Monthly Archives: October 2009

Sejarah Islam di Albania (Negeri Muslim di Eropa)


Di tenggara Eropa, yaitu kawasan yang dikenal dengan nama Balkan, terletak Albania. Negara ini memiliki jumlah penduduk 3,5 juta orang, 70% penduduknya beragama Islam dan sisanya Kristen. Luas wilayah sekitar 30 ribu kilometer persegi. Negara ini di masa lampau sempat berada di bawah kekuasaan imperium-imperium besar seperti Yunan, Roma, dan Ottoman. Meskipun pada era pendudukan Romawi Albania sempat menjadi kawasan berpeduduk Kristen, namun menyusul kemunculan Islam, terjalinlah hubungan antara bangsa Albania dengan orang-orang muslim. Dengan berimigrasinya kaum muslimin dan berdatangannya para muballig dan pedagang ke Albania, Islam secara bertahap meluas di Albania.

Penguasaan imperium Ottoman terhadap Albania mulai tahun 1430 hingga lima abad kemudian, telah membuat Islam semakin tersebar di negara itu. Pada tahun 1912, Albania meraih kemerdekaannya. Namun pada tahun 1945, dengan naiknya Enver Hoxha yang menganut paham komunis ke kursi kepresidenan, orang-orang Albania mengalami era pemerintahan yang represif dan mencekam. Enver Hoxha membelenggu kebebasan agama orang-orang Albania, dan bahkan sampai menghancurkan masjid-masjid di negara itu.

Setelah meninggalnya Enver Hoxha pada tahun 1985 dan melemahnya rezim komunis, kondisi di negara itu pun mengalami perubahan. Pada tahun 1990, aktivitas yayasan relijius dan masjid-masjid kembali meraih kebebasan. Pada bulan Maret tahun berikutnya, diadakan pemilu parlemen yang bebas untuk pertamakalinya. Presiden Sali Berisha adalah presiden pertama Albania pasca era komunis. Pada masa pemerintahannya, digalakkan usaha-usaha pembangunan kembali tempat-tempat ibadah dan perluasan hubungan dengan negara-negara muslim. Bahkan pada masa itulah Albania resmi menjadi anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). Namun pada tahun-tahun kemudian, perhatian pemerintah Albania terhadap Islam menjadi berkurang.

Rakyat Albania mudah menerima ajaran Islam karena selama berabad-abad mereka berada di bawah kezaliman para penguasa. Sementara itu, ajaran Islam memberi mereka semangat untuk melawan kezaliman. Islam adalah agama yang mengajarkan prinsip keadilan, kebebasan, dan persaudaraan. Prinsip-prinsip Islam inilah yang menarik orang–orang Albania terhadap Islam. Pada era komunis, orang-orang Albania berada di bawah tekanan dan represi, namun cahaya Islam tetap menyala di hati mereka.

Kehidupan persaudaraan antar etnis, demikian juga antara kaum muslimin dan kaum Kristen di Albania juga menarik untuk diamati. Mereka hidup berdampingan dengan rukun satu sama lain. Data pada tahun 2004 yang dikeluarkan secara bersama oleh Departemen Luar Negeri dan Pusat data statistik menunjukkan bahwa keragaman etnis dan agama di Albania masih tetap terjaga. Disebutkan bahwa etnis Albania dengan jumlah 98,6% merupakan etnis mayoritas. Disusul dengan Yunani 1,17%, dan etnis-etnis lainnya seperti Roma, Serbia, Montenegro Makedoni, Mesir, dan Bulgaria sebesar 0,23%. Sementara itu, secara agama, Islam menempati posisi mayoritas yaitu 70%, Kristen Orthodox 20%, dan Katolik Roma 10%.

Masjid selalu menjadi pusat dari kegiatan kaum muslimin karena masjid memberikan semangat dan makrifat kepada mereka. Begitu pula di Albania, masjid memiliki peranan penting dalam menumbuhkan semangat keislaman di hati kaum muslimin negara itu. Di setiap lapangan utama pada setiap kota di Albania selalu terdapat sebuah masjid. Hal ini membuktikan bahwa masjid adalah tempat yang sangat penting di mata masyarakat Albania. Sebelumn berkuasanya rezim komunis, jumlah masjid di negara itu mencapai 600 buah dan memiliki peran yang lebih aktif daripada era sekarang ini. Selama pemerintahan rezim komunis, masjid-masjid di negara itu ditutup dan sebagiannya bahkan dihancurkan. Setelah keruntuhan rezim komunis, masjid-masjid itu kembali dibangun dan sekarang ini jumlah masjid yang aktif melakukan berbagai kegiatan keagamaan mencapai 350 buah. Selain masjid, juga ada pusat-pusat kegiatan kaum muslimin lainnya, misalnya husainiyah atau yayasan-yayasan keislaman.

Pengajaran agama Islam secara formal di Albania dilakukan secara terpusat. Dengan kata lain, beberapa lembaga pengajaran tertentu di Albania memiliki tanggung jawab dalam mengajarkan agama Islam kepada para pelajar. Lembaga-lembaga pengajaran ini merupakan pengganti dari sekolah-sekolah agama yang sebelumnya melakukan kegiatan secara terpisah-pisah dan tersebar di setiap masjid. Lembaga pengajaran agama terbesar berlokasi di Tirana, ibukota Albania. Di sekolah agama ini, Islam diajarkan sedemikian rupa agar terhindar dari pertentangan antar mazhab. Lulusan dari lembaga pengajaran ini memiliki peran besar dalam membangkitkan semangat keislaman kaum muslimin pada era komunis dan akibatnya banyak pula di antara mereka yang dipenjarakanoleh rezim komunis.

Sementara itu, kelompok politik atau partai-partai Islam tidak banyak berdiri di Albania. Mungkin hal ini disebabkan karena panjangnya masa pemerintahan rezim komunis yang sangat represif dan selalu menghalangi kegiatan-kegiatan politik non-komunis. Lembaga Islam terbesar di Albania saat ini,yang juga mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah adalah Komite Muslim Albania. Masrasah Islami Tirana adalah lembaga pengajaranyang berada di bawah Komite Muslim Albania. Di setiap kota, terdapat cabang dari komite ini dan melakukan berbagai kegiatan keislaman di kota tersebut. Selain Komite Muslim Albania, juga ada lembaga-lembaga lain, seperti Organisasi Cendekiawan Muslim, Organisasi Muslimah, atau Organisasi Pemuda Muslim Albania. Selain itu, kaum muslimin Albania juga memiliki sebuah Pusat Dialog Agama, demi menjalin persatuan dan membela hak-hak kaum muslimin di negara ini.

Meskipun Islam adalah agama mayoritas rakyat Albania dan ke-Islam-an telah menjadi jati diri mayoritas rakyat negara itu, namun perhatian yang ditunjukkan pemerintah Albania terhadap perluasan pengajaran Islam tidak memuaskan. Dalam UUD negara ini, Islam tidak disebut sebagai agama resmi negara. Bahkan, dewasa ini tampak usaha-usaha untuk menjadikan negara muslim ini sebagai negara sekuler. Hal ini antara lain merupakan akibat dari letak geografisnya di Eropa, yaitu di tengah negara-negara non Islam dan juga akibat dari sisa-sisa peninggalan era komunis dulu.

Dalam menghadapi situasi seperti ini, diperlukan peran aktif dari rakyat Albania sendiri agar Islam menjadi semakin berkembang dan mewarnai berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Apalagi, masa lalu Albania yang dibawah penindasan rezim komunis telah membuat negara ini menjadi salah satu negara miskin di Eropa dan menghadapi banyak permasalahan sosial. Berpegang kembali kepada Islam secara benar adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari kemelut itu.

AKP Partai Islam di Turki


Pemilihan umum dini parlemen Turki telah selesai dengan hasil seperti yang sudah diduga sebelumnya. Yakni, kemenangan gemilang partai Keadilan dan Pembangunan atau AKP pimpinan Recep Tayyip Erdogan yang berbasis Islam.

AKP meraih 46,7 persen suara (340 dari 550 kursi parlemen), disusul partai Rakyat Republik (CHP) yang berbasis sekuler 20,9 persen (113 kursi), kemudian Partai Aksi Nasionalis (MHP) yang berbasis nasionalis sekuler 14,3 persen (70 kursi), terakhir kubu independen 5,1 persen (27 kursi).

Keberhasilan AKP dalam pemilu legislatif kali ini bukan suatu kejutan, tetapi kesuksesan MHP meraih 14,3 persen suara merupakan kejutan besar yang membuat partai tersebut masuk parlemen lagi.

Pada pemilu tahun 2002, MHP gagal memperoleh suara signifikan hingga tidak bisa masuk parlemen. Sebaliknya, perolehan suara CHP merosot tajam, yakni sebanyak 178 kursi pada pemilu tahun 2002 menjadi hanya 113 kursi pada pemilu tahun 2007.

Hasil pemilu dini legislatif tersebut tentu tidak terlepas dari perkembangan terakhir di Turki. Khusus bagi MHP, keberhasilannya disebabkan adanya kecenderungan semakin meningkatnya aktivitas partai Pekerja Kurdistan atau PKK di Irak Utara dan wilayah Turki tenggara.

Bahkan, PKK dituduh terlibat dalam sebuah ledakan dahsyat di ibu kota Ankara yang menewaskan puluhan warga Turki. Maka, nasionalisme rakyat Turki dibangkitkan oleh meningkatnya aktivitas PKK itu. MHP pun yang berbasis nasionalis diprediksi meraih suara signifikan pada pemilu legislatif kali ini.

Itulah realita yang memang terjadi pada pemilu legislatif kali ini di Turki. Adapun keberhasilan gemilang AKP menunjukkan rakyat Turki memberikan solidaritasnya pada partai berbasis Islam itu menyusul krisis politik akibat isu pemilihan presiden akhir-akhir ini.

Seperti dimaklumi, upaya AKP mencalonkan Menteri Luar Negeri Abdullah Gul sebagai Presiden Turki mendatang dijegal oleh lembaga militer dan CHP. Hal itulah yang membuat Perdana Menteri (PM) Erdogan meminta digelar pemilu dini legislatif.

Media massa Turki menyebutkan, mayoritas rakyat Turki kini bersatu di belakang AKP. Wartawan senior Turki, Sefer Turan, mengatakan, AKP kini merupakan representatif dari semua elemen rakyat Turki karena partai itu menang di hampir semua wilayah di negeri itu.

Mengapa AKP yang berbasis Islam kini mampu menjadi representatif dari semua elemen rakyat di negeri yang menganut faham sekuler sejak diproklamasikannya Turki modern pada tahun 1923 oleh Mustafa Kemal Ataturk?

Turki modern memang segera mengambil kebijakan menghapus semua simbol berbau Islam yang menjadi peninggalan imperium Ottoman.

Ataturk, misalnya, mengganti sistem khalifah dengan sistem negara bangsa yang berbasis sekuler, mencerabut rakyat Turki dari akar sejarah Islamnya yang malang melintang selama enam abad, mengucilkan negeri Turki dari lingkungan dunia Islam, menggantikan libur hari Jumat dengan hari Minggu, menggantikan huruf Al Quran berbahasa Arab dengan bahasa Turki, menggantikan tulisan bahasa Arab dengan bahasa Turki, dan menggantikan penutup kepala sorban dengan tarbush khas Turki.

Akan tetapi, sistem sekuler itu tidak mampu menembus infrastruktur sosial rakyat Turki dan tidak dapat pula memusnahkan sentimen keagamaan sebagian besar rakyat negara itu.

Rakyat Turki pun terpecah menjadi dua komunitas, yakni komunitas minoritas modern dan komunitas mayoritas konservatif. Pada gilirannya, terjadi konflik sosial dan politik antara dua komunitas tersebut yang tidak pernah berhenti sejak diproklamasikannya negara Turki modern hingga hari ini.

Pada era tahun 1940-an, 1950-an, dan 1960-an, disebut masa perjuangan kekuatan Islam, politik di Turki muncul kembali di permukaan setelah dibekuk habis pada era tahun 1920-an dan 1930-an. Namun, upaya kekuatan Islam politik pada era tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.

Pada era tahun 1970-an dan 1980-an, negara Turki modern mulai melunakkan sikapnya terhadap kekuatan Islam politik, disebabkan situasi politik dan ekonomi di tingkat regional dan internasional saat itu.

Ada dua faktor menonjol yang memaksa negara Turki modern bersedia menggunakan sentimen keislamannya saat itu. Pertama, isu Siprus. Kedua, ingin mengambil manfaat dari negara petro dollar di negara Teluk.

Turki pun masuk menjadi anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan mengesahkan konstitusi pada tahun 1982 yang mewajibkan pelajaran agama di sekolah tingkat dasar. Kebijakan budaya Pemerintah Turki saat itu menjadikan Islam sebagai elemen yang tidak bisa terpisahkan dari budaya Turki.

Ottoman baru

Perkembangan beberapa dekade terakhir ini sesungguhnya mulai menggeliat opini di kalangan masyarakat Turki tentang pentingnya mengevaluasi kembali dasar-dasar pemikiran Kemal Ataturk yang dinilai sudah banyak ketinggalan zaman. Pernah muncul pula ide “Ottoman Baru” dan “Republik Kedua” untuk menggantikan republik pertama yang digagas Ataturk.

Singkat kata, negara Turki modern bikinan Ataturk mulai digugat. Ide Ottoman baru atau republik kedua itu, dicanangkan menerapkan prinsip demokrasi secara total, kebebasan individu, memberi hak penuh kepada kelompok minoritas, seperti kaum Kurdi, dan menempatkan supremasi sipil atas militer.

Kelemahan negara republik pertama Turki versi Ataturk itu, cenderung mengabaikan hak kaum minoritas, khususnya kaum Kurdi, menerapkan demokrasi setengah hati, dan menempatkan supremasi militer atas sipil. Akan tetapi, geliat opini tersebut terbentur dengan sikap keras lembaga militer dan kaum nasionalis sekuler radikal yang masih sangat setia pada ajaran Ataturk.

Pada tahun 1990-an, lembaga militer dan kaum sekuler radikal melancarkan berbagai aksi untuk mereduksi sedemikian rupa geliat pengaruh Islam politik. Berbagai aksi tersebut di antaranya, pertama, memecat tentara dan perwira militer yang diketahui punya simpati pada Islam. Kedua, para tentara dan perwira militer yang dipecat tersebut dilarang bekerja lagi di lembaga negara yang lain. Ketiga, membatasi aliran dana dari luar negeri yang dikhawatirkan masuk ke rekening-rekening lembaga-lembaga Islam. Keempat, memboikot perusahaan-perusahaan Islam dan dilarang berbisnis dengan lembaga negara. Kelima, harus komitmen penuh terhadap butir no 174 dari konstitusi negara yang menegaskan tentang prinsip-prinsip dasar ajaran Ataturk. Keenam, membubarkan partai Islam Refah dan melarang pimpinannya melakukan aktivitas politik selama lima tahun.

Namun, lembaga militer dan kaum sekuler radikal tidak berhasil membuat kaum Islamis putus asa atau memilih jalan kekerasan. Mereka juga gagal meniadakan kekuatan riil Islam di tengah masyarakat.

Kegagalan upaya lembaga militer dan kaum sekuler radikal itu disebabkan beberapa faktor. Pertama, penerapan demokrasi di Turki—meskipun dalam level yang rendah pada dekade lalu— tetap memberi ruang pada kaum Islamis untuk bisa bertahan dan kembali lagi melakukan aktivitas politik secara konstitusional.

Kaum Islamis mampu menunjukkan sikap bijaksana dan tanggung jawabnya dalam menghadapi aksi-aksi provokasi kaum sekuler radikal yang sempat melarang kaum Islamis melakukan aktivitas politik itu. Kaum Islamis memilih tidak menggunakan jalan kekerasan dalam menghadapi manuver politik kaum sekuler radikal yang bisa membawa ke arah meletusnya perang saudara.

Kedua, kemampuan kaum Islamis beradaptasi dengan perubahan-perubahan di tingkat regional dan internasional, serta mampu meredam secara bijak atas gerakan anti Islamis. Pimpinan kaum Islamis tidak pernah menyerukan berdirinya negara Islam atau penerapan syariat Islam di Turki. Mereka menyadari seruan semacam itu hanya akan menjadi bumerang bagi mereka, karena tentu saja akan mendapat tantangan keras dari lembaga militer dan kaum sekuler radikal.

Sebaliknya, wacana politik kaum Islamis sangat menekankan pada isu-isu ekonomi dan problema keseharian, seperti pemberantasan pengangguran, pengentasan rakyat dari kemiskinan, penegakan keadilan, pertumbuhan ekonomi, pentingnya investor, kebersihan, dan ketertiban.

Pembubaran partai

Kaum Islamis juga selalu bersikap demokratis menghadapi keputusan pembubaran partai-partai Islam oleh lembaga militer pada dekade lalu. Kaum Islamis menerima pembubaran partai Sistem Nasional yang berhaluan Islam pimpinan Necmettin Erbakan pada 20 Mei 1971. Kaum Islamis juga tidak menentang pembubaran partai Keselamatan Nasional pimpinan Necmettin Erbakan pada 12 September 1980. Kaum Islamis tidak resah dengan pembubaran partai Refah pimpinan Necmettin Erbakan pada 16 Januari 1998.

Erbakan saat itu berkomentar, keputusan pembubaran partai Refah hanya masalah kecil dalam perjalanan sejarah politik Turki dan semua pihak hendaknya tenang menghadapi keputusan itu. Ketika partai Fadhilah (pengganti partai Refah) dibubarkan lagi pada tahun 2000, kaum Islamis menanggapi dengan mendirikan dua partai berhaluan Islam, yaitu partai Saadah pada Juni 2001 serta partai AKP pimpinan Recep Tayyip Erdogan pada Agustus 2001.

Ketiga, kemampuan kaum Islamis meraih kepercayaan rakyat karena keberhasilannya memperbaiki ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat serta menciptakan kestabilan dan keamanan.

Dalam berbagai pemilu, perolehan suara partai-partai Islam selalu menunjukkan peningkatan, yakni pada pemilu tahun 1991 meraih 11,9 persen suara, tahun 1994 meraih 19,1 persen, 1995 memperoleh 21,1 persen suara. Hanya pada pemilu 1999, perolehan suara partai Islam menurun, yakni hanya 15,6 persen. Perolehan suara partai Islam melalui AKP kembali meningkat tajam pada pemilu 2002, yakni berhasil menguasai 363 dari 550 kursi parlemen.

Kegemilangan AKP itu kemudian terulang lagi pada pemilu dini legislatif tahun 2007 ini. Itulah liku-liku perjalanan partai berbasis massa Islam di Turki hingga mencapai kejayaan di tengah terpaan kaum sekularis radikal di negara itu.

Sejarah Islam di Jepang


Tidak ada catatan yang jelas maupun jejak sejarah yang jelas mengenai kontak antara Islam dan Jepang serta kapan persisnya Islam masuk ke Jepang. Tapi setidaknya dapat diketahui bahwa Islam masuk ke Jepang melalui penyebaran ide/pemikiran religius dari Barat (Western) pada tahun 1877. Pada masa itu kisah hidup Nabi Muhammad SAW diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Hal ini menyebabkan Islam mampu hadir dan diterima di tengah kalangan intelektual Jepang, walaupun Islam pada saat itu hanya dipandang sebagai sebentuk pengetahuan serta bagian dari sejarah budaya. Kontak lain yang juga tidak kalah penting adalah ketika Turki Ottoman mengirimkan utusan berupa armada angkatan lautnya ke Jepang pada tahun 1890. Tujuan dari misi diplomatic ini adalah untuk menjalin hubungan antara dua negara dan untuk saling mengenal satu sama lain. Armada angkatan laut ini dinamakan “Ertugrul”. Armada ini kemudian terbalik dan kandas di tengah perjalanan pulangnya.

Dari 600 (enam ratus) penumpang, hanya 69 (enam puluh sembilan) yang selamat. Pemerintah maupun rakyat Jepang bersama-sama berusaha menolong para penumpang yang selamat dan mengadakan upacara penghormatan bagi arwah penumpang yang meninggal dunia. Mereka yang selamat, akhirnya dapat kembali ke negara mereka berkat sumbangan yang berhasil dikumpulkan dari seluruh rakyat Jepang. Peristiwa ini menjadi pencetus dikirimnya utusan pemerintah Turki ke Jepang pada tahun 1891 (seribu delapan ratus sembilan puluh satu). Hubungan yang sangat baik dengan Turki ini, juga membawa kemenangan bagi Jepang dalam peperangan dengan Rusia yang dimulai pada tahun 1904 (seribu sembilan ratus empat). Dikatakan, pada saat armada kapal kekaisaran Rusia melintasi laut Baltik, Turki memberitahukan hal tersebut kepada Jepang, dan karena itu, Jepang meraih kemenangannya. Orang Jepang yang pertama kali masuk Islam adalah Mitsutaro Takaoka yang menjadi Muslim tahun 1909 dan kemudian berganti nama menjadi Omar Yamaoka setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan sempat pula mengunjungi Bumpachiro Ariga, dimana di kota yang menjadi bagian dari negara India itu Omar Yamaoka sempat pula berdagang serta berkenalan dengan Islam secara lebih mendalam. Setelah cukup lama berinteraksi dengan masyarakat setempat, Yamaoka akhirnya mengganti namanya lagi menjadi Ahmad Ariga. Namun para peneliti juga menyatakan bahwa orang Jepang yang pertama kali masuk Islam bernama Torajiro Yamada. Yamada pernah mengunjungi negeri Turki sebagai bentuk rasa simpatinya atas kematian para personel armada angkatan laut Turki yang pernah mengunjungi Jepang. Yamada kemudian memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Khalil. Untuk menyempurnakan Rukun Islamnya, Abdul Khalil pun menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Kemunculan komunitas Muslim di Jepang dimulai sejak kedatangan ratusan pengungsi Muslim dari Turki, Uzbekistan, Tadjikistan, Kirghiztan, Kazakhtan, serta para pengungsi lain yang berasal dari Asia Tengah serta Rusia saat kebangkitan Revolusi Bolshevik selama Perang Dunia I. Orang-orang Muslim yang diberi Asylum (hak suaka) oleh pemerintah Jepang tinggal di beberapa kota utama di Jepang dan kemudian membentuk komunitas Muslim yang kecil. Sejumlah orang Jepang memeluk Islam setelah berinteraksi dengan komunitas Muslim tersebut. Dengan adanya komunitas Muslim yang kecil ini beberapa masjid berhasil dibangun. Masjid Kobe yang dibangun tahun 1935 serta Masjid Tokyo yang dibangun tahun 1938 merupakan masjid-masjid terpenting di Jepang. Satu hal yang perlu ditekankan di sini bahwa hanya sedikit Muslim Jepang yang dilibatkan dalam pembangunan masjid-masjid tersebut serta tidak ada satu pun Muslim Jepang yang menjadi Imam di tiap masjid tersebut.

Selama Perang Dunia II, sebuah “Islamic Boom” terjadi di Jepang. Trend ini dibawa oleh pemerintahan militer melalui berbagai macam organisasi serta research center yang concern ke kajian seputar Islam serta Muslim World. Dengan kata lain bahwa selama Perang Dunia II, terdapat lebih dari 100 buku serta jurnal kajian seputar Islam yang dipublikasikan di Jepang. Namun sayangnya berbagai macam organisasi serta research center yang tumbuh subur tersebut tidak berada di bawah control atau dikelola orang Islam sehingga para pengkaji Islam ini bisa memakai nama Islam untuk tujuan apapun. Padahal tujuan para pengkaji Islam ini semata-mata hanyalah untuk menjadikan militer Jepang mendapatkan pengetahuan yang dalam serta wawasan yang luas tentang Islam dan Muslim di negara-negara jajahan Jepang di China serta Asia Tenggara. Akibatnya, setelah Perang Dunia II berakhir tahun 1945, berbagai organisasi serta research center ini menghilang dengan cepat.

“yang lain terjadi akibat adanya “Arab Boom” setelah terjadinya peristiwa “oil shock” tahun 1973. Pada saat itu King Faisal menaikkan harga minyak sehingga negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat kelimpungan dan perekonomiannya sempat mengalami decline (kemerosotan). Media massa Jepang melakukan pemberitaan besar-besaran mengenai Muslim World secara umum dan Arab World secara khusus setelah menyadari pentingnya negara-negara Arab bagi ekonomi Jepang. Dengan adanya pemberitaan besar-besaran ini banyak orang Jepang yang sebelumnya tidak tahu apa-apa mengenai Islam mendapat kesempatan untuk mengenal Islam lewat tampilan suasana penyelenggaraan ibadah Haji di Mekah serta mendengar suara adzan dan bacaan Al-Quran. Di samping banyaknya upaya sungguh-sungguh untuk mempelajari Islam dan banyak yang memeluk Islam. Namun dengan berakhirnya efek oil shock, maka berakhir pula segala nostalgia ini. Ketertarikan orang-orang Jepang pada Islam menghilang secara cepat.Islamic Boom”

Menurut salah seorang Muslim Jepang, Nur Ad-Din Mori, beberapa tahun mendatang akan terjadi perkembangan Islam yang signifikan di Jepang. Hal ini ditandai dengan kembalinya lima pelajar Muslim ke Jepang setelah mereka menyelesaikan studinya tentang Islam di negara-negara Arab. Dua lulusan berasal dari Umm al-Qura University, Mekah, satu lulusan berasal dari Islamic University, Madinah, dan satu lagi berasal dari Dawa College, Tripoli dan terakhir berasal dari Qatar University. Meskipun para pelajar yang concern ke studi Islam ini jumlahnya tidak signifikan, namun hal itu sudah cukup bagus mengingat sebelumnya hanya ada enam pelajar yang concern ke Islamic Studies selama 20 tahun terakhir. Islam merupakan sebuah agama yang memberi penekanan pada pentingnya ilmu dan kita tidak dapat menegakkan Islam tanpa memahaminya (belajar). Nori merasa bahwa segenap upaya yang dilakukan untuk mengembangkan Islam di Jepang sekarang ini mengalami sedikit penurunan. Mori juga mengeluhkan permasalahan lain yang dihadapi oleh para Muslim di Jepang : hanya ada sedikit orang yang bisa memberi pengajaran tentang Islam kepada masayakat local dengan menggunakan bahasa Jepang. Sejarah dakwah di Jepang pada 14 tahun terakhir didasarkan pada upaya-upaya Muslim asing (orang-orang Muslim yang berasal dari luar Jepang) yang tinggal di Jepang. Mereka umumnya membentuk komunitas kecil serta menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keislaman di Jepang, sambil menuntut ilmu atau bekerja di Jepang.

Setelah Perang Dunia II, komunitas Muslim Turki merupakan komunitas terbesar di Jepang. Jepang pasca perang merupakan sebuah negara yang terkenal dengan simpatinya yang besar terhadap orang-orang Muslim yang berasal dari Asia Tengah, menganggap mereka sebagai sekutu Uni Soviet. Pada saat itu terdapat beberapa orang Jepang yang bekerja sebagai mata-mata yang mengadakan interaksi langsung dengan komunitas Muslim ini. Beberapa diantaranya terbuka matanya tentang Islam dan kemudian memeluk Islam setelah perang berakhir. Ada juga yang pergi ke Asia Tenggara seperti Malaysia sebagai tentara selama Perang Dunia II berlangsung. Ketika menembaki wilayah Malaysia dari udara, sang pilot Jepang ini menginstruksikan anak buahnya untuk mengucapkan kalimat Tauhid “Laa Ilaha illallohu”. Dan ketika mereka ditembak jatuh oleh tentara musuh di wilayah Malaysia, mereka melontarkan kalimat Tauhid agar diberi perlakuan yang baik oleh penduduk setempat. Dan memang mereka diberi perlakuan yang layak. Para tentara Jepang yang menetap di Malaysia ini akhirnya tetap menjaga kalimat Tauhid itu sampai sekarang. Mereka disebut Muslim generasi tua. Mereka menjadi sebuah kelompok minoritas Muslim Jepang pasca perang, dan hidup bersama-sama dengan komunitas-komunitas Muslim yang berasal dari negara lain, yang pada saat itu baru terbentuk. Secara umum, orang-orang Jepang pada saat itu mempunyai prasangka negative (prejudice) yang kuat terhadap Islam dan pengetahuan serta pemahaman mereka mengenai komunitas internasional amatlah terbatas. Sebagai contoh, dalam sebuah artikel yang dimuat di sebuah majalah tahun 1958, lima pilar Islam (rukun Islam) digambarkan dengan membuat judul “The Strange Customs of Mohammedans (Adat-Istiadat Muhammad yang Aneh)”

Orang-orang Jepang memiliki sebuah stereotip terhadap citra Islam sebagai sebuah agama aneh yang berasal dari negara-negara berkembang. Bahkan pada saat sekarang pun, meskipun telah dilakukan perbaikan, citra semcam ini belum bisa dihapus sepenuhnya. Beberapa tahun yang lalu, seorang penulis terkenal yang concern dalam bidang social mengatakan pada salah satu program acara TV bahwa Islam merupakan sebuah agama yang pengikutnya menyembah matahari.

Invasi Jepang terhadap China dan negara-negara Asia Tenggara selama Perang Dunia II menyebabkan orang-orang Jepang dapat berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Orang-orang Jepang yang memeluk Islam karena interaksinya dengan orang-orang Muslim di negara-negara yang mereka invasi menjadi komunitas yang mapan pada tahun 1953 dengan terbentuknya organisasi Muslim Jepang yang pertama kali yakni Japan Muslim Association di bawah kepemimpinan almarhum Sadiq Imaizumi. Anggota-anggotanya yang pada saat pengukuhan berjumlah 65 orang bertambah menjadi dua kali lipat sebelum Sadiq Imaizumi meninggal. Presiden Japan Muslim Association adalah almarhum Umar Mita, seorang pemimpin yang penuh dedikasi. Mita merupakan tipikal Muslim generasi tua, yang belajar Islam dalam wilayah yang berada di bawah kekuasaan Jepang (wilayah invasi). Dia pada saat itu bekerja di perusahaan Perkeretapian Manshu, yang sebenarnya turut mengontrol wilayah yang diinvasi oleh Jepang yang berada di sebuah propinsi yang terletak di timur laut China. Melalui interaksinya dengan Muslim China, dia akhirnya yakin soal kebenaran Islam dan akhirnya memeluk Islam. Ketika dia kembali ke Jepang setelah perang berakhir, dia menunaikan ibadah Haji. Untuk pertama kalinya, Mita menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jepang agar sesuai dengan perspektif Muslim. Jadi hanya setelah Perang Dunia II-lah bisa dikatakan bahwa sebuah komunitas Muslim Jepang yang sejati telah benar-benar terbentuk. Terlepas dari sukses awalnya, untuk selanjutnya perkembangan Japan Muslim Association mengalami kesulitan merekrut anggota.

Walaupun banyak organisasi Islam yang didirikan sejak tahun 1900-an, masing-masing hanya memiliki sedikit anggota yang aktif. Tidak ada estimasi yang dapat dipercaya (ekurat) tentang populasi Muslim Jepang. Data yang menyatakan bahwa jumlah total Muslim Jepang adalah 30.000 orang terlalu dilebih-lebihkan. Beberapa orang menyatakan bahwa jumlah total populasi Muslim Jepang sebanyak hanya ada beberapa ratus orang. Mungkin ini merupakan jumlah Muslim Jepang yang benar-benar mempraktekkan Islam. Ketika diminta untuk memberikan estimasi mengenai jumlah Muslim Jepang yang sebenarnya, Abu Bakar Marimoto mengatakan bahwa total jumlah mereka seluruhnya seribu orang, jika kita tidak melakukan pengecualian terhadap mereka yang masuk Islam karena pernikahan dan mereka yang tidak mempraktekkan Islam dengan sungguh-sungguh, mungkin jumlahnya mencapai beberapa ribu orang.

Rupanya perkembangan yang tergolong lambat ini merupakan akibat dari lingkungan eksternal. Atmosfer agama tradisional Jepang dan kecenderungan pembangunan negara Jepang yang terlalu materialistic juga perlu dijadikan bahan pertimbangan mengapa perkembangan Islam di Jepang lambat. Terdapat perbeadan orientasi antara generasi Muslim Jepang yang lama dengan yang baru.

Bagi generasi Muslim Jepang yang lama, Islam disamakan dengan agama yang ada di Malaysia, Indonesia atau China dan yang lainnya. Namun bagi generasi Muslim Jepang yang baru, negara-negara Asia Tenggara dan Timur ini tidak terlalu menarik, karena orientasi mereka adalah Barat, dan mereka lebih dipengaruhi oleh Islam seperti yang ada di negara-negara Arab. Muslim Jepang generasi lama sudah pernah hidup berdampingan dengan Muslim non-Jepang dan hal ini merupakan sebuah contoh yang bagus akan adanya semangat persaudaraan. Namun di sisi lain kita tidak bisa menafikan adanya efek samping dari ini semua, yakni islam menjadi sesuatu yang asing bagi orang Jepang pada umumnya. Bagaimana bisa menaklukkan dinding penghalang ini merupakan sebuah persoalan yang harus dipecahkan. Hal ini merupakan tantangan yang harus dijawab oleh Muslim Jepang generasi baru. Ketika berkunjung ke negara-negara Muslim, pertanyaan yang selalu diajukan oleh audien adalah “Berapa persen orang Jepang yang Muslim dari seluruh total populasi?”.

Sejarah perkembangan Islam di Jepang menunjukkan bahwa terdapat gelombang orang-orang yang memeluk Islam. Faktanya, kampanye-kampanye religius yang sudah banyak dilakukan tidak terlalu banyak menuai sukses dalam menyebarkan “agama baru” ini. Data statistic mengindikasikan bahwa 80 % dari total populasi percaya pada Buddhism atau Shintoism dimana 0,7 % adalah penganut Nasrani. Hasil terakhir yang diperoleh berdasarkan polling yang dilakukan oleh majalah bulanan Jepang menyatakan bahwa terdapat sebuah gelombang protes yang penting seputar keberadaan agama. Hanya satu dari empat orang Jepang percaya akan dogma-dogma agama. Kurangnya kepercayaan terhadap dogma-dogma agama umumnya terjadi pada kaum muda Jepang umur 20 tahun dengan angka mencapai 85 %. Para pelaku dakwah yang direpresentasikan oleh komunitas Muslim di Jepang dengan estimasi jumlah mereka sebanyak 100 ribu orang sendiri dirasa amat kecil jika dibandingkan dengan total populasi penduduk Jepang yang mencapai lebih dari 20 juta orang. Para pelajar dan mahasiswa bersama dengan para pekerja yang berada dalam situasi genting melakukan perluasan segmen komunitas mereka. Mereka terkonsentrasi di kota-kota besar seperi Hiroshima, Kyoto, Nagoya, Osaka dan Tokyo namun jarang yang terorganisir secara rapi dalam unit-unit yang mapan untuk melakukan program-program dakwah yang efektif. Faktanya, asosiasi para pelajar Muslim serta masyarakat local mengorganisir camp-camp secara periodic serta melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pemahaman bagaimana mengajarkan Isam secara benar dan tepat serta untuk memperkuat hubungan persaudaraan diantara sesama Muslim.

Tidak ada kelanjutan dari upaya-upaya untuk bertahan dengan situasi yang menuntut penyesuaian-penyesuaian bagaimana di satu sisi harus menjalani gaya hidup yang modern dan di sisi lain harus menyeru orang pada perbaikan jiwa agar tercipta keseimbangan hidup. Kesulitan-kesulitan yang kemudian dihadapi oleh orang-orang Muslim adalah dalam hal pengadaan fasilitas komunikasi, perumahan, pendidikan anak, atau makanan halal serta buku-buku Islam yang pada saat itu, tahun 1980-an masih sangat sulit. Dan hal ini merupakan factor-faktor tambahan yang menjadi penghalang bagi jalannya dakwah di Jepang. Kewajiban untuk berdakwah seringkali dirasakan sebagai kewajiban seorang Muslim untuk mengajarkan Islam kepada non-Muslim. Dan banyak Muslim yang merasa bahwa kegiatan mereformasi (islaah) serta memperbaharui (tajdid) itu amat diperlukan, sehingga otomatis hal tersebut juga mempengaruhi bentuk-bentuk dakwah yang dilakukan oleh komunitas-komunitas Muslim yang eksis di Jepang.

Sebuah kondisi yang menuju perbaikan serta kemajuan dalam hal pengetahuan Islam serta kehidupan (living condition) demi keberhasilan dakwah amat diperlukan di Jepang. Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa jika tindakan pengabaian serta ketidakpedulian oleh warga negara Jepang yang Muslim terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan jamaah dirubah, maka resiko yang harus ditanggung komunitas akan bisa diatasi dan dicairkan melalui distorsi keyakinan Islam yang amat hebat, yang terus tumbuh. Kemungkinan tersebut pada kenyataannya bersentuhan dengan keterbukaan permanent orang-orang muslim terhadap pengaruh adat-istiadat Jepang dan ritual-ritual tradisional seperti menundukkan kepala amat dalam serta berpartisipasi secara kolektif dalam acara-acara yang bersifat religiuis dan berkunjung ke kuil. Mungkin permasalahan yang muncul adalah ketika keterlibatan pada anak Muslim dalam perayaan-perayaan semacam itu akan menjadikan mereka target empuk transmisi dan penanaman budaya non-Islam dan kebiasaan soaial. Komunitas Islam di Jepang amat membutuhkan kehadiran lembaga-lembaga Islam di seluruh Jepang.

Terdapat upaya-upaya permanent untuk membangun atau merubah unit-unit pemukiman menjadi masjid-masjid di banyak kota dan dengan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa, juga ingin membangun perusahaan-perusahaan yang diharapkan akan menghasilkan buah-buahan. Terdapatnya miskonsepsi dalam pengajaran Islam diperkenalkan oleh media Barat hharus diluruskan dengan sebuah pendekatan yang lebih efisien yang diambil dengan penuh pertimbangan terhadap adanya keistimewaan masyarakat jepang yang merupakan salah satu masyarakat yang paling terpelajar di dunia. Karena adanya distribusi yang tidak merata, maka terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jepang tidak tersedia di ruang public. Literatur Islam benar-benar sulit ditemui di toko buku atau perpustakaan umum kecuali beberapa essay yang ditulis dalam bahasa Inggris serta buku-buku yang dijual dengan harga yang relative mahal. Akibatnya, tidak heran jika kita hanya menemukan bahwa pengetahuan orang-orang Jepang mengenai Islam hanya terbatas seputar poligami, Sunni dan Syiah, Ramadhan, Mekah, Allah adalah Tuhan-nya orang Islam, dan Islam adalah agamanya Muhammad. Akankah Islam bergaung lebih keras di Jepang? Dengan terdapatnya bukti-bukti yang signifikan mengenai terdapatnya tanggung jawab untuk berdakwah serta penilaian yang rasional terhadap adanya keterbatasan dan kapabilitasnya, komunitas Muslim menunjukkan komitmen yang lebih kuat untuk melaksanakan kewajiban dakwahnya dengan cara-cara yang lebih terorganisir. Di masa yang akan datang diharapkan masa depan Islam dan para pemeluknya akan lebih baik daripada sebelumnya, tentunya dengan mengharapkan pertolongan Allah.

Prediksi serta harapan Nur Ad-Din Mori yang dia gulirkan pada tahun 1980-an ternyata menjadi kenyataan. Sekarang, setelah dunia memasuki abad ke-21 dan seiring dengan pembangunan negaranya, masyarakat Jepang menjadi semakin menginternasional. Menjadi bangsa yang terbuka bagi dunia, Jepang giat memberikan bantuan, termasuk beasiswa bagi para pelajar berprestasi dari berbagai negara termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Indonesia sehingga tidaklah mengherankan jika mayoritas populasi Muslim di Jepang adalah orang asing dan yang paling banyak adalah orang Indonesia, selain India dan Pakistan. Jumlah populasi Muslim Indonesia di Jepang sendiri mencapai 20.000 (dua puluh ribu) orang.

Populasi Muslim Indonesia di Jepang ini giat melakukan kegiatan-kegiatan keislaman yang berada di bawah payung berbagai macam organisasi dan lembaga, mulai dari yang bersifat social semacam PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang), FLP (Forum Lingkar Pena) Jepang, sampai yang bersifat politis seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Jepang dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Jepang. Biasanya orang-orang yang berafiliasi dalam organisasi serta lembaga tersebut mengadakan kegiatan dalam bentuk camp-camp yang merupakan salah satu tradisi di sana. Tidak hanya orang Indonesia saja yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mereka selenggarakan, ternyata orang-orang Jepang pun tertarik mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Setelah terjadi peristiwa teror 11 September 2001 (di New York), masyarakat Jepang juga memberikan perhatian yang sangat besar terhadap Islam. Selain organisasi dan lembaga yang dikelola Muslim asing, Muslim Jepang juga memiliki organisasi dan lembaga keislaman yang mereka kelola sendiri, seperti Japan Association of Middle East Studies (JAMES). JAMES ini aktif menyelenggarakan kajian-kajian (dalam bentuk seminar maupun diskusi) seputar Islam. Dan dari hasil pengkajian Islam yang intensif dilakukan di kampus-kampus terkenal di Jepang itu lahirlah sarjana-sarjana Islam Jepang sekaliber Prof. Sachiko Murata, pengarang buku The Tao of Islam yang terkenal itu. Prof. Sachiko Murata sendiri akhirnya memeluk Islam setelah belajar Islam di Fakultas Teologi University of Tokyo.

Japan Muslim Association yang sudah berdiri sejak 1953 sendiri sekarang ini sangat giat melakukan penerjemahan dan menerbitkan kitab suci Al-Quran, Hadits Nabi, serta buku tentang cara sholat. Hal ini merupakan sebuah kemajuan yang cukup signifikan mengingat beberapa tahun yang lalu untuk merekrut anggota saja masih sulit dilakukan oleh organisasi pertama yang menjadi afiliasi utama Muslim Jepang ini.

Selain itu juga ada Hokkaido Islamic Society (H.I.S.) yang tujuan pendiriannya adalah untuk meayani kebutuhan orang-orang Muslim, terutama Muslim asing yang tinggal di Hokkaido, jumlahnya kira-kira 150 orang. H.I.S. merupakan sebuah organisasi non-politis yang concern ke penerapan ajaran-ajaran Islam (hokum Islam) dengan tetap menghormati hokum yang diterapkan Jepang. Dengan kata lain, komunitas ini mencoba untuk menjawab tantangan zaman menggunakan Islam sebagai rujukan (Islam Worldwide). H.I.S. didirikan tahun 1992 oleh orang-orang Muslim yang menetap di Hokkaido.

Meskipun begitu, orang asli Jepang yang memeluk Islam masih sangat sedikit, yakni sekitar 70.000 (tujuh puluh ribu) orang saja dari total populasi penduduk Jepang yang mencapai 120.000.000 (seratus dua puluh juta) orang. Seorang Guru Besar Fakultas Teologi Universitas Doshisha, Hassan Ko Nakata, yang memeluk Islam setelah mempelajari Islam di Fakultas Agama Islam University of Tokyo selama 3 tahun, yang pada 9 Maret 2005 lalu berceramah di Pesantren Cigadog, mengatakan bahwa perkembangan Islam di Jepang juga banyak dipengaruhi oleh banyaknya wanita-wanita Jepang yang menjadi Muslim karena menikah dengan pria Muslim asing. Pemeluk Islam di Jepang adalah bukan sejak lahir, namun setelah dewasa barulah menjadi pengikut Islam atas kemauan sendiri. Namun sekali lagi, jumlahnya masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan total populasi penduduk Jepang.

Saya yakin bahwa ini adalah kesempatan yang paling baik untuk menyiarkan agama Islam di kalangan Bangsa Jepang. Sebab ketidaktahuan yang menjalar di belakang benda duniawi telah menyebabkan bangsa yang menyebut dirinya maju itu menjadi mangsa atau korban kekosongan jiwa. Dan Islam adalah satu-satunya agama yang sanggup mengisi kekosongan jiwa mereka. Kalaulah langkah-langkah teratur dilakukan untuk dakwah Islam di Jepang sekarang, maka tidak akan lebih dari dua atau tiga turunan, seluruh bangsa ini telah memeluk Islam. Saya menegaskan bahwa usaha serupa akan merupakan pertolongan yang besar buat Islam di Timur Jauh, sekaligus merupakan nikmat terbesar bagi kemanusiaan di bagian dunia ini.

Sumber majalah Al-Mu’tashim

Fakta tentang Perang Salib


Dalam Sejarah Perang Salib yang di kutip dari buku “The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam” karya Karen Amstrong, dan Buku The Preaching of Islam karya T.W. Arnold terungkap fakta fakta sebagai berikut

1. Richard the Lion heart, yang terkenal sebagai Raja Inggris, dan lucunya beliau tidak bisa bahasa inggris. Karena sejak kecil dia selalu berada di Prancis. Dia cuma numpang lahir di Inggris. Bahkan konon, beliau lebih mahir bahasa Arab daripada bahasa Inggris.

2. Raja Richard berada di Inggris dalam masa pemerintahannya hanya selama 11 bulan. Permaisurinya, Queen Berengaria of Navarre, malah tidak pernah ke Inggris sama sekali. Oleh karena itu Richard juga dikenal sebagai ” The Absent King

3. Saking tidak percayanya dengan motivasi rekannya sesama ekspedisi perang salib, Raja Richard pernah mengatakan : “Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi “

4. Pada suatu peristiwa di pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri Tentara Salib merasakan kelelahan, Richard sendiri memimpin pasukan tombak melawan kaum muslim. Saladin nyaris berada di sisinya dengan penuh kekaguman. Saat dia melihat kuda Richard terjatuh di bawahnya, seketika Sultan mengirimkan tukang kudanya ke medan pertempuran dengan dua ekor kuda yang masih segar untuk Raja Inggris yang berani itu.

5. Ada juga cerita mengenai Richard yang memasuki Yerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Saladin : mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Saladin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi kadang-kadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurutnya Richard, Saladin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran

6. Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaiknya untuk mengobati Richard. Kapan lagi kita bisa mendapatkan pemimpin kaum muslim yang memiliki akhlak seperti Salahuddin?

7. Orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.

8. Menurut catatan sejarah, pada saat perang salib, semua wanita dan pelacur di usir keluar dari kamp crusaders. Seluruh crusaders harus suci secara jasmaniah, bebas dari nafsu. Tapi ada satu grup wanita yg bebas keluar masuk camp crusaders yaitu tukang cuci baju. Bahkan kalau satu grup tukang cuci mau bepergian antar kota, mereka dijaga oleh sepasukan knight, dan dibuntuti pasukan infantri. Kalau iring-iringan ini diserang, keselamatan para tukang cuci ini no.1. Waktu ditawan pasukan muslim, para tukang cuci ini lebih dihormati daripada prajurit biasa. Sampai-sampai Richard The Lion Heart juga rela membayar ransum buat para tukang cuci itu

9. Ketika Frederick Barbarossa (kakek kaisar Frederik II) meninggal pada ekspedisi perang salib III, banyak ksatrianya yang menganggap bahwa ini adalah kehendak Tuhan dan banyak yang bergabung dengan kaum muslim. Lalu yang tersisa membawa jasad Barbarossa menuju ke yerusalem dengan anggapan nanti Barbarosa akan terlahir kembali.

10. Frederick II Kaisar Jerman, punya hubungan khusus dengan Sultan Malik dari Mesir di perang salib V. Beliau merasa di jaman itu (jaman dark ages), satu-satunya yang sebanding dengan dia di masalah budaya dan personality adalah pangeran-pangeran dari kerajaan muslim. Oleh karena itu gaya hidupnya agak nyentrik (dia berpoligami, padahal seorang Katolik tidak demikian).

11. Waktu terpaksa harus berpartisipasi dalam perang salib, Frederick II berhasil merebut Jerusalem, Betlehem dan Nazareth tanpa meneteskan setitik darahpun. Walaupun sebenernya dia cuma menyewa ke 3 kota tersebut dari sahabatnya si sultan Malik dari Mesir

12. Pernah ada kejadian Frederick II memukul pendeta yang masuk ke dalam masjid dan memperingatkan agar jangan melakukan hal itu lagi. Sedangkan al-Malik pernah dinasehati oleh Knight Templar agar membunuh Frederick II pada saat pengawalannya sedang longgar. Mengetahui hal tersebut, al-Malik segera menyuruh Frederick II agar segera pergi dari situ karena keadaannya ‘berbahaya’.

13. Kekalahan pihak Eropa umumnya akibat dari insubordinasi alias kurang kuatnya komando tunggal dalam kesatuan tentara yang terdiri dari elemen-elemen berbeda dari para baron dan ordo militer yang sebenarnya saling tidak suka satu sama lainnya. Selain itu dalam beberapa kekalahan, para tentara bayaran ( mercenary ) dan sukarelawan Eropa seringkali terlalu cepat meninggalkan barisannya untuk menjarah kota-kota Islam yang hampir ditaklukannya. Hal itu membuat pasukan Islam yg sebenarnya sudah terpojok bisa melakukan counter-attack

14. Pasukan turki khwaraziman yang menyerang jerusalem tahun 1244 waktu itu dikontrol oleh keturunan genghis khan, Eljigidei. Yang lucu dari pasukan ini adalah pasukannya mayoritas beragama Buddha bahkan komandan Hulegu khan juga seorang Buddhis.

15. Sebenarnya pengiriman para Crusader salah alamat, kaum Turki Seljuk yang banyak mengganggu ziarah kaum kristiani ke Yerusalem sudah diusir oleh khalifah Mesir. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.

16. Divisi elit pasukan berkuda Cossack di Rusia dan Musketer berkuda di Prancis karena terinspirasi suksesnya pasukan berkuda pemanah bangsa Arab. Pasukan berkuda bukan hanya sebagai pasukan sayab tapi menjadi pasukan khusus

17. Membangun sepasukan knights memakan biaya yang sangat besar. Seorang raja sekalipun di abad pertengahan paling hanya memiliki sekitar 100 – 300 Full Knight dengan Heavy Horse yang berdinas dibawah komandonya secara full – time. Biasanya para raja akan mengumpulkan seluruh Knight yang berada di bawah para duke dan baronnya apabila menghadapi pertempuran besar.

18. Para Knights umumnya adalah anak para ningrat yang tidak memiliki hak waris. Di masa itu seperti juga para bangsawan dimana saja, kekayaan dan kekuasaan sang ayah hanya diwarisi oleh putra sulungnya, kecuali tingkat raja atau baron kaya dimana putra ke dua hingga ke 3 masih mungkin mewarisi satu county atau estate dengan kastil kecil. Putra-putra yang tidak atau merasa kurang memiliki kekayaan biasanya sejak remaja mengasah diri dengan ketrampilan perang. Mereka kemudian pada usia tertentu (15-16 tahun ) di inagurasi menjadi knight oleh raja atau baron tempat dia mengabdi.

19. Ada sebuah aturan yang tidak pernah dilanggar oleh kedua belah pihak sewaktu perang salib. Yaitu Fakta Nobility atau Hukum Chivalry yang berlaku di abad pertengahan bahwa raja tidak boleh membunuh sesama raja. Khususnya apabila tertawan. Salah satu kode etik knights dan para noble adalah mereka pantang membunuh keluarga atau orang2 dari keturunan ningrat yang menyerah/tertawan dalam pertempuran. Akan tetapi khusus buat religius-military Order spt Templar, Hospitaller dan Teutonic dalam perang Salib, peraturan itu tidak berlaku terhadap para noble/ningrat Muslim. Kecuali dalam kondisi khusus atau mendapat spesial order dari pemimpin Crusader yang mendapat mandat langsung dari Paus. Dalam tradisi Arab sendiri, seorang raja pantang membunuh sesama raja. Hal itu yang diterapkan Saladin ketika dia tidak membunuh Guy of Lusignan, raja kerajaan Latin di Yerusalem ketika berhasil memenangkan pertempuran Hattin

20. Saladin pernah melanggar etika dan hukum perang Islam yg selalu dia junjung tinggi ketika dia mengeksekusi semua tawanan Ksatria Templar dan Hospitaller ketika dia memenangkan pertempuran Hattin. Sementara Richard The Lion Heart juga pernah melanggar kode etik Chivalry serta etika Noble-nya saat dia mengeksekusi 2000 serdadu Saladin yang tertawan di depan gerbang Acre/Akko

Sejarah Islam di Hawaii


Tidak sampai tiga minggu setelah tragedi runtuhnya menara kembar WTC akibat serangan teroris 11 September 2001, Heather Ramaha hadir di Masjid Manoa, Honolulu, Hawaii. Ia tidak sendiri. Beberapa wanita menyertainya. ”Asyhadu ala Ilaha ilallah, wa asyhadui anna muhammadarasulullah,” kalimat syahadat itu meluncur lancar dari mulut mereka. Sejak hari itu, Ramaha menjadi pemeluk Islam. Tak mau setengah-setengah, ia langsung mengenakan jilbab.

Pencarian Ramaha akan agama sudah berlangsung lama. Wanita asal California ini berasal dari keluarga Kristen yang kurang taat. Ia sempat mempelajari beberapa agama sebelum akhirnya menemukan Islam.

Ketertarikannya pada Islam pun terjadi secara tak disengaja. Saat itu ia menonton film di televisi berjudul Not Without My Daughter yang menceritakan tentang perempuan Amerika yang menjadi korban kekerasan suaminya, seorang lelaki Iran. Ia berjuang mendapatkan hak asuh ketiga anaknya.

Ia mulai mendatangi Islamic Center di kotanya sejak itu. Beberapa bulan setelah ia menimba ilmu di University of Hawaii, ia beranikan diri berpamitan pada keluarganya untuk menganut Islam. ”Banyak ketidakjelasan dalam agama lama saya. Islam sangat terbuka pada banyak ide,” ujarnya.

Kini, empat tahun setelah tragedi itu, gelombang pindah agama masih terjadi di salah satu tujuan wisata dunia itu. Bahkan, sebuah media lokal, menyebut, berislam kini sedang menjadi tren baru di kalangan mahasiswa dan masyarakat Hawaii. Hakim Ouansafi, presiden Muslim Association of Hawaii, menyatakan, mualaf di Hawai bertambah paling sedikit tiga orang perbulan. Bahkan dalam dua bulan terakhir ini, sebanyak 23 orang non-Muslim menyatakan diri berislam.

Kebanyakan mualaf, kata dia, adalah perempuan. Jika rasio nasional antara mualaf pria dengan wanita adalah 1 : 4, maka rasio mualaf pria-wanita di Hawaii adalah 1 : 2. Kebanyakan dari mereka, terutama yang di Honolulu, adalah keturunan Afrika-Amerika. ”Beberapa di antaranya menemukan Allah saat mereka dalam proses penyembuhan dari ketergantungan terhadap obat-obatan dan alkohol,” ujarnya.

Di wilayah West Coast lain lagi. Beberapa orang mualaf adalah anggota militer. Bila di Honolulu para mualaf itu sebelumnya mengaku tak beragama, maka di wilayah West Coast, umumnya mereka sebelum berislam adalah penganut suatu agama.

Ouansafi yang sebelumnya beragama Kristen ini menyatakan, para mualaf tertarik mempelajari Islam setelah mereka melihat ajaran Islam yang jauh dari apa yang diberitakan media. ”Bila di media disebut Muslim dekat dengan teroris, setelah kenal lebih dekat, Islam jauh dari semua tudingan itu,” ujarnya seraya menambahkan, di semua agama ada umatnya yang jahat, namun bukan berarti agama itu jahat.

Cromwell Crawford, pimpinan Departemen Agama di University of Hawaii-Manoa, mempunyai penjelasan mengenai tren pindah agama di Hawaii ini. Menurut dia, efek dari Tragedi 11 September terhadap psikologis bangsa adalah, seluruh warga jadi memperhatikan tentang kefanaan hidup ini. ”Mood pun jadi berubah, para lajang mencari ikatan, keluarga menjadi semakin erat, dan orang kembali mencari pegangan agama,” ujarnya.

Tak hanya Islam yang diuntungkan dengan kondisi ini, kata dia, agama lain juga. ”Mereka yang semula tak beragama, kini mencari pegangan agama.” Mengapa kebanyakan wanita? ”Dalam mengekspresikan mood ini, wanita lebih mendalam ketimbang pria,” ujarnya, ”Pergilah Anda ke gereja, dan Andapun akan banyak menjumpai kaum wanita di sana ketimbang pria.”

Senada dengan Crawford, Ouansafi juga menolak fenomena itu disebut sebagai pindah agama. ”Mereka hanya kembali ke fitrahnya,” kata dia. Menurut dia, seorang mualaf akan diampuni segala dosanya di masa lampau dan akan kembali terlahir seperti bayi.

Seremoni pegngislaman juga jauh dari kesan pemaksaan. Sebelumnya, calon mualaf diwawancarai mengenai pengetahuan mereka tentang Islam, dan pertanyaan “wajib”: apakah mereka berislam dengan sukarela atau paksaan? Mereka lantas dipahamkan mengenai Yesus dalam Islam: bukan tuhan, melainkan salah seorang nabi Allah di samping Ibrahim/Abraham, Musa/Moses, Muhammad, dan lainnya.

Empat tahun setelah berislam, Ramaha kini menjadi karyawati sipil di Angkatan Laut AS di pangkalan Pearl Harbor sebagai perawat gigi. Aturan kantor yang melarangnya berjilbab ditepatinya, namun di luar kantor, ia tetap sebagai Muslimah berjilbab. Suaminya, seorang tentara angkatan laut, adalah seorang Muslim. n tri/Honolulu Star Bulletin
Berkat Kiprah Mahasiswa Asal Asia

Sebagai daerah tujuan wisata dan perdagangan, Hawaii menjadi pusat pertemuan aneka kebudayaan dan agama. Islam sudah lebih seabad hadir di sana. Tetapi, organisasi Muslim baru ada di wilayah ini sejak akhir tahun 1960-an. Cikal bakalnya digagas oleh para mahasiswa asal Asia yang tengah menimba ilmu di negara itu.

Imam dan pimpinan spiritual Muslim Hawaii pertama adalah pria kelahiran Cina, pensiunan diplomat karir yang sebelumnya bertugas di Arab Saudi dan Kuwait. Dia adalah Haji Saad Abdul Rahim Shih Ming Wang.

Lulusan Universitas Al Azhar Kairo ini menjadi imam pertama di Hawaii. Saat itu, belum ada satu masjidpun yang berdiri di wilayah ini.

Baru tahun 1979, Masjid Manoa diresmikan penggunaannya. Masjid itu asalnya adalah sebuah bangunan megah yang dibeli atas donasi keluarga kerajaan Arab senilai 500 ribu dolar AS. Karenanya, tak ada aksen Islam yang tercermin dari bangunan itu.

Sejarah Islam di Hawaii dikumpulkan lagi oleh Mona Darwich, dosen senior di University of Hawaii, dalam tesisnya yang berjudul Inside and Outside the Mosque: Oral Histories of Hawaii’s Muslims. Dia menuliskan tesisnya setelah mengumpulkan banyak bahan pustaka dan mewawancarai 33 orang nara sumber. Ia juga mendokumentasikan puluhan pemuda yang tengah belajar Islam dan memfilmkan kisah Achmed Djuneid, seorang remaja Muslim di Hawaii.

Wawancara juga dilakukannya melalui email para mahasiswa yang dulu mendirikan organisasi Muslim Hawaii sudah kembali ke negaranya masing-masing. Dua di antaranya adalah Dr Makhdoom Shah, asal Kuwait dan Dr Pramudita Anggraita, asal Indonesia, yang kini menjabat sebagai Deputi Bidang Penelitian Dasar dan terapan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).

Menurut catatan Darwich, Muslim Association of Hawaii (MAH) sebelumnya bernama The Muslim Student Association (MSA) digagas sekitar 30 tahun lalu. MSA didirikan oleh para mahasiswa Muslim University of Hawaii di Manoa. Mereka berasal dari India, Pakistan, Afghanistan, Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah.

Aktivitas mereka dipusatkan di sebuah cottage di East West Center, sebelum Masjid Manoa terbeli.

Pada tanggal 23 Juli 1979, MSA dikukuhkan sebagai organisasi yang merepresentasikan kaum Muslim

Hawaii. Pada saat itu, anggota MSA bukan lagi hanya mahasiswa saja, tetapi 90 persennya justru masyarakat Hawaii. ”Nama student tetap dipakai karena Muslim meyakini selama mereka hidup mereka terus “belajar” untuk menjadi Muslim yang baik,” Makhdoom Shah, seperti diceritakan Darwich.

Pendiri awal organisasi ini antara lain adalah Najibullah Lafraie, James Abdullah Raushy, Saad Abdul Rahim Shih Min Wang, Abdul Haq, Makhdoom Shah, dan Pramudita Anggraita. Mereka lantas berjuang mengumpulkan sumbangan untuk mendirikan Islamic Center Hawaii. Star Bulletin menulis, James Abdullah Roushey menemui Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal, putra Raja Arab Saudi saat itu, mengajukan proposal pembangunan pusat kebudayaan islam terpadu di Hawaii. Keluarga kerajaan Arab Saudi setuju.

Sejak saat itu, Muslim Hawaii memiliki masjid dan Islamic Center yang megah.

Melihat perkembangan Islam yang demikian pesat, para pengurus MSA sepakat untuk mengganti nama organisasinya menjadi The Muslim Association of Hawaii (MAH) pada tanggal 4 Februari 1997. Namun nama MSA sebagai cikal bakal perkembangan Islam di Hawaii tidak terhapus dari sejarah.

Sumber : http://the.honoluluadvertiser.com/article/2001/Nov/11/ln/ln06a.html

Sejarah Islam di Mexico


Suku Indian di Meksiko berbondong-bondong memeluk agama Islam. Pemerintah pun mulai ‘gerah’. Setelah lama menjadi basis penganut Katolik, wilayah selatan Meksiko secara cepat berubah bagai medan pencarian iman. Termasuk pula agama Islam, yang tercatat berhasil menanamkan pengaruhnya setelah ratusan kaum Indian Maya beralih menjadi Muslim. Dan pemerintah Meksiko pun dibuat khawatir terhadap merebaknya ‘benturan budaya’ di halaman belakang mereka sendiri.

“Dalam agama Islam, tidak mengenal perbedaan suku serta etnis,” ungkap seorang mualaf dari suku Maya kepada media Jerman, Der Spiegel, saat ditanya alasannya berpindah agama. Ia mengaku belajar banyak agama sebelum akhirnya memilih Islam sebagai agamanya.

Rasa antusiasmenya terhadap agama ini bisa dimengerti. Di kampung halamannya di Chiapas, wilayah paling miskin di Meksiko, suku tradisional kerap dipandang sebagai warga kelas dua. Orang kulit putih dan Mestizos pun selalu mengancam mereka. Bahkan, di kota San Cristobal de las Casas, kota terbesar di selatan, orang-orang asli Indian harus menyingkir ke jalan ketika ada orang kulit putih mendekati mereka di trotoar.

Namun kehidupan terus berjalan. Gomez, 23, misalnya, memeluk agama Islam sejak delapan tahun lalu. Dia sudah mengganti namanya menjadi Ibrahim dan berhaji. Menurut penuturannya, sekitar tujuh tahun lalu, memeluk islam bagi suku Indian di wilayah tersebut masih menjadi sesuatu yang anomali. Tetapi kini, Muslimah berjilbab sudah merupakan pemandangan biasa yang bisa ditemui di jalan-jalan kota San Cristobal.

Sekitar 300 Indian dari suku Tzozil, juga telah beralih memeluk Islam dalam beberapa tahun belakangan dan jumlahnya masih terus meningkat. Fakta tersebut jelas merisaukan pemerintah Meksiko. Akibatnya, pemerintah mencurigai para mualaf ini dengan tuduhan melakukan aktivitas subversif dan telah menyebar agen dinas rahasia untuk mengamati suku Maya-Muslim ini. Presiden Meksiko Vincente Fox mengaku khawatir terhadap pengaruh kaum fundementalis radikal Alkaidah di wilayah itu.

Kendati demikian, kaum Indian tidak mau terpengaruh dengan kekhawatiran dari pemerintah, mulai dari tuduhan menjadi kaum ekstrimis, mancampuri urusan politik, atau apa pun namanya. Hanya satu hal yang mereka ingin lakukan, yakni beribadah sebaik-baiknya.

Para mualaf itu kebanyakan menganut Islam Suni, khususnya faham Murabitun yang didirikan oleh Ian Dallas, seorang Skotlandia yang beralih ke Islam. Pengikut faham Murabitun melaksanakan ajaran Islam yang melarang mengambil bunga/keuntungan dari aktivitas peminjaman uang dan melakukan dakwah sesuai perintah Alquran.

“Mereka ingin memperbaiki kondisi berdasarkan kaidah Islam,” ucap seorang ahli antropolog, Gaspar Marquecho, peneliti umat Muslim di Chiapas. “Penolakan mereka terhadap kapitalisme tidak berbeda dengan kritik yang kerap dilontarkan oleh kaum sayap kiri terhadap dampak globalisasi.”

Siapa ‘misionaris’ Muslim di kalangan suku Indian Maya? Sebuah fakta menyebutkan, ketika suku Maya-Muslim di Chiapas belum lama mendapat perhatian besar, maka peralihan agama ke Muslim di kalangan suku Tzotzil sudah berlangsung cukup lama. Pada pertengahan tahun 1990-an, serombongan umat Muslim dari Spanyol berangkat menuju kawasan Amerika Latin untuk berdakwah. Mereka dipimpin oleh Aureliano Perez, atau dikenal juga sebagai Emir Nafia. Ia kini dianggap sebagai pimpinan spiritual oleh suku Maya.

Aureliano kemudian menawarkan kepada kaum Zapatista untuk berjuang bersama di bawah Komandan Marcos, sebagai sekutu ideologi-agama. Marcos enggan untuk menjalin pakta yang agak ‘aneh’ ini, akan tetapi, para pendakwah tadi menemukan hal lain; suku Tzotzil merangkup sebagian besar anggota Zapatista dan mereka ternyata cukup terbuka menerima dakwah-dakwah Islam.

Perebutan pengaruh spiritual di Chaipas bukanlah sesuatu yang baru. Pada abad ke-16, bangsa Spanyol memakai cara-cara kekerasan agar suku Indian memeluk Katolik. Pertengahan milenium ini, para pengkhotbah evangelis dari Amerika mengubah kawasan Amerika Latin sebagai ladang pencarian spiritual gereja. Di kota San Juan Chamula saja ada sebanyak 11 kelompok agama yang masing-masing mencari pengikut dari suku Indian.

Karena sudah ada sejak lama, maka Katolik masih menjadi yang terbesar hingga kini. Saat harus berhadapan dengan kian kuatnya kegiatan evangelis, mereka menjadi khawatir terhadap memudarnya pengaruh yang sudah mereka tanamkan.

Langkah pencegahan pun ditempuh. Sekitar 30 ribu Indian penganut Protestan kemudian diusir keluar dari kota San Juan Chamula dalam tiga dekade terakhir dan menjadi pengungsi. Kebanyakan mereka tinggal di luar kota San Cristobal. Terputus dari akar budaya dan agama, suku Indian ini kemudian berusaha mencari ketenangan jiwa.

“Dalam Islam, para Indian tadi menemukan nilai-nilai asli mereka,” kata Esteban Lopez, sekretaris jenderal komunitas Muslim Spanyol. “Kaum non-Muslim telah merusak budaya mereka.”

Dia menggambarkan penyebaran alkohol sebagai bukti. Minuman keras tersebut beredar luas di kalangan Indian Tzotzil. Namun larangan keras Islam terhadap minuman memabukkan sanggup mencegah suku Indian itu dari bahaya kecanduan miras dan lingkaran kemiskinan.

Kini di San Cristobal, suku India Maya-Muslim sudah dapat menjalankan aktivitas secara bebas. Ada yang membuka restoran piza dan menjadi tukang kayu. Banyak kalangan melihat mereka sebagai pekerja keras dan rendah hati.

Demikian juga kehidupan beragama dan pendidikan. Sebuah sekolah Alquran sudah dibuka. Di sana, para siswa belajar bahasa Arab dan shalat lima waktu, bertempat di ruang belakang gedung itu. Di sisi lain, jumlah penganut Muslim terus bertambah, dan ini antara lain dipicu oleh syiar Islam yang dilakukan dari sesama anggota keluarga.

Anastasio Gomes, misalnya, berhasil mengislamkan hampir seluruh anggota keluarganya. Dia begitu bahagia bisa mengislamkan kakeknya yang sudah berusia 100. “Dia sudah beralih dari satu agama ke agama lain selama hidupnya. Tapi sekarang, dia sudah menemukan kedamaian dalam naungan Allah SWT,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Sejarah Pada Sebuah Buku

Agama Islam sampai ke Meksiko melalui perantara imigran asal Timur Tengah. Adalah sebuah buku karya Pascual Almazan berjudul Un hereje y Un Musulman yang mengisahkan seorang Muslim bernama Yusof bin Alabaz, menjadi petunjuk tentang kedatangan Islam pertama kali ke negara ini.

Berdasarkan buku tersebut, Yusof hidup pada abad ke-16. Dia tinggal di Andalusia namun selamat dari serbuan balasan kaum Nasrani di sana. Yusof lantas melarikan diri ke Maroko.

Akan tetapi, di tengah perjalanan, dia ditawan oleh perompak yang kemudian membawanya ke Meksiko. Karena takut dijadikan budak, dia pun berusaha melepaskan diri dan berhasil. Setelah itu, beberapa tahun kemudian Yusof tinggal di sebuah kawasan bernama Veracruz dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat.

Dari situlah, agama Islam berkembang ke seluruh wilayah negeri. Terlebih ketika kian banyak berdatangan para imigran dari Timur Tengah. Begitulah sejarahnya. Tidak ada bukti konkret yang menyebutkan bahwa Islam telah ada di negara tersebut sebelum datangnya imigran Arab.

Saat ini di negara tersebut memang banyak terdapat imigran Timur Tengah. Mereka berasal dari Lebanon, Maroko, Mesir, dan Suriah. Namun, tidak diketahui berapa jumlah pemeluk Islam di antara mereka. Barulah ketika dosen dari Georgetown University, Theresa Velcamp, mengadakan penelitian tahun 1999, diketahui sedikit banyak tentang mereka.

Menurut dia, imigran asal Suriah dan Lebanon merupakan komunitas imigran terbesar dengan estimasi 200 ribu jiwa. Selain itu, umat Muslim kebanyakan tinggal di kota-kota besar seperti Mexico City, Monterey, Guadalajara, Ciudad Obregon, dan Chiapas.

Sumber Majalah der Spiegel

Sejarah Islam Di Suriname


Oleh: Dr. H. Shobahussurur, M.A.
Ketua Masjid Agung Al-Azhar Jakarta

Dunia Islam mendapat stigmatisasi negatif (citra buruk) di mata dunia internasional, terutama setelah kasus meledaknya gedung World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, 11 September 2001. Berbagai klaim dialamatkan kepada dunia Islam sebagai dunia gelap dan hitam. Kaum muslimin dicitrakan sebagai kaum teroris, radikalis, fundamentalis, dan puritanis, sebagaimana dulu kaum orientalis Barat sering menyebut orang-orang Islam sebagai pencinta perang, memaknai istilah jihad sebagai holly war (perang suci), menyebut mereka sebagai para penghunus pedang, haus darah, dan membenci kedamaian. Dengan alasan-alasan seperti itu tampaknya kemudian kenapa Irak dibumihanguskan, Afghanistan dihancurkan, dan Palestina hendak dimusnahkan (proses genosida). Umat Islam begitu buruk di mata Barat, hingga Barack Obama dalam pidato pertama saat dilantik sebagai presiden Amerika Serikat (AS), 20 Januari 2009 yang lalu penting menyebut tentang hubungan AS dengan kaum muslimin. Dia menyindir umat Islam dalam kesempatan itu bahwa orang-orang Islam dihargai (AS dan dunia internasional) karena apa yang mereka bangun, bukan apa yang mereka hancurkan.

Namun berbagai upaya menghancurkan Islam tidak lantas melenyapkan Islam di muka bumi. Cahaya Islam justru bersinar terang di tengah kebencian para musuhnya. Islam jusru diminati masyarakat Barat. Kehausan akan informasi tentang Islam melebihi kehausan mereka akan informasi-informasi tentang dunia intertainment (hiburan), olah raga, dan gaya hidup. Masyarakat Barat justru penasaran kenapa Islam dihujat, kenapa Islam dihinakan, kenapa kaum muslimin dianiaya dan dibantai. Hasilnya adalah semakin simpati masyarakat Barat terhadap Islam. Simpati itu menghasilkan empati, menjadi peduli, dan berujung pada cinta, hingga akhirnya menjadi ujung dari upaya pencarian hakekat keyakinan yang harus mereka peluk. Mereka masuk Islam. Di seluruh AS umpamanya diinformasikan bahwa dalam setiap hari tidak kurang dari 15 hingga 20 orang masuk Islam. Di Eropa tidak kurang dari 10 hingga 15 orang masuk Islam setiap hari. Dan begitu seterusnya cahaya Islam memancarkan sinarnya ke seluruh dunia, menerangi gelapnya malam, mencerahkan hati yang membatu menjadi hati yang lembut, merubah al-nafs al-lawwâmah (jiwa yang hina) menjadi al-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang terkendali), melawan dendam permusuhan, menaklukkan dengki dan kebencian, memunculkan damai, cinta dan kasih sayang.

Sekilas Suriname

Cahaya Islam itu juga bersinar terang di Amerika Selatan, tepatnya di Negara Republik Suriname, negara bekas jajahan Belanda yang merdeka pada 25 Nopember 1975. Suriname berpenduduk hanya 492.829 jiwa (sensus penduduk tahun 2004) dan mendiami lahan subur seluas 163.820 km2. Negara yang menjadi penghasil bouksit (bahan alumunium) terbesar di dunia itu dihuni oleh penduduk dengan multi ras dan kultur. Ras terbesar adalah suku Hindustan, 135,177 jiwa (27,4 % jumlah penduduk), disusul kemudian suku Creool, 87,202 jiwa (17,7 %), Marron, 72,553 jiwa (penduduk asli, 14,7 %), Jawa, 71,879 jiwa (14,6 %), dan suku-suku kecil lain seperti Inheems, 18,037 jiwa (3,7 %), Gemends, Kaukasish, China, dan lain-lain.

Negara Suriname berbatasan dengan Brazilia sebelah selatan, Guyana Perancis (timur), Guyana Inggris (barat), dan samudera Atlantik (utara). Negara itu dibagi ke dalam 8 distrik utama (semacam propinsi), yaitu: Paramaribo (ibu kota negara), Para, Coronie, Commewijne (konsentrasi utama masyarakat Jawa), Brokopondo, Samaracca, Marowijne (penghasil tambang utama, bauksit), dan Nickerie (pusat persawahan dan lumbung padi). Seperti Indonesia, Suriname memiliki iklim Tropis dengan musim hujan lebih panjang dari musim panas. Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Nopember hingga Juli, sedangkan musim panas terjadi pada bulan Juli hingga Nopember setiap tahun. Itulah, maka tanah Suriname sangat subur, hutan yang hijau dan berbagai tanaman tumbuh subur di sana. Berbagai tanaman yang tumbuh di Indonesia, tumbuh pula di sana.

Dalam sejarah panjangnya, wilayah ini ditemukan oleh seorang Spanyol, Kapten Alonso De Ujida, asisten pelayar terkenal Amrico Pespucci pada tahun 1499. Dia sampai di pantai timur laut Amerika Latin dan menemukan kelompok-kelompok suku Marron (Indian) menyebut wilayah itu dengan nama Guyana. Pada tahun 1593, pemerintah Spanyol menjajah wilayah tersebut sampai dengan kedatangan seorang Inggris F.L. Wiilaughby pada tahun 1651 untuk kemudian menjajahnya atas nama pemerintah Inggris. Pada tahun 1667 Belanda berhasil merebut wilayah itu dari tangan Inggris setelah sebelumnya terjadi pertempuran sengit. Kemudian pada tahun 1816, wilayah Guyana itu dibagi menjadi tiga, yaitu: Guyana Perancis (dibawah jajahan Perancis), Guyana Inggris (dibawah jajahan Inggris), dan Suriname (dibawah jajahan Belanda).

Belanda menjajah Suriname selama lebih kurang tiga setengah abad. Pada tahun 1950, Suriname diberikan hak otonomi, tahun 1954 menjadi negara bagian Belanda, dan pada 25 Nopember 1975 diberikan hak kemerdekaan.

Pada masa penjajahan Belanda, dimulai sejak abad 17, Suriname menjadi sumber penghasil devisa terbesar bagi negeri Kincir Angin itu, di samping dari Indonesia dan negara jajahannya yang lain. Maka di Suriname dibangun proyek perkebunan (plantation) secara besar-besaran. Dibangun di sana proyek perkebunan (plantation) tebu, kopi, kapas, jeruk, pisang, padi, kelapa, dan lain-lain. Untuk menggarap proyek besar itu, Belanda merekrut tenaga kontrak secara besar-besaran dari Afrika, India, dan Jawa (Indonesia). Mereka dipekerjakan secara paksa di perkebunan-perkebun an tersebut hingga akhirnya mereka menetap turun-temurun di sana karena tidak mungkin pulang kembali ke negeri asalnya. Bahkan untuk kasus orang-orang dari Afrika (Negro), mereka tidak saja menjadi tenaga kontrak, melainkan jauh sebelum itu diperlakukan sebagai budak (slavers) dari para kaum penjajah. Kaum Negro itu sampai mendapat julukan penghinaan sebagai kaum Jewcach (kotoran orang Yahudi), karena mereka diperbudak oleh kaum Yahudi (Barat) yang salah satu kerjaan mereka adalah membersihkan kotoran kaum Yahudi. Kaum Negro itu akhirnya terbagi menjadi dua, 1) suku Creool, yang masih setia di kota sebagai budak dengan tetap mengabdi kepada majikannya, dan 2) mereka yang melarikan diri ke hutan karena tidak sudi menjadi budak orang Yahudi, mereka itu kemudian dikenal dengan suku Bush Negro.

Kini mereka adalah keturunan ke tiga atau ke empat dari nenek moyang mereka yang dijadikan tenaga kontrak atau budak Belanda itu. Kini mereka tidak lagi menjadi tenaga kontrak atau budak seperti embah-embahnya dulu karena negara sudah merdeka. Mereka telah menghirup udara bebas di alam kemerdekaan. Secara ekonomi, kehidupan mereka relatif mapan. Jumlah penduduk sedikit dengan kekayaan alam yang begitu melimpah, nyaris tidak ditemukan fakir miskin. Tidak ada pengangguran asal mau kerja, kecuali mereka yang bermalas-malas. Disiplin kerja begitu tinggi dan setiap orang dihargai berdasarkan prestasinya. Tidak dikenal uang pelicin untuk melancarkan urusan di berbagai instansi. Urusan segera dikerjakan sepanjang waktu memungkinkan. Penghargaan terhadap waktu begitu tinggi. Apabila Anda terlambat beberapa menit saja, maka urusan Anda tidak dapat diproses. The time is money, kata mereka. Maka menunggu Anda diluar waktu adalah kerugian bagi mereka.

Latar belakang suku asal mereka masih sangat diperhitungkan dalam percaturan politik negara tersebut. Hal itu terlihat dalam kelompok-kelompok organisasi masyarakat dan politik yang masih sangat kental akan warna suku dan ras. Ada partai dari suku Hindustan, Creool, Jawa dan lain-lain. Dominasi suku-suku tersebut tidak jarang kemudian menimbulkan benturan-benturan antar suku-suku seperti yang terjadi pada tahun 1980, dimana tentara mengambil alih pemerintahan karena terjadi kekacauan antara suku. Meskipun demikian, kudeta itu tidak memperbaiki keadaan.

Bahasa resmi Suriname adalah bahasa Belanda. Di samping itu ada bahasa Suranan Tango (Taki-Taki, take-take), yaitu bahasa campur-campur, serapan dari berbagai bahasa di Afrika, Inggris, Belanda, Perancis dan lain-lain, hingga menjadi bahasa umum di masyarakat. Selain itu ada bahasa Hindustan Suriname yang dipakai oleh kalangan keturunan India, dan bahasa Jawa yang dipakai oleh kalangan masyarakat dari suku-suku di Indonesia, terutama Jawa.

Kentalnya latar belakang suku, mendatangkan problematika tersendiri bagi Suriname. Mereka dulu datang dari berbagai negara (Afrika, India, Jawa, Cina) tidak karena kemauannya sendiri melainkan dipaksa datang sebagai budak atau tenaga kontrak dengan latar belakang kultur yang berbeda. Kondisi tersebut masih sangat dominan pada masa kemerdekaan kini, dimana mereka sulit disatukan atas nama kebangsaan. Mereka sangat berpegang teguh pada sukuisme dan primordialisme.

Rendahnya sumber daya manusia (SDM) menjadi masalah besar. Mereka yang tadinya sebagai budak dan tenaga kontrak, setelah ditinggal Belanda harus mengurus negaranya sendiri. Yang terjadi adalah ketidakmampuan menggarap lahan luas yang dulu dijadikan perkebunan penghasil devisa utama. Tanah-tanah itu diserahkan pada elit-elit penguasa dan tuan tanah yang penangannya dilakukan sendiri-sendiri dengan hasil tidak sepenuhnya untuk kepentingan rakyat banyak. Di samping itu, kemerdekaan negara yang tidak dihasilkan melalui proses perjuangan mengusir penjajah, melainkan berkat hadiah yang diberikan sang penjajah, menyebabkan tidak semua puas dengan suasana kemerdekaan seperti sekarang. Bahkan sebagian berontak ingin melepaskan diri (seperti yang pernah terjadi pada distrik Morowijne) atau merasa bahwa pada masa penjajahan Belanda lebih sejahtera dibandingkan masa sekarang.

Islam di Suriname

Data statistik sensus penduduk Suriname tahun 2004 menunjukkan bahwa Islam di Suriname mencapai 66,307 jiwa (13,5 % dari jumlah penduduk), menduduki peringkat ketiga setelah agama Kristen, 200,744 jiwa (40,7 %) dan Hindu, 98,240 jiwa (19,9 %). Dari seluruh umat Islam di Suriname, yang terbanyak berasal dari suku Jawa, 46,156 jiwa (69,6 %) dan yang lain dari Hindustan, 15,636 jiwa (23,6 %) dan suku-suku lain. Pada mulanya secara umum masyarakat muslim Suriname memeluk agama sekedar mewarisi agama nenek moyang. Hal itu terjadi karena mereka memang datang ke Suriname tidak mendapatkan pendidikan agama yang kuat. Pada kasus masyarakat muslim Jawa umpamanya, kebanyakan mereka berasal dari tradisi agama Islam Jawa Abangan yang hanya mengenal Islam sekedar nama dan lebih kental dengan unsur tradisi dan budaya Jawa. Hal itu terlihat umpamanya, kenapa hingga sekarang sebagian masih mempertahankan shalat menghadap ke barat seperti nenek moyang mereka dari Jawa, padahal Suriname berada di sebelah barat Ka’bah.

Namun sejalan dengan perkembangan zaman, pemahaman Islam semakin membaik, dan kesadaran untuk beragama Islam secara kâffah (komprehensif) semakin meningkat, maka umat Islam Suriname semakin menunjukkan jati dirinya. Islam tidak lagi dijadikan sebagai agama warisan nenek moyang, tapi dipeluknya dengan seutuh kesadaran. Lambat laun Islam tidak saja dijadikan sebagai agama tradisi nenek moyang, tapi menjadi sebuah jalan kebenaran untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Fenomena seperti itu dapat dengan mudah kita temui di mana-mana, di kota dan kampung, di pasar dan jalan-jalan. Berbusana muslim / muslimah menjadi pemandangan yang biasa di tengah-tengah gempuran model busana Barat yang mengumbar aurat. Sahut menyahut ucapan salam simbol Islam (Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wa barakâtuh) antara muslim Jawa dengan muslim Hindustan atau Creool, menjadi budaya mereka yang menggambarkan betapa suasana ukhuwwah dan silaturrahmi itu dibangun begitu indah. Bahkan tidak jarang persahabatan itu berlanjut dengan membangun hubungan keluarga dengan menikahnya muslim Jawa dengan muslimah Hindustan umpamanya.

Kondisi keberagamaan masyarakat muslim Suriname yang semakin tercerahkan itu bukan terjadi dengan sendirinya. Peran lembaga-lembaga organisasi sosial, yayasan dan masjid dalam melakukan perubahan sikap keberagamaan itu begitu besar. Berbagai kegiatan dilakukan dalam upaya menghidupkan api Islam di Suriname dari yang paling tradisional sampai yang paling modern, dari yang baru tahap mengajarkan membaca huruf-huruf Arab, hingga upaya pengenalan Islam melalui seminar dan simposium, radio, televisi dan internet. Dakwah bukan saja untuk umat Islam tapi juga meluas ke semua anak negeri. Geliat itu begitu terasa hingga pemeluk Islam bukan saja orang Jawa dan Hindustan, tapi juga satu persatu orang-orang Negro dan kulit putih pun mencintai Islam. Masjid masyarakat Creool yang terkenal adalah Masjid Shadaqatul Islam di kota Paramaribo.

Cahaya Islam Bersinar Terang.

Perserikatan milik umat Islam keturunan India, Suriname Muslim Associatie (SMA), memiliki andil besar dalam menyalakan cahaya Islam di Suriname. Organisasi ini memiliki masjid terbesar di kota Paramaribo dibambah dengan 14 masjid lain yang berada dalam binaannya. Organisasi yang bermazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah al-Hanafi itu mengelola sekolah-sekolah dan 2 panti asuhan anak yatim yang cukup bagus. Meskipun dikelola oleh para pengurus dari keturunan India, tapi terbuka kegiatannya untuk seluruh umat Islam, bahkan salah satu imam Masjid Terbesar itu adalah seorang ustadz dari keturunan Jawa, dan para pengajarnya juga ada yang berlatar belakang keturunan bukan India.

Stichting der Islamitische Gemeenten in Suriname (SIS), Yayasan Islam Suriname, adalah lembaga paling berpengaruh di Suriname dari kalangan suku Jawa yang membawa obor perubahan bagi kebangkitan Islam. Lembaga ini memiliki masjid utama, Masjid Nabawi, dengan 54 masjid lainnya berada dalam binaannya tersebar luas di distrik Paramaribo dan distrik-distrik lain. Empat sekolah (madrasah) formal yang didirikan sejak tahun 80-an menjadi cikal bakal bagi proses pengkaderan dan penempaan sejak dini tentang kesadaran beragama Islam. Sekolah-sekolah itu diikuti oleh murid-murid dari berbagai suku dan agama, tidak hanya Jawa dan Islam. Di madrasah-madrasah itu, apapun latar belakangnya, semua harus mengikuti pelajaran Islam dan kepribadian muslim. Dakwah yang sangat strategis. Mereka yang non-Islam memeluk Islam ketika sekolah atau seusai mengikuti pendidikan. Bahkan keluarga mereka pun akhirnya ikut memeluk Islam seperti anak-anak mereka yang belajar di sekolah-sekolah itu. Dakwah yang lain dilakukan dengan membangun panti asuhan anak yatim dan panti jompo.

Masjid Nabawi dan masjid-masjid lain menjadi pusat kegiatan Islam bagi masyarakat Islam lebih luas. SIS mengelola masjid-masjid itu tidak sekedar sebagai tempat ibadah shalat. Kegiatan rutin mingguan setiap Kamis malam Jum’at dalam bentuk pengajian dan ceramah dilakukan tidak saja dalam rangka pengayaan pemahaman terhadap ajaran Islam, tapi juga sebagai media memperkokoh ukhuwah di kalangan jama’ah serta dalam rangka membangun shaff wâhid (barisan satu) seakan mereka sebagai bunyân marshûs (bangunan yang kokoh). Masjid-masjid juga digunakan sebagai taman pendidikan al-Quran yang peserta didiknya tidak saja di kalangan anak-anak dan remaja, tapi juga di kalangan para pensiunan dan manula (manusia lanjut usia).

SIS mempelopori gerakan pembaruan Islam di kalangan masyarakat Jawa. Kaum Abangan Jawa yang tadinya sangat kental dengan tradisi kejawen dan shalat menghadap ke barat, lambat laun dirubah menjadi masyarakat muslim dengan pemahaman yang lebih baik. Organisasi kalangan Jawa Abangan (Ngulonan, karena shalat menghadap ngulon, barat), seperti Federatie van Islamitische Gemeenten in Suriname (FIGS) terus menerus diajak dialog secara kelembagaan ataupun pribadi-pribadi hingga satu-persatu menemukan kebenaran itu. Bahkan para pemimpin Ngulonan pun, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran itu dan mudah-mudahan segera dibukakan pintu hidayah. Maka muncullah masjid-masjid baru dengan gerakan pencerahan Islam yang menjadi pusat bagi terbitnya cahaya Islam, seperti masjid Ansharullah, masjid Asy-Syafi’iyah Islam, masjid Rahmatullah Islam, dan lain-lain.

Gerakan al-rujû’ ila al-Islâm (kembali kepada Islam) dengan kesadaran untuk menerapkan Islam secara kâffah (komprehensif) dalam segala lini kehidupan, telah dilakukan oleh lembaga SIS sejak tahun 1980-an. Yaitu seiring dengan kedatangan para da’i yang berjuang bagi kebaikan Islam dan saudara muslimnya di Suriname. Ustadh Sobari Muhammad Ridwan (kini ketua SIS), asal Banyumas yang bermukim lama di Masjid Haram Makkah sebelum berdakwah di Suriname, datang ke Suriname tahun 1981. Beliau berdakwah tidak kenal lelah dari rumah ke rumah, kampung ke kampung, menjelaskan bagaimana ajaran Islam itu. Islam tidak sekedar agama warisan dan tradisi nenek moyang. Islam adalah ajaran hidup yang memberikan kebahagiaan bagi pemeluknya. Kaum muslimin harus bangga dengan agamanya, mengerti benar ajarannya dan menerapkannya dalam kehidupan sosial. Datang pula para da’i, Ustadz Ali Ahmad (asal Jawa Tengah, kini telah pensiun dan tinggal di Belanda), Ahmad Mujib (telah pulang ke Bekasi beberapa tahun lalu), Ahmad Muslih (telah pulang ke Semarang setelah pensiun). Datang pula Ustadz Abdul Ghafir yang kini kiprahnya tidak saja untuk organisasi SIS, tapi masuk di kalangan muslim Ngulonan dan masyarakat Hindustan dengan penguasaan bahasa Belanda yang sangat bagus. Beliau aktif mengajar dan berdialog dengan pemuda dan mahasiswa di kampus-kampus, juga tekun mengajar ngaji bapak-bapak pensiunan dan manula dari masjid ke masjid. Datang pula Ustadz Ali Arifin Thalhah, alumni Libiya, asal Padang yang datang ke Suriname tahun 1983. Pada waktu datang, tak sepatah kata pun mampu mengucapkan bahasa Jawa. Tapi kini bahasa Jawanya lebih halus dari orang Jawa, bahkan bahasa Taki-taki, Hindustan, dan Belanda menjadi bahasanya dalam mengajar, ceramah, dan berdialog. Ustadzh yang pernah mempunyai rumah makan Padang satu-satunya di Suriname itu dengan lincah dapat masuk di komonitas masyarakat Jawa, Hindustan, dan Creool dengan menggunakan bahasa mereka.

Generasi berikutnya adalah para ustadz yang datang dari anak-anak Jawa warga negara Suriname sendiri, seperti Ustadz Mahfudz Sarijadi (aktif sebagai militer dan berdakwah di kalangan militer dan sipil), Ustadzh Abdul Ghaffar (ketua lembaga forum umat Islam yang membawahi organisasi-oraganis asi Islam dari berbagai latar belakang suku). Kedua ustadz tersebut alumni Indonesia dari Pondok Modern Gontor. Datang pula kader-kader yang disekolahkan di Timur Tengah dari anak-anak Jawa Suriname, seperti Ustadz Marcel (kini pimpinan Masjid Darul Falah, penghulu dan penyiar radio Garuda berbahasa Jawa), Ustadz Stanly Suro Raharjo (ketua Bidang Agama Islam Departemen Dalam Negeri Suriname), Ustadz Henry Waluyo dan lain-lain.

Dakwah yang Hidup dan Mencerahkan

Sinar Islam itu memancar karena sentuhan lembut para da’i-da’inya. Mereka menampilkan Islam dengan wajah cerah dan dengan bahasa simpatik. Mereka berjuang tidak mengenal lelah, tidak untuk materi apalagi dalam rangka menggapai jabatan. Dakwah dilakukan secara praktis berdasarkan kepentingan masyarakat. Oleh karenanya sang da’i dituntut tidak saja pandai berceramah, tetapi mampu menjadi teladan dalam kehidupan, termasuk teladan dalam membangun rumah tangga, masyarakat dan kehidupan ekonomi. Mereka mendakwahkan Islam sebagai ajaran yang hidup dan dinamis. Islam tidak saja ada dalam do’a, dzikir, masjid, kenduri, walimah pernikahan, dan kematian. Islam mestinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di pasar, kantor, pemerintahan, dan lain-lain. Islam menjadi ajaran transformatif yang mampu mentranformasikan nilai-nilai ajarannya ke dalam kehidupan nyata.

Itulah dakwah yang hidup dan mencerahkan. Yaitu dakwah yang dilakukan dengan pengorbanan harta, tenaga, pikiran, dan jiwa. Dakwah yang dilakukan ditengah kerusakan yang telah memuncak, di saat kejahatan meraja lela, di tengah-tengah kebatilan dan kemungkaran, di tengah masyarakat Jahiliyyah, dan di tengah masyarakat yang penuh kemusyrikan dan kemunafikan. Dakwah dilakukan dengan penuh linangan air mata dan cucuran darah, penuh tantangan dan rintangan. Itulah dakwah yang dilakukan para nabi dan rasul, para syuhada’ dan pejuang, para auliya’ Allah (wali Allah) dan ulama di sepanjang zaman.

Karena Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘âlamîn (kasih sayang bagi sekalian alam), sebagaimana yang terkandung dalam Q.S. al-Anbiyâ’/21: 107, al-An’âm/6: 54, al-A’râf/7: 158, Saba’/34: 28, maka dakwah Islam harus dihadirkan dalam rangka menjelaskan kebenaran kepada seluruh alam. Islam bukan untuk bangsa, suku, atau golongan tertentu. Islam hadir untuk seluruh dunia. Islam hadir tidak untuk membawa bencana, petaka, dan kehancuran, tapi datang untuk menebar rahmah, kasih sayang, dan kedamaian. Maka dakwah yang hidup yang mampu menjangkau seluruh dunia adalah dakwah yang dilakukan dengan pemahaman yang luas, hati lapang, dan memandang manusia sebagai saudara. Rasa persaudaraan itu harus ditanamkan sedemikian rupa, sehingga orang yang baru mengenal Islam tertarik menerimanya. Rasulullah bersabda: “Tebarkanlah rahmah kepada siapa yang di bumi, niscaya yang di langit akan memberikan rahmah pula kepadamu”. (H.R. Bukhari). Juga sabda beliau: “Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang akan diberi rahmah oleh Allah hanyalah orang-orang yang memiliki rasa rahmah di dalam diri mereka”. (H.R. Bukhari, Muslim).

Maka dalam rangka sukses dakwah, Buya Hamka pernah memberikan beberapa kiat, antara lain:

1. Niat yang benar. Mengetahui tujuan dakwah. Apakah untuk kepentingan pribadi, popularitas, atau agar mendapat kemegahan dan pujian orang. Bila niat dakwah bulat, demi menjalankan perintah Allah, mengharapkan ridha-Nya, dan guna menegakkan agama-Nya, maka andaikan menemukan kegagalan dan kesusahan; air mata mengalir, sumpit tidak berisi, beras yang akan ditanak tidak sampai menyampai, dan berbagai derita yang lebih besar dirasakan, sang da’i itu akan terus berjuang membela agama Allah. Kian banyak rintangan yang menghadang kian matang pengalaman dalam berdakwah. Dakwah akhirnya bukan semata-mata dari mulut, tapi tumbuh dari hati. Dakwah yang keluar dari hati akan diterima oleh hati. Sedangkan dakwah yang hanya keluar dari mulut yang menerima pun hanya kulit telinga saja, masuk dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri.

2. Mengerti apa yang dibicarakan. Seorang da’i tidak hanya pandai pidato dan retorika. Dia harus menguasai materi yang disampaikan. Oleh karena itu diperlukan persiapan yang matang sebelum berbicara. Seorang da’i yang tidak begitu pandai berbicara pun bisa jadi berhasil dalam dakwahnya, bila apa yang disampaikan itu dikuasai dan dihayati. Nabi Musa kurang pandai dalam pidato, tapi berhasil dalam dakwahnya.

3. Mempunyai kepribadian yang kuat dan teguh. Seorang da’i tidak boleh mudah terpengaruh oleh pujian orang, dan tidak mudah tergoncang oleh kebencian orang. Jangan ada cacat dalam perangai, meskipun mungkin ada cacat secara fisik.

4. Mempunyai pribadi yang menarik, lembut tetapi bukan lemah, tawadhu’ merendahkan diri tetapi bukan rendah diri, pemaaf tapi disegani. Dia duduk di tengah orang banyak, namun tetap tinggi dari orang banyak. Merasakan apa yang dirasakan orang banyak. Sikap lembut yang menjadi keharusan bagi sang da’i itu ditegaskan dalam al-Quran Surat Ali Imran/3: 159.

5. Mengerti al-Quran dan al-Sunnah sebagai pokok pedoman utama. Selain itu, sang da’i harus mengerti Psikologi (ilmu jiwa), mengerti adat istiadat orang yang jadi sasaran dakwah.

6. Tidak membawa sikap pertentangan, menjauhkan dari perdebatan, apalagi kalau yang diperdebatkan itu hanya persoalan khilafiyah. Sang da’i hendaknya memiliki budi pekerti yang luhur, tidak membicarakan hal-hal yang membawa kepada perpecahan, tapi membawa kepada persatuan.

7. Keteladanan. Keteladanan dalam sikap hidup sang sa’i jauh lebih berkesan kepada umat dari pada ucapan yang sekedar keluar dari mulut. Oleh karena itu tidak cukup bagi da’i, ketangkasan dalam bertutur kata dan berpidato, tapi dia harus mendidik diri sendiri untuk taat menjalankan agama, taat beribadah, fasih mengungkapkan ayat-ayat maupun hadits dalam bahasa Arab, dan lain-lain. Semua keteladanan itu akan mendukung kesuksesan dalam berdakwah.

8. Menjaga diri dari hal-hal yang akan mengurangi harga dirinya. Seorang da’i harus menjauhkan diri segala bentuk maksiat, termasuk berbagai hal yang tidak bermanfaat, menjauhi tempat-tempat yang akan mengurangi penghargaan orang kepadanya. Seorang da’i, tidak hanya sepuhan luarnya saja, sehingga disebut dengan da’i karbitan. Seorang da’i tidak boleh hanya tampak shaleh waktu tampil di podium ketika berceramah. Sang da’i harus bertaqwa kepada Allah, bukan sepuhan atau sifat kemunafikan yang disandang.

Sebuah Optimisme dan Prospek Masa Depan

Yang menarik dalam statistik tahun 2004 di Suriname adalah adanya jumlah yang cukup tinggi dari kalangan penduduk yang tidak menentukan jenis agama, tidak Kristen, Hindu, atau Islam. Jumlahnya sangat fantastis, yaitu 127,538 jiwa (25,8 % jumlah penduduk), dengan rincian: agama tradisi, 16,291 jiwa, lain-lain 12,258 jiwa, tidak menjawab, 21,785 jiwa, tidak jelas, 75,823 jiwa, dan tidak dikenal, 1,381 jiwa. Angka itu jauh lebih tinggi dari jumlah pemeluk agama Islam yang hanya 66,307 jiwa (13,5 %). Artinya bahwa di sana masih ada lahan dakwah yang cukup luas bagi kemungkinan menambah angka pemeluk Islam. Bila kemudian jumlah orang-orang yang belum beragama itu, karena alasan tidak tahu, tidak bisa menjawab atau bingung, tertarik dengan cara hidup kaum muslimin, melihat para da’i yang lembut dan santun, dan akhirnya masuk Islam. Maka Jumlahnya akan meningkat dua kali lipat lebih dari jumlah sekarang. Hal itu bukan omong kosong. Kemungkinan itu bisa terjadi, bila semangat dakwah terus dibangun, kiat-kiat sukses dakwah diikuti dengan baik, dan pengurbanan tidak pernah berhenti. Meskipun tentu saja, sukses dakwah tidak saja ditentukan oleh jumlah pengikutnya (kuantitas), tapi yang lebih penting adalah kualitas kaum muslimin itu sendiri.

Berbagai tantangan dakwah pasti ada. Kebodohan, kemiskinan, kemalasan sebagian kaum muslimin sehingga sulit diajak maju, menjadi kendala tersendiri dalam perjuangan. Pengaruh materialisme, hedonisme, modernisasi dan globalisasi, giatnya upaya kristenisasi dan sekularisasi dari budaya Barat menjadi rintangan berat dalam berdakwah.

Namun optimisme harus tetap dibangun. Rintangan demi rintangan harus dihadapi. Tidak ada perjuangan tanpa rintangan. Keberhasilan mengatasi rintangan itulah kebahagiaan dan kejayaan. Untuk mewujudkan khair ummah (umat terbaik) memang diperlukan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (dakwah memerintah kepada yang baik dan mencegah kemungkaran) , serta adanya keteguhan iman yang kokoh (Q.S. Ali Imrân/3: 110). Allah juga menjanjikan kepada para pejuang akan jalan-jalan kebahagiaan itu: “dan orang-orang yang berjuang untuk agama Kami, maka niscaya Kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami”. Q.S. al-Ankabût: 69. Itulah jalan-jalan kesuksesan, kemenangan, kesejahteraan, kejayaan dan kebahagiaan.

Semoga Islam terus bersinar dimana-mana, menerangi kegelapaan, memerangi kebodohan, dan melawan kezaliman.