tuhan kita adalah Tuhan kita semua dimana dalam dogma Islam yang benar , Tuhan kita adalah wahid/tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan, Tuhan umat Islam tentunya berbeda dengan Tuhannya umat agama lain.
Kelompok ini bertujuan ingin membuat suatu bentuk penafsiran baru atas agama Islam dengan wawasan sebagai berikut:

a. Keterbukaan pintu ijtihad pada semua bidang;
b. Penekanan pada semangat religio etik, bukan pada makna literal sebuah teks;
c. Kebenaran yang relatif, terbuka dan plural;
d. Pemihakan pada yang minoritas dan tertindas;
e. Kebebasan beragama dan berkepercayaan;
f. Pemisahan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Istilah Islam liberal ini bukanlah hal yang baru dan telah diusung oleh Nurcholis Madjid pada tahun 70-an, hanya saja gaungnya sekarang lebih besar karena mereka didukung dana yang sangat besar dari luar negeri dan mereka menguasai jaringan media massa (Radio, Jawa Pos, Kompas, Tempo, Metro TV, dan lian-lain).

Menurut JIL, nama “Islam Liberal” menggambarkan prinsip-prinsip yang menekankan kebebasan pribadi (seusai dengan doktrin kaum Mu’tazilah tentang kebebasan manusia), dan “pembebasan” struktur sosial-politik dari dominasi yang tidak sehat dan menindas. Sederhananya JIL ingin mengatakan bahwa secara pribadi bebas (liberal) menafsirkan Islam sesuai hawa nafsunya dan membebaskan (liberal) negara dari intervensi agama (sekuler).

Unik memang, pada saat seseorang telah menyatakan menganut Islam maka ia terikat dengan hukum syara’ atau ia seorang mukhallaf dan ia tidak bebas lagi (liberal) karena ucapan dan perilakunya telah dibatasi oleh syari’at. Disisi lain bagaimana mungkin bisa menggabungkan antara Islam dan Liberal karena keduanya adalah ideologi yang saling bertentangan. Islam meyakini bahwa Syari’at Allah harus dijalankan diseluruh sisi kehidupan, sedangkan Liberal meyakini pemisahan urusan agama dan negara.

Baiknya coba kita permudah pembahasan ide-ide JIL ini dalam 3 topik saja, yakni:

1. Ijtihad: keterbukaan pintu ijtihad pada semua bidang
2. Inklusifisme: kebenaran yang relatif, terbuka dan plural
3. Sekuler: pemisahan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik

1. Ijtihad

JIL meyakini bahwa pintu ijtihad masih terbuka dalam semua bidang dan untuk semua orang, penutupan pintu ijtihad akan menutup pintu akal dan kreatifitas seseorang.

Pintu ijtihad memang masih terbuka hingga saat ini tetapi para ulama telah memberikan batasan dalam hal apa saja boleh berijtihad dan syarat seseorang mampu mengeluarkan ijtihad (mujtahid).

Setiap orang boleh saja berijtihad tetapi ulama memberikan syarat-syarat seorang mujtahid, antara lain:

a. Pengetahuan bahasa Arab, lafadz dan susunan (tarkib) yang berhubungan dengan dalil-dalil hukum yang akan digali (istimbath);
b. Pengetahuan terhadap syara’ yakni nash (dalil) dari al-Qur’an dan Sunnah;
c. Pengetahuan terhadap waqi’ yang akan dihukumi.

Bahkan DR Yusuf Qaradhawi (Masalah-masalah Islam kontemporer) memberikan syarat yang lebih berat semisal pengetahuan bahasa Arab, mengetahui tempat-tempat ijma’ yang tepat, ushul fiqih, qiyas dan penyimpulan, kaidah-kaidah syara’. Syarat lain harus adil, bertaqwa, tidak mengikuti hawa nafsu atau menjual agamanya untuk kehidupan dunia. Dengan demikian menurut Yusuf Qaradhawi, ijtihad bukan pintu yang terbuka bagi semua orang.

Disisi lain pintu ijtihad tertutup untuk nash-nash (dalil) qath’i tsubut (sudah pasti dari segi wujud) dan qath’i dilalah (sudah pasti dari segi petunjuk). Seperti dalil-dalil berikut:

Orang perempuan dan laki-laki yang berzina jilidlah masing-masing dari keduanya seratus kali jilid. (Qs. an-Nuur [24]: 2).

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. (Qs. al-Maa’idah [5]: 38).

Atau kewajiban shalat, puasa, haji, adanya malaikat, syaithan, lauhul mahfuz, akhirat, dan lain-lain. Disini akal tidak mampu lagi menjangkaunya dan kita wajib mengimaninya sesuai dengan penjelesan al-Qur’an dan sunnah.

Masalah terbukanya pintu ijtihad ini merupakan gerbang utama bagi JIL untuk menghancurkan syari’at Islam, karena jika berhasil meyakinkan umat bahwa ijtihad masih terbuka untuk semua bidang dan setiap orang maka mereka dapat menafsirkan ayat-ayat Allah dan hadits sesuai hawa nafsu mereka. Seperti yang sempat dihebohkan beberapa waktu yang lalu tentang “Jilbab tidak wajib dan merupakan kebudayaan Arab”; “Laki-laki non-muslim boleh mengawini muslimah”; “Kebebasan beragama atau murtad”; dan lain-lain.

2. Inklusifisme

Inklusifisme secara ringkas dapat diartikan tidak eksklusif atau tidak merasa paling benar sendiri, dalam bahasa JIL bahwa agama itu seperti roda yang mempunyai jari-jari. Setiap agama adalah jari-jari dari roda tersebut, jika semua pemeluk agama (apapun agamanya) dan dia berbuat saleh maka semuanya akan menuju kesatu titik poros roda tersebut yakni syurga. Artinya, seorang Muslim, Nasrani, Hindu, Budha atau Konghucu, bila menjalankan agama dengan benar (saleh) maka semuanya akan masuk syurga.

Hal ini jelas bertentangan dengan aqidah Islam, Innaddiina’indallahil Islami.

Sesungguhnya dien (agama/sistem hidup) yang diridhai Allah adalah Islam. (Qs. Ali-Imran [3]: 19).

Barangsiapa yang mengambil selain Islam sebagai dien, tidak akan diterima apapun darinya dan ia diakhirat tergolong orang yang rugi. (Qs. Ali-Imran [3]: 85).

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian. (Qs. al-Maa’idah [5]: 3).

Hai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Qs. Ali-Imran [3]: 102).

Islam itu unggul dan tidak ada yang dapat mengunggulinya. [HR Bukhari].

Dan Islam tidak bisa disamakan dengan agama-agama lain tersebut karena seorang Muslim yang beriman maka syurga balasannya, sedangkan orang-orang kafir dan musyrik itu adalah orang-orang yang sesat dan merugi serta kekal dalam neraka,

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya ia tersesat sejauh-jauhnya. (Qs. an-Nisaa’ [4]: 116).

Hai orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Qs. Ali-Imran [3]: 100).

Dengan konsep yang menyesatkan ini, maka umat akan dengan mudah murtad karena mereka merasa dengan memeluk selain Islampun mereka akan masuk syurga juga.

3. Sekuler

Menurut JIL, Islam tidak mengenal pemerintahan dan agama tidak mempunyai kewenangan dalam mengatur negara.


Jika kita ingin menerapkan Islam secara kaffah dalam semua sektor kehidupan kita maka mau tidak mau harus memformalkan syari’at Allah Swt yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah dalam bentuk Undang-undang (UU), dan sebuah UU tidak akan berjalan jika tidak dipayungi oleh sebuah pemerintahan (daulah). Hal ini-pun telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan khalifah-khalifah sesudah beliau.Beliau menjalankan pemerintahan di Madinah, menetapkan hukum-hukum eknomi/perdagangan, sosial/pergaulan, politik luar negeri, membentuk pasukan, peradilan, pendidikan, dan lain-lain. Beliau mengangkat pembantu-pembantu (mu’awin), wali, amirul jihad, amil, qadhi, dll. Dan dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dengan mengangkat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, kemudian kekhalifahan Bani Muawiyah, Abassiyah hingga Utsmaniyah. Hal ini merupakan suatu fakta bahwa Islam mengenal negara atau Islam tidak bisa dipisahkan dengan negara.Banyak dalil-dalil yang mewajibkan terbentuknya sebuah Khilafah Islamiyah ini,(Dan) Siapa saja yang mati dan di pundaknya tidak ada bai’at (kepada Khalifah), maka ia mati dalam keadaan seperti mati jahiliah. [HR Muslim].Maka demi Tuhanmu. Mereka tidak beriman (sebenarnya) sehingga mereka menjadikan kamu hakim untuk memutuskan perselisihan antara mereka. Kemudian mereka tidak merasa dalam hatinya keberatan terhadap putusanmu, dan menerima dengan perasaan lega. (Qs. an-Nisaa’ [4]: 65). 

Dan kita sangat merindukan tegaknya kembali kekhilafahan Islam ini setelah vakum selama 80 tahun, disaat runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki tahun 1924 M.

Demikianlah sepak terjang JIL dengan aqidah sesatnya dan menyesatkan umat, dan merupakan tantangan bagi para hamilud dakwah untuk lebih intensif berinteraksi dengan umat untuk mensosialisasikan betapa pentingnya tegaknya syari’at Islam. Wallahua’lam,


KEBOBROKAN TAFSIR HERMENEUTIKA

Akar Masalah Hermeneutika

Istilah Hermeneutika, dipinjam dari bahasa Inggris, hermeneutics; kata yang sama sebelumnya dipinjam dari bahasa Yunani Kuno (Greek), hermeneutikos. Secara harfiah, kata ini pernah digunakan oleh Aristoteles dalam karyanya, Peri Hermeneias, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin dengan De Interpretatione; dan baru kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan On the Interpretation. Sebelumnya, al-Fârabi (w. 339 H/950 M), telah menerjemahkan dan memberi komentar karya Aristotle tersebut dalam bahasa Arab dengan judul: Fi al-’Ibârah.

Aristoteles sendiri ketika menggunakan kata Hermeneias, tidak mengunakannya dengan konotasi istilah, seperti yang berkembang pada saat kini. Hermeneias yang dikemukakannya, menyusul karyanya, Categorias, hanya untuk membahas fungsi ungkapan dalam memahami pemikiran, serta pembahasan tentang satuan-satuan bahasa, seperti kata benda (noun), kata kerja (verb), kalimat (sentence), ungkapan (proposition), dan lain-lain yang berkaitan dengan gramatika. Ketika membicarakan hermeneias, Aristoteles tidak mempersoalkan teks, ataupun mengkritik teks. Yang menjadi topik pembahasan Aristoteles adalah interpretasi itu sendiri, tanpa mempersoalkan teks yang diinterpretasikan.

Secara harfiah, barangkali terjemahan al-Fârabi lebih pas, ketika hermeneuias diterjemahkan dengan ‘ibarah, yang mempunyai konotasi ungkapan bahasa dalam menunjukkan makna tertentu. Inilah, barangkali makna harfiah hermeneutika yang lebih tepat. Dan, pada awalnya hanya digunakan dalam konteks harfiahnya saja.

Perubahan makna Hermeneutika dari makna bahasa ke dalam makna konvensional (istilah), pada dasarnya merupakan perkembangan yang terjadi kemudian. Perubahan makna ini, disepakati oleh berbagai literatur perkamusan, dimulai sejak para teolog Yahudi dan Kristen berusaha mengevaluasi kembali teks-teks dalam kitab suci mereka. Sebuah disertasi doktoral mengenai hermeneutika menyatakan:

Originally, the term ‘Hermeneutics’ was employed in reference to the field of study concerned with developing rules and methods that can guide biblical exegesis. During the early years of the nineteenth century, ‘Hermeneutics’ became ‘General Hermeneutics’ at the hands of philosopher and Protestant theologian Friedrich Schleiermacher. Schleiermacher transformed Hermeneutics into a philosophical field of study by elevating it from the confines of narrow specialization as a theological field to the higher ground of general philosophical concerns about language and its understanding

(Asalnya, istilah Hermeneutika digunakan dalam bidang studi yang berkaitan dengan pengembangan metode dan aturan yang dapat memandu penafsiran kitab Injil. Selama tahun-tahun pertama abad ke sembilan belas, Hermeneutika menjadi Hermeneutika Umum oleh filsuf dan teolog Protestan, Friedrich Schleiermacher.

Schleiermacher telah menyulap Hermeneutika menjadi bidang kajian kefilsafatan, dengan mengangkatnya dari kajian yang secara spesifik hanya membahas bidang yang berkaitan dengan agama menjadi kajian yang mempunyai perhatian lebih tinggi terhadap filsafat umum tentang bahasa dan pemahamannya).

Perubahan makna hermeneutika dari konteks teologi ke dalam konteks filsafat telah dibidani oleh filsuf Jerman, Friedrich Schleiermacher (1768-1834). Filsuf Protestan inilah yang dianggap sebagai pendiri Hermeneutika Umum yang bisa diaplikasikan pada semua bidang kajian. Ketika hermeneutika itu telah menjadi subjek filsafat, lahirlah berbagai aliran pemikiran, yang menempatkan hermeneutika Schleiermacher hanya sebagai salah satu aliran hermeneutika yang ada. Selain hermeneutika Schleiermacher, ada Hermeneutics of Betti yang digagas oleh Emilio Betti (1890-1968), seorang sarjana hukum Romawi berbangsa Itali; juga ada Hermeneutics of Hirsch yang digagas oleh Eric D. Hirsch (1928- ) seorang kritikus sastra berbangsa Amerika; ada juga Hermeneutics of Gadamer yang digagaskan oleh Hans-Georg Gadamer (1900- ) seorang filsuf dan ahli bahasa, serta aliran-aliran hermeneutika yang lain, seperti Hermeneutics of Dilthey, yang digagas oleh Dilthey (m 1911), dan Hermeneutics of Heidegger, yang digagas oleh Heidegger (m 1976), dan lain-lain. Dalam konteks yang lebih ekstrim, filsafat hermeneutika telah memasuki wilayah epistemologis yang berakhir pada pemahaman sophist (orang yang pandangannya tersesat), yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam. Filsafat hermeneutika berakhir dengan kesimpulan umum, bahwa all understanding is interpretation, semua pemahaman itu hanyalah penafsiran, dan karenanya tergantung kepada subyektivitas orangnya. Pada titik inilah, A. Karim Sourosh, menurunkan teori al-qabdh wa al-basth (penyusutan dan pemuaian) interpretasi agama, yang menurutnya masih menjadi bagian dari teori interpretasi-epistemologis, atau hermeneutika ini. Dengan teori ini, dia berkesimpulan, bahwa pemahaman agama, bukanlah agama itu sendiri. Pemahaman agama itu subyektif, bisa mengalami perkembangan dan penyusutan, sementara agama tidak.

Hermeneutika sebagai Interpretasi-Epistemologis

Untuk memperjelas lingkup kajian dan pengaruh hermeneutika, serta mengapa metode ini digunakan untuk menginterpretasikan al-Qur’an, maka fakta hermeneutika —meminjam istilah A. Karim Sourosh— sebagai interpretasi-epistemologis harus dipahami. Interpretasi-epistemologis adalah penafsiran terhadap teks yang dibangun berdasarkan teori epistema. Epistema —bahasa Yunani Kunonya, epistémé, atau bahasa Inggerisnya, epistemic— adalah teori pengetahuan tentang: (a) asal-usul, (b) anggapan, (c) karakter, (d) rentang, dan (e) kecermatan, kebenaran atau keabsahan pengetahuan. Ini merupakan cabang filsafat yang mengkaji pengetahuan: darimana asal-usulnya? bagaimana perumusannya? bagaimana pengetahuan tersebut diekspresikan dan dikomunikasikan? Metode inilah yang digunakan A. Karim Sourosh dalam bukunya, Reason, Freedom and Democracy in Islam (2000), sebagaimana sebelumnya juga digunakan oleh Arkoun dalam Rethinking Islam, atau apa yang dibahasaarabkannya dengan: Kayfa na’qilu al-Islam (bagaimana kita memahami Islam), dan dalam artikel: Bagaimana Membaca al-Qur’an? Metode yang sama juga digunakan oleh komunitas Islam Liberal.

Dalam konteks al-Qur’an, metode hermeneutika, atau —meminjam istilah Arkoun— metode interpretasi-epistemologis baru, digunakan untuk mengkaji asal-usul wahyu atau kalam Allah, dan al-Qur’an. Diakui, bahwa wahyu itu berasal dari Tuhan. Hanya saja, menurut Arkoun, wahyu Tuhan itu tak terbatas. Untuk melengkapi data historisnya, dia —yang memang sarjana sastra Arab itu— kemudian menggunakan teori linguistik untuk membuktikan kesimpulannya. Dari sanalah, Arkoun —yang dipengaruhi pandangan Paul Ricoeur yang populer dengan bukunya, The Rule of Metaphor (1977) itu— kemudian memilah tahap-tahap: kalam Allah (KL), Wacana Qur’ani (WQ), Korpus Resmi Tertutup (KRT) dan Korpus Tertafsir (KT). Menurutnya, wahyu atau kalam Allah, sebagai logos (pengetahuan) tidak terbatas, namun ketika kalam itu disampaikan kepada Nabi —untuk disampaikan kepada ummatnya— itu hanyalah penggalan dari kalam Allah yang tak terbatas. Dari sinilah muncul pemilahan wahyu verbal (dilisankan) dan non-verbal. Dengan menggunakan teori yang sama, Arkoun berkesimpulan, bahwa wacana al-Qur’an (WQ) telah direduksi menjadi Corpus officiel clos (korpus resmi tertutup), yang menurutnya, karena faktor sosial dan political will, bukan karena kehendak tuhan. Dan, setelah menjadi Corpus officiel clos, yang kini dibukukan dalam Mushaf Utsmani, maka umumnya pemahaman kaum Muslim dibentuk melalui Corpus officiel clos ini, bukan dengan wacana Qur’an yang pertama (WQ). Dari sinilah lahir Korpus Tertafsir (KT), yang berupa kitab-kitab tafsir.

Dengan epistema ini, keabsahan al-Qur’an sebagai sumber otoritatif digugat. Melalui pendekatan sosio-historis dan linguistik, Arkoun berkesimpulan, bahwa al-Qur’an is subject to historicity (tunduk pada sejarah), dan karenanya harus didekonstruksi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Jacques Derrida. Sedangkan Fazlur Rahman mengklaim, al-Qur’an adalah both the Word of God and the word of Muhammad (kompilasi Kata Allah dan kata Muhammad). Sementara, Nashr Abu Zayd mengklaim bahwa al-Qur’an adalah produk budaya. Metode yang sama juga digunakan Arkoun untuk menggugat otoritas dan keabsahan tafsir al-Qur’an:

“Saya tidak mengatakan bahwa al-Qur’an tidak relevan… Yang saya katakan adalah bahwa pemikiran yang dipakai oleh para teolog dan fuqaha’ untuk menafsirkan al-Qur’an tidak relevan. Sebab, sekarang ilmu baru seperti antropologi, tidak mereka kuasai. Kita juga memiliki linguistik baru, metode sejarah, biologi—semuanya tidak mereka kuasai. Dengan epistema yang sama, yakni berdasarkan karakter teksnya, al-Qur’an yang berbahasa Arab, dianggap mempunyai persamaan dengan teks-teks sastra, atau kitab suci lainnya.” Dari sinilah Arkoun menurunkan metode tafsirnya: Keinginan kami adalah membuat mungkin suatu penanganan yang solider terhadap kitab-kitab suci oleh orang-orang “ahlu kitab”. Untuk itu, kami mengajak pembaca untuk membaca al-Qur’an menurut aturan-aturan suatu metode yang dapat diterapkan pada semua teks doktrinal besar.

Lebih jauh, teori pembacaan Arkoun ini dijabarkan melalui tiga moment, yaitu moment linguistik, antropologis, dan historis. Dengan moment linguistik, kata (lafadz al-Qur’an) dibaca sebagai tanda (dilâl), sedangkan dengan moment antropoligis, kata yang sama dibaca sebagai simbol (isyârah), atau analisis mistis. Dengan moment historis, batas-batas tafsir logiko-leksikografis (logika perkamusan), atau teks dan konteks, dikembangkan dengan apa yang disebutnya dengan tafsir imajiner. Pendek kata, hermeneutika —sebagaimana klaim mereka— bisa memadukan subjektivitas dan objektivitas. Konon, karena itulah metode ini mereka gunakan.

Kebobrokan Tafsir Hermeneutika

Untuk membuktikan kebobrokan tafsir hermenutika —atau interpretasi-epistemologis— ini sesungguhnya bisa dilakukan dengan menggunakan kerangka epistema, seperti yang dilakukan oleh Dr. Ugi Sugiarto, dosen ISTAC-UIA Kuala Lumpur. Secara epistemis, terbukti bahwa kelahiran tafsir hermenutika tidak bisa dilepaskan dari sejarah Yahudi dan Kristen, ketika mereka dihadapkan pada pemalsuan kitab suci, dan monopoli penafsiran kitab suci oleh gereja. Dari sinilah mereka perlu melakukan dekonstruksi wahyu, yang telah tereduksi menjadi Corpus officiel clos itu. Dengan teori linguistik, mereka susun tahap wahyu untuk menjustifikasi keabsahan tafsiran mereka, yang sama-sama bersumber dari wahyu, meski bukan wahyu verbal. Meski begitu, hermeneutika tetap tidak bisa menyelamatkan kitab suci mereka dari praktek pemalsuan, termasuk tidak lepas dari problem besar, hermeneutic circle.

Realitas ini tidak dihadapi ummat Islam. Ummat Islam tidak pernah menghadapi problem seperti ummat Yahudi maupun Kristiani, baik menyangkut soal pemalsuan kitab suci maupun monopoli penafsiran. Di dalam Islam ada ilmu riwayat, yang tidak pernah disentuh oleh hermeneutika. Dengan ilmu ini, autentisitas al-Qur’an dan Hadits bisa dibuktikan. Dengan ilmu ini, riwayat Ahad dan Mutawatir bisa diuji; dan dengannya, mana mushaf yang bisa disebut al-Qur’an dan tidak bisa dibuktikan. Dengannya, historitas tanzîl, atau asbâb an-nuzûl —dan juga asbâb al-wurûd— bisa dianalisis. Begitu juga, periodisasi tanzîl, atau Makki dan Madani, bisa dirumuskan dengan bantuan ilmu tersebut. Dengannya juga, bisa disimpulkan, bahwa pembukuan al-Qur’an itu karena perintah Allah, bukan karena faktor sosial atau politik. Pengetahuan tersebut kemudian disistematikan oleh para ulama’ dalam kajian ‘Ulûm al-Qur’ân.

Dari sini, bisa disimpulkan bahwa sejarah yang melatarbelakangi lahirnya hermeneutika adalah sejarah pemalsuan kitab suci dan monopoli penafsiran pihak gereja. Anggapan inilah yang telah melahirkan hermeneutika sebagai kaidah interpretasi-epistemologis. Anggapan seperti sama sekali tidak terlintas dalam kepala ummat Islam. Baru setelah abad ke-20, anggapan ini dikembangkan oleh kaum terpelajar Muslim yang belajar di Barat, sehingga seakan-akan ummat Islam menghadapi persoalan dengan kitab suci mereka, seperti yang dihadapi ummat lain. Muncul Fazlur Rahman dan Arkoun, disusul Nashr Abû Zayd dan lain-lain, yang mengusung teori hermeneutika ini sebagai metode tafsir al-Qur’an.

Dengan dalih obyektivitas, hermeneutika —sebagai interpretasi-epistemologis— telah menolak semua anggapan untuk membangun kesimpulannya. Tetapi, kenyataannya anggapan itu tidak pernah bisa dielakkan. Inilah yang kemudian mereka sebut dengan problem besar, hermeneutic circle (lingkaran setan tafsiran) itu. Ini sekaligus menunjukkan kesalahan teori ini, sebagai metode berfikir. Dengan dalih obyektivitas, semua anggapan dibuang, padahal obyek kajian yang dihadapi bukanlah realitas empiris yang bisa diuji dengan kaidah eksperimental layaknya obyek kajian ilmiah. Kesalahan inilah yang menyebabkan kesalahan-kesalahan berikutnya, termasuk ketika teori ini digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an.

Padahal, al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan menggunakan bahasa Arab untuk menjelaskan kepada ummat manusia, tentang apa saja ihwal kehidupan mereka. Kitab ini telah diturunkan secara mutawatir, dan tersimpan di antara dua ujung mushaf. Inilah anggapan —tepatnya realitas— yang melatarbelakangi lahirnya tafsir al-Qur’an sebagai kajian yang berusaha menjelaskan makna-makna yang digali dari lafadz-lafadz kitab suci tersebut. Dari sinilah, dengan tegas Ibn Khaldûn (w. ) menyatakan, bahwa tafsir al-Qur’an merupakan bagian dari al-‘ulûm an-naqliyyah, ilmu yang berpijak pada informasi dari pembuat syariat. Karena bidang tafsir adalah makna lafadz al-Qur’an, sementara al-Qur’an sendiri adalah kitab at-tasyrî’ yang berbahasa Arab, maka metode tafsir tidak bisa dipisahkan dari dua sumber tersebut, bahasa dan syara’.

Dari sinilah, Ibn Khaldûn membagi tafsir menjadi dua: tafsîr naqlî, atau yang kini populer dengan istilah tafsîr bi al-ma’tsûr, dan tafsîr yarjî’ ilâ al-lisân, atau —meminjam istilah Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni— tafsîr bi ar-ra’y. Jenis tafsir yang pertama adalah tafsir yang berpijak pada riwayat, termasuk nâsikh-mansûkh, asbâb an-nuzûl, dan maksud ayat. Sedangkan jenis yang kedua berpijak pada pengetahuan bahasa Arab, i’râb, dan balâghah sesuai dengan maksud dan gaya bahasa al-Qur’an. Kedua jenis tafsir ini jelas sangat ditentukan oleh informasi yang dikumpulkan oleh mufasir, baik yang bersumber dari sumber syara’ maupun bahasa. Dan, hanya dua model tafsir inilah yang diterima oleh para ulama’ sebagai tafsir yang representatif dan obyektif. Adapun tafsîr isyârî atau tafsîr ‘irfâni, tafsir yang dibangun berdasarkan pembacaan simbolis dan mistis —seperti yang digagas oleh kaum Sufi— atau tafsir imaginer —seperti yang digagas Arkoun— adalah tafsir yang dianggap tidak obyektif. Karena tafsir yang terakhir ini tunduk pada akal, atau pengalaman esoteris pembacanya.

Dengan kata lain, obyektivitas tafsir al-Qur’an itu ditentukan oleh tunduk dan tidaknya akal dalam melakukan pembacaan terhadap teks berdasarkan kedua sumber tersebut. Karena akal hanya berfungsi untuk memahami, maka dikatakan obyektif, jika tafsiran akal tunduk pada kedua sumber —syara’ dan bahasa— tersebut. Jika akal tidak tunduk pada kedua sumber tersebut, berarti al-Qur’an —seperti yang dituduhkan Arkoun— hanya menjadi alat justifikasi. Justru inilah yang menyandera tafsir hermeneutika Fazlur Rahman, Arkoun, Nash Abû Zayd dan kawan-kawannya. Di sinilah letak persoalan metode tafsir hermeneutika yang mereka kembangkan, ketika anggapan-anggapan dasar yang seharusnya digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an semuanya dibuang, seperti akidah dan syariat Islam, misalnya. Justru anggapan-anggapan kufur sengaja dikembangkan dan menjadi asumsi dasar tafsir hermeneutika mereka, misalnya: al-Qur’an adalah produk budaya, al-Qur’an adalah kompilasi Kata Tuhan dan kata Muhammad, al-Qur’an sudah tereduksi menjadi korpus resmi tertutup, dan karenanya harus didekonstruksi. Akibatnya, apa saja yang berbau syara’ harus dibuang, demi —apa yang mereka klaim sebagai— obyektivitas.

Maka, teori hermeneutika yang memang lahir dari ranah budaya Yahudi dan Kristen itu, tentu tidak mampu untuk menjangkau apa yang dimaksud oleh al-Qur’an itu sendiri. Sebagai contoh, klasifikasi kata (lafadh) Arab, seperti majâz (kiasan) dan haqîqah (hakiki), memang dibahas oleh teori hermeneutika, sebagaimana kajian ilmu tafsir, tetapi teori hermeneutika tidak mengenal haqîqah syar’iyyah, seperti lafadz al-jihâd, as-shalâh dan sebagainya. Padahal, realitas tersebut ada di dalam al-Qur’an, ketika lafadz tersebut telah direposisi oleh sumber syara’ dari makna bahasa menjadi makna syara’. Karena teori hermeneutika tidak mengenal haqîqah syar’iyyah, maka kedua lafadz tersebut tetap diartikan sebagai haqîqah lughawiyah, sehingga masing-masing diartikan dengan kerja keras untuk jihâd, dan berdoa untuk shalâh. Tidak dimasukkannya, atau lebih tepat ditolaknya, keberadaan haqîqah syar’iyyah dalam teori hermeneutika adalah, karena teori ini lahir bukan dari teks syara’.

Dengan kerangka epistema seperti ini, teori hermeneutika juga tidak menyentuh nâsikh-mansûkh, atau penggunaan teks di luar konteks historisitasnya, sebagaimana yang dibakukan dalam kaidah: al-‘ibrah bi ‘umûm al-lafdh[i] la bi khushûs[i] as-sabab. Sebab, keduanya bersumber dari sumber syara’. Dengan teori ini, ayat-ayat yang telah dinasakh dianggap masih berlaku, misalnya, surat Ali ‘Imrân [03]: 130, yang membolehkan riba, asal tidak berlipat ganda. Padahal, ayat ini sudah dinasakh dengan surat al-Baqarah [02]: 278. Kasus yang sama juga berlaku pada ayat-ayat khamer, sehingga baik riba maupun khamer menjadi boleh. Inilah produk tafsir hermeneutika.

Dengan kerangka yang sama, kaidah bahasa: muthlaq-muqayyad, seperti dalam kasus as-sâriq[u] wa as-sâriqat[u] surat al-Mâ’idah [05]: 38, yang muthlaq kemudian di-taqyîd dengan hadits: majâ’ah mudhtharr (kelaparan yang mengancam nyawa), tidak diakui. Tentu, karena kedudukan Rasul hanya dianggap sebagai tokoh sejarah, bukan sebagai bagian dari as-Syâri’. Akibatnya, tindakan ‘Umar ketika tidak memotong tangan pencuri yang mencuri pada tahun paceklik (‘âm ar-ramâdah) dianggap sebagai tidak menerapkan hukum potong tangan. Padahal, ini bagian dari konteks muthlaq-muqayyad. Dengan Rasul yang diposisikan sebagai tokoh historis, berarti konteks mujmal-mubayyan juga tidak bisa mereka terima.

Dari sini jelas, bahwa kebobrokan tafsir hermeneutika justru terletak pada kerangka epistemologisnya, ketika menolak anggapan yang justru terjebak dengan anggapan. Dan, ini yang mereka akui sendiri, atau seperti yang mereka sebut dengan hermeneutic circle. Masalah ini terjadi, karena tafsir hermeneutika merupakan bagian dari metode berfikir rasional, bukan metode ilmiah. Metode berfikir rasional, tidak bisa dipisahkan dari anggapan atau informasi. Maka, kebobrokan tafsir hermeneutika justru terjadi karena kebobrokan metode berfikirnya. Akibatnya, bangunan pemikiran yang lahir dari kebobrokan ini penuh dengan kontradiksi dan inkonsistensi. Seperti membangun obyektivitas tafsir, yang justru terjebak dengan subyektivitas kontemplatif dan imaginer. Di sisi lain, teori interpretasi-epistemologis yang lahir dari sumber non-syara’ ini tidak cukup untuk membaca teks al-Qur’an yang bukan saja kitab berbahasa Arab, tetapi juga kitab tasyrî’. Maka, pemaksaan al-Qur’an hanya sebagai kitab berbahasa Arab, atau buku sastra, dan bukan kitab tasyrî’, bisa dipahami sebagai upaya untuk menundukkan al-Qur’an agar bisa didekati dengan teori yang miskin ini.

Kesimpulan

Secara epistemologis, hermeneutika —sebagai teori interpretasi-epistemologis—bukan dari Islam, tetapi merupakan produk tsaqâfah Barat. Pengetahuan yang lahir dari akidah dan pandangan hidup yang berbeda dengan Islam. Sebagai metode berfikir, hermeneutika justru mengalami kebobrokan dari dalam, terutama ketika meniadakan anggapan-anggapan dasar, yang nota bene dibutuhkan oleh sebuah metode berfikir rasional seperti ini. Dan, sebagai teori interpretasi-epistemologis, atau kaidah penafsiran, tafsir hermeneutika hanya bisa digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an jika dibangun berdasarkan angggapan yang salah terhadap al-Qur’an. Seperti anggapan, bahwa al-Qur’an hanyalah produk budaya; al-Qur’an itu tunduk pada sejarah; al-Qur’an itu kompilasi Kata Tuhan dan kata Muhammad; al-Qur’an —karena kehendak sejarah, bukan karena perintah Tuhan— telah direduksi menjadi Corpus officiel clos. Dari sinilah, lahir tahap-tahap pewahyuan Arkoun, yang dipengaruhi oleh pandangan Paul Ricoeur itu. Begitu juga, ketika al-Qur’an hanya dianggap sebagai kitab sastra Arab, dan bukan kitab tasyrî’, maka keterbatasan hermeneutika itupun bisa digunakan untuk menjamah kitab suci ini. Namun, jika anggapan terhadap al-Qur’an itu benar, teori epistema seperti ini pasti tidak mempunyai tempat di sisi al-Qur’an yang mulia itu.

Di atas semuanya itu, seperti keinginan Arkoun, semuanya itu dimaksud untuk melakukan sinkritisme, agar nilai kebenaran kitab suci itu bisa diterima oleh semua “ahli kitab” (Yahudi, Nasrani dan Islam), atau mengkompromikan Islam dengan kekufuran.

Kesesatan Ulil Abshar Abdalla dalam Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam

image Tulisan Ulil Abshar-Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta : “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” yang dimuat di Kompas pada tanggal 18 November 2002 mengandung banyak kekeliruan yang mendasar.

Di situ Ulil menganggap bahwa Islam adalah satu agama yang dapat dirubah oleh manusia sesuai dengan perkembangan zaman. Ulil juga mengatakan bahwa ajaran-ajaran Islam seperti jilbab, potong tangan, qishas, dan lain-lain tak lebih dari budaya Arab yang tak perlu diikuti. Ulil menyatakan bahwa seorang perempuan muslim boleh menikahi pria non muslim serta semua agama adalah benar.

Semua pernyataan Ulil di atas, bertentangan dengan perintah Allah yang tercantum dalam kitab suci Al Qur’an.

Sesungguhnya pedoman ummat Islam adalah Al Qur’an:
“Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS.Al-Baqarah:2).

Karena itu, saya mengajak ummat Islam untuk mengkaji ayat-ayat Al Qur’an untuk mengetahui apakah pernyataan Ulil selaras atau bertentangan dengan Al Qur’an.


Ulil:
> SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup;
> sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia.
> Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu
> dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.
> …
> Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai
> denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.

Pernyataan Ulil di atas bertentangan dengan ayat berikut:
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmut-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al Maidah 3).

Jika agama Islam harus disesuaikan dengan hawa nafsu manusia, maka agama Islam harus disesuaikan dengan manusia yang mana? Sekarang ada sekitar 7 milyar manusia dengan ribuan paham dan aliran yang berbeda bahkan ada yang saling bertentangan satu sama lain, misalnya Kapitalisme, Liberalisme, Sosialisme, Komunisme, dan lain-lain. Agama Islam harus disesuaikan ke paham buatan manusia yang mana?

Pada zaman Ibrahim, Raja Namrudz beserta ummatnya menyembah berhala, sementara pada zaman Fir’aun, Fir’aun mengaku sebagai Tuhan. Pada zaman jahiliyyah, membunuh anak perempuan adalah hal yang wajar, sementara pada kepercayaan tertentu, mengorbankan manusia untuk sesajen adalah hal yang sah dan berlaku umum. Apakah ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan manusia dan menganggap hal itu adalah benar?

Seharusnya, ajaran Islam menjadi petunjuk bagi manusia. Bukan manusia yang jadi “petunjuk” bagi ajaran Islam, sehingga ajaran Islam dirubah-rubah seperti patung sesuai dengan hawa nafsu manusia:

Memang dalam Islam dikenal ijtihad. Tapi ijtihad ini baru dilakukan jika ada masalah baru yang tidak diatur secara jelas dalam Al Qur’an dan Hadits. Misalnya apakah narkoba itu haram atau halal. Meski demikian, keputusan ijtihad itu biasanya selalu berdasarkan Al Qur’an dan Hadits melalui metode Qiyas. Contohnya, meski Narkoba tidak dilarang (karena waktu itu belum ada), tapi dengan ayat Al Qur’an yang melarang manusia berbuat kerusakan atau merusak dirinya serta tidak boleh mubazir, maka Narkoba otomatis dilarang karenanya.

Begitu pula dengan musyawarah. Untuk satu masalah yang tidak diatur secara detail oleh Al Qur’an dan Hadits, misalnya mencari bisnis apa yang baik atau bagaimana mengatur strategi peperangan, maka Nabi dan para sahabat biasa bermusyawarah:

Orang-orang yang mematuhi seruan Tuhan mereka, melaksanakan shalat (dengan sempurna), serta urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antar mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (Al-Syura: 38)

Tapi jika di Al Qur’an dan Hadits sudah jelas disebutkan, tidak boleh manusia melanggarnya (misalnya perempuan muslim menikah dengan pria non muslim)

Ulil menganggap jilbab, potong tangan, qishash, dan lain-lain adalah budaya Arab yang tak perlu diikuti, padahal hal tersebut merupakan perintah Allah yang tercantum dalam Al Qur’an:

> Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah
> diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib
> diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.

Pernyataan Ulil bahwa jilbab adalah kebudayaan Arab dan bukan ajaran Islam yang harus dituruti bertentangan dengan Al Qur’an dan sejarah yang ada.

Pada zaman Jahiliyyah, kaum perempuannya biasa mengenakan pakaian tipis, ketat dan mengumbar aurat. Contohnya masih terdapat pada para penari perut Mesir yang cuma mengenakan BH serta cawat yang mengumbar aurat.

Oleh karena itulah Allah menurunkan ayat agar ummat Islam mengenakan jilbab agar tidak mengumbar aurat seperti yang dilakukan oleh perempuan jahiliyyah:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka…” (An Nuur:31)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu….” (Al-Ahzab: 33).

Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup yang dilakukan perempuan jahiliyyah.

Perintah mengenakan jilbab, maksudnya untuk menjauhkan manusia dari perbuatan zina serta menjaga agar para remaja maupun anak-anak tidak rusak moralnya karena melihat para wanita yang berpakaian mini dan merangsang.

Qishash juga merupakan aturan yang diturunkah oleh Allah dalam Al Qur’an:
“Sesungguhnya pada hukum qishash ada kehidupan bagi kalian wahai orang yang cerdas, semoga kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 179)

Hukum Qishash diturunkan Allah SWT agar manusia bisa hidup tenang dari ancaman pembunuh.

Demikian pula hukum potong tangan bagi pencuri, meski jika tak mencapai nisab (jumlah curian minimal) atau pada kondisi tertentu (terpaksa) seorang pencuri bisa terhindar, jelas tercantum dalam Al Qur’an. Ini bukan “budaya Arab” seperti yang dikatakan Ulil:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Maa-dah:38)

Jika perintah potong tangan bagi pencuri ini diterapkan, tentu para ibu-ibu yang belanja di pasar akan aman dari para copet atau pun para penodong.

Ulil mengatakan jilbab itu adalah pakaian menurut standar kepantasan umum, tak perlu mengikuti aturan Al Qur’an:

> Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu.
> Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum
> (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai
> perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.

Tulisan Ulil di atas sangat relatif dan membingungkan. Di Barat, wanita memakai celana hipster dan terlihat pusarnya atau memakai rok mini sehingga pahanya terlihat itu pantas saja. Di pantai-pantai, perempuan memakai bikini atau cawat dan BH juga adalah hal yang pantas menurut manusia, sehingga para Miss Universe pun mengenakan hal itu. Bahkan di satu pemandian umum di Bali, laki dan perempuan berenang telanjang bulat adalah hal yang pantas di sana menurut manusia. Di Irian Jaya, pria pakai Koteka atau wanita telanjang dada memenuhi standar kepantasan umum di sana. Jika menurut pernyataan Ulil, maka hal di atas adalah hal yang wajar-wajar saja…

Adakah ajaran Islam yang telah memerintahkan para perempuan untuk mengenakan jilbab (satu pakaian yang menutupi seluruh aurat tubuh, tidak tipis, tidak ketat, dan tidak berlebihan) tidak perlu diikuti, tapi kita harus mengikuti “perintah” Ulil di atas?

Jika yang harus diikuti adalah “kepantasan umum” yang berubah-rubah sesuai keinginan manusia, bukan ajaran Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan hadits, maka praktek homoseksual, lesbianisme, sex bebas, pelacuran, perjudian dan sebagainya adalah halal dan sesuai dengan ajaran “Islam.” Padahal Allah SWT di Alkitab maupun di Al Qur’an disebutkan menghancurkan kota Sodom karena mereka melakukan praktek homoseksual.

Masyarakat (terutama di Negara-negara Barat), menganggap pelacur bukanlah pekerjaan yang hina. Bahkan di sini pun para pelacur sekarang disebut sebagai “Pekerja Seks,” tak berbeda dengan pekerja lain seperti Dokter, Karyawan, Guru, dan lain-lain. Padahal dalam Al Qur’an Allah melarang manusia untuk mendekati zina, apalagi melakukannya!

Ulil mengatakan wanita Muslim boleh menikah dengan pria Non Muslim, padahal di Al Qur’an hal itu jelas dilarang:

> Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki
> non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas
> melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia
> yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik
> yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam harus diamandemen
> berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.

Pernyataan Ulil yang mengatakan bahwa perempuan Muslim boleh menikah dengan lelaki Non Muslim jelas bertentangan dengan Al Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al Mumtahanah: 10)

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebe-lum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Baqarah: 221).

Ulil mengatakan bahwa hukum Allah itu tidak ada, padahal dalam Al Qur’an ditegaskan yang tidak mau mengikuti hukum Allah adalah kafir, fasik, dan sebagainya, apalagi yang tidak mengakui keberadaannya:


> Menurut saya, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti
> dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual
> beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip
> umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut
> sebagai maqashidusy syari’ah, atau tujuan umum syariat Islam.
> …
> Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah
> organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama
> juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada
> adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang
> berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.

Pernyataan Ulil yang yang mengatakan bahwa tidak ada Hukum Tuhan atau Hukum Allah serta yang ada dan harus diikuti adalah hukum manusia, jelas bertentangan dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an yang telah saya sebut di atas. Padahal Allah SWT menegaskan, bahwa mereka yang tidak memutuskan menurut hukum Allah adalah kafir:

” Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44)

“Dan telah kami tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat) bahwasannya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-lukapun ada qisasnya., maka melepaskan hak itu menjadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah oraang-orang yang zhalim.” (QS. Al Maidah: 45)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka ingin berhukum kepada thagut (hukum buatan manusia), padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thagut itu. Dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu tunduk kepada (hukum) yang allah turunkan dan kepada (hukum) Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dari (mengikuti) kamu dengan sekuat-kuatnya.” (An-Nisaa: 60-61)

Pada pernyataannya di bawah, Ulil meragukan Rasul Muhammad SAW sebagai contoh, karena banyak juga kekurangannya, serta Islam yang diwujudkan oleh Nabi hanyalah histories, particular dan kontekstual. Selanjutnnya Ulil malah mengajak untuk mencari kebenaran di ajaran Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Yahudi, Tao, bahkan Marxisme!

Bayangkan, belajar agama Islam secara menyeluruh saja, ummat Islam banyak yang tidak sanggup, apalagi kalau harus mempelajari semua agama atau isme seperti yang “disabdakan” Ulil!

Ulil:
> BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran
> semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus
> dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa
> memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya),
> sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).
>
> Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan
> dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah,
> Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan
> cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan
> di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual.
>
> Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun tempatnya,
> sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan
> sejumlah pemikir lain-adalah “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha,
> Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi,
> kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.

Allah telah menegaskan bahwa pada Rasulullah itu adalah teladan bagi ummat Islam:

“Sungguh telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak ingat kepada Allah”, Qs al-Ahzab,33:21.

Pada akhirnya, Ulil mengatakan semua agama sama benarnya:
> Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak
> pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku,
> jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3:19),
> lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar
> adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha
> Benar).”
>
> Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat
> berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama,
> dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang
> berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu
> keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak
> pernah ada ujungnya.

Hal ini jelas bertentangan dengan firman Allah yang menyatakan bahwa agama yang diridhai Allah adalah Islam:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (Al-Imran 19).
“Barang siapa mencari agama selain agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-Imran 85).

Jika Allah SWT berfirman agama yang diridhai Allah hanyalah Islam, kemudian Ulil bilang semua agama sama benarnya, manakah yang harus kita ikuti: Allah SWT Tuhan semesta Alam, atau Ulil, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)…???

Bahkan dalam ayat An Nisaa:171, Allah menegur Ahli Kitab karena menyembah Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan:

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An Nisaa:171)

“Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS 5:78)

Ayat Al Bayyinah 1-6 menjelaskan bahwa Ahli Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) yang mengingkari Nabi Muhammad dan Al Qur’an sebagai orang yang kafir dan akan masuk neraka, bukan surga sebagaimana pendapat segelintir orang:

“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al Bayyinah:1-6)

Toleransi antar ummat beragama memang harus dijalankan, karena Allah SWT berfirman bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat?.? (Al Baqoroh:256)

Tapi itu tak berarti semua agama adalah benar. Yang betul adalah, setiap agama benar menurut keyakinan masing-masing pemeluknya. Dalam surat Al Kafiruun dikatakan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”

Pemeluk agama Budha tentu yakin agama Budha lah yang paling benar. Pemeluk agama Kristen tentu yakin agama Kristen lah yang paling benar. Pemeluk agama Islam tentu yakin agama Islam lah yang paling benar. Jika kita tidak menganggap agama kita paling benar, tentu kita pindah ke agama lain yang lebih benar bukan? Atau jika semua agama sama benar, tentu kita bisa berpindah-pindah agama setiap saat.

Jika semua agama beranggapan semua agama adalah benar, untuk apa ada lembaga dakwah atau missionaries Kristen yang mengajak setiap orang untuk ke agamanya masing-masing? Jika benar semua agama adalah benar, kenapa Ulil tidak masuk agama lain saja, misalnya agama Kristen dan bikin aliran Kristen Liberal? Jadi para ulama tidak perlu memberi fatwa mati bagi Ulil.

Meski harus ada toleransi dan saling menghargai antar ummat beragama, tapi tetap ada batas yang harus kita hormati.

Tokoh2 Sekuler-Liberalis-Pluralis di Tubuh Muhammadiyah

Ada catatan penting menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-45 Juli mendatang. Diantaranya adalah lahirnya tokoh liberal di tubuh ormas itu. Inilah jejak mereka sebagaimana sudah banyak dikutip media

Senarai pikiran ini diambil dari berbagai gagasan yang sudah dituangkan di berbagai media massa atau buku.

1. Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif

Pada tanggal 10 Agustus 2000, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Syafii Ma’arif, bersama Ketua PBNU dan Prof. Dr. Nurcholish Madjid membuat pernyataan bersama. Isinya: menolak masuknya Piagam Jakarta dalam pasal UUD 1945. Dalam beberapa ceramahnya, Syafi’i pernah menolak syari’at Islam karena tidak sesuai dengan konteks zaman.

2. Prof. Dawam Rahardjo

Sebagai tokoh yang dianggap sebagai intelektual muslim, Dawam Rahardjo melegalisasi dan memberikan pujian selangit terhadap buku yang berjudul, “Tempat dan Peran Yesus di hari Kiamat menurut Islam” yang ditulis seorang Pendeta Wienata Sairin MTH. Dalam kata pengantarnya dalam buku tersebut.

“Buku kecil karya Wienata Sairin yang berjudul Tempat dan Peran Yesus di hari Kiamat menurut ajaran Islam ini sangat menarik untuk dibaca”. “Buku ini cukup mewakili pandangan Islam”, katanya. Padahal didalam buku tersebut terdapat pelecehan dan penghinaan yang dilancarkan oleh Pendeta, dalam bukunya menuding bahwa Al-Qur’an sangat kontradiktif.

Dalam kata pengantar buku Pendeta Wienata, Dawam Rahardjo juga memasang badan sebagai tameng pembelaan terhadap doktrin kristen tentang ketuhanan yesus. Dengan kata lain, Dawam membela Trinitas.

Selain itu, Dawam dikenal sebagai pembela Aliran Sesat. Pada tahun 2000 dengan mengatasnamakan Muhammadiyah mengundang Tahir Ahmad yang dianggap Khalifah ke 4 bagi Ahmadiyah (Golongan yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi selepas Rasululloh) di Jakarta.

Dalam situs http://www.Islamlib.com, Dawam mengatakan bahwa Ahmadiyah itu sama dengan kita jadi kita tidak bisa menyalahkan atau membantah akidah mereka, apapun akidah mereka itu .

Di Majalah TEMPO (edisi 12 Januari 2003, yang diberi judul “Islam Radikal Vs Islam Liberal”, Dawam membela Koordinator Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla. Dawam mengatakan: “… menurut hemat saya, Ulil justeru mengangkat wahyu Tuhan di atas syariat.” Padahal, seperti disebutkan sebelumnya, Ulil menulis: “Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency) … Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.” Bagaimana mungkin seorang tokoh Muhammadiyah membela-bela ucapan yang jelas-jelas salah?

3. Dr. Moeslim Abdurrahman

Tokoh Muhammadiyah asal Lamongan ini pernah mengeluarkan pikiran (agak melecehkan) dengan mengatakan, bahwa “Korban pertama dari penerapan syariat Islam adalah perempuan” .

Moeslim juga menghalalkan Natalan bersama. Dia mengatakan bahwa “Umat beragama harus bisa menciptakan sesuatu yang intensif dalam hubungan antar umat, umat kristen dapat menciptakan perayaan natal yang dapat dihadiri umat lain, itu bisa dilakukan jika perayaan tersebut tidak mengandung ritual. Dalam kaitan ini Moeslim mencontohkan tradisi mudik dan ketupat pada idul fitri yang dapat diikuti penganut agama manapun”.

“Dengan demikian, pada Natal nasional, misalnya, umat agama lain bisa datang tanpa merasa ada kesulitan. Ini berarti kita mempunyai tradisi atau event yang bisa dirayakan bersama.” (Kompas, Kamis, 18 Desember 2003).

4. Prof. Dr. Amien Abdullah

Dia adalah tokoh Muhammadiyah yang juga didukung banyak pihak untuk maju menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar di Malang bulan depan. Aminlah orang yang mendesakkan gagasan agar studi Hermeneutika (studi kritik) terhadap Al-Qur’an agar diajarkan di kampus-kampus IAIN seluruh Indonesia.

Menurutnya, “Tafsir-tafsir klasik Al Qur’an tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat.”

5. Dr. Abdul Munir Mulkhan

Dalam berbagai artikelnya di media massa, Mulkan secara nyata menolak “Klaim Kebenaran” (truth claim). “Dalam logika orang desa, kalau ada satu kelompok yang merasa benar sendiri dan yang lain dituding salah atau sesat, nanti saya kawatir kesepian di surga, tidak ada temannya. Klaim-klaim kebenaran absolut seperti itu sesungguhnya lebih menunjukkan, barangkali dalam bahasa yang agak sarkastik, kurang menyadari bahwa hidup sosial tidak bisa sendirian. Di hutan sajapun tidak bisa hidup sendirian, mesti bersama hewan-hewan, pohon-pohonan dan semak belukar”, ujarnya.

Dalam bukunya, “Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar” , (Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2002, hal. 44), dengan membanggakan akalnya, Mulkan mengatakan, “Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama. Karena itu, semua manusia berpeluang masuk surga sesuai keagamaan dan kapasitasnya masing-masing, jika benar-benar memang percaya (iman, dan berminat).”

6. Sukidi

Kini ia sedang ‘nyantri’ di Ohio State University dan berguru pada tokoh-tokoh sekuler. Sukidi pernah menyamakan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan Islam.

Dalam buku “Teologi Inklusif Cak Nur,” Sukidi mendukung pikiran Nurcholis yang mengartikan Islam sebagai sikap pasrah. “Bangunan epistomologis teologis inklusif Cak Nur (Nurkholis Madjid) diawali dengan tafsiran Al-Islam sebagai sikap pasrah kehadiran Tuhan, kepasrahan ini menjadi ciri pokok semua agama yang benar. Inilah word view Al Qur’an bahwa semua agama yang benar adalah Al-Islam.”

Dengan kata lain, tulis Sukidi, “sesuai firman Tuhan ini, terdapat jaminan teologis bagi umat beragama, apa pun “agama”-nya, untuk menerima pahala (surga) dari Tuhan. Bayangkan betapa inklusifnya pemikiran teologi Cak Nur ini, ” ujarnya membanggakan kekeliruan Nurcholis Madjid.

7. Piet Hasbullah Khaidir

Dia adalah mantan Ketua Umum PP IMM 2001-2003, yang kini menjadi anggota presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

“Kita tak akan panik, meskipun orang berpindah-pindah agama sehari tiga kali, seperti minum obat”, katanya.

Majalah Syir’ah, majalah yang konon didanai The Asia Fondation, baahkan mengangkat pengalaman rohani Piet Hasbullah Khaidir tentang pernah pindah iman sebanyak tiga kali dari Budha, Katolik bahkan Atheis.

8. Dr. Tarmizi Taher

Dia adalah Ketua Korps Mubalig Muhammadiyah, mantan Menteri Agama, dan Rektor Universitas Azzahra, Jakarta. Dalam Muktamar ke-45 bulan depan, dia juga dikabarkan akan maju sebagai Ketua PP.

Dalam opini berujudul, “Kerukunan Umat, Perspektif Ahmad Dahlan,” Suara Merdeka, (Sabtu, 23 April 2005), Tarmizi mengajak umat Islam berkawan dengan Barat dan misionaris Kristen. Dan mengatakan, seolah-olah KH. Ahmad Dahlan begitu akrab dengan kalangan pendeta.

“….Barat harus dimusuhi sebagai penjajah, namun harus dikawani sebagai peradaban. Agama Kristen yang dibawa para misionaris Barat harus dimusuhi sejauh ketika agama tersebut dipakai sebagai kedok imperialisme. Namun sebagai sebuah agama, K.H. A. Dahlan sangat menghormati para pemeluk agama Kristen. Hal ini ditunjukkan dengan pergaulannya yang amat luas, tidak sebatas sesama umat Islam. Sejarah mencatat bahwa beliau sangat akrab dengan para pastur dan pendeta.”

Hari Jumat (3 Juni 2005), di Harian Republika dia menulis dengan judul “Memetik Nilai-nilai Pluralisme dari KH Ahmad Dahlan”, penulis mencatut nama KH. Ahmad Dahlan, seolah-olah pendiri Muhammadiyah ini adalah tokoh pluralisme.

9. Andar Nurbowo (http://profiles.friendster.com/nubowo)

Dia aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Peneliti pada Center of Muhammadiyah Studies PP Muhammadiyah.

Dalam artikelnya “Kebangkitan Intelektual Muda Muhammadiyah” (Kompas, 17 November 2003), Nurbowo mengatakan, “Pengabaian semangat berpikir ini, tak ayal melahirkan kejumudan mayoritas kader dan aktivis Muhammadiyah. Ruang spiritual, meminjam EF Schumacher, yang seyogianya diisi tradisi refleksi kritis, justru dipenuhi sikap reseptif, tekstualis terhadap doktrin Islam. Al-Quran yang seharusnya dibaca secara kritis dan dikontekstualisasikan guna pemecahan krisis sosial, hanya diperlakukan sebagai kitab agung yang hanya dilantunkan dan dikidungkan.

Alih-alih mengajak berfikir liberal, Nurbowo melecehkan ibadah ritual kalangan Muhammadiyah yang lain; seperti meyakini memelihara jenggot atau dan cara makan Rasulullah.

“Figur mulia Muhammad sekadar dipahami dalam prespektif gestural-tekstualis, seperti cara makan nabi, memelihara jenggot, tanpa menelisik lebih dalam makna perjuangan nabi secara lebih luas. Cara ber-muhammadiyah seperti ini bahkan menodai cita awal Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan.”

10. Pramono U Tanthowi

Dia adalah pengurus DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dalam opininya di Kompas, Sabtu, 26 Januari 2002 berjudul, “Muhammadiyah dan Islam Liberal”, Tanthowo mengajak Muhammadiyah beralih pada gerakanb sekulerisme-liberal. Bahkan dia menjamin dengan beralih ke sekuler-liberal, Muhammadiyah lebih demokratis.

“Bagi Muhammadiyah, lebih baik langsung berperilaku liberal, demokratis, dan pluralis, daripada banyak bicara liberalisme, demokrasi dan pluralisme, tetapi sebaliknya berperilaku antiliberal, antidemokrasi dan antipluralisme.”

11. Pradana Boy ZTF (Punya MP juga lho beliau ini di http://pradana77.multiply.com/)

Dosen Univeritas Muhammadiyah Malang yang juga masih berstatus sebagai Mahasiswa The Australian National University (ANU), ini juga dikenal membangga-banggakan kaum orientalis.

Dalam opininya “Orientalisme dan Dialog Antarkitab” di Republika, Pradana justru meragukan Al-Qur’an dan mengajak umat Islam lebih kritis terhadap kitab suci itu, layaknya para kaum orientalis.

“Tetapi, pandangan semacam ini tampaknya belakangan mulai berubah. Lahirnya kesadaran untuk mengkaji Islam secara lebih dekat dan munculnya pengkajian Islam dengan pendekatan yang lebih akademis, telah melahirkan pandangan yang cukup positif terhadap Al-Qur’an. Hal itu ditandai dengan lahirnya sejumlah karya sarjana-sarjana Kristen yang berusaha memotret Al-Qur-an dengan pandangan yang lebih objektif. Di antara karya yang bisa disebut adalah Islamic Revelation in the Modern World karya W Montgomery Watt; Religion and Revelation-nya Keith Ward; The Event of the Qur’an, The Mind of the Qur’an, Muhammad and The Christian, Readings in the Qur’an dan Returning to Mount Hira yang secara berturut-turut ditulis pada tahun 1971, 1972, 1986, 1988 dan 1994 oleh Kenneth Cragg, seorang biarawan Anglikan.

Lahirnya karya-karya ini bisa disebut sebagai gelombang baru hubungan Islam Kristen dalam konteks pengakuan Al-Qur’an di hadapan umat Kristiani. Di luar kekurangan dan kelebihannya, usaha-usaha untuk mempersepsi Al-Quran dengan cara yang lebih sophisticated semacam ini, pada tataran yang lebih jauh justru akan menjadi jalan bagi upaya untuk menemukan common platform kitab suci agama-agama dunia yang selama ini sering menjadi persoalan,” tulisnya.

12. Ahmad Fuad Fanani

Dia aktifis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Di koran Republika, berjudul “Menghindari Kejumudan Penafsiran Islam”, Fanani menganggap aneh orang yang masih percaya terhadap doktrin “Islam agama paling benar.”

“Banyak yang mengganggap dan mempercayai, bahwa Islam yang otentik dan paling benar adalah Islam yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad semasa hidup.” Kita bertanya: “Apakah ada orang lain, termasuk di lingkungan Muhammadiyah, yang memahami dan mempraktikkan Islam lebih baik dari apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw? Bukankah kuam Muslim pasti meyakini, bahwa Nabi saw adalah uswatun hasanah; contoh yang baik?.

13. Zakiyuddin Baidhawy

Koordinator Program Pengembangan Toleransi, Pluralisme dan Multikulturalisme pada Center for the Study of Culture and Social Change ini adalah dosen di Universitas Muhammadiyah Solo (UMS). Dia juga anggota Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sukoharjo (2000-2005), dan presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

Seperti halnya yang lain, dia juga mengurung pluralisme agama, dan menganggap Islam bukan satu-satunya agama yang benar.

Tokoh-tokoh diatas adalah sekelumit dari fenomena yang terjadi ditubuh Muhammadiyah sekarang. Sebab seseungguhnya masih banyak tokoh Muhammadiyah lain yang ikut terjangkit ‘virus’ membahayakan itu.

Anehnya, gagasan-gagasan mereka itu sudah dipublikasikan ke berbagai media masaa dan buku-buku. Dan tentu saja, mereka didukung penuh dan dana besar-besaran dari pihak asing, terutama funding-funding dari Amerika Serikat (AS).

Dengan sekelumit contoh tokoh dan aktifis Muhammadiyah itu, penting kiranya bagi kita untuk menentukan nasib bagaimana Muhammadiyah ke depan? Tetap kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah atau pindah pada paham Sekuler-Liberal? Andalah yang menentukan.

Kyai NU: Liberalisasi Islam, Hukumnya Murtad !!!

Hingga saat ini, NU tetap menolak pandangan maupun ajaran Jaringan Islam Liberal (JIL). Juru Bicara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan dengan tegas bahwa NU secara institusi tidak sepakat dengan ajaran JIL yang diajarkan oleh Penggerak JIL Ulil Abshar Abdalla.

“Terdapat tiga poin ajaran Ulil yang tidak sesuai dengan konteks ideologi NU. Ketiga ajaran tersebut antara lain, 1. Pernyataan bahwa semua agama itu benar, 2. Desakralisasi Al Qur’an, 3. Deuniversalisasi Al Qur’an. Kami sangat bertolak belakang dengan ajaran JIL karena tidak sesuai dengan ajaran Islam,” katanya Ahad, (18/10).

Sebenarnya, ujar Abdullah, anggota NU maupun Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur sangat resah dengan adanya suara yang menghubung-hubungkan NU dengan JIL. Oleh karena itu kemarin NU meminta Ulil untuk mengklarifikasi tiga poin ajaran JIL yang tidak sesuai dengan ajaran NU tersebut.

“Yang jelas, NU tidak memiliki kaitan apapun dengan JIL. Ajaran yang dianut pun jauh berbeda. Sikap tegas NU terhadap JIL sudah terlihat nyata saat diadakannya Muktamar NU 2004 di Boyolali dan Munas NU 2006. Kami menganggap ajaran JIL telah menyimpang dari Ahlul Sunnah Wal Jamaah,” ujarnya.

Menurut ideologi NU, kata Abdullah yang juga menjabat sebagai Ketua DPC NU Jember, agama yang benar di muka bumi hanyalah Islam. Selain itu, agama Islam juga merupakan agama yang menjamin keselamatan dunia dan akhirat bagi para pemeluknya. Hal ini jauh berbeda dengan ajaran JIL yang menganggap semua agama itu benar dan menyelamatkan.

“Namun meskipun NU memiliki ideologi Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, bukan berarti kami tidak memiliki toleransi terhadap agama lain. Kami menghormati para pemeluk agama lain sesuai dengan kepercayaan mereka,” katanya seperti dilansir republika.co.id.

Ajaran yang disampaikan oleh Ulil, terang Abdullah, merupakan wacana kosong belaka. Sebab saat ditanyai mengenai tiga poin ajarannya tersebut, Ulil tidak bisa menjelaskan dalil-dalil yang dipakainya dengan baik dan lengkap. “Dia hanya mengutip dalil itu sepotong-sepotong untuk mendukung pemikirannya saja. Ada dalil yang dikutip tidak lengkap,” terangnya.

Terkait dengan adanya kabar yang mengatakan bahwa terdapat anggota NU yang juga anggota JIL, Abdullah mengatakan, secara ideologi jika ada anggota NU yang masuk JIL berarti dia sudah keluar dari NU. Sebab ketika anggota NU masuk JIL berarti dia sudah tidak seideologi dengan NU lagi.

“Namun hingga saat ini belum ada aturan administrasi NU yang menyatakan bahwa anggota NU yang masuk JIL harus dikeluarkan dari NU,” katanya.

Lebih lanjut, Abdullah mengatakan, NU juga tidak sepakat dengan adanya liberalisasi Islam. Sebab pemikiran untuk meliberalkan Islam itu tidak sesuai dengan ideologi NU. “Dan yang lebih penting, jika orang sudah berpikir meliberalkan Islam, secara Hukum Fiqih dia sudah keluar dari Islam,” ujarnya.

sumber : http://www.eramuslim.com

17 responses to “Asal-usul Islam Liberal

  1. maaf, setahu saya photo wanita pakai kerudung itu tidak sama dengan Aminah Wadud yang menjadi Imam Sholat laki2, Aminah Wadud berkulit hitam, beda dengan photo itu

  2. Hi everybody! I don’t know where to begin but hope this site will be useful for me.
    I will be happy to receive any assistance at the beginning.
    Thanks and good luck everyone! ;)

  3. 1. Get quotes from as many companies as possible.

    http://www.onlinemarketpromo.com/sig.gif

  4. Всем привет!

    Недавно перед мной встала задача, куда деть накопишиеся европоддоны, или еще их называют Паллеты,
    Поддоны, Европаллеты Размеры 800*1200, 1000*1200- Это Тара Пром назначения.
    Немного предистории.
    Сам я тружусь кладовщиком на складе. Нам приходит много продукции на Европоддонах,
    товар продаем а поддоны остаются, у нас встал вопрос куда их девать.
    Раньше мы их сжигали.
    Потом мне подсказали, что за поддоны можно получить деньги.
    Начал обзванивать фирмы везде были цены дешевые,
    потом приятели мне подсказали, что в Челябинске есть такая Компания “Уралсклад“,
    около 10 лет на Рынке Промышленной Тары с прекрасной репутацией.
    Я нашел их сайт в интернет – http://www.uralsklad.ru и позвонил по тел. +7(351) 233-07-14.
    Буквально через час подъехал их представитель, Авто с Логотипом “Поддоны Челябинск“.
    Цены закупочные оказались самые высокие в г. Челябинске.
    Все цивилизовано грузчики загрузили Паллеты ешё и лом поддонов купили, расчитались на месте наличными.
    Про другие фирмы я узнавал либо Цены низкие, либо Бракуют много, да и денег от них не дождешься.

    Так что если у вас завалялись европоддоны, не торопитесь их выбрасывать, лучше обменяйте их на деньги.

  5. apapun itu namanya . jaringan islam liberal atau extrim yang penting tidak memecahbelahkan umat islam.
    agama islam sebagai ramatal lil alamin sebagai sumber kesatuan umat semesta alam tidak membeda-bedakan golongan satu dengan golongan yang lain.
    jangan samapai terpecah belah di adu domba oleh kaum yang tidak bertanggung jawab……….
    ” PERBEDAAN ADALAH RAHMAT”

    • Islam Liberal di Kembangkan Barat tujuannya memang utk memecahkan Umat Islam Gan? Krn Paham Mereka menganggap semua agama sama benarnya dan itu mengakibatkan banyak umat islam murtad,mereka menganggap perkawinan sesama jenis sah menurut islam,mereka anti Arab dan mereka sudah menyusup ke muhammadiyah dan NU. Serta IAIN dan UIN,.

    • perbedaan adalah rahmat…. astagfirullah…., itu adalah hadist maudhu!!! sungguh aneh orang ini, yang lemah maupun palsu dianggap datang dari rosul, yang shahih malah diragukan…

    • miss edelweis

      apakah perbedaan yang memecahkan umat dan menodai ajaran islam merupakan rahmat?

  6. Assertiveness is state of self-assurance wherein one particular is bold, direct and largely confident with other folks. Several occasions assertiveness gets confused with aggression. This leads to mishaps like snubbing other men and women on the wrong site, thereby developing a negative effect. For this reason, it is critical to realize how to be assertive specially at the function spot. Being assertive can showcase a much more proactive and confident individual.

    Assertiveness is essential in the workplace where colleagues and managers can make unreasonable requests or demands on your time – top to pressure, depression and anxiousness. This in turn leads to aggression, aloofness and attrition. Really typically, it can even ruin excellent profession prospects.

    Why Assertiveness is perceived to be difficult

    Individuals tend to be hesitant to assert themselves for the following causes:

    They feel anxious that it would attract dislike from other folks

    This misconception is probably what prevents most folks from getting assertive. We all strive to be accepted and liked by other folks. We search up to people who can make their presence felt. Several people have a sphere of influence, wherein their opinions are accounted and accepted.

    The only way this can transpire is through their assertiveness. It assists them get their ideas across, and with a little bit of convincing, everybody sees excellent judgement in their view. People tend to respect these have the ability to be assertive, not aggressive.

    http://blinklist.com/users/Monjinman618
    http://identi.ca/mandymongers

  7. islam rahmatan yang rahmatan lil ‘alamin punya cara tersendiri menyikapi berbagai persoalan yang muncul di dunia ini. masalahnya adalah teks-teks normatif al-qur’an dan hadits hingga sekarang tetap demikian adanya. maka yang diperlukan oleh kita adalah melakukan reinterpretasi dan reorientasi tafsir quran dan hadits sehingga islam selalu laiqan fie thulizzaman. dengan demikian JIL bagi saya merupakan salah satu pionir alternatif pemahaman keislaman yang layak untuk diperhitungkan dan dipertimbangan

  8. Bismillahirrohmanirrohim.
    JIL (Jaringan Iblis La’natullah ‘alaih)adalah kelompok sesat. Satu saja pemikiran JIL yg bertentangan dengan Al Qur’an,itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa JIL adalah kelompok yg menyimpang. Na’udzubillahi an nakuna minhum. Wa nas’alullaha assalamah wal ‘afiyah.

  9. Nice work, Keep doing it!!! ;)

  10. Artikel yg brmanfaat

  11. Hidup JIL, ha, hai,,,semoga umat islam semakin kritis n bertindak menjalani mana yg benar mana yng salah.sudah jelas.

  12. JIL ajaran adu domba.
    JIL sama ISlam beda yah.
    salam buat BAPA mu JIL

  13. al qur’an akan di jaga kemurniannya oleh allah sampai hari kiamat, itu lah yg membedakan nya dr kitab lainnya yg banyak di rubah atau di penggal kalimatnya. maka kafir dan nasrani sangat membenci hal ini jdnya ya mereka akan berusaha mati2an mengecoh umat muslim sampai akhir zaman. sesungguhnya mereka tau apa yang salaj pada diri mereka, oleh sebab itu mereka berusaha memutar balikan apa yg benar krn mereka takut .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s